Break The Secret

Break The Secret
17) Perasaanmu?


__ADS_3

 


 


 “Hm, pantas saja kau sangat terkejut ketika


melihatku, jadi begini ya... rasanya dibohongi?!” Aku berkata sambil berlalu


meninggalkan ruangan itu.


Apa yang ada dipikiranku sekarang?


Semuanya bercampur aduk! Terlalu banyak kejadian hari ini, mulai dari kenyataan


Noir adalah Keturunanku lalu ternyata dia sudah mati dan digantikan Dai, gagal


mendapat petunjuk untuk kembali kezamanku,  juga tentang Shui yang ternyata adalah pemeran pengganti yang terkadang


menggantikan Dai menyamar jadi Noir.


Aku sendiri pun bingung kenapa aku


merasa kacau, padahal adalah hal yang sangat sepele ketika Shui menyembunyikan


identitasnya dariku. Aku marah... mungkin karena alasan lain, karena aku


menyukai Noir... bukan! Yang kusukai adalah Shui ketika ia memakai topeng itu.


 “Aku diminta Tn. Dai mendatangimu lagi!”


Tiba-tiba suara Shui terdengar jelas


dibelakangku.


Aku berdiri membelakanginya, hari sudah


hampir gelap sekarang dan tanpa sadar aku berjalan sampai kehalaman samping


dimana pohon-pohon Ek berdiri.


 “Diminta Dai? Hmf, apakah kau hanya menuruti


perkataannya?” Tanyaku dengan sedikit nada ejekan.


 “Ya, hanya Tn. Dai!” Jawab Shui singkat.  Ini tak masuk akal tapi entah mengapa aku


merasa sangat kesal.


 “Kalau begitu kau rela diperbudak olehnya?


Kenapa kau sampai seperti itu? tidakkah kau punya mimpi?” Tanyaku lagi tanpa


berbalik melihatnya.


 “Aku akan jadi pedang dan perisainya, impian


Tn. Dai adalah tujuan hidupku dan tak ada hal lain yang lebih kuinginkan


dibandingkan membalas budi kepadanya!” Jawab Shui penuh yakin.


Aku berbalik kearahnya melihat cahaya


mentari senja yang hampir hilang menerpa rambut hitamnya yang indah.


 “Bagaimana jika kau menyukai seseorang atau


ada seseorang yang menyukaimu?” Aku tak mengerti mengapa aku menanyakan hal


bodoh begitu, tapi aku sangat ingin tau tentang Shui.


 “Sederhana,” Shui menatapku dengan intens


hingga rasanya aku bisa tau yang ada dipikirannya tanpa perlu bilang.


 “Jika


aku menyukai seseorang, maka aku akan lekas melupakannya. Dan jika seseorang


menyukaiku... itu bukanlah urusanku!” Lanjutnya.


 “Hmf... hahaha... benar-benar ya... seseorang


sepertimu itu... sangatlah...” aku tak melanjutkan perkataanku dan hanya


menundukkan kepala.


Sekarang aku paham mengapa teman-temanku


disekolah selalu mempermasalahkan hal sepele kalau berhubungan dengan orang


yang disukai, memang membingungkan dan serba salah. Waktu Shui masih jadi Noir,


dia begitu perhatian dan hangat, tapi sekarang ia bersikap seolah tak


mengenalku.


Beberapa saat kemudian aku mengangkat


kepalaku perlahan, ingin tau apakah Shui masih disana menatapku, dan dia


benar-benar masih menatapku seperti sebelumnya.


 “Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?”


Tanyaku dengan memaksakan senyuman agar tak terlalu terlihat bahwa aku tengah


merasa kesal dan kecewa.


 “Kau... menangis?” Tanya Shui.


Aku terkejut dan menyadari bahwa ada


air yang mengalir dipipiku, ini tidak seperti diriku, mustahil aku menangis


karena sesuatu seperti ini.


 “Apakah aku menyakitimu? Kenapa kau menangis?”


Shui bertanya lagi. Kini tatapannya menjadi cemas.


 “Tidak, ini bukan karena kau!” Jawabku.


 “Lantas kenapa kau menangis? Apa kau terluka?”


 “Bukan, ini bukan karena sesuatu seperti


itu... hanya saja aku telah melakukan sesuatu yang bodoh.”


 “Bodoh?”


 “Ya! Karena aku telah menyulut api, api yang


kemudian padam oleh air mataku sendiri! Sayang sekali Shui, padahal aku


menyukaimu.” ujarku sambil berjalan melalui Shui.


 “Oh iya, Cuaca semakin dingin, sebaiknya kau

__ADS_1


juga cepat masuk kedalam. Dan tolong katakan pada Dai, besok pagi sekali kami


akan pulang kerumah kami sendiri.” Lanjutku.


Aku kembali menemui Fasa, ia masih


menungguku ditempat yang sama. Tampaknya Fasa ingin bertanya apa yang telah


terjadi tapi aku sama sekali tak mau membahasnya sekarang, aku hanya bilang


pada Fasa untuk berkemas sekarang.


.....


Beberapa hari kemudian


Latihan opera sudah dimulai sejak dua


hari yang lalu, tapi aku sama sekali tak minat untuk datang dan malah meminta


izin dengan alasan tak enak badan. Aku juga masih belum menceritakan pada Fasa


tentang kisah cinta segitiga konyolku.


Dan semenjak penyusupan kami keistana,


ramai sekali berita yang membahas tentang itu. ada yang menyebut hal ini sebagai


pemberontakan dan sebagainya, dari kejadian itu kami dari DieNeSs juga berduka


karena telah kehilangan anggota kami yaitu pak Jeihan.


 “Berita itu lagi?” tanya Fasa ketika kami


sedang sarapan bersama dirumah tulip kami. Aku mengangguk sebagai jawaban.


 “Aku merasa sedih kalau mengingat pak Jeihan,


meskipun itu pertemuan singkat, tetap saja kita sudah menjalankan misi


bersama!” Ujar Fasa lagi.


 “Duniaku disini lebih sulit, padahal di


zamanku aku Cuma anak SMA biasa yang tak terlalu dihiraukan orang-orang...


termasuk diriku sendiri juga tak pernah merasakan sesuatu seperti ini!”


Ungkapku.


 “Ngomong-ngomong,” Fasa duduk didekatku. “Kau


dan Tn. Dai bagaimana?” Tanya-nya. Aku menghela napas panjang lalu menggeleng


sambil menatap keluar jendela.


 “Hey, kenapa sekarang kau kekanakan sekali?”


Kesal Fasa. “Dulu saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau adalah seseorang


yang mengagumkan dengan sikap tenang dan penuh perhitunganmu, kata-kata dan


caramu meyikapi suatu persoalan juga hebat. Tapi kenapa sekarang kau seperti


ini? Persis bocah yang sedang puber!”


 “Kau lupa, ya? Umurku baru 17 dan aku memang


sedang puber. Dasar! Lagian kenapa kau kasar sekali sih, katanya mengidolakan


DarkNight?!” Aku membalas omelan Fasa.


Ditengah obroan kami, tiba-tiba


terdengar suara ketukan pintu. Aku berjalan menuju pintu dengan malas dan


membukanya perlahan. Betapa terkejutnya aku melihat Dai berdiri didepan pintu


dengan wajah kesal.


 “Keluarlah, aku ingin bicara!” Ujarnya


singkat.


 “Aku sibuk, maaf!!!” Tukasku sambil menutup


pintu, tapi Dai menahan pintu dengan kakinya dan langsung mengambil tanganku


lalu menarikku menuju mobilnya.


 “Kau mau menculikku?” Tanyaku ketika ia


mendorongku masuk kedalam mobilnya. Ia langsung menutup pintu tanpa menjawab


dan membawaku pergi yang aku tak tau kemana tujuannya.


 “Hey, jangan-jangan kau punya niat buruk ya?”


Aku bertanya penuh kecurigaan.


 “Aku masih cukup waras untuk berpikir jernih!”


Jawabnya simpel.


 “Jadi kenapa?” Tanyaku lagi.


 “Aku akan jelaskan ketika sampai ditempatnya.”


Dai memacu mobilnya dengan kecepatan


sangat tinggi. Aku memilih diam dan tak bertanya lagi, semoga saja ini bukan


sesuatu yang buruk. Seketika Dai berhenti ketika sampai diterowongan yang


gelap, terowongan itu tak terlalu panjang.


 “Ganti bajumu, Cepat!!!” Pinta Dai dengan


suara pelan tapi tegas sambil dirinya sendiri pun mengganti pakaiannya.


 “Dasar Gila, tak punya malu ya kau itu!!!”


Ketusku karena samar-samar kulihat dirinya hanya dengan celana pendek.


Aku tak mengganti bajuku dan hanya


melapisi piyama yang kupakai dengan gaun panjang yang sederhana dan outer yang Dai bawakan untukku. Dai


memintaku mengganti gaya rambut dan memakai topi model Cartwheel yang bercuping lebar.


Setelah itu ia menarikku lagi untuk


berpindah mobil, tak berapa lama setelahnya kami keluar dari terowongan itu


dengan gaya yang berbeda. Kulihat Dai memakai baju yang kerah lehernya tinggi


berwarna hitam lengkap dengan kacamata dan topi fedora berwarna kelabu tua.

__ADS_1


 “Vier, dengar!” Akhirnya Dai bicara juga.


“Kita akan pergi ketaman bermain sekarang, jangan salah paham dulu...


berpura-puralah kita sedang kencan!” Ujarnya.


 “Baiklah aku tak akan menuntutmu untuk menjelaskan


sekarang, tapi nanti aku ingin kau menjelaskan!” Aku berkata dengan nada


dingin.


Tak lama kemudian kami sampai ditaman


bermain dengan berbagai wahana, mulai dari yang lucu hingga yang ekstrim. Aku


dan Dai keluar dari mobil, kami berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih


yang sedang kencan.


 “Menurutmu, wahana mana yang cocok untuk


pembicaraan rahasia?” bisik Dai.


 “Hmmm... mungkin kincir itu!” Aku menunjuk


salah satu wahana permainan berbentuk kincir. Dai mengangguk, kami segera


membeli tiket dan mengantri untuk naik kesana.


 “Baiklah, sekarang Cuma ada kau dan aku. Kau


bisa ceritakan semuanya!” Pintaku. Dai menghela napas panjang sambil melepas


kacamatanya.


 “Sejak kemarin kita diintai!” Ujar Dai.


 “Ma, maksudmu?” Tanyaku bingung.


 “Orang-orang menyadari kita tak kunjung muncul


saat upacara perayaan, terlebih lagi beberapa saksi melihat kau dan aku menjauh


dari kerumunan sesaat sebelum waktu pekiraan penyusupan itu. Parahnya lagi...


kita tidak punya alasan atau alibi untuk membantahnya!” Jelas Dai.


 “Augh... Sial!!!” Umpatku. “Urusan cinta


segitiga kita saja belum selesai, kenapa ada-ada saja sih masalahnya!”


 “Kalau soal cinta segitiga, sih... jangan


dihiraukan! Sebenarnya Shui itu juga tertarik padamu tapi dia tak enak padaku.”


Dai berkata dengan entengnya.


 “Kau sendiri bagaimana?” Aku asal bertanya


saja.


 “Aku? Hm... bagaimana, ya? Entahlah... aku


bingung sendiri kalau memikirkan itu!” Jawab Dai.


 “Dai, sebenarnya... aku sudah senang dengan


kita yang sebagai teman... jadi kalau untuk kearah sana... rasanya agak aneh!”


Ungkapku.  Dai hanya tersenyum.


 “Terjebak dengan Friend Zone, ya?!” Ledeknya.


Aku bergeser lebih dekat kearahnya lalu


menyandarkan kepalaku dibahu lebar Dai dengan santai, tapi ia tampak terkejut


dengan itu.


 “Aku yakin kau bukan Vier, aku akan menunggu


sampai kau mau menceritakan semuanya dan... menunggu kita keluar dari Friend Zone ini!”  Dai melipat tangannya kedepan dada,


pandangannya lurus menatap suasana kota dari atas kincir ini.


Yah, suasananya bagus, ini pertama


kalinya bagiku naik wahana seperti ini. Perasaanku yang kacau dan bingung


menjadi lebih tenang sekarang. Meskipun keadaan saat ini tengah rumit, aku


ingin coba menenangkan diriku dulu dan membiarkan pikiranku kosong.


 “Dai!” Panggilku.


 “Ya?” Sahutnya pelan.


 “Apakah ini mimpi? Apa kau bagian dari


mimpiku?” Tanyaku. Dai kebingungan dengan pertanyaanku.


 “Hm, apa maksudmu?” Ia balik bertanya.


 “Suatu hari aku tertidur, kemudian aku bangun


sebagai orang lain... sekian lama aku disana dan terbiasa dengan semua suasana


itu... mengenal orang baru, berpetualang dan sekian banyak peristiwa hingga


lama-kelamaan... aku merasa masa laluku lah yang mimpi!” Ceritaku.


Dai terdiam dan tak mengatakan apapun


sampai kami selesai dan turun dari wahana kincir. Selanjutnya kami berjalan


diantara banyak orang masih dalam keadaan hening, memangnya apa yang salah dari


perkataanku?


Saat aku tengah sibuk dengan pikiranku,


tiba-tiba Dai memintaku berhenti, aku menoleh padanya. Ia menunjuk pada


beberapa orang berpakaian rapi yang tengah berkeliaran diantara keramaian,


orang-orang itu tampak seperti sedang mencari sesuatu.


 “Mereka pengintai yang mengikuti kita, tapi


selama kita bersikap tenang mereka tak akan tau!” Ujar Dai.


 “Umm... sepertinya dugaanmu salah, sobat!” Ujarku


begitu melihat sekumpulan orang berpakaian rapi yang tadi dipinggir jalan


mendekat dengan cepat kearah kami.

__ADS_1


*****


__ADS_2