Break The Secret

Break The Secret
8) kata dan rahasia


__ADS_3

 “Vier... kata-katamu barusan...” Entah karena


apa Dai terus terpaku. Aku hanya mengatakan hal yang biasa kukatakan, lagi pula


mustahil dia tidak mengerti bahasa inggris. Menurut pendapatku distrik utama


tempatku tinggal sekarang ini dulunya adalah Eropa.


 “Ada apa dengan kata-kataku?” Tanyaku heran.


 “Dimana kau mendengarnya?” Dai balik bertanya


dengan mata yang menatap penuh selidik.


 “Itu kata-kata yang keluar dari mulutku begitu


saja, bukan karena aku pernah mendengarnya. Memangnya ada apa sih dengan


kata-kataku?” Merasa bahwa Dai bicara berbelit-belit dan membuatku kesal, aku


bicara dengan meninggikan suara.


 “Ti, tidak... hanya saja... perkataanmu


barusan seperti yang pernah kubaca disebuah buku!” Dai tergagap.


 “Dai... kuharap kau tidak menembunyikan


sesuatu yang nantinya merugikanku.”


 “Merugikanmu?”


 “Ya, mau tampangmu bagus atau kau terlihat


baik tetap saja kau laki-laki, jangan-jangan kau berpikiran ngeres karena kudekati tadi, ya?!”


 “Aku tidak berpikir begitu!!!” Tegas Dai.


Aku mendengus dan berjalan


meninggalkannya menuju kembali kerumah tua. Ia mengejar mengikuti langkahku.


 “Mau kemana?” Tanya-nya.


 “Kembali kemarkas DieNeSs, lama-lama berduaan


yang ketiga setan!” Ketusku. Dai tersenyum.


 “Bagaimana kalau malaikat? Malaikat pembawa


cinta!” Ujarnya dengan berseri-seri.


 “Kurang kerjaan malaikat bawa-bawa Cinta, yang


ada juga malaikat pencabut nyawa.”


 “Kok kau jadi tak suka hal yang romantis, ya?!


Padahal biasanya kau selalu saja merona kalau aku begitu padamu.”


 “Ya, masalah hidup telah membuatku begitu.


Sebaliknya, aku justru bisa membuatmu merona dengan mudah!”


 “Mana mungkin...”


 “PLAK! PLAK!”


Aku menampar kedua pipi Dai cukup keras


dan meninggalkan rona kemerahan disana. Dia memekik kesakitan dan agak terkejut


dengan yang kulakukan.


 “Nah, sudah merona, kan?! Makanya jangan


menantangku!” Ujarku santai sambil melalui jalan masuk kemarkas DieNeSs.


.....


Malam berlalu meninggalkan salah satu


momen yang paling kuingat dengan Dai, seandainya saja yang bersamaku malam itu


adalah Noir, mungkin aku akan menggunakan cara lain untuk membuatnya merona.


Pagi hari menyapa, sinar matahari yang


selalu familiar dimataku mengetuk pori-pori yang kedinginan semalam. Pagi ini


aku terbangun lebih dulu dari Fasa, perutku membunyikan alarm tanda lapar dan


akhirnya aku membangunkan Fasa.


 “Kenapa membangunkanku? Kau kan bisa minta


makanan pada Tn. Dai!” Keluh Fasa ketika baru saja bangun dari mimpi-mimpinya.


 “Aku mau jaga imej, masa’ pagi buta seorang


putri sudah ribut minta makan!” kilah ku. Fasa kembali membenamkan dirinya pada


tidur yang nyaman, aku jadi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi keluar dari


kamar itu.


Aku mencari si-bocah tengik, Dai. (kubilang dia bocah karena sebenarnya usiaku


terpaut 180 tahun dengannya). Kulihat Dai tertidur sambil duduk disofa yang


ada disebuah ruangan, wajahnya tampak begitu lelah. Aku mendekatinya, dia


tampak lebih tenang ketika tidur, rasanya senang juga bisa bertemu dengan orang


yang tampan begini. Dai melenguh ketika merasa terganggu karena aku menggeser


kepalanya yang hampir jatuh. Kasihan juga dia, pasti hidupnya terasa berat


karena ibunya sudah tiada dan lagi dia malah bertentangan dengan ayahnya.


Tak lama kemudian ia membuka matanya,


bola mata kelabu itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan retinanya


dengan cahaya. Ia tampak heran dengan keberadaanku didekatnya.


 “Sedang apa kau melihatku begitu?” Tanya-nya


sambil meregangkan tubuh.


 “Tidak ada! Cuma mau tau cara tidur pangeran.”


Jawabku simpel.


 “Oh iya, hari ini kita latihan opera,


sebaiknya kita lekas kesana. Pelatih opera itu dipihak ayahku, gawat kalau


sampai dia memberi tahu yang aneh-aneh.” Dai bergegas bangkit. Aku menangkap


lengannya, memintanya kembali mengahadapku.


 “Kenapa?” Herannya.

__ADS_1


 “Aku lapar!” Jawabku spontan. Siapa peduli dia


akan berpikir apa, perutku sudah memberontak sejak tadi.


 “Oh, maaf, maaf! Aku lupa sama sekali tentang


itu, ayo sekalian ajak temanmu, kita makan bersama!” Sesalnya.


Dia buru-buru mengajak kami sarapan


setelah aku membangunkan Fasa. Kami makan disebuah ruangan yang mirip galeri


tapi katanya itu bukan galeri, Cuma ruangan khusus dirinya ketika ingin


menenangkan diri.


Kami sarapan roti isi pagi ini, padahal


sebenarnya aku rindu sarapan nasi goreng hangat ibuku. Dai memperhatikanku


ketika aku mulai makan, apa yang aneh?


 “Hei, gunakan pisau dan garpu itu untuk makan.


Cara makanmu tidak berkelas!” Bisik Fasa. Jadi masalahnya adalah karena aku


makan pakai tangan secara langsung. Bagiku mereka ini Cuma mempersulit diri


sendiri pada hal sepele.


 “Kenapa Dai? Cara makanku terlalu cantik,


ya?!” Ujarku asal bicara. Fasa mencubitku sedangkan Dai hanya tersenyum asam.


 “Tuan Dai sedang ada tamu, ya?!”


Sebuah suara terdengar dari luar. Aku


tersentak, ini adalah suara yang kukenali, persis suara Noir waktu itu. Dai dan


Fasa ikut terkejut melihatku tiba-tiba bangkit dan membuka pintu. Ketika aku


membuka pintu, orang tadi sudah berjalan pergi dan menghilang dari batas


pandangku.


Apapun itu, aku yakin yang tadi adalah


suara Noir, dia ada disini. Aku menoleh kekanan dan kiri, ingin mengejarnya


tapi tak tau kemana dia pergi.


 “Ada apa Vier? Kenapa kau tiba-tiba begitu?”


Tanya Fasa yang mengahampiriku diikuti Dai.


 “Kurasa tadi aku mendengar suara... Noir!”


Jawabku agak ragu.


 “Noir?” Heran Fasa.


 “Bukankah tadi kalian mendengarnya juga?”


Tanyaku. Kulihat sekilas Dai yang menatap dingin seperti menyembunyikan


sesuatu.


 “Entahlah, aku tak pernah mendengarnya bicara,


jadi tak tau itu dia atau bukan! Dan sebaiknya sekarang juga kita pergi ke


tempat latihan opera!!!” Ujarnya dengan nada bicara agak kasar. Kenapa dia


Kami menuruti Dai untuk segera


meninggalkan markas DieNeSs, Dai mengatakan akan mengantar kami kerumah tulip


saja, dia juga mengatakan tak bisa latihan hari ini karena ada urusan penting.


Setelah berkata demikian dia tak mengatakan apapun lagi, hanya diam begitu


saja.


Kami sampai di rumah tulip, aku tak


berniat menanyakan padanya tentang apa yang terjadi, aku benci orang yang


berubah sikap secara rancu begitu. Dia benar-benar menyembunyikan sesuatu


dariku dan aku akan membongkarnya cepat atau lambat.


Setelah membersihkan diri dan


bersiap-siap dan diantar Fasa menuju tempat latihan, ia langsung pulang setelah


mengantar. Aku melangkahkan kaki memasuki tempat ruang latihan yang megah itu,


meliihat orang-orang yang biasa kutemui saat latihan. Dan gadis-gadis agak


kecewa karena pelatih memberitahu Dai tak bisa latihan hari ini.


Aku berjalan menuju ruanganku yang


berada dilantai dua (semua anggota inti


opera memiliki ruangan sendiri-sendiri). Dan saat aku mencapai puncak


tangga, aku melihat sosok yang kutunggu-tunggu, Noir!


Aku tersenyum cerah dan berjalan menuju


kearahnya, tapi kemudian dia berlalu begitu saja bahkan seolah tidak melihatku


disana. Aku terkejut dan agak kecewa, dan dengan kesal aku menarik jubahnya


membuat langkahnya terhenti.


Noir balas menangkap lenganku yang


memegang jubahnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda, entah kenapa ada yang


janggal, seolah-olah yang berdiri didepanku adalah orang lain. Atmosfer Noir


yang ini tidak seperti yang menolongku digaleri istana, Noir yang ini seperti


yang kutemui pertama kali di perpustakaan, rasanya merinding.


 “Kau...?”Aku tak meneruskan perkataanku karena


tiba-tiba Noir memegang dua sisi wajahku. Aku bingung dan hanya mengernyitkan


dahiku. Itu tak berlangsung lama karena setelahnya dia melepaskannya dan pergi


begitu saja menuju ketempat pemain opera lain berkumpul.


Aku tak jadi pergi keruanganku dan


malah mengikuti Noir. Aku terus memperhatikannya, dan sekarang mengakui bahwa


aku jatuh cinta pada ‘si pria bertopeng tengkorak’. Dan tentunya kau tak akan


salah mengenali orang yang kau cintai, kan?! Dari situlah aku yakin bahwa ada

__ADS_1


dua orang yang memakai topeng tengkorak dan jubah bergantian menjadi Noir.


Hari ini adalah latihan adeganku dengan


Noir, ceritanya dia kembali mengunjungi putri Monochrome yang telah bersama


White Prince untuk berusaha memiliki sang putri kembali. Disaat seperti itu aku


punya banyak kesempatan untuk lebih memperhatikan Noir dan mencari perbedaan


diantara Noir yang ini dengan yang menolongku.


Latihan selesai, Aku menelpon Fasa


dengan ponsel berbentuk cincin agar menjemputku, disamping itu aku juga ingin


segera menceritakan sesuatu padanya. Sekitar 25 menit aku menunggu dan akhirnya


Fasa datang.


 “Aku harus menceritakan sesuatu Padamu!”


Ujarku antusias.


 “Tentang apa?” tak kalah antusiasnya, Fasa pun


seperti tak sabar mendengar ceritaku.


 “Tadi Noir datang latihan, dan aku merasa ada


yang janggal diantara Noir yang tadi dengan yang menolongku saat di istana.”


 “Ada yang janggal? Maksudmu, kau menganggap


ada dua Noir?”


 “Tepat! Itulah yang kupikirkan. Aku sudah


memperhatikan dari tingkah laku bahkan sentuhannya. Yang menolongku itu postur


tubuhnya lebih berisi, gerakannya halus dan tenang, sentuhan tangannya juga


lebih lembut. Sedangkan yang tadi, posturnya lebih langsing, aku bisa merasakan


jari-jari tangannya yang ramping dan panjang tapi dia berprilaku dingin dan


agak emosional. Bagaimana, bukankah itu terlalu aneh?” Ceritaku.


Fasa mengangguk-angguk selama aku


bercerita, dia benar-benar menyimak ceritaku.


 “Kalau memang seperti yang kau bilang, apa tak


ada orang lain yang menyadarinya?” Tanya Fasa. Aku pun berpikir lagi, apa yang


Fasa bilang ada benarnya juga, apa hanya aku yang merasa bahwa Noir ada dua


orang?


 “Entahlah, kurasa mereka tak terlalu


memperhatikan, karena kebanyakan dari mereka tak mempedulikan kehadirannya.”


Komentarku.


 “Kalau itu pendapatmu, aku tak bisa langsung


menyalahkannya karena bisa saja yang kau bicarakan itu benar.” Sambung Fasa.


Aku menghela napas berat, kulayangkan


pandanganku keluar jendela. Kami melewati taman biotik, lalu mataku menangkap


objek yang langsung mengambil alih seluruh perhatianku.


Aku melihat Dai sedang duduk sendirian


disana, tapi kami hanya melewatinya. Kemudian setelah kami melewati taman, aku


melihat mobil tengkorak milik Noir terparkir tanpa tuan tak jauh dari taman


tadi. Aku tak terlalu memikirkannya, apa mungkin Noir dan Dai bertemu untuk


suatu urusan.


.....


Kami sampai dirumah tulip, aku


iseng-iseng melihat lemari buku milik Vier asli, disana banyak Novel-novel


karya DarkNight, ya katanya Vier sangat mengidolakan DarkNight.


Ada banyak Novel dengan berbagai judul


bahkan buku biografi DarkNight, hm... rasanya aku tersanjung sekali mengetahui


DarkNight adalah diriku. Kemudian mataku melihat sebuah buku yang paling


menarik diantara yang lain, buku itu berjudul ‘2200 & Civilization by DarkNight’


Kalau tak salah 2200 adalah tepat pada


tahun ini. Karena penasaran, aku mengambil buku itu dan membuka halaman


pertamanya, disana terdapat kata awal penulis.


“Disaat kebebasan dirantai dalam aturan


kompleks, setiap konstitusi adalah konkret.  Hukum adalah hukum, alam semesta telah menentukan yang kuatlah


penguasa.”


Aku terpaku dengan tulisan itu,


kata-kata seperti itu jelas bukan gayaku dan itu bukan sesuatu yang kuyakini. Bagiku


hukum rimba hanya berlaku bagi hewan, karena itulah kurasa tulisan ini hanyalah


kebohongan.


 “Kata-kata itulah awal yang mengubah semua


ini!” Tiba-tiba Fasa berdiri dibelakangku. “Itu yang jadi pedoman Yaza Vumi!”


katanya.


 “Sungguh, aku tak akan pernah mengatakan hal


sebodoh dan sekeji ini sampai kapanpun. Ini bukan sesuatu yang kupercayai dan


ini juga bukan gaya menulisku.” Tegasku.


 “Entahlah, memang hanya buku itu yang dicetak


dengan gaya yang berbeda dengan karya DarkNight yang lain.” Ujar Fasa.


 “Hmf, hahaha... dasar maniak! Yang benar saja,


dunia ini dipimpin oleh maniak novel begitu, bodoh sekali!” Aku tertawa tapi


dalam hati itu menyakitkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2