Break The Secret

Break The Secret
6) Sifatnya


__ADS_3

Mendengar kata-kata itu, seluruh


tubuhku terasa dingin membeku, mataku mendelik dan mulutku terbuka. Takut! Itu


yang kurasakan. Dia bukanlah Dai yang biasa terlihat, apakah ini perangai


aslinya? Kejam dan mengerikan!


Dai menyeretku keluar dari ruangan, dan


dia berhenti dihalaman belakang. Dia menghempasku kehadapannya, matanya masih


menatap penuh diskriminasi. Tapi aku mendapatkan kepercayaan diriku lagi, aku


tak boleh terlihat takut didepan psikopat ini.


 “Apakah ini dirimu yang sesungguhnya? Ironis


sekali tuan pangeran!” Tukasku dengan suara yang kubuat lantang dan jelas. Dai


masih memiliki tatapan yang sama, mulutnya seolah terkunci dan tak mengatakan


sepatah katapun.


 “Aku punya ide, bagaimana kalau kita lihat


seberapa mengerikan dirimu. Ayo Dai! TUNJUKKAN SIFAT ASLIMU!!!” Teriakku dengan


sekerasnya.


 “Kau ketakutan!”


Dua kata yang memukulku dengan telak.


Ya, aku berteriak karena aku ketakutan, kenapa orang seperti dia bisa sangat


mengejutkan begini. Apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya? Membayangkannya


saja membuatku takut.


Dai memasang kembali topeng yang


sebelumnya tidak ia pakai, dia pergi meninggalkanku begitu saja, tanpa kata dan


tanpa ekspresi. Setelah dia melesat entah kemana, aku baru bisa bernapas lega,


kakiku lemas dan aku langsung jatuh terduduk.


 “Bodoh! Apa yang kulakukan...? Tiba-tiba aku


jadi pengecut...” Gumamku. Yang membuatku sangat kesal adalah air mataku menetes


karena ketakutan. Aku benci dengan mental lemah begini.


 “VIER!!!”


Suara Fasa memanggilku. Kulihat dia


berlari kearahku dengan wajah yang khawatir.


 “Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?” Tanyanya


tanpa jeda.


 “Tidak! Sebaiknya kita pulang sekarang!”


Pintaku.


 “T, tapi...”


 “Kumohon...”


Lirihku. Fasa mengangguk dan membantuku


berdiri, dia membawaku kemobilnya dan saat itu juga kami langsung pulang


kerumah tulip. Sampai dirumah aku langsung berbaring diranjangku dan


membenamkan wajahku dibantal.


 “Boleh aku tau apa yang terjadi?” Fasa masuk


kekamarku dan mendekat perlahan lalu duduk disampingku.


 “Aku... benci! Aku akan membalas lelaki itu!”


Geramku.


 “Aku akan menanyakan kembali besok, sekarang


tenangkan dirimu dulu.” Fasa mengusap rambutku sebelum pergi.


Malam itu aku tak tau kapan aku


berhenti menangis dan terlelap. Yang jelas aku membuka mataku ketika matahari


sudah sedikit naik dan terlihat separuh. Aku bangun masih dengan gaun yang


semalam, dan kurasa sebaiknya aku ganti pakaian.


Aku pergi kedapur setelah mandi dan


berganti pakaian, Fasa sedang sibuk memasak sesuatu. Aku mendekat kearahnya


tanpa berkata sampai dia menyadari keberadaanku.


 “Boleh kuulang pertanyaanku semalam?” Tanya


Fasa.


Aku mengangguk. Kuceritakan mulai dari


ketika aku kembali dari toilet dan menguping, sampai ketika Dai bersikap kasar


padaku. Fasa mengangguk-angguk paham, dia memikirkan hal yang sama denganku


juga. Kenapa Dai marah ketika aku menguping obrolan dua pria itu?


 “Hm, aku tak tau ini ada kaitannya atau


tidak.  Beberapa waktu lalu ada berita


tentang sebuah kelompok di utara yang menentang Yaza Vumi, tapi kabarnya berita


itu hanya kebohongan.” Ujar Fasa sambil terus mengaduk masakannya


dipenggorengan.


 “Bagaimana jika berita itu benar? Bukankah itu


kesempatan kita untuk bergabung?” Komentarku.


 “Bisa saja sih, tapi bagaimana cara kita


menemukan mereka?”


 “Bukankah semalam aku konflik dengan seseorang


yang kelihatannya memiliki hubungan dengan itu?”


 “Dai?”


 “Ya! Hari ini ada latihan opera, aku akan


mengait mulutnya dengan umpan terbaikku. Untuk membuktikan padanya, bahwa

__ADS_1


simpul yang kutarik adalah simpul yang benar dan dia tak akan berdaya


dihadapanku!”


 “Ng... tak berdaya yang kau maksud itu


mengalahkannya atau membuatnya jatuh cinta padamu hingga gila?”


Dikeadaan begini, Fasa malah


mempertanyakan sesuatu yang sangat konyol dengan wajah seolah itu pertanyaan


berbobot.


 “Bodoh! Tentu saja mengalahkannya...” Ujarku.


“Hm... tapi membuatnya tergila-gila padaku juga ide bagus!”


Fasa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kami sarapan bersama pagi itu, lalu


Fasa mengantarku ke tempat latihan opera. Sesampai disana, aku mencari wajah


tengil si-White Prince itu, tapi aku tak menemukannya bahkan setelah latihan


selesai.


Karena penasaran, aku menyusup ke ruang


gantinya, lagi pula dia tidak datang hari ini. Diruang gantinya, aku hanya


menemukan banyak aksesoris yang dipakai untuk pementasan, lalu aku membuka


lemari tempat menyimpan kostum, nah... disini baru menarik.


 Ada sebuah pintu kecil berukuran 1x1 meter


dibalik himpunan baju yang sangat banyak itu. Aku membuka pintu kecil itu dan


memasukinya, dalamnya seperti menyusuri lorong yang tak berujung, aku sampai


mual. Tapi akhirnya lorong itu memiliki pintu keluar.


Sebelum benar-benar keluar, aku sedikit


mengintip dan sepertinya tak ada siapa-siapa. Kujejakkan kakiku keluar pintu,


mengendap-endap seperti kucing yang hendak mencuri ikan.


Ada sebuah pintu disana, kurasa ini


adalah bagian dalam istana Yaza Vumi, dan haruskah aku menelusurinya?


Jangan tanya soal penyakit tukang penasaran-ku yang saat ini sedang


kambuh, aku menelusuri istana itu sampai pada sebuah ruangan mirip galeri yang


terpajang banyak foto.


Disana banyak pula foto yang mirip


wajahku versi lebih tua, aku memperhatikannya dan itu benar diriku. Disana


tertulis nama En’em Ji : DarkNight.


Ditengah keasyikanku memandangi foto


satu-persatu, aku mendengar suara langkah kaki diiringi pecakapan yang perlahan


semakin mendekat. Ya ampun, lagi-lagi! Aku bingung harus sembunyi dimana, lalu


kudengar suara pintu dibuka dan tiba-tiba gelap pekat.


Itu suara salah seorang putri Yaza


Vumi, dan apa katanya tadi? Noir?


Kubuka mataku perlahan, dan sepertinya


aku ada dibalik jubah hitam seorang pria tinggi kekar. Benar, aku memang


didalam jubahnya, dan yang bisa kulihat samar-samar hanya punggung yang


dilapisi Sweather woll tebal. Apa ini punggungnya Noir?


Dari dalam sini aku bisa mendengar


suara kedua orang putri Yaza Vumi, juga melihat Noir mengeluarkan kertas-kertas


dari sakunya untuk menjawab pertanyaan Dua orang putri tersebut. Akhirnya


kudengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali diiringi suara langah kaki yang


menjauh. Mereka pergi! Dan selanjutnya, apa yang akan terjadi padaku?


Sebelum itu, kulihat ada sebuah bekas


luka di tengkuk Noir. Bekas luka yang begitu rapi, karena sangking penasarannya, kutarik bagian belakang bajunya sampai ia


terkejut dan memekik lalu menghempasku keluar dari jubahnya.


Aku menatap Noir dengan wajah memelas,


juga tatapan seolah tak berdosa. Kudengar suara helaan napas Noir dari balik


topengnya. Dia agak membungkuk untuk menyesuaikan tingginya padaku, kuharap dia


akan bicara karena aku penasaran dengan suaranya, pekikannya tadi tak membuatku


puas.


Dengan tiba-tiba dan dengan jahilnya,


aku menarik topeng Noir hingga sedikit terbuka dan aku bisa melihat dari dagu


sampai setengah hidungnya.


 “Katakan sesuatu atau topeng ini kutarik


lepas!” Ancamku. Aku pun tak mengerti mengapa aku begitu berani pada Noir. Tapi


yang jelas aku merasa aman disisi Noir yang ini, karena kurasa terkadang ‘dia’


adalah orang lain.


Noir terpaku, topengnya benar-benar


hampir lepas.


 “Kenapa kau bersembunyi dibalik topeng ini?”


Tanyaku dengan nada sedikit memaksa.


Perlahan katup bibirnya terbuka, dia


berkata dengan suara yang sangat pelan dan agak horor, suaranya rendah dan


dalam, juga sedikit serak basah.


 “Aku tak bersembunyi dibalik topeng... topeng


ini yang bersembunyi dibalik diriku!”


Katanya sedemikian halusnya. Dia

__ADS_1


menepis tanganku dari topengnya dengan lembut, lalu membetulkan kembali topeng


tengkorak itu. Karena setelahnya dia langsung membawaku pergi, aku tak sempat


terpesona dengan momen tadi, ya aku tahu ini situasi tak aman untuk terpesona.


Masih ada misterinya, kenapa Noir ada


disini? Dan mengapa sepertinya hal tersebut sudah biasa bahkan dua orang putri


itu saja tampak biasa melihat Noir berada di istana. Juga satu hal lagi, mengapa


dia melindungiku?


Saat ini aku dan Noir melewati


terowongan bawah tanah, kalau mau kugambarkan keadaannya, persis seperti film


horor. Wujud seperti malaikat maut berjalan didepanku dengan lentera, dan aku


merasa seperti menuju alam baka.


Terowongan itu berakhir dengan tangga


menuju permukaan tanah, aku menaikinya mengikuti Noir dan kami sampai disuatu pemukiman.


 “Teman-teman, lihat! Itu Noir dengan seorang


putri!” Seru seorang bocah lelaki berusia sekitar 6 tahunan pada teman-teman


seusianya. Anak-anak itu berlari kearah kami dan langsung lengket pada Noir.


 “Apa dia istrimu?” Tanya salah seorang anak.


Noir menjawab dengan gelengan ringan.


Aku tersenyum pada anak-anak itu, mereka terlihat senang dengan kehadiranku.


Sejujurnya ini pertama kali aku berada ditempat yang sejuk begini semenjak


berada ditahun 2200. Sebelumnya hanya monoton di opera dan rumah tulip saja.


Tempat ini seperti sebuah desa yang


sederhana, alamnya masih hijau dan udaranya sejuk. Kenapa terowongan bawah


tanah diistana bisa terhubung kesini? Sepertinya aku tak akan menanyakannya


pada Noir. Sikapnya padaku sudah sangat baik, aku tak mau membuatnya risih.


Tak lama setelah itu, datang seorang


pria paruh baya dengan rambut yang sudah sedikit beruban. Dia menghampiri aku


dan Noir.


 “Anda membawa seseorang kesini, apa anda yakin


dia bisa dipercaya?” Tanya pria itu. Noir mengangguk.


 “Apa anda akan mengajaknya bergabung?” Tanya


pria itu lagi. Noir terdiam sejenak, lalu dia menoleh padaku seperti bertanya


pendapatku tentang perkataan pria itu. Aku sama sekali tak megerti apa yang


dibahas, hanya mengangkat bahu tanda bahwa aku tak punya pendapat.


Noir tak berkata apa-apalagi, sesaat


setelah aku berada di pemukiman kecil itu dia langsung mengantarku pulang. Ada


yang menarik perhatianku ketika berada ditempat pemukiman tadi, yaitu tulisan


DieNeSs yang tertera dimana-mana.


.....


“DieNeSs?”


Heran Fasa ketika mendengar ceritaku


tentang hari ini. Sekarang aku sudah berada dirumah tulip bersama Fasa sambil


menyeruput teh hangat di senja yang cuacanya mulai berubah dingin.


 “Iya! Kurasa kata itu berarti sesuatu!”


Komentarku.


 “Rasanya aku pernah mendengar Vier asli


mengatakannya, tapi aku sama sekali tak tau!” Fasa menggaruk kepalanya dengan


Frustasi.


 “Tunggu, kalau Vier asli pernah


mengatakannya... mungkin itu ada dicatatannya atau apalah.” Terka-ku.


 “Tidak! Dulu kami pernah membahasnya sebelum


Vier jadi pemain opera... kurasa itu ada dikoran atau majalah.”


 “Mau mencarinya sekarang?”


 “AYO!!!”


Fasa langsung bersemangat menanggapi


usulanku. Kami membongkar tumpukan majalah  dan koran lama untuk mencari sesuatu dengan kata kunci DieNeSs. Mungkin


sekitar 30 menit kami mengobrak-abrik tumpukan kertas sampai Fasa berteriak


girang. Aku langsung menghampirinya.


 “Lihat! Lihat! Ini beritanya, DieNeSs itu!”


Seru Fasa.


 “Ayo bacakan!” Pintaku.


“DieNeSs adalah cara lain untuk membaca


DNS yaitu singkatan DarkNight Shouldiers. Kelompok ini muncul pada masa awal


dimana DarkNight muncul lalu memberi bantuan, dan para DNS seperti


sukarelawannya. Kelompok ini menghilang setelah berseteru dengan Yaza Vumi II,


mereka menganggap dunia dibawah satu pimpinan itu bukanlah keadilan.”


Kami membacanya hampir bersamaan lalu


saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


 “Kita sudah mendekat pada menu utama, tinggal


menunggunya matang, kan?!” Ujarku.


 “Kita temukan Para DieNeSs, mereka dan kita


mungkin bisa bersatu karena punya tujuan yang sama.” Sambung Fasa sambil


menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2