
pagi itu kami disuguhi sarapan yang
enak, anggota kami yang tersisa juga mengungsi disini, jadi kami masih bisa
bertegur sapa satu sama lain.
Pagi tadi Shui dan Khaled mendatangi
aku, Dai dan Fasa yang sedang mengobrol dikamarku, kami dipanggil Raja Mustafa.
Kalau melihat interaksi antara Khaled dan Shui, mereka tampak sudah saling
mengenal sejak lama.
“Baiklah, sekarang sudah saatnya kita menemui
sang raja!” Ujar Khaled setelah selesai sarapan.
Kami mengangguk dan menelusuri lorong itu,
tapi selama perjalanan kesana aku merasa tak nyaman dengan Shui yang terus
menatap kearahku.
“Selamat pagi, duduklah!” Raja Mustafa
langsung mempersilahkan duduk begitu melihat kami.
Kami duduk dibangku yang disediakan, bangku itu sengaja
letakkan melingkar agar mempermudah diskusi. Tak kusangka pak Hauen juga ada disana.
Saat hendak mengungsi dia beda rombongan denganku.
“Apa kita bisa langsung ke inti
pembicaraannya?” tanya Raja Mustafa. Kami mengangguk. “Intinya... ini adalah
tentang rencana penyerangan pada distrik utama!” Lanjutnya.
“Pe, penyerangan? Tapi kondisi dan kekuatan
kami saja belum terkumpul.” Sela-ku.
“Khaled, jelaskanlah!” Perintah sang raja.
“Ya, yang mulia!” Khaled berdiri. “Ini adalah
rencana kami sejak lama, kami menyebutnya... ‘Alsatayir wara alsitar’ atau tirai dibalik tirai.” Lanjutnya.
“Kelanjutan perang ini maksudnya adalah
peperangan setelah perang.” Sambung Shui.
“Ya, setelah perang kemarin berakhir dengan
kemenangan Yaza Vumi, ia akan besar kepala tentunya, apa lagi kalian sampai
kabur seperti itu, dia juga menangkap banyak anggota kalian, tapi... apakah dia
memikirkan tentang perang berikutnya disaat kepalanya dipenuhi kesombongan
dimana dia pikir tak akan ada apapun yang bisa menjatuhkannya?! Disanalah kita
akan menyerangnya dan merebut distrik utama.” Jelas Khaled.
“Menyerang? Tapi apakah itu tak terlalu
berbahaya karena angkatan militer dan juga persenjataan Yaza Vumi sangatlah
luar biasa, bahkan setelah kami meledakkan hampir separuhnya pun dia masih...
menghancurkan markas kami bersama anggota kami didalamnya...” Dai tampak begitu
marah ketika mengatakannya, kurasa dia mengingat kembali bagaimana markas
DieNeSs diledakkan.
“Kami tak butuh semua senjata perang itu, kami
hanya membutuhkan satu kali serangan yang tidak terpikirkan olehnya.” Raja
Mustafa menoleh pada Dai.
“Satu kali serangan?” Aku masih bingung.
“Ya, dengan racun udara. Kita tak perlu susah
payah menyerang dengan bom nuklir atau apalah yang menyebabkan kerusakan dan
lainnya, cukup dengan meracuni udara disana membuat hanya manusianya yang mati,
tanpa merusak tempatnya.” Jawab Khaled.
“TUNGGU DULU!!!” Dai menyela. “Kalau kalian
racuni udaranya, semua orang disana akan mati termasuk warga sipil!” Lanjutnya.
“Kami tak sebodoh itu pangeran, jadi tolong dengarkan
penjelasan dulu.” Khaled berusaha menenangkan.
“Tak mudah memang tapi bisa dilakukan,
seseorang akan masuk kesana sebagai tahanan dan membawa racun udara itu
bersamanya. Ketika sampai disana ia akan memecahkan wadah berisi racun itu
hingga menyebar keseluruh istana, dan kemudian sebelum racun menyebar lebih
jauh kami sudah mempersiapkan pesawat-pesaawat yang membawa air untuk
menghujani daerah sana. Racun udara itu akan sirna bila terkena air, warga
sipil aman tapi semua yang diistana itu akan mati. Nah, kami ingin
mempertanyakan keputusan pangeran... apakah anda siap menerima kematian semua
orang diistana termasuk ayah anda?” Cerita Khaled berlanjut dengan pertanyaan
yang membuat Dai tak mampu berkata-kata.
Dai terdiam beberapa saat, kulihat keringat
dingin membanjirinya. Aku tau selain ayahnya disana juga banyak orang-orang
yang ia kenali, sekalipun mereka sama jahatnya dengan Yaza Vumi tapi mereka
sangat baik terhadap Dai. Itu mungkin sulit ia terima.
“Hm, sudah kami duga pangeran tak akan menyetujuinya,
__ADS_1
kami hormati keputusan anda, maka...” Raja Mustafa hendak mengambil keputusan
akhir.
“Aku terima!!!” Sergah Dai tiba-tiba. “Aku
terima keputusan itu. tak ada gunanya juga... semakin lama ayah berada diatas
awan, semakin banyak orang yang dia bunuh dan tempat yang ia hancurkan...
semakin banyak pula dosa dan tanggung jawabnya. Aku tak bisa egois, ini sudah
sepantasnya, lagi pula mereka yang masih berada diistana itu juga sama jahatnya
dengan ayah.” Lanjutnya,
“Apa pangeran yakin? Ini artinya pangeran akan
kehilangan sesuatu yang berharga, dan kehidupan itu sesuatu yang tak bisa
kembali jika kematian telah terjadi.” Tanya Raja Mustafa.
“Yah, kasihan dunia ini jika terus dipimpin
seseorang seperti ayahku, justru saya sangat berterima kasih dengan bantuan
yang mulia dan orang-orang Gurun Putih.” Dai tersenyum. aku tak mengerti
bagaimana Dai bisa tersenyum padahal dia terluka.
“Baiklah, diskusi ini selesai. Terima kasih
anda menerima keputusan ini pangeran. Kita tinggal mencari orang yang bersedia
membawa racun udaranya kesana.” Raja Mustafa menutup diskusi dan kami bubar
dari sana.
Setelah selesai diskusi ini pun aku
semakin merasakannya, Shui memang memperhatikanku sejak tadi. Jangan-jangan ada
sesuatu diwajahku.
“Teman-teman, aku mau ketoilet sebentar ya.”
Tapi perhatianku teralihkan begitu Dai tiba-tiba bertingkah aneh.
“Vier, sebaiknya kau ikuti dia benar-benar
ketoilet atau tidak, aku khawatir terjadi sesuatu padanya.” Usul Fasa.
Aku mengangguk dan mengejarnya.
Ternyata apa yang Fasa duga benar, Dai sungguh tak pergi ketoilet dan malah
melamun diteras. Aku ragu mau menghampirinya atau tidak tapi akhirnya
kuputuskan menghampirinya.
“Aku baru tau toiletnya disini!” Candaku sambil melangkah kearahnya. Ia benar-benar
tertangkap basah dan terkejut.
“Wah, ketahuan, ya?!” Senyumnya dengan asam.
“Apa kau masih sedih karena ayahmu?” Tanyaku.
Dai menggeleng, ia melempar pandangan
kesempatan untuk saling memahami dan membuka hatiku untuknya seperti yang
Khaled katakan.
“Aku hanya bingung bagaimana nantinya aku bisa
mengatakan pada adik-adikku.” Jawab Dai pada akhirnya.
“Apa kau belum bilang pada mereka kalau kau
dan ayahmu berseteru?” Tanyaku lagi.
“Sudah, mereka bilang aku tak salah karena
ayah memang jahat. Tapi mereka bilang bawa ayah kembali jangan menyakitinya,
aku bingung bagaimana nanti menjelaskannya.”
“Tapi yang membuat ayahmu terbunuh nantinya
kan bukan dirimu, aku akan bantu menjelaskan.”
“Ah, benar juga. Hm, padahal kupikir akan lebih baik istana itu
hancur bersama kenangan masa kecilku... aku bahkan sempat berpikir sebaiknya
Buku Break The Secret yang menjadi awal perseteruan ini ikut hancur saja, Noir
juga pernah bilang sebelum kematiannya sebaiknya buku itu hancur.” Ujar Dai.
Mendengar perkataannya barusan aku jadi
teringat sesuatu, hal yang hampir saja kulupakan yaitu mencari cara kembali
kezamanku.
Mungkin ini kesempatan untuk mengambil
bukunya dan memecahkan misteri bagaimana akan kembali. Aku juga harus tau apa
saja yang ada dibuku itu, tapi bagaimana bisa keistana? Aku terpikirkan
sesuatu.
Mereka bilang akan ada seseorang yang
membawa racun udara itu keistana dengan suatu cara, bisa kupakai kesempatan
itu. benar, ini saatnya mencoba sendiri.
“Lho, Vier... kok kau jadi bengong? Apakah
perkataanku tadi mengganggumu?” Dai memecah lamunanku.
“Ah, tidak! Tidak sama sekali...” Ujarku.
Aku tak bisa mengatakan pada
teman-temanku apa yang akan kulakukan, aku tak mau membuat yang lain
khawatir.
“Oh, iya. Sebaiknya kau kembalilah kekamarmu dan
istirahat. Aku juga akan kembali.” Aku memberi salam dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Ada hal yang harus kulakukan dan tanpa
sepengetahuan mereka. Aku hendak menemui Khaled, membicarakan tentang siapa
yang akan dikirim untuk membawa racun udara itu. Kutanya pada beberapa orang
pelayan dan penjaga dimana Khaled dan akhirnya menemukannya dibelakang istana
sedang berdiri diantara bukit salju. Kulihat tatapannya yang selama ini tampak
dingin berubah menjadi sendu.
“Hm, kurasa ditempat sedingin ini air mata
akan langsung membeku begitu menetes.” Aku menghampirinya.
“Sedang apa kau disini dengan pakaian setipis
itu?” Tanya-nya.
“Ada yang harus kubicarakan denganmu, maaf
kalau mengganggu lamunanmu.” Jawabku.
“Aku tak melamun. Jadi katakan saja ada perlu
apa!”
“Cuma mau tanya... apa sudah mendapatkan orang
yang akan kalian kirim membawa racun itu?”
“Sayang sekali belum. Soalnya resikonya
terlalu tinggi, racun udara itu bisa saja membunuh yang membawanya juga
meskipun rencananya berhasil. Bahkan kesempatan hidup untuk rencana itu Cuma
sekitar 25 persen saja, kurasa kami belum menemukan orang yag cukup gila untuk
melakukannya.”
“Kurasa... aku sudah sangat gila, makanya aku
mengajukan diriku sebagai pembawa racun itu.”
Mendengar perkataanku Khaled
terbelalak. Ia menatapku dengan tatapan penuh ketidak percayaan dan tak habis
pikir.
“Apa kepalamu terbentur? Bagaimana mungkin
kami mengirimmu kesana?!” Tukasnya.
“Sudah kubilang aku sudah sangat gila, makanya
ku ajukan diriku sendiri.” Tawaku.
“Kau tau resikonya, kan?! Aku baru saja
mengatakan kesempatan hidup setelah rencana ini sangatlah tipis, tapi kau ini
kenapa?” Herannya.
“Aku ataupun orang lain nantinya akan sama
saja, sama-sama mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin kau anggap nyawaku
lebih berharga dibandingkan nyawa orang yang nanti mengambil resiko ini. Lagi
pula aku punya alasan sendiri, aku bukan orang bodoh yang mau mati sia-sia,
tapi kalaupun mati keracunan juga... bukankah kematianku tak sia-sia?” Jelasku.
“Alasan apapun itu... ini terlalu berbahaya,”
Ia menegaskan.
“Ada satu hal yang akan kusesali apa bila tak
kulakukan... akan ada yang hilang jika tak segera kudapati.” Bantahku lagi.
Ya, aku tau cepat atau lambat Break The
Secret akan dihancurkan, jika tidak dengan Yaza Vumi pasti oleh Dai. Sebelum
itu terjadi aku harus mengambilnya dan mencari petunjuk tentang caraku kembali.
Shui pernah mengatakan bahwa ia sendiripun tak tau bagaimana cara
mengembalikanku.
“Tolonglah katakan pada Raja. Aku merahasiakan
ini dari teman-temanku, kalau bisa jangan sampai mereka tau.” Pintaku. Khaled
sempat terdiam beberapa saat, ia tak yakin padaku.
“Dengar, aku pasti akan bisa lebih mudah
keistana itu tanpa dicurigai atau diperiksa, aku ini buronan, tinggal
mondar-mandir disekitar sana saja pasti ditangkap dan dibawa keistana, Yaza
Vumi juga pasti langsung menemuiku. Peluang keberhasilan rencana ini lebih
besar jika aku yang lakukan, kumohon...” Bujukku.
“Hm, baiklah... akan kusampaikan padanya, tapi
berhati-hatilah... nyawa itu sangat mahal. Jangan sampai kau menyesalinya.”
Nasihat Khaled.
“Ya, aku tau! Tapi kalau pun aku hidup dan
selamanya terjebak disini... tak ada gunanya bagiku. Aku lebih baik mati dari
pada terjebak sebagai orang lain.” Renungku.
Khaled menatap heran padaku, aku memang
terlalu banyak bicara. Sebaiknya aku tak bicara sembarangan.
“Jangan dipikirkan, aku Cuma asal bicara, kok!
Baiklah, aku pergi dulu.” Lanjutku sambil berbalik pergi.
“Hey, kurasa orang yang kau sukai itu pasti
sangat beruntung... jika aku jadi dia, aku tak akan pernah melepas seseorang
sepertimu!” Ujar Khaled tiba-tiba.
__ADS_1
*****