Break The Secret

Break The Secret
26) Pelarian


__ADS_3

 


 


Gurun Putih (27 agustus 2122)


Kami sampai diperbatasan gurun putih


dengan selamat, tapi masih belum bisa keluar dari kontainer menyesakkan ini.


Kudapati tangan Shui masih dibahuku, ia tak pernah jauh sedikitpun selama


persembunyian kami, atau mungkin karena memang tak bisa menjauh karena terus


berada dalam kontainer kecuali ketika pergi ke toilet, itupun harus bergantian.


 “Semuanya bersiaplah, kita akan keluar


sebentar lagi dan langsung dijemput mobil yang pastinya lebih baik dari tempat


ini!” Seru Khaled. Kulihat wajah rombongan ini langsung cerah mendengarnya.


 “Baiklah Shui, kau bisa bergeser sedikit lebih


jauh dariku sekarang.” Ujarku sambil menoleh pada Shui.


 “Kau tidak lihat, semua orang dikontainer ini laki-laki.


Aku tak mau ada yang mengganggumu, waspadalah pada laki-laki sekalipun mereka


hanya sedang duduk tenang.” Tatapannya tampak serius ketika mengatakannya. Aku


menatapnya dengan pandangan tak masuk akal, ia menoleh padaku dengan ekspresi


heran.


 “Apa kau bukan laki-laki?” Tanyaku.


 “Aku laki-laki, tapi setidaknya aku masih bisa


menahan diri.” Jawabnya sambil memalingkan wajah.


 “Huh, pembohong! Kau itu sungguhan bocah


random!!!” tukasku. Shui tersenyum sampai menampilkan deretan giginya, pertama


kalinya ia tersenyum padaku.


Kami dipersilahkan keluar dari


kontainer pengap itu, akhirnya bisa menghirup udara luar lagi. Tapi pandanganku


hanya menangkap hamparan salju putih, bukannya pasir. Padahal kalau diteliti


lagi, dulunya tempat ini adalah daerah timur tengah yang hanya pasir dan panas,


bukan salju begini.


 “Dunia ini sudah tak berjalan ditempat yang


semestinya.” Khaled tiba-tiba berada dibelakangku yang sedang berdiri mengadap


hamparan putih salju.


 “Tak berjalan ditempat yang... semestinya?”


heranku.


 “Ya, kalau mau diibaratkan... contohnya adalah


kucing anjing dan tikus, seharusnya anjing membenci kucing, dan kucing memangsa


tikus... tapi sekarang kucing, anjing dan tikus bersahabat dengan akrabnya


seolah keluar dari putaran takdir.” Jelas Khaled.


 “Jadi... sejak kapan ini terjadi?” Tanyaku.


 “Hm, apa kau tak pernah belajar atau


setidaknya mendengarnya? Kenapa tak tau apa-apa sama sekali seolah kau berasal


dari dimensi lain.” Khaled memandang aneh diriku.


 “Ahahaaaa... iya... aku agak malas belajar.”


Sangkalku garing.


 “Huh, kujelaskan ya. Tempat ini menjadi selalu


dihujani salju dan berkabut dingin, padahal sebelumnya adalah hamparan pasir


keperakan yang selalu disinari terik matahari. Semua itu terjadi beberapa tahun


setelah arah kutub berubah dan orang-orang kami sedang menyelidiki


penyebabnya.” Khaled menjelaskan lagi.


Ditengah obrolan kami datang seseorang


dengan pakaian khas timur tengah, tapi orang disini menyebut timur tegah dengan


Near-East. Ia berbicara bahasa yang terdengar familiar tapi aku tak mengerti


apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian orang itu pergi.


 “Apa katanya?” tanyaku.


 “Kita akan pergi ke istana raja Mustafa,


beliau mengundang kalian untuk tinggal disana!” Jawab Khaled sambil berlalu


menuju orang-orangnya.


 “Kau bukan tipe orang yang suka menanggapi


laki-laki, tapi kau betah mengobrol dengannya. Apa karena dia tampan?” Tanya


Shui sambil berjalan kearahku. Sepertinya ia memperhatikanku sejak tadi.


 “Huh, wanita tak akan mengabaikan pria tampan,


kau paham maksudku?” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.


 “Maksudmu... kau mengabaikanku karena aku


jelek?” Shui mengernyitkan keningnya.


 “Haha, sadar diri dia!” Gumamku. “Sudahlah itu


tak penting. Ngomong-ngomong, apa orang Gurun Putih tak memakai bahasa


Nusantara?” Kulanjutkan dengan pertanyaan.


 “Hm, sebenarnya masing-masing daerah masih


menggunakan bahasa asal mereka, tapi kebanyakan lebih suka menggunakan bahasa


Nusantara yang dijadikan bahasa wajib semenjak Yaza Vumi I mulai memerintah.”

__ADS_1


Jelas Shui. Aku mengangguk-angguk.


 “Hei, ayo! Mereka semua sudah bersiap


pergi.”Ajak Shui.


Kami melalui bukit-bukit salju itu


dalam keheningan, aku tak berniat banyak bicara karena disini tak seorangpun


yang akrab denganku. Semuanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, begitupun


aku.


Menjadi idola bahkan buronan, disukai


pangeran tapi menyukai pelayan, dan kemudian melarikan diri ke tempat tak


dikenal, semua itu aku sudah merasakannya disini. Aku bukan lagi En’em Ji yang


dulu, hidupku tak akan sepolos dulu, kalapun aku tau aku ini memang bukan anak


yang polos, sesuatu yang kumiliki telah membuatku terjebak disini.


Kami sampai didepan sebuah benteng besi


yang kokoh dan tampak tak dapat ditembus apapun, gerbangnya pun bukan gerbang


biasa, mungkin sebuah lempengen baja besar atau semacamnya. Dan kalau mau


diperhatikan lagi, wilayah Near-East terutama Gurun Putih selalu terlindungi


oleh pemantau dan alat penyerang otomatis dengan teknologi luar biasa.


 “Saat masuk kedalam nanti tetaplah didekatku!”


Ujar Shui ketika pintu gerbang terbuka.


Aku mengangguk. Saat ini hanya Shui


yang bisa kuandalkan, dia begitu protektif padaku semenjak pelarian kami.


Tapi... apa yang terjadi? Bukankah ini yang kuinginkan? Tapi sekarang walaupun


berada didekat Shui, aku tak merasa lebih baik dengannya sekalipun perasaanku


padanya masih sama. Aku tak merasa nyaman dengan genggamannya dan malah


mengingat orang lain yang Cuma kuanggap teman.


 “Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya Shui yang


melihatku melamun selama jalan masuk ke istana Gurun Putih.


 “Aku baik-baik saja!” Jawabku simpel.


Shui menatapku dengan pandangan penuh


arti, ia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.


 “Mungkin ini waktu yang tepat mengatakan


padamu, untuk meluruskan kesalah pahaman... tidak! Maksudku... kesalahanku!”


Ujar Shui pada akhirnya.


 “Aku tau kau akan terus membenciku dan bodoh


berharap maaf darimu. Tapi aku hanya ingin kau tau bahwa waktu itu... aku


berkata kasar karena aku panik.” Lanjutnya.


 “Kau tentunya tau kalau aku adalah anak yang


diselamatkan Tn. Dai dan ia rawat sendiri, Tn. Dai adalah satu-satunya orang


yang kuhormati dan kusegani, satu-satunya tempatku pulang dan orang yang selalu


menerimaku dengan segala baik burukku. Dan kemudian kau muncul... sejak


melihatmu dilatihan waktu itu... aku masih dalam wujud Noir, kukira kau masih


Vier, tapi ternyata kusadari itu sudah bukan Vier lagi.


 Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku


menaruh perhatian pada seseorang selain Tn. Dai. Aku senang waktu itu, senang


karena akhirnya hadir satu lagi orang yang akan kuanggap berharga seperti Tn.


Dai, sampai aku tau ia pun menaruh perhatian padamu... aku bingung tapi ingin


profesional, dan aku mulai menghindarimu untuk melupakan apa yang kurasakan


padamu sebelumnya.


Titik baliknya adalah ketika kau mengatakan


menyukaiku, sejujurnya aku merasa senang tapi juga takut, takut Tn. Dai merasa


terluka, dan aku juga tak mau membandingkan diri dengannya. Kenapa kau memilih


batu sungai tak berharga sepertiku dan berpaling dari berlian berharga


sepertinya, aku tak mau diriku terlihat lebih baik darinya.” Cerita Shui. Aku


mendengarkan dengan seksama.


 “Jadi waktu itu kau spontan membentakku karena


panik ada Dai disana, ya?!” Aku memastikan.


 “Iya, aku tak mau Tn. Dai merasa tersaingi


oleh orang sepertiku!” Jawab Shui.


Kurasa Shui salah paham tentang Dai,


dari apa yang kutau, Dai ingin Shui menganggapnya kakak bukan sebagai majikan.


Tapi dari ceritanya tadi, apakah artinya dia baru saja mengakui bahwa dia ada


rasa denganku? Ah, aku tak mau mempertanyakannya walaupun ingin tau.


Ada yang lebih penting sekarang, aku


ingin tau keadaan Dai dan Fasa, kami terpisah rombongan waktu itu dan aku tak


mendengar lagi kabar tentang mereka.


 “Permisi, Khaled!” Aku memanggil karena


penasaran akan sesuatu. “Apakah rombongan pangeran sudah sampai?” Tanyaku.


 “Entahlah, aku juga tak bisa memastikannya.


Entah mereka sudah sampai lebih dulu dari pada kita atau malah mereka baru akan


sampai beberapa hari lagi.” Jawab Khaled tak yakin.

__ADS_1


 “Tapi intinya mereka pasti datang, kan?!” Aku


mendesaknya.


 “Iya... semoga saja!” Ia menjawab dengan suara


yang lebih pelan.


 “Hey, apa maksudmu semoga saja? Jangan bilang


terjadi sesuatu dengan mereka!!!” Aku semakin emosian.


 “Calm Down, semua pasti baik-baik saja!!!”


Jeffery yang ada didekat sana berusaha menenangkanku.


 “Lagi pula tak ada gunanya emosian seperti


itu, ingatlah!” Xiao ikut mendekat kearahku. “Jadilah seperti air, permukaanmu


harus tetap tenang meskipun arus dibawah sana sangat deras.” Lanjutnya.


 “Hm, aku minta maaf. Kurasa aku hanya


mengalami terlalu banyak hal mengejutkan belakangan ini, aku hampir kehilangan


diriku.” Renungku.


Kami sampai di dalam istana tak lama


setelahnya, Near-East adalah negri yang sangat kaya berkat hasil minyak bumi


yang melimpah, jadi wajarlah kalau istana ini berkilauan bagaikan sinar digelap


malam. Orang-orang di Near-East sangat ramah dan baik, mereka menerima siapa


saja yang butuh bantuan terutama orang yang kehilangan sesuatu akibat Yaza


Vumi.


Near-East sebagai satu-satunya tempat


yang tak dapat Yaza Vumi taklukkan, masyarakat sini juga sangat kental dengan


kegiatan spiritual yang sama dengan keyakinanku. Kurasa aku akan cepat bergaul


disini.


 “Disini, Raja Mustafa sudah menunggu kalian!”


Ujar Khaled.


 “Wow, sungguhan bertemu raja nih!” Seru


Jeffery yang tampak kesenangan.


Aku memperhatikan desain ruangan dan


interior kerajaan ini, arsitekturnya masih kental dengan budaya timur tengah


tapi lebih modern, selain itu pintu didepanku ini juga tampak klasik, tapi


ketika kunci pintu dibuka, jelas sekali ini adalah pintu otomatis yang canggih.


Pintu terbuka lebar, kini aku bisa


melihat ruangan luas nan megah bersama pelayan dan beberapa penjaga yang


berdiri diruangan itu. dan ditengah-tengah ruangan terdapat meja bundar yang


sangat besar beserta hidangan makanan yang tampak menggiurkan, tapi hanya ada


seorang kakek tua yang duduk dimeja itu.


 “Selamat datang saudara-saudaraku!” Senyum


kakek itu.


 “Silahkan duduk dikursi yang sudah disiapkan,


mungkin Raja Mustafa ingin menyampaikan sesuatu, saya akan tunggu diluar!” Ujar


Khaled sambil membungkuk hormat.


Hm, jadi kakek inilah Raja Mustafa. Ia


tampak sederhana saja dan sangat ramah. Seperti dua sisi mata uang, Yaza Vumi


dengan segala kekuasaannya yang menguasai hampir seluruh permukaan bumi tak


mampu menaklukkan wilayah Near-East yang berpusat di Gurun Putih, padahal luas


wilayah Near-East tak sampai sepertiga kekuasaan Yaza Vumi.


Kami dipersilahkan duduk, makanan yang


ada dimeja boleh dimakan sepuasnya dan  boleh minta lagi jika itu tak cukup. Khaled pun ikut makan bersama kami


karena Raja Mustafa tak mengizinkannya pergi.


Aku tak bisa makan dengan nyaman


sekalipun ini sangat enak, aku masih memikirkan Dai dan Fasa yang entah dimana.


 “Apakah ada sesuatu?” Tanya Khaled tiba-tiba


sampai aku terkejut. Otomatis pandangan semua orang tertuju padaku termasuk


Shui yang berada disebelahku dan Raja Mustafa didepanku.


 “Oh, apakah masih sakit? Kau dipukuli dan


tidak dapat penanganan yang sepantasnya!” Bisa kulihat pancaran kecemasan


diwajah Shui. Entah bagaimana dia tau aku dipukuli.


 “Tidak, aku hanya terpikir Dai dan Fasa, aku


ingin tau kabar mereka!” Jelasku.


Raja memandang iba kearahku, lalu ia


meminta Khaled untuk menghubungi rekannya yang bersama rombongan Dai. Aku


berterima kasih sekali atas kemurahan hatinya. Beberapa saat Setelahnya Khaled


selesai menelpon, ia tampak ragu-ragu akan mengatakan atau tidak.


 “A, ada apa?” Tanyaku. Jantungku kini berdebar


penuh ketakutan, semoga tak ada kabar buruk.


 “Mmm... anu, rekanku mengatakan mereka masih


bersama sekitar 6 hari yang lalu... tapi mereka kehilangan pangeran sesaat


sebelum kapal yang membawa mereka berlayar!” Jelas Khaled.


*****

__ADS_1


__ADS_2