Break The Secret

Break The Secret
10) teka-teki


__ADS_3

 


 


 “Untuk memberiku harapan ketika aku mulai


putus asa pada hidupku.” Jawabnya.


“Yang benar saja Dai, orang sepertimu


tak akan mungkin putus asa pada hidup!” Bantahku.


Dai hanya tersenyum, dia tetap


tersenyum sendu. Dan kenapa hatiku begitu tersayat, seolah olah ada sesuatu


diantara aku dan dirinya.


 “Sebaiknya kita pergi sekarang... lebih baik


begitu.” Ujar Dai sambil menuju dua adik perempuannya.


 “Eliesa, Efaeni. Mulai sekarang kalian tinggal


dengan kakak, ya!” Dengan lemah lembut Dai bicara pada adiknya. Itu


mengingatkanku pada kakakku, tapi asal tau saja, kakakku tak pernah lembut


padaku. Meski begitu aku tetap rindu, sih.,


“Lho, memangnya ada apa kak? Kok


tiba-tiba begini?” Tanya Efaeni bingung. Dai tersenyum pada adiknya itu dan mengusap


rambutnya dengan lembut sambil berkata.


 “Kau tau, kan ayah sibuk? Lagi pula kalian


masih bisa menemui ayah kok walaupun tiggal dengan kakak!” Katanya.


 “Yah, kurasa kami tak masalah mau tinggal


dengan kakak atau ayah, lagi pula tempat kakak dipedesaan, kan?! Pasti lebih


nyaman disana!” Ujar kedua adiknya riang.


Ya, menurut kabar, pangeran ini tinggal


terpisah dengan ayahnya. Ia tinggal di pedesaan yang berada didekat perbatasan,


meski demikian ia sering pula berada di istana karena jarak istana dengan


tempat opera sangat dekat. Aku sendiri pun Cuma pernah mendengarnya dari


orang-orang, Dai tak pernah membahasnya sama sekali.


Setelah teman-teman Efaeni dan Eliesa


pulang, Dai membawa kedua adiknya itu bersama kami. Sepertinya ia juga akan


mengajak kami ketempat kediamannya sekalian mengantar adiknya kesana, aku


sangat penasaran dengan tempat itu.


Perjalanan kesana lumayan lama, Dai


mengendarai mobil yang bentuknya seperti kumbang, mungkin karena ukuran mobil


ini lebih besar hingga mampu menampung kami berlima bersama barang-barang yang


dibawa adik-adiknya.


 “WAAHHH~” Seru kedua adik Dai girang ketika


kami sampai di tempat itu.


Ternyata itu adalah rumah yang besar


dan luas meskipun tampak sederhana, suasananya nyaman dan tenang, terlebih di


halaman samping rumah ditanami pohon-pohon Ek (oak) dan pinus yang tumbuh dengan subur. Halaman depan rumah itu


terdapat kolam ikan Koi dan tanaman teratai, sungguh tempat yang bagus!


 “Tuan Dai?! Lama sekali anda tidak pulang,


selamat datang!” Sapa seorang kakek tua ketika kami memasuki rumah itu. rambut


putih berubannya panjang sebahu, dia mengenakan pakaian sederhana berwarna


hijau gelap dengan celana longgar berwarna hitam, kerut dikulitnya lumayan


banyak dan sudah agak bungkuk.


 “Heee... kakek Deuel masih begini saja, kok


tidak bertambah tua, ya!” Canda Eliesa. Sang kakek yang dipanggil Deuel itu


hanya tersenyum menanggapinya.


 “Oh iya, kek. Ini dua teman baikku, Fasa dan


Vier, kurasa mereka akan menginap disini.” Dai memperkenalkan kami pada kakek


Deuel.


 “Baiklah, nona-nona. Silahkan beristirahat


diruang santai, saya rasa Shui sedang memasak didapur dan akan menyajikan


makanan enak untuk kita semua.” Ujar sang kakek.


 “HAAA... ada Shui, ya?! Ayo kita hampiri dia,


dia pasti mau main dengan kita!” Seru Efaeni dengan riangnya lalu langsung


pergi mencari orang bernama Shui tadi.


Aku, Fasa dan Dai duduk diruang santai


yang dipenuhi buku-buku dan terdapat akuarium besar disana berisi beberapa


jenis ikan hias. Beberapa kali kami melontarkan candaan, dan rasanya kami bertiga


semakin akrab saja.


 “Tuan makanan sudah siap!”


Seorang pemuda berambut hitam panjang


sepinggang yang diikat ekor kuda masuk keruangan, tubuhnya tinggi kekar tapi


berwajah manis. Dia tampak begitu terkejut melihatku, dan rasanya aku pun


merasa pernah bertemu dengannya.


Pemuda manis itu terpaku didepan pintu,

__ADS_1


matanya yang persis boneka berbulu mata lebat dan bola mata yang hitam pekat


itu terus menatapku seolah tak percaya, aku pun terus menatapnya, dan yang


paling aneh adalah rasanya pipiku memanas.


 “Shui, masuklah! Sedang apa kamu melamun


didepan pintu begitu, ayo sapa dua temanku yang akan jadi temanmu juga ini!”


Ujar Dai menyadarkan kami dari suasana membeku tadi.


 “Ti, tidak tuan, tapi... ” Pemuda manis yang


ternyata adalah Shui itu tampak begitu gugup.


 “Shui... apakah ada sesuatu?” Tanya Dai dengan


senyuman penuh arti.


Pemuda itu terdiam sejenak, kemudian


berjalan cepat kearah Dai yang duduk didepanku dan mengambil pergelangan tangan


dai, menariknya untuk keluar dari ruangan.


 “Hei, ada apa sebenarnya? Kenapa mereka


berdua?” Tanya Fasa penuh keheranan.


 “Kita ikuti mereka!” Ajakku. Kami mengikuti


keluar dari ruangan dan mencari dua pria itu.


Mereka sedang membicarakan sesuatu


dikoridor, kami tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi wajah pria


manis bernama Shui itu tampak cemas sedangkan Dai tersenyum dan berusaha


menenangkannya. Berakhir dengan Dai meletakkan tangannya dibahu pemuda itu


dengan akrab.


 “Woy, woy! Ngapain kalian?” Tanyaku penuh selidik.


 “Bukan apa-apa, kok! Dia Cuma terkejut karena


ternyata ada tamu lain dan dia belum menyiapkan apa-apa, jadi dia agak cemas!”


Penjelasan Dai seperti hanya mencari-cari alasan saja, dan jelas sekali itu


bohong. Karena hal ini aku merasa yakin pernah bertemu dengan Shui dan


begitupun sebaliknya.


 “Maafkan, atas sikap buruk saya tadi!” Sesal


Shui. Suaranya kali ini seperti dibuat-buat, ia bicara sangat pelan dan


terdengar janggal. Kami mengangguk saja.


Orang bernama Shui ini tak pandai


berbohong, beberapa kali ia melirik pada Dai seperti ingin mengatakan sesuatu,


dan beberapa kali pula Dai menyenggolnya dengan siku mengisyaratkan untuk tak


mengatakannya. Aku dan Fasa saling melirik tanda bahwa kami merasakan


kebohongan dari dua pria didepan kami.


bersama diruang makan yang bagus. Ternyata Dai orang yang tidak gila hormat,


jelas sekali bahwa kakek Deuel dan Shui adalah pelayannya, tapi ia


memperlakukan mereka seperti keluarganya dan tak gengsi untuk bersikap hormat.


Makan malam selesai, Dai mengantar kami


ke kamar yang telah ia siapkan dirumah itu khusus untuk tamu. Ketika berjalan


dilorong hendak ke kamar kami, aku melihat Efaeni dan Eliesa tampak begitu


gembira bermain dengan Shui dihalaman.


 “Vier,” panggilan Dai mengejutkanku yang


sedang terfokus pada Shui. “Hm, kau pasti tertarik pada Shui, ya?! Sejak tadi


aku menangkapmu memperhatikannya tanpa henti.” Lanjutnya.


 “Ti, tidak kok! Aku Cuma berpikir... ternyata


adikmu akrab dengannya, ya?!” Sangkalku.


 “Hm, kukira kau suka padanya. Karena kalau


ternyata kau menyukai orang lain akan ada seorang lelaki yang akan patah hati.”


Ujar Dai sambil menggaruk tengkuknya.


 “Ha? Maksudmu...”


 “Nah, ini kamar kalian. Sampai besok!!!” Dai


langsung memotong perkataanku dan buru-buru pergi dari hadapan kami.


Lama kelamaan dia makin aneh saja. Aku


dan Fasa memasuki kamar yang sudah sangat rapi itu. lagi-lagi desain yang


terkesan sederhana tapi sangat bagus dan nyaman, seandainya aku bisa tinggal


lebih lama disini. Tunggu...


 “FASA!!!” Teriakku tiba-tiba. Fasa tampak


begitu terkejut sampai langsung berdiri tegak dari tidurnya.


 “Ada apa, sih? Kok tiba-tiba?” Kesalnya.


 “Kau ingat Dai itu apa?” Tanyaku dengan nada


suara agak horor.


 “Apa? Dia kan pangeran!”


 “Dan pangeran itu apa?”


 “Apa sih maksudmu? Bicara yang jelas dong!”


 “DIA LAKI-LAKI!!!” Teriakku. “Apa kau lupa ada


hukum yang melarang perempuan dan laki-laki saling memasuki rumah?” Lanjutku.


Fasa langsung membeku dengan mata

__ADS_1


mendelik dan mulut tebuka lebar, sepertinya ia pun baru mengingat hal itu


setelah aku mengatakannya barusan.


 “Kau tunggu sini, aku akan bicara pada Dai,


tak peduli ini tengah malam!” Gumamku sambil menuju keluar kamar.


Aku mencari letak kamar Dai, tapi yang


kutemukan malah kamar adiknya dan ketika aku mencari dikamar yang paling besar pun


tak ada, bahkan pemuda bernama Shui itu pun tak ada.


Hingga aku sampai didepan pintu sebuah


kamar yang pintunya sedikit terbuka, kuintip kedalam dan kulihat Dai sedang


tertidur. Tapi yang membuatku sangat terkejut adalah, Shui berdiri disana,


menatap tajam kearah Dai. Ada apa ini?


 “Ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Nona?”


Tanya Shui sambil menoleh kearahku. Aku terkejut karena dia tiba-tiba sekali.


Kuberanikan diriku membuka pintu ruangan itu, dan dia langsung menarik selimut


untuk lebih menutupi Dai.


 “Jangan salah paham, nona.” Ujarnya. “Dulunya


distrik utama ini adalah eropa, rata-rata orang masih memiliki kebiasaan sama


yaitu tak memakai baju ketika tidur. Sebenarnya saya datang untuk


memberitahunya karena ada dua orang gadis disini, tapi dia sudah terlelap


ketika saya datang dan saya tak mungkin membangunkannya.” Lanjutnya


menjelaskan.


 “Tapi sepertinya ini bukan kamar Dai, karena


kamarnya pasti yang paling besar disana itu!” Terka-ku.


 “Memang bukan, ini kamar saya!” Jawabnya


simpel dengan suara yang lebih pelan.


 “Jadi kenapa dia tertidur disini?” Tanyaku


penuh selidik.


 “Mendekatlah!” pintanya.


Aku mendekat kearah Shui, kemudian dia


membungkuk untuk mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berbisik.


 “Saya yang memintanya, beberapa hari yang lalu


kamarnya dimasuki penyusup, dan saya rasa ada penyadap dan kamera disana. Saya belum


tau dimana itu, jadi saya memintanya tidur dikamar saya sebelum itu berhasil


disingkirkan.” Bisiknya.


 “Lalu apa menurutmu penyusup itu masih ada


disekitar sini?” Tanyaku dengan suara pelan.


 “Saya pikir begitu, dan saya akan keluar


menyelidikinya.”


 “Aku ikut!”


 “Tapi,”


 “Jangan mencegahku!”


 “B, bukan itu maksud saya... tapi bisakah nona


melepaskan saya?!”


Aku lupa dan baru menyadari apa yang


terjadi. Ternyata aku mencengkram bagian depan baju Shui sampai dia membungkuk


45 derajat. Buat malu saja, wanita macam apa yang melakukan hal begitu pada


lelaki.


 “Oh iya, aku punya pertanyaan.” Aku berusaha


mengalihkan topik pembicaraan. “Bukankah perempuan dan laki-laki dilarang


saling memasuki rumah?” Tanyaku.


 “Tenang, sekitar rumah ini tertutup sekali,


tak akan ada yang tau bahwa pemilik rumah ini membawa dua orang gadis


kerumahnya, lagipula masyarakat tak tau ini rumah milik siapa. Tapi sepertinya


mereka mengira saya wanita dan yang memiliki rumah ini. Aneh!” ujarnya.


Wajar saja salah dikira perempuan,


rambutnya cocok buat iklan duta Shampoo lain begitu, tak sadarkah dia?


Aku kembali kekamarku setelah meminjam


dua pasang baju pria pada Shui, aku mengajak Fasa ikut mengintai, karena ia


akan marah kalau tidak diajak. Pakaian pria ini pun untuk mempermudah kami


bergerak, karena mengintai memakai gaun sama artinya dengan mencari perkara.


Shui mengajak kami melewati sebuah


jalan rahasia dibawah tanah untuk keluar dari rumah itu tanpa diketahui orang


yang memata-matai. Saat keluar dari jalan rahasia itu, kami berada dihalaman


samping yang dipenuhi pohon Ek yang sudah berusia tua Nan rindang. Pohon Ek itu


sangat besar hingga memudahkan kami bersembunyi tanpa ketahuan.


 “Itu mereka!”


Tunjuk Shui pada beberapa orang yang


bersembunyi dibalik pohon pinus dan sedang menatap tajam kearah rumah. Pakaian


mereka yang seperti ninja ini... aku tau mereka. Mereka adalah tentara cakar

__ADS_1


merah, tentara yang bergerak langsung dibawah perintah raja.


*****


__ADS_2