
“Apa? Vier adalah DarkNight?”
Tiba-tiba Dai muncul dari ambang pintu
mengejutkan kami sampai rasanya jantungku mau copot.
“Ahahahaha... kami Cuma bercanda, kok. Jangan
terlalu serius begitu dong! Hahahaha...” Aku berkilah dengan tawa yang terasa
garing.
“Tapi kenapa kau sampai menyebut-nyebut soal
2019 dan terlempar kemasa kini? Bahkan sampai merenungi jika gagal tak bisa kembali
ke masa mu dan betemu keluarga lagi, kurasa bukan itu bukan candaan dan keterlaluan jika dibilang candaan.” Bantah
Dai.
“Bukan begitu Dai, kami Cuma...” aku berusaha
mencari pengalihan.
“Ceritakanlah! Waktu itu kau bilang akan
menceritakannya, kau sudah berjanji. Dan bukankah kita adalah teman?!” Desak
Dai.
Aku dan Fasa terdiam. Kami masih tak
yakin untuk menceritakannya atau tidak, tapi kalaupun berusaha
menyembunyikannya, Dai pasti tak akan percaya. Lagipula mungkin ini saatnya
bagiku mengatakan yang sebenarnya pada Dai.
“Ceritakan saja!” Usul Fasa. Aku mengangguk
dan mulai menceritakannya pada Dai.
Kuceritakan dari awal dimana aku tak
sengaja tertidur diteras rumahku hingga akhirnya terbangun sebagai Vier ditahun
ini. Lalu perjalananku sebagai Vier yang jauh berbeda dengan kehidupanku yang
sebelumnya. Dan tentunya kuceritakan juga alasanku masih bertahan disini,
selain karena belum menemukan portal untuk kembali kezamanku sendiri juga
karena aku ingin menyelesaikan permasalahan yang disebabkan olehku ini sebelum
kembali.
“Lalu bagaimana dengan Vier yang asli?” Tanya
Dai seusai ceritaku.
“Aku juga ingin menanyakan itu seandainya ada
yang tau!” Jawabku. Tiba-tiba cara duduk Dai menjadi formal dan ia tampak
begitu canggung.
“Lihatlah pangeran ini, dia jadi canggung
karena tau aku adalah ‘ibu pembangunan’ padahal aku yang sekarang masih gadis
kecil” Cemoohku.
“Bu, bukan begitu... tapi kau sungguh diluar
bayanganku. Kukira seorang DarkNight adalah wanita feminim yang lemah lembut,
tapi ternyata...” Dai tak melanjutkan perkataannya.
“Iya, iya! Aku tau kalau aku sedikit urakan,
tapi mungkin tak akan begitu setelah dewasa!” Sela-ku.
“Permisi, Tn. Dai...” Di sela-sela obrolan
kami Shui masuk. “Sebaiknya segera kembali pulang, adik-adik tuan menanyakan
keberadaan tuan.” Lanjutnya.
“Tuh, tuan suruh cepat pulang tuan!” Ledekku
lagi. Dai melirik padaku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Oh iya, kami kemari bersamamu Tn. Dai!” Fasa
menyela.
“Benar juga. Fasa tidak bawa mobil, kalau kau
duluan, siapa yang mengantar kami pulang?” Tanyaku pada Dai.
“Kalian akan pulang bersama kami!” Yang
menjawab malah Shui.
“Hey, Nona. Aku tidak bicara padamu!!!”
Ketusku. Seketika Shui langsung bungkam, sementara Fasa Dan Dai menatap heran
padaku karena sebutan ‘Nona’ tadi.
“Vier,
kurasa kata-katamu terlalu kasar!” Tegur Dai.
“Kau tau Dai, masih lebih kasar kulit buaya
darat!” Sindirku sambil melirik pada Shui.
.....
Mentari pagi berubah menjadi teriknya
siang dan berakhir dengan suramnya malam, terus bergulir bergantian tanpa tahu
kata lelah dan bosan, karena semua berjalan dalam putaran takdir yang telah
ditentukan tuhan yang maha kuasa.
Kujalani latihan seperti biasanya,
awal-awal Dai tahu aku adalah DarkNight dia masih canggung, tapi kemudian ia
terbiasa dan sikapnya kembali seperti semula.
Beberapa hari setelah rapat itu tak ada
sesuatu yang cukup menarik untuk kuceritakan, hanya latihan opera yang sebentar
lagi akan dipentaskan. Tapi aku ingat kami punya agenda rahasia seminggu
__ADS_1
sebelum pentas yaitu pertemuan besar-besaran dari semua anggota DieNeSs juga
kelompok pendukungnya, dan tepatnya pertemuan itu akan dilaksanakan besok.
Sedangkan hari ini, aku dan sobatku
Fasa tengah menikmati cokelat hangat diberanda rumah tulip kami sambil
memandang senja yang hampir tenggelam.
“Kurasa tak enak jika aku mengajakmu mengobrol
disaat kau tengah asyik menikmati duniamu sendiri.” Ujar Fasa sambil tersenyum
disela-sela lamunanku.
“Tidak apa, kau tak pernah terasa
mengganggu bagiku!” Aku menyunggingkan senyuman sebagus-bagusnya.
“Aku akan membuatkanmu camilan, nikmati saja
dulu suasana senja yang kau sukai ini!” Serunya sambil beranjak dari kursi
menuju dapur dilantai bawah. Memang benar menunggu matahari tenggelam rasanya
jadi rutinitasku belakangan ini.
Sejak pagi hari mendung mendiami langit dengan
gigih dibeberapa titik, hanya sedikit biru yang tampak disela awan kelabu.
Suasana melankolis ini mengingatkanku pada situasi sekarang, menunggu saat
perang seperti bom waktu yang bisa meledak kapanpun.
“Hm, tak kusangka kau masih melamun disana.”
Fasa mengejutkanku dengan kedatangannya yang tidak kusadari.
“Aku Cuma merasa sedikit cemas!” Ujarku. Fasa
meletakkan piring berisi cemilan Khas awal musim semi, sebuah kue kering
berbentuk daun mapel.
“Ini baru awal musim gugur, kuharap sebanyak
apapun daun yang gugur dimusim ini... tak akan membuat gugur semangat kita!”
Fasa melontarkan pandangan keluar jendela, menatap jalanan yang selalu sibuk.
Kami mengobrol tentang beberapa hal
terutama agenda esok hari dan juga pentas opera yang akan tiba sebentar lagi.
Kemudian malam pun semakin larut tanpa kami sadari, Fasa pergi tidur lebih dulu
sedangkan aku membolak-balik buku yang menurutku menarik untuk dibaca.
Tanpa sadar aku tertidur ditempat baca
hingga pagi tiba, siapa sangka itu adalah malam tenangku yang terakhir, karena
setelah ini perjalanan penuh onak dan duri baru saja akan dimulai.
“TOK, TOK”
Suara ketukan pintu mengganggu indera
pendengaranku, aku bangun lebih dulu untuk membuka pintu. Yang benar saja, tamu
macam apa yang datang pagi buta. Aku berjalan dengan malas menuju pintu dan
tapi sangat menyebalkan, ya... siapa lagi kalau bukan Shui.
“Ada apa?” Tanyaku.
“Jam berapa temanmu biasanya bangun?” Tanya
Shui.
“Jam 8, memangnya kenapa?” Aku balik bertanya.
“Bagus, sekarang baru jam 5 pagi. Ikut
denganku sekarang, aku harus memberitahumu sesuatu. Jangan sampai temanmu
bangun.” Ujarnya.
“Jelaskan dulu! Kau pikir aku akan percaya
padamu begitu saja setelah apa yang kau lakukan?” Tatapku penuh selidik.
“Tolong jangan banyak bantahan, aku hanya mau
memberitahu apa yang ingin kau tau, jadi ikut sajalah dan lupakan sejenak
permasalahan kita!” Desaknya. Kurasa Shui memang punya sesuatu yang sangat
penting, sebaiknya kusetujui dulu.
“O, oke... aku cuci muka dulu.” Aku segera
menuju kamar mandi dan cuci muka, ia masih menungguku didepan pintu. Aku heran
apa yang semendesak itu sampai ia harus mengunjungiku diam-diam, tapi
kuputuskan untuk tak banyak tanya.
Aku kembali kedepan pintu menemuinya
dan kami pergi kesuatu tempat dengan mobil yang biasa Shui pakai. Kemudian kami
sampai ditepi sebuah danau dibatas antara perkotaan dan pedesaan, danau itu
berada dikaki bukit.
“Mau apa kesini? Sepi begini!” Tanyaku penuh
penuh curiga.
“Jangan berpikir macam-macam!” Tukasnya.
Ia menuju sebuah pohon di tepi danau
dan berjongkok, kulihat ia menggali sesuatu didekat pohon itu.
“Sedang apa kau?” Tanyaku penasaran.
Ia beranjak dari pohon itu dan kembali
padaku sambil membawa sesuatu ditangannya. Ia mengambil tanganku dan meletakkan
sesuatu yang baru saja diambilnya itu diatas telapak tanganku. Kulihat itu
hanya sebuah pecahan kaca tembus pandang berbentuk segilima yang terlihat kuno.
“Kaca apa ini?” Tanyaku.
__ADS_1
“Kau
ingin tau kenapa kau bisa berada disini, kan?!” Tanya Shui balik. Aku
tersentak, kurasa aku paham arah pembicaraan Shui.
“Ma, maksudmu kau tau siapa aku sebenarnya dan
mengapa aku bisa berada disini?” Tanyaku ragu.
“Ya, karena aku salah satu dari dua orang yang
membuatmu berada disini!” Jawab Shui.
“Salah satu? Kalau begitu yang seorang
lagi...” aku berusaha menerka.
“Iya, yang seorang lagi adalah Vier sendiri!
Kau menggunakan raga Vier, tapi konsekuensinya sangat besar sekalipun aku telah
mencegahnya.”
“Apa yang terjadi pada Vier asli?”
“Aku tak tau pasti, tapi yang kupahami
adalah... jiwa Vier pergi dari raganya dan digantikan oleh jiwamu.”
“Apakah jika aku bisa membuka portal untuk
kembali ke ragaku Vier tetap tak bisa kembali ke raganya lagi?”
“Tak bisa kupastikan tapi itu kemungkinan
besarnya, jadi...”
“Tunggu Shui! Aku mendengar suara orang
datang!”
Aku memotong ucapan Shui karena
mendengar suara langkah kaki mendekat. Kami menoleh bersamaan dan mendapati Dai
dan Fasa menuju kearah kami. Tak disangka-sangka mereka bisa sampai disini
padahal kami sudah pergi diam-diam.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanyaku
begitu mereka sudah berada diantara aku dan Shui.
“Harusnya kami yang tanya kalian sedang apa
disini!?” Fasa membalik pertanyaannya.
“Tadi aku melihat gerakan mencurigakan Shui
dipagi buta dan mengikutinya, tak kusangka ia menemuimu, lalu saat kalian pergi
lagi tiba-tiba Fasa memaksa ikut denganku!” Jelas Dai.
“Kurasa tadi kalian sedang membahas sesuatu,
lanjutkan saja!” Sambung Fasa.
“Hm, kami juga baru mau membahasnya, lalu
kalian datang menejutkan kami. Hm, Shui bagaimana kalau kau ceritakan lagi
tentang kaca ini!” Ujarku. Aku melirik tajam pada Shui berharap ia tak membahas
tentang kenyataan pahit jika jiwaku pergi dari tubuh Vier.
“Akan kuceritakan dari awal dimana aku dalam
wujud Noir dan Vier asli membuat kesepakatan.” Shui memulai ceritanya. “Saat
itu Tn. Dai sangat sibuk dengan urusannya, ia sudah lama tidak memunculkan
sosok Noir dan kemudian memintaku menjadi Noir pengganti selama beberapa hari.
Dibalik itu, entah bagaimana tapi Vier asli mengetahui bahwa Noir adalah
keturunan terakhir DarkNight, ia menemuiku diam-diam dan memintaku membantunya
dalam usaha membuka portal waktu dengan memecahkan lirik lagu opera.
Saat itu aku juga sudah menyadari akan
hal tersebut, tapi kubilang tak ada gunanya membuka portal waktu untuk
memanggil DarkNight. Dia yang sebelumnya membenci Noir tiba-tiba memohon agar
dibantu, itu sangat aneh bagiku sampai ia mengatakan alasannya adalah karena
kakak dan ayahnya meninggal saat daerahnya diperangi Yaza Vumi, dia ingin
kekuasaan Yaza Vumi segera berakhir. Dan Vier asli sangat percaya bahwa
DarkNight lah yang mampu mengakhiri semua ini.” Cerita Shui.
“Berarti waktu itu Vier asli sengaja memintaku
pulang ke distrik 10 agar dia dan kau bisa melakukan percobaan itu?” Tanya
Fasa.
“Iya, dia tak mau melibatkanmu. Kami memulai
percobaan itu setelah Fasa pulang ke distrik 10.” Jawab Shui.
“Lalu kami mulai memecahkan maksud lirik lagu
opera tersebut dimulai dari kalimat ‘dunia
terpecah belah ditangan pendekar tak terarah’. Pendekar tak terarah adalah
judul dari karya terakhir DarkNight yang dibuat diatas kaca sebelum menghilang,
terpecah belah mungkin maksudnya adalah pecahan dari kaca tersebut.
Selanjutnya kalimat ‘karya seni ibu pembangunan menyatukan dunia
dalam satu tujuan’ maksudnya kami harus menyatukan serpihan itu dengan
karya lain yang terbuat dari kaca untuk tujuan yang sama. Selanjutnya ‘membekukan perang yang membara’ dan ‘menghapus luka dan air mata’ apa kalian
ingat sebuah tempat dinegeri tropis yang dibekukan dan tentang hutan ‘Luka’ juga ‘Sungai Air Mata’?” Tanya Shui disela ceritanya.
Sejujurnya aku tak paham sama sekali
tentang penjelasan Shui, tapi sepertinya Fasa dan Dai sangat memahaminya. Dan
kenyataan inilah yang nantinya akan mengungkap apakah aku bisa kembali
kezamanku atau tidak, juga apakah Vier asli akan dapat hidup kembali setelah
__ADS_1
jiwaku meninggalkan raganya.
*****