Break The Secret

Break The Secret
9) Hanya teman


__ADS_3

 


 


2 minggu kemudian


Waktu memang tak kenal belas kasih,


takdir memang tak peduli pada siapa ia akan jatuh, dan perasaan selalu saja


datang disaat tak tepat. Itulah yang kupikirkan, tapi tentu saja aku tak bisa


menyalahkan semua itu karena itulah kehidupan.


Padahal didunia ini masih banyak orang


yang baik dan waras, tapi kenapa yang jadi pemimpin justru iblis berkulit


manusia yang menyebut dirinya raja, seorang maniak novel yang kejam.


Hari ini aku dan Fasa diajak Dai ke


Distrik 17, aku sangat prihatin dengan keadaan disana. Distrik 17 baru saja


selesai diperangi oleh Yaza Vumi, keadaan disini luluh-lantak. Kulihat


anak-anak yang kelaparan dan terluka. Syukurlah kami bisa kesini dan memberi


bantuan pada mereka.


Dai bersama sukarelawan DieNeSs memang


selalu datang ketempat bekas perang untuk memberi bantuan, dan menurut Dai ada


sekitar 18 daerah yang belum tunduk pada Yaza Vumi, cepat atau lambat


daerah-daerah itu pasti diperangi.


 “Putri Monochrome!”


Aku mendengar suara kecil yang halus,


ketika aku menoleh kesumber suara, seorang gadis kecil dengan bonekanya yang


rusak berdiri mendongak kearahku.


 “Ada apa gadis kecil?” Tanyaku sambil


berjongkok mensejajarkan tinggi badanku dengannya.


 “Terima kasih, kalian sangat baik. Berkat


kalian kakakku bisa bangun!” Seru gadis kecil itu.


 “Kakakmu?”


 “Ayo!”


Gadis kecil itu mengajakku kesebuah


rumah dari papan yang setengah hancur, ketika aku memasuki rumah itu hatiku


seperti ditebas oleh parang. Kulihat bocah sekitar 12 tahunan terbaring lemah


dilantai yang dialasi kain kumal dengan tubuh yang kurus kering dan


menyedihkan.


 “Anakku... dia sekarat dan hampir mati karena


kelaparan!” Ujar seorang wanita paruh baya yang duduk didekat bocah yang


terbaring.


Wanita itu bercerita bahwa semenjak 6


bulan lalu adalah perang, mereka dijatuhi bom dan dihujani tembakan karena


menolak bergabung dengan Yaza Vumi. Jangankan untuk makan, mereka bahkan tak


punya kesempatan menghela napas.


Tempat ini dulunya adalah bagian dari


sebuah negara, tapi perang seperti api yang merayap dari utara keselatan dan


mengubah padang hijau yang subur ini jadi tanah kematian.


 “Vier, sebaiknya kau lihat ini!”


Tiba-tiba Fasa menegurku dan memintaku


menghampiri seseorang. Dai duduk sambil menangis, kenapa dia menangis sesedih


itu? Aku menghampirinya, dia menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air


matanya sendiri itu dariku.


 “Dai, kau kenapa menangis begitu?”


 “Aku tidak menangis!” Tegasnya dengan suara


yang berubah serak.


 “Hm, tak apa kalaupun kau menangis, tak ada


hukum yang melarang seorang pria menangis, kan?!”


 “Aku merasa sangat bersalah... Kau lihat yang


disana itu... itu jasad manusia!”


Dai menunjuk pada kantung-kantung mayat


yang dibariskan sejajar. Sangat menyedihkan, mereka adalah warga sipil korban


perang dan jumlahnya betul-betul banyak.


 “Tapi itu bukan salahmu Dai!” Aku berusaha


menenangkannya.


 “Bukan? Ini adalah perbuatan Yaza Vumi... dan


dia ayahku... kau pikir bagaimana rasanya berdiri diatas dua ironi?” Dai


menggosok mata dengan punggung tangannya secara kasar.


 “Ya... karena itulah kau bertanggung jawab


memperbaikinya... demi mengurangi dosa ayahmu. Dengan begitu pasti lebih baik.”


Aku duduk disamping Dai, tapi ia membuang muka dariku.


 “Oh iya, mereka berterima kasih padamu, mereka


berharap kau segera menjadi raja menggantikan ayahmu.” Ujarku. Dai masih


terdiam dan menghindari pandanganku.


 “Ayahku tak tau tentang yang kulakukan


termasuk memberi bantuan seperti ini, aku memohon pada dua adik perempuanku


untuk meyakinkan ayah. Dan kuharap orang-orang disini juga merahasiakan tentang


ini.” Katanya pada akhirnya.


 “Tenang saja, para sukarelawan DieNeSs sudah

__ADS_1


mengatakan itu dan sepertinya masyarakat disini bersedia merahasiakanmu.”


Mendengarku mengatakkannya Dai menoleh padaku dan tersenyum kecil.


 “Senyumanmu kurang lebar!!!” Aku mencubit


pipinya membuatnya memekik tapi setelah itu ia tertawa ceria. Kami melontarkan


beberapa candaan ringan dan tertawa bersama.


Aku berhasil menghiburnya, dia kembali


bersemangat dan wajahnya berhiaskan keceriaan. Meski begitu, sebenarnya aku


hanya ingin berteman dengannya karena perasaanku terpaut pada orang lain.


 “VIER!!!” Panggilnya dengan suara keras ketika


aku hendak melangkah pergi pada sukarelawan yang sedang membagikan makanan dan


kebutuhan lainnya. Aku menoleh pada Dai yang berdiri dilatar belakangi oleh


matahari.


 “Apakah... kita adalah teman?” Tanya-nya.


 “Ya! Selamanya adalah teman!” Jawabku sambil


tersenyum lalu berbalik dan pergi. Aku tak melihat lagi ekspresinya setelah


itu, tapi kurasa ia masih berdiri ditempat yang sama.


Aku, Fasa dan Dai pamit lebih dulu dari


sukarelawan DieNeSs yang lain karena harus segera kembali ke distrik utama.


Sebenarnya kami senang disana, membantu orang lain itu membuat hati menjadi


tenang.


Kami bertiga menggunakan pesawat jet


pribadinya Si-pangeran untuk kembali. Diperjalanan kami bertiga semakin


mengakrabkan diri dengan saling menceritakan banyak hal tentang tempat yang


baru saja kami kunjungi itu. Satu hal yang aneh, Dai melarang kami bertemu muka


dengan pilot pesawat yang mengantar kami.


Waktu perjalanan 13 jam 30 menit itu


cukup melelahkan, jarak distrik 17 memang cukup jauh dari distrik utama,


syukurlah latihan opera libur seminggu karena kabarnya ada persiapan untuk


perayaan hari persatuan.


Dai mengajakku dan juga Fasa ke


Istana,walau aku tak tau kenapa, tapi itu adalah kesempatan. Pertama aku ingin


tau kenapa Noir yang berada dilingkungan istana adalah biasa, kedua aku ingin


tau apakah bisa menemukan portal waktu yang akan mengembalikannku ke 2019. Yah,


mungkin saja kan?!


 “Jadi, kenapa kau mengajak kami kesini?”


Tanyaku ketika kami sedang berjalan bersama di koridor istana.


 “Sore ini ada pesta kebun, biasanya dihadiri


keluarga istana dan boleh membawa teman. Sebenarnya aku tak pernah ikutan


selama ini, tapi karena aku sekarang punya teman... jadi aku ingin datang.”


 “Kau tak pernah punya teman?” Tanyaku


penasaran.


 “Punya, sih... tapi dia menganggapku tuannya


bukan sebagai temannya.”


Aku mengangguk-angguk mendengar


kisahnya. Hingga kami pun sampai ketempat yang dimaksud, sungguh kontras istana


megah ini dengan daerah bekas perang yang kami kunjungi sebelumnya, terlebih


pelaku perang tersebut akan kami temui sebentar lagi.


 “Oh iya, kedua adik perempuanku tak tau kalau


aku pemberontak, dia Cuma tau kalau aku suka memberi bantuan pada korban


perang, jadi jangan katakan sesuatu mengenai itu ya!” Bisik Dai pada kami


sebelum masuk.


Dan ini wajah yang kubenci telah tampak


begitu jelas ketika kami memasuki taman dalam ruangan, sang Yaza Vumi yang


duduk dengan nyaman sambil menyeruput secangkir teh bersama dua orang putrinya.


Taman ini atapnya terbuat dari kaca


yang memudahkan sinar matahari untuk menerobos masuk, sangatlah bagus dan mewah


dihiasi tanaman bunga yang beragam.


 “Hooo... tumben sekali Dai, biasanya kau tak


pernah datang ke pesta kebun sekalipun dipaksa!” Ujar Yaza Vumi sambil


meletakkan cangkir tehnya dimeja berbentuk kupu-kupu.


 “Wah, kak. Sekarang kau membawa dua orang


gadis ke istana, yang mana pacarmu? Atau keduanya!” Sindir salah satu adik Dai


yang berambut pirang, yang satunya hanya tersenyum miring.


 “Yah, Cuma ingin datang saja sambil


memperkenalkan dua sobat baikku!” Jawab Dai. Ia menggeser kursi dan


mempersilahkan kami berdua duduk didepen Yaza Vumi dan dua putrinya.


 “Oh iya, teman-temanku juga akan datang dan


mereka bangsawan, jadi tolong jaga sikap ya!” Ujar si-pirang lagi.


 “Ayah, kenalkan. Ini Fasa, dia dari distrik 10


dan dia tinggal bersama Vier. Aku yakin ayah sudah tau Vier, dia lebih dikenal


dengan Putri Monochrome.” Dai seolah tak mempedulikan sindiran adiknya dan


langsung memperkenalkan kami pada ayahnya. Kami memberikan senyum terbaik kami,


meskipun dalam hati ingin kucabik wajah ******* yang mengaku raja ini.


 “Dan kenalkan, ini dua saudariku, yang pirang


ini Eliesa dan yang satunya Efaeni.” Kembali Dai memperkenalkan dua saudarinya

__ADS_1


pada kami. Kurasa Dai punya tujuan mengapa ia memperkenalkan kami pada


keluarganya.


 “Nah, itu teman-teman kami, mereka datang!”


Seru Efaeni. Kami menoleh serentak dan melihat beberapa remaja berpakaian mewah


memasuki taman ini.


Eliesa dan Efaeni bergegas menyambut


teman-temannya dan mereka berkumpul disatu tempat yang berbeda dengan kami.


 “Nah, ayah... sekarang coba tanyakan


pertanyaan ayah padaku kemarin lagi dan biarkan dua temanku yang cantik ini


menjawabnya!” Tiba-tiba atmosfer diantara Yaza Vumi dan Dai berubah suram. Aku


dan Fasa tak mengerti maksud Dai, tapi aku sudah menduganya, Dai memang punya


tujuan tertentu membawa kami kesini.


 “Jadi kau sengaja datang ke pesta kebun hanya


untuk menertawakan ayahmu, ya?!” Terka sang Yaza Vumi dengan tenang.


 “Sama sekali tidak! Kemarin aku tak dapat


menjawab pertanyaan ayah, jadi kupikir kedua temanku inilah yang akan bisa


menjawabnya.” Dai menuangkan Teh untukku dan Fasa.


 “Baiklah, itu bukan masalah!” Kini sang Yaza


Vumi yang memberikan madu pada Teh kami. “Hanya pertanyaan sederhana,


nona-nona. Ceritanya ada dua ekor anak kelinci yang ingin melarikan diri dari


kebakaran hutan, kemudian mereka bertemu dua jalan yang bercabang. Jalan yang


pertama adalah jalan yang terang, sedangkan jalan yang kedua adalah jalan yang


gelap dan terdapat aliran sungai yang harus mereka seberangi jika ingin kesana.


Menurut kalian berdua, mana yang sebaiknya dipilih dua ekor anak kelinci tadi?”


Itulah pertanyaan yang diajukan oleh


Yaza Vumi. Aku menyadari ini bukan pertanyaan biasa, pasti ada maksud yang


terselubung didalamnya. Tapi ya terserahlah, itukan urusan Dai dengan ayahnya,


lagi pula kurasa aku bisa menjawab pertanyaan itu.


 “Jawabannya, jalan yang kedua!” Jawabku penuh yakin.


Dai dan sang Yaza Vumi sangat terkejut dengan jawabanku tadi, tapi kemudian


Yaza Vumi berusaha menenangkan diri sedangkan Dai menatapku tak percaya.


 “Hm, baiklah Nn. Vier. Kenapa menurutmu anak


kelinci itu harus memilih jalan yang kedua?” Tanya Yaza Vumi dengan tenang


seperti sebelumnya.


 “Karena bisa saja di jalan yang pertama itu


terjadi kebakaran juga, Bukankah hutan mereka terbakar? Jadi menurutku jalan


pertama itu terang karena api menyala disana. Sedangkan jalan kedua adalah


jalan yang gelap, itu wajar saja karena mereka dihutan. Dan jika anak-anak


kelinci itu memilihnya, mereka akan aman.”  Jelasku.


 “Benar juga! Lagi pula didepan jalan itu


terdapat aliran sungai yang tak memungkinkan dilewati api, anak kelinci itu


pasti akan aman walaupun walau perjalanan yang ditempuh takkan mudah.” Sambung


Fasa.


Sang Yaza Vumi tersenyum sambil


bertepuk tangan dengan tempo lambat.


 “Bravo! Jawaban yang tepat dan sangat bagus!”


Serunya. “Nah, Dai... sesuai permintaanmu, mulai sore ini, adik-adikmu akan


jadi tanggung jawabmu. Pastikan kau tak hanya menjaga fisik mereka, jagalah


perasaan mereka juga.” Lanjutnya sambil bangkit berdiri lalu beranjak dari


mejanya hendak pergi dari taman.


 “Kenapa ayah tak bertanya mengapa aku meminta


hal itu, dan malah menanyakan teka-teki tadi?” Dai ikut beranjak dari mejanya


mendekat kembali pada yaza Vumi.


Sang Yaza Vumi berbalik dan


berhadap-hadapan dengan Dai, ia membelai lembut pipi anaknya yang lebih tinggi


darinya, dengan tatapan penuh kasih dan juga kekecewaan yang tidak kumengerti,


Yaza Vumi berkata;


 “Kau sungguh sudah dewasa, Nak. Sifatmu persis


ibumu, selalu mangutamakan orang lain. Yang ayah sesali hanya... kita melihat


keadilan dari sudut pandang yang berbeda.” Katanya. Kemudian Yaza Vumi


meninggalkan kami  ditaman itu. Dai


tertunduk masih ditempat yang sama, tangannya mengepal sangat erat.


 “Aku tak mengerti apa maksud ayahku, entah


mengapa rasanya kata-kata itu aneh!” Gumam Dai.


 “Sudahlah Dai, kami lebih tidak mengerti apa


hubungannya hal ini dengan kami, bisa kau jelaskan?!” Pintaku.


 “Apa yang bisa kujelaskan disaat aku


sendiripun tak mengerti, makanya kupikir kalian berdua yang punya wawasan luas


ini dapat memahaminya.” Dai menoleh kearah kami.


 “Vier, Fasa... entah kenapa aku merasa ragu


dengan langkahku selanjutnya... karena itu bisakah kalian berdua berjanji?”


Lanjutnya.


 “Berjanji untuk apa?” Tanya kami serempak.


 “Untuk memberiku harapan ketika aku mulai


putus asa pada hidupku!” Jawabnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2