Break The Secret

Break The Secret
13) PERAYAAN : pembukaan


__ADS_3

Satu hari sebelum pelaksanaan misi,


Shui berinisiatif untuk melatih aku dan Fasa cara menggunakan senjata api dan


tongkat listrik, juga beberapa cara untuk mempertahankan diri jika keadaan


darurat.


Kami tinggal di markas DieNeSs untuk


sementara, sudah beberapa hari aku dan Fasa tidak pulang kerumah tulip, dan


sepertinya Dai pun kerepotan memberi berbagai alasan pada kedua adiknya yang


terus menelpon dan menanyakan keberadaan dirinya.


 “Kali ini cukup, sore nanti kita lanjutkan


dengan cara menembak dengan senjata laras panjang.” Ujar Shui sambil mengambil


pistol dari tangan Fasa. Suaranya masih saja pelan dan terkesan dibuat-buat.


 “Tapi, kenapa dalam sehari kami langsung


mempelajari cara menggunakan tiga jenis senjata yang berbeda? Bukankah biasanya


butuh latihan panjang?” Tanya Fasa.


 “Biasanya begitu, tapi saya juga kaget melihat


betapa cepatnya kalian berdua menguasai sejata yang kalian gunakan seolah sudah


sering memakainya.” Jawab Shui.


Aku memperhatikan Shui, menatap tajam


dirinya yang sedang merapikan senjata yang sebelumnya kami pakai. Tampaknya


Shui merasa tak nyaman dengan tatapan tajamku, beberapa kali dia bertingkah


canggung dan mungkin dia tak tahan dan akhirnya bertanya.


 “Cuma perasaan saya atau nona Vier sungguh


menatap saya sejak tadi?” Tanya-nya.


 “Iya, aku memang memperhatikanmu sejak tadi!”


jawabku jujur.


 “Kenapa?” Shui kembali bertanya penuh rasa


penasaran.


 “Jangan dipikirkan, aku Cuma memperhatikanmu


tanpa alasan, kok!” Jawabku sambil tersenyum.


“Oh, iya. Fasa, aku mau mengobrol


sebentar dengan Dai, aku minta tolong bantu Shui, ya!” Lanjutku begitu melihat


Dai lewat.


 “Oke! Jangan terlalu lama ya, aku bingung harus


melakukan apa kalau tanpamu!” Cengir Fasa.


 Aku mengangguk dan langsung berlari kearah Dai.


Entah Cuma perasaanku atau Shui benar-benar terus melihatku dengan tatapan aneh


ketika aku menuju pada Dai. Aku melirik sesaat padanya dan benar saja, dia


menatapku dengan tajam.


 “Dai!” Panggilku. Dai menoleh dan kulihat dia


jadi malu-malu secara tiba-tiba. “Ada apa dengan tingkahmu itu? seperti orang


kerasukan saja.” Tanyaku heran karena ia sedikit menundukkan kepalanya dan


menghindari kontak mata denganku.


 “Ada apa?” Tanyanya dengan suara pelan.


 “Besok misi kita, kan?! Apa Shui akan ikut?


Dia masih sakit!” Ujarku.


 “Aku sudah berkali-kali melarangnya, tapi dia


memaksa sekali, dia bilang lukanya tidak seberapa!” Dai melirik pada Shui yang


ada diruang latihan bersama Fasa.


 “Huh, dia setia sekali padamu, dia bahkan sama


sekali tak memikirkan dirinya dan mendedikasikan hidupnya untukmu! Kok dia bisa


sebegitunya sih denganmu?” Kesalku.


Dai terdiam, matanya masih menatap kearah Shui, kemudian ia mulai bercerita.


 “Aku bertemu dengannya ketika aku bersama


kakek Deuel dan beberapa pelayan kerajaan sedang piknik mendaki gunung di


distrik 4.” Ujarnya.


 “Kau bertemu dengannya dan langsung jadi


akrab?” Tanyaku.


 “Tidak, aku bertemu dengannya ketika dia


sekarat dicelah tebing dengan sekujur tubuh penuh luka. Kami langsung


membawanya kepedesaan terdekat dan mencari dokter, dia mendapat perawatan


alakadarnya karena kami Cuma bisa menemukan rumah sakit kecil disana. Beberapa


hari kemudian ia sadar, dokter mengatakan itu sebuah keajaiban karena ia bisa


sadar begitu cepat dengan luka separah itu.


Setelah ia sadar, kami langsung


membawanya ke distrik utama dengan pesawat untuk mendapat perawatan lebih


lanjut. Dan sejak ia bangun hingga kami sampai dirumah sakit besar distrik


utama pun... ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Dokter disana mengatakan


mungkin dia trauma, dan kami tak pernah tau apa yang telah terjadi padanya


hingga ia seperti itu.


Setelah dia sembuh total aku membawanya


kerumahku yang ada dipedasaan, waktu itu rumah itu baru saja selesai dibangun


dan baru kutempati bersama kakek Deuel beberapa hari. aku terus bertanya banyak

__ADS_1


hal padanya, tapi ia hanya diam tak menjawab. Waktu itu umurku 17 tahun dan


sepertinya Shui masih sekitar 10 tahunan, wajahnya sangat lucu seperti boneka,


aku merasa seperti punya adik. Tapi seminggu tinggal dengannya dia tak pernah


bicara, dan aku pun bingung memanggilnya apa.


Begitu kutanya ‘Boleh aku tau namamu?’


dia menggeleng dan untuk pertama kalinya dia bicara, ‘aku tak ingat apapun!’


katanya.”


Aku dengarkan cerita Dai dengan


seksama, sebegitu kelamnya masa lalu Shui, dan aku ingat ketika mengobati


lukanya, memang ada bekas luka lain yang terlihat sudah lama.


 “Jadi, bagaimana dia bisa dipanggil Shui kalau


tak ingat apapun tentang dirinya?” Tanyaku antusias.


 “Ah,


itu... agak konyol. Sudah dua minggu aku tinggal dengannya, tapi aku masih tak


tau harus bagaimana memanggilnya. Lalu ketika aku membaca majalah, aku melihat


sebuah tulisan kanji yang dibaca ‘SHUI’ artinya ‘Niat Utama’, rasanya nama itu


cocok saja untuknya, jadi sejak itu dia kupanggil Shui!” Jawab Dai sambil


tertawa kecil.


 “Hm, aku sungguh bersyukur mengenal kalian


walaupun singkat, aku akan terus mengingatnya. Baiklah Dai, sebenarnya aku


punya hal lain yang ingin kusampaikan, tapi sebaiknya aku tak mengatakannya


sekarang.” Ujarku lalu berbalik dan hendak pergi.


 “Apakah kau memiliki masalah dengan


kepribadianmu?” Tiba-tiba Dai bertanya ketika aku hendak pergi.


 “Masalah kepribadian apa?” Heranku.


 “Eh, tidak... tak usah dipikirkan!” kulihat


matanya ingin mengatakan sesuatu, tapi ya terserahlah, kalau penting dia pasti


akan mengatakannya.


.....


Perayaan hari persatuan


Aku dan Fasa memakai pakaian terbaik


yang kami punya, ketentuan dari upacara ini adalah baju serba hitam dan make up


Gothic.


Menurutku ini seperti bukan seperti


perayaan melainkan upacara kematian.


Kami berangkat dari rumah tulip dengan


mobil kupu-kupu Fasa, ketika kami sampai disana, alun-alun sudah ramai dengan


pakaian hitam juga.


Tak lama kemudian Yaza Vumi datang


dengan kedua putrinya diikuti Dai, ternyata Dai memakai setelan serba hitam


juga, dia malah mirip seperti Vampire dengan pakaian seperti itu.


 “LONG LIVE DARKNIGHT!” Seru Yaza Vumi.


Orang-orang mengikuti seruannya sambil


meletakkan tangan kanan mereka didada dan memejamkan mata. Apa-apaan maniak


itu.


 “Hari ini adalah hari dimana dunia ini


menemukan seseorang yang menjadi pembangun dari kehancuran,” Yaza Vumi mulai


bicara. “Ibu pembangunan kita yang telah membuat dunia ini jadi tempat yang


lebih baik dengan memberikan kita sumber energi utama. Dan untuk terus


mengingatnya, kita mengadakan perayaan ini.”


Upacara itu dimulai dengan nyanyian


lagu persatuan, kemudian semua orang termasuk Yaza Vumi berkumpul mengelilingi


semacam api unggun besar di tengah alun-alun. Semua lampu dimatikan dan


satu-satunya penerangan hanyalah api besar itu.


Dan secara bersamaan, orang-orang mulai


menyanyikan lagu kebangsaan yang lebih mirip lagu pemanggil setan.


Purnama yang tenggelam dibalik bukit batu,


Malam semakin menghitam ketika kehancuran menyapa.


Adalah dia sang kelam malam yang mengulurkan tangan dibawah


senyum memilukan.


Hancurnya perasaan diantara impian.


Dia adalah api yang membara, hangat dan terang diantara gelap


yang membekukan.


Penyair yang menulis dengan tinta darah,


Pelukis yang berkanvas tulang putih,


Pemusik yang menyenandungkan tangisan...


Ini adalah impian, persatuan dan kesatuan.


Satu hukum untuk dunia yang sama.


 Begitu


lagu itu selesai dinyanyikan, Yaza Vumi kembali dengan pidatonya untuk menyambut


orang-orang. Dan diantara pidatonya yang membosankan, tiba-tiba ia membahas


suatu hal yang mengambil alih perhatianku yaitu pembicaraan soal keturunan

__ADS_1


terakhir DarkNight.


 “Hari


ini, saya akan memperkenalkan seseorang... dia adalah keturunan terakhir dari


DarkNight yang selama ini saya rahasiakan demi keselamatannya, mengingat


terjadi pembantaian terhadap keturunan DarkNight 8 tahun lalu.” Ujar sang Yaza


Vumi.


Aku terkejut mendengar pernyataan itu,


kalau aku adalah DarkNight, itu artinya yang dibantai adalah anak keturunanku


sendiri. Sungguh ******** orang yang telah melakukan itu.


Aku sangat terkejut dan hampir tak bisa


mengendalikan emosiku, untung saja Fasa langsung menggenggam tanganku dan membuatku


lebih tenang.


 “Apa maksudnya? Pembantaian kepada keturunan


DarkNight, kenapa kau tak pernah mengatakan tentang hal ini?” tanyaku sambil


menahan amarah.


 “Aku masih tak mengerti tentang itu, kukira


itu hanya gosip, berita tentang itu pun tak pernah dimuat di majalah, koran


atau media berita lainnya... bagaimana bisa kuceritakan padamu!” Fasa berbisik


ditelingaku.


 “Sial! Katanya orang-orang dizaman ini


terobsesi padaku, tapi kenapa keturunanku malah dibantai?” Gumamku tertahan.


 “Semua orang juga memiliki pertanyaan yang


sama, ‘siapa yang telah membantai keturunan DarkNight?’ itu adalah teka-teki


tanpa jawaban!” Fasa menggenggamku semakin erat.


 “Sesulit apa pun itu, akan kukumpulkan


kepingan puzzle yang menghubungkan semua masalah ini!” Aku menarik napas dalam


dan menghembusnya perlahan untuk meredakan amarahku.


Aku mengembalikan perhatianku pada


acara ini dan memusatkan pikiranku pada misi yang akan kami jalani sebentar


lagi. Aku juga memperhatikan sekitarku, melihat orang-orang yang datang dan berdesakan


dengan kami.


Dibawah cahaya yang minim itu aku


melihat Shui berdiri tak jauh dariku dan Fasa. Aku menarik Fasa untuk lebih


mendekat pada Shui.


 “Hai, Shui. Kemana Dai?” Tanyaku dengan


santai.


 “Oh, Tn. Dai mungkin ada diantara kerumunan,


akan sulit mencarinya. Ngomong-ngomong saya bahkan hampir tak mengenali kalian


berdua!” Ungkap Shui.


sang Yaza Vumi pun kembali melanjutkan


pidatonya tentang keturunan terakhir DarkNight itu, aku menyimaknya. Sampai


Yaza Vumi mengatakan sesuatu yang membuatku tersedak keterkejutanku sendiri.


Dia bilang,


 “Saya yakin semua orang telah mengenalnya,


sekarang dia berada disalah satu ruangan di istana ini, dia akan keluar ketika


upacara pemadaman api. Dia adalah... NOIR si topeng tengkorak!!!” Ujarnya.


Aku langsung terdiam, kalau Noir adalah


keturunan terakhirku, mungkin dia adalah orang yang telah membuka portal waktu


dan mengirimku kesini. Jadi dialah kunci yang akan membuka permasalahanku, aku


harus menemuinya sekarang karena bisa saja setelah ini ia tak muncul lagi.


Aku menjauh dari kerumunan perlahan


bahkan sampai Fasa tak menyadari kepergianku. Seluruh lampu dimatikan termasuk


yang didalam istana, semua tempat menjadi gelap gulita.


Tak kusangka pintu masuk istana di


halaman samping kosong melompong tanpa penjaga, mungkin ini kesempatanku, aku


masuk ke istana dengan penerangan dari ponsel berbentuk cincin ini.


Kuperiksa ruangan demi ruangan sambil


kucing kucingan dengan penjaga yang mondar-mandir memeriksa. Sampai dilantai


paling atas istana, aku menemukan sebuah ruangan yang bercahaya walaupun minim.


Pasti Noir ada disana!


Aku berlari keruangan itu dan langsung


menyerbu masuk tanpa permisi. Kutemukan sosok itu, jubah hitamnya yang


menjuntai dan lekat dengan kesan mistis itu tampak familiar. Sosok itu berdiri


didepan cermin besar dengan penerangan dari tiga buah lilin. Dia masih memegang


topengnya.


Sosok itu menyadari kehadiranku dan


menoleh menampakkan wajah yang amat sangat terkejut hingga topengnya terjatuh


kelantai. Mata yang tajam bersahabat juga rambut pekat yang dihembus angin...


sosok ramah yang sangat kukenali dan aku tak dapat mempercayainya.


Lalu dengan tergagap-gagap aku berkata,


“Bagaimana... mungkin, selama ini sosok


Noir adalah... kau...”

__ADS_1


*****


__ADS_2