
“Hm, pantas saja kau sangat terkejut ketika
melihatku, jadi begini ya... rasanya dibohongi?!” Aku berkata sambil berlalu
meninggalkan ruangan itu.
Apa yang ada dipikiranku sekarang?
Semuanya bercampur aduk! Terlalu banyak kejadian hari ini, mulai dari kenyataan
Noir adalah Keturunanku lalu ternyata dia sudah mati dan digantikan Dai, gagal
mendapat petunjuk untuk kembali kezamanku, juga tentang Shui yang ternyata adalah pemeran pengganti yang terkadang
menggantikan Dai menyamar jadi Noir.
Aku sendiri pun bingung kenapa aku
merasa kacau, padahal adalah hal yang sangat sepele ketika Shui menyembunyikan
identitasnya dariku. Aku marah... mungkin karena alasan lain, karena aku
menyukai Noir... bukan! Yang kusukai adalah Shui ketika ia memakai topeng itu.
“Aku diminta Tn. Dai mendatangimu lagi!”
Tiba-tiba suara Shui terdengar jelas
dibelakangku.
Aku berdiri membelakanginya, hari sudah
hampir gelap sekarang dan tanpa sadar aku berjalan sampai kehalaman samping
dimana pohon-pohon Ek berdiri.
“Diminta Dai? Hmf, apakah kau hanya menuruti
perkataannya?” Tanyaku dengan sedikit nada ejekan.
“Ya, hanya Tn. Dai!” Jawab Shui singkat. Ini tak masuk akal tapi entah mengapa aku
merasa sangat kesal.
“Kalau begitu kau rela diperbudak olehnya?
Kenapa kau sampai seperti itu? tidakkah kau punya mimpi?” Tanyaku lagi tanpa
berbalik melihatnya.
“Aku akan jadi pedang dan perisainya, impian
Tn. Dai adalah tujuan hidupku dan tak ada hal lain yang lebih kuinginkan
dibandingkan membalas budi kepadanya!” Jawab Shui penuh yakin.
Aku berbalik kearahnya melihat cahaya
mentari senja yang hampir hilang menerpa rambut hitamnya yang indah.
“Bagaimana jika kau menyukai seseorang atau
ada seseorang yang menyukaimu?” Aku tak mengerti mengapa aku menanyakan hal
bodoh begitu, tapi aku sangat ingin tau tentang Shui.
“Sederhana,” Shui menatapku dengan intens
hingga rasanya aku bisa tau yang ada dipikirannya tanpa perlu bilang.
“Jika
aku menyukai seseorang, maka aku akan lekas melupakannya. Dan jika seseorang
menyukaiku... itu bukanlah urusanku!” Lanjutnya.
“Hmf... hahaha... benar-benar ya... seseorang
sepertimu itu... sangatlah...” aku tak melanjutkan perkataanku dan hanya
menundukkan kepala.
Sekarang aku paham mengapa teman-temanku
disekolah selalu mempermasalahkan hal sepele kalau berhubungan dengan orang
yang disukai, memang membingungkan dan serba salah. Waktu Shui masih jadi Noir,
dia begitu perhatian dan hangat, tapi sekarang ia bersikap seolah tak
mengenalku.
Beberapa saat kemudian aku mengangkat
kepalaku perlahan, ingin tau apakah Shui masih disana menatapku, dan dia
benar-benar masih menatapku seperti sebelumnya.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Tanyaku dengan memaksakan senyuman agar tak terlalu terlihat bahwa aku tengah
merasa kesal dan kecewa.
“Kau... menangis?” Tanya Shui.
Aku terkejut dan menyadari bahwa ada
air yang mengalir dipipiku, ini tidak seperti diriku, mustahil aku menangis
karena sesuatu seperti ini.
“Apakah aku menyakitimu? Kenapa kau menangis?”
Shui bertanya lagi. Kini tatapannya menjadi cemas.
“Tidak, ini bukan karena kau!” Jawabku.
“Lantas kenapa kau menangis? Apa kau terluka?”
“Bukan, ini bukan karena sesuatu seperti
itu... hanya saja aku telah melakukan sesuatu yang bodoh.”
“Bodoh?”
“Ya! Karena aku telah menyulut api, api yang
kemudian padam oleh air mataku sendiri! Sayang sekali Shui, padahal aku
menyukaimu.” ujarku sambil berjalan melalui Shui.
“Oh iya, Cuaca semakin dingin, sebaiknya kau
__ADS_1
juga cepat masuk kedalam. Dan tolong katakan pada Dai, besok pagi sekali kami
akan pulang kerumah kami sendiri.” Lanjutku.
Aku kembali menemui Fasa, ia masih
menungguku ditempat yang sama. Tampaknya Fasa ingin bertanya apa yang telah
terjadi tapi aku sama sekali tak mau membahasnya sekarang, aku hanya bilang
pada Fasa untuk berkemas sekarang.
.....
Beberapa hari kemudian
Latihan opera sudah dimulai sejak dua
hari yang lalu, tapi aku sama sekali tak minat untuk datang dan malah meminta
izin dengan alasan tak enak badan. Aku juga masih belum menceritakan pada Fasa
tentang kisah cinta segitiga konyolku.
Dan semenjak penyusupan kami keistana,
ramai sekali berita yang membahas tentang itu. ada yang menyebut hal ini sebagai
pemberontakan dan sebagainya, dari kejadian itu kami dari DieNeSs juga berduka
karena telah kehilangan anggota kami yaitu pak Jeihan.
“Berita itu lagi?” tanya Fasa ketika kami
sedang sarapan bersama dirumah tulip kami. Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Aku merasa sedih kalau mengingat pak Jeihan,
meskipun itu pertemuan singkat, tetap saja kita sudah menjalankan misi
bersama!” Ujar Fasa lagi.
“Duniaku disini lebih sulit, padahal di
zamanku aku Cuma anak SMA biasa yang tak terlalu dihiraukan orang-orang...
termasuk diriku sendiri juga tak pernah merasakan sesuatu seperti ini!”
Ungkapku.
“Ngomong-ngomong,” Fasa duduk didekatku. “Kau
dan Tn. Dai bagaimana?” Tanya-nya. Aku menghela napas panjang lalu menggeleng
sambil menatap keluar jendela.
“Hey, kenapa sekarang kau kekanakan sekali?”
Kesal Fasa. “Dulu saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau adalah seseorang
yang mengagumkan dengan sikap tenang dan penuh perhitunganmu, kata-kata dan
caramu meyikapi suatu persoalan juga hebat. Tapi kenapa sekarang kau seperti
ini? Persis bocah yang sedang puber!”
“Kau lupa, ya? Umurku baru 17 dan aku memang
sedang puber. Dasar! Lagian kenapa kau kasar sekali sih, katanya mengidolakan
DarkNight?!” Aku membalas omelan Fasa.
Ditengah obroan kami, tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu. Aku berjalan menuju pintu dengan malas dan
membukanya perlahan. Betapa terkejutnya aku melihat Dai berdiri didepan pintu
dengan wajah kesal.
“Keluarlah, aku ingin bicara!” Ujarnya
singkat.
“Aku sibuk, maaf!!!” Tukasku sambil menutup
pintu, tapi Dai menahan pintu dengan kakinya dan langsung mengambil tanganku
lalu menarikku menuju mobilnya.
“Kau mau menculikku?” Tanyaku ketika ia
mendorongku masuk kedalam mobilnya. Ia langsung menutup pintu tanpa menjawab
dan membawaku pergi yang aku tak tau kemana tujuannya.
“Hey, jangan-jangan kau punya niat buruk ya?”
Aku bertanya penuh kecurigaan.
“Aku masih cukup waras untuk berpikir jernih!”
Jawabnya simpel.
“Jadi kenapa?” Tanyaku lagi.
“Aku akan jelaskan ketika sampai ditempatnya.”
Dai memacu mobilnya dengan kecepatan
sangat tinggi. Aku memilih diam dan tak bertanya lagi, semoga saja ini bukan
sesuatu yang buruk. Seketika Dai berhenti ketika sampai diterowongan yang
gelap, terowongan itu tak terlalu panjang.
“Ganti bajumu, Cepat!!!” Pinta Dai dengan
suara pelan tapi tegas sambil dirinya sendiri pun mengganti pakaiannya.
“Dasar Gila, tak punya malu ya kau itu!!!”
Ketusku karena samar-samar kulihat dirinya hanya dengan celana pendek.
Aku tak mengganti bajuku dan hanya
melapisi piyama yang kupakai dengan gaun panjang yang sederhana dan outer yang Dai bawakan untukku. Dai
memintaku mengganti gaya rambut dan memakai topi model Cartwheel yang bercuping lebar.
Setelah itu ia menarikku lagi untuk
berpindah mobil, tak berapa lama setelahnya kami keluar dari terowongan itu
dengan gaya yang berbeda. Kulihat Dai memakai baju yang kerah lehernya tinggi
berwarna hitam lengkap dengan kacamata dan topi fedora berwarna kelabu tua.
__ADS_1
“Vier, dengar!” Akhirnya Dai bicara juga.
“Kita akan pergi ketaman bermain sekarang, jangan salah paham dulu...
berpura-puralah kita sedang kencan!” Ujarnya.
“Baiklah aku tak akan menuntutmu untuk menjelaskan
sekarang, tapi nanti aku ingin kau menjelaskan!” Aku berkata dengan nada
dingin.
Tak lama kemudian kami sampai ditaman
bermain dengan berbagai wahana, mulai dari yang lucu hingga yang ekstrim. Aku
dan Dai keluar dari mobil, kami berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih
yang sedang kencan.
“Menurutmu, wahana mana yang cocok untuk
pembicaraan rahasia?” bisik Dai.
“Hmmm... mungkin kincir itu!” Aku menunjuk
salah satu wahana permainan berbentuk kincir. Dai mengangguk, kami segera
membeli tiket dan mengantri untuk naik kesana.
“Baiklah, sekarang Cuma ada kau dan aku. Kau
bisa ceritakan semuanya!” Pintaku. Dai menghela napas panjang sambil melepas
kacamatanya.
“Sejak kemarin kita diintai!” Ujar Dai.
“Ma, maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Orang-orang menyadari kita tak kunjung muncul
saat upacara perayaan, terlebih lagi beberapa saksi melihat kau dan aku menjauh
dari kerumunan sesaat sebelum waktu pekiraan penyusupan itu. Parahnya lagi...
kita tidak punya alasan atau alibi untuk membantahnya!” Jelas Dai.
“Augh... Sial!!!” Umpatku. “Urusan cinta
segitiga kita saja belum selesai, kenapa ada-ada saja sih masalahnya!”
“Kalau soal cinta segitiga, sih... jangan
dihiraukan! Sebenarnya Shui itu juga tertarik padamu tapi dia tak enak padaku.”
Dai berkata dengan entengnya.
“Kau sendiri bagaimana?” Aku asal bertanya
saja.
“Aku? Hm... bagaimana, ya? Entahlah... aku
bingung sendiri kalau memikirkan itu!” Jawab Dai.
“Dai, sebenarnya... aku sudah senang dengan
kita yang sebagai teman... jadi kalau untuk kearah sana... rasanya agak aneh!”
Ungkapku. Dai hanya tersenyum.
“Terjebak dengan Friend Zone, ya?!” Ledeknya.
Aku bergeser lebih dekat kearahnya lalu
menyandarkan kepalaku dibahu lebar Dai dengan santai, tapi ia tampak terkejut
dengan itu.
“Aku yakin kau bukan Vier, aku akan menunggu
sampai kau mau menceritakan semuanya dan... menunggu kita keluar dari Friend Zone ini!” Dai melipat tangannya kedepan dada,
pandangannya lurus menatap suasana kota dari atas kincir ini.
Yah, suasananya bagus, ini pertama
kalinya bagiku naik wahana seperti ini. Perasaanku yang kacau dan bingung
menjadi lebih tenang sekarang. Meskipun keadaan saat ini tengah rumit, aku
ingin coba menenangkan diriku dulu dan membiarkan pikiranku kosong.
“Dai!” Panggilku.
“Ya?” Sahutnya pelan.
“Apakah ini mimpi? Apa kau bagian dari
mimpiku?” Tanyaku. Dai kebingungan dengan pertanyaanku.
“Hm, apa maksudmu?” Ia balik bertanya.
“Suatu hari aku tertidur, kemudian aku bangun
sebagai orang lain... sekian lama aku disana dan terbiasa dengan semua suasana
itu... mengenal orang baru, berpetualang dan sekian banyak peristiwa hingga
lama-kelamaan... aku merasa masa laluku lah yang mimpi!” Ceritaku.
Dai terdiam dan tak mengatakan apapun
sampai kami selesai dan turun dari wahana kincir. Selanjutnya kami berjalan
diantara banyak orang masih dalam keadaan hening, memangnya apa yang salah dari
perkataanku?
Saat aku tengah sibuk dengan pikiranku,
tiba-tiba Dai memintaku berhenti, aku menoleh padanya. Ia menunjuk pada
beberapa orang berpakaian rapi yang tengah berkeliaran diantara keramaian,
orang-orang itu tampak seperti sedang mencari sesuatu.
“Mereka pengintai yang mengikuti kita, tapi
selama kita bersikap tenang mereka tak akan tau!” Ujar Dai.
“Umm... sepertinya dugaanmu salah, sobat!” Ujarku
begitu melihat sekumpulan orang berpakaian rapi yang tadi dipinggir jalan
mendekat dengan cepat kearah kami.
__ADS_1
*****