Break The Secret

Break The Secret
21) Bendera Perang


__ADS_3

“Apa? Vier adalah DarkNight?”


Tiba-tiba Dai muncul dari ambang pintu


mengejutkan kami sampai rasanya jantungku mau copot.


 “Ahahahaha... kami Cuma bercanda, kok. Jangan


terlalu serius begitu dong! Hahahaha...” Aku berkilah dengan tawa yang terasa


garing.


 “Tapi kenapa kau sampai menyebut-nyebut soal


2019 dan terlempar kemasa kini? Bahkan sampai merenungi jika gagal tak bisa kembali


ke masa mu dan betemu keluarga lagi, kurasa  bukan itu bukan candaan dan keterlaluan jika dibilang candaan.” Bantah


Dai.


 “Bukan begitu Dai, kami Cuma...” aku berusaha


mencari pengalihan.


 “Ceritakanlah! Waktu itu kau bilang akan


menceritakannya, kau sudah berjanji. Dan bukankah kita adalah teman?!” Desak


Dai.


Aku dan Fasa terdiam. Kami masih tak


yakin untuk menceritakannya atau tidak, tapi kalaupun berusaha


menyembunyikannya, Dai pasti tak akan percaya. Lagipula mungkin ini saatnya


bagiku mengatakan yang sebenarnya pada Dai.


 “Ceritakan saja!” Usul Fasa. Aku mengangguk


dan mulai menceritakannya pada Dai.


Kuceritakan dari awal dimana aku tak


sengaja tertidur diteras rumahku hingga akhirnya terbangun sebagai Vier ditahun


ini. Lalu perjalananku sebagai Vier yang jauh berbeda dengan kehidupanku yang


sebelumnya. Dan tentunya kuceritakan juga alasanku masih bertahan disini,


selain karena belum menemukan portal untuk kembali kezamanku sendiri juga


karena aku ingin menyelesaikan permasalahan yang disebabkan olehku ini sebelum


kembali.


 “Lalu bagaimana dengan Vier yang asli?” Tanya


Dai seusai ceritaku.


 “Aku juga ingin menanyakan itu seandainya ada


yang tau!” Jawabku. Tiba-tiba cara duduk Dai menjadi formal dan ia tampak


begitu canggung.


 “Lihatlah pangeran ini, dia jadi canggung


karena tau aku adalah ‘ibu pembangunan’ padahal aku yang sekarang masih gadis


kecil” Cemoohku.


 “Bu, bukan begitu... tapi kau sungguh diluar


bayanganku. Kukira seorang DarkNight adalah wanita feminim yang lemah lembut,


tapi ternyata...” Dai tak melanjutkan perkataannya.


 “Iya, iya! Aku tau kalau aku sedikit urakan,


tapi mungkin tak akan begitu setelah dewasa!” Sela-ku.


 “Permisi, Tn. Dai...” Di sela-sela obrolan


kami Shui masuk. “Sebaiknya segera kembali pulang, adik-adik tuan menanyakan


keberadaan tuan.” Lanjutnya.


 “Tuh, tuan suruh cepat pulang tuan!” Ledekku


lagi. Dai melirik padaku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


 “Oh iya, kami kemari bersamamu Tn. Dai!” Fasa


menyela.


 “Benar juga. Fasa tidak bawa mobil, kalau kau


duluan, siapa yang mengantar kami pulang?” Tanyaku pada Dai.


 “Kalian akan pulang bersama kami!” Yang


menjawab malah Shui.


 “Hey, Nona. Aku tidak bicara padamu!!!”


Ketusku. Seketika Shui langsung bungkam, sementara Fasa Dan Dai menatap heran


padaku karena sebutan ‘Nona’ tadi.


 “Vier,


kurasa kata-katamu terlalu kasar!” Tegur Dai.


 “Kau tau Dai, masih lebih kasar kulit buaya


darat!” Sindirku sambil melirik pada Shui.


.....


Mentari pagi berubah menjadi teriknya


siang dan berakhir dengan suramnya malam, terus bergulir bergantian tanpa tahu


kata lelah dan bosan, karena semua berjalan dalam putaran takdir yang telah


ditentukan tuhan yang maha kuasa.


Kujalani latihan seperti biasanya,


awal-awal Dai tahu aku adalah DarkNight dia masih canggung, tapi kemudian ia


terbiasa dan sikapnya kembali seperti semula.


Beberapa hari setelah rapat itu tak ada


sesuatu yang cukup menarik untuk kuceritakan, hanya latihan opera yang sebentar


lagi akan dipentaskan. Tapi aku ingat kami punya agenda rahasia seminggu

__ADS_1


sebelum pentas yaitu pertemuan besar-besaran dari semua anggota DieNeSs juga


kelompok pendukungnya, dan tepatnya pertemuan itu akan dilaksanakan besok.


Sedangkan hari ini, aku dan sobatku


Fasa tengah menikmati cokelat hangat diberanda rumah tulip kami sambil


memandang senja yang hampir tenggelam.


 “Kurasa tak enak jika aku mengajakmu mengobrol


disaat kau tengah asyik menikmati duniamu sendiri.” Ujar Fasa sambil tersenyum


disela-sela lamunanku.


“Tidak apa, kau tak pernah terasa


mengganggu bagiku!” Aku menyunggingkan senyuman sebagus-bagusnya.


 “Aku akan membuatkanmu camilan, nikmati saja


dulu suasana senja yang kau sukai ini!” Serunya sambil beranjak dari kursi


menuju dapur dilantai bawah. Memang benar menunggu matahari tenggelam rasanya


jadi rutinitasku belakangan ini.


 Sejak pagi hari mendung mendiami langit dengan


gigih dibeberapa titik, hanya sedikit biru yang tampak disela awan kelabu.


Suasana melankolis ini mengingatkanku pada situasi sekarang, menunggu saat


perang seperti bom waktu yang bisa meledak kapanpun.


 “Hm, tak kusangka kau masih melamun disana.”


Fasa mengejutkanku dengan kedatangannya yang tidak kusadari.


 “Aku Cuma merasa sedikit cemas!” Ujarku. Fasa


meletakkan piring berisi cemilan Khas awal musim semi, sebuah kue kering


berbentuk daun mapel.


 “Ini baru awal musim gugur, kuharap sebanyak


apapun daun yang gugur dimusim ini... tak akan membuat gugur semangat kita!”


Fasa melontarkan pandangan keluar jendela, menatap jalanan yang selalu sibuk.


Kami mengobrol tentang beberapa hal


terutama agenda esok hari dan juga pentas opera yang akan tiba sebentar lagi.


Kemudian malam pun semakin larut tanpa kami sadari, Fasa pergi tidur lebih dulu


sedangkan aku membolak-balik buku yang menurutku menarik untuk dibaca.


Tanpa sadar aku tertidur ditempat baca


hingga pagi tiba, siapa sangka itu adalah malam tenangku yang terakhir, karena


setelah ini perjalanan penuh onak dan duri baru saja akan dimulai.


 “TOK, TOK”


Suara ketukan pintu mengganggu indera


pendengaranku, aku bangun lebih dulu untuk membuka pintu. Yang benar saja, tamu


macam apa yang datang pagi buta. Aku berjalan dengan malas menuju pintu dan


tapi sangat menyebalkan, ya... siapa lagi kalau bukan Shui.


 “Ada apa?” Tanyaku.


 “Jam berapa temanmu biasanya bangun?” Tanya


Shui.


 “Jam 8, memangnya kenapa?” Aku balik bertanya.


 “Bagus, sekarang baru jam 5 pagi. Ikut


denganku sekarang, aku harus memberitahumu sesuatu. Jangan sampai temanmu


bangun.” Ujarnya.


 “Jelaskan dulu! Kau pikir aku akan percaya


padamu begitu saja setelah apa yang kau lakukan?” Tatapku penuh selidik.


 “Tolong jangan banyak bantahan, aku hanya mau


memberitahu apa yang ingin kau tau, jadi ikut sajalah dan lupakan sejenak


permasalahan kita!” Desaknya. Kurasa Shui memang punya sesuatu yang sangat


penting, sebaiknya kusetujui dulu.


 “O, oke... aku cuci muka dulu.” Aku segera


menuju kamar mandi dan cuci muka, ia masih menungguku didepan pintu. Aku heran


apa yang semendesak itu sampai ia harus mengunjungiku diam-diam, tapi


kuputuskan untuk tak banyak tanya.


Aku kembali kedepan pintu menemuinya


dan kami pergi kesuatu tempat dengan mobil yang biasa Shui pakai. Kemudian kami


sampai ditepi sebuah danau dibatas antara perkotaan dan pedesaan, danau itu


berada dikaki bukit.


 “Mau apa kesini? Sepi begini!” Tanyaku penuh


penuh curiga.


 “Jangan berpikir macam-macam!” Tukasnya.


Ia menuju sebuah pohon di tepi danau


dan berjongkok, kulihat ia menggali sesuatu didekat pohon itu.


 “Sedang apa kau?” Tanyaku penasaran.


Ia beranjak dari pohon itu dan kembali


padaku sambil membawa sesuatu ditangannya. Ia mengambil tanganku dan meletakkan


sesuatu yang baru saja diambilnya itu diatas telapak tanganku. Kulihat itu


hanya sebuah pecahan kaca tembus pandang berbentuk segilima yang terlihat kuno.


 “Kaca apa ini?” Tanyaku.

__ADS_1


 “Kau


ingin tau kenapa kau bisa berada disini, kan?!” Tanya Shui balik. Aku


tersentak, kurasa aku paham arah pembicaraan Shui.


 “Ma, maksudmu kau tau siapa aku sebenarnya dan


mengapa aku bisa berada disini?” Tanyaku ragu.


 “Ya, karena aku salah satu dari dua orang yang


membuatmu berada disini!” Jawab Shui.


 “Salah satu? Kalau begitu yang seorang


lagi...” aku berusaha menerka.


 “Iya, yang seorang lagi adalah Vier sendiri!


Kau menggunakan raga Vier, tapi konsekuensinya sangat besar sekalipun aku telah


mencegahnya.”


 “Apa yang terjadi pada Vier asli?”


 “Aku tak tau pasti, tapi yang kupahami


adalah... jiwa Vier pergi dari raganya dan digantikan oleh jiwamu.”


 “Apakah jika aku bisa membuka portal untuk


kembali ke ragaku Vier tetap tak bisa kembali ke raganya lagi?”


 “Tak bisa kupastikan tapi itu kemungkinan


besarnya, jadi...”


 “Tunggu Shui! Aku mendengar suara orang


datang!”


Aku memotong ucapan Shui karena


mendengar suara langkah kaki mendekat. Kami menoleh bersamaan dan mendapati Dai


dan Fasa menuju kearah kami. Tak disangka-sangka mereka bisa sampai disini


padahal kami sudah pergi diam-diam.


 “Apa yang kalian lakukan disini?” Tanyaku


begitu mereka sudah berada diantara aku dan Shui.


 “Harusnya kami yang tanya kalian sedang apa


disini!?” Fasa membalik pertanyaannya.


 “Tadi aku melihat gerakan mencurigakan Shui


dipagi buta dan mengikutinya, tak kusangka ia menemuimu, lalu saat kalian pergi


lagi tiba-tiba Fasa memaksa ikut denganku!” Jelas Dai.


 “Kurasa tadi kalian sedang membahas sesuatu,


lanjutkan saja!” Sambung Fasa.


 “Hm, kami juga baru mau membahasnya, lalu


kalian datang menejutkan kami. Hm, Shui bagaimana kalau kau ceritakan lagi


tentang kaca ini!” Ujarku. Aku melirik tajam pada Shui berharap ia tak membahas


tentang kenyataan pahit jika jiwaku pergi dari tubuh Vier.


 “Akan kuceritakan dari awal dimana aku dalam


wujud Noir dan Vier asli membuat kesepakatan.” Shui memulai ceritanya. “Saat


itu Tn. Dai sangat sibuk dengan urusannya, ia sudah lama tidak memunculkan


sosok Noir dan kemudian memintaku menjadi Noir pengganti selama beberapa hari.


Dibalik itu, entah bagaimana tapi Vier asli mengetahui bahwa Noir adalah


keturunan terakhir DarkNight, ia menemuiku diam-diam dan memintaku membantunya


dalam usaha membuka portal waktu dengan memecahkan lirik lagu opera.


Saat itu aku juga sudah menyadari akan


hal tersebut, tapi kubilang tak ada gunanya membuka portal waktu untuk


memanggil DarkNight. Dia yang sebelumnya membenci Noir tiba-tiba memohon agar


dibantu, itu sangat aneh bagiku sampai ia mengatakan alasannya adalah karena


kakak dan ayahnya meninggal saat daerahnya diperangi Yaza Vumi, dia ingin


kekuasaan Yaza Vumi segera berakhir. Dan Vier asli sangat percaya bahwa


DarkNight lah yang mampu mengakhiri semua ini.” Cerita Shui.


 “Berarti waktu itu Vier asli sengaja memintaku


pulang ke distrik 10 agar dia dan kau bisa melakukan percobaan itu?” Tanya


Fasa.


 “Iya, dia tak mau melibatkanmu. Kami memulai


percobaan itu setelah Fasa pulang ke distrik 10.” Jawab Shui.


 “Lalu kami mulai memecahkan maksud lirik lagu


opera tersebut dimulai dari kalimat ‘dunia


terpecah belah ditangan pendekar tak terarah’. Pendekar tak terarah adalah


judul dari karya terakhir DarkNight yang dibuat diatas kaca sebelum menghilang,


terpecah belah mungkin maksudnya adalah pecahan dari kaca tersebut.


Selanjutnya kalimat ‘karya seni ibu pembangunan menyatukan dunia


dalam satu tujuan’ maksudnya kami harus menyatukan serpihan itu dengan


karya lain yang terbuat dari kaca untuk tujuan yang sama. Selanjutnya ‘membekukan perang yang membara’ dan ‘menghapus luka dan air mata’ apa kalian


ingat sebuah tempat dinegeri tropis yang dibekukan dan tentang hutan ‘Luka’ juga ‘Sungai Air Mata’?” Tanya Shui disela ceritanya.


Sejujurnya aku tak paham sama sekali


tentang penjelasan Shui, tapi sepertinya Fasa dan Dai sangat memahaminya. Dan


kenyataan inilah yang nantinya akan mengungkap apakah aku bisa kembali


kezamanku atau tidak, juga apakah Vier asli akan dapat hidup kembali setelah

__ADS_1


jiwaku meninggalkan raganya.


*****


__ADS_2