
“Membahas sesuatu? Tentang apa?”
Tanyaku sambil menarik tangan Fasa untuk masuk kerumah.
“Tentang Putraku, dan gerakan kalian
dibelakang layar!” Jawabnya tenang tapi mengancam.
Mendengar itu lidahku terasa kelu.
Rasanya benar-benar seperti kepergok mencuri dipusat perbelanjaan ramai. Tapi
apapun yang terjadi aku harus tetap tenang, terlihat panik dan mencurigakan
hanya akan membuat segalanya kacau.
“Tentu yang mulia, tapi sebelum itu...
setidaknya izinkan saya membuatkan anda minumam barang sekedar kopi hangat
dicuaca dingin ini.” Kutawarkan minuman dengan sikap tetap tenang.
Sang Yaza Vumi mengangguk setuju.
Kutinggalkan Fasa diruang santai lantai dua bersama Yaza Vumi sedangkan aku
turun kedapur untuk membuatkan minuman. Selama membuat minuman itu aku terus
mengatur napas sambil menyiapkan jawaban yang kira-kira akan ditanyakan Yaza
Vumi nantinya.
Setelah selesai aku kembali kelantai
atas dengan membawa segelas kopi hitam panas dan dua cangkir cokelat untuk aku
dan Fasa. Sekilas kulihat tatapan penuh selidik yang dipancarkan Yaza Vumi
padaku ketika kusuguhkan minuman untuknya.
“Baiklah langsung saja pada topik pembicaraan
yang ingin saya bahas, nona-nona.” Yaza Vumi memulai percakapan. “Pertama, anda
Nona Monochrome. Saya ingin tau... apakah anda mencintai Dai, putra saya?”
Tanyanya secara langsung. Aku terdiam menimbang-nimbang.
“Sebetulnya... saya tak begitu paham tentang
cinta, saya pun merasa ini kali pertama saya memiliki hubungan spesial dengan
teman lelaki saya, dan saya pikir kami masih terbilang dini untuk memahami
perasaan mendalam itu!” Jawabku dengan gaya polos.
Kulihat senyuman kecil yang nyaris tak
tampak di wajah Yaza Vumi.
“Lantas bagaimana tentang dua orang gadis yang
menginap dirumah seorang bujangan padahal sudah jelas ada peraturan yang
melarang wanita dan pria saling memasuki rumah satu sama lain?!” Lanjutnya
dengan pertanyaan lain.
“Hm, waktu itu kami bersama dua adik Tn. Dai,
Eliesa dan Efaeni. Jika kami menginap disana dengan maksud mengunjungi mereka
itu bisa saja tak dipermasalahkan.” Kilah Fasa. Baguslah Fasa bisa berkilah,
karena aku tak tau jawaban atas pertanyaan ini.
Yaza Vumi tertawa terbahak-bahak, kami
tetap waspada. Sejak awal kedatangan Yaza Vumi memang aneh, ia datang tanpa
ditemani siapapun yang artinya dia memiliki sesuatu yang sangat rahasia untuk
dibicarakan dengan kami. Diluar juga tak ada kendaraan yang mungkin dipakainya
kemari, kemungkinan ia diantar pengawalnya, lalu pengawalnya disuruh kembali
lebih dulu, maka dia bermaksud cukup lama dalam obrolan ini.
“Anda berdua memang wanita-wanita yang hebat,
sudut pandangnya pun luar biasa.” Pujinya pada kami.
“Ketika saya memberikan pertanyaan
dalam bentuk teka-teki dua anak kelinci dulu itu pun dapat kalian jawab dengan
luar biasa. Dan Nona Monochrome, apa anda ingat siang tadi saya menuangkan air
digelas ke-empat padahal kita hanya bertiga waktu itu? kebanyakan orang tak
mempedulikan perbuatan seorang raja apalagi mempertanyakannya, tapi anda dengan
sangat berani dan teliti mempertanyakan hal itu.” Jelasnya.
“Tentu saja perbuatan raja pun harus
dipertanyakan, raja bukanlah tuhan yang maha kuasa atas segalanya. Raja hanyalah
manusia biasa yang berbeda status dengan manusia lain.” Komentarku.
Senyum sang raja sirna, ia terkejut
dengan membulatkan matanya.
“Benar! Raja hanyalah status... percuma
berstatus raja jika bukan raja dihati rakyat.” Ujarnya dengan nada mengejek.
“Yang mulia, boleh saya bertanya?” aku
mengalihkan topik.
__ADS_1
“Tentu, tanyakanlah!” Serunya.
“Bukankah sejak awal anda tau apa yang putra
anda lakukan dibelakang anda? Kenapa anda pura-pura tak tau dan melindunginya
padahal itu jelas sangat merugikan anda?” Tanyaku.
Sang Yaza Vumi tersentak dan
terbelalak, ia terpaku beberapa saat sampai akhirnya menarik napas panjang dan
menghembusnya perlahan.
“Karena itulah saya ingin mendiskusikan ini
pada kalian yang saya rasa dapat dipercaya untuk hal ini. Ini adalah
pertaruhan, saya ingin kalian berdua ikut dan tentunya saya pun menaruh nyawa
saya sebagai barang taruhannya!” Jawab Yaza Vumi pada akhirnya.
Aku dan Fasa saling melirik. Kami agak
ragu untuk mengambil taruhan dengan orang licik macam Yaza Vumi, tapi mungkin
kami bisa mengambil resiko. Toh, mungkin Yaza Vumi pun sudah tahu apa yang kami
lakukan dibelakang layar.
“Kami setuju!” Jawabku dan Fasa kompak.
.....
Dua hari berikutnya
Sudah dua hari berlalu semenjak
kesepakatanku dengan Yaza Vumi, rasanya sulit untuk bersikap biasa saja didepan
Dai. Sering kulihat Dai menatap aneh padaku dan bertanya keadaanku.
“Wah, wah, wah... lihatlah tuan putri yang
sedang merana ini,”
Disaat seperti ini tiga orang penyuka
Dai malah menggangguku. Yah, semenjak hubunganku dan Dai diberitakan, beberapa
penggemar Dai di opera seperti memusuhiku, padahal hubungan itu pun palsu.
“Kenapa? Apa Tn. Dai mencampakkanmu? Atau kau
bingung karena sudah mengandung anaknya?” Cemoohnya dengan Vulgar.
“MENGANDUNG PANT*TMU HIJAU!!!” Teriakku
sangking kesalnya. Aku segera menjauh meninggalkan tiga cecunguk yang suka asal
bicara itu.
Saat ini sedang istirahat, aku duduk
taman bunga yang ada diatap gedung opera. Sungguh kehidupanku disini sangat
kegiatannya Cuma monoton. Mana ada masalah politik, kudeta bahkan sekedar asmara.
Tapi disini kurasakan semuanya, petualangan dan juga asmara yang rumit bagiku.
“Hey, lagi-lagi kau merenung begitu!” Suara
Dai menyapa indera pendengaranku.
“Aku hanya lelah, jangan pedulikan!” Ujarku.
“Kau tak lupa kan kalau hari ini kita akan rapat?!”
bisik Dai.
“Tentu tidak, nanti kita mampir kerumah tulip
dulu untuk menjemput Fasa, oke?” Usulku. Dai mengangguk.
Tak lama setelahnya latihan kami
berlajut dan selesai 2 jam kemudian. Selesai latihan itu sudah siang menjelang
sore, aku menumpang mobil Dai untuk
menjemput Fasa dan kami bertiga pergi ke rumah tua yang merupakan jalan masuk
menuju markas DieNeSs.
Diantara pepohonan itu Shui sudah
menunggu kami, entah kapan Dai menghubunginya untuk datang kesana. Kami masuk
kesana bersama, suasana bangunan bawah tanah yang mulai Familiar diingatanku.
Pillar-pillar penyangga yang besar, lantai yang bermotif papan catur, juga
orang-orang ramah yang menyapa mana kala kami datang.
“Selamat datang Tn. Dai!” Sapa para perserta
rapat yang sudah lebih dulu berkumpul dari pada kami termasuk pak Hauen.
Syukurlah kami belum terlambat. Tapi entah kenapa Shui tidak ikut masuk untuk
rapat itu, ia hanya menunggu didepan pintu.
“Hm, karena waktunya terbatas, baiknya kita
segera memulainya. Dan maaf atas keterlambatan kami!” Ujar Dai.
“Rapat kali ini kita akan membahas Final dari
perjalanan kita dalam pemberontakan terhadap pemerintahan Yaza Vumi.” Lanjut
Dai.
“Itu artinya... kita akan melakukan
penyerangan dengan terang-terangan?!” Tanya salah satu perserta.
__ADS_1
“Ya! Sebisa mungkin kita mengurangi jumlah
korban, karena itulah kita tak bisa menggunakan peledak yang bisa menghancurkan
sesuatu tanpa bisa dikendalikan ditengah kota. Jangan sampai masyarakat terkena
imbas dari pemberontakan kita!” Jawab Dai.
“Jadi begini,” sambung pak Hauen. “kita akan
menggunakan sumber energi utama buatan kita sendiri sebagai jaminan untuk
melakukan kesepakatan dengan distrik-distrik lain agar mau bergabung dengan
kita. Kita akan mengajak distrik-distrik yang mau bergabung untuk melakukan serangan agar Yaza Vumi III diturunkan dari
jabatannya. Tapi hal itu tak menghalangi kemungkinan Yaza Vumi untuk menyerang
balik!” Lanjutnya.
“Apakah kita akan membentuk tim yang akan ditugaskan membuat kesepekatan dengan
masing-masing distrik?” Tanya peserta lain yang tidak kukenal.
“Tentu saja iya! Kendati demikian, hanya
beberapa Distrik yang bisa kita ajak negosiasi. Sedangkan distrik-distrik yang
setuju dengan kebijakan Yaza Vumi tak termasuk dalam daftar yang akan kita ajak
kerjasama.” Jawab Fasa yang memang mengerti jalan rencana ini.
“Lalu kapan waktu pelaksanaannya?” Satu lagi
pertanyaan yang dilontarkan peserta dan ini bagianku untuk menjawabnya.
“Waktu pelaksanaannya adalah sehari setelah
pentas opera. Ketika hari dimana opera dipentaskan kita hanya akan
menghancurkan tempat penyimpanan senjata, esoknya saat kekuatan militer raja
melemah, barulah penyerangan berkala akan dilaksanakan. Pastikan masyarakat
sipil aman dan tidak terkena imbas dari penyerangan yang kita lakukan dan
sebisa mungkin minimalisir jumlah korban . Dan karena ada kemungkinan raja
dapat bantuan persenjataan dari distrik-distrik yang setia mendukungnya, maka
dari situlah kita memasang bom kendali di gudang senjata distrik yang tidak
bekerjasama dengan kita. Ini bukan soal kejam atau bagaimana, tapi jika
kemungkinan mereka bersiap menyuplai senjata, ledakan gudang senjata mereka.
Anggaplah mereka seperti semut, kita tak usah mengurusi semut-semut yang lain,
cukup penggal kepala ratu. Dengan begitu kita sudah menang!” Jelasku.
Kuharap kata-kataku tak terlalu kasar,
karena bagaimanapun Dai adalah putra Yaza Vumi dan dia menyayangi ayahnya. Aku
melirik pada Dai dan kulihat senyuman asam terpancar diwajahnya.
Kelanjutan rapat itu adalah dengan
dibentuknya tim dengan misi masing-masing, jumlah anggota DieNeSs cukup banyak
dan tersebar diberbagai distrik, hal itu tentu memudahkan kami tapi tentu saja
kewaspadaan adalah nomor satu.
Rapat itu berakhir, dan rasanya lelah
sekali padahal itu baru diskusi, belum sampai pelaksanaannya. Aku benar-benar
merasa hebat disini, andaikan saja mereka tau aku Cuma bocah yang usianya
bahkan belum genap 17 tahun, apakah mereka akan tetap mau mendengarkan
bualanku.
“Hm, rasanya kita hampir sampai dipanggung,
ya?! Ini seperti anak tangga terakhir yang kita panjat!” Komentar Fasa ketika
kami tengah duduk bersama diruang tunggu yang penuh dengan buku-buku.
“Iya, tapi masalahnya panggung apa yang
nantinya akan kita lihat. Apakah itu panggung yang disinari kemenangan... atau
malah panggung suram yang dutumpahi darah kita sendiri.” Ujarku sambil
memandang langit-langit ruangan.
“Kenapa kau tampak tak yakin? Kau hampir
memenuhi janjimu untuk tetap tinggal sampai masalah ini selesai.” Fasa
mengingatkan.
“Tapi... masih ada ketakutan dalam hatiku,
jika aku gagal dan mati disini... maka selamanya pun aku tak akan pernah bisa
kembali ke masa ku sendiri. Tak akan bisa melepas rindu pada ibu dan keluargaku
tercinta!” Renungku.
“Ayolah, kau adalah DarkNight yang telah
mengubah dunia. Kau pikir kenapa kau yang dari tahun 2019 sampai terlempar ke
masa ini? Pastinya karena itu adalah misimu. Dengar! Kau adalah DarkNight, kau
yang memulai semua ini dan kau jugalah yang harus menyelesaikannya.” Fasa menyemangatiku.
Aku tersenyum dan megangguk, kuakui rasa kepercayaan diriku mulai bangkit.
“Apa? Vier adalah DarkNight?”
Tiba-tiba Dai muncul dari ambang pintu
__ADS_1
mengejutkan kami sampai rasanya jantungku mau copot.
*****