Break The Secret

Break The Secret
18) sang raja


__ADS_3

 


 


  “Dai, mereka mendekat kearah kita. Tetap tenang dan bersikap biasa!”


Ujarku. Dai mengangguk dan kami masih pura-pura mesra.


 “Tn. Dai dan Nona Monochrome, tolong ikut kami


sebentar!” Ujar salah satu tentara yang tampak seperti pimpinannya ketika


mereka sampai didekat kami dan mengelilingi kami.


 “Ehm... ada apa ini?” Tanya Dai seolah tenang.


 “Yang mulia raja memanggil kalian!” Jawabnya


dengan simpel.


 “Kami sedang ada urusan, jadi tak bisa


sekarang!” Kilah Dai.


 “Mohon kerja samanya, kami tak ingin buat


keributan ditengah keramaian begini. Ikutlah dengan tenang, kalian juga pasti


tak ingin tempat ini menjadi ricuh akibat baku tembak, kan?!” Ujarnya sopan,


tapi jelas sekali itu ancaman.


 “Dai, kita ikut saja. Terlalu berbahaya untuk


menolak!” Bisikku pada Dai.


Dai mengangguk dan kami pun dibawa oleh


para tentara cakar hitam itu menggunakan sebuah mobil berbentuk kumbang besar


yang terbuat dari besi baja. Mobil ini terbang lebih tinggi dibanding mobil


lainnya, ukurannya juga lebih besar dan bentuknya sedikit menyeramkan.


Kami sampai disuatu tempat ditengah


kota, ini masih terhubung dengan kerajaan tapi aku belum pernah kesini. Aku


diberi tahu bahwa tempat ini adalah kediaman raja yang lama sebelum pindah ke


gedung baru istana pusat.


Kami dikawal masuk kedalam seperti


tahanan perang saja, Dai menggenggam tanganku dan menempatkanku tetap


disisinya, baru kali ini dia terlihat sangat protektif.


 “Silahkan masuk, yang mulia sudah menunggu.”


Ujar si pemimpin ketika kami sampai didepan pintu besar yang pinggirannya


diukir teliti dan terdapat Relief bagian atas pintunya.


Kami memasuki ruangan itu dan kudapati


Yaza Vumi sedang berdiri didepan meja besar sambil menuangkan minuman ke empat


buah gelas kaca yang indah. Ia menoleh pada kami sesaat sebelum kembali fokus


pada kegiatannya.


 “Selamat datang putraku tercinta, selamat


datang Putri Monochrome.” Sapanya. Ia mempersilahkan kami duduk didepannya


dengan penghalang meja diantara kami. Ia memberikan segelas minuman padaku,


segelas untuknya dan lagi segelas pada Dai, tapi meletakkan yang satu gelas


terakhir ditengah-tengah meja.


 “Ada apa ayah? Mengapa ayah tia-tiba memanggil


kami seperti ini?” Tanya Dai secara langsung.


 “Hm, seperti biasa. Kau selalu melemparkan


bola langsung.” Tawa kecil sang raja. “Yah, tapi mari kita persingkat ini, aku


juga masih ada perlu dengan menteri-menteri yang lain. Baiklah, pertama...


kalian pasti sudah tau tragedi penyerangan kepusat dokumen kan?!” Sang Yaza


Vumi memastikan.


 “Tentu kami sudah tau!” Jawabku.


 “Bagus, jadi tak perlu repot kujelaskan lagi


kalau kalian diduga sebagai anggota pemberontak atau setidaknya membantu


pemberontak!” Lanjut Yaza Vumi.


 “Bagaimana mungkin kami adalah pemberontak?!”


Dai berlagak polos.


 “Ketika upacara hari persatuan, kalian mulai


menghilang sesaat setelah lagu kebangsaan selesai disenandungkan, bahkan ada


saksi ysng melihat kalian berada di area dalam istana saat itu dan tak lama


kemudian keributan itu terjadi. Tentaraku mencari kalian waktu itu dan tak kami


temukan sampai pagi. Kemana kalian pada malam itu jika kalian mau memberi


alasan?! Dan satu hal lagi, apa yang kalian lakukan bertemu diam-diam berdua


sampai mengubah penampilan untuk menghindari pengawasan tentara-ku?”


Kami diam terpaku, bingung mau jawab


bagaimana. Yaza Vumi sangat sulit dibohongi, malah bahaya kalau aku sembarangan


bicara.


 “Hm, sudah kuduga menyembunyikannya dari ayah


memang sia-sia!” Ujar Dai kemudian sambil menghela napas panjang. “Baiklah


ayah, akan kuceritakan yang... sebenarnya!” Lanjut Dai.

__ADS_1


Aku tersentak, aku menoleh pada Dai


memastikan apakah itu sungguh keluar dari mulutnya.


 “Dai, kau bercanda, kan?!” Bisikku padanya.


 “Malam itu kami memang bertemu,” Seolah tak


menghiraukanku Dai melanjutkan omongannya. “Karena aku dan Vier menjalin


hubungan!” lanjutnya simpel.


Aku langsung bungkam, kali ini adalah


idenya untuk meloloskan diri, penjelasan biasa mungkin tak bisa membuat Yaza


Vumi percaya. Tapi memang pasti masuk akal kalau alasannya adalah kami sepasang


kekasih.


 “Kau menjalin hubungan?” Yaza Vumi


mengernyitkan dahinya.


 “Benar ayah. Sebenarnya kami sudah sangat


sering bertemu, tapi karena kami merahasiakan hubungan ini, kami selalu menjaga


jarak. Dan malam itu kami bertemu di teras istana. Kami hanya mengobrol biasa


disana tapi kemudian memutuskan untuk pergi ketempat yang bagus untuk berdua.


Lalu tentang hari ini... kami sedang kencan. Penyamaran ini juga kami pakai agar


tidak terlalu menarik perhatian.” Jelas Dai.


 “Tapi malam itu, dimana kalian berdua saja


sampai pagi?” Tanya Yaza Vumi lagi.


 “Uhm... itu... ayah tau sendirilah kalau orang


yang sedang mabuk asmara.” Dai berkilah dengan ekspresi sok malu-malu.


******** kecil ini membuatku serasa tak


punya muka didepan raja. Agaknya aku paham arah pembicaraan Dai kemana, dia


sungguh tidak tahu malu.


 “Hm, apa anda setuju dengan pernyataan putra


saya?” Yaza Vumi beralih padaku.


 “Iya yang mulia, kami memang pergi kesuatu tempat


malam itu hingga pagi.” Jawabku.


Yaza Vumi tersenyum. Ia menyeruput


minumannya dan mempersilahkan kami minum juga.


 “Ehm... yang mulia,” Aku memulai kembali


percakapan karena sejak awal obrolan ini ada yang mengganggu pikiranku. “Kenapa


anda mengisi gelas keempat juga? Bukankah anda tau yang akan datang hanya saya


dan Dai?” Tanyaku.


lagi aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.


 “Saya hanya sekedar ingin meletakkan itu


disana saja!” Jawab Yaza Vumi simpel.


Bola mata Yaza Vumi lebih pekat dari


Dai, aku bisa melihatnya dengan jelas tapi tatapan mata itu selalu penuh arti


yang tersembunyi.


Setelah itu kami hanya membahas obrolan


ringan dan akhirnya pamit pergi. Tentara Cakar hitam hanya mengantar kami sampai


keluar gerbang karena Dai menolak diantar sampai kerumah.


 “Bagus! Sekarang kita mau pulang pakai apa?”


tanyaku ketika kami sedang berdiri di pinggir jalan didepan istana tadi.


 “Aku sudah meminta seseorang menjemput kita,


tenang saja!” Jawabnya.


Tak lama kemudian didepan kami berhenti


sebuah mobil yang berbeda dari yang lain, mobil dengan kesan seram penuh dengan


dekorasi malaikat kematian yang aku sudah bisa menduga siapa pemiliknya.


Dan benar saja dugaanku, seorang pemuda


berparas manis dengan tatapan yang dingin dan berambut panjang diikat ekor kuda


keluar dari mobil. Ya, itu adalah Shui. Ia melirik dengan dingin kearahku


seolah aku telah berbuat salah kepadanya, ia hanya berbicara dan menyapa Dai.


 “Saya akan naik transportasi umum, tuan!” Ujar


Shui setelah memberikan kunci mobilnya pada Dai.


 “Tak usah, kita pulang bersama saja. Kau dan


Vier duduk dibangku belakang, biar aku yang mengemudi.” Dai membukakan pintu


mobil untukku.


 “Saya tak bisa tuan... saya tak mau


bersamanya!” Bantah Shui.


 “HEY, KUNYUK!!!” Teriakku sangking tak


tahannya dengan perkataan Shui yang mulai keterlaluan.


 “Apa maksudmu, ha? Mau memperlihatkan seberapa


unggulnya dirimu dengan bersikap kasar pada orang yang menyukaimu? Lagipula


kalau ini memang hanya karena aku mengatakan aku menyukaimu, aku kan tak

__ADS_1


memintamu membalasnya, dan aku juga tak pernah mengganggumu. Jadi apa


masalahnya?” Ocehku.


 “Masalahnya adalah aku tak mau disukai


olehmu!!!” Tukas Shui.


Aku tersentak mendengarnya, bagaikan


petir disiang bolong, bagaikan anak panah besi yang menembus dadaku dan rasanya


sesak mendengar ucapan Shui barusan.


 “Tak mau... disukai olehku? Sebegitu buruknya


aku dimatamu...” Aku mundur menjauh dari Shui dan Dai.


 “Vier, jangan terlalu dimasukkan kehati, Shui


memang suka bicara seenaknya.” Ujar Dai menenangkan. Tapi mau menenangkan pun


percuma, aku merasakan sakit yang menyesakkan dadaku.


 “Shui... kau... persetan dengan semua ini!”


Ujarku lalu berlari pergi dari sana.


Seperti inikah rasanya terlibat dalam


asmara? Pertama kalinya aku menyukai seseorang, dan pertama kalinya aku


tersakiti oleh orang lain karena perasaanku sendiri.


Diatas sebuah jembatan lumayan panjang


yang dibawahnya mengalir sungai yang indah dan jernih aku berdiri, aku


merasakan air mataku mengalir dipipiku dengan konyolnya. Kenapa bisa seorang


lelaki seperti itu membuatku merasakan banyak emosi begini, kenapa dia bisa


dengan mudah mempermainkan perasaanku.


  “VIER!”


Suara itu... suara milik Dai. Tapi aku


tak mau menoleh padanya, aku tak mau ia melihatku berurai air mata seperti ini.


Dan entah kenapa dengan bodohnya dia selalu muncul ketika aku butuh seseorang


untuk bersandar, sekalipun aku telah mengecewakannya.


 “Aku tak akan bertanya apakah kau baik-baik


saja, tapi kau cukup biarkan aku disisimu untuk menenangkanmu!” Ujar Dai lalu


melangkah mendekat kearahku.


 “Kenapa kau bisa berbuat seperti itu?”


Perlahan aku  menoleh pada Dai sambil


mengusap air mataku. “Aku pun sudah menyakitimu, tapi kau terus bersikap biasa


seolah tak terjadi apa-apa. Lalu... kenapa aku malah seperti ini?” Tanyaku


Dengan lirih.


Dai tersenyum sendu, senyuman yang


sering kulihat dan membuatku ingin selalu melihatnya.


 “Aku pun menangis ketika tau yang kau sukai


adalah Shui... tapi kemudian aku berusaha memahami situasi. Aku menyayangi Shui


dan aku menyukaimu... aku tak mau bersikap egois. Kubiarkan kau menyukai Shui


dan membantumu dekat dengannya karena aku tau perasaanmu padanya tak akan


berubah.” Jawabnya.


Jawaban Dai membuatku merasa telah


jahat, dan dengan sikap yang seperti itu Dai memang jauh lebih baik dariku.


 “Maafkan aku, ya! Aku sangatlah kekanakan


padahal kita sedang menghadapi situasi yang serius.” Sesalku.


 “Tapi dibandingkan kau yang dulu... sikap dan


sifatmu ini berputar 180 derajat, aku sampai tak percaya yang berdiri didepanku


sekarang adalah Vier si putri Monochrome.” Ungkapnya.


Sepertinya Dai sungguh curiga aku bukan


Vier, tapi menceritakan hal tak masuk akal yang kualami ini... aku ragu ia akan


percaya.


 “Kata-katamu barusan tak sepenunya salah,


sih.” Gumamku.


 “Apakah kau memakai topeng silikon? Atau kau


operasi plastik? Kenapa bisa semirip itu dengan Vier?” Tanya Dai dengan tatapan


bodoh.


 “Hey, kau sungguh mengira aku bukan temanmu.


Vier? Waktu itu aku Cuma bercanda, lho! Dan soal sikapku yang berubah... kurasa


itu normal, manusia kan memang selalu berubah.” Aku berkilah.


Dai mengernyitkan kening, menyipitkan


mata penuh selidik.


 “Hmm... kalau begitu apakah kau ingat yang


kukatakan didepan rumah tua waktu itu?” Tanyaku sambil bersandar di pagar


jembatan.


“Sudah kubilang, kan... ‘Break The Secret’ kau akan paham ketika


kau hancurkan rahasianya!”

__ADS_1


*****


__ADS_2