
“Vier... kata-katamu barusan...” Entah karena
apa Dai terus terpaku. Aku hanya mengatakan hal yang biasa kukatakan, lagi pula
mustahil dia tidak mengerti bahasa inggris. Menurut pendapatku distrik utama
tempatku tinggal sekarang ini dulunya adalah Eropa.
“Ada apa dengan kata-kataku?” Tanyaku heran.
“Dimana kau mendengarnya?” Dai balik bertanya
dengan mata yang menatap penuh selidik.
“Itu kata-kata yang keluar dari mulutku begitu
saja, bukan karena aku pernah mendengarnya. Memangnya ada apa sih dengan
kata-kataku?” Merasa bahwa Dai bicara berbelit-belit dan membuatku kesal, aku
bicara dengan meninggikan suara.
“Ti, tidak... hanya saja... perkataanmu
barusan seperti yang pernah kubaca disebuah buku!” Dai tergagap.
“Dai... kuharap kau tidak menembunyikan
sesuatu yang nantinya merugikanku.”
“Merugikanmu?”
“Ya, mau tampangmu bagus atau kau terlihat
baik tetap saja kau laki-laki, jangan-jangan kau berpikiran ngeres karena kudekati tadi, ya?!”
“Aku tidak berpikir begitu!!!” Tegas Dai.
Aku mendengus dan berjalan
meninggalkannya menuju kembali kerumah tua. Ia mengejar mengikuti langkahku.
“Mau kemana?” Tanya-nya.
“Kembali kemarkas DieNeSs, lama-lama berduaan
yang ketiga setan!” Ketusku. Dai tersenyum.
“Bagaimana kalau malaikat? Malaikat pembawa
cinta!” Ujarnya dengan berseri-seri.
“Kurang kerjaan malaikat bawa-bawa Cinta, yang
ada juga malaikat pencabut nyawa.”
“Kok kau jadi tak suka hal yang romantis, ya?!
Padahal biasanya kau selalu saja merona kalau aku begitu padamu.”
“Ya, masalah hidup telah membuatku begitu.
Sebaliknya, aku justru bisa membuatmu merona dengan mudah!”
“Mana mungkin...”
“PLAK! PLAK!”
Aku menampar kedua pipi Dai cukup keras
dan meninggalkan rona kemerahan disana. Dia memekik kesakitan dan agak terkejut
dengan yang kulakukan.
“Nah, sudah merona, kan?! Makanya jangan
menantangku!” Ujarku santai sambil melalui jalan masuk kemarkas DieNeSs.
.....
Malam berlalu meninggalkan salah satu
momen yang paling kuingat dengan Dai, seandainya saja yang bersamaku malam itu
adalah Noir, mungkin aku akan menggunakan cara lain untuk membuatnya merona.
Pagi hari menyapa, sinar matahari yang
selalu familiar dimataku mengetuk pori-pori yang kedinginan semalam. Pagi ini
aku terbangun lebih dulu dari Fasa, perutku membunyikan alarm tanda lapar dan
akhirnya aku membangunkan Fasa.
“Kenapa membangunkanku? Kau kan bisa minta
makanan pada Tn. Dai!” Keluh Fasa ketika baru saja bangun dari mimpi-mimpinya.
“Aku mau jaga imej, masa’ pagi buta seorang
putri sudah ribut minta makan!” kilah ku. Fasa kembali membenamkan dirinya pada
tidur yang nyaman, aku jadi tak bisa berbuat apa-apa dan pergi keluar dari
kamar itu.
Aku mencari si-bocah tengik, Dai. (kubilang dia bocah karena sebenarnya usiaku
terpaut 180 tahun dengannya). Kulihat Dai tertidur sambil duduk disofa yang
ada disebuah ruangan, wajahnya tampak begitu lelah. Aku mendekatinya, dia
tampak lebih tenang ketika tidur, rasanya senang juga bisa bertemu dengan orang
yang tampan begini. Dai melenguh ketika merasa terganggu karena aku menggeser
kepalanya yang hampir jatuh. Kasihan juga dia, pasti hidupnya terasa berat
karena ibunya sudah tiada dan lagi dia malah bertentangan dengan ayahnya.
Tak lama kemudian ia membuka matanya,
bola mata kelabu itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan retinanya
dengan cahaya. Ia tampak heran dengan keberadaanku didekatnya.
“Sedang apa kau melihatku begitu?” Tanya-nya
sambil meregangkan tubuh.
“Tidak ada! Cuma mau tau cara tidur pangeran.”
Jawabku simpel.
“Oh iya, hari ini kita latihan opera,
sebaiknya kita lekas kesana. Pelatih opera itu dipihak ayahku, gawat kalau
sampai dia memberi tahu yang aneh-aneh.” Dai bergegas bangkit. Aku menangkap
lengannya, memintanya kembali mengahadapku.
“Kenapa?” Herannya.
__ADS_1
“Aku lapar!” Jawabku spontan. Siapa peduli dia
akan berpikir apa, perutku sudah memberontak sejak tadi.
“Oh, maaf, maaf! Aku lupa sama sekali tentang
itu, ayo sekalian ajak temanmu, kita makan bersama!” Sesalnya.
Dia buru-buru mengajak kami sarapan
setelah aku membangunkan Fasa. Kami makan disebuah ruangan yang mirip galeri
tapi katanya itu bukan galeri, Cuma ruangan khusus dirinya ketika ingin
menenangkan diri.
Kami sarapan roti isi pagi ini, padahal
sebenarnya aku rindu sarapan nasi goreng hangat ibuku. Dai memperhatikanku
ketika aku mulai makan, apa yang aneh?
“Hei, gunakan pisau dan garpu itu untuk makan.
Cara makanmu tidak berkelas!” Bisik Fasa. Jadi masalahnya adalah karena aku
makan pakai tangan secara langsung. Bagiku mereka ini Cuma mempersulit diri
sendiri pada hal sepele.
“Kenapa Dai? Cara makanku terlalu cantik,
ya?!” Ujarku asal bicara. Fasa mencubitku sedangkan Dai hanya tersenyum asam.
“Tuan Dai sedang ada tamu, ya?!”
Sebuah suara terdengar dari luar. Aku
tersentak, ini adalah suara yang kukenali, persis suara Noir waktu itu. Dai dan
Fasa ikut terkejut melihatku tiba-tiba bangkit dan membuka pintu. Ketika aku
membuka pintu, orang tadi sudah berjalan pergi dan menghilang dari batas
pandangku.
Apapun itu, aku yakin yang tadi adalah
suara Noir, dia ada disini. Aku menoleh kekanan dan kiri, ingin mengejarnya
tapi tak tau kemana dia pergi.
“Ada apa Vier? Kenapa kau tiba-tiba begitu?”
Tanya Fasa yang mengahampiriku diikuti Dai.
“Kurasa tadi aku mendengar suara... Noir!”
Jawabku agak ragu.
“Noir?” Heran Fasa.
“Bukankah tadi kalian mendengarnya juga?”
Tanyaku. Kulihat sekilas Dai yang menatap dingin seperti menyembunyikan
sesuatu.
“Entahlah, aku tak pernah mendengarnya bicara,
jadi tak tau itu dia atau bukan! Dan sebaiknya sekarang juga kita pergi ke
tempat latihan opera!!!” Ujarnya dengan nada bicara agak kasar. Kenapa dia
Kami menuruti Dai untuk segera
meninggalkan markas DieNeSs, Dai mengatakan akan mengantar kami kerumah tulip
saja, dia juga mengatakan tak bisa latihan hari ini karena ada urusan penting.
Setelah berkata demikian dia tak mengatakan apapun lagi, hanya diam begitu
saja.
Kami sampai di rumah tulip, aku tak
berniat menanyakan padanya tentang apa yang terjadi, aku benci orang yang
berubah sikap secara rancu begitu. Dia benar-benar menyembunyikan sesuatu
dariku dan aku akan membongkarnya cepat atau lambat.
Setelah membersihkan diri dan
bersiap-siap dan diantar Fasa menuju tempat latihan, ia langsung pulang setelah
mengantar. Aku melangkahkan kaki memasuki tempat ruang latihan yang megah itu,
meliihat orang-orang yang biasa kutemui saat latihan. Dan gadis-gadis agak
kecewa karena pelatih memberitahu Dai tak bisa latihan hari ini.
Aku berjalan menuju ruanganku yang
berada dilantai dua (semua anggota inti
opera memiliki ruangan sendiri-sendiri). Dan saat aku mencapai puncak
tangga, aku melihat sosok yang kutunggu-tunggu, Noir!
Aku tersenyum cerah dan berjalan menuju
kearahnya, tapi kemudian dia berlalu begitu saja bahkan seolah tidak melihatku
disana. Aku terkejut dan agak kecewa, dan dengan kesal aku menarik jubahnya
membuat langkahnya terhenti.
Noir balas menangkap lenganku yang
memegang jubahnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda, entah kenapa ada yang
janggal, seolah-olah yang berdiri didepanku adalah orang lain. Atmosfer Noir
yang ini tidak seperti yang menolongku digaleri istana, Noir yang ini seperti
yang kutemui pertama kali di perpustakaan, rasanya merinding.
“Kau...?”Aku tak meneruskan perkataanku karena
tiba-tiba Noir memegang dua sisi wajahku. Aku bingung dan hanya mengernyitkan
dahiku. Itu tak berlangsung lama karena setelahnya dia melepaskannya dan pergi
begitu saja menuju ketempat pemain opera lain berkumpul.
Aku tak jadi pergi keruanganku dan
malah mengikuti Noir. Aku terus memperhatikannya, dan sekarang mengakui bahwa
aku jatuh cinta pada ‘si pria bertopeng tengkorak’. Dan tentunya kau tak akan
salah mengenali orang yang kau cintai, kan?! Dari situlah aku yakin bahwa ada
__ADS_1
dua orang yang memakai topeng tengkorak dan jubah bergantian menjadi Noir.
Hari ini adalah latihan adeganku dengan
Noir, ceritanya dia kembali mengunjungi putri Monochrome yang telah bersama
White Prince untuk berusaha memiliki sang putri kembali. Disaat seperti itu aku
punya banyak kesempatan untuk lebih memperhatikan Noir dan mencari perbedaan
diantara Noir yang ini dengan yang menolongku.
Latihan selesai, Aku menelpon Fasa
dengan ponsel berbentuk cincin agar menjemputku, disamping itu aku juga ingin
segera menceritakan sesuatu padanya. Sekitar 25 menit aku menunggu dan akhirnya
Fasa datang.
“Aku harus menceritakan sesuatu Padamu!”
Ujarku antusias.
“Tentang apa?” tak kalah antusiasnya, Fasa pun
seperti tak sabar mendengar ceritaku.
“Tadi Noir datang latihan, dan aku merasa ada
yang janggal diantara Noir yang tadi dengan yang menolongku saat di istana.”
“Ada yang janggal? Maksudmu, kau menganggap
ada dua Noir?”
“Tepat! Itulah yang kupikirkan. Aku sudah
memperhatikan dari tingkah laku bahkan sentuhannya. Yang menolongku itu postur
tubuhnya lebih berisi, gerakannya halus dan tenang, sentuhan tangannya juga
lebih lembut. Sedangkan yang tadi, posturnya lebih langsing, aku bisa merasakan
jari-jari tangannya yang ramping dan panjang tapi dia berprilaku dingin dan
agak emosional. Bagaimana, bukankah itu terlalu aneh?” Ceritaku.
Fasa mengangguk-angguk selama aku
bercerita, dia benar-benar menyimak ceritaku.
“Kalau memang seperti yang kau bilang, apa tak
ada orang lain yang menyadarinya?” Tanya Fasa. Aku pun berpikir lagi, apa yang
Fasa bilang ada benarnya juga, apa hanya aku yang merasa bahwa Noir ada dua
orang?
“Entahlah, kurasa mereka tak terlalu
memperhatikan, karena kebanyakan dari mereka tak mempedulikan kehadirannya.”
Komentarku.
“Kalau itu pendapatmu, aku tak bisa langsung
menyalahkannya karena bisa saja yang kau bicarakan itu benar.” Sambung Fasa.
Aku menghela napas berat, kulayangkan
pandanganku keluar jendela. Kami melewati taman biotik, lalu mataku menangkap
objek yang langsung mengambil alih seluruh perhatianku.
Aku melihat Dai sedang duduk sendirian
disana, tapi kami hanya melewatinya. Kemudian setelah kami melewati taman, aku
melihat mobil tengkorak milik Noir terparkir tanpa tuan tak jauh dari taman
tadi. Aku tak terlalu memikirkannya, apa mungkin Noir dan Dai bertemu untuk
suatu urusan.
.....
Kami sampai dirumah tulip, aku
iseng-iseng melihat lemari buku milik Vier asli, disana banyak Novel-novel
karya DarkNight, ya katanya Vier sangat mengidolakan DarkNight.
Ada banyak Novel dengan berbagai judul
bahkan buku biografi DarkNight, hm... rasanya aku tersanjung sekali mengetahui
DarkNight adalah diriku. Kemudian mataku melihat sebuah buku yang paling
menarik diantara yang lain, buku itu berjudul ‘2200 & Civilization by DarkNight’
Kalau tak salah 2200 adalah tepat pada
tahun ini. Karena penasaran, aku mengambil buku itu dan membuka halaman
pertamanya, disana terdapat kata awal penulis.
“Disaat kebebasan dirantai dalam aturan
kompleks, setiap konstitusi adalah konkret. Hukum adalah hukum, alam semesta telah menentukan yang kuatlah
penguasa.”
Aku terpaku dengan tulisan itu,
kata-kata seperti itu jelas bukan gayaku dan itu bukan sesuatu yang kuyakini. Bagiku
hukum rimba hanya berlaku bagi hewan, karena itulah kurasa tulisan ini hanyalah
kebohongan.
“Kata-kata itulah awal yang mengubah semua
ini!” Tiba-tiba Fasa berdiri dibelakangku. “Itu yang jadi pedoman Yaza Vumi!”
katanya.
“Sungguh, aku tak akan pernah mengatakan hal
sebodoh dan sekeji ini sampai kapanpun. Ini bukan sesuatu yang kupercayai dan
ini juga bukan gaya menulisku.” Tegasku.
“Entahlah, memang hanya buku itu yang dicetak
dengan gaya yang berbeda dengan karya DarkNight yang lain.” Ujar Fasa.
“Hmf, hahaha... dasar maniak! Yang benar saja,
dunia ini dipimpin oleh maniak novel begitu, bodoh sekali!” Aku tertawa tapi
dalam hati itu menyakitkan.
__ADS_1
*****