
Indonesia 4 Mei 2019
“Em Ji, En’em Ji! Hei, bangun sekarang, banyak
nyamuk kamu malah tidur disini!”
Yang membangunkanku dari mimpi itu
adalah suara ibuku, mengundangku kembali ketempat asalaku.
“Bunda? Ini...” Aku tak melanjutkan
perkataanku dan langsung memeluk Bunda erat-erat.
“Em Ji, ada apa ini? Kamu tiba-tiba peluk
bunda udah kayak gak ketemu berbulan-bulan aja.” Heran Bunda. Aku
melepas pelukanku.
“Iya, bunda... aku masuk sebentar lagi.
Bunda duluan saja!” Pintaku.
“Baiklah, cepet masuk, ya! Angin malem gak bagus, besok kamu juga harus masuk
sekolah, kan?!” Ujar Bunda-ku.
Aku mengangguk. Bunda masuk lagi
kedalam rumah meninggalkan pintunya tak terkunci. Aku berjalan pelan
mengelilingi halamanku, memperkirakan kalau aliran air ini adalah sungai besar,
maka tepiannya tak akan jauh dari sana. Aku terdiam beberapa lama... kurasa aku
masih bisa merasakan keberadaan tiga temanku disini, aku bahkan merasa seperti
mendengar suara mereka.
Dan aku terkaget-kaget begitu menyadari
tempatku tersungkur dan akhirnya bangun kembali dizaman ini adalah tempat aku
tidur tadi, tepat dikursi itu. Tapi menyadari apa pun sekarang tak ada gunanya,
aku sudah kembali kezamanku, aku meninggalkan mereka bertiga dan aku tak bisa
kembali.
Tiba-tiba aku mengingat beberapa detik
sebelum mataku tertutup. Iya, Shui menangis, kulihat air mata membasahi
wajahnya yang berparas manis itu... oh iya, dia berbisik sesuatu padaku, aku
mencoba mengingatnya.
“Aku mencintaimu.”
Kata itu teringat jelas ditelingaku seolah aku
sedang mendengarnya. Lalu entah mengapa aku merasa sedih, air mataku mengalir
tanpa aba-aba dariku. Tapi aku tak mau berlarut-larut, aku meninggalkan halaman
dan masuk kedalam rumah, melihat lagi suasana tenang ini. Padahal disana... aku
melewati banyak hal.
.....
Beberapa hari kemudian
Aku dianggap aneh semenjak kembali dari
sana, ‘dewasa tiba-tiba dan cara
bicaranya aneh’ itu kata mereka. Yah, tapi terserahlah, mana mungkin bisa
tetap sama setelah kulalui sekitar delapan bulan disana dengan penuh
petualangan luar biasa, sedangkan kehidupan disini serba biasa.
Pagi ini aku berangkat sekolah, sampai
sekolah hanya duduk dan menulis dibuku-ku. Aku juga tidak banyak bicara apalagi
mengobrol dengan mereka, malas juga karena mereka hanya membicarakan lelaki
lagi dan lagi, melihat nya saja sudah bosan. Sampai pulang sekolah pun aku
hanya asyik menikmati kesenanganku.
“Em Ji, Loe mau ikut gak ke pantai, nanti loe nebeng aja sama Jaya. Sekalian PDKT,
lhaa...” ajak salah satu temanku.
“Maaf, ya... aku punya hal lain yang ingin
kulakukan!” Jawabku sambil berlalu.
“Kesambet apaan tu anak?!” Aku bisa mendengar temanku bicara demikian. Yah, terkadang aku
lupa dan malah bicara dengan bahasa baku seperti di masa itu.
Sepulang sekolah aku berniat pergi ke
perpustakaan daerah, tempat dimana biasa menenangkan diri. Aku pergi kesana
dengan angkutan umum, dan lagi-lagi aku teringat kenanganku yang sering naik
mobil terbang bersama tiga temanku itu. rasanya rindu sekali, seolah aku
bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan sekarang, atau bagaimana keadaan
mereka.
Sesampai di perpustakaan, aku langsung
__ADS_1
menuju kumpulan buku-buku psikologi, yah... aku memang suka hal semacam itu.
“Hm, makasih banget nih udah mau bantuin!”
Tiba-tiba aku mendengar suara yang
terasa familiar ditelingaku. Aku segera berlari mencarinya, sepertinya itu berasal
dari tempat buku-buku kedokteran. Aku menoleh kesana-kemari mencari asal suara
tersebut.
“BRUK”
Sampai tak sengaja menabrak seseorang
hingga kalung yang ia genggam terjatuh.
“Maaf, maafkan saya! Saya terburu-buru karena
saya pikir...” Aku terhenti ketika mengambil kalung yang jatuh itu. kalung itu
liontinnya adalah sebuah cincin berukirkan dua ekor naga, aku mengenal cincin
ini, seperti milik Shui yang dulu pernah kulihat.
“Ah, gak apa-apa, kok... tapi, itu kenapa kamu ngeliatin cincin dikalung saya terus?”
aku lebih terkejut lagi begitu mendengar suara lelaki yang kutabrak tadi. Ya,
suara yang persis dengan suara Shui itu keluar dari mulutnya. Aku mendongak dan
menatap wajah lelaki itu.
“SHUI???” Teriak-ku.
Ya, wajahnya mirip sekali dengan wajah
Shui bahkan rambutnya juga panjang, hanya saja ia memakai kacamata dan
tatapannya lembut.
“Eh, Mbak maaf... ada apa nih?” Kulihat wajahnya yang tampak bingung. Aku yakin ini bukan
mimpi, dia memang berdiri didepanku.
“Khalif, ada apa? Eh siapa tuh?” Aku menoleh pada seorang lagi yang
datang kearah kami. Orang itu memanggil lelaki yang mirip Shui ini Khalif.
“Khalif? Tapi... kau memiliki cincin ini...
sangat persis seperti...” Gumamku.
“Oh, cincin itu punya bapak saya, mbak! Ini
turun temurun gitu lah, apa mbak pernah liat cincin kayak gini? Padahal katanya ini dibuat khusus sama buyut saya!” Ceritanya sambil
tertawa. Ia tampak lebih ramah dibanding Shui yang terkesan cuek.
“Lif, Mbak ini ngomongnya kayak pembaca berita aja, pake bahasa baku.” Aku bisa dengar temannya berbisik
aku menghela napas panjang,
berbalik hendak pergi.
“Eh, Mbak...
nama saya Adra Khalif, nama Mbak siapa? Sebenernya udah tiga hari ini
saya sering ngeliat Mbak disini.” Ia memanggilku lagi.
“Saya masih SMA, kok! Nama saya En’em Ji,
panggil Em Ji saja!” Jawabku.
Yah, memang mustahil dia adalah Shui.
Tapi melihat dia memang mengingatkanku pada Shui, suara, wajah dan bahkan ia
memiliki cincin yang sama seperti Shui. Dunia ini memang banyak misteri yang
tidak dapat dimengerti.
......
24 September 2205
Lima tahun setelah En’em Ji
kembali ke masa nya sendiri, Dai menjadi
pemimpin organisasi perdamaian dunia, ia kini menjadi pahlawan bagi banyak
orang, dan mereka masih menangisi kepergian pahlawan lainnya yaitu Vier yang
sebenarnya DarkNight.
Fasa seperti kehilangan dua sahabatnya
sekaligus, ia bersedih setiap kali mengingatnya, hal tersebut membuat Dai
berjanji akan menjadi temannya seumur hidup dan mereka saling mempercayai satu
sama lain.
Sedangkan Shui menjadi kapten dari
sebuah kelompok tentara yang berada dibawah binaan organisasi perdamaian,
mereka disebut Guard Of Peace.
Hari ini Dai sedang menunggu Fasa,
malam sebelumnya Fasa mengeluh pada Dai lewat telpon karena sedang banyak
masalah, lalu Dai pun berjanji akan menemuinya di taman Biotik yang sering jadi
tempat istirahatnya dulu.
__ADS_1
“Kau sudah menunggu lama, ya?” Tanya Fasa begitu
sampai ditempat.
“Tidak juga, sih. Tapi kenapa kau menolak
dijemput?” Dai balik bertanya.
“Wah, disekitarku banyak sekali orang yang
mengidolakanmu, aku sering dapat tatapan maut karena jadi satu-satunya wanita
yang dekat denganmu.” Jawab Fasa sambil duduk disamping Dai.
“Jadi mau Cerita apa? Katanya kau sedang
banyak masalah?” Tanya Dai lagi.
“Begini, sebenarnya orang tuaku memintaku
segera menikah.” Fasa memulai ceritanya. “Tapi kau tau sendiri kan kalau aku
sulit dekat dengan laki-laki. Nah, masalahnya, ada seorang pria paruh baya yang
memaksa menikahiku sedangkan aku melihatnya saja geli. Aku ingin cari lelaki
lain, setidaknya jangan yang seperti demikian!” Cerita Fasa.
Dai tak dapat menahan tawa dan akhirnya
tertawa terbahak-bahak, tapi ia langsung berhenti begitu melihat wajah Fasa
yang asam.
“Maaf, maaf... tapi kurasa aku akan membantumu
kalau kau tak keberatan dengan yang aku tawarkan nantinya.” Ujar Dai.
“Eh,benarkah? Kau mau membantuku mencari
lelaki yang akan jadi suamiku?!” Fasa tampak antusias.
“Engg... ehm... iya... tapi kenapa harus cari
laki-laki kalau aku saja laki-laki!” Dai berbicara dengan suara yang pelan.
“Maksudmu?” Heran Fasa.
“Maksudnya, dari pada menikah dengan lelaki
lain, lebih baik menikah dengannya!”
Dai dan Fasa terkejut begitu melihat
Shui ada dibelakang mereka menguping sejak tadi.
“Hm, kalian akhirnya terkena tuah omongan Vier
dulu, dia pernah bilang kalau kalian berbohong tentang takdir maka itu akan
terjadi. Dan itu terbukti, dulu kalian berbohong kalau kalian saling menyukai
dan ujungnya sekarang sungguh terjadi!” Lanjut Shui.
“Eh, Shui... kau belum berangkat? Katanya mau
ke Gurun Putih menemui Khaled?” Dai mengalihkan pembicaraan.
“Ini juga mau berangkat, tadi Cuma iseng saja
kok menguping calon pengantin baru.” Ledek Shui sambil berlalu meninggalkan
keduanya.
“Hm, kasihan ya Shui, ia masih tak bisa
melupakan Vier, eh... maksudku En’em Ji!” Ujar Fasa. Dai malah terdiam dengan
alis berkerut membuat Fasa bertanya mengapa.
“Kurasa aku memang tak bisa memberi tahunya.”
Gumam Dai.
“Soal apa?” Tanya Fasa.
“Bahwa En’em Ji atau DarkNight adalah nenek
buyutnya sendiri.” Jawab Dai.
“APA???” Teriak Fasa.
“Beberapa waktu yang lalu aku menemukan buku
catatan milik Noir, ia menulis tentang keponakannya yang baru berumur 10 tahun
ketika Yaza Vumi membantai keturunan DarkNight, keponakannya itu disuruh lari
olehnya mengarungi bukit dan tebing dibelakang hutan, Noir memberikan tanda
bahwa ia adalah keturunan DarkNight dengan memberikan cincin yang dijadikan
liontin kalung padanya. Cincin berukirkan dua ekor naga itu... dahulu milik
suami DarkNight yang bernama Adra Khalif, dan sejak pertama kali aku bertemu
Shui hingga sekarang... kalung itu tetap berada dileher Shui.” Jelas Dai.
“Hm, begitu, ya... kasihan memang kalau Shui
mengetahuinya, itu ironis sekali... ia pasti akan merasa bersalah.” Renung
Fasa.
“Ya, walaupun bahagia dalam ketidak tahuan itu
mengerikan... tapi masih lebih baik dari pada ia membawa beban penyesalan dalam
hidupnya.” Komentar Dai.
__ADS_1
TAMAT