
2 minggu kemudian
Waktu memang tak kenal belas kasih,
takdir memang tak peduli pada siapa ia akan jatuh, dan perasaan selalu saja
datang disaat tak tepat. Itulah yang kupikirkan, tapi tentu saja aku tak bisa
menyalahkan semua itu karena itulah kehidupan.
Padahal didunia ini masih banyak orang
yang baik dan waras, tapi kenapa yang jadi pemimpin justru iblis berkulit
manusia yang menyebut dirinya raja, seorang maniak novel yang kejam.
Hari ini aku dan Fasa diajak Dai ke
Distrik 17, aku sangat prihatin dengan keadaan disana. Distrik 17 baru saja
selesai diperangi oleh Yaza Vumi, keadaan disini luluh-lantak. Kulihat
anak-anak yang kelaparan dan terluka. Syukurlah kami bisa kesini dan memberi
bantuan pada mereka.
Dai bersama sukarelawan DieNeSs memang
selalu datang ketempat bekas perang untuk memberi bantuan, dan menurut Dai ada
sekitar 18 daerah yang belum tunduk pada Yaza Vumi, cepat atau lambat
daerah-daerah itu pasti diperangi.
“Putri Monochrome!”
Aku mendengar suara kecil yang halus,
ketika aku menoleh kesumber suara, seorang gadis kecil dengan bonekanya yang
rusak berdiri mendongak kearahku.
“Ada apa gadis kecil?” Tanyaku sambil
berjongkok mensejajarkan tinggi badanku dengannya.
“Terima kasih, kalian sangat baik. Berkat
kalian kakakku bisa bangun!” Seru gadis kecil itu.
“Kakakmu?”
“Ayo!”
Gadis kecil itu mengajakku kesebuah
rumah dari papan yang setengah hancur, ketika aku memasuki rumah itu hatiku
seperti ditebas oleh parang. Kulihat bocah sekitar 12 tahunan terbaring lemah
dilantai yang dialasi kain kumal dengan tubuh yang kurus kering dan
menyedihkan.
“Anakku... dia sekarat dan hampir mati karena
kelaparan!” Ujar seorang wanita paruh baya yang duduk didekat bocah yang
terbaring.
Wanita itu bercerita bahwa semenjak 6
bulan lalu adalah perang, mereka dijatuhi bom dan dihujani tembakan karena
menolak bergabung dengan Yaza Vumi. Jangankan untuk makan, mereka bahkan tak
punya kesempatan menghela napas.
Tempat ini dulunya adalah bagian dari
sebuah negara, tapi perang seperti api yang merayap dari utara keselatan dan
mengubah padang hijau yang subur ini jadi tanah kematian.
“Vier, sebaiknya kau lihat ini!”
Tiba-tiba Fasa menegurku dan memintaku
menghampiri seseorang. Dai duduk sambil menangis, kenapa dia menangis sesedih
itu? Aku menghampirinya, dia menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air
matanya sendiri itu dariku.
“Dai, kau kenapa menangis begitu?”
“Aku tidak menangis!” Tegasnya dengan suara
yang berubah serak.
“Hm, tak apa kalaupun kau menangis, tak ada
hukum yang melarang seorang pria menangis, kan?!”
“Aku merasa sangat bersalah... Kau lihat yang
disana itu... itu jasad manusia!”
Dai menunjuk pada kantung-kantung mayat
yang dibariskan sejajar. Sangat menyedihkan, mereka adalah warga sipil korban
perang dan jumlahnya betul-betul banyak.
“Tapi itu bukan salahmu Dai!” Aku berusaha
menenangkannya.
“Bukan? Ini adalah perbuatan Yaza Vumi... dan
dia ayahku... kau pikir bagaimana rasanya berdiri diatas dua ironi?” Dai
menggosok mata dengan punggung tangannya secara kasar.
“Ya... karena itulah kau bertanggung jawab
memperbaikinya... demi mengurangi dosa ayahmu. Dengan begitu pasti lebih baik.”
Aku duduk disamping Dai, tapi ia membuang muka dariku.
“Oh iya, mereka berterima kasih padamu, mereka
berharap kau segera menjadi raja menggantikan ayahmu.” Ujarku. Dai masih
terdiam dan menghindari pandanganku.
“Ayahku tak tau tentang yang kulakukan
termasuk memberi bantuan seperti ini, aku memohon pada dua adik perempuanku
untuk meyakinkan ayah. Dan kuharap orang-orang disini juga merahasiakan tentang
ini.” Katanya pada akhirnya.
“Tenang saja, para sukarelawan DieNeSs sudah
__ADS_1
mengatakan itu dan sepertinya masyarakat disini bersedia merahasiakanmu.”
Mendengarku mengatakkannya Dai menoleh padaku dan tersenyum kecil.
“Senyumanmu kurang lebar!!!” Aku mencubit
pipinya membuatnya memekik tapi setelah itu ia tertawa ceria. Kami melontarkan
beberapa candaan ringan dan tertawa bersama.
Aku berhasil menghiburnya, dia kembali
bersemangat dan wajahnya berhiaskan keceriaan. Meski begitu, sebenarnya aku
hanya ingin berteman dengannya karena perasaanku terpaut pada orang lain.
“VIER!!!” Panggilnya dengan suara keras ketika
aku hendak melangkah pergi pada sukarelawan yang sedang membagikan makanan dan
kebutuhan lainnya. Aku menoleh pada Dai yang berdiri dilatar belakangi oleh
matahari.
“Apakah... kita adalah teman?” Tanya-nya.
“Ya! Selamanya adalah teman!” Jawabku sambil
tersenyum lalu berbalik dan pergi. Aku tak melihat lagi ekspresinya setelah
itu, tapi kurasa ia masih berdiri ditempat yang sama.
Aku, Fasa dan Dai pamit lebih dulu dari
sukarelawan DieNeSs yang lain karena harus segera kembali ke distrik utama.
Sebenarnya kami senang disana, membantu orang lain itu membuat hati menjadi
tenang.
Kami bertiga menggunakan pesawat jet
pribadinya Si-pangeran untuk kembali. Diperjalanan kami bertiga semakin
mengakrabkan diri dengan saling menceritakan banyak hal tentang tempat yang
baru saja kami kunjungi itu. Satu hal yang aneh, Dai melarang kami bertemu muka
dengan pilot pesawat yang mengantar kami.
Waktu perjalanan 13 jam 30 menit itu
cukup melelahkan, jarak distrik 17 memang cukup jauh dari distrik utama,
syukurlah latihan opera libur seminggu karena kabarnya ada persiapan untuk
perayaan hari persatuan.
Dai mengajakku dan juga Fasa ke
Istana,walau aku tak tau kenapa, tapi itu adalah kesempatan. Pertama aku ingin
tau kenapa Noir yang berada dilingkungan istana adalah biasa, kedua aku ingin
tau apakah bisa menemukan portal waktu yang akan mengembalikannku ke 2019. Yah,
mungkin saja kan?!
“Jadi, kenapa kau mengajak kami kesini?”
Tanyaku ketika kami sedang berjalan bersama di koridor istana.
“Sore ini ada pesta kebun, biasanya dihadiri
keluarga istana dan boleh membawa teman. Sebenarnya aku tak pernah ikutan
selama ini, tapi karena aku sekarang punya teman... jadi aku ingin datang.”
“Kau tak pernah punya teman?” Tanyaku
penasaran.
“Punya, sih... tapi dia menganggapku tuannya
bukan sebagai temannya.”
Aku mengangguk-angguk mendengar
kisahnya. Hingga kami pun sampai ketempat yang dimaksud, sungguh kontras istana
megah ini dengan daerah bekas perang yang kami kunjungi sebelumnya, terlebih
pelaku perang tersebut akan kami temui sebentar lagi.
“Oh iya, kedua adik perempuanku tak tau kalau
aku pemberontak, dia Cuma tau kalau aku suka memberi bantuan pada korban
perang, jadi jangan katakan sesuatu mengenai itu ya!” Bisik Dai pada kami
sebelum masuk.
Dan ini wajah yang kubenci telah tampak
begitu jelas ketika kami memasuki taman dalam ruangan, sang Yaza Vumi yang
duduk dengan nyaman sambil menyeruput secangkir teh bersama dua orang putrinya.
Taman ini atapnya terbuat dari kaca
yang memudahkan sinar matahari untuk menerobos masuk, sangatlah bagus dan mewah
dihiasi tanaman bunga yang beragam.
“Hooo... tumben sekali Dai, biasanya kau tak
pernah datang ke pesta kebun sekalipun dipaksa!” Ujar Yaza Vumi sambil
meletakkan cangkir tehnya dimeja berbentuk kupu-kupu.
“Wah, kak. Sekarang kau membawa dua orang
gadis ke istana, yang mana pacarmu? Atau keduanya!” Sindir salah satu adik Dai
yang berambut pirang, yang satunya hanya tersenyum miring.
“Yah, Cuma ingin datang saja sambil
memperkenalkan dua sobat baikku!” Jawab Dai. Ia menggeser kursi dan
mempersilahkan kami berdua duduk didepen Yaza Vumi dan dua putrinya.
“Oh iya, teman-temanku juga akan datang dan
mereka bangsawan, jadi tolong jaga sikap ya!” Ujar si-pirang lagi.
“Ayah, kenalkan. Ini Fasa, dia dari distrik 10
dan dia tinggal bersama Vier. Aku yakin ayah sudah tau Vier, dia lebih dikenal
dengan Putri Monochrome.” Dai seolah tak mempedulikan sindiran adiknya dan
langsung memperkenalkan kami pada ayahnya. Kami memberikan senyum terbaik kami,
meskipun dalam hati ingin kucabik wajah ******* yang mengaku raja ini.
“Dan kenalkan, ini dua saudariku, yang pirang
ini Eliesa dan yang satunya Efaeni.” Kembali Dai memperkenalkan dua saudarinya
__ADS_1
pada kami. Kurasa Dai punya tujuan mengapa ia memperkenalkan kami pada
keluarganya.
“Nah, itu teman-teman kami, mereka datang!”
Seru Efaeni. Kami menoleh serentak dan melihat beberapa remaja berpakaian mewah
memasuki taman ini.
Eliesa dan Efaeni bergegas menyambut
teman-temannya dan mereka berkumpul disatu tempat yang berbeda dengan kami.
“Nah, ayah... sekarang coba tanyakan
pertanyaan ayah padaku kemarin lagi dan biarkan dua temanku yang cantik ini
menjawabnya!” Tiba-tiba atmosfer diantara Yaza Vumi dan Dai berubah suram. Aku
dan Fasa tak mengerti maksud Dai, tapi aku sudah menduganya, Dai memang punya
tujuan tertentu membawa kami kesini.
“Jadi kau sengaja datang ke pesta kebun hanya
untuk menertawakan ayahmu, ya?!” Terka sang Yaza Vumi dengan tenang.
“Sama sekali tidak! Kemarin aku tak dapat
menjawab pertanyaan ayah, jadi kupikir kedua temanku inilah yang akan bisa
menjawabnya.” Dai menuangkan Teh untukku dan Fasa.
“Baiklah, itu bukan masalah!” Kini sang Yaza
Vumi yang memberikan madu pada Teh kami. “Hanya pertanyaan sederhana,
nona-nona. Ceritanya ada dua ekor anak kelinci yang ingin melarikan diri dari
kebakaran hutan, kemudian mereka bertemu dua jalan yang bercabang. Jalan yang
pertama adalah jalan yang terang, sedangkan jalan yang kedua adalah jalan yang
gelap dan terdapat aliran sungai yang harus mereka seberangi jika ingin kesana.
Menurut kalian berdua, mana yang sebaiknya dipilih dua ekor anak kelinci tadi?”
Itulah pertanyaan yang diajukan oleh
Yaza Vumi. Aku menyadari ini bukan pertanyaan biasa, pasti ada maksud yang
terselubung didalamnya. Tapi ya terserahlah, itukan urusan Dai dengan ayahnya,
lagi pula kurasa aku bisa menjawab pertanyaan itu.
“Jawabannya, jalan yang kedua!” Jawabku penuh yakin.
Dai dan sang Yaza Vumi sangat terkejut dengan jawabanku tadi, tapi kemudian
Yaza Vumi berusaha menenangkan diri sedangkan Dai menatapku tak percaya.
“Hm, baiklah Nn. Vier. Kenapa menurutmu anak
kelinci itu harus memilih jalan yang kedua?” Tanya Yaza Vumi dengan tenang
seperti sebelumnya.
“Karena bisa saja di jalan yang pertama itu
terjadi kebakaran juga, Bukankah hutan mereka terbakar? Jadi menurutku jalan
pertama itu terang karena api menyala disana. Sedangkan jalan kedua adalah
jalan yang gelap, itu wajar saja karena mereka dihutan. Dan jika anak-anak
kelinci itu memilihnya, mereka akan aman.” Jelasku.
“Benar juga! Lagi pula didepan jalan itu
terdapat aliran sungai yang tak memungkinkan dilewati api, anak kelinci itu
pasti akan aman walaupun walau perjalanan yang ditempuh takkan mudah.” Sambung
Fasa.
Sang Yaza Vumi tersenyum sambil
bertepuk tangan dengan tempo lambat.
“Bravo! Jawaban yang tepat dan sangat bagus!”
Serunya. “Nah, Dai... sesuai permintaanmu, mulai sore ini, adik-adikmu akan
jadi tanggung jawabmu. Pastikan kau tak hanya menjaga fisik mereka, jagalah
perasaan mereka juga.” Lanjutnya sambil bangkit berdiri lalu beranjak dari
mejanya hendak pergi dari taman.
“Kenapa ayah tak bertanya mengapa aku meminta
hal itu, dan malah menanyakan teka-teki tadi?” Dai ikut beranjak dari mejanya
mendekat kembali pada yaza Vumi.
Sang Yaza Vumi berbalik dan
berhadap-hadapan dengan Dai, ia membelai lembut pipi anaknya yang lebih tinggi
darinya, dengan tatapan penuh kasih dan juga kekecewaan yang tidak kumengerti,
Yaza Vumi berkata;
“Kau sungguh sudah dewasa, Nak. Sifatmu persis
ibumu, selalu mangutamakan orang lain. Yang ayah sesali hanya... kita melihat
keadilan dari sudut pandang yang berbeda.” Katanya. Kemudian Yaza Vumi
meninggalkan kami ditaman itu. Dai
tertunduk masih ditempat yang sama, tangannya mengepal sangat erat.
“Aku tak mengerti apa maksud ayahku, entah
mengapa rasanya kata-kata itu aneh!” Gumam Dai.
“Sudahlah Dai, kami lebih tidak mengerti apa
hubungannya hal ini dengan kami, bisa kau jelaskan?!” Pintaku.
“Apa yang bisa kujelaskan disaat aku
sendiripun tak mengerti, makanya kupikir kalian berdua yang punya wawasan luas
ini dapat memahaminya.” Dai menoleh kearah kami.
“Vier, Fasa... entah kenapa aku merasa ragu
dengan langkahku selanjutnya... karena itu bisakah kalian berdua berjanji?”
Lanjutnya.
“Berjanji untuk apa?” Tanya kami serempak.
“Untuk memberiku harapan ketika aku mulai
putus asa pada hidupku!” Jawabnya.
__ADS_1
*****