
Malam hari istana Gurun Putih
Bukit pasir keperakan seolah lenyap
diselimuti kabut abu-abu, dan kemudian butiran putih turun dari langit bagaikan
serpihan-serpihan takdir, sampai semua tempat diselimuti putih. Apakah pertanda
baik jika putih salju bertemu malam yang hitam? Karena saat hitam dan putih
bersatu... hanya akan ada kelabu. Kelabu yang suram... tapi aku tak mau hidup
ini kelabu, aku inginkan warna sekalipun itu hanyalah hitam pekat yang polos.
......
“Mmm...
anu, rekanku mengatakan mereka masih bersama sekitar 6 hari yang lalu... tapi
mereka kehilangan pangeran sesaat sebelum kapal yang membawa mereka berlayar!”
Jelas Khaled.
Rasanya seperti tersambar petir disiang
bolong, aku terkejut bukan main tapi mungkin tidak seterkejut Shui yang
langsung tersentak dari kursinya dengan mata yang melotot dan mulut terbuka
lebar.
“Shui...” Gumamku tanpa sadar.
“Aku harus mencarinya!!!” Shui mengeratkan
kepalan tangannya dan aku bisa dengar bunyi bergerat giginya yang saling beradu.
Shui hendak pergi meninggalkan ruangan
itu, tanpa sadar aku menangkap lengan besarnya hingga langkahnya terhenti.
“Apa???” Tukasnya dengan dingin.
“Mau kemana kau dengan emosi kacau seperti
itu?” Geramku.
“Kau tak dengar tadi? Tn. Dai dan temanmu
menghilang, tidakkah kau ingin mencari mereka? Dan lepaskan tanganku
sekarang!!!” Shui tampak marah.
“JANGAN BODOH!!!” Teriakku. “Mau cari pakai
apa, ****!!! Kita tak punya apa-apa, salah salah malah ditangkap. Kau ini
selalu saja emosian kalau soal Dai! Aku tau ini darurat aku juga khawatir, tapi
mohon jangan gegabah dan bertindak membahayakan!!!” Aku mengocehinya.
Raja Mustafa berdiri dan berjalan
kearah kami.
“Temanmu benar, Nak! Lebih baik dinginkan
kepalamu, kami akan membantu mencarinya. Lagi pula pangeran dan kerajaanku
sudah lama bekerja sama, sekalipun tak diminta kami pasti akan mencarinya.”
Nasihat Raja Mustafa.
Shui terdiam, ia menghela napas
berkali-kali. Tangannya yang tadi kupegang berbalik menggenggamku, aku bisa
rasakan bahwa ia takut sesuatu terjadi pada tuannya yang paling berharga itu.
“Baiklah, maafkan saya... maaf telah membuat
kerusuhan!” Sesal Shui sambil mengusap keningnya. Khaled menghampiri Shui
dengan segelas air ditangannya yang kemudian ia berikan pada Shui.
“Minumlah ini dan beristirahatlah, kami akan
mencari pangeran dan temannya.” Ujar Khaled. Shui menerima minuman yang Khaled
berikan.
“Terima kasih... tapi mohon yang mulia izinkan
saya ikut pencarian, saya rasa itu akan membuat saya lebih baik!” Shui
membungkuk dengan hormat didepan Raja Mustafa. Khaled menghela napas panjang
tampak keberatan dengan keputusan Shui.
“Biarlah Khaled,” Raja Mustafa berkata seolah
dapat membaca pikiran Khaled. “Kalau dia lebih tenang dengan bantu mencari,
biarkan dia ikut.” Lanjutnya.
“Ya, yang mulia.” Jawab Khaled patuh.
“Hm, aku juga ikut ya!” Pintaku.
“Tidak, kau sedang sakit, lebih baik diobati
saja dulu!” Jeffery yang sejak tadi hanya duduk ikut bicara.
“Benar juga, Nona sebaiknya dirawat dulu takut
ada luka yang fatal.” Saran Raja Mustafa.
.....
Saat ini aku sedang termenung di teras
lantai paling atas istana yang bertingkat sembilan itu, sangat luas dan megah
memang, aku tak bisa memperkirakan seberapa luas istana ini.
__ADS_1
Sekarang aku sendirian, Shui itu
pengkhianat. Dia bilang akan terus disisiku tapi dia malah melarangku ikut
mencari Dai dan Fasa lalu meninggalkanku sendirian disini. Aku bingung harus
berbuat apa sendirian ditempat yang asing ini, jadi aku hanya melamun diteras
tanpa melakukan apa-apa.
“Hm, bahkan cuaca yang hangatpun bisa berubah
dingin membeku begini... tak jauh beda dengan manusia.” Gumamku.
Aku menghela napas berkali-kali,
memandang salju yang jatuh tanpa henti seolah tak pernah lelah, padahal melihatnya
saja sudah bosan. Berhubung dulu disini adalah gurun pasir yang tak ada
tumbuhan, jadi setelah diselimuti salju pun tak ada pohon atau semak yang
timbul diantara hamparan putih, mataku hanya menangkap bukit-bukit salju.
“Disini dingin, lho... apa mau sesuatu yang
hangat?”
Suara seseorang menyapaku. Aku menoleh
kesumber suara, ternyata Khaled sedang berjalan kearahku dengan dua gelas
minuman hangat.
“Lho,
kenapa kau disini? Bukankah kau bilang akan mencari pangeran?!” Tanyaku.
“Harusnya iya,” Khaled memberikan salah satu
gelas padaku. “Tapi Shui yang memintaku, dia bilang kau mudah merasa tak nyaman
dengan situasi, lalu katanya kau cukup menaggapiku makanya dia pikir lebih baik
aku yang menemanimu.” Jelasnya.
“Hm, begitu ya...” aku berkata dengan
canggung.
Setelah itu Khaled memintaku segera
kembali kekamar. Ia mengantar sampai depan pintu, yah istana itu luas sekali
walaupun ramai dengan penjaga dan pelayan, rasanya disetiap sudut selalu ada
orang dan kamera CCTV yang diletakkan ditempat tertentu untuk mengawasi.
“Oh iya, sebelum ini aku melihat kau akrab
sekali dengan pangeran. Apakah kau tunangannya yang diberitakan itu?” Tanya
Khaled sesaat sebelum aku masuk kamar.
“Hm, yah... berita itu sengaja kami ciptakan
untuk berdalih... aslinya kami Cuma teman kok.” Jawabku sedikit canggung.
tapi kemudian ia berhenti lagi. “Tapi menurutku... tak ada yang namanya ‘hanya
teman’ diantara perempuan dan laki-laki. Aku sempat melihat sekhawatir apa
pangeran ketika melihat kau masih berada didalam baku tembak itu, segitunya dia
mengkhawatirkanmu.” Lanjutnya.
“Mmm... tapi kurasa tak ada masalah dengan
itu, dia memang pernah bilang suka padaku... tapi setelah dia tau aku menyukai
orang lain, dia tak pernah membahasnya lagi dan bilang senang jadi temanku...”
Ceritaku.
“Apakah orang yang kau sukai menyukaimu sejauh
pangeran menyukaimu?” Tanya Khaled lagi.
“Ngg... entahlah aku tak pernah cari tau. Tapi
kenapa kau mengatakan ini padaku?” Aku balik bertanya.
“Tak apa, hanya saja aku pernah berada dalam
posisi dimana aku meninggalkan orang yang mencintaiku dengan tulus demi orang
yang kucintai... hasilnya aku menyesal sampai sekarang. Aku tak bermaksud
menasihati, tapi cobalah kau pikirkan kembali. Berilah pangeran dan dirimu
sendiri kesempatan untuk mengenal lebih jauh, kalau kau membuka hatimu sedikit
saja untuknya... kalian berdua bisa bahagia.” Ujarnya lagi lalu pergi begitu
saja.
Aku masuk kekamar yang disediakan,
kamar itu cukup besar dengan ranjang bagaikan tempat tidur putri dan rak buku
berisi dongeng-dongeng pengantar tidur disudut ruangannya. Tempat ini sangat
bagus, aku bisa melihat salju berjatuhan dari jendela. Meski begitu... aku
merasa sedih dan merasa sendirian.
Tanpa sadar air mataku mengalir, aku
tau aku menangis karena kesal dan merasa tak berguna, sedih juga karena
menghadapi perang dan sampai saat ini pun luka dan memar bekas pukulan itu
masih terasa sakit. Terlebih lagi luka tembak dikakiku jadi lebih sakit ketika
pelurunya diambil tadi.
Perang ini bagaikan mimpi, dimana aku
kehilangan teman-temanku yang berharga, melihat bagaimana tempat yang biasa
__ADS_1
kudatangi bersama orang-orang didalamnya hancur begitu saja... dunia ini
dipenuhi banyak sekali orang yang jahat, orang baik nyaris tak ada, aku pun tak
bisa dibilang baik karena penyebab semua ini. Kalau saja aku tak ada... maka
semua ini tak akan terjadi. Aku menangis, meski sebenarnya tak mau menyalahkan
diri sendiri atau siapapun. Tanpa sadar aku tertidur.
Aku tak ingat apa aku sudah berhenti
menangis ketika tertidur malam itu, yang jelas ketika pagi tiba dan kabut kelabu
itu pergi aku membuka mata dan mendapatkan kebahagiaan.
Sosok wanita mungil berambut pendek dan
sosok pria ramah yang tersenyum indah itu yang pertama kali kulihat ketika
membuka mata di pagi hari ini.
“Selamat pagi Vier!!!” Seru keduanya kompak.
Aku langsung terperanjat dan bangun
dengan tawa, rasanya senang sekali melihat mereka berdua disini, ini pasti
bukan mimpi.
“DAI, FASA... AKU MERINDUKAN KALIAN!!!!”
Seruku sambil memeluk erat Fasa.
“Kalian tidak apa-apa, kan? Kenapa bisa
terpisah dari rombongan? Bagaimana kalian bisa disini?” Aku langsung menyerbu
dengan pertanyaan.
“Waduh, mau dijawab dari mana nih, hahaha...”
Tawa Dai.
“Ceritanya begini,” Fasa memulai ceritanya
sesaat setelah aku melepaskan pelukanku. “Waktu itu sebelum masuk kontainer Dai
menyempatkan diri menelpon kakek Deuel untuk mengungsi sementara waktu, setelah
menelpon, kami hendak bergegas menyusul yang lain tapi seseorang menembak
kakiku, tak lama kemudian kami melihat banyak tentara datang, Dai menggendongku
dan kami melarikan diri. Setelah lama sembunyi dan para pengejar perlahan pergi
satu-persatu, ketika kami rasa
situasinya cukup aman kami keluar dari persembunyian, tapi kapal itu sudah
pergi. Jadinya kami menyamar jadi segala macam profesi agar bisa ikut kapal
barang yang menuju Near-East.” Ceritanya.
“Wah, Fasa kalau cerita lengkap sekali!” Tawa
Dai dengan Ceria.
“Lalu bagaimana kalian bisa sampai kesini dari
pelabuhan?” Tanyaku lagi.
“Ah, itu... sepertinya Shui sudah bisa membaca
apa yang akan kulakukan dengan situasiku, dia menemukanku dengan mudah disekitar
pelabuhan padahal aku dan Fasa sedang menyamar jadi tukang angkut barang.”
Jawab Dai singkat.
“Dia membuat heboh saja waktu itu, hampir
semua orang memperhatikannya karena penampilannya yang mencolok.” Sambung Fasa.
Kulihat Fasa dan Dai menceritakan
banyak hal sambil tertawa, kurasa Dai sangat nyaman dengan Fasa. Ya, Fasa
sekilas memang cuek tapi sebenarnya ia perhatian dan penuh kasih sayang, ia
juga pribadi yang hangat dan dapat membuat orang didekatnya merasa nyaman.
Dai juga pria yang sangat baik, ia
bersedia mengorbankan kebahagiannya untuk kepentingan orang banyak, dia juga
berhati lembut, dulu kukira dia orang yang dingin tapi ternyata itu salah sama
sekali. Aku jadi teringat omongan Khaled semalam, dia bilang jika aku memberi
diriku dan Dai kesempatan juga membuka hatiku untuknya maka kami akan bahagia.
Tapi aku masih tak mengerti, harusnya aku melakukan itu, entah mengapa aku
merasa tindakan itu sangatlah egois.
“Ng... ehem, Vier... ada apa?” tanya Dai cemas
setelah melihatku.
“Ahhahaha... bukan masalah besar, namanya juga
orang bangun tidur.” Jawabku santai.
“TOK, TOK”
Suara ketukan pintu memecah obrolan
santai kami. Dua orang pria memasuki kamar, tak lain dan tak bukan adalah
Khaled dan Shui.
“Ada apa?” Tanya Dai mulai serius.
“Raja Mustafa ingin bicarakan dengan kalian
semua mengenai... kelanjutan pemberontakan ini!” jelas Khaled sambil berdiri
diambang pintu.
__ADS_1
*****