
“Untuk memberiku harapan ketika aku mulai
putus asa pada hidupku.” Jawabnya.
“Yang benar saja Dai, orang sepertimu
tak akan mungkin putus asa pada hidup!” Bantahku.
Dai hanya tersenyum, dia tetap
tersenyum sendu. Dan kenapa hatiku begitu tersayat, seolah olah ada sesuatu
diantara aku dan dirinya.
“Sebaiknya kita pergi sekarang... lebih baik
begitu.” Ujar Dai sambil menuju dua adik perempuannya.
“Eliesa, Efaeni. Mulai sekarang kalian tinggal
dengan kakak, ya!” Dengan lemah lembut Dai bicara pada adiknya. Itu
mengingatkanku pada kakakku, tapi asal tau saja, kakakku tak pernah lembut
padaku. Meski begitu aku tetap rindu, sih.,
“Lho, memangnya ada apa kak? Kok
tiba-tiba begini?” Tanya Efaeni bingung. Dai tersenyum pada adiknya itu dan mengusap
rambutnya dengan lembut sambil berkata.
“Kau tau, kan ayah sibuk? Lagi pula kalian
masih bisa menemui ayah kok walaupun tiggal dengan kakak!” Katanya.
“Yah, kurasa kami tak masalah mau tinggal
dengan kakak atau ayah, lagi pula tempat kakak dipedesaan, kan?! Pasti lebih
nyaman disana!” Ujar kedua adiknya riang.
Ya, menurut kabar, pangeran ini tinggal
terpisah dengan ayahnya. Ia tinggal di pedesaan yang berada didekat perbatasan,
meski demikian ia sering pula berada di istana karena jarak istana dengan
tempat opera sangat dekat. Aku sendiri pun Cuma pernah mendengarnya dari
orang-orang, Dai tak pernah membahasnya sama sekali.
Setelah teman-teman Efaeni dan Eliesa
pulang, Dai membawa kedua adiknya itu bersama kami. Sepertinya ia juga akan
mengajak kami ketempat kediamannya sekalian mengantar adiknya kesana, aku
sangat penasaran dengan tempat itu.
Perjalanan kesana lumayan lama, Dai
mengendarai mobil yang bentuknya seperti kumbang, mungkin karena ukuran mobil
ini lebih besar hingga mampu menampung kami berlima bersama barang-barang yang
dibawa adik-adiknya.
“WAAHHH~” Seru kedua adik Dai girang ketika
kami sampai di tempat itu.
Ternyata itu adalah rumah yang besar
dan luas meskipun tampak sederhana, suasananya nyaman dan tenang, terlebih di
halaman samping rumah ditanami pohon-pohon Ek (oak) dan pinus yang tumbuh dengan subur. Halaman depan rumah itu
terdapat kolam ikan Koi dan tanaman teratai, sungguh tempat yang bagus!
“Tuan Dai?! Lama sekali anda tidak pulang,
selamat datang!” Sapa seorang kakek tua ketika kami memasuki rumah itu. rambut
putih berubannya panjang sebahu, dia mengenakan pakaian sederhana berwarna
hijau gelap dengan celana longgar berwarna hitam, kerut dikulitnya lumayan
banyak dan sudah agak bungkuk.
“Heee... kakek Deuel masih begini saja, kok
tidak bertambah tua, ya!” Canda Eliesa. Sang kakek yang dipanggil Deuel itu
hanya tersenyum menanggapinya.
“Oh iya, kek. Ini dua teman baikku, Fasa dan
Vier, kurasa mereka akan menginap disini.” Dai memperkenalkan kami pada kakek
Deuel.
“Baiklah, nona-nona. Silahkan beristirahat
diruang santai, saya rasa Shui sedang memasak didapur dan akan menyajikan
makanan enak untuk kita semua.” Ujar sang kakek.
“HAAA... ada Shui, ya?! Ayo kita hampiri dia,
dia pasti mau main dengan kita!” Seru Efaeni dengan riangnya lalu langsung
pergi mencari orang bernama Shui tadi.
Aku, Fasa dan Dai duduk diruang santai
yang dipenuhi buku-buku dan terdapat akuarium besar disana berisi beberapa
jenis ikan hias. Beberapa kali kami melontarkan candaan, dan rasanya kami bertiga
semakin akrab saja.
“Tuan makanan sudah siap!”
Seorang pemuda berambut hitam panjang
sepinggang yang diikat ekor kuda masuk keruangan, tubuhnya tinggi kekar tapi
berwajah manis. Dia tampak begitu terkejut melihatku, dan rasanya aku pun
merasa pernah bertemu dengannya.
Pemuda manis itu terpaku didepan pintu,
__ADS_1
matanya yang persis boneka berbulu mata lebat dan bola mata yang hitam pekat
itu terus menatapku seolah tak percaya, aku pun terus menatapnya, dan yang
paling aneh adalah rasanya pipiku memanas.
“Shui, masuklah! Sedang apa kamu melamun
didepan pintu begitu, ayo sapa dua temanku yang akan jadi temanmu juga ini!”
Ujar Dai menyadarkan kami dari suasana membeku tadi.
“Ti, tidak tuan, tapi... ” Pemuda manis yang
ternyata adalah Shui itu tampak begitu gugup.
“Shui... apakah ada sesuatu?” Tanya Dai dengan
senyuman penuh arti.
Pemuda itu terdiam sejenak, kemudian
berjalan cepat kearah Dai yang duduk didepanku dan mengambil pergelangan tangan
dai, menariknya untuk keluar dari ruangan.
“Hei, ada apa sebenarnya? Kenapa mereka
berdua?” Tanya Fasa penuh keheranan.
“Kita ikuti mereka!” Ajakku. Kami mengikuti
keluar dari ruangan dan mencari dua pria itu.
Mereka sedang membicarakan sesuatu
dikoridor, kami tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi wajah pria
manis bernama Shui itu tampak cemas sedangkan Dai tersenyum dan berusaha
menenangkannya. Berakhir dengan Dai meletakkan tangannya dibahu pemuda itu
dengan akrab.
“Woy, woy! Ngapain kalian?” Tanyaku penuh selidik.
“Bukan apa-apa, kok! Dia Cuma terkejut karena
ternyata ada tamu lain dan dia belum menyiapkan apa-apa, jadi dia agak cemas!”
Penjelasan Dai seperti hanya mencari-cari alasan saja, dan jelas sekali itu
bohong. Karena hal ini aku merasa yakin pernah bertemu dengan Shui dan
begitupun sebaliknya.
“Maafkan, atas sikap buruk saya tadi!” Sesal
Shui. Suaranya kali ini seperti dibuat-buat, ia bicara sangat pelan dan
terdengar janggal. Kami mengangguk saja.
Orang bernama Shui ini tak pandai
berbohong, beberapa kali ia melirik pada Dai seperti ingin mengatakan sesuatu,
dan beberapa kali pula Dai menyenggolnya dengan siku mengisyaratkan untuk tak
mengatakannya. Aku dan Fasa saling melirik tanda bahwa kami merasakan
kebohongan dari dua pria didepan kami.
bersama diruang makan yang bagus. Ternyata Dai orang yang tidak gila hormat,
jelas sekali bahwa kakek Deuel dan Shui adalah pelayannya, tapi ia
memperlakukan mereka seperti keluarganya dan tak gengsi untuk bersikap hormat.
Makan malam selesai, Dai mengantar kami
ke kamar yang telah ia siapkan dirumah itu khusus untuk tamu. Ketika berjalan
dilorong hendak ke kamar kami, aku melihat Efaeni dan Eliesa tampak begitu
gembira bermain dengan Shui dihalaman.
“Vier,” panggilan Dai mengejutkanku yang
sedang terfokus pada Shui. “Hm, kau pasti tertarik pada Shui, ya?! Sejak tadi
aku menangkapmu memperhatikannya tanpa henti.” Lanjutnya.
“Ti, tidak kok! Aku Cuma berpikir... ternyata
adikmu akrab dengannya, ya?!” Sangkalku.
“Hm, kukira kau suka padanya. Karena kalau
ternyata kau menyukai orang lain akan ada seorang lelaki yang akan patah hati.”
Ujar Dai sambil menggaruk tengkuknya.
“Ha? Maksudmu...”
“Nah, ini kamar kalian. Sampai besok!!!” Dai
langsung memotong perkataanku dan buru-buru pergi dari hadapan kami.
Lama kelamaan dia makin aneh saja. Aku
dan Fasa memasuki kamar yang sudah sangat rapi itu. lagi-lagi desain yang
terkesan sederhana tapi sangat bagus dan nyaman, seandainya aku bisa tinggal
lebih lama disini. Tunggu...
“FASA!!!” Teriakku tiba-tiba. Fasa tampak
begitu terkejut sampai langsung berdiri tegak dari tidurnya.
“Ada apa, sih? Kok tiba-tiba?” Kesalnya.
“Kau ingat Dai itu apa?” Tanyaku dengan nada
suara agak horor.
“Apa? Dia kan pangeran!”
“Dan pangeran itu apa?”
“Apa sih maksudmu? Bicara yang jelas dong!”
“DIA LAKI-LAKI!!!” Teriakku. “Apa kau lupa ada
hukum yang melarang perempuan dan laki-laki saling memasuki rumah?” Lanjutku.
Fasa langsung membeku dengan mata
__ADS_1
mendelik dan mulut tebuka lebar, sepertinya ia pun baru mengingat hal itu
setelah aku mengatakannya barusan.
“Kau tunggu sini, aku akan bicara pada Dai,
tak peduli ini tengah malam!” Gumamku sambil menuju keluar kamar.
Aku mencari letak kamar Dai, tapi yang
kutemukan malah kamar adiknya dan ketika aku mencari dikamar yang paling besar pun
tak ada, bahkan pemuda bernama Shui itu pun tak ada.
Hingga aku sampai didepan pintu sebuah
kamar yang pintunya sedikit terbuka, kuintip kedalam dan kulihat Dai sedang
tertidur. Tapi yang membuatku sangat terkejut adalah, Shui berdiri disana,
menatap tajam kearah Dai. Ada apa ini?
“Ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Nona?”
Tanya Shui sambil menoleh kearahku. Aku terkejut karena dia tiba-tiba sekali.
Kuberanikan diriku membuka pintu ruangan itu, dan dia langsung menarik selimut
untuk lebih menutupi Dai.
“Jangan salah paham, nona.” Ujarnya. “Dulunya
distrik utama ini adalah eropa, rata-rata orang masih memiliki kebiasaan sama
yaitu tak memakai baju ketika tidur. Sebenarnya saya datang untuk
memberitahunya karena ada dua orang gadis disini, tapi dia sudah terlelap
ketika saya datang dan saya tak mungkin membangunkannya.” Lanjutnya
menjelaskan.
“Tapi sepertinya ini bukan kamar Dai, karena
kamarnya pasti yang paling besar disana itu!” Terka-ku.
“Memang bukan, ini kamar saya!” Jawabnya
simpel dengan suara yang lebih pelan.
“Jadi kenapa dia tertidur disini?” Tanyaku
penuh selidik.
“Mendekatlah!” pintanya.
Aku mendekat kearah Shui, kemudian dia
membungkuk untuk mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berbisik.
“Saya yang memintanya, beberapa hari yang lalu
kamarnya dimasuki penyusup, dan saya rasa ada penyadap dan kamera disana. Saya belum
tau dimana itu, jadi saya memintanya tidur dikamar saya sebelum itu berhasil
disingkirkan.” Bisiknya.
“Lalu apa menurutmu penyusup itu masih ada
disekitar sini?” Tanyaku dengan suara pelan.
“Saya pikir begitu, dan saya akan keluar
menyelidikinya.”
“Aku ikut!”
“Tapi,”
“Jangan mencegahku!”
“B, bukan itu maksud saya... tapi bisakah nona
melepaskan saya?!”
Aku lupa dan baru menyadari apa yang
terjadi. Ternyata aku mencengkram bagian depan baju Shui sampai dia membungkuk
45 derajat. Buat malu saja, wanita macam apa yang melakukan hal begitu pada
lelaki.
“Oh iya, aku punya pertanyaan.” Aku berusaha
mengalihkan topik pembicaraan. “Bukankah perempuan dan laki-laki dilarang
saling memasuki rumah?” Tanyaku.
“Tenang, sekitar rumah ini tertutup sekali,
tak akan ada yang tau bahwa pemilik rumah ini membawa dua orang gadis
kerumahnya, lagipula masyarakat tak tau ini rumah milik siapa. Tapi sepertinya
mereka mengira saya wanita dan yang memiliki rumah ini. Aneh!” ujarnya.
Wajar saja salah dikira perempuan,
rambutnya cocok buat iklan duta Shampoo lain begitu, tak sadarkah dia?
Aku kembali kekamarku setelah meminjam
dua pasang baju pria pada Shui, aku mengajak Fasa ikut mengintai, karena ia
akan marah kalau tidak diajak. Pakaian pria ini pun untuk mempermudah kami
bergerak, karena mengintai memakai gaun sama artinya dengan mencari perkara.
Shui mengajak kami melewati sebuah
jalan rahasia dibawah tanah untuk keluar dari rumah itu tanpa diketahui orang
yang memata-matai. Saat keluar dari jalan rahasia itu, kami berada dihalaman
samping yang dipenuhi pohon Ek yang sudah berusia tua Nan rindang. Pohon Ek itu
sangat besar hingga memudahkan kami bersembunyi tanpa ketahuan.
“Itu mereka!”
Tunjuk Shui pada beberapa orang yang
bersembunyi dibalik pohon pinus dan sedang menatap tajam kearah rumah. Pakaian
mereka yang seperti ninja ini... aku tau mereka. Mereka adalah tentara cakar
__ADS_1
merah, tentara yang bergerak langsung dibawah perintah raja.
*****