Break The Secret

Break The Secret
27) Masalah kecil


__ADS_3

 


 


Malam hari istana Gurun Putih


Bukit pasir keperakan seolah lenyap


diselimuti kabut abu-abu, dan kemudian butiran putih turun dari langit bagaikan


serpihan-serpihan takdir, sampai semua tempat diselimuti putih. Apakah pertanda


baik jika putih salju bertemu malam yang hitam? Karena saat hitam dan putih


bersatu... hanya akan ada kelabu. Kelabu yang suram... tapi aku tak mau hidup


ini kelabu, aku inginkan warna sekalipun itu hanyalah hitam pekat yang polos.


......


 “Mmm...


anu, rekanku mengatakan mereka masih bersama sekitar 6 hari yang lalu... tapi


mereka kehilangan pangeran sesaat sebelum kapal yang membawa mereka berlayar!”


Jelas Khaled.


Rasanya seperti tersambar petir disiang


bolong, aku terkejut bukan main tapi mungkin tidak seterkejut Shui yang


langsung tersentak dari kursinya dengan mata yang melotot dan mulut terbuka


lebar.


 “Shui...” Gumamku tanpa sadar.


 “Aku harus mencarinya!!!” Shui mengeratkan


kepalan tangannya dan aku bisa dengar bunyi bergerat giginya yang saling beradu.


Shui hendak pergi meninggalkan ruangan


itu, tanpa sadar aku menangkap lengan besarnya hingga langkahnya terhenti.


 “Apa???” Tukasnya dengan dingin.


 “Mau kemana kau dengan emosi kacau seperti


itu?” Geramku.


 “Kau tak dengar tadi? Tn. Dai dan temanmu


menghilang, tidakkah kau ingin mencari mereka? Dan lepaskan tanganku


sekarang!!!” Shui tampak marah.


 “JANGAN BODOH!!!” Teriakku. “Mau cari pakai


apa, ****!!! Kita tak punya apa-apa, salah salah malah ditangkap. Kau ini


selalu saja emosian kalau soal Dai! Aku tau ini darurat aku juga khawatir, tapi


mohon jangan gegabah dan bertindak membahayakan!!!” Aku mengocehinya.


Raja Mustafa berdiri dan berjalan


kearah kami.


 “Temanmu benar, Nak! Lebih baik dinginkan


kepalamu, kami akan membantu mencarinya. Lagi pula pangeran dan kerajaanku


sudah lama bekerja sama, sekalipun tak diminta kami pasti akan mencarinya.”


Nasihat Raja Mustafa.


Shui terdiam, ia menghela napas


berkali-kali. Tangannya yang tadi kupegang berbalik menggenggamku, aku bisa


rasakan bahwa ia takut sesuatu terjadi pada tuannya yang paling berharga itu.


 “Baiklah, maafkan saya... maaf telah membuat


kerusuhan!” Sesal Shui sambil mengusap keningnya. Khaled menghampiri Shui


dengan segelas air ditangannya yang kemudian ia berikan pada Shui.


 “Minumlah ini dan beristirahatlah, kami akan


mencari pangeran dan temannya.” Ujar Khaled. Shui menerima minuman yang Khaled


berikan.


 “Terima kasih... tapi mohon yang mulia izinkan


saya ikut pencarian, saya rasa itu akan membuat saya lebih baik!” Shui


membungkuk dengan hormat didepan Raja Mustafa. Khaled menghela napas panjang


tampak keberatan dengan keputusan Shui.


 “Biarlah Khaled,” Raja Mustafa berkata seolah


dapat membaca pikiran Khaled. “Kalau dia lebih tenang dengan bantu mencari,


biarkan dia ikut.” Lanjutnya.


 “Ya, yang mulia.” Jawab Khaled patuh.


 “Hm, aku juga ikut ya!” Pintaku.


 “Tidak, kau sedang sakit, lebih baik diobati


saja dulu!” Jeffery yang sejak tadi hanya duduk ikut bicara.


 “Benar juga, Nona sebaiknya dirawat dulu takut


ada luka yang fatal.” Saran Raja Mustafa.


.....


Saat ini aku sedang termenung di teras


lantai paling atas istana yang bertingkat sembilan itu, sangat luas dan megah


memang, aku tak bisa memperkirakan seberapa luas istana ini.

__ADS_1


Sekarang aku sendirian, Shui itu


pengkhianat. Dia bilang akan terus disisiku tapi dia malah melarangku ikut


mencari Dai dan Fasa lalu meninggalkanku sendirian disini. Aku bingung harus


berbuat apa sendirian ditempat yang asing ini, jadi aku hanya melamun diteras


tanpa melakukan apa-apa.


 “Hm, bahkan cuaca yang hangatpun bisa berubah


dingin membeku begini... tak jauh beda dengan manusia.” Gumamku.


Aku menghela napas berkali-kali,


memandang salju yang jatuh tanpa henti seolah tak pernah lelah, padahal melihatnya


saja sudah bosan. Berhubung dulu disini adalah gurun pasir yang tak ada


tumbuhan, jadi setelah diselimuti salju pun tak ada pohon atau semak yang


timbul diantara hamparan putih, mataku hanya menangkap bukit-bukit salju.


 “Disini dingin, lho... apa mau sesuatu yang


hangat?”


Suara seseorang menyapaku. Aku menoleh


kesumber suara, ternyata Khaled sedang berjalan kearahku dengan dua gelas


minuman hangat.


 “Lho,


kenapa kau disini? Bukankah kau bilang akan mencari pangeran?!” Tanyaku.


 “Harusnya iya,” Khaled memberikan salah satu


gelas padaku. “Tapi Shui yang memintaku, dia bilang kau mudah merasa tak nyaman


dengan situasi, lalu katanya kau cukup menaggapiku makanya dia pikir lebih baik


aku yang menemanimu.” Jelasnya.


 “Hm, begitu ya...” aku berkata dengan


canggung.


Setelah itu Khaled memintaku segera


kembali kekamar. Ia mengantar sampai depan pintu, yah istana itu luas sekali


walaupun ramai dengan penjaga dan pelayan, rasanya disetiap sudut selalu ada


orang dan kamera CCTV yang diletakkan ditempat tertentu untuk mengawasi.


 “Oh iya, sebelum ini aku melihat kau akrab


sekali dengan pangeran. Apakah kau tunangannya yang diberitakan itu?” Tanya


Khaled sesaat sebelum aku masuk kamar.


 “Hm, yah... berita itu sengaja kami ciptakan


untuk berdalih... aslinya kami Cuma teman kok.” Jawabku sedikit canggung.


tapi kemudian ia berhenti lagi. “Tapi menurutku... tak ada yang namanya ‘hanya


teman’ diantara perempuan dan laki-laki. Aku sempat melihat sekhawatir apa


pangeran ketika melihat kau masih berada didalam baku tembak itu, segitunya dia


mengkhawatirkanmu.” Lanjutnya.


 “Mmm... tapi kurasa tak ada masalah dengan


itu, dia memang pernah bilang suka padaku... tapi setelah dia tau aku menyukai


orang lain, dia tak pernah membahasnya lagi dan bilang senang jadi temanku...”


Ceritaku.


 “Apakah orang yang kau sukai menyukaimu sejauh


pangeran menyukaimu?” Tanya Khaled lagi.


 “Ngg... entahlah aku tak pernah cari tau. Tapi


kenapa kau mengatakan ini padaku?” Aku balik bertanya.


 “Tak apa, hanya saja aku pernah berada dalam


posisi dimana aku meninggalkan orang yang mencintaiku dengan tulus demi orang


yang kucintai... hasilnya aku menyesal sampai sekarang. Aku tak bermaksud


menasihati, tapi cobalah kau pikirkan kembali. Berilah pangeran dan dirimu


sendiri kesempatan untuk mengenal lebih jauh, kalau kau membuka hatimu sedikit


saja untuknya... kalian berdua bisa bahagia.” Ujarnya lagi lalu pergi begitu


saja.


Aku masuk kekamar yang disediakan,


kamar itu cukup besar dengan ranjang bagaikan tempat tidur putri dan rak buku


berisi dongeng-dongeng pengantar tidur disudut ruangannya. Tempat ini sangat


bagus, aku bisa melihat salju berjatuhan dari jendela. Meski begitu... aku


merasa sedih dan merasa sendirian.


Tanpa sadar air mataku mengalir, aku


tau aku menangis karena kesal dan merasa tak berguna, sedih juga karena


menghadapi perang dan sampai saat ini pun luka dan memar bekas pukulan itu


masih terasa sakit. Terlebih lagi luka tembak dikakiku jadi lebih sakit ketika


pelurunya diambil tadi.


Perang ini bagaikan mimpi, dimana aku


kehilangan teman-temanku yang berharga, melihat bagaimana tempat yang biasa

__ADS_1


kudatangi bersama orang-orang didalamnya hancur begitu saja... dunia ini


dipenuhi banyak sekali orang yang jahat, orang baik nyaris tak ada, aku pun tak


bisa dibilang baik karena penyebab semua ini. Kalau saja aku tak ada... maka


semua ini tak akan terjadi. Aku menangis, meski sebenarnya tak mau menyalahkan


diri sendiri atau siapapun. Tanpa sadar aku tertidur.


Aku tak ingat apa aku sudah berhenti


menangis ketika tertidur malam itu, yang jelas ketika pagi tiba dan kabut kelabu


itu pergi aku membuka mata dan mendapatkan kebahagiaan.


Sosok wanita mungil berambut pendek dan


sosok pria ramah yang tersenyum indah itu yang pertama kali kulihat ketika


membuka mata di pagi hari ini.


 “Selamat pagi Vier!!!” Seru keduanya kompak.


Aku langsung terperanjat dan bangun


dengan tawa, rasanya senang sekali melihat mereka berdua disini, ini pasti


bukan mimpi.


 “DAI, FASA... AKU MERINDUKAN KALIAN!!!!”


Seruku sambil memeluk erat Fasa.


“Kalian tidak apa-apa, kan? Kenapa bisa


terpisah dari rombongan? Bagaimana kalian bisa disini?” Aku langsung menyerbu


dengan pertanyaan.


 “Waduh, mau dijawab dari mana nih, hahaha...”


Tawa Dai.


 “Ceritanya begini,” Fasa memulai ceritanya


sesaat setelah aku melepaskan pelukanku. “Waktu itu sebelum masuk kontainer Dai


menyempatkan diri menelpon kakek Deuel untuk mengungsi sementara waktu, setelah


menelpon, kami hendak bergegas menyusul yang lain tapi seseorang menembak


kakiku, tak lama kemudian kami melihat banyak tentara datang, Dai menggendongku


dan kami melarikan diri. Setelah lama sembunyi dan para pengejar perlahan pergi


satu-persatu, ketika kami  rasa


situasinya cukup aman kami keluar dari persembunyian, tapi kapal itu sudah


pergi. Jadinya kami menyamar jadi segala macam profesi agar bisa ikut kapal


barang yang menuju Near-East.” Ceritanya.


 “Wah, Fasa kalau cerita lengkap sekali!” Tawa


Dai dengan Ceria.


 “Lalu bagaimana kalian bisa sampai kesini dari


pelabuhan?” Tanyaku lagi.


 “Ah, itu... sepertinya Shui sudah bisa membaca


apa yang akan kulakukan dengan situasiku, dia menemukanku dengan mudah disekitar


pelabuhan padahal aku dan Fasa sedang menyamar jadi tukang angkut barang.”


Jawab Dai singkat.


 “Dia membuat heboh saja waktu itu, hampir


semua orang memperhatikannya karena penampilannya yang mencolok.” Sambung Fasa.


Kulihat Fasa dan Dai menceritakan


banyak hal sambil tertawa, kurasa Dai sangat nyaman dengan Fasa. Ya, Fasa


sekilas memang cuek tapi sebenarnya ia perhatian dan penuh kasih sayang, ia


juga pribadi yang hangat dan dapat membuat orang didekatnya merasa nyaman.


Dai juga pria yang sangat baik, ia


bersedia mengorbankan kebahagiannya untuk kepentingan orang banyak, dia juga


berhati lembut, dulu kukira dia orang yang dingin tapi ternyata itu salah sama


sekali. Aku jadi teringat omongan Khaled semalam, dia bilang jika aku memberi


diriku dan Dai kesempatan juga membuka hatiku untuknya maka kami akan bahagia.


Tapi aku masih tak mengerti, harusnya aku melakukan itu, entah mengapa aku


merasa tindakan itu sangatlah egois.


 “Ng... ehem, Vier... ada apa?” tanya Dai cemas


setelah melihatku.


 “Ahhahaha... bukan masalah besar, namanya juga


orang bangun tidur.” Jawabku santai.


 “TOK, TOK”


Suara ketukan pintu memecah obrolan


santai kami. Dua orang pria memasuki kamar, tak lain dan tak bukan adalah


Khaled dan Shui.


 “Ada apa?” Tanya Dai mulai serius.


 “Raja Mustafa ingin bicarakan dengan kalian


semua mengenai... kelanjutan pemberontakan ini!” jelas Khaled sambil berdiri


diambang pintu.

__ADS_1


*****


__ADS_2