
Apakah sebenarnya sang raja mengetahui
rencana kudeta Dai padanya? Karena kurasa tentara cakar hitam ini terus saja
mengikuti Dai.
“Saya minta kalian tidak bergerak tiba-tiba
atau melakukan sesuatu yang akan membuat kita ketahuan, mereka sangat terlatih
dan gerakan kecil kita mungkin bisa membuat kita ketahuan!” Jelas Shui. Kami
mengangguk.
Aku memperhatikan tentara-tentara itu,
mereka membawa senjata api dan pisau panjang yang diselipkan dipakaian mereka,
ini agak membahayakan. Sepertinya Shui berniat menyingkirkan mereka beserta
penyadapnya, tapi ia bingung karena takut membuat Yaza Vumi mencurigai Dai.
Yaza Vumi tahu Dai tinggal disana
walaupun masyarakat sana tidak tahu, seperti yang Shui bilang, yang orang lain
tau rumah itu adalah milik Shui. Dan kalau mereka secara khusus mengintai rumah
ini bahkan memasang penyadap dikamar Dai, itu artinya target mereka sudah
ditetapkan.
“AWAS!!!”
Lamunanku pecah mendengar teriakan itu,
aku hendak menoleh ketika kulihat didepan mataku sebuah mata pedang mengarah
langsung keleherku. Yap, itu adalah pedang salah satu tentara cakar hitam.
Beruntung, sungguh beruntung! Dengan
reflek aku dapat menghindari tebasan pertama, dan pedang itu mengenai pohon Ek
didepanku. Tapi sayangnya keberuntungan ada batasnya, kedua kali orang itu
ingin menebasku, aku bingung bagaimana cara menghindarinya. Dan... kenapa Cuma
aku yang diserang?
Tentara cakar hitam itu mengayunkan
pedangnya kearahku, sangat cepat dan bertenaga. Aku sudah sangat pasrah, ini
akhir cerita yang sangat tidak menyenangkan. Dan karena sangat takut, takut dan
takut... aku memejamkan mataku sangat erat. Lalu nyawaku serasa dibawa malaikat
maut ketika terdengar bunyi
“CRASH”
Suara pedang yang menyayat kulit dan daging
diiringi teriakan Fasa yang sangat melengking itu mendominasi malam yang tenang. Tamat sudah!
Beberapa detik setelah itu aku merasa
aneh karena tak merasakan sakit, perlahan kubuka mataku untuk memastikannya. Ini
yang kulihat, punggung Shui berdarah tapi dia masih berdiri melindungiku.
“Cih, kalau begini... apa boleh buat!”
Gumam Shui. “Kalian berdua larilah!” lanjutnya.
Ia bersalto kebelakang dan menjatuhkan
tendangan dengan cepat kearah tentara cakar hitam yang menyerangku tadi.
Kemudian rekan tentara yang lain langsung ikut menyerang Shui, aku dan Fasa
memikirkan cara membantunya, kami tak berpikir untuk lari seperti yang Shui
perintahkan. Tapi kami sama sekali tak pernah bertarung.
Keadaan Shui makin terpojok karena ia
bertarung dengan tangan kosong sedangkan tentara-tentara itu menggunakan
senjata tajam. Berkali-kali aku melihat kulitnya tercabik dan pekikannya yang
lirih mengiringi. Sudah tak ada waktu berpikir, aku dan Fasa saling menoleh dan
mengangguk bersamaan. Kami akan menyerang apapun caranya.
Kuambil ranting pohon yang sudah agak
kering dan cukup besar, sedangkan Fasa mengumpulkan batu-batu.
“WOY PENGECUT!!!” Teriakku sambil berlari
kearah penyerang Shui.
Aku berhasil memukulnya sekali dan
membuatnya menjauh dari Shui, setidaknya lawan Shui tinggal empat sekarang.
“KEPARAT!” Geram tentara yang kupukul tadi.
Ia berbalik menyerangku dan hendak
menghunuskan pedangnya, untungnya Fasa menimpukinya dengan batu. Akupun dengan
semangat memukulinya dengan ranting pohon yang kuambil sebelumnya sampai ia
jatuh.
“JANGAN BERI KESEMPATAN, PUKUL TERUS!!!”
Teriak Fasa begitu melihat tentara itu berusaha bangun.
Aku memang pasti akan memukulnya terus
kalau saja tak ada rekan tentara ini yang tiba-tiba mengapit leherku dengan
tangan berototnya.
“Gadis-gadis sialan! Kubunuh kalian!” Geramnya
sambil mengacungkan pisau.
“JANGAN SENTUH DIA!!!” Teriak Fasa.
“HAHAHA... MEMANGNYA KAU BISA APA?” Cemooh
orang yang mengapitku. Lalu,
“GRAUK”
Fasa sungguh-sungguh menerkam orang itu
meski akhirnya Fasa dihempas dan terpelanting, aku bisa bebas dari orang itu.
tapi kami lupa orang yang satunya, tiba-tiba aku terkena tendangan dipunggungku
__ADS_1
dan langsung terpental begitu saja. Mereka juga memukul Fasa.
Untungnya Shui segera datang membantu
kami, kulihat dia sudah selesai dengan tiga orang lainnya. Tak beberapa lama
setelahnya ia menyelesaikan pertarungan dengan dua orang itu tapi tubuhnya
banyak bekas senjata tajam dan ia terlihat begitu menahan sakit.
Kami langsung mendekatinya dan
memapahnya untuk berjalan kembali kedalam, awalnya dia menolak, tapi akhirnya
ia pasrah juga.
“PANGERAN ONCOM, DIMANA KAU???” Teriakku
begitu masuk kembali kedalam rumah.
“Vier, Shui, Fasa... kalian baik-baik saja?”
Tanyanya sambil menuju kearah kami.
“BAIK-BAIK SAJA JIDATMU JERAWATAN!!!” teriakku
dipinggir telinganya. “Kau lihat Shui sampai seperti itu, kemana saja kau
selama kami susah payah demi dirimu, dasar pengecut!!!”
“Maaf, aku terbangun saat mendengar keributan
tadi, tapi begitu ingin keluar, kakek menahanku dan melarangku.” Sesalnya.
“Itu benar nona Vier, kalau sampai ketahuan
akan bahaya!” Kakek Deuel muncul dari
belakang Dai.
“Tapi Yaza Vumi kan sudah tau kalau Dai
tinggal disini!” Bantahku.
“Sudahlah, nona Vier. Kami memang tak ingin
Tn. Dai berada dalam bahaya, karena itulah kami melarangnya bertarung.” Shui
menyela.
Aku mengeratkan kepalan tanganku, aku
tak suka cara Shui memperlakukan Dai yang terkesan berlebihan.
“Selamat ya, Dai! Kau jadi tokoh utama wanita
dicerita ini, dilindungi dan dijaga!” Sindirku.
“Vier, lebih baik kita obati dulu luka Shui,
setelah itu baru kau lanjutkan kekesalanmu!” Usul Fasa.
Aku menghela napas dan mengangguk. Kami
membawa Shui ke kamarnya yang tadi ditempati Dai untuk tidur, aku minta tolong
pada kakek agar mendidihkan air untuk mengompres bagian yang memar.
“Nah, Shui... sekarang tanggalkan bajumu!”
Pintaku. Shui diam membeku tak menjawab juga tak melakukan perintahku.
“Tapi... bukankah itu agak sedikit...
tabu?” Ujarnya pada akhirnya.
Ancamku.
Shui pun akhirnya menurut saja. Aku dan
Fasa sibuk mengobati luka-luka bekas sabetan pedang tentara cakar hitam tadi,
sungguh mengerikan. Dengan melihatnya saja aku sudah ngeri, apalagi yang merasakan.
“Shui, maafkan kami ya...” Fasa membuka
pembicaraan duluan, seolah Fasa tau yang dikepalaku, ia lebih dulu
menyampaikannya.
“Maaf soal apa?” Tanya Shui polos.
“Karena kami tak bisa banyak membantumu, malah
merepotkan!” Jawab Fasa. Aku mengangguk menyetujui jawaban Fasa.
“Sebaliknya, justru saya yang ingin minta maaf
karena tak bisa melindungi kalian. Dan lagi saya sudah sangat terbantu tadi!”
Ungkapnya sambil tersenyum. Wajah biasa saja sudah manis, dia tersenyum... luar
biasa manisnya.
“Wah, Shui kalau kau sering-sering tersenyum,
bisa diabetes aku, hahha...” Candaku. Hm, sebenarnya tak terlalu bercanda juga,
sih.
“Haha, perempuan kok merayu lelaki duluan...”
Sindir Dai. Aku mendengus padanya.
“Nah, Shui, luka di tubuh bagian depanmu sudah
selesai semua, sekarang berbaliklah, biar kami bisa obati punggungmu!” Ujarku.
“Ehm... ti, tidak usah deh, punggung saya
tidak terluka!” Tolaknya.
“Tak luka bagaimana? Sudah jelas tadi kulihat
sendiri!”
“Ta, tapi... itu...”
“Memangnya ada apa dipunggungmu?”
Aku semakin mendesaknya sampai ia tak menjawab.
Memang aneh, kenapa dia tak mau kami mengobati punggungnya, pasti ada sesuatu
disana.
“Ehem, anu.. Vier, Fasa... kurasa Shui hanya
malu, sini biar aku yang mengobatinya.” Sela Dai tiba-tiba.
“Huh, malu kenapa sih, lagian yang luka, kan
punggungnya bukan p*ntatnya. Kalau cuma ada panu, kadas, kurap tak perlu malu
pada kami!” Aku menggerutu sambil memberikan kotak P3K-nya pada Dai. Kulihat
__ADS_1
wajah malu Shui yang lucu mendengarku mengatakan hal tadi.
“Kau ini benar-benar berbicara sesuka hatimu
ya!” Lirik Fasa.
Aku dan Fasa ingin membantu mengobati
karena merasa bersalah padanya yang telah melindungi kami.
“Dai, ngomong-ngomong apa kau bertemu
dengannya belakangan ini?” Tanyaku memindahkan topik pembicaraan.
“Bertemu dengan siapa?” Bingung Dai.
“Noir!” jawabaku.
Entah kenapa begitu aku menyebut nama
‘Noir’ Dai dan Shui tampak begitu terkejut. Hm, jadi mereka menyembunyikan
sesuatu yang mereka tau tentang Noir, ya. Tingkah mereka emang aneh, sejak aku
datang kerumah ini, semuanya aneh.
“Hmf... dasar! Kalian ini sungguh tak pandai
berbohong, ya.” Ledekku sambil bangkit dari tempat dudukku. “Aku tak akan
memaksa kalian menceritakannya sekarang, tapi aku benci merasa dibohongi...
jadi kuharap kalian akan paham dengan sendirinya, atau sekalian saja kita tak
usah berteman kalau tak bisa saling percaya!” Lanjutku. Aku menarik Fasa yang
tampak kebingungan dengan kata-kataku itu untuk pergi dari sana.
“Jadi apa maksudmu tadi?” Tanya Fasa ketika
kami sudah berada dikamar kami sendiri.
“Fasa, sobatku yang baik. Tidakkah kau merasa
aneh?” aku duduk didepan Fasa. “sudah berapa lama Noir tak muncul sejak aku
mengamatinya waktu itu, dan lagi tak ada kabar tentangnya, ditambah lagi aku
masih penasaran kenapa Noir bisa ada digaleri istana lalu seolah-olah itu sudah
biasa. Dan yang menarik perhatianku sekarang adalah sikap Dai dan Shui begitu
aku menyebut nama Noir.”
Mendengar penjelasanku Fasa terdiam dan
sepertinya ia memikirkannya. Yah, meskipun aku bukanlah Vier sahabatnya, ia
tetap memperlakukanku seolah kami sudah lama mengenal, dia juga selalu
membuatku yang rindu rumah ini nyaman.
“Apa kau ingat sesuatu tentang Noir?” Tanya
Fasa.
“Ada beberapa yang kuingat, terutama bekas
luka dibawah tengkuknya!” Jawabku.
Ditengah keasyikan kami, tiba-tiba
suara ketukan pintu kamar kami terdengar. Ada apa lagi sebenarnya ini, padahal
sudah lewat tengah malam. Kubukakan pintu, lalu kulihat Dai berdiri diambang
pintu dengan wajah canggung.
“Apa?” Tanyaku sinis.
“Ehm... itu...” Dengan sangat canggung Dai
mencoba mengutarakan sesuatu.
“Bicara yang jelas!”
“A, apa kau marah?”
“Tidak!”
“Tapi, kenapa kau dingin begitu?”
“Terserah aku, kan?!”
“Aku tau kau pasti kecewa karena aku
menyembunyikan sesuatu darimu, tapi aku tak mau kau marah padaku, Vier!”
“Untuk yang kesekian kalinya, Dai. Sudah
kubilang jangan terbiasa memberikan harapan palsu pada seseorang, sikap baikmu
yang terlalu sok perhatian itu akan membuat salah anggap. Wanita itu sering
salah paham soal perhatian yang diberikan laki-laki, kalau kau tak suka pada
wanita itu jangan bertingkah terlalu perhatian!”
Karena kesal aku jadi mengomel padanya.
Kalau mengingat Vier yang asli menyukainya, mungkin alasannya karena sikap Dai
yang terlalu ramah ini.
Kulihat Dai terpaku tanpa kata setelah
aku mengomelinya. Tangannya mengepal erat, dia menunduk dan tak berani
menatapku. Aku sudah terlanjur kesal dengannya.
“Sudahlah, kukira kau punya hal penting untuk
dibicarakan, tahunya Cuma seperti ini!” Ketusku.
“Aku... tak pernah bersikap seperti ini
sebelumnya!” Ujarnya tiba-tiba. “aku juga merasa aneh dengan kau belakangan
ini. Vier yang kutahu itu manja dan suka berkata kasar juga panikan, tapi kau
sungguh berbeda sekarang seolah kau orang lain, dan sejak itu aku menyadari
perubahan dari perasaanku juga!” Lanjutnya.
“Jangan bertele-tele, langsung intinya saja!”
Ujarku dengan dingin.
“Dulu aku tak pernah memikirkan hal ini, tapi
kau yang sekarang... aku...” Dia masih tergagap-gagap.
“BICARA YANG JELAS, KUNYUK!!!” bentakku.
“AKU MENYUKAIMU!!!” Jawabnya dengan suara
__ADS_1
keras.