Break The Secret

Break The Secret
4) Panggung opera


__ADS_3

 


 


 “Ada apa sih, sebenarnya?”


 Tanya Fasa Heran ketika kami sudah berada


didalam mobil. “Napasmu menderu begitu, kau habis bertemu hantu?!” Lanjutnya.


 “Memang! Cepat jalankan mobilnya!!!” pintaku


tergesa-gesa.


Fasa


memacu mobilnya dengan cepat, kami kabur dari sana dan rasanya dalam sekejap


sudah sampai kerumah. Aku masih saja teringat-ingat akan sosok wajah tengkorak


itu, persis Grim Reaper tapi tanpa sabit. Tunggu... bukankah diceritaku juga


ada Grim Reaper nya?!


 “Sungguh, apa yang telah terjadi padamu?”


Wajah Fasa yang penasaran itu menghiasi pertanyaannya.


 “Sudah jangan dibahas lagi, aku bertemu hantu


didunia nyata... itu mimpi buruk, Cuma mimpi buruk!” Aku memejamkan mataku


sambil meyakinkan diriku sendiri. Fasa menggeleng-gelengkan kepalanya.


 “Jadi sekarang apa?” Tanya Fasa lagi.


 “Tidak ada! Kita tidur sekarang karena besok


aku latihan terakhir sebelum pentas.” Jawabku simpel.


 “Tidur? Baiklah!”


 “Kau menginap disini, kan?!”


 “Aku menumpang tinggal disini, kampung


halamanku di Distrik 10 sama seperti Vier. Kemarin-kemarin selama aku tidak ada


disini itu aku pulang dan ketika kembali kesini... Vier sudah jadi orang lain.”


Mendengar


cerita Fasa aku senang sekali, itu artinya aku tidak akan sendirian. Tinggal


bersama seseorang akan lebih menyenangkan ketimbang tinggal sendiri ditempat


yang tak kau kenali, kan?!


 “Selamat malam, Fasa!” Seruku lalu tertidur


dengan pulas.


Sinar fajar yang putih kekuningan


menerobos dari celah jendela segitiga menyapaku, juga langit pagi yang membiru


dengan indah. Entah mengapa meskipun dizaman yang berbeda dan ditanah yang


berbeda tapi langit tak pernah terasa asing bagiku, hanya biru yang damai.


Pagi ini aku lekas bersiap-siap, kurasa


aku ingin minta diantar Fasa saja ketimbang keduluan dijemput Dai, tak enak mau


mengusirnya.  Dan syukurlah, setelah aku


selesai bersiap dan Fasa juga siap mengantarku, Dai belum juga datang. Aku pun


berangkat dengan nyaman. Aku memasuki ruang latihan dengan santai dan langkah


yang tenang, pelatih menatapku heran.


 “Ada apa pelatih? Apa saya mengenakan pakaian


yang salah?” Tanyaku karena merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.


 “Mana Dai? Bukankah dia menjemputmu kesana?


Tak mungkin kau bawa mobil sendiri, kau tak bisa menggemudi.” Pelatih balik


bertanya dengan kilatan mata penuh selidik.


 “Aku memang tidak kesini dengan kendaraanku


sendiri, temanku yang mengantarku. Siapa suruh Dai menjemputku kesana pagi


buta.” Ujarku merasa tak bersalah.


Ditengah


pembicaraan tiba-tiba suara deru Knalpot dari parkiran tempat latihan mengambil


alih perhatian semua orang ditempat latihan.


 “Nah, itu dia suara mobil Noir. Akhirnya dia


datag juga” Ujar pelatih. Aku berjalan ke arah pintu masuk untuk melihat


seperti apa si-Noir itu.


Sebuah mobil berwarna hitam berkilau


seolah memantulkan cahaya putih matahari menjadi cahaya yang gelap. dibagian


depan mobil itu terdapat kepala tengkorak yang berukuran cukup besar dan bentuk


mobil ini jelas jauh lebih unik dan lebih aneh dari pada yang pernah kutemui


selama ini.


Pintu


mobil terbuka, dan... itu sosok yang kutemui kemarin. Jubah hitam yang menyapu


lantai, wajah tengkorak yang menyeramkan... itukah Noir? Itu lebih mirip hantu


yang membuat bulu kudukku berdiri.


 “Noir, kau lihat Dai dalam perjalanan kesini?”


pertanyaan pelatih memecah lamunanku. Noir berjalan kearahku, dia mengeluarkan


secarik kertas dan memberikannya padaku lalu pergi begitu saja. Aku melihat


kertas itu, dan hanya bertuliskan tanda silang. Aneh! Kemudian pelatih mengambil


dan melihatnya juga, aku bingung apa maksudnya.


 “Dai kemana, ya?” Gumam pelatih.


 “Hmm, apa maksud... Noir barusan?” Tanyaku


heran. Pelatih menatapku dengan tatapan malas, lalu bertanya;


 “Apa kau baru mengenal Noir?” Tanya-nya lalu


pergi menyusul Noir keruang latihan.


Hari


itu latihan dilakukan tanpa Dai, padahal dia pemeran utama dalam opera dan hari


ini adalah Gladi resik. Sebenarnya apa yang terjadi ketika dia menjemputku


tadi? Apa jangan-jangan dia punya hubungan gelap dengan Fasa? Tapi, itu bukan


urusanku!


Latihan


kali ini selesai, dan aku kehilangan tumpangan untuk pulang. Dai tak ada, aku

__ADS_1


juga lupa meminta Fasa menjemputku, tak mungkin sekali aku meminta Noir yang


mengantarku.


 “Kau tidak pulang?”


Seseorang


menegurku, aku menoleh dan ternyata dia adalah ibu pelatihku, Ny. Meiss.


 “Aku mau pulang, tapi aku lupa meminta temanku


menjemputku dan hari ini Dai tidak ada, jadi...” Aku menjawab dengan malu-malu.


 “Kau kan bisa menghubunginya!”


 “Menghubungi?”


 “Mana ponselmu, Vier?”


 “Pon... sel...?”


 “HEY!!! Kau ini habis terbentur atau


kerasukan, ha? Mana ponselmu, hubungi temanmu!!!”


 “Jadi... disini juga... ada ponsel?”


 “Lihat ini, ya...!”


Tampaknya


Ny. Meiss mulai kesal padaku. Dia menunjukkan cincinnya padaku, lalu dia


menekan mata cincin itu, dan... Ajaib!!! Cincin itu mengeluarkan bentuk seperti


komputer hologram. Lalu ibu pelatihku melakukan semacam video call dengan Fasa.


Hebatnya lagi, seluruh wujud Fasa lengkap didepan kami seperti patung 3D yang


bergerak.


Itu hologram, sungguh hebat! Aku juga


mau itu. Setelah itu pelatih pergi sambil menggelengkan kepalanya tak habis


pikir. Kenapa aku merasa seperti orang yang linglung? Tak lama kemudian Fasa


datang menjemputku dan kami berada dalam perjalanan pulang sambil mengobrol


hal-hal tak penting, hanya membandingkan antara zamanku dengan zaman ini.


Ditengah obrolanku dengan Fasa, dari


jarak yag agak jauh aku melihat sosok putih berambut pekat yang kukenali, Dai!


Dia berada di sebuah taman bunga Biotik bersama beberapa orang anak-anak.


Kuperhatikan Dai yang tampak begitu ramah pada siapapun itu tertawa bersama


anak-anak.


 “Mmm., bisa kau hentikan sebentar mobilnya?”


Pintaku. Fasa menghentikan mobilnya sesuai permintaanku.


Aku memandang Dai yang menyenangkan


untuk dilihat, dia sangat bersahabat dengan sikapnya, dia juga selalu tersenyum


cerah pada semua orang, dia memang pantas dijuluki White Prince. Setiap aku


melihatnya, itu mengingatkanku pada sesuatu atau mungkin seseorang. Entahlah!


Aku hanya suka melihatnya dengan sikapnya yang ramah.


 “Apa kau juga jatuh Cinta padanya?” Teguran


Fasa memecah lamunanku. Aku menoleh sesaat kearah Fasa, lalu mengembalikan


pandanganku pada Dai.


 “Bisa kujalankan mobilnya sekarang, Vier?”


 “Te... tentu! Maaf, ya!”


 “Tak apa! Kalaupun kau menyukainya... itu hal


yang wajar!”


 “Tidak, Fasa! Lelaki yang mudah didekati


seperti itu... bukan tipeku!”


Aku membuang pandanganku dan kembali


pada obrolanku dengan Fasa. Aku pun tak tau siapa yang akan kusukai nantinya.


Kami melanjutkan perjalanan sampai kerumah, aku akan banyak beristirhat karena


besok pementasanku di opera.


Pementasan opera Vajus (7 Mei 2200)


Panggung opera yang megah menyambut


mataku yang berkeliling menyusuri gedung opera itu sendiri, ramai riuh penonton


dari kalangan bangsawan. Ini seperti suasana yang klasik tapi juga modern,


pakaian orang-orang sangatah mencolok seperti di abad 18-19 masehi, meski


demikian itu terlihat sangat modern.


Soal opera yang akan ditampilkan hari


ini adalah saat dimana Dai yang berperan sebagai White Prince bertarung dengan


Noir yang menginginkan putri Monochrome.  Pementasan saat ini adalah lanjutan pementasan


sebelumnya, dan pementasan yang diadakan 55 hari kedepan adalah lanjutan opera


kali ini.


Ada Royal Box di tingkat atas, kulihat


sang Yaza Vumi III duduk disana bersama dua orang gadis yang mugkin adalah


putrinya. Dia memberi aba-aba untuk dimulainya acara dengan mengangkat


tongkatnya, bersamaan dengan itu sebuah kendang ditabuh dengan meriah.


Beberapa orang berpakaian serdadu dengan


membawa busur dan anak panah menyanyikan lagu Hymne opera yang aku belum pernah


mendengarnya bahkan saat latihan.


Dimuka bumi, dikaki


langit...


Hey, rembulan yang


sakit.


Dimana malam gelap


tertidur,


Untuk membangunkan


mimpi yang terkubur.


Dunia terpecah belah,


Ditangan pendekar tak terarah.


Karya seni, ibu pembangunan.


Menyatukan dunia dalam satu tujuan

__ADS_1


DarkNight... oh,


DarkNight...


Membekukan perang


yang membara


DarkNight... oh,


DarkNight


Kau hapus luka dan


air mata.


(DarkNight) ucapkan impianmu!


(Yaza Vumi) satukan dalam satu jantung!


(DarkNight) siapa musuhmu?


(Yaza Vumi) dimana pedang dan pena?


Setelah lagu selesai, orang-orang


berseragam serdadu itu menembakkan panah kelangit-langit aula membuat banyak


kelopak bunga berjatuhan seperti hujan, kemudian penonton bersorak meriah


sambil bertepuk tangan. Aku yang masih menunggu giliranku dibelakang panggung


pun terhipnotis oleh hal itu.


 “Oi, oi! Kok kesannya aku jadi pencetus sekte


sesat, sih?!” Gumamku begitu mendengar orang berseru ‘Long Live DarkNight’.


 “Barusan kau mengatakan sesuatu?” Tanya Dai.


Aku bahkan lupa Dai berada disampingku, harusnya aku menjaga mulutku agar tak


bicara sesuka hati.


 “Tidak! Hanya gumaman konyol, aku agak sedikit


gugup, Sih!” Cengirku.


 “Oh, sebentar lagi giliran kita, Narator sudah


membacakan awal cerita. Sebaiknya kita bergegas!” Dai menarik tanganku dan buru-buru


membawaku kebelakang tirai. Satu hal yang kuingat, meskipun sepintas Dai


seperti orang yang berkepribadian hangat, kurasa jauh didalam hatinya... ada


sesuatu yang gelap dan membeku.


Narator selesai membacakan cerita,


saatnya giliranku. Aku melangkah kepanggung melewati tirai merah, sekarang aku


akan menunjukkan bakatku. Aku bernyanyi sambil berakting, cerita pertama adalah


dimana aku yang berperan sebagai putri Monochrome yang putus asa dalam mencari


sang White Prince.


 “Bungaku telah layu wahai keindahan...


dimanakah pangeranku? Oh, bulan yang pucat...”ya, begitulah awalan lagu yang


kunyanyikan sambil berakting, aku tau itu menjijikan!


Setelah nyanyianku selesai, musik biola


yang digesek dengan kasar berbunyi, lampu sorot panggung berubah menjadi merah


dan suasana dibuat semakin dingin. Spesial efek yang bagus karena tampang


terkejutku ketika Noir muncul itu sungguhan.


Noir muncul dengan sebuah sabit yang


besar, cahaya lampu yang kemerahan membuat topeng tengkorak yang dipakainya


ikut berwarna merah, jubah hitamnya mendominasi suasana panggung. Noir mendekat


kearahku dan berdiri dibelakangku sementara aku duduk dilantai panggung.


Jubah hitamnya ia tutupi kearahku,


merinding aku! Noir ikut berjongkok, jadi ceritanya dia akan membawaku pergi.


Tangan Noir yang memakai sarung tangan mirip tangan tengkorak memegang lenganku


dia menghunus sabitnya kearah depan panggung sementara suara musik biola


semakin kencang, aku juga semakin merinding!


Kemudian di arah kanan panggung cahaya


musim semi mengiringi langkah White Prince. White Prince memakai topeng biru pudar sambil membawa pedang yang cukup besar.


Intinya, cerita ini tentang bagaimana


kemudian Putri Monochrome selamat dari Noir dan pertemuan kembali dengan White


Prince. lalu ceritanya kembali bersambung di waktu Noir menghilang diantara


kabut dan putri Monochrome kembali pada White Prince. lalu pementasan pun


berakhir.


Aku berjalan menaiki tangga menuju ke


atap gedung opera, ingin menghirup udara segar setelah pementasan yang menguras


emosiku. Aku sampai diatap dan herannya aku menemui Noir disana, padahal


sewaktu diruang ganti aku melihat dia masuk ruangannya. Jangan-jangan dia


benar-benar hantu.


Noir menyadari keberadaanku, lalu dia


bergegas pergi. Aku menemukan sesuatu ditempatnya berdiri, sebuah kalung yang


gandulnya dari cincin kuningan dengan ukiran dua ekor naga.


 “Noir, apa ini milikmu!” Tanyaku. Noir


berbalik, dia langsung mengambilnya dari tanganku dengan kasar. Jika saja dia


tak memakai topeng tengkorak itu, mungkin aku bisa melihat ekspresi


kemarahannya.


 “Maaf!” Ucapku begitu saja. Noir terpaku


didepanku, dia memang berdiri didepanku dengan langkah yang terhenti.


Noir mengeluarkan kertas yang


bertuliskan tanda centang dan memberikan padaku. Aku tersenyum dan akhirnya aku


mengerti maksudnya waktu itu. Tanda silang berarti ‘tidak’ dan centang berarti


‘iya’


 “Haha, kau punya cara komunikas yang lucu, ayo


berikan kertas padaku lagi!” Tawaku dengan sumringah.


Noir berbalik dan mengambil tangan


kananku sambil bejongkok. Lalu ia menempelkan tanganku ke topeng tengkorak yang


dingin itu. Mungkin maksudnya dia mencium tanganku tanda penghormatan. Tetap saja hal itu membuatku terkejut


dan kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2