
Mendengar kata-kata itu, seluruh
tubuhku terasa dingin membeku, mataku mendelik dan mulutku terbuka. Takut! Itu
yang kurasakan. Dia bukanlah Dai yang biasa terlihat, apakah ini perangai
aslinya? Kejam dan mengerikan!
Dai menyeretku keluar dari ruangan, dan
dia berhenti dihalaman belakang. Dia menghempasku kehadapannya, matanya masih
menatap penuh diskriminasi. Tapi aku mendapatkan kepercayaan diriku lagi, aku
tak boleh terlihat takut didepan psikopat ini.
“Apakah ini dirimu yang sesungguhnya? Ironis
sekali tuan pangeran!” Tukasku dengan suara yang kubuat lantang dan jelas. Dai
masih memiliki tatapan yang sama, mulutnya seolah terkunci dan tak mengatakan
sepatah katapun.
“Aku punya ide, bagaimana kalau kita lihat
seberapa mengerikan dirimu. Ayo Dai! TUNJUKKAN SIFAT ASLIMU!!!” Teriakku dengan
sekerasnya.
“Kau ketakutan!”
Dua kata yang memukulku dengan telak.
Ya, aku berteriak karena aku ketakutan, kenapa orang seperti dia bisa sangat
mengejutkan begini. Apa yang akan dia lakukan padaku selanjutnya? Membayangkannya
saja membuatku takut.
Dai memasang kembali topeng yang
sebelumnya tidak ia pakai, dia pergi meninggalkanku begitu saja, tanpa kata dan
tanpa ekspresi. Setelah dia melesat entah kemana, aku baru bisa bernapas lega,
kakiku lemas dan aku langsung jatuh terduduk.
“Bodoh! Apa yang kulakukan...? Tiba-tiba aku
jadi pengecut...” Gumamku. Yang membuatku sangat kesal adalah air mataku menetes
karena ketakutan. Aku benci dengan mental lemah begini.
“VIER!!!”
Suara Fasa memanggilku. Kulihat dia
berlari kearahku dengan wajah yang khawatir.
“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?” Tanyanya
tanpa jeda.
“Tidak! Sebaiknya kita pulang sekarang!”
Pintaku.
“T, tapi...”
“Kumohon...”
Lirihku. Fasa mengangguk dan membantuku
berdiri, dia membawaku kemobilnya dan saat itu juga kami langsung pulang
kerumah tulip. Sampai dirumah aku langsung berbaring diranjangku dan
membenamkan wajahku dibantal.
“Boleh aku tau apa yang terjadi?” Fasa masuk
kekamarku dan mendekat perlahan lalu duduk disampingku.
“Aku... benci! Aku akan membalas lelaki itu!”
Geramku.
“Aku akan menanyakan kembali besok, sekarang
tenangkan dirimu dulu.” Fasa mengusap rambutku sebelum pergi.
Malam itu aku tak tau kapan aku
berhenti menangis dan terlelap. Yang jelas aku membuka mataku ketika matahari
sudah sedikit naik dan terlihat separuh. Aku bangun masih dengan gaun yang
semalam, dan kurasa sebaiknya aku ganti pakaian.
Aku pergi kedapur setelah mandi dan
berganti pakaian, Fasa sedang sibuk memasak sesuatu. Aku mendekat kearahnya
tanpa berkata sampai dia menyadari keberadaanku.
“Boleh kuulang pertanyaanku semalam?” Tanya
Fasa.
Aku mengangguk. Kuceritakan mulai dari
ketika aku kembali dari toilet dan menguping, sampai ketika Dai bersikap kasar
padaku. Fasa mengangguk-angguk paham, dia memikirkan hal yang sama denganku
juga. Kenapa Dai marah ketika aku menguping obrolan dua pria itu?
“Hm, aku tak tau ini ada kaitannya atau
tidak. Beberapa waktu lalu ada berita
tentang sebuah kelompok di utara yang menentang Yaza Vumi, tapi kabarnya berita
itu hanya kebohongan.” Ujar Fasa sambil terus mengaduk masakannya
dipenggorengan.
“Bagaimana jika berita itu benar? Bukankah itu
kesempatan kita untuk bergabung?” Komentarku.
“Bisa saja sih, tapi bagaimana cara kita
menemukan mereka?”
“Bukankah semalam aku konflik dengan seseorang
yang kelihatannya memiliki hubungan dengan itu?”
“Dai?”
“Ya! Hari ini ada latihan opera, aku akan
mengait mulutnya dengan umpan terbaikku. Untuk membuktikan padanya, bahwa
__ADS_1
simpul yang kutarik adalah simpul yang benar dan dia tak akan berdaya
dihadapanku!”
“Ng... tak berdaya yang kau maksud itu
mengalahkannya atau membuatnya jatuh cinta padamu hingga gila?”
Dikeadaan begini, Fasa malah
mempertanyakan sesuatu yang sangat konyol dengan wajah seolah itu pertanyaan
berbobot.
“Bodoh! Tentu saja mengalahkannya...” Ujarku.
“Hm... tapi membuatnya tergila-gila padaku juga ide bagus!”
Fasa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kami sarapan bersama pagi itu, lalu
Fasa mengantarku ke tempat latihan opera. Sesampai disana, aku mencari wajah
tengil si-White Prince itu, tapi aku tak menemukannya bahkan setelah latihan
selesai.
Karena penasaran, aku menyusup ke ruang
gantinya, lagi pula dia tidak datang hari ini. Diruang gantinya, aku hanya
menemukan banyak aksesoris yang dipakai untuk pementasan, lalu aku membuka
lemari tempat menyimpan kostum, nah... disini baru menarik.
Ada sebuah pintu kecil berukuran 1x1 meter
dibalik himpunan baju yang sangat banyak itu. Aku membuka pintu kecil itu dan
memasukinya, dalamnya seperti menyusuri lorong yang tak berujung, aku sampai
mual. Tapi akhirnya lorong itu memiliki pintu keluar.
Sebelum benar-benar keluar, aku sedikit
mengintip dan sepertinya tak ada siapa-siapa. Kujejakkan kakiku keluar pintu,
mengendap-endap seperti kucing yang hendak mencuri ikan.
Ada sebuah pintu disana, kurasa ini
adalah bagian dalam istana Yaza Vumi, dan haruskah aku menelusurinya?
Jangan tanya soal penyakit tukang penasaran-ku yang saat ini sedang
kambuh, aku menelusuri istana itu sampai pada sebuah ruangan mirip galeri yang
terpajang banyak foto.
Disana banyak pula foto yang mirip
wajahku versi lebih tua, aku memperhatikannya dan itu benar diriku. Disana
tertulis nama En’em Ji : DarkNight.
Ditengah keasyikanku memandangi foto
satu-persatu, aku mendengar suara langkah kaki diiringi pecakapan yang perlahan
semakin mendekat. Ya ampun, lagi-lagi! Aku bingung harus sembunyi dimana, lalu
kudengar suara pintu dibuka dan tiba-tiba gelap pekat.
Itu suara salah seorang putri Yaza
Vumi, dan apa katanya tadi? Noir?
Kubuka mataku perlahan, dan sepertinya
aku ada dibalik jubah hitam seorang pria tinggi kekar. Benar, aku memang
didalam jubahnya, dan yang bisa kulihat samar-samar hanya punggung yang
dilapisi Sweather woll tebal. Apa ini punggungnya Noir?
Dari dalam sini aku bisa mendengar
suara kedua orang putri Yaza Vumi, juga melihat Noir mengeluarkan kertas-kertas
dari sakunya untuk menjawab pertanyaan Dua orang putri tersebut. Akhirnya
kudengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali diiringi suara langah kaki yang
menjauh. Mereka pergi! Dan selanjutnya, apa yang akan terjadi padaku?
Sebelum itu, kulihat ada sebuah bekas
luka di tengkuk Noir. Bekas luka yang begitu rapi, karena sangking penasarannya, kutarik bagian belakang bajunya sampai ia
terkejut dan memekik lalu menghempasku keluar dari jubahnya.
Aku menatap Noir dengan wajah memelas,
juga tatapan seolah tak berdosa. Kudengar suara helaan napas Noir dari balik
topengnya. Dia agak membungkuk untuk menyesuaikan tingginya padaku, kuharap dia
akan bicara karena aku penasaran dengan suaranya, pekikannya tadi tak membuatku
puas.
Dengan tiba-tiba dan dengan jahilnya,
aku menarik topeng Noir hingga sedikit terbuka dan aku bisa melihat dari dagu
sampai setengah hidungnya.
“Katakan sesuatu atau topeng ini kutarik
lepas!” Ancamku. Aku pun tak mengerti mengapa aku begitu berani pada Noir. Tapi
yang jelas aku merasa aman disisi Noir yang ini, karena kurasa terkadang ‘dia’
adalah orang lain.
Noir terpaku, topengnya benar-benar
hampir lepas.
“Kenapa kau bersembunyi dibalik topeng ini?”
Tanyaku dengan nada sedikit memaksa.
Perlahan katup bibirnya terbuka, dia
berkata dengan suara yang sangat pelan dan agak horor, suaranya rendah dan
dalam, juga sedikit serak basah.
“Aku tak bersembunyi dibalik topeng... topeng
ini yang bersembunyi dibalik diriku!”
Katanya sedemikian halusnya. Dia
__ADS_1
menepis tanganku dari topengnya dengan lembut, lalu membetulkan kembali topeng
tengkorak itu. Karena setelahnya dia langsung membawaku pergi, aku tak sempat
terpesona dengan momen tadi, ya aku tahu ini situasi tak aman untuk terpesona.
Masih ada misterinya, kenapa Noir ada
disini? Dan mengapa sepertinya hal tersebut sudah biasa bahkan dua orang putri
itu saja tampak biasa melihat Noir berada di istana. Juga satu hal lagi, mengapa
dia melindungiku?
Saat ini aku dan Noir melewati
terowongan bawah tanah, kalau mau kugambarkan keadaannya, persis seperti film
horor. Wujud seperti malaikat maut berjalan didepanku dengan lentera, dan aku
merasa seperti menuju alam baka.
Terowongan itu berakhir dengan tangga
menuju permukaan tanah, aku menaikinya mengikuti Noir dan kami sampai disuatu pemukiman.
“Teman-teman, lihat! Itu Noir dengan seorang
putri!” Seru seorang bocah lelaki berusia sekitar 6 tahunan pada teman-teman
seusianya. Anak-anak itu berlari kearah kami dan langsung lengket pada Noir.
“Apa dia istrimu?” Tanya salah seorang anak.
Noir menjawab dengan gelengan ringan.
Aku tersenyum pada anak-anak itu, mereka terlihat senang dengan kehadiranku.
Sejujurnya ini pertama kali aku berada ditempat yang sejuk begini semenjak
berada ditahun 2200. Sebelumnya hanya monoton di opera dan rumah tulip saja.
Tempat ini seperti sebuah desa yang
sederhana, alamnya masih hijau dan udaranya sejuk. Kenapa terowongan bawah
tanah diistana bisa terhubung kesini? Sepertinya aku tak akan menanyakannya
pada Noir. Sikapnya padaku sudah sangat baik, aku tak mau membuatnya risih.
Tak lama setelah itu, datang seorang
pria paruh baya dengan rambut yang sudah sedikit beruban. Dia menghampiri aku
dan Noir.
“Anda membawa seseorang kesini, apa anda yakin
dia bisa dipercaya?” Tanya pria itu. Noir mengangguk.
“Apa anda akan mengajaknya bergabung?” Tanya
pria itu lagi. Noir terdiam sejenak, lalu dia menoleh padaku seperti bertanya
pendapatku tentang perkataan pria itu. Aku sama sekali tak megerti apa yang
dibahas, hanya mengangkat bahu tanda bahwa aku tak punya pendapat.
Noir tak berkata apa-apalagi, sesaat
setelah aku berada di pemukiman kecil itu dia langsung mengantarku pulang. Ada
yang menarik perhatianku ketika berada ditempat pemukiman tadi, yaitu tulisan
DieNeSs yang tertera dimana-mana.
.....
“DieNeSs?”
Heran Fasa ketika mendengar ceritaku
tentang hari ini. Sekarang aku sudah berada dirumah tulip bersama Fasa sambil
menyeruput teh hangat di senja yang cuacanya mulai berubah dingin.
“Iya! Kurasa kata itu berarti sesuatu!”
Komentarku.
“Rasanya aku pernah mendengar Vier asli
mengatakannya, tapi aku sama sekali tak tau!” Fasa menggaruk kepalanya dengan
Frustasi.
“Tunggu, kalau Vier asli pernah
mengatakannya... mungkin itu ada dicatatannya atau apalah.” Terka-ku.
“Tidak! Dulu kami pernah membahasnya sebelum
Vier jadi pemain opera... kurasa itu ada dikoran atau majalah.”
“Mau mencarinya sekarang?”
“AYO!!!”
Fasa langsung bersemangat menanggapi
usulanku. Kami membongkar tumpukan majalah dan koran lama untuk mencari sesuatu dengan kata kunci DieNeSs. Mungkin
sekitar 30 menit kami mengobrak-abrik tumpukan kertas sampai Fasa berteriak
girang. Aku langsung menghampirinya.
“Lihat! Lihat! Ini beritanya, DieNeSs itu!”
Seru Fasa.
“Ayo bacakan!” Pintaku.
“DieNeSs adalah cara lain untuk membaca
DNS yaitu singkatan DarkNight Shouldiers. Kelompok ini muncul pada masa awal
dimana DarkNight muncul lalu memberi bantuan, dan para DNS seperti
sukarelawannya. Kelompok ini menghilang setelah berseteru dengan Yaza Vumi II,
mereka menganggap dunia dibawah satu pimpinan itu bukanlah keadilan.”
Kami membacanya hampir bersamaan lalu
saling menatap satu sama lain dan tersenyum.
“Kita sudah mendekat pada menu utama, tinggal
menunggunya matang, kan?!” Ujarku.
“Kita temukan Para DieNeSs, mereka dan kita
mungkin bisa bersatu karena punya tujuan yang sama.” Sambung Fasa sambil
menyunggingkan senyuman.
__ADS_1