
Pentas opera Vajus (17 agustus 2200)
Riuh suara penonton terasa akrab
ditelingaku, sorak-sorai, tepukan tangan dan siulan kegirangan. Bagaikan palu
pemecah kesunyian, begitulah aku melihat ribuan penonton yang mengelilingi panggung
ini.
Sosok bertopeng tengkorak yang lama
kurindukan, ia laksana kekasih hati yang tak dikenal dan berakhir dengan
keterlukaan yang tidak kuharapkan. Shui memerankan sosok Noir, aku tau itu
adalah dia bahkan hanya dari hembusan hangat napasnya.
“Kau gemetar, apa kau takut pada tiupan
terompet yang menandakan akhir pentas?” Tanyanya dengan suara berbisik ketika
kami dalam sebuah adegan dimana ia berdiri dibelakangku.
“Hm, sudah kuduga kau tak akan menjawab...
sekarang kau membenciku?” Ia berbisik lagi Ditelingaku.
Aku tak menggubrisnya dan hanya fokus
pada apa yang kulakukan. Seandainya aku bisa melihat ekspresi Shui saat itu
yang tersembunyi dibalik topeng, aku ingin lihat wajahnya ketika bicara seolah
ia menyesal padaku.
Setelah beberapa lama, kami hampir
sampai diakhir pentas. Aku menyenandungkan lagu penutup sebelum tiupan terompet
tanda berkhirnya pentas. Tanpa sadar aku gemetar dan suaraku terdengar sedikit
kaku, untungnya Dai secara profesional membantuku menyenandungkan lagu itu.
Lagu selesai disenandungkan, penonton
memberi tepuk tangan meriah sambil berdiri termasuk Yaza Vumi dan Dua orang
adik Dai yang berada di Royal Box. Peniup terompet menaiki tangga menuju
panggung dan berbaris layaknya serdadu.
“TREETT TET TET”
Suara tiupan terompet berbunyi diikuti
suara gemuruh diiringi getaran seperti gempa, dan kemudian kericuhan yang
terjadi diluar opera, orang-orang kebingungan tentang apa yang terjadi, mereka
panik dan berebut keluar gedung opera.
Suasana meriah itu berubah menjadi
suara kericuhan dan kepanikan. Agaknya aku tau yang terjadi, ini adalah awal
rencana kami. Aku melirik pada Yaza Vumi yang masih berdiri di Royal Box dan
memberikan tatapan tajam kepadaku.
Aku berinisiatif untuk melepas
selendang hitam yang melingkar dileherku dan mengayunkannya kearah Yaza Vumi,
dengan artian aku mengibarkan bendera perang padanya.
“HUKUM OLEH RAJA, DAN RAJA OLEH TUHAN!!!”
Teriakku.
Seluruh perhatian penonton menuju
kearahku lagi, seketika suara penonton yang panik sirna. Dai menatap heran
padaku, mungkin bingung atas apa yang kulakukan.
“INGATLAH YAZA VUMI, MENGUASAI DUNIA ADALAH
IMPIAN BODOH.”
Lanjutku. Dai menghampiriku berusaha
mencegahku.
“Kau Gila? Cepat menyingkir dari situ!”
Perintahnya, tapi aku tak menghiraukan itu.
“KAMI ADALAH DARKNIGHT SHOULDIERS!!!” Seru-ku.
Sesuai dugaanku, orang-orang saling
berbisik mengenai pendapat masing-masing. Opera ini disiarkan secara langsung
disetiap distrik, otomatis keributan tadi dan seruanku barusan tayang perdana
didepan semua orang.
Setelah seruanku itu tirai panggung
tertutup, Fasa tampak bergegas menemuiku dan membawaku pergi diam-diam dari
sana. Aku dan Fasa kini berada dijalan rahasia menuju istana, kami berada
didalam sana untuk bersembunyi.
“Bagaimana dengan Dai dan orang-orang DieNeSs
yang ada digedung opera?” Tanyaku ketika kami tengah menghela napas didalam
jalan rahasia itu.
“Shui ada disana untuk Dai, orang-orang
DieNeSs sudah pergi ketika keributan yang kau sebabkan.” Jawab Fasa sambil
menyetabilkan napasnya.
“Haha... kau lihat ekspresi Yaza Vumi tadi?
Dia terkejut karena aku mengambil taruhannya!” Tawaku hambar.
“Aku juga kaget karena kau mengambil taruhan
itu, dan... apakah itu artinya kau bersedia bersama Dai?” Tanya Fasa lagi.
“Aku masih tak memikirkan tentang itu, yang
jelas aku ingin membuat orang yang mengaku lebih hebat dari tuhan itu sadar
diri.” Jelasku.
__ADS_1
Taruhan yang dimaksud adalah
kesepakatan yang aku dan Fasa buat bersama Yaza Vumi ketika dia menyusup
kerumah tulip kami beberapa waktu yang lalu. Dia mengetahui bahwa aku dan Dai
bersama DieNeSs berniat membuat kudeta, dia menertawai kelompok kami dan
mengatakan itu tak akan pernah berhasil.
Kami bisa terima diejek begitu, tapi
yang paling membuatku marah adalah ketika dia mengatakan, ‘orang-orang labil seperti kalian tak akan bisa melawanku, bahkan tuhan
sekalipun tak mampu menghukumku!’ kudengar itu dengan telingaku sendiri. Manusia yang sudah kelewatan dan
menuhankan diri sendiri, aku ingin melenyapkan orang seperti itu.
Kemudian aku menegaskan padanya bahwa
kelompok kami tak akan berhenti disitu saja, dia menertawakanku lagi. Sampai
akhirnya dia bertanya hal yang sebenarnya tak terlalu penting dibahas waktu
itu. Dia tanya apakah aku benar-benar mencintai Dai, aku tak menjawab saat itu
karena bingung.
Dia memberiku dua pilihan, kalau aku
mencintai Dai dan punya keberanian untuk melanjutkan kudeta, dia memintaku
mengungkapkan diri sebagai pemberontak didepan banyak orang seusai pentas
opera. Jika masyarakat banyak mendukung pemberontakan itu maka Yaza Vumi akan
dengan suka rela turun dari tahtanya dan memberikannya pada Dai, tapi dengan
konsekuensi akan menghukum mati para pemberontak terutama aku apa bila
masyarakat tak merespon kami. Resiko pilihan ini memang sangat berat.
Pilihan kedua, aku disuruh pergi
melarikan diri jika terlalu takut untuk diberi hukuman, melarikan diri seperti
pecundang dan meninggalkan segalanya termasuk Dai dan opera. Dengan begitu aku
memang selamat sentosa, tapi tentunya aku paling benci jadi pecundang, karena
itulah aku memilih pilihan pertama dan jika gagal, aku tak akan mengungkap
DieNeSs dan memilih mati sendirian.
“Kau benar-benar tak tau rasa takut!” Pungkas
Fasa kemudian.
“Siapa bilang aku tidak takut, aku takut
setengah mati sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, kadang kita harus mengambil
taruhan besar dengan nyawa sendiri sebagai jaminannya, kan?!”
“Tapi ngomong-ngomong... kurasa Yaza Vumi
sangat menyayangi Dai dengan tulus, kau ingat apa yang dia katakan sebelum
pergi?” Fasa berpindah topik pembicaraan.
“Dia bilang... jika aku memilih pilihan
“Sudah kuduga kalian disini!”
Tiba-tiba Dai membuka pintu tempat
persembunyian kami dan mengejutkan kami ditengah-tengah obrolan ini.
“Ayo
cepat, berkat kau kita dicari-cari sekarang.” Ujar Dai sambil menarik lengan
kami agar keliar dari sana.
“Dicari?” Heran Fasa.
“Ya tentu saja, kalian pikir pemberontak bisa
hidup aman damai?!” kesal Dai.
Kami dibawa diam-diam menuju tempat
dimana Shui sudah siap dengan mobilnya. Untunglah kami bisa sampai dimobil
dengan selamat.
“Kau ganti mobil, Dai?” Tanyaku setelah shui
mulai mengendarai mobil.
“Pertanyaan Bodoh!” Tukas Dai dengan lirikan
mata mematikan. Sudah kuduga dia kesal padaku, tapi apa boleh buat itulah yang
terjadi.
“Itu pilihan yang diberikan ayahmu untuk kami,
melawan sebagai pejuang atau lari sebagai pecundang!” Ujarku pada akhirnya.
Dai sangat terkejut dengan ungkapanku
barusan, kepalanya berputar 180 derajat untuk menoleh kearahku karena dia duduk
dikursi samping pengemudi sedangkan Fasa dan aku dibangku penumpang.
“Apa maksudmu?” Tanyanya bingung.
“Ayahmu sudah tau kita pemberontak, dia
memberiku pilihan. Kalau mau tetap berjuang kita harus mengungkap diri kita,
tapi aku hanya mengungkap diriku sendiri karena tak mau yang lain dalam bahaya.
Jika terlalu takut tetap berjuang... larilah sebagai pecundang!” Jelasku
simpel.
Dai terdiam, ia terlihat seperti sedang
memikirkan sesuatu yang sangat membuat pikirannya kalut.
“Kenapa?” Tanya Fasa cemas.
“Aku memikirkan dua adikku, mereka tak mungkin
tetap disini dan melihat perang antara ayah dan kakaknya, aku ingin yang mereka
tau adalah bahwa aku bertarung bersama ayahku, bukan bertarung melawan ayahku.”
Jawab Dai penuh bimbang.
__ADS_1
“Tak ada gunanya kau sembunyikan itu sampai ke
Liang Lahat, suatu hari mereka akan tau dan merasa dibohongi, tapi kalau kau
mengatakannya dengan mulutmu sendiri sekarang... mungkin mereka akan mengerti.”
Nasihatku pada Dai.
Setelah obrolan singkat itu kami tak membahas
apapun lagi, bahkan Shui yang masih memakai pakaian Noir itu tak mengeluarkan
suara barang sedikit saja.
Kami mampir sebentar kerumah Tulip dan
mungkin ini akan jadi kali terakhir. Kami ambil barang yang penting saja lalu
langsung bergegas pergi kemarkas DieNeSs. Untuk sekedar waspada kami berganti
mobil ditengah terowongan gelap. entah siapa yang telah menyiapkannya.
Keadaan ini lebih menguntungkan, karena
semua mobil mengambang kira-kira dua sampai tiga meter diatas tanah, terowongan
itu berbentuk seperti pipa tabung yang besar nan panjang. Guna terowongan itu
adalah agar mobil-mobil tak menabrak gedung-gedung berbagai macam bentuk yang
menjulang dimana-mana hingga nyaris tak ada jalan. Kadang kala terowongan
menembus gedung untuk jadi jalan.
“Vier, kau istirahatlah dulu, biar Shui yang
jelaskan pada anggota lain tentang apa yang kau lakukan diatas panggung tadi.
Dan... aku akan menitipkan adik-adikku pada keluarga Vier asli, Fasa akan
mengantarku ke distrik 10!” jelas Dai ketika kami sudah sampai di markas
DieNeSs.
Aku mengangguki Dai, kemudian ia dan
Fasa pergi dari ruangan tempatku istirahat.
Beberapa saat aku berada diruangan itu,
berbaring disofa sambil menatap langit-langit ruangan. Aku tak bisa
beristirahat disaat seperti ini, disaat semua orang tengah sibuk dengan segala
macam hal yang perlu disiapkan untuk perang besok.
Aku keluar dari ruangan sekedar bejalan-jalan
saja, tak kusangka malah bertemu pak Hauen yang sedang menghela napas sambil
bersandar didinding lorong. Aku menghampirinya dan menyapanya.
“Nona Monochrome, tindakan anda tadi berani
sekali!” ujar pak Hauen entah itu peringatan atau pujian.
“Maafkan saya soal itu, pak. Saya membahayakan
kita semua.” Sesalku.
“Tidak, bukan itu maksud saya Nona Monochrome.
Shui tadi menjelaskan semuanya, saya rasa tindakan anda yang berani itu sungguh
mengharukan. Anda membahayakan diri anda sendiri dengan ungkapan anda adalah
pemberontak, tapi tak satu pun orang yang anda ikut sertakan dalam hal itu.
kami masih bisa berjalan-jalan dengan santai bahkan setelah ungkapan anda
dikhalayak ramai itu.” Ujar pak Hauen.
Sejujurnya perkataan itu mengurangi
sedikit beban pikiranku saat ini. Obrolan itu berakhir dengan cepat karena pak
Hauen masih ada hal yang perlu ia lakukan, ia memintaku beristirahat untuk
persiapan besok, mengingat besok ada hal besar yang harus kami lakukan.
Aku kembali keruanganku, mengurungkan
niatku untuk berkeliling. Lebih baik memanfaatkan waktu untuk beristirahat.
Besok pertaruhan itu akan dimulai, aku meletakkan nyawaku sebagai jaminannya,
jika mati disini dan tak bisa kembali kezamanku... maka tamatlah semua.
Disela-lamunanku, kulihat pintu terbuka
dan sesosok lelaki yang sedang paling tak ingin kutemui berdiri diambang pintu.
Shui, dia menatapku penuh arti.
“Kalau ada yang perlu kau bahas... katakanlah
sekarang dan kuharap itu tak akan membuatku pusing.” Ujaku sambil memalingkan
wajah darinya.
“Sekarang... sebenci itukah kau padaku?”
Tanya-nya.
“Huh, bocah bodoh! Waktu itu kau berteriak ‘Aku tak ingin disukai olehmu!’ dan
sekarang ketika aku membencimu, apa kau akan berteriak lagi ‘Aku tak ingin dibenci olehmu!’ begitu?”
Cemoohku. “Dengar ya, Nak! Sekarang aku sedang istirahat jika tak ada yang
penting silahkan keluar!” Lanjutku.
“Ehm... sebenarnya ini ruanganku, aku datang
kesini.” Ujar Shui datar.
Aku membuka mataku seketika dan menatap
sekeliling ruangan, ternyata dia benar, aku salah ruangan. Dengan gaya yang sok
Cool aku keluar ruangan itu. Ketika aku melewatinya kulihat ia tersenyum
sekilas lalu berkata dengan suara pelan.
“Mungkin kau memang datang lebih dari seratus
tahun yang lalu, tapi sekarang aku dua tahun lebih tua darimu. Dasar bocah!”
Ujarnya dengan nada bercanda.
*****
__ADS_1