
“Ada apa sih, sebenarnya?”
Tanya Fasa Heran ketika kami sudah berada
didalam mobil. “Napasmu menderu begitu, kau habis bertemu hantu?!” Lanjutnya.
“Memang! Cepat jalankan mobilnya!!!” pintaku
tergesa-gesa.
Fasa
memacu mobilnya dengan cepat, kami kabur dari sana dan rasanya dalam sekejap
sudah sampai kerumah. Aku masih saja teringat-ingat akan sosok wajah tengkorak
itu, persis Grim Reaper tapi tanpa sabit. Tunggu... bukankah diceritaku juga
ada Grim Reaper nya?!
“Sungguh, apa yang telah terjadi padamu?”
Wajah Fasa yang penasaran itu menghiasi pertanyaannya.
“Sudah jangan dibahas lagi, aku bertemu hantu
didunia nyata... itu mimpi buruk, Cuma mimpi buruk!” Aku memejamkan mataku
sambil meyakinkan diriku sendiri. Fasa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jadi sekarang apa?” Tanya Fasa lagi.
“Tidak ada! Kita tidur sekarang karena besok
aku latihan terakhir sebelum pentas.” Jawabku simpel.
“Tidur? Baiklah!”
“Kau menginap disini, kan?!”
“Aku menumpang tinggal disini, kampung
halamanku di Distrik 10 sama seperti Vier. Kemarin-kemarin selama aku tidak ada
disini itu aku pulang dan ketika kembali kesini... Vier sudah jadi orang lain.”
Mendengar
cerita Fasa aku senang sekali, itu artinya aku tidak akan sendirian. Tinggal
bersama seseorang akan lebih menyenangkan ketimbang tinggal sendiri ditempat
yang tak kau kenali, kan?!
“Selamat malam, Fasa!” Seruku lalu tertidur
dengan pulas.
Sinar fajar yang putih kekuningan
menerobos dari celah jendela segitiga menyapaku, juga langit pagi yang membiru
dengan indah. Entah mengapa meskipun dizaman yang berbeda dan ditanah yang
berbeda tapi langit tak pernah terasa asing bagiku, hanya biru yang damai.
Pagi ini aku lekas bersiap-siap, kurasa
aku ingin minta diantar Fasa saja ketimbang keduluan dijemput Dai, tak enak mau
mengusirnya. Dan syukurlah, setelah aku
selesai bersiap dan Fasa juga siap mengantarku, Dai belum juga datang. Aku pun
berangkat dengan nyaman. Aku memasuki ruang latihan dengan santai dan langkah
yang tenang, pelatih menatapku heran.
“Ada apa pelatih? Apa saya mengenakan pakaian
yang salah?” Tanyaku karena merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Mana Dai? Bukankah dia menjemputmu kesana?
Tak mungkin kau bawa mobil sendiri, kau tak bisa menggemudi.” Pelatih balik
bertanya dengan kilatan mata penuh selidik.
“Aku memang tidak kesini dengan kendaraanku
sendiri, temanku yang mengantarku. Siapa suruh Dai menjemputku kesana pagi
buta.” Ujarku merasa tak bersalah.
Ditengah
pembicaraan tiba-tiba suara deru Knalpot dari parkiran tempat latihan mengambil
alih perhatian semua orang ditempat latihan.
“Nah, itu dia suara mobil Noir. Akhirnya dia
datag juga” Ujar pelatih. Aku berjalan ke arah pintu masuk untuk melihat
seperti apa si-Noir itu.
Sebuah mobil berwarna hitam berkilau
seolah memantulkan cahaya putih matahari menjadi cahaya yang gelap. dibagian
depan mobil itu terdapat kepala tengkorak yang berukuran cukup besar dan bentuk
mobil ini jelas jauh lebih unik dan lebih aneh dari pada yang pernah kutemui
selama ini.
Pintu
mobil terbuka, dan... itu sosok yang kutemui kemarin. Jubah hitam yang menyapu
lantai, wajah tengkorak yang menyeramkan... itukah Noir? Itu lebih mirip hantu
yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Noir, kau lihat Dai dalam perjalanan kesini?”
pertanyaan pelatih memecah lamunanku. Noir berjalan kearahku, dia mengeluarkan
secarik kertas dan memberikannya padaku lalu pergi begitu saja. Aku melihat
kertas itu, dan hanya bertuliskan tanda silang. Aneh! Kemudian pelatih mengambil
dan melihatnya juga, aku bingung apa maksudnya.
“Dai kemana, ya?” Gumam pelatih.
“Hmm, apa maksud... Noir barusan?” Tanyaku
heran. Pelatih menatapku dengan tatapan malas, lalu bertanya;
“Apa kau baru mengenal Noir?” Tanya-nya lalu
pergi menyusul Noir keruang latihan.
Hari
itu latihan dilakukan tanpa Dai, padahal dia pemeran utama dalam opera dan hari
ini adalah Gladi resik. Sebenarnya apa yang terjadi ketika dia menjemputku
tadi? Apa jangan-jangan dia punya hubungan gelap dengan Fasa? Tapi, itu bukan
urusanku!
Latihan
kali ini selesai, dan aku kehilangan tumpangan untuk pulang. Dai tak ada, aku
__ADS_1
juga lupa meminta Fasa menjemputku, tak mungkin sekali aku meminta Noir yang
mengantarku.
“Kau tidak pulang?”
Seseorang
menegurku, aku menoleh dan ternyata dia adalah ibu pelatihku, Ny. Meiss.
“Aku mau pulang, tapi aku lupa meminta temanku
menjemputku dan hari ini Dai tidak ada, jadi...” Aku menjawab dengan malu-malu.
“Kau kan bisa menghubunginya!”
“Menghubungi?”
“Mana ponselmu, Vier?”
“Pon... sel...?”
“HEY!!! Kau ini habis terbentur atau
kerasukan, ha? Mana ponselmu, hubungi temanmu!!!”
“Jadi... disini juga... ada ponsel?”
“Lihat ini, ya...!”
Tampaknya
Ny. Meiss mulai kesal padaku. Dia menunjukkan cincinnya padaku, lalu dia
menekan mata cincin itu, dan... Ajaib!!! Cincin itu mengeluarkan bentuk seperti
komputer hologram. Lalu ibu pelatihku melakukan semacam video call dengan Fasa.
Hebatnya lagi, seluruh wujud Fasa lengkap didepan kami seperti patung 3D yang
bergerak.
Itu hologram, sungguh hebat! Aku juga
mau itu. Setelah itu pelatih pergi sambil menggelengkan kepalanya tak habis
pikir. Kenapa aku merasa seperti orang yang linglung? Tak lama kemudian Fasa
datang menjemputku dan kami berada dalam perjalanan pulang sambil mengobrol
hal-hal tak penting, hanya membandingkan antara zamanku dengan zaman ini.
Ditengah obrolanku dengan Fasa, dari
jarak yag agak jauh aku melihat sosok putih berambut pekat yang kukenali, Dai!
Dia berada di sebuah taman bunga Biotik bersama beberapa orang anak-anak.
Kuperhatikan Dai yang tampak begitu ramah pada siapapun itu tertawa bersama
anak-anak.
“Mmm., bisa kau hentikan sebentar mobilnya?”
Pintaku. Fasa menghentikan mobilnya sesuai permintaanku.
Aku memandang Dai yang menyenangkan
untuk dilihat, dia sangat bersahabat dengan sikapnya, dia juga selalu tersenyum
cerah pada semua orang, dia memang pantas dijuluki White Prince. Setiap aku
melihatnya, itu mengingatkanku pada sesuatu atau mungkin seseorang. Entahlah!
Aku hanya suka melihatnya dengan sikapnya yang ramah.
“Apa kau juga jatuh Cinta padanya?” Teguran
Fasa memecah lamunanku. Aku menoleh sesaat kearah Fasa, lalu mengembalikan
pandanganku pada Dai.
“Bisa kujalankan mobilnya sekarang, Vier?”
“Te... tentu! Maaf, ya!”
“Tak apa! Kalaupun kau menyukainya... itu hal
yang wajar!”
“Tidak, Fasa! Lelaki yang mudah didekati
seperti itu... bukan tipeku!”
Aku membuang pandanganku dan kembali
pada obrolanku dengan Fasa. Aku pun tak tau siapa yang akan kusukai nantinya.
Kami melanjutkan perjalanan sampai kerumah, aku akan banyak beristirhat karena
besok pementasanku di opera.
Pementasan opera Vajus (7 Mei 2200)
Panggung opera yang megah menyambut
mataku yang berkeliling menyusuri gedung opera itu sendiri, ramai riuh penonton
dari kalangan bangsawan. Ini seperti suasana yang klasik tapi juga modern,
pakaian orang-orang sangatah mencolok seperti di abad 18-19 masehi, meski
demikian itu terlihat sangat modern.
Soal opera yang akan ditampilkan hari
ini adalah saat dimana Dai yang berperan sebagai White Prince bertarung dengan
Noir yang menginginkan putri Monochrome. Pementasan saat ini adalah lanjutan pementasan
sebelumnya, dan pementasan yang diadakan 55 hari kedepan adalah lanjutan opera
kali ini.
Ada Royal Box di tingkat atas, kulihat
sang Yaza Vumi III duduk disana bersama dua orang gadis yang mugkin adalah
putrinya. Dia memberi aba-aba untuk dimulainya acara dengan mengangkat
tongkatnya, bersamaan dengan itu sebuah kendang ditabuh dengan meriah.
Beberapa orang berpakaian serdadu dengan
membawa busur dan anak panah menyanyikan lagu Hymne opera yang aku belum pernah
mendengarnya bahkan saat latihan.
Dimuka bumi, dikaki
langit...
Hey, rembulan yang
sakit.
Dimana malam gelap
tertidur,
Untuk membangunkan
mimpi yang terkubur.
Dunia terpecah belah,
Ditangan pendekar tak terarah.
Karya seni, ibu pembangunan.
Menyatukan dunia dalam satu tujuan
__ADS_1
DarkNight... oh,
DarkNight...
Membekukan perang
yang membara
DarkNight... oh,
DarkNight
Kau hapus luka dan
air mata.
(DarkNight) ucapkan impianmu!
(Yaza Vumi) satukan dalam satu jantung!
(DarkNight) siapa musuhmu?
(Yaza Vumi) dimana pedang dan pena?
Setelah lagu selesai, orang-orang
berseragam serdadu itu menembakkan panah kelangit-langit aula membuat banyak
kelopak bunga berjatuhan seperti hujan, kemudian penonton bersorak meriah
sambil bertepuk tangan. Aku yang masih menunggu giliranku dibelakang panggung
pun terhipnotis oleh hal itu.
“Oi, oi! Kok kesannya aku jadi pencetus sekte
sesat, sih?!” Gumamku begitu mendengar orang berseru ‘Long Live DarkNight’.
“Barusan kau mengatakan sesuatu?” Tanya Dai.
Aku bahkan lupa Dai berada disampingku, harusnya aku menjaga mulutku agar tak
bicara sesuka hati.
“Tidak! Hanya gumaman konyol, aku agak sedikit
gugup, Sih!” Cengirku.
“Oh, sebentar lagi giliran kita, Narator sudah
membacakan awal cerita. Sebaiknya kita bergegas!” Dai menarik tanganku dan buru-buru
membawaku kebelakang tirai. Satu hal yang kuingat, meskipun sepintas Dai
seperti orang yang berkepribadian hangat, kurasa jauh didalam hatinya... ada
sesuatu yang gelap dan membeku.
Narator selesai membacakan cerita,
saatnya giliranku. Aku melangkah kepanggung melewati tirai merah, sekarang aku
akan menunjukkan bakatku. Aku bernyanyi sambil berakting, cerita pertama adalah
dimana aku yang berperan sebagai putri Monochrome yang putus asa dalam mencari
sang White Prince.
“Bungaku telah layu wahai keindahan...
dimanakah pangeranku? Oh, bulan yang pucat...”ya, begitulah awalan lagu yang
kunyanyikan sambil berakting, aku tau itu menjijikan!
Setelah nyanyianku selesai, musik biola
yang digesek dengan kasar berbunyi, lampu sorot panggung berubah menjadi merah
dan suasana dibuat semakin dingin. Spesial efek yang bagus karena tampang
terkejutku ketika Noir muncul itu sungguhan.
Noir muncul dengan sebuah sabit yang
besar, cahaya lampu yang kemerahan membuat topeng tengkorak yang dipakainya
ikut berwarna merah, jubah hitamnya mendominasi suasana panggung. Noir mendekat
kearahku dan berdiri dibelakangku sementara aku duduk dilantai panggung.
Jubah hitamnya ia tutupi kearahku,
merinding aku! Noir ikut berjongkok, jadi ceritanya dia akan membawaku pergi.
Tangan Noir yang memakai sarung tangan mirip tangan tengkorak memegang lenganku
dia menghunus sabitnya kearah depan panggung sementara suara musik biola
semakin kencang, aku juga semakin merinding!
Kemudian di arah kanan panggung cahaya
musim semi mengiringi langkah White Prince. White Prince memakai topeng biru pudar sambil membawa pedang yang cukup besar.
Intinya, cerita ini tentang bagaimana
kemudian Putri Monochrome selamat dari Noir dan pertemuan kembali dengan White
Prince. lalu ceritanya kembali bersambung di waktu Noir menghilang diantara
kabut dan putri Monochrome kembali pada White Prince. lalu pementasan pun
berakhir.
Aku berjalan menaiki tangga menuju ke
atap gedung opera, ingin menghirup udara segar setelah pementasan yang menguras
emosiku. Aku sampai diatap dan herannya aku menemui Noir disana, padahal
sewaktu diruang ganti aku melihat dia masuk ruangannya. Jangan-jangan dia
benar-benar hantu.
Noir menyadari keberadaanku, lalu dia
bergegas pergi. Aku menemukan sesuatu ditempatnya berdiri, sebuah kalung yang
gandulnya dari cincin kuningan dengan ukiran dua ekor naga.
“Noir, apa ini milikmu!” Tanyaku. Noir
berbalik, dia langsung mengambilnya dari tanganku dengan kasar. Jika saja dia
tak memakai topeng tengkorak itu, mungkin aku bisa melihat ekspresi
kemarahannya.
“Maaf!” Ucapku begitu saja. Noir terpaku
didepanku, dia memang berdiri didepanku dengan langkah yang terhenti.
Noir mengeluarkan kertas yang
bertuliskan tanda centang dan memberikan padaku. Aku tersenyum dan akhirnya aku
mengerti maksudnya waktu itu. Tanda silang berarti ‘tidak’ dan centang berarti
‘iya’
“Haha, kau punya cara komunikas yang lucu, ayo
berikan kertas padaku lagi!” Tawaku dengan sumringah.
Noir berbalik dan mengambil tangan
kananku sambil bejongkok. Lalu ia menempelkan tanganku ke topeng tengkorak yang
dingin itu. Mungkin maksudnya dia mencium tanganku tanda penghormatan. Tetap saja hal itu membuatku terkejut
dan kebingungan.
__ADS_1