
30 Agustus 2200
Mari lihat salju ini sekali lagi,
kulihat Fasa senang dengan salju yang terus jatuh, tapi hari ini mungkin
terakhir kalinya aku bersama Fasa. Malam nanti aku akan kembali kedistrik utama
untuk misiku, mereka tak ada yang tau karena ini kesepakatanku dengan Raja
Mustafa.
Ceritanya, hari itu Khaled
memberitahukan keinginanku pada Raja Mustafa, kemudian malamnya aku dipanggil
secara pribadi oleh sang raja. Pembicaraan itu menyangkut keputusanku yang
ingin menjadi pembawa racun ke istana Yaza Vumi.
Setelah berbagai pedebatan dan bantahan
aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku mampu dan tidak keberatan dengan
konsekuensinya. Kukatakan kalaupun aku mati disana aku tak akan menyesalinya.
Akhirnya keputusanku disetujui, aku mengajukan Syarat pada Raja untuk tak
memberitahukan hal ini pada teman-temanku sampai aku berhasil atau jika aku
berakhir mati, dan Raja menyetujuinya.
Hari ini aku bicara banyak pada Fasa,
bahkan kubilang aku senang mengenal Dai, dan disukai oleh Dai adalah hal yang
kusenangi. Aku juga mendatangi Shui dan meminta maaf padanya.
Kini malam telah tiba, semua
teman-temanku sudah tertidur, aku dibawa Khaled menemui Raja. Ia memberikan
sebuah kalung dengan amulet seperti kaca yang terdapat cairan warna ungu didalamnya.
“Amulet kalung ini berisi racun udara, kami
desain dalam bentuk kalung agar tak dicurigai apabila ditemukan, setelah
saatnya tepat banting kalung ini sekuatnya hingga amulet itu pecah, maka
sedikit cairan itu jika menguap dan berbaur dengan udara bisa membunuh semua
orang yang menghirupnya. Tapi tenang, kau bisa menggunakan sapu tangan yang
dibasahi untuk menutup hidungmu seperti menghadapi asap kebakaran karena racun
itu lemah terhadap air.” Jelas sang raja.
“Hm, baiklah terima kasih. Saya permisi yang
mulia.” Ujarku.
Setelah itu Khaled membawaku pergi
menuju pelabuhan. Selama perjalanan aku hanya diam, karena bohong jika aku
bilang tidak takut. Aku akan mengahadapi saat yang menentukan hidup dan matiku
sekarang.
.....
Laut yang menghitam, dan sudut beku
yang mengerikan. Sekarang aku sendirian, walaupun katanya ada orang-orang
suruhan Raja yang mengawasiku selama perjalanan tetap saja aku merasa
sendirian, bangku disebelahku tetap kosong dan suasananya suram.
Kapal ini sangat cepat, sekitar 36 jam
saja perjalanan dari pelabuhan Near-East sampai pelabuhan Avaya di distrik
utama. Aku sampai, kurasa sebentar lagi aku pasti tertangkap karena ada banyak
tentara disana.
Meskipun aku memakai sedikit
penyamaran, bukan berarti aku tak mau ditemukan. Sebaliknya, akan lebih
meyakinkan Yaza Vumi dengan seolah tertangkap tanpa rencana. Yah, untuk
jaga-jaga saja supaya dia lebih percaya.
“HEY, INI DIA!!!” Teriak seorang pria
berseragam tentara yang tiba-tiba mencekal lenganku.
Aku sangat terkejut walaupun tau ini
akan terjadi, mereka membawaku dengan kasar dan memasukkanku kesebuah mobil
besi baja berbentuk lalat besar. Aku terkurung didalam sana sendirian. Didalam
mobil itu ada semacam ruangan berukuran satu setengah meter yang gelap gulita,
cocok memang untuk membawa tahanan sepertiku. Sedangkan pengemudi dibagian
depan.
Selama perjalanan menuju istana itu aku
tak dapat melihat apa-apa meskipun mataku terbuka, tak pula aku dengar sesuatu
selain napasku karena tampaknya tempat kecil ini kedap suara. Tanganku juga
diborgol kebelakang, rasanya untuk menggaruk kepala yang gatal saja tak bisa,
aku kesal sekali.
Setelah beberapa lama pintu terbuka dan
aku dibawa keluar dari tempat sempit ini. Singkatnya mereka langsung membawaku pada Yaza Vumi yang tampak menikmati
sekali hidupnya setelah perang itu.
“Aku kehilangan istriku beberapa tahun lalu...
dan sekarang semua anakku meninggalkanku, kau tau, awalnya aku sedih sekali
sampai kusadari harusnya aku bahagia karena aku telah terbebas dari
segalanya... bebas dari semua ikatan termasuk ikatan perasaan!” Senyum Yaza
Vumi.
Ia duduk didekat jendela sambil
__ADS_1
menikmati secangkir teh dan beberapa jenis kudapan. Prajurit yang membawaku
kesana menghempasku sampai tersungkur dikakinya, sungguh seperti saat itu.
“Huh, kau pikir mau jadi apa kau? Memutus
semua ikatan berarti tak punya apapun!” Tukasku.
“Aku memang tak butuh apapun, KARENA AKU
TUHAN!!!” Teriaknya.
“Tuhan? Tuhan dengkulmu, ya... kalau begitu
kenapa kau memborgolku? Apa kau takut aku melakukan sesuatu? Katanya Tuhan.”
Aku memancingnya agar membuka borgolku. Yah, aku sendiri tak yakin sih dia akan
membukanya, Yaza Vumi tak sebodoh itu.
“HEY, BAWA KUNCI BORGOLNYA!!!” Teriak Yaza
Vumi lagi. Tak kusangka kata-kata pancingan yang sesederhana itu berhasil, aku
malah merasa ada yang aneh. Ia terlihat tidak stabil dan sedang frustasi.
“Lihat, setelah kulepaskan borgolnya pun kau
tak bisa berbuat apa-apa!” Lanjutnya.
“Benar juga ya, aku bisa apa...” Aku
memiringkan kepalaku sambil mengerutkan alis seolah meledek.
“Hmm... aku kasihan denganmu, kau pasti
ditinggal teman-temanmu, kudengar kau ditemukan sendirian dekat pelabuhan.
Lihatkan?! Begitulah manusia.” Ia meminum tehnya.
“Ya, manusia memang seperti itu, sama
sepertimu yang mengatakan telah memutus semua ikatan tapi nyatanya kau hampir
gila karena ditinggal anak-anakmu.” Cemoohku.
Yaza Vumi menatap marah padaku, ia mengambil
gelas berisi air putih lalu melemparnya padaku hingga gelas itu pecah mengenai
kepalaku dan airnya tumpah ke Syal dileherku. Aku tersenyum.
“Kau ini, sudah mau mati masih besar omong!!!”
Ketusnya.
“Mati? Yah aku juga tak tau sih bakal mati
atau tidak. Tapi kalau kau... pasti mati sekarang!!!” Senyumku dengan sinis.
Aku menarik kalung yang kupakai hingga
lepas dan membanting hingga amuletnya pecah. Dan dengan cepat kututup hidung
dan mulutku dengan Syal yang basah tadi. Semua ini sudah kuperkirakan,
sekalipun Yaza Vumi tak melempar gelas itu padaku, aku pasti aku cari cara agar
dapat membasahi Syalku sebelum memecah amulet ini.
“Mereka bilang kau punya waktu 30 detik
sebelum mati begitu menghirup udara beracun yang kutebar barusan, Kuberi tahu
“Kami berhasil sejauh ini karena orang yang
kau pikir Noir adalah anakmu sendiri, Dai. Dua putrimu juga mengutuk
perbuatanmu, dan satu hal lagi, kau tak bisa melampauiku karena aku adalah...
DarkNight, aku yang memulai semua ini dan sesuai yang kutulis dalam buku Break
The Secret, pemerintahanmu akan berakhir ditahun ini dan kau berakhir
mengenaskan! Selamat tinggal pecundang!!!” Kulihat Yaza Vumi tampak sangat
terkejut dengan pernyataanku. Dihembusan napas terakhirnya pun ia masih saja
mengaku tuhan. Sebenarnya dia mati karena terlalu sombong, ia menyuruh semua
prajurit dan pelayannya keluar ruangan ini begitu aku masuk, dia meremehkanku
dan menganggapku tak akan mampu berbuat apa-apa.
Ya, kuharap dia bisa membawa penyesalan
bersama kematiannya. Aku masih menutup hidung dan mulutku, tapi kurasa aku tak
boleh terlalu lama berada disini, kulihat ada beberapa lubang Ventilasi yang
terhubung keluar, udara beracun ini pasti sudah menyebar.
Aku membuka pintu dan keluar ruangan
ini perlahan, beruntung prajurit yang berjaga didepan pintu sudah tergelak tak
bernyawa. Aku melalui lorong pelan-pelan, kulihat bagaimana prajurit-prajurit itu
terbatuk-batuk dan mati susul menyusul, mereka pasti tak tau yang terjadi dan
tak tau bagaimana menanganinya. Kasihan sekali orang yang mati dalam ketidak
tahuan.
“Apa? A..apa yang terjadi...” Pekik salah satu
pelayan yang tak jauh dariku ketika aku lewat. Aku sedikit merasa kasihan, tapi
toh, walaupun Cuma pelayan mereka juga jahat.
Dengan cepat dan aku hati-hati mencari
jalan menuju ruang penyimpanan dokumen, selama perjalanan kesana banyak mayat
bergeletakan dan orang yang perlahan mati, aku adalah pelakunya... yang
membunuh mereka semua.
Aku sampai diruang penyimpanan dokumen,
buru-buru mengutak-atik papan catur yang menempel didinding, agak sulit karena hanya
bisa menggunakan satu tangan sementara tangan yang lain harus setia membatasi
pernapasanku.
Aku bergegas mengambil buku Break The
Secret, rasanya seperti dikejar malaikat maut, harus sangat buru-buru. Aku
berlari keluar ruangan itu, melewati lorong penuh mayat lagi sampai kulihat
teras istana yang terhubung keluar. Aku harus cepat. Katanya mereka akan
__ADS_1
menghujani tempat itu sejam setelah aku memecahkan amulet, mereka menanam
semacam alat yang akan membuat mereka mengetahui apabila amulet itu telah
hancur. Tapi sejam setelah amulet pecah dan menyebar udara kotor itu sangat lama,
sekarang saja baru sekitar 20 menit sejak amulet itu pecah.
“HEY SIALAN KAU!!!” Beberapa tentara cakar
hitam melihatku melarikan diri. Oh, ya ampun... tak bisakah ini dipermudah?!
Mereka tak mati dalam 30 detik, kurasa
alasannya adalah karena mereka memakai masker, tapi masker tipis begitu pasti
ditembus udara dengan mudah, mereka tak akan bertahan lama, aku hanya harus
melarikan diri lagi.
Tapi ternyata tak semudah itu, mereka
membawa senapan, aku terpaksa menghentikan langkahku agar mereka tak menembak.
Perlahan mereka mendekat kearahku dan berniat menangkapku, tapi sialnya salah
satu dari mereka malah berteriak begini,
“BUNUH PEREMPUAN SIALAN ITU, DIA
PENYEBABNYA!!!” Tentara yang memegang senapan itu tampak kalap dan akhirnya
menekan pelatuk senapannya yang sedang mengarah kearahku.
Dalam sekejap pikiranku kosong, apa aku
akan mati?
“DUAK”
Kudengar suara itu dan kurasa seseorang
menendang pinggulku sampai aku terlempar. Aku memang tak tertembak dibagian
vital seperti seharusnya tapi peluru itu mengenai lututku ditambah lagi aku
jatuh tersungkur dan terluka.
“Huh, kau memang selalu begitu, ya?! Suka
sekali menempatkan diri dalam bahaya!” Ujar orang yang menendangku tadi.
Aku mengenali suara barusan, aku senang
sekali begitu melihatnya. Itu adalah Shui dengan masker aneh itu lagi, aku
bingung bagaimana dia bisa ada disini, meskipun kesal karena dia menendangku
seenaknya.
“Hey, tak adakah cara yang lebih romantis
untuk menyelamatkan seorang putri?!” Kesalku.
“Maaf ya, aku tak mau mati demi adegan drama!”
Ujarnya sambil melempar sebuah masker aneh padaku, persis dengan yang
dipakainya. Entah kenapa aku ingin sekali menjambak rambutnya meskipun ia
menyelamatkanku.
Singkat cerita, Shui menghajar beberapa
orang tentara cakar hitam tadi dengan mudahnya, mungkin karena mereka juga
sudah dalam kondisi teracuni. Setelah selesai dengan pertarungannya, Shui
memungut buku Break The Secret yang tadi terlempar ketika aku jatuh dan
memberikannya padaku.
“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanyaku sambil
mengambil buku itu.
“Kau tiba-tiba datang meminta maaf, aku
tentunya curiga. Kudesak Khaled yang kenal lumayan lama denganku itu untuk
cerita dan akhirnya aku tau kekonyolanmu! Aku pergi beberapa jam setelahmu,
untung belum seterlambat yang kukira.” Jelasnya singkat.
“Hm, begitu ya... tapi Dai dan Fasa...”
Pikiranku langsung teralihkan.
“Mereka tak tau, tenang saja!” Shui menyela.
“Baiklah, sekarang kemana kita akan pergi
setelah aku membunuh sekian banyak orang dalam sekejap, aku tak bisa bilang tak
merasa berdosa.” Ungkapku.
“Ayo kedistrik 6, disana ada kenalanku dan
lagi tempat itu tak terlalu jauh.” Ajaknya sambil berjongkok didepanku.
“Mau menggendongku lagi?” Tanyaku.
Shui belum menjawab ketika tiba-tiba
air seolah jatuh dari langit tiba-tiba, kudongakkan kepalaku, pesawat-pesawat
besar memenuhi langit sambil menurunkan air yang deras dan tak henti-henti.
Kami basah kuyup karena berada di halaman.
Shui melepas maskernya, aku pun
mengikutinya karena kupikir pasti sudah aman.
“Kau masih membenciku?” Tanya Shui tiba-tiba.
“Kau tau, aku juga menyukaimu sejak lama, lebih dulu dari Tn. Dai... tapi aku
tak mau menyakitinya karena ia sangatlah berharga bagiku. Aku telah
menyakitimu, aku tak bisa berharap kau mau menyukaiku seperti dulu.” Lanjutnya.
“Dulu ketika aku memperhatikanmu... kau
membuangnya, tapi sekarang kau bersikap seolah mementingkanku, menjiikan
sekali!!!” Tukasku. Shui tersenyum sendu sambil mengangkat tubuhku lalu ia
berkata,
“Benar katamu, sesuatu yang sudah pecah tak
bisa diperbaiki lagi.” Ujarnya.
__ADS_1
*****