Break The Secret

Break The Secret
20) penyusunan


__ADS_3

 


 


“Membahas sesuatu? Tentang apa?”


Tanyaku sambil menarik tangan Fasa untuk masuk kerumah.


 “Tentang Putraku, dan gerakan kalian


dibelakang layar!” Jawabnya tenang tapi mengancam.


Mendengar itu lidahku terasa kelu.


Rasanya benar-benar seperti kepergok mencuri dipusat perbelanjaan ramai. Tapi


apapun yang terjadi aku harus tetap tenang, terlihat panik dan mencurigakan


hanya akan membuat segalanya kacau.


 “Tentu yang mulia, tapi sebelum itu...


setidaknya izinkan saya membuatkan anda minumam barang sekedar kopi hangat


dicuaca dingin ini.” Kutawarkan minuman dengan sikap tetap tenang.


Sang Yaza Vumi mengangguk setuju.


Kutinggalkan Fasa diruang santai lantai dua bersama Yaza Vumi sedangkan aku


turun kedapur untuk membuatkan minuman. Selama membuat minuman itu aku terus


mengatur napas sambil menyiapkan jawaban yang kira-kira akan ditanyakan Yaza


Vumi nantinya.


Setelah selesai aku kembali kelantai


atas dengan membawa segelas kopi hitam panas dan dua cangkir cokelat untuk aku


dan Fasa. Sekilas kulihat tatapan penuh selidik yang dipancarkan Yaza Vumi


padaku ketika kusuguhkan minuman untuknya.


 “Baiklah langsung saja pada topik pembicaraan


yang ingin saya bahas, nona-nona.” Yaza Vumi memulai percakapan. “Pertama, anda


Nona Monochrome. Saya ingin tau... apakah anda mencintai Dai, putra saya?”


Tanyanya secara langsung. Aku terdiam menimbang-nimbang.


 “Sebetulnya... saya tak begitu paham tentang


cinta, saya pun merasa ini kali pertama saya memiliki hubungan spesial dengan


teman lelaki saya, dan saya pikir kami masih terbilang dini untuk memahami


perasaan mendalam itu!” Jawabku dengan gaya polos.


Kulihat senyuman kecil yang nyaris tak


tampak di wajah Yaza Vumi.


 “Lantas bagaimana tentang dua orang gadis yang


menginap dirumah seorang bujangan padahal sudah jelas ada peraturan yang


melarang wanita dan pria saling memasuki rumah satu sama lain?!” Lanjutnya


dengan pertanyaan lain.


 “Hm, waktu itu kami bersama dua adik Tn. Dai,


Eliesa dan Efaeni. Jika kami menginap disana dengan maksud mengunjungi mereka


itu bisa saja tak dipermasalahkan.” Kilah Fasa. Baguslah Fasa bisa berkilah,


karena aku tak tau jawaban atas pertanyaan ini.


Yaza Vumi tertawa terbahak-bahak, kami


tetap waspada. Sejak awal kedatangan Yaza Vumi memang aneh, ia datang tanpa


ditemani siapapun yang artinya dia memiliki sesuatu yang sangat rahasia untuk


dibicarakan dengan kami. Diluar juga tak ada kendaraan yang mungkin dipakainya


kemari, kemungkinan ia diantar pengawalnya, lalu pengawalnya disuruh kembali


lebih dulu, maka dia bermaksud cukup lama dalam obrolan ini.


 “Anda berdua memang wanita-wanita yang hebat,


sudut pandangnya pun luar biasa.” Pujinya pada kami.


“Ketika saya memberikan pertanyaan


dalam bentuk teka-teki dua anak kelinci dulu itu pun dapat kalian jawab dengan


luar biasa. Dan Nona Monochrome, apa anda ingat siang tadi saya menuangkan air


digelas ke-empat padahal kita hanya bertiga waktu itu? kebanyakan orang tak


mempedulikan perbuatan seorang raja apalagi mempertanyakannya, tapi anda dengan


sangat berani dan teliti mempertanyakan hal itu.” Jelasnya.


 “Tentu saja perbuatan raja pun harus


dipertanyakan, raja bukanlah tuhan yang maha kuasa atas segalanya. Raja hanyalah


manusia biasa yang berbeda status dengan manusia lain.” Komentarku.


Senyum sang raja sirna, ia terkejut


dengan membulatkan matanya.


 “Benar! Raja hanyalah status... percuma


berstatus raja jika bukan raja dihati rakyat.” Ujarnya dengan nada mengejek.


 “Yang mulia, boleh saya bertanya?” aku


mengalihkan topik.

__ADS_1


 “Tentu, tanyakanlah!” Serunya.


 “Bukankah sejak awal anda tau apa yang putra


anda lakukan dibelakang anda? Kenapa anda pura-pura tak tau dan melindunginya


padahal itu jelas sangat merugikan anda?” Tanyaku.


Sang Yaza Vumi tersentak dan


terbelalak, ia terpaku beberapa saat sampai akhirnya menarik napas panjang dan


menghembusnya perlahan.


 “Karena itulah saya ingin mendiskusikan ini


pada kalian yang saya rasa dapat dipercaya untuk hal ini. Ini adalah


pertaruhan, saya ingin kalian berdua ikut dan tentunya saya pun menaruh nyawa


saya sebagai barang taruhannya!” Jawab Yaza Vumi pada akhirnya.


Aku dan Fasa saling melirik. Kami agak


ragu untuk mengambil taruhan dengan orang licik macam Yaza Vumi, tapi mungkin


kami bisa mengambil resiko. Toh, mungkin Yaza Vumi pun sudah tahu apa yang kami


lakukan dibelakang layar.


 “Kami setuju!” Jawabku dan Fasa kompak.


.....


Dua hari berikutnya


Sudah dua hari berlalu semenjak


kesepakatanku dengan Yaza Vumi, rasanya sulit untuk bersikap biasa saja didepan


Dai. Sering kulihat Dai menatap aneh padaku dan bertanya keadaanku.


 “Wah, wah, wah... lihatlah tuan putri yang


sedang merana ini,”


Disaat seperti ini tiga orang penyuka


Dai malah menggangguku. Yah, semenjak hubunganku dan Dai diberitakan, beberapa


penggemar Dai di opera seperti memusuhiku, padahal hubungan itu pun palsu.


 “Kenapa? Apa Tn. Dai mencampakkanmu? Atau kau


bingung karena sudah mengandung anaknya?” Cemoohnya dengan Vulgar.


 “MENGANDUNG PANT*TMU HIJAU!!!” Teriakku


sangking kesalnya. Aku segera menjauh meninggalkan tiga cecunguk yang suka asal


bicara itu.


Saat ini sedang istirahat, aku duduk


taman bunga yang ada diatap gedung opera. Sungguh kehidupanku disini sangat


kegiatannya Cuma monoton. Mana ada masalah politik, kudeta bahkan sekedar asmara.


Tapi disini kurasakan semuanya, petualangan dan juga asmara yang rumit bagiku.


 “Hey, lagi-lagi kau merenung begitu!” Suara


Dai menyapa indera pendengaranku.


 “Aku hanya lelah, jangan pedulikan!” Ujarku.


 “Kau tak lupa kan kalau hari ini kita akan rapat?!”


bisik Dai.


 “Tentu tidak, nanti kita mampir kerumah tulip


dulu untuk menjemput Fasa, oke?” Usulku. Dai mengangguk.


Tak lama setelahnya latihan kami


berlajut dan selesai 2 jam kemudian. Selesai latihan itu sudah siang menjelang


sore, aku  menumpang mobil Dai untuk


menjemput Fasa dan kami bertiga pergi ke rumah tua yang merupakan jalan masuk


menuju markas DieNeSs.


Diantara pepohonan itu Shui sudah


menunggu kami, entah kapan Dai menghubunginya untuk datang kesana. Kami masuk


kesana bersama, suasana bangunan bawah tanah yang mulai Familiar diingatanku.


Pillar-pillar penyangga yang besar, lantai yang bermotif papan catur, juga


orang-orang ramah yang menyapa mana kala kami datang.


 “Selamat datang Tn. Dai!” Sapa para perserta


rapat yang sudah lebih dulu berkumpul dari pada kami termasuk pak Hauen.


Syukurlah kami belum terlambat. Tapi entah kenapa Shui tidak ikut masuk untuk


rapat itu, ia hanya menunggu didepan pintu.


 “Hm, karena waktunya terbatas, baiknya kita


segera memulainya. Dan maaf atas keterlambatan kami!” Ujar Dai.


 “Rapat kali ini kita akan membahas Final dari


perjalanan kita dalam pemberontakan terhadap pemerintahan Yaza Vumi.” Lanjut


Dai.


 “Itu artinya... kita akan melakukan


penyerangan dengan terang-terangan?!” Tanya salah satu perserta.

__ADS_1


 “Ya! Sebisa mungkin kita mengurangi jumlah


korban, karena itulah kita tak bisa menggunakan peledak yang bisa menghancurkan


sesuatu tanpa bisa dikendalikan ditengah kota. Jangan sampai masyarakat terkena


imbas dari pemberontakan kita!” Jawab Dai.


 “Jadi begini,” sambung pak Hauen. “kita akan


menggunakan sumber energi utama buatan kita sendiri sebagai jaminan untuk


melakukan kesepakatan dengan distrik-distrik lain agar mau bergabung dengan


kita. Kita akan mengajak distrik-distrik yang mau bergabung untuk melakukan  serangan agar Yaza Vumi III diturunkan dari


jabatannya. Tapi hal itu tak menghalangi kemungkinan Yaza Vumi untuk menyerang


balik!” Lanjutnya.


 “Apakah kita akan membentuk tim yang  akan ditugaskan membuat kesepekatan dengan


masing-masing distrik?” Tanya peserta lain yang tidak kukenal.


 “Tentu saja iya! Kendati demikian, hanya


beberapa Distrik yang bisa kita ajak negosiasi. Sedangkan distrik-distrik yang


setuju dengan kebijakan Yaza Vumi tak termasuk dalam daftar yang akan kita ajak


kerjasama.” Jawab Fasa yang memang mengerti jalan rencana ini.


 “Lalu kapan waktu pelaksanaannya?” Satu lagi


pertanyaan yang dilontarkan peserta dan ini bagianku untuk menjawabnya.


 “Waktu pelaksanaannya adalah sehari setelah


pentas opera. Ketika hari dimana opera dipentaskan kita hanya akan


menghancurkan tempat penyimpanan senjata, esoknya saat kekuatan militer raja


melemah, barulah penyerangan berkala akan dilaksanakan. Pastikan masyarakat


sipil aman dan tidak terkena imbas dari penyerangan yang kita lakukan dan


sebisa mungkin minimalisir jumlah korban . Dan karena ada kemungkinan raja


dapat bantuan persenjataan dari distrik-distrik yang setia mendukungnya, maka


dari situlah kita memasang bom kendali di gudang senjata distrik yang tidak


bekerjasama dengan kita. Ini bukan soal kejam atau bagaimana, tapi jika


kemungkinan mereka bersiap menyuplai senjata, ledakan gudang senjata mereka.


Anggaplah mereka seperti semut, kita tak usah mengurusi semut-semut yang lain,


cukup penggal kepala ratu. Dengan begitu kita sudah menang!” Jelasku.


Kuharap kata-kataku tak terlalu kasar,


karena bagaimanapun Dai adalah putra Yaza Vumi dan dia menyayangi ayahnya. Aku


melirik pada Dai dan kulihat senyuman asam terpancar diwajahnya.


Kelanjutan rapat itu adalah dengan


dibentuknya tim dengan misi masing-masing, jumlah anggota DieNeSs cukup banyak


dan tersebar diberbagai distrik, hal itu tentu memudahkan kami tapi tentu saja


kewaspadaan adalah nomor satu.


Rapat itu berakhir, dan rasanya lelah


sekali padahal itu baru diskusi, belum sampai pelaksanaannya. Aku benar-benar


merasa hebat disini, andaikan saja mereka tau aku Cuma bocah yang usianya


bahkan belum genap 17 tahun, apakah mereka akan tetap mau mendengarkan


bualanku.


 “Hm, rasanya kita hampir sampai dipanggung,


ya?! Ini seperti anak tangga terakhir yang kita panjat!” Komentar Fasa ketika


kami tengah duduk bersama diruang tunggu yang penuh dengan buku-buku.


 “Iya, tapi masalahnya panggung apa yang


nantinya akan kita lihat. Apakah itu panggung yang disinari kemenangan... atau


malah panggung suram yang dutumpahi darah kita sendiri.” Ujarku sambil


memandang langit-langit ruangan.


 “Kenapa kau tampak tak yakin? Kau hampir


memenuhi janjimu untuk tetap tinggal sampai masalah ini selesai.” Fasa


mengingatkan.


 “Tapi... masih ada ketakutan dalam hatiku,


jika aku gagal dan mati disini... maka selamanya pun aku tak akan pernah bisa


kembali ke masa ku sendiri. Tak akan bisa melepas rindu pada ibu dan keluargaku


tercinta!” Renungku.


 “Ayolah, kau adalah DarkNight yang telah


mengubah dunia. Kau pikir kenapa kau yang dari tahun 2019 sampai terlempar ke


masa ini? Pastinya karena itu adalah misimu. Dengar! Kau adalah DarkNight, kau


yang memulai semua ini dan kau jugalah yang harus menyelesaikannya.” Fasa menyemangatiku.


Aku tersenyum dan megangguk, kuakui rasa kepercayaan diriku mulai bangkit.


 “Apa? Vier adalah DarkNight?”


Tiba-tiba Dai muncul dari ambang pintu

__ADS_1


mengejutkan kami sampai rasanya jantungku mau copot.


*****


__ADS_2