Break The Secret

Break The Secret
28) Keputusan


__ADS_3

 


 


pagi itu kami disuguhi sarapan yang


enak, anggota kami yang tersisa juga mengungsi disini, jadi kami masih bisa


bertegur sapa satu sama lain.


Pagi tadi Shui dan Khaled mendatangi


aku, Dai dan Fasa yang sedang mengobrol dikamarku, kami dipanggil Raja Mustafa.


Kalau melihat interaksi antara Khaled dan Shui, mereka tampak sudah saling


mengenal sejak lama.


 “Baiklah, sekarang sudah saatnya kita menemui


sang raja!” Ujar Khaled setelah selesai sarapan.


Kami mengangguk dan menelusuri lorong itu,


tapi selama perjalanan kesana aku merasa tak nyaman dengan Shui yang terus


menatap kearahku.


 “Selamat pagi, duduklah!” Raja Mustafa


langsung mempersilahkan duduk begitu melihat kami.


Kami duduk  dibangku yang disediakan, bangku itu sengaja


letakkan melingkar agar mempermudah diskusi. Tak kusangka pak Hauen juga ada disana.


Saat hendak mengungsi dia beda rombongan denganku.


 “Apa kita bisa langsung ke inti


pembicaraannya?” tanya Raja Mustafa. Kami mengangguk. “Intinya... ini adalah


tentang rencana penyerangan pada distrik utama!” Lanjutnya.


 “Pe, penyerangan? Tapi kondisi dan kekuatan


kami saja belum terkumpul.” Sela-ku.


 “Khaled, jelaskanlah!” Perintah sang raja.


 “Ya, yang mulia!” Khaled berdiri. “Ini adalah


rencana kami sejak lama, kami menyebutnya... ‘Alsatayir wara alsitar’ atau tirai dibalik tirai.” Lanjutnya.


 “Kelanjutan perang ini maksudnya adalah


peperangan setelah perang.” Sambung Shui.


 “Ya, setelah perang kemarin berakhir dengan


kemenangan Yaza Vumi, ia akan besar kepala tentunya, apa lagi kalian sampai


kabur seperti itu, dia juga menangkap banyak anggota kalian, tapi... apakah dia


memikirkan tentang perang berikutnya disaat kepalanya dipenuhi kesombongan


dimana dia pikir tak akan ada apapun yang bisa menjatuhkannya?! Disanalah kita


akan menyerangnya dan merebut distrik utama.” Jelas Khaled.


 “Menyerang? Tapi apakah itu tak terlalu


berbahaya karena angkatan militer dan juga persenjataan Yaza Vumi sangatlah


luar biasa, bahkan setelah kami meledakkan hampir separuhnya pun dia masih...


menghancurkan markas kami bersama anggota kami didalamnya...” Dai tampak begitu


marah ketika mengatakannya, kurasa dia mengingat kembali bagaimana markas


DieNeSs diledakkan.


 “Kami tak butuh semua senjata perang itu, kami


hanya membutuhkan satu kali serangan yang tidak terpikirkan olehnya.” Raja


Mustafa menoleh pada Dai.


 “Satu kali serangan?” Aku masih bingung.


 “Ya, dengan racun udara. Kita tak perlu susah


payah menyerang dengan bom nuklir atau apalah yang menyebabkan kerusakan dan


lainnya, cukup dengan meracuni udara disana membuat hanya manusianya yang mati,


tanpa merusak tempatnya.” Jawab Khaled.


 “TUNGGU DULU!!!” Dai menyela. “Kalau kalian


racuni udaranya, semua orang disana akan mati termasuk warga sipil!” Lanjutnya.


 “Kami tak sebodoh itu pangeran, jadi tolong dengarkan


penjelasan dulu.” Khaled berusaha menenangkan.


 “Tak mudah memang tapi bisa dilakukan,


seseorang akan masuk kesana sebagai tahanan dan membawa racun udara itu


bersamanya. Ketika sampai disana ia akan memecahkan wadah berisi racun itu


hingga menyebar keseluruh istana, dan kemudian sebelum racun menyebar lebih


jauh kami sudah mempersiapkan pesawat-pesaawat yang membawa air untuk


menghujani daerah sana. Racun udara itu akan sirna bila terkena air, warga


sipil aman tapi semua yang diistana itu akan mati. Nah, kami ingin


mempertanyakan keputusan pangeran... apakah anda siap menerima kematian semua


orang diistana termasuk ayah anda?” Cerita Khaled berlanjut dengan pertanyaan


yang membuat Dai tak mampu berkata-kata.


Dai terdiam beberapa saat, kulihat keringat


dingin membanjirinya. Aku tau selain ayahnya disana juga banyak orang-orang


yang ia kenali, sekalipun mereka sama jahatnya dengan Yaza Vumi tapi mereka


sangat baik terhadap Dai. Itu mungkin sulit ia terima.


 “Hm, sudah kami duga pangeran tak akan menyetujuinya,

__ADS_1


kami hormati keputusan anda, maka...” Raja Mustafa hendak mengambil keputusan


akhir.


 “Aku terima!!!” Sergah Dai tiba-tiba. “Aku


terima keputusan itu. tak ada gunanya juga... semakin lama ayah berada diatas


awan, semakin banyak orang yang dia bunuh dan tempat yang ia hancurkan...


semakin banyak pula dosa dan tanggung jawabnya. Aku tak bisa egois, ini sudah


sepantasnya, lagi pula mereka yang masih berada diistana itu juga sama jahatnya


dengan ayah.” Lanjutnya,


 “Apa pangeran yakin? Ini artinya pangeran akan


kehilangan sesuatu yang berharga, dan kehidupan itu sesuatu yang tak bisa


kembali jika kematian telah terjadi.” Tanya Raja Mustafa.


 “Yah, kasihan dunia ini jika terus dipimpin


seseorang seperti ayahku, justru saya sangat berterima kasih dengan bantuan


yang mulia dan orang-orang Gurun Putih.” Dai tersenyum. aku tak mengerti


bagaimana Dai bisa tersenyum padahal dia terluka.


 “Baiklah, diskusi ini selesai. Terima kasih


anda menerima keputusan ini pangeran. Kita tinggal mencari orang yang bersedia


membawa racun udaranya kesana.” Raja Mustafa menutup diskusi dan kami bubar


dari sana.


Setelah selesai diskusi ini pun aku


semakin merasakannya, Shui memang memperhatikanku sejak tadi. Jangan-jangan ada


sesuatu diwajahku.


 “Teman-teman, aku mau ketoilet sebentar ya.”


Tapi perhatianku teralihkan begitu Dai tiba-tiba bertingkah aneh.


 “Vier, sebaiknya kau ikuti dia benar-benar


ketoilet atau tidak, aku khawatir terjadi sesuatu padanya.” Usul Fasa.


Aku mengangguk dan mengejarnya.


Ternyata apa yang Fasa duga benar, Dai sungguh tak pergi ketoilet dan malah


melamun diteras. Aku ragu mau menghampirinya atau tidak tapi akhirnya


kuputuskan menghampirinya.


 “Aku baru tau toiletnya disini!”  Candaku sambil melangkah kearahnya. Ia benar-benar


tertangkap basah dan terkejut.


 “Wah, ketahuan, ya?!” Senyumnya dengan asam.


 “Apa kau masih sedih karena ayahmu?” Tanyaku.


Dai menggeleng, ia melempar pandangan


kesempatan untuk saling memahami dan membuka hatiku untuknya seperti yang


Khaled katakan.


 “Aku hanya bingung bagaimana nantinya aku bisa


mengatakan pada adik-adikku.” Jawab Dai pada akhirnya.


 “Apa kau belum bilang pada mereka kalau kau


dan ayahmu berseteru?” Tanyaku lagi.


 “Sudah, mereka bilang aku tak salah karena


ayah memang jahat. Tapi mereka bilang bawa ayah kembali jangan menyakitinya,


aku bingung bagaimana nanti menjelaskannya.”


 “Tapi yang membuat ayahmu terbunuh nantinya


kan bukan dirimu, aku akan bantu menjelaskan.”


 “Ah, benar juga. Hm,  padahal kupikir akan lebih baik istana itu


hancur bersama kenangan masa kecilku... aku bahkan sempat berpikir sebaiknya


Buku Break The Secret yang menjadi awal perseteruan ini ikut hancur saja, Noir


juga pernah bilang sebelum kematiannya sebaiknya buku itu hancur.” Ujar Dai.


Mendengar perkataannya barusan aku jadi


teringat sesuatu, hal yang hampir saja kulupakan yaitu mencari cara kembali


kezamanku.


Mungkin ini kesempatan untuk mengambil


bukunya dan memecahkan misteri bagaimana akan kembali. Aku juga harus tau apa


saja yang ada dibuku itu, tapi bagaimana bisa keistana? Aku terpikirkan


sesuatu.


Mereka bilang akan ada seseorang yang


membawa racun udara itu keistana dengan suatu cara, bisa kupakai kesempatan


itu. benar, ini saatnya mencoba sendiri.


 “Lho, Vier... kok kau jadi bengong? Apakah


perkataanku tadi mengganggumu?” Dai memecah lamunanku.


 “Ah, tidak! Tidak sama sekali...” Ujarku.


Aku tak bisa mengatakan pada


teman-temanku apa yang akan kulakukan, aku tak mau membuat yang lain


khawatir.


 “Oh, iya. Sebaiknya kau kembalilah kekamarmu dan


istirahat. Aku juga akan kembali.” Aku memberi salam dan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Ada hal yang harus kulakukan dan tanpa


sepengetahuan mereka. Aku hendak menemui Khaled, membicarakan tentang siapa


yang akan dikirim untuk membawa racun udara itu. Kutanya pada beberapa orang


pelayan dan penjaga dimana Khaled dan akhirnya menemukannya dibelakang istana


sedang berdiri diantara bukit salju. Kulihat tatapannya yang selama ini tampak


dingin berubah menjadi sendu.


 “Hm, kurasa ditempat sedingin ini air mata


akan langsung membeku begitu menetes.” Aku menghampirinya.


 “Sedang apa kau disini dengan pakaian setipis


itu?” Tanya-nya.


 “Ada yang harus kubicarakan denganmu, maaf


kalau mengganggu lamunanmu.” Jawabku.


 “Aku tak melamun. Jadi katakan saja ada perlu


apa!”


 “Cuma mau tanya... apa sudah mendapatkan orang


yang akan kalian kirim membawa racun itu?”


 “Sayang sekali belum. Soalnya resikonya


terlalu tinggi, racun udara itu bisa saja membunuh yang membawanya juga


meskipun rencananya berhasil. Bahkan kesempatan hidup untuk rencana itu Cuma


sekitar 25 persen saja, kurasa kami belum menemukan orang yag cukup gila untuk


melakukannya.”


 “Kurasa... aku sudah sangat gila, makanya aku


mengajukan diriku sebagai pembawa racun itu.”


Mendengar perkataanku Khaled


terbelalak. Ia menatapku dengan tatapan penuh ketidak percayaan dan tak habis


pikir.


 “Apa kepalamu terbentur? Bagaimana mungkin


kami mengirimmu kesana?!” Tukasnya.


 “Sudah kubilang aku sudah sangat gila, makanya


ku ajukan diriku sendiri.” Tawaku.


 “Kau tau resikonya, kan?! Aku baru saja


mengatakan kesempatan hidup setelah rencana ini sangatlah tipis, tapi kau ini


kenapa?” Herannya.


 “Aku ataupun orang lain nantinya akan sama


saja, sama-sama mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin kau anggap nyawaku


lebih berharga dibandingkan nyawa orang yang nanti mengambil resiko ini. Lagi


pula aku punya alasan sendiri, aku bukan orang bodoh yang mau mati sia-sia,


tapi kalaupun mati keracunan juga... bukankah kematianku tak sia-sia?” Jelasku.


 “Alasan apapun itu... ini terlalu berbahaya,”


Ia menegaskan.


 “Ada satu hal yang akan kusesali apa bila tak


kulakukan... akan ada yang hilang jika tak segera kudapati.” Bantahku lagi.


Ya, aku tau cepat atau lambat Break The


Secret akan dihancurkan, jika tidak dengan Yaza Vumi pasti oleh Dai. Sebelum


itu terjadi aku harus mengambilnya dan mencari petunjuk tentang caraku kembali.


Shui pernah mengatakan bahwa ia sendiripun tak tau bagaimana cara


mengembalikanku.


 “Tolonglah katakan pada Raja. Aku merahasiakan


ini dari teman-temanku, kalau bisa jangan sampai mereka tau.” Pintaku. Khaled


sempat terdiam beberapa saat, ia tak yakin padaku.


 “Dengar, aku pasti akan bisa lebih mudah


keistana itu tanpa dicurigai atau diperiksa, aku ini buronan, tinggal


mondar-mandir disekitar sana saja pasti ditangkap dan dibawa keistana, Yaza


Vumi juga pasti langsung menemuiku. Peluang keberhasilan rencana ini lebih


besar jika aku yang lakukan, kumohon...” Bujukku.


 “Hm, baiklah... akan kusampaikan padanya, tapi


berhati-hatilah... nyawa itu sangat mahal. Jangan sampai kau menyesalinya.”


Nasihat Khaled.


 “Ya, aku tau! Tapi kalau pun aku hidup dan


selamanya terjebak disini... tak ada gunanya bagiku. Aku lebih baik mati dari


pada terjebak sebagai orang lain.” Renungku.


Khaled menatap heran padaku, aku memang


terlalu banyak bicara. Sebaiknya aku tak bicara sembarangan.


 “Jangan dipikirkan, aku Cuma asal bicara, kok!


Baiklah, aku pergi dulu.” Lanjutku sambil berbalik pergi.


 “Hey, kurasa orang yang kau sukai itu pasti


sangat beruntung... jika aku jadi dia, aku tak akan pernah melepas seseorang


sepertimu!” Ujar Khaled tiba-tiba.

__ADS_1


*****


__ADS_2