
Masa-masa yang terlewati bagaikan
mimpi, sejak awal september sampai desember 2200 ini semua mulai berubah. Dai
tak menyebut dirinya penerus Yaza Vumi, ia hanya akan jadi orang yang membantu
memimpin perubahan.
Mengembalikan distrik-distrik menjadi
negaranya sendiri seperti dulu, membantu daerah yang menderita kemiskinan untuk
membangun kembali daerahnya dan kini ia menjadi pemimpin organisasi perdamaian.
Tak ada lagi dunia oleh satu hukum, pada dasarnya manusia adalah pemimpin
dirinya sendiri karena tuhan tak memandang kekayaan dan ketampanan seseorang.
Soal kisah cinta segitiga kami... aku
tak bisa bilang apa-apa, karena kenyataannya aku tak bisa membuka hatiku untuk
Dai dan tak pula bisa memaafkan Shui, aku orang yang sangat sulit memaafkan, ku
akui itu. Yang kusesali adalah hilangnya
buku Break The Secret, mungkin aku tak bisa kembali.
.....
Distrik 10 (14 desember 2200)
“Apa kau menungguku?”
Suara seorang lelaki yang tak asing
menyapaku. Tadinya aku hanya sedang duduk diteras rumah keluarga Vier asli,
karena semenjak kejadian itu aku tinggal disana. Mereka mengenali diriku bukan
Vier dan aku menceritakan yang sebenarnya pada ibu dan adik Vier asli meskipun
setelahnya mereka tetap memanggilku Vier.
Tentang orang yang memanggilku itu
adalah Dai, kami jarang bersama sejak ia sibuk dengan urusannya yang menumpuk,
yah... dia pahlawan sekarang. Sore ini ia menghampiriku bersama Shui yang setia
mendampinginya.
“Apakah ini kegiatanmu sehari-hari semenjak aku
jarang datang kesini?” Tanya Dai sambil duduk didekatku.
“Biasanya aku melakukan banyak hal walau
terhitung kegiatan sehari-hari, tapi saat ini aku sedang malas dengan segala
hal.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong, Fasa mana?” Aku belum
menjawab sama sekali ketika Fasa datang dengan sendirinya ketempat kami.
“Nah, kebetulan sekali yang dibicarakan
datang. Oh iya, sebenarnya niatan kami kemari untuk mengajak kalian makan
bersama, bagaimana?” Ajak Dai.
“Yah, aku sih oke-oke saja!” Jawabku. Fasa
mengangguk, ia juga setuju.
Kami pergi kesebuah restoran dan makan
bersama disana sampai puas, tapi kurasa aku tak bisa menikmati makananku.
Sekalipun nyaman disini, sekalipun mereka baik denganku dan hubunganku pun
sangat dekat dengan mereka, tetap saja aku ingin pulang.
“Vier, Bisa aku bicara padamu sebentar?” Tanya
Shui ketika kami selesai dengan makanan kami.
“Bicara saja disini!” Sinisku.
“Aku ingin bicara berdua denganmu!” Desak
Shui.
“Apakah ini penting atau kau Cuma mau
mengolok-olok perasaanku yang tak juga hilang?!” Ketusku.
“Aku tak pernah mengolok-olok perasaanmu, aku
hanya ingin mengatakan sesuatu.” Shui masih tetap tenang.
“Baiklah, kita bisa bicara dijembatan samping
restoran ini, tak jauh juga disana. Kurasa aku juga ada yang mau kukatakan
padamu.” Ujarku. Dia tersenyum
kami pergi ke jembatan berdiri
berhadapan, sama-sama memiliki sesuatu untuk dikatakan.
“Jadi kau mau bilang apa?” Tanyaku.
“Lebih baik kau dulu yang mengatakannya, kau
bilang kau pun punya sesuatu untuk dikatakan.” Shui balik memintaku.
“tak terlalu penting, tapi kurasa aku tak bisa
terus disini, kupikir urusanku sudah usai... dan soal Dai, dia lebih pantas
bersama orang lain seperti Fasa, kudengar belakangan ini mereka dekat.”
Ungkapku.
“Tn. Dai bilang dia dan Fasa lebih seperti
teman, mereka tak saling memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Fasa juga
sepertinya tak pernah peduli dengan yang namanya asmara.” Shui menoleh ke
restoran yang dekat dari sini, kami bisa melihat Fasa dan Dai
berbincang-bincang dengan akrab, tapi benar kata Shui. Mereka terlihat seperti
teman biasa.
“Lalu apa, kau sendiri mau bilang apa?”
Tanyaku.
“Tentang caramu kembali ke zamanmu!” Jawabnya
singkat. Aku terbelalak.
“Sungguh? Kau tidak sedang bercanda, kan?!”
Desakku.
“Tidak, tapi aku tak bisa memastikan akan
berhasil atau tidak. Persentasenya 50 banding 50.” Jawabnya lagi. “Tapi lebih
baik mencobanya, kan?!” Lanjutnya sambil memberiku sambungan dari pecahan kaca
yang dulu dia berikan padaku.
“Tapi Shui, kenapa kau baru mengatakannya
__ADS_1
sekarang?”
“Itu karena purnama yang bersinar pucat hanya
ada setahun dua kali, kira-kira pertengahan tahun dan akhir tahun. Aku tak bisa
mengatakan apapun padamu karena tak mau kau menunggu selama itu dengan penuh
harap sementara cara ini belum tentu berhasil. Ma, maafkan... aku!” Jelas Shui.
Kulihat ia menyesalinya.
Aku merasa begitu belakangan ini, Shui
semakin banyak interaksi padaku, sikapnya juga sangat baik dan dia sering
meminta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk suatu hal yang terlalu sepele.
Ia tak seangkuh dulu tak tau mengapa.
“Hei... Shui, Vier.” Tiba-tiba Fasa dan Dai
berada ujung jembatan memperhatikan kami.
“Sedang apa kalian? Serius sekali seperti
orang diskusi militer!” Ledek Fasa.
Shui tampak canggung begitu Dai datang,
ia langsung menjaga jarak denganku. Kulihat ada senyum kecil diwajah Dai yang
tak dapat kumengerti.
“Sudahlah, Shui... aku sama sekali tak merasa
tersakiti kalau kau bersama Vier, barusan aku mengobrol dengan Fasa, dan kami
rasa... kami saling suka!” Ungkap Dai.
Bohong sekali dia, jelas-jelas Fasa
Terkejut dengan ungkapan barusan dan langsung berbisik pada Dai seolah bertanya
‘apa kau bilang barusan?’. Yah, Dai dan Fasa kurang mahir untuk urusan ini,
tapi sepertinya mereka berhasil membuat Shui percaya.
“Aku sumpahi kalian jodoh betulan, hati-hati
kalau berbohong jangan menyangkut takdir!!!” Tukasku.
“Eh, oh... ngomong-ngomong kalian sedang
membicarakan apa tadi?” Dai mengalihkan topik pembicaraan karena mendapat
tatapan maut dari Fasa.
“Ehm... Shui bilang dia bisa mengembalikanku
kezamanku, tapi itu belum tentu berhasil 100 persen!” Jawabku. Wajah Fasa dan
Dai berubah murung.
“Maksudmu... kau akan segera pergi dari kami
dan tak akan pernah kembali?!” Fasa tertunduk.
“Maaf teman-teman... aku tau aku sangat
bahagia bersama kalian, tapi aku juga merindukan keluargaku, mereka pasti
khawatir padaku dan menungguku kembali.” Ujarku.
Ini adalah bagian tersulit dari sebuah
perpisahan, dimana kau merasa nyaman dengan sesuatu dan harus meninggalkannya
untuk selamanya, disisi lain ada sesuatu yang tak kalah penting yang selalu kau
rindukan. Aku sangat bimbang sekarang, tapi tentu saja aku lebih memilih
“Baiklah, kurasa aku bisa memahami, maaf atas
keegoisanku tadi.” Sesal Fasa.
“Jadi kapan kau akan kembali? Kenapa baru
mengatakannya sekarang?” Sambung Dai.
“Aku juga baru mendengarnya dari Shui barusan.
Soal waktu berangkatnya adalah bulan purnama nanti.” Jawabku.
“Tunggu, bukankah puranama itu berarti besok
malam?!” Dai Menyela.
Kami menoleh pada Shui serempak. Ya,
ampun aku belum menyiapkan hati untuk meninggalkan semua ini.
.....
15 Desember 2200
Tak ada yang kupikirkan saat ini, hanya
akan melakukan banyak hal bersama tiga soulmate-ku ini. Kami berjanji untuk
bersama dari pagi ini sampai malam nanti karena nanti malam aku akan pergi dari
sisi mereka selamanya. Entah mengapa aku berharap malam tak segera datang, aku
masih ingin bersama mereka.
Tapi saat ini sudah hampir sore, kami
harus segera berangkat ke distrik 6. Dan selama perjalanan kesana kami
berbincang-bincang tentang banyak hal, perjalanan kesana terasa singkat karena
menggunakan pesawat pribadi Dai, yah jangan bayangkan bentuknya seperti pesawat
biasa, ini berbentuk burung elang bersayap kaku.
“Apakah kau akan melupakan kami?” Tanya Fasa
tiba-tiba, padahal saat itu kami sedang membahas hal lain.
Aku terdiam, mau jawab apa? Aku pun tak
tau akan lupa atau tidak, tapi aku berharap tak akan pernah melupakan mereka
begitupun mereka padaku.
“Duh, Fasa... kau tau kan kalau Vier tak
mugkin melupakan kita, kita sudah menelan asam garam bersama-sama, perjalanan
ini terlalu berharga untuk dilupakan.” Dai menenangkan Fasa. Aku tersenyum,
senyum tanpa arti.
“Ini adalah tempatnya.” Ujar Shui ketika kami
sampai depan sebuah hutan yang dipagari kawat.
“Bagaimana cara masuknya?” Tanyaku.
“Ada jalan disekitar sini, ayo!” Ajaknya.
Kami mengikutinya sampai kedalam hutan.
sungguh, sangat tidak asing dengan pemandangan ini, pohon besar ditepi jalan,
rentetan pepohonan Sengon, sehimpun bambu... aku kenal tempat ini. Hingga
sampailah aku didepan sebuah puing-puing rumah yang masih familiar
__ADS_1
dipenglihatanku.
“I, ini rumahku...” Gumamku.
“Ya, tempat ini sengaja dijaga oleh Yaza Vumi
I dengan menyembunyikan keberadaannya, tapi karena sesekali aku menyamar jadi
Noir, aku bebas menyelidikinya tanpa ada yang curiga.” Shui memandang pada
aliran sungai disamping puing-puing rumahku.
“Wah, sungai ini dulu Cuma aliran air biasa,
kenapa bisa jadi sungai deras begitu? Bahkan pohon Alpukat dan Guava ini masih
disini.” Seolah tak mempedulikan perkataan Shui barusan, aku malah sibuk
bernostalgia.
“Vier, cepatlah, sebentar lagi purnamanya
sampai sejajar dengan batu yang ada ditengah sungai, kau harus cepat naik ke batu
itu.” Shui memberitahuku.
Aku mengangguk dan bergegas. Tak perlu
berenang dulu untuk sampai kebatu itu karena ada batu-batu lain yang timbul
kepermukaan yang bisa dijadikan pijakan sampai kebatu ditengah sungai.
Aku tau apa yang harus kulakukan,
berdiri diatas batu itu dan mengarahkan pecahan kaca yang sudah disatukan ini
kearah bulan yang bersinar pucat.
Suara deru air sungai bisa kudengar dan
kurasakan percikannya dikakiku, mataku melihat kelangit tanpa bintang,
burung-burung malam terbang melewati pandanganku tapi aku tak bisa melihat
kearah lain selain bulan. Mataku terkunci pada cahaya yang membias kewajahku
melewati kaca ini.
Beberapa saat terlewati, bahkan purnama
tak lagi sejajar dengan batu tempatku berpijak, jantungku berdebar kencang
sampai aku merasa hilang keseimbangan dan terpeleset jatuh kesungai. Sungai ini
cukup dalam apakah aku akan tenggelam dan tak sadarkan diri lalu bangun
ditempat asliku lagi?
“VIER!!!” Bisa kudengar teriakan Fasa.
Disela-sela napas sesakku karena
kehabisan udara didalam air ini, aku menangkap sosok berambut panjang yang
berenang kearahku dan membawaku ketepian.
“Apa kalian baik-baik saja?” Fasa tampak Cemas
menatap kami.
“Sudah
kuduga ini tak akan berhasil!” Gumam Shui sambil terbatuk-batuk.
“Apa maksudmu aku tak bisa kembali?” Tanyaku.
“Aku membaca Break The Secret, bukan ini cara
kembalinya, kau diundang kesini... tapi mungkin kau tak bisa kembali jika dari
masa-mu tak ada yang mengundang, aku sudah memperkirakan jika purnama
terlewati, maka tak ada cara yang kuketahui.” Jelas Shui dengan tatapan
menyesal.
Mendengar itu aku merasa sesak, apakah
tak ada cara bagiku untuk kembali?! Aku memanggil-manggil ibuku dalam hati.
“Sudahlah, kita pikirkan lagi nanti, sekarang
lebih baik kita cari tempat mengganti baju kalian berdua, malam ini dingin
seali kalian bisa Flu.” Usul Dai.
“Rasanya... kecewa sekali...” Gumamku.
“Maafkan aku Fasa, sudah merepotkan kalian sejauh ini... aku merasa tak enak
pada kalian.”
“Ayolah, tak apa! Sekarang kita kembali
kemobil dulu!” Ajak Fasa.
Shui membantuku berdiri, aku memandang
pada puing-puing rumahku, ruang tengah tempat biasanya kami menonton TV
bersama, aku sungguh rindu pada ibuku.
“Maafkan aku, Vier... seharusnya aku bisa
membantumu.” Sesal Shui.
“Tak apa, mungkin sebaiknya memang begini,
jika ini takdir aku akan menerimanya. Dan Shui... Sejujurnya aku hanya kesal
dan ingin membalas, aku tak bisa membencimu, melihat apa yang sudah kau lakukan
demi aku selama ini... kurasa kaca yang telah kau pecahkan itu kini sudah
kembali seperti semula tanpa retakan. Terima kasih, ya!” Ungkapku.
“DEG, DEG”
Tiba-tiba jantungku berdebar kencang,
aku ambruk ketanah dan pandanganku memburam. Aku bisa merasakan air yang
menetes dari rambut Shui jatuh kepipiku, wajah Shui tampak sangat khawatir ia
seperti sedang berteriak, baru kali ini aku melihatnya.
Aku masih menyukainya, aku tau dia baik
dan... aku hanya bodoh mengabaikannya untuk sesuatu yang sebenarnya bukan salah
Shui. Tak jauh dari Shui, kulihat Fasa dengan wajah mungilnya dan juga Dai yang
berkaca-kaca.
“VIER, VIER!!!” Masih bisa kudengar teriakan
mereka yang bersahut-sahutan, tapi pandanganku semakin kabur.
Mataku melihat pada Shui sekali lagi,
apa ini? Dia menangis? Ia menundukkan wajahnya hingga aku bisa melihat air
matanya dengan jelas. Lalu kurasakan deru napasnya ketika berbisik padaku
dengan suara serak.
“Aku mencintaimu!” Bisiknya sebelum
pandanganku gelap gulita.
__ADS_1
*****