Break The Secret

Break The Secret
16) PERAYAAN : penutup


__ADS_3

Mataku terbuka perlahan, samar-samar


terlihat olehku wajah gadis mungil yang tampak sangat cemas, dia menggenggam


erat tanganku dengan kedua tangannya yang halus.


 “Fasa...” Gumamku pelan. Fasa memelukku dengan


erat, bisa kurasakan air matanya menetes dibahuku.


 “Fasa, apa yang terjadi?” Tanyaku begitu Fasa


melepaskan pelukannya dan kusadari aku berada dirumah Dai.


 “Aku dan pak Hauen bertemu Tn. Dai dan Shui


sesaat setelah memasuki lorong bawah tanah, tn. Dai bertanya dimana dirimu dan


begitu kuberitahu bahwa kau minta ditinggalkan didalam ruangan itu dia langsung


berlari tanpa berkata apa-apa lagi bersama Shui. Setelah hampir 5 jam Tn. Dai


kembali kerumah ini sambil menggendongmu yang tak sadarkan diri.” Cerita Fasa.


 “Aku tak sadarkan diri?” Heranku.


 “Iya! Katanya diruangan itu memang diberi


semacam gas beracun yang bisa membuat seseorang tewas kalau berada terlalu lama


disana, dan efek paling sederhana dari gas itu adalah mimpi buruk seperti orang


yang terkena efek narkotika.” Jelas Fasa.


 “Hmm... begitu ya... pantas tadi aku mimpi


buruk!” Gumamku.


 “Saranku, sebaiknya kau mengucapkan terima


kasih pada Shui dan Tn. Dai, terutama Tn. Dai, sih. Soalnya saat pulang


membawamu tubuhnya banyak luka bekas pertarungan!” Nasehat Fasa.


Aku ingat. Ada suara gaduh dan


seseorang yang menyentuh wajahku sesaat sebelum aku pingsan, jadi itu adalah


Dai. Seperinya aku ingin menemui Dai secepatnya, kebetulan aku juga ingin dia


menjelaskan tentang Noir.


 “Jadi, dimana Dai?” Tanyaku.


 “Kurasa dia sedang berada ditaman yang ada


kolam ikannya itu!” Jawab Fasa sambil menunjuk kearah halaman depan.


Aku bergegas bangun dari tempat tidur


dan menuju halaman depan untuk menemui Dai. Kulihat paras tampannya itu menatap


langit dengan kosong, apa yang membuatnya seperti itu? aku benar-benar


penasaran tentangnya sekarang.


 “Hei, sedang apa melamun disitu? Meratapi


nasib wajah tampan tapi single?” Panggilku dengan sedikit tambahan kata ejekan.


Dai menoleh padaku, bola mata kelabunya


membulat dengan penuh rasa penasaran. Aku berjalan menghampirinya dan kini


kulihat luka-luka ditubuh Dai yang Fasa ceritakan tadi.


 “kau sudah mondar-mandir begini, memangnya


sudah sehat?” Tanya Dai cemas.


 “Jangan menasihatiku, kau sendiri terluka,


bukannya istirahat malah melamun disini!” Tukasku. Dai hanya tersenyum


menanggapinya.


 “Jadi... kenapa kau menemuiku?” Tanya Dai


kemudian.


 “Pertama aku ingin mengucapkan terima kasih sudah


menyelamatkanku, aku sempat berpikir akan mati disana karena mustahil ada


kesatria yang akan menyelamatkanku seperti di Film. Tapi... siapa sangka


kesatria penyelamatnya benar-benar ada.” Jawabku. Sepertinya Dai senang dengan


perkataanku barusan.


 “Hm, kalau hanya ingin berterima kasih, kau


tak perlu sampai menghampiriku kemari, lho!” Ujarnya.


 “Bukan Cuma mau berterima kasih, kau tak lupa


kan kalau kau berhutang penjelasan padaku?” Aku mengingatkan. Dai melempar


pandangannya kearah lain, terlihat ragu-ragu untuk menjelaskan atau tidak.


 “Tapi Vier, aku tak yakin kau bisa menerima


hal ini, lagi pula bukankah dulu kau membenci Noir? Kenapa belakangan ini kau


sangat memperhatikannya?” Dai malah bertanya lagi.


 “Aku punya alasan sendiri, jadi jelaskan saja apa


yang sebenarnya terjadi hingga kau menyamar jadi Noir dan siapa yang


menggantikanmu saat kau dan Noir muncul bersamaan?” Aku balik bertanya.


 “Delapan tahun lalu terjadi pembantaian pada


seluruh garis keturunan DarkNight, Hari yang paling berduka bagi orang-orang.


Tak satu pun yang tau siapa yang telah melakukannya meskipun sudah diselidiki


sana-sini. Tapi dua tahun kemudian muncul seorang pria dengan bekas luka bakar


diwajah dan tubuhnya, kami masih mengenalinya... dia adalah Noir, anak dari


cucunya DarkNight.” Cerita Dai.

__ADS_1


 “Tunggu, kalau Noir kembali, kenapa kau yang


mengantikan dia? Kemana dia sekarang?” Tanyaku dengan tergesa-gesa.


 “Sebenarnya, Noir sudah dibunuh!” Jawab Dai.


 “APA???” teriakku tanpa sadar.


 “Aku sangat akrab dengan Noir, dia seperti


kakak bagiku. Dia tinggal didesa kecil belakang istana, aku sering


mengunjunginya melalui sebuah terowongan didesa itu yang terhubung langsung


kebagian dalam istana. Tapi tiga tahun lalu... ketika aku berkunjung ke


kediamannya... dia sudah sekarat dengan banyak luka tembakan ditubuhnya.


Dia masih sempat bicara padaku, dia


memintaku untuk menggantikannya, membuat seolah ‘si topeng tengkorak’ masih


hidup terutama didepan Yaza Vumi... awalnya aku tak paham ada apa dengan


ayahku, tapi... kemudian aku mengerti bahwa ayahku sendiri lah yang telah


membantai keluarga DarkNight dan membunuh Noir. Dan semua itu hanya karena


sebuah buku!”


 “Dai, ini semakin tidak masuk akal saja...


tapi, biar kucoba dengarkan ceritamu sampai selesai. Ja, jadi... buku apa yang


dimaksud?” Aku mengatur napasku dan mencoba bicara lebih tenang.


 “Auto biografi milik DarkNight yang ditulis


dengan tulisan tangannya sendiri!” Ujar Dai. Aku terkejut bukan kepalang,


bahkan orang sinting dijalanan pun pasti akan mengabaikan buku buluk seperti itu, apa istimewanya buku


tulisanku sampai Yaza Vumi membunuh orang begitu.


 “Kenapa hanya karena buku seperti itu dia


sampai membunuh garis keturunan DarkNight? Bukankah kau pernah bilang ayahmu


terobsesi pada DarkNight?” Aku bertanya lagi.


 “Kupikir... mungkin justru karena obsesinya...


dia terkejut saat membaca buku itu, karena disana tertulis bahwa kekaisaran


Yaza Vumi tak akan melewati tahun 2200. Ayahku ketakutan, cerita DarkNight


dibuku itu... seolah-olah dia benar-benar berada disekitar kami untuk


mengawasi.


Ayahku berniat menutupi tentang


keberadaan buku itu, dia tak mau sampai ada yang tau tentangnya, tapi keturunan


DarkNight yang memegang buku itu berniat menyebarkan kenyataan, hal itu membuat


ayahku gelap mata dan akhirnya memerintahkan 25 tentara cakar hitam untuk


membantai keturunan terakhir DarkNight sampai keakarnya.


bukunya seperti kucing yang takut ikannya dicuri. Aku pernah mencuri kesempatan


membaca buku itu... memang buku itu sangat aneh.” Ceritanya panjang lebar.


Aku menyimak semua ceritanya, aku


membutuhkan buku itu untuk bisa memberiku petunjuk bagaimana cara kembali ke


zamanku di 2019.


 “Jadi... bisa kau berikan padaku bukunya?”


Tanyaku sedikit ragu.


Dai terdiam dengan tatapan aneh,


seperti tatapan yang dulu dia tunjukan padaku ketika aku menguping pembicaraan


dua pria di pesta kerajaan.


 “Kenapa kau sangat menginginkan buku itu?


ketika kutemukan kau diruangan itu pun kau sedang menggenggam buku itu.” ujarnya


pada akhirnya.


 “Hmmm... apa kau lupa kalau aku ini sangat


mengidolakan DarkNight?” Aku berkilah.


 “Kau pikir itu sebuah alasan yang masuk akal?


Aku ingin menanyakan ini juga sejak lama,” Dai melangkah kedepanku dan kami


berhadap-hadapan. Ia membungkukkan tubuhnya mensejajarkan tingginya denganku,


dan dengan senyum manis yang misterius ia bertanya,


 “Aku penasaran bagaimana kau tau tentang Break


The Secret... ah, tidak! Maksudku... aku ingin tau siapa kau sebenarnya?!”


Tanya-nya.


Pertanyaan itu membuat lidahku kelu,


mungkin bukan Cuma pertanyaannya tapi tatapan Dai. Dari tatapannya saja aku


sudah kalah, aku ragu untuk menjawab, terlebih lagi jaraknya denganku terlalu


dekat dan aku benci ditatap tajam seperti itu.


 “Kau tak bisa menjawab? kenapa?” Ia tersenyum


penuh kemenangan karena berhasil mendesakku dan aku benci merasa kalah.


Seketika tanganku bergerak menutup


mulutnya, ia terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba itu hingga senyuman


penuh kemenangannya sirna.


 “Karena... mulutmu bau bawang!” jawabku sambil

__ADS_1


mendorong wajahnya menjauh dariku.


 “Ba, bawang?” Dai tampak keheranan.


 “Kau bodoh, ya?! Memangnya kau tak berpikir


kalau bicara dengan jarak yang terlalu dekat bau mulutmu bisa tercium oleh


lawan bicaramu?” Tukasku. Kulihat wajahnya bersemu merah karena malu.


 “Tapi soal pertanyaanmu tadi... kurasa aku tak


bisa menjawabnya! Aku sendiri pun... masih bertanya-tanya tentang beberapa hal,


dan lagi... kau tak akan mempercayai apa yang telah terjadi padaku!” Aku


berbalik hendak pergi.


 “Percaya atau tidak nantinya, ceritakanlah


padaku... biar bagaimanapun kita adalah teman!” Pintanya.


 “Aku tak punya alasan, bahkan teman pun bisa


berkhianat!” kataku dengan dingin.


 “Kalau kau tak bisa menceritakannya padaku


sebagai teman... bagaimana kalau sebagai seseorang yang... me, menyukaimu?!” Dai


berkata dengan suaranya yang pelan.


Sejujurnya melihat dia seperti ini aneh


juga, pertama kali aku bertemu dengannya, dia adalah seorang pria yang terkesan


tenang dan rasionalis, tapi entah mengapa belakangan ini dia lebih emosional.


 “Apa kau ingat...” Dai mulai berkata lagi,


suaranya terdengar lembut. “Aku pernah menyatakan perasaanku padamu, tapi...


mungkin bagimu hanya sehembusan angin saja. Kau tak pernah membahasnya lagi...


aku tau kau menyukai orang lain, kan?! Tak apa, aku bisa menerimanya! Tapi


setidaknya, kalau kau tak menerima perasaanku... tetaplah jadi temanku!”


Katanya dengan sendu.


Aku berbalik dan melihat wajah sendunya


dengan latar belakang senja yang indah. Hal seperti ini harusnya tidak terjadi,


aku bahkan lupa menanyakan siapa yang menjadi pengganti Noir padanya. Tapi


melihat wajah itu, aku mengurungkan niatku.


 “Dai... bukankah perasaan itu tak bisa


dipaksakan? Aku tak mau tau tentang hal yang sensitif itu... tapi kalau tentang


pertemanan, sekali teman, selamanya tetap teman!” Seru-ku sambil menepuk


bahunya. Dai menghela napas panjang lalu menyingkirkan tanganku dari bahunya


dan berkata,


 “Kurasa kau tak kan mengatakan hal demikian


jika bertemu orang yang kau sukai, aku tau kok kalau kau menyukai orang lain,


soalnya dia...”


 “BRAK”


Belum selesai Dai dengan kata-katanya,


kami mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras. Kami segera melihat


kearah suara itu dan mendapati Shui sedang berusaha mengumpulkan lagi buku yang


jatuh berserakan.


 “Shui, apa yang kau lakukan dengan buku


sebanyak ini?” Tanya Dai cemas.


 “Maaf  Tn. Dai, saya sedang membereskan buku-buku yang telah anda baca dari


kamar anda, tapi bukunya malah jatuh berserakan!” Jawab Shui penuh penyesalan.


Dai mengusak lembut kepala Shui sambil tersenyum.


 “Kau ini ya, sudah kubilang kan, kau itu


seperti adikku... jangan bersikap seolah kau pelayanku. Lagipula buku yang kau


bawa ini terlalu banyak, lukamu kan belum sembuh jadi jangan membawa beban yang


terlalu berat supaya lukanya tidak terbuka lagi!” Nasihat Dai.


 “Shui, sini kubantu!” Aku turut membantu Shui


mengumpulkan buku yang berserakan. Shui hanya mengangguk, kalau dipikir


senyumannya memang langka, aku bahkan tak pernah melihat ekspresi bagus Shui.


 “Oh iya Shui,” Dai memulai percakapan lagi


ketika kami sedang menyusun kembali buku-buku tadi ditempatnya. Shui menoleh


dan menunggu lanjutan perkataan Dai.


 “Mulai sekarang kau bisa bicara dengan suara


aslimu!” Kata Dai sambil tersenyum ramah.


Shui tersentak sampai buku ditangannya


jatuh. Aku juga terkejut, awalnya aku tak paham arah pembicaraan Dai, tapi


kemudian aku paham setelah Shui berkata dengan suara yang membuatku merinding.


 “Ya, Tn. Dai!”


Dia berkata dengan suara yang sangat


pelan dan agak horor, suaranya rendah dan dalam, juga sedikit serak basah,


sangat familiar. Aku sadar milik siapa suara ini.


 “Jadi... kau adalah Noir pengganti Dai?!”

__ADS_1


Gumamku.


*****


__ADS_2