Break The Secret

Break The Secret
30) SalamTerakhir


__ADS_3

Masa-masa yang terlewati bagaikan


mimpi, sejak awal september sampai desember 2200 ini semua mulai berubah. Dai


tak menyebut dirinya penerus Yaza Vumi, ia hanya akan jadi orang yang membantu


memimpin perubahan.


Mengembalikan distrik-distrik menjadi


negaranya sendiri seperti dulu, membantu daerah yang menderita kemiskinan untuk


membangun kembali daerahnya dan kini ia menjadi pemimpin organisasi perdamaian.


Tak ada lagi dunia oleh satu hukum, pada dasarnya manusia adalah pemimpin


dirinya sendiri karena tuhan tak memandang kekayaan dan ketampanan seseorang.


Soal kisah cinta segitiga kami... aku


tak bisa bilang apa-apa, karena kenyataannya aku tak bisa membuka hatiku untuk


Dai dan tak pula bisa memaafkan Shui, aku orang yang sangat sulit memaafkan, ku


akui itu.  Yang kusesali adalah hilangnya


buku Break The Secret, mungkin aku tak bisa kembali.


.....


Distrik 10 (14 desember 2200)


 “Apa kau menungguku?”


Suara seorang lelaki yang tak asing


menyapaku. Tadinya aku hanya sedang duduk diteras rumah keluarga Vier asli,


karena semenjak kejadian itu aku tinggal disana. Mereka mengenali diriku bukan


Vier dan aku menceritakan yang sebenarnya pada ibu dan adik Vier asli meskipun


setelahnya mereka tetap memanggilku Vier.


Tentang orang yang memanggilku itu


adalah Dai, kami jarang bersama sejak ia sibuk dengan urusannya yang menumpuk,


yah... dia pahlawan sekarang. Sore ini ia menghampiriku bersama Shui yang setia


mendampinginya.


 “Apakah ini kegiatanmu sehari-hari semenjak aku


jarang datang kesini?” Tanya Dai sambil duduk didekatku.


 “Biasanya aku melakukan banyak hal walau


terhitung kegiatan sehari-hari, tapi saat ini aku sedang malas dengan segala


hal.” Jawabku.


 “Ngomong-ngomong, Fasa mana?” Aku belum


menjawab sama sekali ketika Fasa datang dengan sendirinya ketempat kami.


 “Nah, kebetulan sekali yang dibicarakan


datang. Oh iya, sebenarnya niatan kami kemari untuk mengajak kalian makan


bersama, bagaimana?” Ajak Dai.


 “Yah, aku sih oke-oke saja!” Jawabku. Fasa


mengangguk, ia juga setuju.


Kami pergi kesebuah restoran dan makan


bersama disana sampai puas, tapi kurasa aku tak bisa menikmati makananku.


Sekalipun nyaman disini, sekalipun mereka baik denganku dan hubunganku pun


sangat dekat dengan mereka, tetap saja aku ingin pulang.


 “Vier, Bisa aku bicara padamu sebentar?” Tanya


Shui ketika kami selesai dengan makanan kami.


 “Bicara saja disini!” Sinisku.


 “Aku ingin bicara berdua denganmu!” Desak


Shui.


 “Apakah ini penting atau kau Cuma mau


mengolok-olok perasaanku yang tak juga hilang?!” Ketusku.


 “Aku tak pernah mengolok-olok perasaanmu, aku


hanya ingin mengatakan sesuatu.” Shui masih tetap tenang.


 “Baiklah, kita bisa bicara dijembatan samping


restoran ini, tak jauh juga disana. Kurasa aku juga ada yang mau kukatakan


padamu.” Ujarku. Dia tersenyum


kami pergi ke jembatan berdiri


berhadapan, sama-sama memiliki sesuatu untuk dikatakan.


 “Jadi kau mau bilang apa?” Tanyaku.


 “Lebih baik kau dulu yang mengatakannya, kau


bilang kau pun punya sesuatu untuk dikatakan.” Shui balik memintaku.


 “tak terlalu penting, tapi kurasa aku tak bisa


terus disini, kupikir urusanku sudah usai... dan soal Dai, dia lebih pantas


bersama orang lain seperti Fasa, kudengar belakangan ini mereka dekat.”


Ungkapku.


 “Tn. Dai bilang dia dan Fasa lebih seperti


teman, mereka tak saling memiliki perasaan istimewa satu sama lain. Fasa juga


sepertinya tak pernah peduli dengan yang namanya asmara.” Shui menoleh ke


restoran yang dekat dari sini, kami bisa melihat Fasa dan Dai


berbincang-bincang dengan akrab, tapi benar kata Shui. Mereka terlihat seperti


teman biasa.


 “Lalu apa, kau sendiri mau bilang apa?”


Tanyaku.


 “Tentang caramu kembali ke zamanmu!” Jawabnya


singkat. Aku terbelalak.


 “Sungguh? Kau tidak sedang bercanda, kan?!”


Desakku.


 “Tidak, tapi aku tak bisa memastikan akan


berhasil atau tidak. Persentasenya 50 banding 50.” Jawabnya lagi. “Tapi lebih


baik mencobanya, kan?!” Lanjutnya sambil memberiku sambungan dari pecahan kaca


yang dulu dia berikan padaku.


 “Tapi Shui, kenapa kau baru mengatakannya

__ADS_1


sekarang?”


 “Itu karena purnama yang bersinar pucat hanya


ada setahun dua kali, kira-kira pertengahan tahun dan akhir tahun. Aku tak bisa


mengatakan apapun padamu karena tak mau kau menunggu selama itu dengan penuh


harap sementara cara ini belum tentu berhasil. Ma, maafkan... aku!” Jelas Shui.


Kulihat ia menyesalinya.


Aku merasa begitu belakangan ini, Shui


semakin banyak interaksi padaku, sikapnya juga sangat baik dan dia sering


meminta maaf dan mengucapkan terima kasih untuk suatu hal yang terlalu sepele.


Ia tak seangkuh dulu tak tau mengapa.


 “Hei... Shui, Vier.” Tiba-tiba Fasa dan Dai


berada ujung jembatan memperhatikan kami.


 “Sedang apa kalian? Serius sekali seperti


orang diskusi militer!” Ledek Fasa.


Shui tampak canggung begitu Dai datang,


ia langsung menjaga jarak denganku. Kulihat ada senyum kecil diwajah Dai yang


tak dapat kumengerti.


 “Sudahlah, Shui... aku sama sekali tak merasa


tersakiti kalau kau bersama Vier, barusan aku mengobrol dengan Fasa, dan kami


rasa... kami saling suka!” Ungkap Dai.


Bohong sekali dia, jelas-jelas Fasa


Terkejut dengan ungkapan barusan dan langsung berbisik pada Dai seolah bertanya


‘apa kau bilang barusan?’. Yah, Dai dan Fasa kurang mahir untuk urusan ini,


tapi sepertinya mereka berhasil membuat Shui percaya.


 “Aku sumpahi kalian jodoh betulan, hati-hati


kalau berbohong jangan menyangkut takdir!!!” Tukasku.


 “Eh, oh... ngomong-ngomong kalian sedang


membicarakan apa tadi?” Dai mengalihkan topik pembicaraan karena mendapat


tatapan maut dari Fasa.


 “Ehm... Shui bilang dia bisa mengembalikanku


kezamanku, tapi itu belum tentu berhasil 100 persen!” Jawabku. Wajah Fasa dan


Dai berubah murung.


 “Maksudmu... kau akan segera pergi dari kami


dan tak akan pernah kembali?!” Fasa tertunduk.


 “Maaf teman-teman... aku tau aku sangat


bahagia bersama kalian, tapi aku juga merindukan keluargaku, mereka pasti


khawatir padaku dan menungguku kembali.” Ujarku.


Ini adalah bagian tersulit dari sebuah


perpisahan, dimana kau merasa nyaman dengan sesuatu dan harus meninggalkannya


untuk selamanya, disisi lain ada sesuatu yang tak kalah penting yang selalu kau


rindukan. Aku sangat bimbang sekarang, tapi tentu saja aku lebih memilih


 “Baiklah, kurasa aku bisa memahami, maaf atas


keegoisanku tadi.” Sesal Fasa.


 “Jadi kapan kau akan kembali? Kenapa baru


mengatakannya sekarang?” Sambung Dai.


 “Aku juga baru mendengarnya dari Shui barusan.


Soal waktu berangkatnya adalah bulan purnama nanti.” Jawabku.


 “Tunggu, bukankah puranama itu berarti besok


malam?!” Dai Menyela.


Kami menoleh pada Shui serempak. Ya,


ampun aku belum menyiapkan hati untuk meninggalkan semua ini.


.....


15 Desember 2200


Tak ada yang kupikirkan saat ini, hanya


akan melakukan banyak hal bersama tiga soulmate-ku ini. Kami berjanji untuk


bersama dari pagi ini sampai malam nanti karena nanti malam aku akan pergi dari


sisi mereka selamanya. Entah mengapa aku berharap malam tak segera datang, aku


masih ingin bersama mereka.


Tapi saat ini sudah hampir sore, kami


harus segera berangkat ke distrik 6. Dan selama perjalanan kesana kami


berbincang-bincang tentang banyak hal, perjalanan kesana terasa singkat karena


menggunakan pesawat pribadi Dai, yah jangan bayangkan bentuknya seperti pesawat


biasa, ini berbentuk burung elang bersayap kaku.


 “Apakah kau akan melupakan kami?” Tanya Fasa


tiba-tiba, padahal saat itu kami sedang membahas hal lain.


Aku terdiam, mau jawab apa? Aku pun tak


tau akan lupa atau tidak, tapi aku berharap tak akan pernah melupakan mereka


begitupun mereka padaku.


 “Duh, Fasa... kau tau kan kalau Vier tak


mugkin melupakan kita, kita sudah menelan asam garam bersama-sama, perjalanan


ini terlalu berharga untuk dilupakan.” Dai menenangkan Fasa. Aku tersenyum,


senyum tanpa arti.


 “Ini adalah tempatnya.” Ujar Shui ketika kami


sampai depan sebuah hutan yang dipagari kawat.


 “Bagaimana cara masuknya?” Tanyaku.


 “Ada jalan disekitar sini, ayo!” Ajaknya.


Kami mengikutinya sampai kedalam hutan.


sungguh, sangat tidak asing dengan pemandangan ini, pohon besar ditepi jalan,


rentetan pepohonan Sengon, sehimpun bambu... aku kenal tempat ini. Hingga


sampailah aku didepan sebuah puing-puing rumah yang masih familiar

__ADS_1


dipenglihatanku.


 “I, ini rumahku...” Gumamku.


 “Ya, tempat ini sengaja dijaga oleh Yaza Vumi


I dengan menyembunyikan keberadaannya, tapi karena sesekali aku menyamar jadi


Noir, aku bebas menyelidikinya tanpa ada yang curiga.” Shui memandang pada


aliran sungai disamping puing-puing rumahku.


 “Wah, sungai ini dulu Cuma aliran air biasa,


kenapa bisa jadi sungai deras begitu? Bahkan pohon Alpukat dan Guava ini masih


disini.” Seolah tak mempedulikan perkataan Shui barusan, aku malah sibuk


bernostalgia.


 “Vier, cepatlah, sebentar lagi purnamanya


sampai sejajar dengan batu yang ada ditengah sungai, kau harus cepat naik ke batu


itu.” Shui memberitahuku.


Aku mengangguk dan bergegas. Tak perlu


berenang dulu untuk sampai kebatu itu karena ada batu-batu lain yang timbul


kepermukaan yang bisa dijadikan pijakan sampai kebatu ditengah sungai.


Aku tau apa yang harus kulakukan,


berdiri diatas batu itu dan mengarahkan pecahan kaca yang sudah disatukan ini


kearah bulan yang bersinar pucat.


Suara deru air sungai bisa kudengar dan


kurasakan percikannya dikakiku, mataku melihat kelangit tanpa bintang,


burung-burung malam terbang melewati pandanganku tapi aku tak bisa melihat


kearah lain selain bulan. Mataku terkunci pada cahaya yang membias kewajahku


melewati kaca ini.


Beberapa saat terlewati, bahkan purnama


tak lagi sejajar dengan batu tempatku berpijak, jantungku berdebar kencang


sampai aku merasa hilang keseimbangan dan terpeleset jatuh kesungai. Sungai ini


cukup dalam apakah aku akan tenggelam dan tak sadarkan diri lalu bangun


ditempat asliku lagi?


 “VIER!!!” Bisa kudengar teriakan Fasa.


Disela-sela napas sesakku karena


kehabisan udara didalam air ini, aku menangkap sosok berambut panjang yang


berenang kearahku dan membawaku ketepian.


 “Apa kalian baik-baik saja?” Fasa tampak Cemas


menatap kami.


 “Sudah


kuduga ini tak akan berhasil!” Gumam Shui sambil terbatuk-batuk.


 “Apa maksudmu aku tak bisa kembali?” Tanyaku.


 “Aku membaca Break The Secret, bukan ini cara


kembalinya, kau diundang kesini... tapi mungkin kau tak bisa kembali jika dari


masa-mu tak ada yang mengundang, aku sudah memperkirakan jika purnama


terlewati, maka tak ada cara yang kuketahui.” Jelas Shui dengan tatapan


menyesal.


Mendengar itu aku merasa sesak, apakah


tak ada cara bagiku untuk kembali?! Aku memanggil-manggil ibuku  dalam hati.


 “Sudahlah, kita pikirkan lagi nanti, sekarang


lebih baik kita cari tempat mengganti baju kalian berdua, malam ini dingin


seali kalian bisa Flu.” Usul Dai.


 “Rasanya... kecewa sekali...” Gumamku.


“Maafkan aku Fasa, sudah merepotkan kalian sejauh ini... aku merasa tak enak


pada kalian.”


 “Ayolah, tak apa! Sekarang kita kembali


kemobil dulu!” Ajak Fasa.


Shui membantuku berdiri, aku memandang


pada puing-puing rumahku, ruang tengah tempat biasanya kami menonton TV


bersama, aku sungguh rindu pada ibuku.


 “Maafkan aku, Vier... seharusnya aku bisa


membantumu.” Sesal Shui.


 “Tak apa, mungkin sebaiknya memang begini,


jika ini takdir aku akan menerimanya. Dan Shui... Sejujurnya aku hanya kesal


dan ingin membalas, aku tak bisa membencimu, melihat apa yang sudah kau lakukan


demi aku selama ini... kurasa kaca yang telah kau pecahkan itu kini sudah


kembali seperti semula tanpa retakan. Terima kasih, ya!” Ungkapku.


 “DEG, DEG”


Tiba-tiba jantungku berdebar kencang,


aku ambruk ketanah dan pandanganku memburam. Aku bisa merasakan air yang


menetes dari rambut Shui jatuh kepipiku, wajah Shui tampak sangat khawatir ia


seperti sedang berteriak, baru kali ini aku melihatnya.


Aku masih menyukainya, aku tau dia baik


dan... aku hanya bodoh mengabaikannya untuk sesuatu yang sebenarnya bukan salah


Shui. Tak jauh dari Shui, kulihat Fasa dengan wajah mungilnya dan juga Dai yang


berkaca-kaca.


 “VIER, VIER!!!” Masih bisa kudengar teriakan


mereka yang bersahut-sahutan, tapi pandanganku semakin kabur.


Mataku melihat pada Shui sekali lagi,


apa ini? Dia menangis? Ia menundukkan wajahnya hingga aku bisa melihat air


matanya dengan jelas. Lalu kurasakan deru napasnya ketika berbisik padaku


dengan suara serak.


 “Aku mencintaimu!” Bisiknya sebelum


pandanganku gelap gulita.

__ADS_1


*****


__ADS_2