Break The Secret

Break The Secret
5) tujuan


__ADS_3

 


 


 “No... ir... apa mungkin kau... lebih muda


dariku?” Tanyaku begitu Noir melepaskan tanganku dan kembali berdiri. Noir


memberiku kertas lagi, kali ini tanda tanya, kurasa dia tak mengerti maksud


perkataanku tadi.


 “Maksudku, biasanya kan yang lebih muda cium


tangan yang lebih tua kalau mau pamit, apa maksudmu begitu?” Tanyaku dengan


bodohnya.


Dari balik topeng itu Noir menggeleng


lalu pergi setelah membungkuk padaku. Aku menjadi penasaran pada Noir, hari


ini... rasanya aku merasa ada yang berbeda dengannya dari pertemuanku yang


pertama dan kedua, apa yang janggal? Aku hanya merasa aneh.


.....


Malam setelah pementasan aku diantar


Dai karena hari sudah larut, Fasa pun tak bisa dihubungi. Didalam mobil Dai aku


hanya terdiam sunyi, sebetulnya aku masih mengingat semua kejadian dengan Noir


tadi. Menurutku Noir sangatlah menarik walaupun dia bersembunyi dibalik topeng.


 “Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya Dai


tiba-tiba.


 “Tidak!”


 “Kau marah padaku?”


 “Tidak!”


 “Lalu kenapA sejak tadi hanya diam dan buang


muka keluar jendela?”


 “Dai, kau selalu saja begitu!”


Aku yang sejak tadi menjawab tanpa


menoleh pun kemudian berbalik dan menatap Dai. Ia tampak kebingungan.


 “Kuberi tahu, ya... kalau kau tak menyukai


seseorang jangan bersikap seolah kau sangat mempedulikannya, sikapmu yang


seperti itu hanya akan membuat orang-orang berharap padamu sedangkan kau


sendiri sebenarnya tidak menggubrisnya!!!” Ocehku.


 “Aku memang peduli, karena kau temanku!” Ujar


Dai sambil terus mengendarai mobilnya.


 “Yah, terserah kau lah. Kurasa kau memang suka


dikejar banyak gadis, seperti laki-laki pada umumnya.” Kataku dengan ketus.


Aku sampai didepan rumah tulip, aku


turun dari mobil Dai dan mengucapkan sampai jumpa juga terima kasih. Ketika aku


menaiki tangga, Dai memanggilku lagi lalu berkata;


 “Aku tak tau apa yang membuatmu kian berbeda,


tapi... aku bukan orang seperti yang kau bilang tadi. Maaf, jika kau benci


sikapku!” Katanya lalu pergi. Terserahlah! Yang  jelas aku mengantuk.


Malam ini angin bersenandung sunyi


seolah mengetuk kaca jendela. Tapi ada hal yang selalu kupertanyakan


dikepalaku, ‘mengapa aku terus


membayangkan Noir?’ Aku merasa... jatuh hati pada seseorang itu seperti


musibah, kau tak akan tahu kapan dan pada siapa itu akan datang.


3 hari kemudian


Aku agak bosan, ini sudah hampir seminggu


aku berada di tahun 2200, aku sudah tau misiku tapi aku bahkan tak punya secuil


pun gambaran tentangnya. Dan yang paling membuatku sedih adalah... aku rindu


ibuku!


Seharian aku duduk melamun di meja


trapesium sambil memandang keluar jendela karena  hari ini tak ada latihan opera. Lagi pula aku


bingung, kalau dunia yang seperti ini disebabkan olehku dan aku bertanggung


jawab atasnya, kenapa aku tak punya sedikit pun kuasa untuk memulai misiku.


Di sela-sela lamunanku, Fasa datang


kearahku dengan cangkir teh yang sepertinya ia siapkan untukku. Wajah mungilnya


berubah masam ketika melihatku berkali-kali menghela napas tanpa harapan.


 “Sebenarnya ada apa?” Tanyanya agak cemas.


 “Tak ada! Aku hanya merasa tak berguna.”


Jawabku tanpa menoleh. Aku kembali menghembuskan napas putus asa.


 “Sudahlah, jangan begitu! Segala yang besar


diawali dengan sesuatu yang kecil, kan?!” Fasa tersenyum sambil menyuguhkan teh


untukku. Rambutnya yang pekat berkilau terkena sinar mentari yang masuk lewat


jendela.


 “Terima kasih! Kau sungguh teman yang baik,


kurasa Vier sangat beruntung memiliki teman sepertimu!” Komentarku. Fasa ikut


duduk disampingku dan melepas pandangan keluar jendela.


 “Vier... dia seperti bunga yang berduri.” Fasa


memutar-mutar telunjuknya dimeja. “Dia tumbuh dan mekar, terus berkembang


semakin indah dan jadi idola... akan tetapi, dia seperti diselimuti duri...


sangat tajam dan kasar, ucapan dan tutur katanya begitu!” Ceritanya.


 “Tapi


kalau dia sebegitu kasarnya, kenapa kau terus tinggal bersamanya?” Tanyaku


penasaran.


 “Dia yang memintaku, satu-satunya teman yang


bertahan dengan sikapnya, dia memang kasar pada orang lain dan kadang padaku


juga. Tapi pada Dai... dia bersikap begitu manis.”


Fasa tampak sendu, sepertinya dia terus


terbayang Vier yang asli. Kasihan juga Fasa, biar bagaimanapun sikap Vier


padanya, yang namanya teman tetaplah teman. Aku tak suka melihat Fasa seperti


ini, mungkin sebaiknya aku mengajaknya keluar.


 “Fasa, aku ingin ponsel berbentuk cincin

__ADS_1


seperti punyamu itu lho!” Aku memindahkan topik pembicaraan.


 “Ini? Hm, apa kau mau membelinya bersamaku?”


Tanya Fasa antusias. Aku mengangguk dengan girang, tentu itu berhasil mengubah


raut wajah masam Fasa kembali ceria.


Hari itu aku dan Fasa membeli banyak


barang yang akan kami butuhkan, pembayaran diberbagai tempat perbelanjaan tidak


memakai uang tunai, mereka menggunakan semacam kartu yang memiliki kode akses.


Dan siapa sangka, berpropesi sebagai pemain opera memiliki penghasilan yang


sangat tinggi.


Selesai belanja, kami segera kembali


kerumah. Saat kami hendak menaiki tangga, ada sebuah surat yang diselipkan


dikotak surat dekat tangga. Fasa mengambilnya lalu menunjukkannya padaku.


Undangan Pesta


Kerajaan


Tgl : 12 Mei 2200


waktu : 7.30 pm


Kepada putra putri Adam yang dikaruniai


darah biru, juga kepada mereka yang terpilih sebagai 99 bintang yang benderang.


Kunjungilah Kastil yang disinari rembulan untuk sekedar menuang air.


Oleh : penerus Ibu Pembangunan


Begitulah yang tertulis disurat, itu


semacam undangan resmi karena ada stempel emas kerajaan. Tapi yang benar saja,


untuk mengirim undangan pun mereka masih saja menggunakan bahasa yang puitis


begitu.


 “Kepada siapa undangan ini ditunjukkan? Aku


atau kau?” Tanyaku.


 “Ya, jelas untukmu lah, aku bukan kaum darah


biru juga tidak terpilih sebagai 99 bintang!” Jawab Fasa.


 “Darah biru? Kenapa tak sekalian darah hijau


saja?” Ujarku dengan nada mengejek.


 “Hei, kau ini! Darah biru itu umpama bagi para


bangsawan, sedangkan 99 bintang itu para pemain opera.”


 “Ini lagi, bangsawan. Singkatan bangsa hewan,


yaaaa... hahaha...”


 “Sudahlah, hentikan cemoohanmu itu, ayo


masuk!” Ajak Fasa dengan nada kesal.


“Aku tak mungkin pergi ke pesta itu


sendirian, apa boleh tidak datang?” Tanyaku pada Fasa yang sedang menyusun


barang yang kami beli ditempat masing-masing.


 “Biasanya orang yang datang ke pesta itu


diizinkan membawa pendamping, kalau kau mau, aku bisa jadi pendampingmu!” Jawab


Fasa.


 “MAU!!!” Seruku dengan riang. Fasa tertawa


dengan tingkahku.


oleh Fasa, katanya itu kebiasaan Vier yang asli kalau dapat undangan pesta


kerajaan yang diadakan setahun sekali. Vier akan menjadi yang paling glamour dan akan jadi pusat perhatian


semua orang.


Tapi tentu saja aku tidak seperti itu,


bajunya kudesain sendiri dengan desain yang sederhana tapi unik, lagi pula aku


pribadi benci ditatap banyak mata yang entah berpikir apa tentangku. Esok


harinya, baju selesai dibuat dan dikirim pada kami, aku sengaja membuat bajuku


dan Fasa sewarna meskipun beda desain, aku suka pakaian berpasangan begitu.


.....


Hari yang ditunggu pun tiba, aku dan


Fasa memakai gaun berwarna ungu gelap, desain rok-nya persis bunga tulip mekar


yang dibalik menghadap kebawah, sedangkan terusan atasnya terdapat hiasan pita


berwarna biru dibahu kanan dengan kerah yang mencapai leher juga berlengan


panjang. Intinya desain baju yang tertutup dan jauh dari kata seksi.


Kami berangkat dari rumah tulip, masih


belum memakai topeng yang selaras dengan baju kami. Topeng  ini seperti topeng pesta pada umumnya, ada


hiasan bulu gagak disisi kiri topengku sedangkan hiasan topeng Fasa adalah


sebelah sayap kupu-kupu.


Suasana aula istana sudah ramai ketika


kami sampai, semuanya adalah pria dan wanita dengan berbagai kostum pesta yang


unik. Aku mendapat kesan klasik dari desain dan suasana pesta ini, rasanya


betul-betul didunia yang sesuai tipeku.


 “Vier, kau belum memakai topengmu?” Suara


dalam dan bergetar yang familiar itu terdengar ketika kami hendak masuk keruang


persta. Aku menoleh, dan siapa lagi kalau bukan si-White Prince alias Dai.


Dia memakai baju berbahan lotto yang


dua kancing atasnya terbuka menampakkan otot dadanya, luarnya dilapisi jas panjang


tebal yang terdapat beberapa hiasan mewah juga celana dasar rapi dan sepatu


berkilau. Semua yang dipakainya berwarna putih kecuali topengnya yang berwarna


biru langit dengan larik merah tua.


 “Wah, pakaianmu semakin berani saja, Dai!


Kenapa tak sekalian kau buka saja semua kancingnya biar Udel-mu sejuk?!” Sindirku.


“Udel?”


Dai mengernyitkan dahinya.


“Pusarrr.” Kataku agak lantang.


Dai terpaku dengan bibir yang sedikit


terbuka, apa jangan-jangan aku mengatakan sesuatu yang salah lagi? Ya, ampun


mulutku!


 “Hei, Kata-katamu terlalu vulgar, bagaimana


kalau ada yang mendengarnya?” Bisik Fasa.

__ADS_1


 “Benarkah?” Aku menyesalinya.


 “Ngg... ngomong-ngomong kok kau langsung tau


kalau ini aku? Padahal aku sudah pakai topeng?!” Tanya Dai sambil berusaha


menutup dada dengan jasnya.


 “Haha, topeng Batman begitu. Balita sekalipun


pasti langsung mengenalinya!” Gumamku.  “Oh iya, kami duluan, ya!” Lanjutku sambil memakai topeng.


 “Hei,” Fasa menegurku ketika kami sudah berada


diruang pesta. “Kau tak boleh begitu pada pangeran!”


 “Siapa yang pangeran?”


 “Orang yang seenaknya kau komentari tadi,


siapa lagi kalau bukan Tn. Dai?!”


  Mendengar perkataan Fasa aku langsung tercekat. Jadi selama ini dia


pangeran sungguhan? Jadi dia anaknya Yaza Vumi? Jadi dia... ya ampun! Kenapa


aku bisa tak menyadarinya?


 “Apa menurutmu sebaiknya aku minta maaf


padanya?” Tanyaku dengan tatapan kosong.


 “Itu akan memalukan, sudahlah! Nikmati saja


pestanya!” Jawab Fasa sambil memberikan segelas minuman yang ia ambil dari


pelayan-pelayan yang lewat dengan nampan berisi minuman dan makanan.


Yaza Vumi memasuki ruangan pesta dengan


dua putrinya yang cantik, suara musik orkestra dimainkan mengiringi langkah


sang Yaza Vumi. Ia berhenti tepat diatas tangga, dan seketika musik berhenti


dimainkan. Lalu ia berseru dengan lantang.


 “LONG LIVE, DARKNIGHT”


Setelah dia berseru demikian


orang-orang mengikuti seruannya beberapa kali. Lalu Yaza Vumi membungkuk


memberi sambutan pada para tamu sebelum menuruni tangga dan duduk dikursi yang


sudah disiapkan untuknya.


Tak lama kemudian Dai datang dan ikut


duduk disamping Yaza Vumi. Pakaiannya agak berbeda, dia memakai kerah leher


tinggi sampai menutup separuh leher. Siapa sangka dia begitu peduli pada


komentar orang lain tentang penampilannya.


 “Putri Monochrome!”


Aku terkejut dengan panggilan dari sang


Yaza Vumi, apa dia marah karena aku memandangi anaknya dengan tatapan


meremehkan? Tapi kucoba bersikap tenang dan menanggapi panggilan itu dengan


menghampirinya penuh hormat.


 “Dansa akan dimulai sebentar lagi.” Ujarnya


sambil bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan padaku. Ini ajakan dansa,


tapi aku tak mau dansa dengan bapak-bapak begini. Peduli setan soal dia raja atau apa.


 “Ayah, bolehkah aku saja yang berdansa


dengannya? Kurasa dia sedikit canggung untuk dapat berhadapan dengan ayah!”


Sela Dai. Ini lagi, apa bedanya ayah dan anak sama bejad nya.


 “Maaf, yang mulia. Sepertinya pesta kali ini


saya tak dapat berdansa dengan siapapun. Pinggang saya bermasalah karena posisi


tidur saya tidak baik semalam!” aku memberi alasan sambil mebungkuk sopan.


Yaza Vumi tersenyum dan kembali duduk,


sepertinya dia tak mempermasalahkan hal tersebut. Aku kembali kesisi Fasa yang


sejak tadi mengamatiku.


Yang kuketahui dari pertemuan jarak


dekatku dengan Yaza Vumi barusan adalah bahwa dia orang yang simpel dan


rasional. Dan dibalik sikap ramahnya dia menyimpan kebengisan yang keji, aku


bisa melihat dari tatapan matanya yang begitu yakin juga mendiskriminasi


siapapun yang menatapnya.


Beberapa saat setelah berjalannya


pesta, aku ingin ketoilet, mungkin karena terlalu banyak minum. Aku bertanya


pada pelayan dan salah satu pelayan wanitanya berbaik hati mengantarku sampai


toilet.


Setelah panggilan alam selesai, aku


berniat kembali, pelayan wanita itu juga sudah pergi lebih dulu. Tapi disudut lorong


ketika aku hendak ke ruang pesta, aku mendengar percakapan yang menarik


perhatianku.


 “Kita punya kesempatan?” Tanya sebuah suara


lelaki yang terdengar berat.


 “Jangan sekarang, katakan pada yang lain!”


Sambung suara lainnya yang bernada tinggi. Aku tak dapat melihat wajah mereka.


 “Bersabar memang lebih baik, rencana yang kita


susun sedemikian rupa tak boleh gagal. Kau benar, kalau kita menyusup sekarang,


kita akan ketahuan.”


 “Yang penting tujuan utama kita satu, yaitu


merobohkan pillar-pillar yang menguatkan kekuasaan raja setan itu!”


Suara kedua orang itu terdengar samar,


lama kelamaan suaranya makin pelan. Kupikir aku harus lebih dekat untuk dapat


mendengar lebih jelas. Jadi perlahan aku melangkah kearah sumber suara itu,


lagi dan lagi, selangkah demi selangkah. Tapi,


 “TAP”


Seseorang meraih lenganku dengan kasar.


Aku menoleh dengan perasaan takut, dan sungguh membuatku terkejut mengetahui


yang memergoki aku adalah Dai.


Matanya menatap tajam dan dingin, itu


mata seorang psikopat. Dia mencengkram kuat lenganku, aku bisa merasakan


kemarahannya. Dan yang paling membuatku merinding sampai merasa seperti ikan


dipenggorengan adalah ketika dengan gigi yang beradu menimbulkan bunyi


bergerat, dia berkata;

__ADS_1


 “Jangan menarik simpul tali yang tidak kau


pahami, atau kau akan mati terjerat olehnya!”


__ADS_2