
“Dai, mereka mendekat kearah kita. Tetap tenang dan bersikap biasa!”
Ujarku. Dai mengangguk dan kami masih pura-pura mesra.
“Tn. Dai dan Nona Monochrome, tolong ikut kami
sebentar!” Ujar salah satu tentara yang tampak seperti pimpinannya ketika
mereka sampai didekat kami dan mengelilingi kami.
“Ehm... ada apa ini?” Tanya Dai seolah tenang.
“Yang mulia raja memanggil kalian!” Jawabnya
dengan simpel.
“Kami sedang ada urusan, jadi tak bisa
sekarang!” Kilah Dai.
“Mohon kerja samanya, kami tak ingin buat
keributan ditengah keramaian begini. Ikutlah dengan tenang, kalian juga pasti
tak ingin tempat ini menjadi ricuh akibat baku tembak, kan?!” Ujarnya sopan,
tapi jelas sekali itu ancaman.
“Dai, kita ikut saja. Terlalu berbahaya untuk
menolak!” Bisikku pada Dai.
Dai mengangguk dan kami pun dibawa oleh
para tentara cakar hitam itu menggunakan sebuah mobil berbentuk kumbang besar
yang terbuat dari besi baja. Mobil ini terbang lebih tinggi dibanding mobil
lainnya, ukurannya juga lebih besar dan bentuknya sedikit menyeramkan.
Kami sampai disuatu tempat ditengah
kota, ini masih terhubung dengan kerajaan tapi aku belum pernah kesini. Aku
diberi tahu bahwa tempat ini adalah kediaman raja yang lama sebelum pindah ke
gedung baru istana pusat.
Kami dikawal masuk kedalam seperti
tahanan perang saja, Dai menggenggam tanganku dan menempatkanku tetap
disisinya, baru kali ini dia terlihat sangat protektif.
“Silahkan masuk, yang mulia sudah menunggu.”
Ujar si pemimpin ketika kami sampai didepan pintu besar yang pinggirannya
diukir teliti dan terdapat Relief bagian atas pintunya.
Kami memasuki ruangan itu dan kudapati
Yaza Vumi sedang berdiri didepan meja besar sambil menuangkan minuman ke empat
buah gelas kaca yang indah. Ia menoleh pada kami sesaat sebelum kembali fokus
pada kegiatannya.
“Selamat datang putraku tercinta, selamat
datang Putri Monochrome.” Sapanya. Ia mempersilahkan kami duduk didepannya
dengan penghalang meja diantara kami. Ia memberikan segelas minuman padaku,
segelas untuknya dan lagi segelas pada Dai, tapi meletakkan yang satu gelas
terakhir ditengah-tengah meja.
“Ada apa ayah? Mengapa ayah tia-tiba memanggil
kami seperti ini?” Tanya Dai secara langsung.
“Hm, seperti biasa. Kau selalu melemparkan
bola langsung.” Tawa kecil sang raja. “Yah, tapi mari kita persingkat ini, aku
juga masih ada perlu dengan menteri-menteri yang lain. Baiklah, pertama...
kalian pasti sudah tau tragedi penyerangan kepusat dokumen kan?!” Sang Yaza
Vumi memastikan.
“Tentu kami sudah tau!” Jawabku.
“Bagus, jadi tak perlu repot kujelaskan lagi
kalau kalian diduga sebagai anggota pemberontak atau setidaknya membantu
pemberontak!” Lanjut Yaza Vumi.
“Bagaimana mungkin kami adalah pemberontak?!”
Dai berlagak polos.
“Ketika upacara hari persatuan, kalian mulai
menghilang sesaat setelah lagu kebangsaan selesai disenandungkan, bahkan ada
saksi ysng melihat kalian berada di area dalam istana saat itu dan tak lama
kemudian keributan itu terjadi. Tentaraku mencari kalian waktu itu dan tak kami
temukan sampai pagi. Kemana kalian pada malam itu jika kalian mau memberi
alasan?! Dan satu hal lagi, apa yang kalian lakukan bertemu diam-diam berdua
sampai mengubah penampilan untuk menghindari pengawasan tentara-ku?”
Kami diam terpaku, bingung mau jawab
bagaimana. Yaza Vumi sangat sulit dibohongi, malah bahaya kalau aku sembarangan
bicara.
“Hm, sudah kuduga menyembunyikannya dari ayah
memang sia-sia!” Ujar Dai kemudian sambil menghela napas panjang. “Baiklah
ayah, akan kuceritakan yang... sebenarnya!” Lanjut Dai.
__ADS_1
Aku tersentak, aku menoleh pada Dai
memastikan apakah itu sungguh keluar dari mulutnya.
“Dai, kau bercanda, kan?!” Bisikku padanya.
“Malam itu kami memang bertemu,” Seolah tak
menghiraukanku Dai melanjutkan omongannya. “Karena aku dan Vier menjalin
hubungan!” lanjutnya simpel.
Aku langsung bungkam, kali ini adalah
idenya untuk meloloskan diri, penjelasan biasa mungkin tak bisa membuat Yaza
Vumi percaya. Tapi memang pasti masuk akal kalau alasannya adalah kami sepasang
kekasih.
“Kau menjalin hubungan?” Yaza Vumi
mengernyitkan dahinya.
“Benar ayah. Sebenarnya kami sudah sangat
sering bertemu, tapi karena kami merahasiakan hubungan ini, kami selalu menjaga
jarak. Dan malam itu kami bertemu di teras istana. Kami hanya mengobrol biasa
disana tapi kemudian memutuskan untuk pergi ketempat yang bagus untuk berdua.
Lalu tentang hari ini... kami sedang kencan. Penyamaran ini juga kami pakai agar
tidak terlalu menarik perhatian.” Jelas Dai.
“Tapi malam itu, dimana kalian berdua saja
sampai pagi?” Tanya Yaza Vumi lagi.
“Uhm... itu... ayah tau sendirilah kalau orang
yang sedang mabuk asmara.” Dai berkilah dengan ekspresi sok malu-malu.
******** kecil ini membuatku serasa tak
punya muka didepan raja. Agaknya aku paham arah pembicaraan Dai kemana, dia
sungguh tidak tahu malu.
“Hm, apa anda setuju dengan pernyataan putra
saya?” Yaza Vumi beralih padaku.
“Iya yang mulia, kami memang pergi kesuatu tempat
malam itu hingga pagi.” Jawabku.
Yaza Vumi tersenyum. Ia menyeruput
minumannya dan mempersilahkan kami minum juga.
“Ehm... yang mulia,” Aku memulai kembali
percakapan karena sejak awal obrolan ini ada yang mengganggu pikiranku. “Kenapa
anda mengisi gelas keempat juga? Bukankah anda tau yang akan datang hanya saya
dan Dai?” Tanyaku.
lagi aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.
“Saya hanya sekedar ingin meletakkan itu
disana saja!” Jawab Yaza Vumi simpel.
Bola mata Yaza Vumi lebih pekat dari
Dai, aku bisa melihatnya dengan jelas tapi tatapan mata itu selalu penuh arti
yang tersembunyi.
Setelah itu kami hanya membahas obrolan
ringan dan akhirnya pamit pergi. Tentara Cakar hitam hanya mengantar kami sampai
keluar gerbang karena Dai menolak diantar sampai kerumah.
“Bagus! Sekarang kita mau pulang pakai apa?”
tanyaku ketika kami sedang berdiri di pinggir jalan didepan istana tadi.
“Aku sudah meminta seseorang menjemput kita,
tenang saja!” Jawabnya.
Tak lama kemudian didepan kami berhenti
sebuah mobil yang berbeda dari yang lain, mobil dengan kesan seram penuh dengan
dekorasi malaikat kematian yang aku sudah bisa menduga siapa pemiliknya.
Dan benar saja dugaanku, seorang pemuda
berparas manis dengan tatapan yang dingin dan berambut panjang diikat ekor kuda
keluar dari mobil. Ya, itu adalah Shui. Ia melirik dengan dingin kearahku
seolah aku telah berbuat salah kepadanya, ia hanya berbicara dan menyapa Dai.
“Saya akan naik transportasi umum, tuan!” Ujar
Shui setelah memberikan kunci mobilnya pada Dai.
“Tak usah, kita pulang bersama saja. Kau dan
Vier duduk dibangku belakang, biar aku yang mengemudi.” Dai membukakan pintu
mobil untukku.
“Saya tak bisa tuan... saya tak mau
bersamanya!” Bantah Shui.
“HEY, KUNYUK!!!” Teriakku sangking tak
tahannya dengan perkataan Shui yang mulai keterlaluan.
“Apa maksudmu, ha? Mau memperlihatkan seberapa
unggulnya dirimu dengan bersikap kasar pada orang yang menyukaimu? Lagipula
kalau ini memang hanya karena aku mengatakan aku menyukaimu, aku kan tak
__ADS_1
memintamu membalasnya, dan aku juga tak pernah mengganggumu. Jadi apa
masalahnya?” Ocehku.
“Masalahnya adalah aku tak mau disukai
olehmu!!!” Tukas Shui.
Aku tersentak mendengarnya, bagaikan
petir disiang bolong, bagaikan anak panah besi yang menembus dadaku dan rasanya
sesak mendengar ucapan Shui barusan.
“Tak mau... disukai olehku? Sebegitu buruknya
aku dimatamu...” Aku mundur menjauh dari Shui dan Dai.
“Vier, jangan terlalu dimasukkan kehati, Shui
memang suka bicara seenaknya.” Ujar Dai menenangkan. Tapi mau menenangkan pun
percuma, aku merasakan sakit yang menyesakkan dadaku.
“Shui... kau... persetan dengan semua ini!”
Ujarku lalu berlari pergi dari sana.
Seperti inikah rasanya terlibat dalam
asmara? Pertama kalinya aku menyukai seseorang, dan pertama kalinya aku
tersakiti oleh orang lain karena perasaanku sendiri.
Diatas sebuah jembatan lumayan panjang
yang dibawahnya mengalir sungai yang indah dan jernih aku berdiri, aku
merasakan air mataku mengalir dipipiku dengan konyolnya. Kenapa bisa seorang
lelaki seperti itu membuatku merasakan banyak emosi begini, kenapa dia bisa
dengan mudah mempermainkan perasaanku.
“VIER!”
Suara itu... suara milik Dai. Tapi aku
tak mau menoleh padanya, aku tak mau ia melihatku berurai air mata seperti ini.
Dan entah kenapa dengan bodohnya dia selalu muncul ketika aku butuh seseorang
untuk bersandar, sekalipun aku telah mengecewakannya.
“Aku tak akan bertanya apakah kau baik-baik
saja, tapi kau cukup biarkan aku disisimu untuk menenangkanmu!” Ujar Dai lalu
melangkah mendekat kearahku.
“Kenapa kau bisa berbuat seperti itu?”
Perlahan aku menoleh pada Dai sambil
mengusap air mataku. “Aku pun sudah menyakitimu, tapi kau terus bersikap biasa
seolah tak terjadi apa-apa. Lalu... kenapa aku malah seperti ini?” Tanyaku
Dengan lirih.
Dai tersenyum sendu, senyuman yang
sering kulihat dan membuatku ingin selalu melihatnya.
“Aku pun menangis ketika tau yang kau sukai
adalah Shui... tapi kemudian aku berusaha memahami situasi. Aku menyayangi Shui
dan aku menyukaimu... aku tak mau bersikap egois. Kubiarkan kau menyukai Shui
dan membantumu dekat dengannya karena aku tau perasaanmu padanya tak akan
berubah.” Jawabnya.
Jawaban Dai membuatku merasa telah
jahat, dan dengan sikap yang seperti itu Dai memang jauh lebih baik dariku.
“Maafkan aku, ya! Aku sangatlah kekanakan
padahal kita sedang menghadapi situasi yang serius.” Sesalku.
“Tapi dibandingkan kau yang dulu... sikap dan
sifatmu ini berputar 180 derajat, aku sampai tak percaya yang berdiri didepanku
sekarang adalah Vier si putri Monochrome.” Ungkapnya.
Sepertinya Dai sungguh curiga aku bukan
Vier, tapi menceritakan hal tak masuk akal yang kualami ini... aku ragu ia akan
percaya.
“Kata-katamu barusan tak sepenunya salah,
sih.” Gumamku.
“Apakah kau memakai topeng silikon? Atau kau
operasi plastik? Kenapa bisa semirip itu dengan Vier?” Tanya Dai dengan tatapan
bodoh.
“Hey, kau sungguh mengira aku bukan temanmu.
Vier? Waktu itu aku Cuma bercanda, lho! Dan soal sikapku yang berubah... kurasa
itu normal, manusia kan memang selalu berubah.” Aku berkilah.
Dai mengernyitkan kening, menyipitkan
mata penuh selidik.
“Hmm... kalau begitu apakah kau ingat yang
kukatakan didepan rumah tua waktu itu?” Tanyaku sambil bersandar di pagar
jembatan.
“Sudah kubilang, kan... ‘Break The Secret’ kau akan paham ketika
kau hancurkan rahasianya!”
__ADS_1
*****