
Satu hari sebelum pelaksanaan misi,
Shui berinisiatif untuk melatih aku dan Fasa cara menggunakan senjata api dan
tongkat listrik, juga beberapa cara untuk mempertahankan diri jika keadaan
darurat.
Kami tinggal di markas DieNeSs untuk
sementara, sudah beberapa hari aku dan Fasa tidak pulang kerumah tulip, dan
sepertinya Dai pun kerepotan memberi berbagai alasan pada kedua adiknya yang
terus menelpon dan menanyakan keberadaan dirinya.
“Kali ini cukup, sore nanti kita lanjutkan
dengan cara menembak dengan senjata laras panjang.” Ujar Shui sambil mengambil
pistol dari tangan Fasa. Suaranya masih saja pelan dan terkesan dibuat-buat.
“Tapi, kenapa dalam sehari kami langsung
mempelajari cara menggunakan tiga jenis senjata yang berbeda? Bukankah biasanya
butuh latihan panjang?” Tanya Fasa.
“Biasanya begitu, tapi saya juga kaget melihat
betapa cepatnya kalian berdua menguasai sejata yang kalian gunakan seolah sudah
sering memakainya.” Jawab Shui.
Aku memperhatikan Shui, menatap tajam
dirinya yang sedang merapikan senjata yang sebelumnya kami pakai. Tampaknya
Shui merasa tak nyaman dengan tatapan tajamku, beberapa kali dia bertingkah
canggung dan mungkin dia tak tahan dan akhirnya bertanya.
“Cuma perasaan saya atau nona Vier sungguh
menatap saya sejak tadi?” Tanya-nya.
“Iya, aku memang memperhatikanmu sejak tadi!”
jawabku jujur.
“Kenapa?” Shui kembali bertanya penuh rasa
penasaran.
“Jangan dipikirkan, aku Cuma memperhatikanmu
tanpa alasan, kok!” Jawabku sambil tersenyum.
“Oh, iya. Fasa, aku mau mengobrol
sebentar dengan Dai, aku minta tolong bantu Shui, ya!” Lanjutku begitu melihat
Dai lewat.
“Oke! Jangan terlalu lama ya, aku bingung harus
melakukan apa kalau tanpamu!” Cengir Fasa.
Aku mengangguk dan langsung berlari kearah Dai.
Entah Cuma perasaanku atau Shui benar-benar terus melihatku dengan tatapan aneh
ketika aku menuju pada Dai. Aku melirik sesaat padanya dan benar saja, dia
menatapku dengan tajam.
“Dai!” Panggilku. Dai menoleh dan kulihat dia
jadi malu-malu secara tiba-tiba. “Ada apa dengan tingkahmu itu? seperti orang
kerasukan saja.” Tanyaku heran karena ia sedikit menundukkan kepalanya dan
menghindari kontak mata denganku.
“Ada apa?” Tanyanya dengan suara pelan.
“Besok misi kita, kan?! Apa Shui akan ikut?
Dia masih sakit!” Ujarku.
“Aku sudah berkali-kali melarangnya, tapi dia
memaksa sekali, dia bilang lukanya tidak seberapa!” Dai melirik pada Shui yang
ada diruang latihan bersama Fasa.
“Huh, dia setia sekali padamu, dia bahkan sama
sekali tak memikirkan dirinya dan mendedikasikan hidupnya untukmu! Kok dia bisa
sebegitunya sih denganmu?” Kesalku.
Dai terdiam, matanya masih menatap kearah Shui, kemudian ia mulai bercerita.
“Aku bertemu dengannya ketika aku bersama
kakek Deuel dan beberapa pelayan kerajaan sedang piknik mendaki gunung di
distrik 4.” Ujarnya.
“Kau bertemu dengannya dan langsung jadi
akrab?” Tanyaku.
“Tidak, aku bertemu dengannya ketika dia
sekarat dicelah tebing dengan sekujur tubuh penuh luka. Kami langsung
membawanya kepedesaan terdekat dan mencari dokter, dia mendapat perawatan
alakadarnya karena kami Cuma bisa menemukan rumah sakit kecil disana. Beberapa
hari kemudian ia sadar, dokter mengatakan itu sebuah keajaiban karena ia bisa
sadar begitu cepat dengan luka separah itu.
Setelah ia sadar, kami langsung
membawanya ke distrik utama dengan pesawat untuk mendapat perawatan lebih
lanjut. Dan sejak ia bangun hingga kami sampai dirumah sakit besar distrik
utama pun... ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Dokter disana mengatakan
mungkin dia trauma, dan kami tak pernah tau apa yang telah terjadi padanya
hingga ia seperti itu.
Setelah dia sembuh total aku membawanya
kerumahku yang ada dipedasaan, waktu itu rumah itu baru saja selesai dibangun
dan baru kutempati bersama kakek Deuel beberapa hari. aku terus bertanya banyak
__ADS_1
hal padanya, tapi ia hanya diam tak menjawab. Waktu itu umurku 17 tahun dan
sepertinya Shui masih sekitar 10 tahunan, wajahnya sangat lucu seperti boneka,
aku merasa seperti punya adik. Tapi seminggu tinggal dengannya dia tak pernah
bicara, dan aku pun bingung memanggilnya apa.
Begitu kutanya ‘Boleh aku tau namamu?’
dia menggeleng dan untuk pertama kalinya dia bicara, ‘aku tak ingat apapun!’
katanya.”
Aku dengarkan cerita Dai dengan
seksama, sebegitu kelamnya masa lalu Shui, dan aku ingat ketika mengobati
lukanya, memang ada bekas luka lain yang terlihat sudah lama.
“Jadi, bagaimana dia bisa dipanggil Shui kalau
tak ingat apapun tentang dirinya?” Tanyaku antusias.
“Ah,
itu... agak konyol. Sudah dua minggu aku tinggal dengannya, tapi aku masih tak
tau harus bagaimana memanggilnya. Lalu ketika aku membaca majalah, aku melihat
sebuah tulisan kanji yang dibaca ‘SHUI’ artinya ‘Niat Utama’, rasanya nama itu
cocok saja untuknya, jadi sejak itu dia kupanggil Shui!” Jawab Dai sambil
tertawa kecil.
“Hm, aku sungguh bersyukur mengenal kalian
walaupun singkat, aku akan terus mengingatnya. Baiklah Dai, sebenarnya aku
punya hal lain yang ingin kusampaikan, tapi sebaiknya aku tak mengatakannya
sekarang.” Ujarku lalu berbalik dan hendak pergi.
“Apakah kau memiliki masalah dengan
kepribadianmu?” Tiba-tiba Dai bertanya ketika aku hendak pergi.
“Masalah kepribadian apa?” Heranku.
“Eh, tidak... tak usah dipikirkan!” kulihat
matanya ingin mengatakan sesuatu, tapi ya terserahlah, kalau penting dia pasti
akan mengatakannya.
.....
Perayaan hari persatuan
Aku dan Fasa memakai pakaian terbaik
yang kami punya, ketentuan dari upacara ini adalah baju serba hitam dan make up
Gothic.
Menurutku ini seperti bukan seperti
perayaan melainkan upacara kematian.
Kami berangkat dari rumah tulip dengan
mobil kupu-kupu Fasa, ketika kami sampai disana, alun-alun sudah ramai dengan
pakaian hitam juga.
Tak lama kemudian Yaza Vumi datang
dengan kedua putrinya diikuti Dai, ternyata Dai memakai setelan serba hitam
juga, dia malah mirip seperti Vampire dengan pakaian seperti itu.
“LONG LIVE DARKNIGHT!” Seru Yaza Vumi.
Orang-orang mengikuti seruannya sambil
meletakkan tangan kanan mereka didada dan memejamkan mata. Apa-apaan maniak
itu.
“Hari ini adalah hari dimana dunia ini
menemukan seseorang yang menjadi pembangun dari kehancuran,” Yaza Vumi mulai
bicara. “Ibu pembangunan kita yang telah membuat dunia ini jadi tempat yang
lebih baik dengan memberikan kita sumber energi utama. Dan untuk terus
mengingatnya, kita mengadakan perayaan ini.”
Upacara itu dimulai dengan nyanyian
lagu persatuan, kemudian semua orang termasuk Yaza Vumi berkumpul mengelilingi
semacam api unggun besar di tengah alun-alun. Semua lampu dimatikan dan
satu-satunya penerangan hanyalah api besar itu.
Dan secara bersamaan, orang-orang mulai
menyanyikan lagu kebangsaan yang lebih mirip lagu pemanggil setan.
Purnama yang tenggelam dibalik bukit batu,
Malam semakin menghitam ketika kehancuran menyapa.
Adalah dia sang kelam malam yang mengulurkan tangan dibawah
senyum memilukan.
Hancurnya perasaan diantara impian.
Dia adalah api yang membara, hangat dan terang diantara gelap
yang membekukan.
Penyair yang menulis dengan tinta darah,
Pelukis yang berkanvas tulang putih,
Pemusik yang menyenandungkan tangisan...
Ini adalah impian, persatuan dan kesatuan.
Satu hukum untuk dunia yang sama.
Begitu
lagu itu selesai dinyanyikan, Yaza Vumi kembali dengan pidatonya untuk menyambut
orang-orang. Dan diantara pidatonya yang membosankan, tiba-tiba ia membahas
suatu hal yang mengambil alih perhatianku yaitu pembicaraan soal keturunan
__ADS_1
terakhir DarkNight.
“Hari
ini, saya akan memperkenalkan seseorang... dia adalah keturunan terakhir dari
DarkNight yang selama ini saya rahasiakan demi keselamatannya, mengingat
terjadi pembantaian terhadap keturunan DarkNight 8 tahun lalu.” Ujar sang Yaza
Vumi.
Aku terkejut mendengar pernyataan itu,
kalau aku adalah DarkNight, itu artinya yang dibantai adalah anak keturunanku
sendiri. Sungguh ******** orang yang telah melakukan itu.
Aku sangat terkejut dan hampir tak bisa
mengendalikan emosiku, untung saja Fasa langsung menggenggam tanganku dan membuatku
lebih tenang.
“Apa maksudnya? Pembantaian kepada keturunan
DarkNight, kenapa kau tak pernah mengatakan tentang hal ini?” tanyaku sambil
menahan amarah.
“Aku masih tak mengerti tentang itu, kukira
itu hanya gosip, berita tentang itu pun tak pernah dimuat di majalah, koran
atau media berita lainnya... bagaimana bisa kuceritakan padamu!” Fasa berbisik
ditelingaku.
“Sial! Katanya orang-orang dizaman ini
terobsesi padaku, tapi kenapa keturunanku malah dibantai?” Gumamku tertahan.
“Semua orang juga memiliki pertanyaan yang
sama, ‘siapa yang telah membantai keturunan DarkNight?’ itu adalah teka-teki
tanpa jawaban!” Fasa menggenggamku semakin erat.
“Sesulit apa pun itu, akan kukumpulkan
kepingan puzzle yang menghubungkan semua masalah ini!” Aku menarik napas dalam
dan menghembusnya perlahan untuk meredakan amarahku.
Aku mengembalikan perhatianku pada
acara ini dan memusatkan pikiranku pada misi yang akan kami jalani sebentar
lagi. Aku juga memperhatikan sekitarku, melihat orang-orang yang datang dan berdesakan
dengan kami.
Dibawah cahaya yang minim itu aku
melihat Shui berdiri tak jauh dariku dan Fasa. Aku menarik Fasa untuk lebih
mendekat pada Shui.
“Hai, Shui. Kemana Dai?” Tanyaku dengan
santai.
“Oh, Tn. Dai mungkin ada diantara kerumunan,
akan sulit mencarinya. Ngomong-ngomong saya bahkan hampir tak mengenali kalian
berdua!” Ungkap Shui.
sang Yaza Vumi pun kembali melanjutkan
pidatonya tentang keturunan terakhir DarkNight itu, aku menyimaknya. Sampai
Yaza Vumi mengatakan sesuatu yang membuatku tersedak keterkejutanku sendiri.
Dia bilang,
“Saya yakin semua orang telah mengenalnya,
sekarang dia berada disalah satu ruangan di istana ini, dia akan keluar ketika
upacara pemadaman api. Dia adalah... NOIR si topeng tengkorak!!!” Ujarnya.
Aku langsung terdiam, kalau Noir adalah
keturunan terakhirku, mungkin dia adalah orang yang telah membuka portal waktu
dan mengirimku kesini. Jadi dialah kunci yang akan membuka permasalahanku, aku
harus menemuinya sekarang karena bisa saja setelah ini ia tak muncul lagi.
Aku menjauh dari kerumunan perlahan
bahkan sampai Fasa tak menyadari kepergianku. Seluruh lampu dimatikan termasuk
yang didalam istana, semua tempat menjadi gelap gulita.
Tak kusangka pintu masuk istana di
halaman samping kosong melompong tanpa penjaga, mungkin ini kesempatanku, aku
masuk ke istana dengan penerangan dari ponsel berbentuk cincin ini.
Kuperiksa ruangan demi ruangan sambil
kucing kucingan dengan penjaga yang mondar-mandir memeriksa. Sampai dilantai
paling atas istana, aku menemukan sebuah ruangan yang bercahaya walaupun minim.
Pasti Noir ada disana!
Aku berlari keruangan itu dan langsung
menyerbu masuk tanpa permisi. Kutemukan sosok itu, jubah hitamnya yang
menjuntai dan lekat dengan kesan mistis itu tampak familiar. Sosok itu berdiri
didepan cermin besar dengan penerangan dari tiga buah lilin. Dia masih memegang
topengnya.
Sosok itu menyadari kehadiranku dan
menoleh menampakkan wajah yang amat sangat terkejut hingga topengnya terjatuh
kelantai. Mata yang tajam bersahabat juga rambut pekat yang dihembus angin...
sosok ramah yang sangat kukenali dan aku tak dapat mempercayainya.
Lalu dengan tergagap-gagap aku berkata,
“Bagaimana... mungkin, selama ini sosok
Noir adalah... kau...”
__ADS_1
*****