
Mataku terbuka perlahan, samar-samar
terlihat olehku wajah gadis mungil yang tampak sangat cemas, dia menggenggam
erat tanganku dengan kedua tangannya yang halus.
“Fasa...” Gumamku pelan. Fasa memelukku dengan
erat, bisa kurasakan air matanya menetes dibahuku.
“Fasa, apa yang terjadi?” Tanyaku begitu Fasa
melepaskan pelukannya dan kusadari aku berada dirumah Dai.
“Aku dan pak Hauen bertemu Tn. Dai dan Shui
sesaat setelah memasuki lorong bawah tanah, tn. Dai bertanya dimana dirimu dan
begitu kuberitahu bahwa kau minta ditinggalkan didalam ruangan itu dia langsung
berlari tanpa berkata apa-apa lagi bersama Shui. Setelah hampir 5 jam Tn. Dai
kembali kerumah ini sambil menggendongmu yang tak sadarkan diri.” Cerita Fasa.
“Aku tak sadarkan diri?” Heranku.
“Iya! Katanya diruangan itu memang diberi
semacam gas beracun yang bisa membuat seseorang tewas kalau berada terlalu lama
disana, dan efek paling sederhana dari gas itu adalah mimpi buruk seperti orang
yang terkena efek narkotika.” Jelas Fasa.
“Hmm... begitu ya... pantas tadi aku mimpi
buruk!” Gumamku.
“Saranku, sebaiknya kau mengucapkan terima
kasih pada Shui dan Tn. Dai, terutama Tn. Dai, sih. Soalnya saat pulang
membawamu tubuhnya banyak luka bekas pertarungan!” Nasehat Fasa.
Aku ingat. Ada suara gaduh dan
seseorang yang menyentuh wajahku sesaat sebelum aku pingsan, jadi itu adalah
Dai. Seperinya aku ingin menemui Dai secepatnya, kebetulan aku juga ingin dia
menjelaskan tentang Noir.
“Jadi, dimana Dai?” Tanyaku.
“Kurasa dia sedang berada ditaman yang ada
kolam ikannya itu!” Jawab Fasa sambil menunjuk kearah halaman depan.
Aku bergegas bangun dari tempat tidur
dan menuju halaman depan untuk menemui Dai. Kulihat paras tampannya itu menatap
langit dengan kosong, apa yang membuatnya seperti itu? aku benar-benar
penasaran tentangnya sekarang.
“Hei, sedang apa melamun disitu? Meratapi
nasib wajah tampan tapi single?” Panggilku dengan sedikit tambahan kata ejekan.
Dai menoleh padaku, bola mata kelabunya
membulat dengan penuh rasa penasaran. Aku berjalan menghampirinya dan kini
kulihat luka-luka ditubuh Dai yang Fasa ceritakan tadi.
“kau sudah mondar-mandir begini, memangnya
sudah sehat?” Tanya Dai cemas.
“Jangan menasihatiku, kau sendiri terluka,
bukannya istirahat malah melamun disini!” Tukasku. Dai hanya tersenyum
menanggapinya.
“Jadi... kenapa kau menemuiku?” Tanya Dai
kemudian.
“Pertama aku ingin mengucapkan terima kasih sudah
menyelamatkanku, aku sempat berpikir akan mati disana karena mustahil ada
kesatria yang akan menyelamatkanku seperti di Film. Tapi... siapa sangka
kesatria penyelamatnya benar-benar ada.” Jawabku. Sepertinya Dai senang dengan
perkataanku barusan.
“Hm, kalau hanya ingin berterima kasih, kau
tak perlu sampai menghampiriku kemari, lho!” Ujarnya.
“Bukan Cuma mau berterima kasih, kau tak lupa
kan kalau kau berhutang penjelasan padaku?” Aku mengingatkan. Dai melempar
pandangannya kearah lain, terlihat ragu-ragu untuk menjelaskan atau tidak.
“Tapi Vier, aku tak yakin kau bisa menerima
hal ini, lagi pula bukankah dulu kau membenci Noir? Kenapa belakangan ini kau
sangat memperhatikannya?” Dai malah bertanya lagi.
“Aku punya alasan sendiri, jadi jelaskan saja apa
yang sebenarnya terjadi hingga kau menyamar jadi Noir dan siapa yang
menggantikanmu saat kau dan Noir muncul bersamaan?” Aku balik bertanya.
“Delapan tahun lalu terjadi pembantaian pada
seluruh garis keturunan DarkNight, Hari yang paling berduka bagi orang-orang.
Tak satu pun yang tau siapa yang telah melakukannya meskipun sudah diselidiki
sana-sini. Tapi dua tahun kemudian muncul seorang pria dengan bekas luka bakar
diwajah dan tubuhnya, kami masih mengenalinya... dia adalah Noir, anak dari
cucunya DarkNight.” Cerita Dai.
__ADS_1
“Tunggu, kalau Noir kembali, kenapa kau yang
mengantikan dia? Kemana dia sekarang?” Tanyaku dengan tergesa-gesa.
“Sebenarnya, Noir sudah dibunuh!” Jawab Dai.
“APA???” teriakku tanpa sadar.
“Aku sangat akrab dengan Noir, dia seperti
kakak bagiku. Dia tinggal didesa kecil belakang istana, aku sering
mengunjunginya melalui sebuah terowongan didesa itu yang terhubung langsung
kebagian dalam istana. Tapi tiga tahun lalu... ketika aku berkunjung ke
kediamannya... dia sudah sekarat dengan banyak luka tembakan ditubuhnya.
Dia masih sempat bicara padaku, dia
memintaku untuk menggantikannya, membuat seolah ‘si topeng tengkorak’ masih
hidup terutama didepan Yaza Vumi... awalnya aku tak paham ada apa dengan
ayahku, tapi... kemudian aku mengerti bahwa ayahku sendiri lah yang telah
membantai keluarga DarkNight dan membunuh Noir. Dan semua itu hanya karena
sebuah buku!”
“Dai, ini semakin tidak masuk akal saja...
tapi, biar kucoba dengarkan ceritamu sampai selesai. Ja, jadi... buku apa yang
dimaksud?” Aku mengatur napasku dan mencoba bicara lebih tenang.
“Auto biografi milik DarkNight yang ditulis
dengan tulisan tangannya sendiri!” Ujar Dai. Aku terkejut bukan kepalang,
bahkan orang sinting dijalanan pun pasti akan mengabaikan buku buluk seperti itu, apa istimewanya buku
tulisanku sampai Yaza Vumi membunuh orang begitu.
“Kenapa hanya karena buku seperti itu dia
sampai membunuh garis keturunan DarkNight? Bukankah kau pernah bilang ayahmu
terobsesi pada DarkNight?” Aku bertanya lagi.
“Kupikir... mungkin justru karena obsesinya...
dia terkejut saat membaca buku itu, karena disana tertulis bahwa kekaisaran
Yaza Vumi tak akan melewati tahun 2200. Ayahku ketakutan, cerita DarkNight
dibuku itu... seolah-olah dia benar-benar berada disekitar kami untuk
mengawasi.
Ayahku berniat menutupi tentang
keberadaan buku itu, dia tak mau sampai ada yang tau tentangnya, tapi keturunan
DarkNight yang memegang buku itu berniat menyebarkan kenyataan, hal itu membuat
ayahku gelap mata dan akhirnya memerintahkan 25 tentara cakar hitam untuk
membantai keturunan terakhir DarkNight sampai keakarnya.
bukunya seperti kucing yang takut ikannya dicuri. Aku pernah mencuri kesempatan
membaca buku itu... memang buku itu sangat aneh.” Ceritanya panjang lebar.
Aku menyimak semua ceritanya, aku
membutuhkan buku itu untuk bisa memberiku petunjuk bagaimana cara kembali ke
zamanku di 2019.
“Jadi... bisa kau berikan padaku bukunya?”
Tanyaku sedikit ragu.
Dai terdiam dengan tatapan aneh,
seperti tatapan yang dulu dia tunjukan padaku ketika aku menguping pembicaraan
dua pria di pesta kerajaan.
“Kenapa kau sangat menginginkan buku itu?
ketika kutemukan kau diruangan itu pun kau sedang menggenggam buku itu.” ujarnya
pada akhirnya.
“Hmmm... apa kau lupa kalau aku ini sangat
mengidolakan DarkNight?” Aku berkilah.
“Kau pikir itu sebuah alasan yang masuk akal?
Aku ingin menanyakan ini juga sejak lama,” Dai melangkah kedepanku dan kami
berhadap-hadapan. Ia membungkukkan tubuhnya mensejajarkan tingginya denganku,
dan dengan senyum manis yang misterius ia bertanya,
“Aku penasaran bagaimana kau tau tentang Break
The Secret... ah, tidak! Maksudku... aku ingin tau siapa kau sebenarnya?!”
Tanya-nya.
Pertanyaan itu membuat lidahku kelu,
mungkin bukan Cuma pertanyaannya tapi tatapan Dai. Dari tatapannya saja aku
sudah kalah, aku ragu untuk menjawab, terlebih lagi jaraknya denganku terlalu
dekat dan aku benci ditatap tajam seperti itu.
“Kau tak bisa menjawab? kenapa?” Ia tersenyum
penuh kemenangan karena berhasil mendesakku dan aku benci merasa kalah.
Seketika tanganku bergerak menutup
mulutnya, ia terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba itu hingga senyuman
penuh kemenangannya sirna.
“Karena... mulutmu bau bawang!” jawabku sambil
__ADS_1
mendorong wajahnya menjauh dariku.
“Ba, bawang?” Dai tampak keheranan.
“Kau bodoh, ya?! Memangnya kau tak berpikir
kalau bicara dengan jarak yang terlalu dekat bau mulutmu bisa tercium oleh
lawan bicaramu?” Tukasku. Kulihat wajahnya bersemu merah karena malu.
“Tapi soal pertanyaanmu tadi... kurasa aku tak
bisa menjawabnya! Aku sendiri pun... masih bertanya-tanya tentang beberapa hal,
dan lagi... kau tak akan mempercayai apa yang telah terjadi padaku!” Aku
berbalik hendak pergi.
“Percaya atau tidak nantinya, ceritakanlah
padaku... biar bagaimanapun kita adalah teman!” Pintanya.
“Aku tak punya alasan, bahkan teman pun bisa
berkhianat!” kataku dengan dingin.
“Kalau kau tak bisa menceritakannya padaku
sebagai teman... bagaimana kalau sebagai seseorang yang... me, menyukaimu?!” Dai
berkata dengan suaranya yang pelan.
Sejujurnya melihat dia seperti ini aneh
juga, pertama kali aku bertemu dengannya, dia adalah seorang pria yang terkesan
tenang dan rasionalis, tapi entah mengapa belakangan ini dia lebih emosional.
“Apa kau ingat...” Dai mulai berkata lagi,
suaranya terdengar lembut. “Aku pernah menyatakan perasaanku padamu, tapi...
mungkin bagimu hanya sehembusan angin saja. Kau tak pernah membahasnya lagi...
aku tau kau menyukai orang lain, kan?! Tak apa, aku bisa menerimanya! Tapi
setidaknya, kalau kau tak menerima perasaanku... tetaplah jadi temanku!”
Katanya dengan sendu.
Aku berbalik dan melihat wajah sendunya
dengan latar belakang senja yang indah. Hal seperti ini harusnya tidak terjadi,
aku bahkan lupa menanyakan siapa yang menjadi pengganti Noir padanya. Tapi
melihat wajah itu, aku mengurungkan niatku.
“Dai... bukankah perasaan itu tak bisa
dipaksakan? Aku tak mau tau tentang hal yang sensitif itu... tapi kalau tentang
pertemanan, sekali teman, selamanya tetap teman!” Seru-ku sambil menepuk
bahunya. Dai menghela napas panjang lalu menyingkirkan tanganku dari bahunya
dan berkata,
“Kurasa kau tak kan mengatakan hal demikian
jika bertemu orang yang kau sukai, aku tau kok kalau kau menyukai orang lain,
soalnya dia...”
“BRAK”
Belum selesai Dai dengan kata-katanya,
kami mendengar suara sesuatu yang jatuh dengan keras. Kami segera melihat
kearah suara itu dan mendapati Shui sedang berusaha mengumpulkan lagi buku yang
jatuh berserakan.
“Shui, apa yang kau lakukan dengan buku
sebanyak ini?” Tanya Dai cemas.
“Maaf Tn. Dai, saya sedang membereskan buku-buku yang telah anda baca dari
kamar anda, tapi bukunya malah jatuh berserakan!” Jawab Shui penuh penyesalan.
Dai mengusak lembut kepala Shui sambil tersenyum.
“Kau ini ya, sudah kubilang kan, kau itu
seperti adikku... jangan bersikap seolah kau pelayanku. Lagipula buku yang kau
bawa ini terlalu banyak, lukamu kan belum sembuh jadi jangan membawa beban yang
terlalu berat supaya lukanya tidak terbuka lagi!” Nasihat Dai.
“Shui, sini kubantu!” Aku turut membantu Shui
mengumpulkan buku yang berserakan. Shui hanya mengangguk, kalau dipikir
senyumannya memang langka, aku bahkan tak pernah melihat ekspresi bagus Shui.
“Oh iya Shui,” Dai memulai percakapan lagi
ketika kami sedang menyusun kembali buku-buku tadi ditempatnya. Shui menoleh
dan menunggu lanjutan perkataan Dai.
“Mulai sekarang kau bisa bicara dengan suara
aslimu!” Kata Dai sambil tersenyum ramah.
Shui tersentak sampai buku ditangannya
jatuh. Aku juga terkejut, awalnya aku tak paham arah pembicaraan Dai, tapi
kemudian aku paham setelah Shui berkata dengan suara yang membuatku merinding.
“Ya, Tn. Dai!”
Dia berkata dengan suara yang sangat
pelan dan agak horor, suaranya rendah dan dalam, juga sedikit serak basah,
sangat familiar. Aku sadar milik siapa suara ini.
“Jadi... kau adalah Noir pengganti Dai?!”
__ADS_1
Gumamku.
*****