Break The Secret

Break The Secret
22) kebenaran


__ADS_3

Tepi danau perbatasan kota 06.15 am


 “Aku


tau, ada sebuah hutan terlarang di distrik 6 yang disebut hutan ‘Luka’, kabarnya ada sebuah titik


dihutan itu yang dibekukan. Dan ‘Sungai


Air Mata’ juga ada didekat titik beku itu.” Jawab Dai.


 “Ya, malam itu aku dan Vier asli melanggar


peraturan dan pergi kehutan terlarang yang tak jauh dari distrik utama, mencari


titik beku itu yang ternyata adalah sebuah puing-puing rumah, dan tak jauh dari


sana terdapat sungai yang ditengahnya terdapat sebuah batu yang mencuat.


Disanalah kami mengerti maksud bait pertama lagu opera.


‘Dimuka


bumi, dikaki langit... hey, rembulan yang sakit. Dimana malam gelap tertidur


untuk membangunkan mimpi yang terkubur.’Demikian liriknya. Ditempat itu benar benar hanya bisa melihat tanah yang


diinjak dan langit diatas kepala, cahaya rembulan menyorot dengan warna pucat


seolah sakit, malam itu pun suasana sungguh berbeda, terasa seperti dalam


mimpi.”


 “Sebentar, bisakah kau langsung pada intinya?


Percuma kau jelaskan itu aku tidak mengerti!” Sela-ku.


 “Intinya waktu itu Vier asli tak


menghiraukanku yang mencegahnya, dia bilang dia harus naik keatas batu yang ada


ditengah sungai  itu, aku terpaksa membantunya.


Dia naik dan berdiri diatas batu licin itu, lalu mengacungkan dua pecahan kaca


yang disatukan itu kearah cahaya bulan dan membiarkan cahaya bulan menembus


kaca ditangannya hingga sampai kewajahnya, tak lama kemudian ia seperti lemas


dan jatuh tercebur kesungai itu.


Aku langsung ikut menceburkan diri


untuk menolongnya, saat kubawa ia ketepian jantungnya sudah tak berdetak.


Kuberikan pertolongan pertama sebisaku dan akhirnya kurasakan degup jantungnya


lagi. Tak pikir panjang, aku langsung bergegas kembali. Awalnya aku berniat


membawanya kerumah sakit, tapi aku ingat pesannya sebelum itu agar langsung


membawanya kerumah tulip dan membaringkannya dikamarnya.”


 “Jadi begitu ceritanya... pantas saja Vier


langsung berubah kepribadian dalam semalam, ternyata dia memang kerasukan, ya!”


Terka Dai.


 “NANTI DULU!!!” Teriakku tiba-tiba. Aku


terpikirkan sesuatu yang berbahaya dari cerita Shui barusan.


Aku melangkah kearah Shui dengan


tatapan mematikan. Kutarik kerah bajunya dengan kasar dan mendekatkan wajahnya


padaku.


 “Ternyata selama ini kau Cuma sok polos, ya!”


Ketusku.


 “A, apa maksudmu?” Tanyanya heran.


Aku semakin tajam menatap Shui dan


bertanya,  “Kau bilang tadi Vier jatuh


kesungai dan tenggelam, kan?! Tapi kenapa saat aku bangun dipagi hari baju yang


kupakai kering semua? Dan baju basah itu malah ada ditempat baju kotor, jangan


bilang kau yang...”


 “TIDAK!!!” teriaknya seketika dengan muka yang


memerah. Fasa dan Dai ikut menatap tajam kearah Shui.


 “Bu, bukan aku yang mengganti bajumu... aku


minta tolong seorang bibi kenalanku di distrik 6 untuk menggantinya!” Bantah


Shui.


 “Benarkah begitu....” Tanyaku penuh selidik.


 “Sungguh!!! Aku bersumpah!!!” Seru Shui penuh


yakin.


 “Huh, baiklah!” Aku melepaskan cengkramanku


pada kerah baju Shui.


 “Hey, En’em Ji!” Tiba-tiba Fasa memanggilku


dengan nama asliku.


 “Panggil saja aku Vier!” Tukasku. Lagi pula


aku sudah terbiasa dengan nama ini.


 “Baiklah Vier, ngomong-ngomong apa kau sudah


menghubungi Adik perempuan Vier asli sejak kedatanganmu kesini?” Tanya Fasa.


 “Aku bahkan tak tau Vier punya adik


perempuan!” Jawabku simpel.


 “Wah, gawat kalau adik dan ibunya Vier cemas.


Ponsel cincinnya Vier asli juga tak ada.” Renung Fasa.


 “Oh, ponsel itu rusak saat Vier asli tercebur


kesungai!” Sambung Shui.

__ADS_1


 “Huh, panik sekali sih. Kan tinggal dihubungi


pakai ponselku saja dan bilang ponsel lamaku rusak hingga tak bisa


menghubunginya!” Ujarku simpel.


 “benar juga, ya!” Fasa menepuk dahi.


Tanpa kami sadari matahari sudah timbul


di ufuk timur seolah mengintip. Dai mengingatkanku untuk latihan opera, aku


harus segera pulang untuk bersiap-siap dan menghubungi keluarga Vier setelah


ini.


 “Apa kau mau pergi bersamaku? Hari ini Tn. Dai


memintaku menjadi Noir.” Tanya Shui.


Aku mendengus sambil menarik tangan Dai


menuju mobilnya.


 “Aku akan pergi dengan Dai, kau bisa pergi


bersama Fasa. Seingatku kau benci padaku, benarkan?!” Sinisku pada Shui.


 “Kau masih marah soal itu? padahal tadi kita


sudah mengobrol.” Shui mengernyitkan alisnya.


 “Ingatlah ini Shui,” Sekilas aku melirik pada


Shui yang berdiri ditepian danau dengan latar belakang matahari terbit yang


memantul di permukaan air danau seperti kristal.


 “Sekali kau menyakiti hati seorang wanita,


maka wanita itu akan terus mengingatnya. Jangan pernah berpikir itu akan terlupakan


olehnya begitu saja sekalipun ia berkata telah memaafkanmu...” Ujarku. Shui


membulatkan matanya, kulihat ada penyesalan yang terpantul diwajahnya.


 “Maksudmu... kau membenciku?” Tanyanya. Aku


tertawa hambar tak habis pikir dengan jalan pikirannya.


 “Kau mempermalukanku dengan mengatakan tak mau


disukai olehku... itu seperti kau memecahkan gelas kaca, sekalipun kau berusaha


memperbaikinya... bekas pecahannya akan selalu ada!” Tukasku lalu pergi bersama


Dai. Kutinggalkan Shui bersama Fasa.


Apapun alasannya, perkataan Shui waktu


itu benar-benar menyakitiku dan menggores harga diriku. Meskipun aku berusaha


memakluminya dengan berpikir dia seperti itu karena tak enak pada Dai, tetap


saja hatiku tergores.


.....


Seusai latihan opera dimarkas DieNeSs 03.45


pm


ketika kami sedang berkumpul diruang tunggu sebelum rapat besar-besaran


dimulai.


 “Memangnya aku tampak seperti apa?” Tanyaku


dengan ekspresi seolah tak ada apa-apa.


 “Kau seperti menahan amarah... atau semacamnya.”


Jawab Dai.


 “Jangan pikirkan, fokus saja pada rapat ini!”


Ujarku.


Tak lama kemudian kami berkumpul


diruang rapat bersama dengan ketua-ketua distrik yang secara rahasia bergabung


dengan kami dan juga pemimpin daerah yang belum ditaklukan Yaza Vumi.


Singkatnya kami memberitahukan rencana kami pada mereka dan menerima


usulan-usulan dari para ketua distrik juga pemimpin daerah.


Rapat berlangsung beberapa jam, setelah


itu keputusan final diambil. Ada sedikit perubahan dalam pelaksanaan nantinya


disebabkan kondisi dimasing-masing tempat yang akan kami serang.


Aku diminta menyimpulkan hasil rapat,


entah sejak kapan aku jadi orang penting disini, kukira aku mulai


diperhitungkan.


 “Baiklah, kesimpulannya adalah... pertama,


saat terompet tanda berakhirnya pementasan opera Vajus ditiup berarti saat


itulah tim yang bertugas akan meledakkan gudang senjata simpanan Yaza Vumi


dengan bom kendali yang sudah dipasang beberapa waktu lalu. Esok harinya disaat


kondisi militer Yaza Vumi tidak Stabil, barulah kita akan melakukan penyerangan


langsung dengan senjata yang sudah disiapkan. Penyerangan akan dilakukan secara


berkala, tim pertama 100 orang akan masuk melalui jalan rahasia menuju istana


itu, tim kedua sniper 20 orang akan berada di pos masing-masing bersiap jika


ada gerakan mencurigakan diluar istana. Tim tiga, 22 orang dengan helikopter


akan turun diatap istana. Tim empat, 150 orang jauhkan warga sipil dari daerah


perang. Sisanya tunggu ditempat yang ditentukan sebagai tenaga cadangan jika


terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Jelasku.


 “Dan untuk koordinator dari masing-masing tim


silahkan laporkan pada teman kami Fasa!” Sambung Dai.

__ADS_1


 “Satu hal Lagi,” Shui menambahkan. “Kami tidak


toleransi pada pengkhianat, kesetiaan adalah motto kami selama ini!” katanya dengan


dingin.


Rapat pun selesai, aku menghela napas


sambil meminum secangkir kopi hangat diruang tunggu markas DieNeSs. Aku


merenungi kehidupan baruku ini, aku pun merasa tak percaya dengan apa yang


telah kulalui. Aku pikir semenjak kedatanganku kesini sikapku berubah menjadi


semakin dewasa dan berpikir kritis. Kalau mengingat diriku yang sebenarnya


hanya anak SMA... ini sungguh suatu keajaiban.


Saat ini aku sendirian diruang tunggu


karena Fasa tengah sibuk dengan urusannya bersama para ketua tim, Shui sibuk


mengurus persenjataan dan aku tak tau dimana Dai.


Karena merasa suntuk diam sendirian


diruang tunggu, aku berjalan keluar dari markas DieNeSs sampai keluar kedepan


rumah tua yang jadi jalan masuk kemarkas. Aku menghirup udara banyak-banyak dan


menghembusnya perlahan. Tapi disela-sela ketenanganku, indera penglihatanku


menangkap sosok berpakaian serba putih yang sedang bersandar disebuah pohon


besar dekat rumah tua ini.


Sosok itu adalah Dai yang tampak sedang


menatap kosong kearah langit. Aku berniat menegurnya tapi kuurungkan niatku


begitu melihat setitik air bening mengalir dipipinya yang kemerahan. Wajahnya


begitu sedih dan terpukul, aku heran kenapa ada pria dengan hati selembut itu.


Aku berjalan perlahan kearahnya,


melihat sisi lain dari Dai yang selama ini tampak kuat dan tegar, ia selalu


menampakkan sikap yang profesional dan tegas. Tapi dibalik semua itu, dia juga


manusia, ia pasti merasa sedih karena harus berperang melawan ayahnya sendiri.


“Tak akan ada yang menyalahkanmu untuk


hal ini!” Aku tak tahan lagi, aku ingin berada disisinya untuk menenangkanya,


tak bisa hanya membiarkan temanku menangis sendiri begitu.


 “Eh, Vier? Aneh sekali melihatmu tiba-tiba ada


disini!” Ujarnya dengan senyum yang sangat dipaksakan.


 “Kenapa kau memilih menangis sendirian disaat


kau memiliki teman-teman untuk berbagi cerita?” Tanyaku.


 “Aku tak enak bercerita padamu disaat kau


sendiripun punya masalah yang sulit, dan tentunya akan beda urusan kalau aku


bercerita sambil bersedih-sedih ria dengan Shui!” Tawanya hambar.


 “Kalau kau mau... ehm, aku bisa meminjamkan


bahuku sampai kau merasa tenang!” Tawarku padanya. Ia bengong sesaat sebelum menampilkan senyum yang benar-benar enak


dipandang.


 “Mau kutunjukkan sebuah tempat dekat sini yang


bagus?” Tanyanya antusias. Aku mengangguk.


Dia membawaku kepuncak sebuah bukit


kecil tak jauh dari sana, sangat menyenangkan melihat senja yang hampir hilang


dari sana. Aku dan Dai duduk bersama dibukit itu, kubiarkan ia bersandar


dibahuku walau sebetulnya kepalanya agak terasa berat.


Apa yang kurasakan saat ini hanyalah


bayangan tentang kenanganku selama disini, beberapa bulan yang terasa sangat


panjang. Rasanya aku sudah mengenal lama pria disampingku ini hingga memiliki


ikatan pertemanan yang kuat.


Setelah senja tenggelam kami menemui


Fasa dan Shui, aku dan Fasa pamit pulang sedangkan Dai dan Shui masih dimarkas


DieNeSs. Tak bisa dipungkiri, aku dan Fasa tak dapat  tidur nyenyak setelah hari itu.


Hari demi hari berlalu, kami


melewatinya dengan kegiatan biasa-biasa saja tapi dengan jantung yang terus


berdebar. Dan tanpa sadar waktu berlalu mempertemukan kami dengan hari yang


telah ditentukan.


Ini adalah pementasanku yang ketiga,


aku memang tak menceritakan apapun tentang pentas keduaku karena tak ada satupun


hal yang menarik disana, dan lagi pentas kedua itu terbilang membosankan


menurutku.


Hari ini aku bersiap-siap untuk pergi


ke opera, tapi yang jadi pikiranku adalah akibat dari ledakan yang kami


timbulkan dengan meledakkan gudang senjata, semoga saja tak ada korban sipil


yang terkena imbasnya.


 “Vier, kuantar kau sekarang.” Fasa menegurku


yang sedang menatap diri didepan cermin. “Jangan gugup, fokuslah pada pentasmu,


urusan rencana kita biar urusanku dan yang lainnya!” Lanjutnya.


 “Tentu!” Jawabku.


Akhirnya aku berangkat menuju tempat

__ADS_1


pentas opera bersama Fasa.


*****


__ADS_2