
Tepi danau perbatasan kota 06.15 am
“Aku
tau, ada sebuah hutan terlarang di distrik 6 yang disebut hutan ‘Luka’, kabarnya ada sebuah titik
dihutan itu yang dibekukan. Dan ‘Sungai
Air Mata’ juga ada didekat titik beku itu.” Jawab Dai.
“Ya, malam itu aku dan Vier asli melanggar
peraturan dan pergi kehutan terlarang yang tak jauh dari distrik utama, mencari
titik beku itu yang ternyata adalah sebuah puing-puing rumah, dan tak jauh dari
sana terdapat sungai yang ditengahnya terdapat sebuah batu yang mencuat.
Disanalah kami mengerti maksud bait pertama lagu opera.
‘Dimuka
bumi, dikaki langit... hey, rembulan yang sakit. Dimana malam gelap tertidur
untuk membangunkan mimpi yang terkubur.’Demikian liriknya. Ditempat itu benar benar hanya bisa melihat tanah yang
diinjak dan langit diatas kepala, cahaya rembulan menyorot dengan warna pucat
seolah sakit, malam itu pun suasana sungguh berbeda, terasa seperti dalam
mimpi.”
“Sebentar, bisakah kau langsung pada intinya?
Percuma kau jelaskan itu aku tidak mengerti!” Sela-ku.
“Intinya waktu itu Vier asli tak
menghiraukanku yang mencegahnya, dia bilang dia harus naik keatas batu yang ada
ditengah sungai itu, aku terpaksa membantunya.
Dia naik dan berdiri diatas batu licin itu, lalu mengacungkan dua pecahan kaca
yang disatukan itu kearah cahaya bulan dan membiarkan cahaya bulan menembus
kaca ditangannya hingga sampai kewajahnya, tak lama kemudian ia seperti lemas
dan jatuh tercebur kesungai itu.
Aku langsung ikut menceburkan diri
untuk menolongnya, saat kubawa ia ketepian jantungnya sudah tak berdetak.
Kuberikan pertolongan pertama sebisaku dan akhirnya kurasakan degup jantungnya
lagi. Tak pikir panjang, aku langsung bergegas kembali. Awalnya aku berniat
membawanya kerumah sakit, tapi aku ingat pesannya sebelum itu agar langsung
membawanya kerumah tulip dan membaringkannya dikamarnya.”
“Jadi begitu ceritanya... pantas saja Vier
langsung berubah kepribadian dalam semalam, ternyata dia memang kerasukan, ya!”
Terka Dai.
“NANTI DULU!!!” Teriakku tiba-tiba. Aku
terpikirkan sesuatu yang berbahaya dari cerita Shui barusan.
Aku melangkah kearah Shui dengan
tatapan mematikan. Kutarik kerah bajunya dengan kasar dan mendekatkan wajahnya
padaku.
“Ternyata selama ini kau Cuma sok polos, ya!”
Ketusku.
“A, apa maksudmu?” Tanyanya heran.
Aku semakin tajam menatap Shui dan
bertanya, “Kau bilang tadi Vier jatuh
kesungai dan tenggelam, kan?! Tapi kenapa saat aku bangun dipagi hari baju yang
kupakai kering semua? Dan baju basah itu malah ada ditempat baju kotor, jangan
bilang kau yang...”
“TIDAK!!!” teriaknya seketika dengan muka yang
memerah. Fasa dan Dai ikut menatap tajam kearah Shui.
“Bu, bukan aku yang mengganti bajumu... aku
minta tolong seorang bibi kenalanku di distrik 6 untuk menggantinya!” Bantah
Shui.
“Benarkah begitu....” Tanyaku penuh selidik.
“Sungguh!!! Aku bersumpah!!!” Seru Shui penuh
yakin.
“Huh, baiklah!” Aku melepaskan cengkramanku
pada kerah baju Shui.
“Hey, En’em Ji!” Tiba-tiba Fasa memanggilku
dengan nama asliku.
“Panggil saja aku Vier!” Tukasku. Lagi pula
aku sudah terbiasa dengan nama ini.
“Baiklah Vier, ngomong-ngomong apa kau sudah
menghubungi Adik perempuan Vier asli sejak kedatanganmu kesini?” Tanya Fasa.
“Aku bahkan tak tau Vier punya adik
perempuan!” Jawabku simpel.
“Wah, gawat kalau adik dan ibunya Vier cemas.
Ponsel cincinnya Vier asli juga tak ada.” Renung Fasa.
“Oh, ponsel itu rusak saat Vier asli tercebur
kesungai!” Sambung Shui.
__ADS_1
“Huh, panik sekali sih. Kan tinggal dihubungi
pakai ponselku saja dan bilang ponsel lamaku rusak hingga tak bisa
menghubunginya!” Ujarku simpel.
“benar juga, ya!” Fasa menepuk dahi.
Tanpa kami sadari matahari sudah timbul
di ufuk timur seolah mengintip. Dai mengingatkanku untuk latihan opera, aku
harus segera pulang untuk bersiap-siap dan menghubungi keluarga Vier setelah
ini.
“Apa kau mau pergi bersamaku? Hari ini Tn. Dai
memintaku menjadi Noir.” Tanya Shui.
Aku mendengus sambil menarik tangan Dai
menuju mobilnya.
“Aku akan pergi dengan Dai, kau bisa pergi
bersama Fasa. Seingatku kau benci padaku, benarkan?!” Sinisku pada Shui.
“Kau masih marah soal itu? padahal tadi kita
sudah mengobrol.” Shui mengernyitkan alisnya.
“Ingatlah ini Shui,” Sekilas aku melirik pada
Shui yang berdiri ditepian danau dengan latar belakang matahari terbit yang
memantul di permukaan air danau seperti kristal.
“Sekali kau menyakiti hati seorang wanita,
maka wanita itu akan terus mengingatnya. Jangan pernah berpikir itu akan terlupakan
olehnya begitu saja sekalipun ia berkata telah memaafkanmu...” Ujarku. Shui
membulatkan matanya, kulihat ada penyesalan yang terpantul diwajahnya.
“Maksudmu... kau membenciku?” Tanyanya. Aku
tertawa hambar tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
“Kau mempermalukanku dengan mengatakan tak mau
disukai olehku... itu seperti kau memecahkan gelas kaca, sekalipun kau berusaha
memperbaikinya... bekas pecahannya akan selalu ada!” Tukasku lalu pergi bersama
Dai. Kutinggalkan Shui bersama Fasa.
Apapun alasannya, perkataan Shui waktu
itu benar-benar menyakitiku dan menggores harga diriku. Meskipun aku berusaha
memakluminya dengan berpikir dia seperti itu karena tak enak pada Dai, tetap
saja hatiku tergores.
.....
Seusai latihan opera dimarkas DieNeSs 03.45
pm
ketika kami sedang berkumpul diruang tunggu sebelum rapat besar-besaran
dimulai.
“Memangnya aku tampak seperti apa?” Tanyaku
dengan ekspresi seolah tak ada apa-apa.
“Kau seperti menahan amarah... atau semacamnya.”
Jawab Dai.
“Jangan pikirkan, fokus saja pada rapat ini!”
Ujarku.
Tak lama kemudian kami berkumpul
diruang rapat bersama dengan ketua-ketua distrik yang secara rahasia bergabung
dengan kami dan juga pemimpin daerah yang belum ditaklukan Yaza Vumi.
Singkatnya kami memberitahukan rencana kami pada mereka dan menerima
usulan-usulan dari para ketua distrik juga pemimpin daerah.
Rapat berlangsung beberapa jam, setelah
itu keputusan final diambil. Ada sedikit perubahan dalam pelaksanaan nantinya
disebabkan kondisi dimasing-masing tempat yang akan kami serang.
Aku diminta menyimpulkan hasil rapat,
entah sejak kapan aku jadi orang penting disini, kukira aku mulai
diperhitungkan.
“Baiklah, kesimpulannya adalah... pertama,
saat terompet tanda berakhirnya pementasan opera Vajus ditiup berarti saat
itulah tim yang bertugas akan meledakkan gudang senjata simpanan Yaza Vumi
dengan bom kendali yang sudah dipasang beberapa waktu lalu. Esok harinya disaat
kondisi militer Yaza Vumi tidak Stabil, barulah kita akan melakukan penyerangan
langsung dengan senjata yang sudah disiapkan. Penyerangan akan dilakukan secara
berkala, tim pertama 100 orang akan masuk melalui jalan rahasia menuju istana
itu, tim kedua sniper 20 orang akan berada di pos masing-masing bersiap jika
ada gerakan mencurigakan diluar istana. Tim tiga, 22 orang dengan helikopter
akan turun diatap istana. Tim empat, 150 orang jauhkan warga sipil dari daerah
perang. Sisanya tunggu ditempat yang ditentukan sebagai tenaga cadangan jika
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Jelasku.
“Dan untuk koordinator dari masing-masing tim
silahkan laporkan pada teman kami Fasa!” Sambung Dai.
__ADS_1
“Satu hal Lagi,” Shui menambahkan. “Kami tidak
toleransi pada pengkhianat, kesetiaan adalah motto kami selama ini!” katanya dengan
dingin.
Rapat pun selesai, aku menghela napas
sambil meminum secangkir kopi hangat diruang tunggu markas DieNeSs. Aku
merenungi kehidupan baruku ini, aku pun merasa tak percaya dengan apa yang
telah kulalui. Aku pikir semenjak kedatanganku kesini sikapku berubah menjadi
semakin dewasa dan berpikir kritis. Kalau mengingat diriku yang sebenarnya
hanya anak SMA... ini sungguh suatu keajaiban.
Saat ini aku sendirian diruang tunggu
karena Fasa tengah sibuk dengan urusannya bersama para ketua tim, Shui sibuk
mengurus persenjataan dan aku tak tau dimana Dai.
Karena merasa suntuk diam sendirian
diruang tunggu, aku berjalan keluar dari markas DieNeSs sampai keluar kedepan
rumah tua yang jadi jalan masuk kemarkas. Aku menghirup udara banyak-banyak dan
menghembusnya perlahan. Tapi disela-sela ketenanganku, indera penglihatanku
menangkap sosok berpakaian serba putih yang sedang bersandar disebuah pohon
besar dekat rumah tua ini.
Sosok itu adalah Dai yang tampak sedang
menatap kosong kearah langit. Aku berniat menegurnya tapi kuurungkan niatku
begitu melihat setitik air bening mengalir dipipinya yang kemerahan. Wajahnya
begitu sedih dan terpukul, aku heran kenapa ada pria dengan hati selembut itu.
Aku berjalan perlahan kearahnya,
melihat sisi lain dari Dai yang selama ini tampak kuat dan tegar, ia selalu
menampakkan sikap yang profesional dan tegas. Tapi dibalik semua itu, dia juga
manusia, ia pasti merasa sedih karena harus berperang melawan ayahnya sendiri.
“Tak akan ada yang menyalahkanmu untuk
hal ini!” Aku tak tahan lagi, aku ingin berada disisinya untuk menenangkanya,
tak bisa hanya membiarkan temanku menangis sendiri begitu.
“Eh, Vier? Aneh sekali melihatmu tiba-tiba ada
disini!” Ujarnya dengan senyum yang sangat dipaksakan.
“Kenapa kau memilih menangis sendirian disaat
kau memiliki teman-teman untuk berbagi cerita?” Tanyaku.
“Aku tak enak bercerita padamu disaat kau
sendiripun punya masalah yang sulit, dan tentunya akan beda urusan kalau aku
bercerita sambil bersedih-sedih ria dengan Shui!” Tawanya hambar.
“Kalau kau mau... ehm, aku bisa meminjamkan
bahuku sampai kau merasa tenang!” Tawarku padanya. Ia bengong sesaat sebelum menampilkan senyum yang benar-benar enak
dipandang.
“Mau kutunjukkan sebuah tempat dekat sini yang
bagus?” Tanyanya antusias. Aku mengangguk.
Dia membawaku kepuncak sebuah bukit
kecil tak jauh dari sana, sangat menyenangkan melihat senja yang hampir hilang
dari sana. Aku dan Dai duduk bersama dibukit itu, kubiarkan ia bersandar
dibahuku walau sebetulnya kepalanya agak terasa berat.
Apa yang kurasakan saat ini hanyalah
bayangan tentang kenanganku selama disini, beberapa bulan yang terasa sangat
panjang. Rasanya aku sudah mengenal lama pria disampingku ini hingga memiliki
ikatan pertemanan yang kuat.
Setelah senja tenggelam kami menemui
Fasa dan Shui, aku dan Fasa pamit pulang sedangkan Dai dan Shui masih dimarkas
DieNeSs. Tak bisa dipungkiri, aku dan Fasa tak dapat tidur nyenyak setelah hari itu.
Hari demi hari berlalu, kami
melewatinya dengan kegiatan biasa-biasa saja tapi dengan jantung yang terus
berdebar. Dan tanpa sadar waktu berlalu mempertemukan kami dengan hari yang
telah ditentukan.
Ini adalah pementasanku yang ketiga,
aku memang tak menceritakan apapun tentang pentas keduaku karena tak ada satupun
hal yang menarik disana, dan lagi pentas kedua itu terbilang membosankan
menurutku.
Hari ini aku bersiap-siap untuk pergi
ke opera, tapi yang jadi pikiranku adalah akibat dari ledakan yang kami
timbulkan dengan meledakkan gudang senjata, semoga saja tak ada korban sipil
yang terkena imbasnya.
“Vier, kuantar kau sekarang.” Fasa menegurku
yang sedang menatap diri didepan cermin. “Jangan gugup, fokuslah pada pentasmu,
urusan rencana kita biar urusanku dan yang lainnya!” Lanjutnya.
“Tentu!” Jawabku.
Akhirnya aku berangkat menuju tempat
__ADS_1
pentas opera bersama Fasa.
*****