Break The Secret

Break The Secret
23) ATTACK : Tiupan


__ADS_3

Pentas opera Vajus (17 agustus 2200)


Riuh suara penonton terasa akrab


ditelingaku, sorak-sorai, tepukan tangan dan siulan kegirangan. Bagaikan palu


pemecah kesunyian, begitulah aku melihat ribuan penonton yang mengelilingi panggung


ini.


Sosok bertopeng tengkorak yang lama


kurindukan, ia laksana kekasih hati yang tak dikenal dan berakhir dengan


keterlukaan yang tidak kuharapkan. Shui memerankan sosok Noir, aku tau itu


adalah dia bahkan hanya dari hembusan hangat napasnya.


 “Kau gemetar, apa kau takut pada tiupan


terompet yang menandakan akhir pentas?” Tanyanya dengan suara berbisik ketika


kami dalam sebuah adegan dimana ia berdiri dibelakangku.


 “Hm, sudah kuduga kau tak akan menjawab...


sekarang kau membenciku?” Ia berbisik lagi Ditelingaku.


Aku tak menggubrisnya dan hanya fokus


pada apa yang kulakukan. Seandainya aku bisa melihat ekspresi Shui saat itu


yang tersembunyi dibalik topeng, aku ingin lihat wajahnya ketika bicara seolah


ia menyesal padaku.


Setelah beberapa lama, kami hampir


sampai diakhir pentas. Aku menyenandungkan lagu penutup sebelum tiupan terompet


tanda berkhirnya pentas. Tanpa sadar aku gemetar dan suaraku terdengar sedikit


kaku, untungnya Dai secara profesional membantuku menyenandungkan lagu itu.


Lagu selesai disenandungkan, penonton


memberi tepuk tangan meriah sambil berdiri termasuk Yaza Vumi dan Dua orang


adik Dai yang berada di Royal Box. Peniup terompet menaiki tangga menuju


panggung dan berbaris layaknya serdadu.


 “TREETT TET TET”


Suara tiupan terompet berbunyi diikuti


suara gemuruh diiringi getaran seperti gempa, dan kemudian kericuhan yang


terjadi diluar opera, orang-orang kebingungan tentang apa yang terjadi, mereka


panik dan berebut keluar gedung opera.


Suasana meriah itu berubah menjadi


suara kericuhan dan kepanikan. Agaknya aku tau yang terjadi, ini adalah awal


rencana kami. Aku melirik pada Yaza Vumi yang masih berdiri di Royal Box dan


memberikan tatapan tajam kepadaku.


Aku berinisiatif untuk melepas


selendang hitam yang melingkar dileherku dan mengayunkannya kearah Yaza Vumi,


dengan artian aku mengibarkan bendera perang padanya.


 “HUKUM OLEH RAJA, DAN RAJA OLEH TUHAN!!!”


Teriakku.


Seluruh perhatian penonton menuju


kearahku lagi, seketika suara penonton yang panik sirna. Dai menatap heran


padaku, mungkin bingung atas apa yang kulakukan.


 “INGATLAH YAZA VUMI, MENGUASAI DUNIA ADALAH


IMPIAN BODOH.”


Lanjutku. Dai menghampiriku berusaha


mencegahku.


 “Kau Gila? Cepat menyingkir dari situ!”


Perintahnya, tapi aku tak menghiraukan itu.


 “KAMI ADALAH DARKNIGHT SHOULDIERS!!!” Seru-ku.


Sesuai dugaanku, orang-orang saling


berbisik mengenai pendapat masing-masing. Opera ini disiarkan secara langsung


disetiap distrik, otomatis keributan tadi dan seruanku barusan tayang perdana


didepan semua orang.


Setelah seruanku itu tirai panggung


tertutup, Fasa tampak bergegas menemuiku dan membawaku pergi diam-diam dari


sana. Aku dan Fasa kini berada dijalan rahasia menuju istana, kami berada


didalam sana untuk bersembunyi.


 “Bagaimana dengan Dai dan orang-orang DieNeSs


yang ada digedung opera?” Tanyaku ketika kami tengah menghela napas didalam


jalan rahasia itu.


 “Shui ada disana untuk Dai, orang-orang


DieNeSs sudah pergi ketika keributan yang kau sebabkan.” Jawab Fasa sambil


menyetabilkan napasnya.


 “Haha... kau lihat ekspresi Yaza Vumi tadi?


Dia terkejut karena aku mengambil taruhannya!” Tawaku hambar.


 “Aku juga kaget karena kau mengambil taruhan


itu, dan... apakah itu artinya kau bersedia bersama Dai?” Tanya Fasa lagi.


 “Aku masih tak memikirkan tentang itu, yang


jelas aku ingin membuat orang yang mengaku lebih hebat dari tuhan itu sadar


diri.” Jelasku.

__ADS_1


Taruhan yang dimaksud adalah


kesepakatan yang aku dan Fasa buat bersama Yaza Vumi ketika dia menyusup


kerumah tulip kami beberapa waktu yang lalu. Dia mengetahui bahwa aku dan Dai


bersama DieNeSs berniat membuat kudeta, dia menertawai kelompok kami dan


mengatakan itu tak akan pernah berhasil.


Kami bisa terima diejek begitu, tapi


yang paling membuatku marah adalah ketika dia mengatakan, ‘orang-orang labil seperti kalian tak akan bisa melawanku, bahkan tuhan


sekalipun tak mampu menghukumku!’  kudengar itu dengan telingaku sendiri. Manusia yang sudah kelewatan dan


menuhankan diri sendiri, aku ingin melenyapkan orang seperti itu.


Kemudian aku menegaskan padanya bahwa


kelompok kami tak akan berhenti disitu saja, dia menertawakanku lagi. Sampai


akhirnya dia bertanya hal yang sebenarnya tak terlalu penting dibahas waktu


itu. Dia tanya apakah aku benar-benar mencintai Dai, aku tak menjawab saat itu


karena bingung.


Dia memberiku dua pilihan, kalau aku


mencintai Dai dan punya keberanian untuk melanjutkan kudeta, dia memintaku


mengungkapkan diri sebagai pemberontak didepan banyak orang seusai pentas


opera. Jika masyarakat banyak mendukung pemberontakan itu maka Yaza Vumi akan


dengan suka rela turun dari tahtanya dan memberikannya pada Dai, tapi dengan


konsekuensi akan menghukum mati para pemberontak terutama aku apa bila


masyarakat tak merespon kami. Resiko pilihan ini memang sangat berat.


Pilihan kedua, aku disuruh pergi


melarikan diri jika terlalu takut untuk diberi hukuman, melarikan diri seperti


pecundang dan meninggalkan segalanya termasuk Dai dan opera. Dengan begitu aku


memang selamat sentosa, tapi tentunya aku paling benci jadi pecundang, karena


itulah aku memilih pilihan pertama dan jika gagal, aku tak akan mengungkap


DieNeSs dan memilih mati sendirian.


 “Kau benar-benar tak tau rasa takut!” Pungkas


Fasa kemudian.


 “Siapa bilang aku tidak takut, aku takut


setengah mati sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, kadang kita harus mengambil


taruhan besar dengan nyawa sendiri sebagai jaminannya, kan?!”


 “Tapi ngomong-ngomong... kurasa Yaza Vumi


sangat menyayangi Dai dengan tulus, kau ingat apa yang dia katakan sebelum


pergi?” Fasa berpindah topik pembicaraan.


 “Dia bilang... jika aku memilih pilihan


 “Sudah kuduga kalian disini!”


Tiba-tiba Dai membuka pintu tempat


persembunyian kami dan mengejutkan kami ditengah-tengah obrolan ini.


 “Ayo


cepat, berkat kau kita dicari-cari sekarang.” Ujar Dai sambil menarik lengan


kami agar keliar dari sana.


 “Dicari?” Heran Fasa.


 “Ya tentu saja, kalian pikir pemberontak bisa


hidup aman damai?!” kesal Dai.


Kami dibawa diam-diam menuju tempat


dimana Shui sudah siap dengan mobilnya. Untunglah kami bisa sampai dimobil


dengan selamat.


 “Kau ganti mobil, Dai?” Tanyaku setelah shui


mulai mengendarai mobil.


 “Pertanyaan Bodoh!” Tukas Dai dengan lirikan


mata mematikan. Sudah kuduga dia kesal padaku, tapi apa boleh buat itulah yang


terjadi.


 “Itu pilihan yang diberikan ayahmu untuk kami,


melawan sebagai pejuang atau lari sebagai pecundang!” Ujarku pada akhirnya.


Dai sangat terkejut dengan ungkapanku


barusan, kepalanya berputar 180 derajat untuk menoleh kearahku karena dia duduk


dikursi samping pengemudi sedangkan Fasa dan aku dibangku penumpang.


 “Apa maksudmu?” Tanyanya bingung.


 “Ayahmu sudah tau kita pemberontak, dia


memberiku pilihan. Kalau mau tetap berjuang kita harus mengungkap diri kita,


tapi aku hanya mengungkap diriku sendiri karena tak mau yang lain dalam bahaya.


Jika terlalu takut tetap berjuang... larilah sebagai pecundang!” Jelasku


simpel.


Dai terdiam, ia terlihat seperti sedang


memikirkan sesuatu yang sangat membuat pikirannya kalut.


 “Kenapa?” Tanya Fasa cemas.


 “Aku memikirkan dua adikku, mereka tak mungkin


tetap disini dan melihat perang antara ayah dan kakaknya, aku ingin yang mereka


tau adalah bahwa aku bertarung bersama ayahku, bukan bertarung melawan ayahku.”


Jawab Dai penuh bimbang.

__ADS_1


 “Tak ada gunanya kau sembunyikan itu sampai ke


Liang Lahat, suatu hari mereka akan tau dan merasa dibohongi, tapi kalau kau


mengatakannya dengan mulutmu sendiri sekarang... mungkin mereka akan mengerti.”


Nasihatku pada Dai.


Setelah obrolan singkat itu kami tak membahas


apapun lagi, bahkan Shui yang masih memakai pakaian Noir itu tak mengeluarkan


suara barang sedikit saja.


Kami mampir sebentar kerumah Tulip dan


mungkin ini akan jadi kali terakhir. Kami ambil barang yang penting saja lalu


langsung bergegas pergi kemarkas DieNeSs. Untuk sekedar waspada kami berganti


mobil ditengah terowongan gelap. entah siapa yang telah menyiapkannya.


Keadaan ini lebih menguntungkan, karena


semua mobil mengambang kira-kira dua sampai tiga meter diatas tanah, terowongan


itu berbentuk seperti pipa tabung yang besar nan panjang. Guna terowongan itu


adalah agar mobil-mobil tak menabrak gedung-gedung berbagai macam bentuk yang


menjulang dimana-mana hingga nyaris tak ada jalan. Kadang kala terowongan


menembus gedung untuk jadi jalan.


 “Vier, kau istirahatlah dulu, biar Shui yang


jelaskan pada anggota lain tentang apa yang kau lakukan diatas panggung tadi.


Dan... aku akan menitipkan adik-adikku pada keluarga Vier asli, Fasa akan


mengantarku ke distrik 10!” jelas Dai ketika kami sudah sampai di markas


DieNeSs.


Aku mengangguki Dai, kemudian ia dan


Fasa pergi dari ruangan tempatku istirahat.


Beberapa saat aku berada diruangan itu,


berbaring disofa sambil menatap langit-langit ruangan. Aku tak bisa


beristirahat disaat seperti ini, disaat semua orang tengah sibuk dengan segala


macam hal yang perlu disiapkan untuk perang besok.


Aku keluar dari ruangan sekedar bejalan-jalan


saja, tak kusangka malah bertemu pak Hauen yang sedang menghela napas sambil


bersandar didinding lorong. Aku menghampirinya dan menyapanya.


 “Nona Monochrome, tindakan anda tadi berani


sekali!” ujar pak Hauen entah itu peringatan atau pujian.


 “Maafkan saya soal itu, pak. Saya membahayakan


kita semua.” Sesalku.


 “Tidak, bukan itu maksud saya Nona Monochrome.


Shui tadi menjelaskan semuanya, saya rasa tindakan anda yang berani itu sungguh


mengharukan. Anda membahayakan diri anda sendiri dengan ungkapan anda adalah


pemberontak, tapi tak satu pun orang yang anda ikut sertakan dalam hal itu.


kami masih bisa berjalan-jalan dengan santai bahkan setelah ungkapan anda


dikhalayak ramai itu.” Ujar pak Hauen.


Sejujurnya perkataan itu mengurangi


sedikit beban pikiranku saat ini. Obrolan itu berakhir dengan cepat karena pak


Hauen masih ada hal yang perlu ia lakukan, ia memintaku beristirahat untuk


persiapan besok, mengingat besok ada hal besar yang harus kami lakukan.


Aku kembali keruanganku, mengurungkan


niatku untuk berkeliling. Lebih baik memanfaatkan waktu untuk beristirahat.


Besok pertaruhan itu akan dimulai, aku meletakkan nyawaku sebagai jaminannya,


jika mati disini dan tak bisa kembali kezamanku... maka tamatlah semua.


Disela-lamunanku, kulihat pintu terbuka


dan sesosok lelaki yang sedang paling tak ingin kutemui berdiri diambang pintu.


Shui, dia menatapku penuh arti.


 “Kalau ada yang perlu kau bahas... katakanlah


sekarang dan kuharap itu tak akan membuatku pusing.” Ujaku sambil memalingkan


wajah darinya.


 “Sekarang... sebenci itukah kau padaku?”


Tanya-nya.


 “Huh, bocah bodoh! Waktu itu kau berteriak ‘Aku tak ingin disukai olehmu!’ dan


sekarang ketika aku membencimu, apa kau akan berteriak lagi ‘Aku tak ingin dibenci olehmu!’ begitu?”


Cemoohku. “Dengar ya, Nak! Sekarang aku sedang istirahat jika tak ada yang


penting silahkan keluar!” Lanjutku.


 “Ehm... sebenarnya ini ruanganku, aku datang


kesini.” Ujar Shui datar.


Aku membuka mataku seketika dan menatap


sekeliling ruangan, ternyata dia benar, aku salah ruangan. Dengan gaya yang sok


Cool aku keluar ruangan itu. Ketika aku melewatinya kulihat ia tersenyum


sekilas lalu berkata dengan suara pelan.


 “Mungkin kau memang datang lebih dari seratus


tahun yang lalu, tapi sekarang aku dua tahun lebih tua darimu. Dasar bocah!”


Ujarnya dengan nada bercanda.


*****

__ADS_1


__ADS_2