
“No... ir... apa mungkin kau... lebih muda
dariku?” Tanyaku begitu Noir melepaskan tanganku dan kembali berdiri. Noir
memberiku kertas lagi, kali ini tanda tanya, kurasa dia tak mengerti maksud
perkataanku tadi.
“Maksudku, biasanya kan yang lebih muda cium
tangan yang lebih tua kalau mau pamit, apa maksudmu begitu?” Tanyaku dengan
bodohnya.
Dari balik topeng itu Noir menggeleng
lalu pergi setelah membungkuk padaku. Aku menjadi penasaran pada Noir, hari
ini... rasanya aku merasa ada yang berbeda dengannya dari pertemuanku yang
pertama dan kedua, apa yang janggal? Aku hanya merasa aneh.
.....
Malam setelah pementasan aku diantar
Dai karena hari sudah larut, Fasa pun tak bisa dihubungi. Didalam mobil Dai aku
hanya terdiam sunyi, sebetulnya aku masih mengingat semua kejadian dengan Noir
tadi. Menurutku Noir sangatlah menarik walaupun dia bersembunyi dibalik topeng.
“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya Dai
tiba-tiba.
“Tidak!”
“Kau marah padaku?”
“Tidak!”
“Lalu kenapA sejak tadi hanya diam dan buang
muka keluar jendela?”
“Dai, kau selalu saja begitu!”
Aku yang sejak tadi menjawab tanpa
menoleh pun kemudian berbalik dan menatap Dai. Ia tampak kebingungan.
“Kuberi tahu, ya... kalau kau tak menyukai
seseorang jangan bersikap seolah kau sangat mempedulikannya, sikapmu yang
seperti itu hanya akan membuat orang-orang berharap padamu sedangkan kau
sendiri sebenarnya tidak menggubrisnya!!!” Ocehku.
“Aku memang peduli, karena kau temanku!” Ujar
Dai sambil terus mengendarai mobilnya.
“Yah, terserah kau lah. Kurasa kau memang suka
dikejar banyak gadis, seperti laki-laki pada umumnya.” Kataku dengan ketus.
Aku sampai didepan rumah tulip, aku
turun dari mobil Dai dan mengucapkan sampai jumpa juga terima kasih. Ketika aku
menaiki tangga, Dai memanggilku lagi lalu berkata;
“Aku tak tau apa yang membuatmu kian berbeda,
tapi... aku bukan orang seperti yang kau bilang tadi. Maaf, jika kau benci
sikapku!” Katanya lalu pergi. Terserahlah! Yang jelas aku mengantuk.
Malam ini angin bersenandung sunyi
seolah mengetuk kaca jendela. Tapi ada hal yang selalu kupertanyakan
dikepalaku, ‘mengapa aku terus
membayangkan Noir?’ Aku merasa... jatuh hati pada seseorang itu seperti
musibah, kau tak akan tahu kapan dan pada siapa itu akan datang.
3 hari kemudian
Aku agak bosan, ini sudah hampir seminggu
aku berada di tahun 2200, aku sudah tau misiku tapi aku bahkan tak punya secuil
pun gambaran tentangnya. Dan yang paling membuatku sedih adalah... aku rindu
ibuku!
Seharian aku duduk melamun di meja
trapesium sambil memandang keluar jendela karena hari ini tak ada latihan opera. Lagi pula aku
bingung, kalau dunia yang seperti ini disebabkan olehku dan aku bertanggung
jawab atasnya, kenapa aku tak punya sedikit pun kuasa untuk memulai misiku.
Di sela-sela lamunanku, Fasa datang
kearahku dengan cangkir teh yang sepertinya ia siapkan untukku. Wajah mungilnya
berubah masam ketika melihatku berkali-kali menghela napas tanpa harapan.
“Sebenarnya ada apa?” Tanyanya agak cemas.
“Tak ada! Aku hanya merasa tak berguna.”
Jawabku tanpa menoleh. Aku kembali menghembuskan napas putus asa.
“Sudahlah, jangan begitu! Segala yang besar
diawali dengan sesuatu yang kecil, kan?!” Fasa tersenyum sambil menyuguhkan teh
untukku. Rambutnya yang pekat berkilau terkena sinar mentari yang masuk lewat
jendela.
“Terima kasih! Kau sungguh teman yang baik,
kurasa Vier sangat beruntung memiliki teman sepertimu!” Komentarku. Fasa ikut
duduk disampingku dan melepas pandangan keluar jendela.
“Vier... dia seperti bunga yang berduri.” Fasa
memutar-mutar telunjuknya dimeja. “Dia tumbuh dan mekar, terus berkembang
semakin indah dan jadi idola... akan tetapi, dia seperti diselimuti duri...
sangat tajam dan kasar, ucapan dan tutur katanya begitu!” Ceritanya.
“Tapi
kalau dia sebegitu kasarnya, kenapa kau terus tinggal bersamanya?” Tanyaku
penasaran.
“Dia yang memintaku, satu-satunya teman yang
bertahan dengan sikapnya, dia memang kasar pada orang lain dan kadang padaku
juga. Tapi pada Dai... dia bersikap begitu manis.”
Fasa tampak sendu, sepertinya dia terus
terbayang Vier yang asli. Kasihan juga Fasa, biar bagaimanapun sikap Vier
padanya, yang namanya teman tetaplah teman. Aku tak suka melihat Fasa seperti
ini, mungkin sebaiknya aku mengajaknya keluar.
“Fasa, aku ingin ponsel berbentuk cincin
__ADS_1
seperti punyamu itu lho!” Aku memindahkan topik pembicaraan.
“Ini? Hm, apa kau mau membelinya bersamaku?”
Tanya Fasa antusias. Aku mengangguk dengan girang, tentu itu berhasil mengubah
raut wajah masam Fasa kembali ceria.
Hari itu aku dan Fasa membeli banyak
barang yang akan kami butuhkan, pembayaran diberbagai tempat perbelanjaan tidak
memakai uang tunai, mereka menggunakan semacam kartu yang memiliki kode akses.
Dan siapa sangka, berpropesi sebagai pemain opera memiliki penghasilan yang
sangat tinggi.
Selesai belanja, kami segera kembali
kerumah. Saat kami hendak menaiki tangga, ada sebuah surat yang diselipkan
dikotak surat dekat tangga. Fasa mengambilnya lalu menunjukkannya padaku.
Undangan Pesta
Kerajaan
Tgl : 12 Mei 2200
waktu : 7.30 pm
Kepada putra putri Adam yang dikaruniai
darah biru, juga kepada mereka yang terpilih sebagai 99 bintang yang benderang.
Kunjungilah Kastil yang disinari rembulan untuk sekedar menuang air.
Oleh : penerus Ibu Pembangunan
Begitulah yang tertulis disurat, itu
semacam undangan resmi karena ada stempel emas kerajaan. Tapi yang benar saja,
untuk mengirim undangan pun mereka masih saja menggunakan bahasa yang puitis
begitu.
“Kepada siapa undangan ini ditunjukkan? Aku
atau kau?” Tanyaku.
“Ya, jelas untukmu lah, aku bukan kaum darah
biru juga tidak terpilih sebagai 99 bintang!” Jawab Fasa.
“Darah biru? Kenapa tak sekalian darah hijau
saja?” Ujarku dengan nada mengejek.
“Hei, kau ini! Darah biru itu umpama bagi para
bangsawan, sedangkan 99 bintang itu para pemain opera.”
“Ini lagi, bangsawan. Singkatan bangsa hewan,
yaaaa... hahaha...”
“Sudahlah, hentikan cemoohanmu itu, ayo
masuk!” Ajak Fasa dengan nada kesal.
“Aku tak mungkin pergi ke pesta itu
sendirian, apa boleh tidak datang?” Tanyaku pada Fasa yang sedang menyusun
barang yang kami beli ditempat masing-masing.
“Biasanya orang yang datang ke pesta itu
diizinkan membawa pendamping, kalau kau mau, aku bisa jadi pendampingmu!” Jawab
Fasa.
“MAU!!!” Seruku dengan riang. Fasa tertawa
dengan tingkahku.
oleh Fasa, katanya itu kebiasaan Vier yang asli kalau dapat undangan pesta
kerajaan yang diadakan setahun sekali. Vier akan menjadi yang paling glamour dan akan jadi pusat perhatian
semua orang.
Tapi tentu saja aku tidak seperti itu,
bajunya kudesain sendiri dengan desain yang sederhana tapi unik, lagi pula aku
pribadi benci ditatap banyak mata yang entah berpikir apa tentangku. Esok
harinya, baju selesai dibuat dan dikirim pada kami, aku sengaja membuat bajuku
dan Fasa sewarna meskipun beda desain, aku suka pakaian berpasangan begitu.
.....
Hari yang ditunggu pun tiba, aku dan
Fasa memakai gaun berwarna ungu gelap, desain rok-nya persis bunga tulip mekar
yang dibalik menghadap kebawah, sedangkan terusan atasnya terdapat hiasan pita
berwarna biru dibahu kanan dengan kerah yang mencapai leher juga berlengan
panjang. Intinya desain baju yang tertutup dan jauh dari kata seksi.
Kami berangkat dari rumah tulip, masih
belum memakai topeng yang selaras dengan baju kami. Topeng ini seperti topeng pesta pada umumnya, ada
hiasan bulu gagak disisi kiri topengku sedangkan hiasan topeng Fasa adalah
sebelah sayap kupu-kupu.
Suasana aula istana sudah ramai ketika
kami sampai, semuanya adalah pria dan wanita dengan berbagai kostum pesta yang
unik. Aku mendapat kesan klasik dari desain dan suasana pesta ini, rasanya
betul-betul didunia yang sesuai tipeku.
“Vier, kau belum memakai topengmu?” Suara
dalam dan bergetar yang familiar itu terdengar ketika kami hendak masuk keruang
persta. Aku menoleh, dan siapa lagi kalau bukan si-White Prince alias Dai.
Dia memakai baju berbahan lotto yang
dua kancing atasnya terbuka menampakkan otot dadanya, luarnya dilapisi jas panjang
tebal yang terdapat beberapa hiasan mewah juga celana dasar rapi dan sepatu
berkilau. Semua yang dipakainya berwarna putih kecuali topengnya yang berwarna
biru langit dengan larik merah tua.
“Wah, pakaianmu semakin berani saja, Dai!
Kenapa tak sekalian kau buka saja semua kancingnya biar Udel-mu sejuk?!” Sindirku.
“Udel?”
Dai mengernyitkan dahinya.
“Pusarrr.” Kataku agak lantang.
Dai terpaku dengan bibir yang sedikit
terbuka, apa jangan-jangan aku mengatakan sesuatu yang salah lagi? Ya, ampun
mulutku!
“Hei, Kata-katamu terlalu vulgar, bagaimana
kalau ada yang mendengarnya?” Bisik Fasa.
__ADS_1
“Benarkah?” Aku menyesalinya.
“Ngg... ngomong-ngomong kok kau langsung tau
kalau ini aku? Padahal aku sudah pakai topeng?!” Tanya Dai sambil berusaha
menutup dada dengan jasnya.
“Haha, topeng Batman begitu. Balita sekalipun
pasti langsung mengenalinya!” Gumamku. “Oh iya, kami duluan, ya!” Lanjutku sambil memakai topeng.
“Hei,” Fasa menegurku ketika kami sudah berada
diruang pesta. “Kau tak boleh begitu pada pangeran!”
“Siapa yang pangeran?”
“Orang yang seenaknya kau komentari tadi,
siapa lagi kalau bukan Tn. Dai?!”
Mendengar perkataan Fasa aku langsung tercekat. Jadi selama ini dia
pangeran sungguhan? Jadi dia anaknya Yaza Vumi? Jadi dia... ya ampun! Kenapa
aku bisa tak menyadarinya?
“Apa menurutmu sebaiknya aku minta maaf
padanya?” Tanyaku dengan tatapan kosong.
“Itu akan memalukan, sudahlah! Nikmati saja
pestanya!” Jawab Fasa sambil memberikan segelas minuman yang ia ambil dari
pelayan-pelayan yang lewat dengan nampan berisi minuman dan makanan.
Yaza Vumi memasuki ruangan pesta dengan
dua putrinya yang cantik, suara musik orkestra dimainkan mengiringi langkah
sang Yaza Vumi. Ia berhenti tepat diatas tangga, dan seketika musik berhenti
dimainkan. Lalu ia berseru dengan lantang.
“LONG LIVE, DARKNIGHT”
Setelah dia berseru demikian
orang-orang mengikuti seruannya beberapa kali. Lalu Yaza Vumi membungkuk
memberi sambutan pada para tamu sebelum menuruni tangga dan duduk dikursi yang
sudah disiapkan untuknya.
Tak lama kemudian Dai datang dan ikut
duduk disamping Yaza Vumi. Pakaiannya agak berbeda, dia memakai kerah leher
tinggi sampai menutup separuh leher. Siapa sangka dia begitu peduli pada
komentar orang lain tentang penampilannya.
“Putri Monochrome!”
Aku terkejut dengan panggilan dari sang
Yaza Vumi, apa dia marah karena aku memandangi anaknya dengan tatapan
meremehkan? Tapi kucoba bersikap tenang dan menanggapi panggilan itu dengan
menghampirinya penuh hormat.
“Dansa akan dimulai sebentar lagi.” Ujarnya
sambil bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan padaku. Ini ajakan dansa,
tapi aku tak mau dansa dengan bapak-bapak begini. Peduli setan soal dia raja atau apa.
“Ayah, bolehkah aku saja yang berdansa
dengannya? Kurasa dia sedikit canggung untuk dapat berhadapan dengan ayah!”
Sela Dai. Ini lagi, apa bedanya ayah dan anak sama bejad nya.
“Maaf, yang mulia. Sepertinya pesta kali ini
saya tak dapat berdansa dengan siapapun. Pinggang saya bermasalah karena posisi
tidur saya tidak baik semalam!” aku memberi alasan sambil mebungkuk sopan.
Yaza Vumi tersenyum dan kembali duduk,
sepertinya dia tak mempermasalahkan hal tersebut. Aku kembali kesisi Fasa yang
sejak tadi mengamatiku.
Yang kuketahui dari pertemuan jarak
dekatku dengan Yaza Vumi barusan adalah bahwa dia orang yang simpel dan
rasional. Dan dibalik sikap ramahnya dia menyimpan kebengisan yang keji, aku
bisa melihat dari tatapan matanya yang begitu yakin juga mendiskriminasi
siapapun yang menatapnya.
Beberapa saat setelah berjalannya
pesta, aku ingin ketoilet, mungkin karena terlalu banyak minum. Aku bertanya
pada pelayan dan salah satu pelayan wanitanya berbaik hati mengantarku sampai
toilet.
Setelah panggilan alam selesai, aku
berniat kembali, pelayan wanita itu juga sudah pergi lebih dulu. Tapi disudut lorong
ketika aku hendak ke ruang pesta, aku mendengar percakapan yang menarik
perhatianku.
“Kita punya kesempatan?” Tanya sebuah suara
lelaki yang terdengar berat.
“Jangan sekarang, katakan pada yang lain!”
Sambung suara lainnya yang bernada tinggi. Aku tak dapat melihat wajah mereka.
“Bersabar memang lebih baik, rencana yang kita
susun sedemikian rupa tak boleh gagal. Kau benar, kalau kita menyusup sekarang,
kita akan ketahuan.”
“Yang penting tujuan utama kita satu, yaitu
merobohkan pillar-pillar yang menguatkan kekuasaan raja setan itu!”
Suara kedua orang itu terdengar samar,
lama kelamaan suaranya makin pelan. Kupikir aku harus lebih dekat untuk dapat
mendengar lebih jelas. Jadi perlahan aku melangkah kearah sumber suara itu,
lagi dan lagi, selangkah demi selangkah. Tapi,
“TAP”
Seseorang meraih lenganku dengan kasar.
Aku menoleh dengan perasaan takut, dan sungguh membuatku terkejut mengetahui
yang memergoki aku adalah Dai.
Matanya menatap tajam dan dingin, itu
mata seorang psikopat. Dia mencengkram kuat lenganku, aku bisa merasakan
kemarahannya. Dan yang paling membuatku merinding sampai merasa seperti ikan
dipenggorengan adalah ketika dengan gigi yang beradu menimbulkan bunyi
bergerat, dia berkata;
__ADS_1
“Jangan menarik simpul tali yang tidak kau
pahami, atau kau akan mati terjerat olehnya!”