Break The Secret

Break The Secret
11) pengintai


__ADS_3

Apakah sebenarnya sang raja mengetahui


rencana kudeta Dai padanya? Karena kurasa tentara cakar hitam ini terus saja


mengikuti Dai.


 “Saya minta kalian tidak bergerak tiba-tiba


atau melakukan sesuatu yang akan membuat kita ketahuan, mereka sangat terlatih


dan gerakan kecil kita mungkin bisa membuat kita ketahuan!” Jelas Shui. Kami


mengangguk.


Aku memperhatikan tentara-tentara itu,


mereka membawa senjata api dan pisau panjang yang diselipkan dipakaian mereka,


ini agak membahayakan. Sepertinya Shui berniat menyingkirkan mereka beserta


penyadapnya, tapi ia bingung karena takut membuat Yaza Vumi mencurigai Dai.


Yaza Vumi tahu Dai tinggal disana


walaupun masyarakat sana tidak tahu, seperti yang Shui bilang, yang orang lain


tau rumah itu adalah milik Shui. Dan kalau mereka secara khusus mengintai rumah


ini bahkan memasang penyadap dikamar Dai, itu artinya target mereka sudah


ditetapkan.


 “AWAS!!!”


Lamunanku pecah mendengar teriakan itu,


aku hendak menoleh ketika kulihat didepan mataku sebuah mata pedang mengarah


langsung keleherku. Yap, itu adalah pedang salah satu tentara cakar hitam.


Beruntung, sungguh beruntung! Dengan


reflek aku dapat menghindari tebasan pertama, dan pedang itu mengenai pohon Ek


didepanku. Tapi sayangnya keberuntungan ada batasnya, kedua kali orang itu


ingin menebasku, aku bingung bagaimana cara menghindarinya. Dan... kenapa Cuma


aku yang diserang?


Tentara cakar hitam itu mengayunkan


pedangnya kearahku, sangat cepat dan bertenaga. Aku sudah sangat pasrah, ini


akhir cerita yang sangat tidak menyenangkan. Dan karena sangat takut, takut dan


takut... aku memejamkan mataku sangat erat. Lalu nyawaku serasa dibawa malaikat


maut ketika terdengar bunyi


 “CRASH”


Suara pedang yang menyayat kulit dan daging


diiringi teriakan Fasa yang sangat melengking itu mendominasi malam yang tenang. Tamat sudah!


Beberapa detik setelah itu aku merasa


aneh karena tak merasakan sakit, perlahan kubuka mataku untuk memastikannya. Ini


yang kulihat, punggung Shui berdarah tapi dia masih berdiri melindungiku.


“Cih, kalau begini... apa boleh buat!”


Gumam Shui. “Kalian berdua larilah!” lanjutnya.


Ia bersalto kebelakang dan menjatuhkan


tendangan dengan cepat kearah tentara cakar hitam yang menyerangku tadi.


Kemudian rekan tentara yang lain langsung ikut menyerang Shui, aku dan Fasa


memikirkan cara membantunya, kami tak berpikir untuk lari seperti yang Shui


perintahkan. Tapi kami sama sekali tak pernah bertarung.


Keadaan Shui makin terpojok karena ia


bertarung dengan tangan kosong sedangkan tentara-tentara itu menggunakan


senjata tajam. Berkali-kali aku melihat kulitnya tercabik dan pekikannya yang


lirih mengiringi. Sudah tak ada waktu berpikir, aku dan Fasa saling menoleh dan


mengangguk bersamaan. Kami akan menyerang apapun caranya.


Kuambil ranting pohon yang sudah agak


kering dan cukup besar, sedangkan Fasa mengumpulkan batu-batu.


 “WOY PENGECUT!!!” Teriakku sambil berlari


kearah penyerang Shui.


Aku berhasil memukulnya sekali dan


membuatnya menjauh dari Shui, setidaknya lawan Shui tinggal empat sekarang.


 “KEPARAT!” Geram tentara yang kupukul tadi.


Ia berbalik menyerangku dan hendak


menghunuskan pedangnya, untungnya Fasa menimpukinya dengan batu. Akupun dengan


semangat memukulinya dengan ranting pohon yang kuambil sebelumnya sampai ia


jatuh.


 “JANGAN BERI KESEMPATAN, PUKUL TERUS!!!”


Teriak Fasa begitu melihat tentara itu berusaha bangun.


Aku memang pasti akan memukulnya terus


kalau saja tak ada rekan tentara ini yang tiba-tiba mengapit leherku dengan


tangan berototnya.


 “Gadis-gadis sialan! Kubunuh kalian!” Geramnya


sambil mengacungkan pisau.


 “JANGAN SENTUH DIA!!!” Teriak Fasa.


 “HAHAHA... MEMANGNYA KAU BISA APA?” Cemooh


orang yang mengapitku. Lalu,


 “GRAUK”


Fasa sungguh-sungguh menerkam orang itu


meski akhirnya Fasa dihempas dan terpelanting, aku bisa bebas dari orang itu.


tapi kami lupa orang yang satunya, tiba-tiba aku terkena tendangan dipunggungku

__ADS_1


dan langsung terpental begitu saja. Mereka juga memukul Fasa.


Untungnya Shui segera datang membantu


kami, kulihat dia sudah selesai dengan tiga orang lainnya. Tak beberapa lama


setelahnya ia menyelesaikan pertarungan dengan dua orang itu tapi tubuhnya


banyak bekas senjata tajam dan ia terlihat begitu menahan sakit.


Kami langsung mendekatinya dan


memapahnya untuk berjalan kembali kedalam, awalnya dia menolak, tapi akhirnya


ia pasrah juga.


 “PANGERAN ONCOM, DIMANA KAU???” Teriakku


begitu masuk kembali kedalam rumah.


 “Vier, Shui, Fasa... kalian baik-baik saja?”


Tanyanya sambil menuju kearah kami.


 “BAIK-BAIK SAJA JIDATMU JERAWATAN!!!” teriakku


dipinggir telinganya. “Kau lihat Shui sampai seperti itu, kemana saja kau


selama kami susah payah demi dirimu, dasar pengecut!!!”


 “Maaf, aku terbangun saat mendengar keributan


tadi, tapi begitu ingin keluar, kakek menahanku dan melarangku.” Sesalnya.


 “Itu benar nona Vier, kalau sampai ketahuan


akan bahaya!” Kakek Deuel muncul  dari


belakang Dai.


 “Tapi Yaza Vumi kan sudah tau kalau Dai


tinggal disini!” Bantahku.


 “Sudahlah, nona Vier. Kami memang tak ingin


Tn. Dai berada dalam bahaya, karena itulah kami melarangnya bertarung.” Shui


menyela.


Aku mengeratkan kepalan tanganku, aku


tak suka cara Shui memperlakukan Dai yang terkesan berlebihan.


 “Selamat ya, Dai! Kau jadi tokoh utama wanita


dicerita ini, dilindungi dan dijaga!” Sindirku.


 “Vier, lebih baik kita obati dulu luka Shui,


setelah itu baru kau lanjutkan kekesalanmu!” Usul Fasa.


Aku menghela napas dan mengangguk. Kami


membawa Shui ke kamarnya yang tadi ditempati Dai untuk tidur, aku minta tolong


pada kakek agar mendidihkan air untuk mengompres bagian yang memar.


 “Nah, Shui... sekarang tanggalkan bajumu!”


Pintaku. Shui diam membeku tak menjawab juga tak melakukan perintahku.


 “Tapi... bukankah itu agak sedikit...


tabu?”  Ujarnya pada akhirnya.


Ancamku.


Shui pun akhirnya menurut saja. Aku dan


Fasa sibuk mengobati luka-luka bekas sabetan pedang tentara cakar hitam tadi,


sungguh mengerikan. Dengan melihatnya saja aku sudah ngeri, apalagi yang merasakan.


 “Shui, maafkan kami ya...” Fasa membuka


pembicaraan duluan, seolah Fasa tau yang dikepalaku, ia lebih dulu


menyampaikannya.


 “Maaf soal apa?” Tanya Shui polos.


 “Karena kami tak bisa banyak membantumu, malah


merepotkan!” Jawab Fasa. Aku mengangguk menyetujui jawaban Fasa.


 “Sebaliknya, justru saya yang ingin minta maaf


karena tak bisa melindungi kalian. Dan lagi saya sudah sangat terbantu tadi!”


Ungkapnya sambil tersenyum. Wajah biasa saja sudah manis, dia tersenyum... luar


biasa manisnya.


 “Wah, Shui kalau kau sering-sering tersenyum,


bisa diabetes aku, hahha...” Candaku. Hm, sebenarnya tak terlalu bercanda juga,


sih.


 “Haha, perempuan kok merayu lelaki duluan...”


Sindir Dai. Aku mendengus padanya.


 “Nah, Shui, luka di tubuh bagian depanmu sudah


selesai semua, sekarang berbaliklah, biar kami bisa obati punggungmu!” Ujarku.


 “Ehm... ti, tidak usah deh, punggung saya


tidak terluka!” Tolaknya.


 “Tak luka bagaimana? Sudah jelas tadi kulihat


sendiri!”


 “Ta, tapi... itu...”


 “Memangnya ada apa dipunggungmu?”


Aku semakin mendesaknya sampai ia tak menjawab.


Memang aneh, kenapa dia tak mau kami mengobati punggungnya, pasti ada sesuatu


disana.


 “Ehem, anu.. Vier, Fasa... kurasa Shui hanya


malu, sini biar aku yang mengobatinya.” Sela Dai tiba-tiba.


 “Huh, malu kenapa sih, lagian yang luka, kan


punggungnya bukan p*ntatnya. Kalau cuma ada panu, kadas, kurap tak perlu malu


pada kami!” Aku menggerutu sambil memberikan kotak P3K-nya pada Dai. Kulihat

__ADS_1


wajah malu Shui yang lucu mendengarku mengatakan hal tadi.


 “Kau ini benar-benar berbicara sesuka hatimu


ya!” Lirik Fasa.


Aku dan Fasa ingin membantu mengobati


karena merasa bersalah padanya yang telah melindungi kami.


 “Dai, ngomong-ngomong apa kau bertemu


dengannya belakangan ini?” Tanyaku memindahkan topik pembicaraan.


 “Bertemu dengan siapa?” Bingung Dai.


 “Noir!” jawabaku.


Entah kenapa begitu aku menyebut nama


‘Noir’ Dai dan Shui tampak begitu terkejut. Hm, jadi mereka menyembunyikan


sesuatu yang mereka tau tentang Noir, ya. Tingkah mereka emang aneh, sejak aku


datang kerumah ini, semuanya aneh.


 “Hmf... dasar! Kalian ini sungguh tak pandai


berbohong, ya.” Ledekku sambil bangkit dari tempat dudukku. “Aku tak akan


memaksa kalian menceritakannya sekarang, tapi aku benci merasa dibohongi...


jadi kuharap kalian akan paham dengan sendirinya, atau sekalian saja kita tak


usah berteman kalau tak bisa saling percaya!” Lanjutku. Aku menarik Fasa yang


tampak kebingungan dengan kata-kataku itu untuk pergi dari sana.


 “Jadi apa maksudmu tadi?” Tanya Fasa ketika


kami sudah berada dikamar kami sendiri.


 “Fasa, sobatku yang baik. Tidakkah kau merasa


aneh?” aku duduk didepan Fasa. “sudah berapa lama Noir tak muncul sejak aku


mengamatinya waktu itu, dan lagi tak ada kabar tentangnya, ditambah lagi aku


masih penasaran kenapa Noir bisa ada digaleri istana lalu seolah-olah itu sudah


biasa. Dan yang menarik perhatianku sekarang adalah sikap Dai dan Shui begitu


aku menyebut nama Noir.”


Mendengar penjelasanku Fasa terdiam dan


sepertinya ia memikirkannya. Yah, meskipun aku bukanlah Vier sahabatnya, ia


tetap memperlakukanku seolah kami sudah lama mengenal, dia juga selalu


membuatku yang rindu rumah ini nyaman.


 “Apa kau ingat sesuatu tentang Noir?” Tanya


Fasa.


 “Ada beberapa yang kuingat, terutama bekas


luka dibawah tengkuknya!” Jawabku.


Ditengah keasyikan kami, tiba-tiba


suara ketukan pintu kamar kami terdengar. Ada apa lagi sebenarnya ini, padahal


sudah lewat tengah malam. Kubukakan pintu, lalu kulihat Dai berdiri diambang


pintu dengan wajah canggung.


 “Apa?” Tanyaku sinis.


 “Ehm... itu...” Dengan sangat canggung Dai


mencoba mengutarakan sesuatu.


 “Bicara yang jelas!”


 “A, apa kau marah?”


 “Tidak!”


 “Tapi, kenapa kau dingin begitu?”


 “Terserah aku, kan?!”


 “Aku tau kau pasti kecewa karena aku


menyembunyikan sesuatu darimu, tapi aku tak mau kau marah padaku, Vier!”


 “Untuk yang kesekian kalinya, Dai. Sudah


kubilang jangan terbiasa memberikan harapan palsu pada seseorang, sikap baikmu


yang terlalu sok perhatian itu akan membuat salah anggap. Wanita itu sering


salah paham soal perhatian yang diberikan laki-laki, kalau kau tak suka pada


wanita itu jangan bertingkah terlalu perhatian!”


Karena kesal aku jadi mengomel padanya.


Kalau mengingat Vier yang asli menyukainya, mungkin alasannya karena sikap Dai


yang terlalu ramah ini.


Kulihat Dai terpaku tanpa kata setelah


aku mengomelinya. Tangannya mengepal erat, dia menunduk dan tak berani


menatapku. Aku sudah terlanjur kesal dengannya.


 “Sudahlah, kukira kau punya hal penting untuk


dibicarakan, tahunya Cuma seperti ini!” Ketusku.


 “Aku... tak pernah bersikap seperti ini


sebelumnya!” Ujarnya tiba-tiba. “aku juga merasa aneh dengan kau belakangan


ini. Vier yang kutahu itu manja dan suka berkata kasar juga panikan, tapi kau


sungguh berbeda sekarang seolah kau orang lain, dan sejak itu aku menyadari


perubahan dari perasaanku juga!” Lanjutnya.


 “Jangan bertele-tele, langsung intinya saja!”


Ujarku dengan dingin.


 “Dulu aku tak pernah memikirkan hal ini, tapi


kau yang sekarang... aku...” Dia masih tergagap-gagap.


 “BICARA YANG JELAS, KUNYUK!!!” bentakku.


 “AKU MENYUKAIMU!!!” Jawabnya dengan suara

__ADS_1


keras.


__ADS_2