Break The Secret

Break The Secret
29) Pembalasan


__ADS_3

 


 


30 Agustus 2200


Mari lihat salju ini sekali lagi,


kulihat Fasa senang dengan salju yang terus jatuh, tapi hari ini mungkin


terakhir kalinya aku bersama Fasa. Malam nanti aku akan kembali kedistrik utama


untuk misiku, mereka tak ada yang tau karena ini kesepakatanku dengan Raja


Mustafa.


Ceritanya, hari itu Khaled


memberitahukan keinginanku pada Raja Mustafa, kemudian malamnya aku dipanggil


secara pribadi oleh sang raja. Pembicaraan itu menyangkut keputusanku yang


ingin menjadi pembawa racun ke istana Yaza Vumi.


Setelah berbagai pedebatan dan bantahan


aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku mampu dan tidak keberatan dengan


konsekuensinya. Kukatakan kalaupun aku mati disana aku tak akan menyesalinya.


Akhirnya keputusanku disetujui, aku mengajukan Syarat pada Raja untuk tak


memberitahukan hal ini pada teman-temanku sampai aku berhasil atau jika aku


berakhir mati, dan Raja menyetujuinya.


Hari ini aku bicara banyak pada Fasa,


bahkan kubilang aku senang mengenal Dai, dan disukai oleh Dai adalah hal yang


kusenangi. Aku juga mendatangi Shui dan meminta maaf padanya.


Kini malam telah tiba, semua


teman-temanku sudah tertidur, aku dibawa Khaled menemui Raja. Ia memberikan


sebuah kalung dengan amulet seperti kaca yang terdapat cairan warna ungu didalamnya.


 “Amulet kalung ini berisi racun udara, kami


desain dalam bentuk kalung agar tak dicurigai apabila ditemukan, setelah


saatnya tepat banting kalung ini sekuatnya hingga amulet itu pecah, maka


sedikit cairan itu jika menguap dan berbaur dengan udara bisa membunuh semua


orang yang menghirupnya. Tapi tenang, kau bisa menggunakan sapu tangan yang


dibasahi untuk menutup hidungmu seperti menghadapi asap kebakaran karena racun


itu lemah terhadap air.” Jelas sang raja.


 “Hm, baiklah terima kasih. Saya permisi yang


mulia.” Ujarku.


Setelah itu Khaled membawaku pergi


menuju pelabuhan. Selama perjalanan aku hanya diam, karena bohong jika aku


bilang tidak takut. Aku akan mengahadapi saat yang menentukan hidup dan matiku


sekarang.


.....


Laut yang menghitam, dan sudut beku


yang mengerikan. Sekarang aku sendirian, walaupun katanya ada orang-orang


suruhan Raja yang mengawasiku selama perjalanan tetap saja aku merasa


sendirian, bangku disebelahku tetap kosong dan suasananya suram.


Kapal ini sangat cepat, sekitar 36 jam


saja perjalanan dari pelabuhan Near-East sampai pelabuhan Avaya di distrik


utama. Aku sampai, kurasa sebentar lagi aku pasti tertangkap karena ada banyak


tentara disana.


Meskipun aku memakai sedikit


penyamaran, bukan berarti aku tak mau ditemukan. Sebaliknya, akan lebih


meyakinkan Yaza Vumi dengan seolah tertangkap tanpa rencana. Yah, untuk


jaga-jaga saja supaya dia lebih percaya.


 “HEY, INI DIA!!!” Teriak seorang pria


berseragam tentara yang tiba-tiba mencekal lenganku.


Aku sangat terkejut walaupun tau ini


akan terjadi, mereka membawaku dengan kasar dan memasukkanku kesebuah mobil


besi baja berbentuk lalat besar. Aku terkurung didalam sana sendirian. Didalam


mobil itu ada semacam ruangan berukuran satu setengah meter yang gelap gulita,


cocok memang untuk membawa tahanan sepertiku. Sedangkan pengemudi dibagian


depan.


Selama perjalanan menuju istana itu aku


tak dapat melihat apa-apa meskipun mataku terbuka, tak pula aku dengar sesuatu


selain napasku karena tampaknya tempat kecil ini kedap suara. Tanganku juga


diborgol kebelakang, rasanya untuk menggaruk kepala yang gatal saja tak bisa,


aku kesal sekali.


Setelah beberapa lama pintu terbuka dan


aku dibawa keluar dari tempat sempit ini.  Singkatnya mereka langsung membawaku pada Yaza Vumi yang tampak menikmati


sekali hidupnya setelah perang itu.


 “Aku kehilangan istriku beberapa tahun lalu...


dan sekarang semua anakku meninggalkanku, kau tau, awalnya aku sedih sekali


sampai kusadari harusnya aku bahagia karena aku telah terbebas dari


segalanya... bebas dari semua ikatan termasuk ikatan perasaan!” Senyum Yaza


Vumi.


Ia duduk didekat jendela sambil

__ADS_1


menikmati secangkir teh dan beberapa jenis kudapan. Prajurit yang membawaku


kesana menghempasku sampai tersungkur dikakinya, sungguh seperti saat itu.


 “Huh, kau pikir mau jadi apa kau? Memutus


semua ikatan berarti tak punya apapun!” Tukasku.


 “Aku memang tak butuh apapun, KARENA AKU


TUHAN!!!” Teriaknya.


 “Tuhan? Tuhan dengkulmu, ya... kalau begitu


kenapa kau memborgolku? Apa kau takut aku melakukan sesuatu? Katanya Tuhan.”


Aku memancingnya agar membuka borgolku. Yah, aku sendiri tak yakin sih dia akan


membukanya, Yaza Vumi tak sebodoh itu.


 “HEY, BAWA KUNCI BORGOLNYA!!!” Teriak Yaza


Vumi lagi. Tak kusangka kata-kata pancingan yang sesederhana itu berhasil, aku


malah merasa ada yang aneh. Ia terlihat tidak stabil dan sedang frustasi.


 “Lihat, setelah kulepaskan borgolnya pun kau


tak bisa berbuat apa-apa!” Lanjutnya.


 “Benar juga ya, aku bisa apa...” Aku


memiringkan kepalaku sambil mengerutkan alis seolah meledek.


 “Hmm... aku kasihan denganmu, kau pasti


ditinggal teman-temanmu, kudengar kau ditemukan sendirian dekat pelabuhan.


Lihatkan?! Begitulah manusia.” Ia meminum tehnya.


 “Ya, manusia memang seperti itu, sama


sepertimu yang mengatakan telah memutus semua ikatan tapi nyatanya kau hampir


gila karena ditinggal anak-anakmu.” Cemoohku.


Yaza Vumi menatap marah padaku, ia mengambil


gelas berisi air putih lalu melemparnya padaku hingga gelas itu pecah mengenai


kepalaku dan airnya tumpah ke Syal dileherku. Aku tersenyum.


 “Kau ini, sudah mau mati masih besar omong!!!”


Ketusnya.


 “Mati? Yah aku juga tak tau sih bakal mati


atau tidak. Tapi kalau kau... pasti mati sekarang!!!” Senyumku dengan sinis.


Aku menarik kalung yang kupakai hingga


lepas dan membanting hingga amuletnya pecah. Dan dengan cepat kututup hidung


dan mulutku dengan Syal yang basah tadi. Semua ini sudah kuperkirakan,


sekalipun Yaza Vumi tak melempar gelas itu padaku, aku pasti aku cari cara agar


dapat membasahi Syalku sebelum memecah amulet ini.


 “Mereka bilang kau punya waktu 30 detik


sebelum mati begitu menghirup udara beracun yang kutebar barusan, Kuberi tahu


 “Kami berhasil sejauh ini karena orang yang


kau pikir Noir adalah anakmu sendiri, Dai. Dua putrimu juga mengutuk


perbuatanmu, dan satu hal lagi, kau tak bisa melampauiku karena aku adalah...


DarkNight, aku yang memulai semua ini dan sesuai yang kutulis dalam buku Break


The Secret, pemerintahanmu akan berakhir ditahun ini dan kau berakhir


mengenaskan! Selamat tinggal pecundang!!!” Kulihat Yaza Vumi tampak sangat


terkejut dengan pernyataanku. Dihembusan napas terakhirnya pun ia masih saja


mengaku tuhan. Sebenarnya dia mati karena terlalu sombong, ia menyuruh semua


prajurit dan pelayannya keluar ruangan ini begitu aku masuk, dia meremehkanku


dan menganggapku tak akan mampu berbuat apa-apa.


Ya, kuharap dia bisa membawa penyesalan


bersama kematiannya. Aku masih menutup hidung dan mulutku, tapi kurasa aku tak


boleh terlalu lama berada disini, kulihat ada beberapa lubang Ventilasi yang


terhubung keluar, udara beracun ini pasti sudah menyebar.


Aku membuka pintu dan keluar ruangan


ini perlahan, beruntung prajurit yang berjaga didepan pintu sudah tergelak tak


bernyawa. Aku melalui lorong pelan-pelan, kulihat bagaimana prajurit-prajurit itu


terbatuk-batuk dan mati susul menyusul, mereka pasti tak tau yang terjadi dan


tak tau bagaimana menanganinya. Kasihan sekali orang yang mati dalam ketidak


tahuan.


 “Apa? A..apa yang terjadi...” Pekik salah satu


pelayan yang tak jauh dariku ketika aku lewat. Aku sedikit merasa kasihan, tapi


toh, walaupun Cuma pelayan mereka juga jahat.


Dengan cepat dan aku hati-hati mencari


jalan menuju ruang penyimpanan dokumen, selama perjalanan kesana banyak mayat


bergeletakan dan orang yang perlahan mati, aku adalah pelakunya... yang


membunuh mereka semua.


Aku sampai diruang penyimpanan dokumen,


buru-buru mengutak-atik papan catur yang menempel didinding, agak sulit karena hanya


bisa menggunakan satu tangan sementara tangan yang lain harus setia membatasi


pernapasanku.


Aku bergegas mengambil buku Break The


Secret, rasanya seperti dikejar malaikat maut, harus sangat buru-buru. Aku


berlari keluar ruangan itu, melewati lorong penuh mayat lagi sampai kulihat


teras istana yang terhubung keluar. Aku harus cepat. Katanya mereka akan

__ADS_1


menghujani tempat itu sejam setelah aku memecahkan amulet, mereka menanam


semacam alat yang akan membuat mereka mengetahui apabila amulet itu telah


hancur. Tapi sejam setelah amulet pecah dan menyebar udara kotor itu sangat lama,


sekarang saja baru sekitar 20 menit sejak amulet itu pecah.


 “HEY SIALAN KAU!!!” Beberapa tentara cakar


hitam melihatku melarikan diri. Oh, ya ampun... tak bisakah ini dipermudah?!


Mereka tak mati dalam 30 detik, kurasa


alasannya adalah karena mereka memakai masker, tapi masker tipis begitu pasti


ditembus udara dengan mudah, mereka tak akan bertahan lama, aku hanya harus


melarikan diri lagi.


Tapi ternyata tak semudah itu, mereka


membawa senapan, aku terpaksa menghentikan langkahku agar mereka tak menembak.


Perlahan mereka mendekat kearahku dan berniat menangkapku, tapi sialnya salah


satu dari mereka malah berteriak begini,


 “BUNUH PEREMPUAN SIALAN ITU, DIA


PENYEBABNYA!!!” Tentara yang memegang senapan itu tampak kalap dan akhirnya


menekan pelatuk senapannya yang sedang mengarah kearahku.


Dalam sekejap pikiranku kosong, apa aku


akan mati?


 “DUAK”


Kudengar suara itu dan kurasa seseorang


menendang pinggulku sampai aku terlempar. Aku memang tak tertembak dibagian


vital seperti seharusnya tapi peluru itu mengenai lututku ditambah lagi aku


jatuh tersungkur dan terluka.


 “Huh, kau memang selalu begitu, ya?! Suka


sekali menempatkan diri dalam bahaya!” Ujar orang yang menendangku tadi.


Aku mengenali suara barusan, aku senang


sekali begitu melihatnya. Itu adalah Shui dengan masker aneh itu lagi, aku


bingung bagaimana dia bisa ada disini, meskipun kesal karena dia menendangku


seenaknya.


 “Hey, tak adakah cara yang lebih romantis


untuk menyelamatkan seorang putri?!” Kesalku.


 “Maaf ya, aku tak mau mati demi adegan drama!”


Ujarnya sambil melempar sebuah masker aneh padaku, persis dengan yang


dipakainya. Entah kenapa aku ingin sekali menjambak rambutnya meskipun ia


menyelamatkanku.


Singkat cerita, Shui menghajar beberapa


orang tentara cakar hitam tadi dengan mudahnya, mungkin karena mereka juga


sudah dalam kondisi teracuni. Setelah selesai dengan pertarungannya, Shui


memungut buku Break The Secret yang tadi terlempar ketika aku jatuh dan


memberikannya padaku.


 “Kenapa kau bisa ada disini?” Tanyaku sambil


mengambil buku itu.


 “Kau tiba-tiba datang meminta maaf, aku


tentunya curiga. Kudesak Khaled yang kenal lumayan lama denganku itu untuk


cerita dan akhirnya aku tau kekonyolanmu! Aku pergi beberapa jam setelahmu,


untung belum seterlambat yang kukira.” Jelasnya singkat.


 “Hm, begitu ya... tapi Dai dan Fasa...”


Pikiranku langsung teralihkan.


 “Mereka tak tau, tenang saja!” Shui menyela.


 “Baiklah, sekarang kemana kita akan pergi


setelah aku membunuh sekian banyak orang dalam sekejap, aku tak bisa bilang tak


merasa berdosa.” Ungkapku.


 “Ayo kedistrik 6, disana ada kenalanku dan


lagi tempat itu tak terlalu jauh.” Ajaknya sambil berjongkok didepanku.


 “Mau menggendongku lagi?” Tanyaku.


Shui belum menjawab ketika tiba-tiba


air seolah jatuh dari langit tiba-tiba, kudongakkan kepalaku, pesawat-pesawat


besar memenuhi langit sambil menurunkan air yang deras dan tak henti-henti.


Kami basah kuyup karena berada di halaman.


Shui melepas maskernya, aku pun


mengikutinya karena kupikir pasti sudah aman.


 “Kau masih membenciku?” Tanya Shui tiba-tiba.


“Kau tau, aku juga menyukaimu sejak lama, lebih dulu dari Tn. Dai... tapi aku


tak mau menyakitinya karena ia sangatlah berharga bagiku. Aku telah


menyakitimu, aku tak bisa berharap kau mau menyukaiku seperti dulu.” Lanjutnya.


 “Dulu ketika aku memperhatikanmu... kau


membuangnya, tapi sekarang kau bersikap seolah mementingkanku, menjiikan


sekali!!!” Tukasku. Shui tersenyum sendu sambil mengangkat tubuhku lalu ia


berkata,


 “Benar katamu, sesuatu yang sudah pecah tak


bisa diperbaiki lagi.” Ujarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2