
Gurun Putih (27 agustus 2122)
Kami sampai diperbatasan gurun putih
dengan selamat, tapi masih belum bisa keluar dari kontainer menyesakkan ini.
Kudapati tangan Shui masih dibahuku, ia tak pernah jauh sedikitpun selama
persembunyian kami, atau mungkin karena memang tak bisa menjauh karena terus
berada dalam kontainer kecuali ketika pergi ke toilet, itupun harus bergantian.
“Semuanya bersiaplah, kita akan keluar
sebentar lagi dan langsung dijemput mobil yang pastinya lebih baik dari tempat
ini!” Seru Khaled. Kulihat wajah rombongan ini langsung cerah mendengarnya.
“Baiklah Shui, kau bisa bergeser sedikit lebih
jauh dariku sekarang.” Ujarku sambil menoleh pada Shui.
“Kau tidak lihat, semua orang dikontainer ini laki-laki.
Aku tak mau ada yang mengganggumu, waspadalah pada laki-laki sekalipun mereka
hanya sedang duduk tenang.” Tatapannya tampak serius ketika mengatakannya. Aku
menatapnya dengan pandangan tak masuk akal, ia menoleh padaku dengan ekspresi
heran.
“Apa kau bukan laki-laki?” Tanyaku.
“Aku laki-laki, tapi setidaknya aku masih bisa
menahan diri.” Jawabnya sambil memalingkan wajah.
“Huh, pembohong! Kau itu sungguhan bocah
random!!!” tukasku. Shui tersenyum sampai menampilkan deretan giginya, pertama
kalinya ia tersenyum padaku.
Kami dipersilahkan keluar dari
kontainer pengap itu, akhirnya bisa menghirup udara luar lagi. Tapi pandanganku
hanya menangkap hamparan salju putih, bukannya pasir. Padahal kalau diteliti
lagi, dulunya tempat ini adalah daerah timur tengah yang hanya pasir dan panas,
bukan salju begini.
“Dunia ini sudah tak berjalan ditempat yang
semestinya.” Khaled tiba-tiba berada dibelakangku yang sedang berdiri mengadap
hamparan putih salju.
“Tak berjalan ditempat yang... semestinya?”
heranku.
“Ya, kalau mau diibaratkan... contohnya adalah
kucing anjing dan tikus, seharusnya anjing membenci kucing, dan kucing memangsa
tikus... tapi sekarang kucing, anjing dan tikus bersahabat dengan akrabnya
seolah keluar dari putaran takdir.” Jelas Khaled.
“Jadi... sejak kapan ini terjadi?” Tanyaku.
“Hm, apa kau tak pernah belajar atau
setidaknya mendengarnya? Kenapa tak tau apa-apa sama sekali seolah kau berasal
dari dimensi lain.” Khaled memandang aneh diriku.
“Ahahaaaa... iya... aku agak malas belajar.”
Sangkalku garing.
“Huh, kujelaskan ya. Tempat ini menjadi selalu
dihujani salju dan berkabut dingin, padahal sebelumnya adalah hamparan pasir
keperakan yang selalu disinari terik matahari. Semua itu terjadi beberapa tahun
setelah arah kutub berubah dan orang-orang kami sedang menyelidiki
penyebabnya.” Khaled menjelaskan lagi.
Ditengah obrolan kami datang seseorang
dengan pakaian khas timur tengah, tapi orang disini menyebut timur tegah dengan
Near-East. Ia berbicara bahasa yang terdengar familiar tapi aku tak mengerti
apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian orang itu pergi.
“Apa katanya?” tanyaku.
“Kita akan pergi ke istana raja Mustafa,
beliau mengundang kalian untuk tinggal disana!” Jawab Khaled sambil berlalu
menuju orang-orangnya.
“Kau bukan tipe orang yang suka menanggapi
laki-laki, tapi kau betah mengobrol dengannya. Apa karena dia tampan?” Tanya
Shui sambil berjalan kearahku. Sepertinya ia memperhatikanku sejak tadi.
“Huh, wanita tak akan mengabaikan pria tampan,
kau paham maksudku?” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.
“Maksudmu... kau mengabaikanku karena aku
jelek?” Shui mengernyitkan keningnya.
“Haha, sadar diri dia!” Gumamku. “Sudahlah itu
tak penting. Ngomong-ngomong, apa orang Gurun Putih tak memakai bahasa
Nusantara?” Kulanjutkan dengan pertanyaan.
“Hm, sebenarnya masing-masing daerah masih
menggunakan bahasa asal mereka, tapi kebanyakan lebih suka menggunakan bahasa
Nusantara yang dijadikan bahasa wajib semenjak Yaza Vumi I mulai memerintah.”
__ADS_1
Jelas Shui. Aku mengangguk-angguk.
“Hei, ayo! Mereka semua sudah bersiap
pergi.”Ajak Shui.
Kami melalui bukit-bukit salju itu
dalam keheningan, aku tak berniat banyak bicara karena disini tak seorangpun
yang akrab denganku. Semuanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, begitupun
aku.
Menjadi idola bahkan buronan, disukai
pangeran tapi menyukai pelayan, dan kemudian melarikan diri ke tempat tak
dikenal, semua itu aku sudah merasakannya disini. Aku bukan lagi En’em Ji yang
dulu, hidupku tak akan sepolos dulu, kalapun aku tau aku ini memang bukan anak
yang polos, sesuatu yang kumiliki telah membuatku terjebak disini.
Kami sampai didepan sebuah benteng besi
yang kokoh dan tampak tak dapat ditembus apapun, gerbangnya pun bukan gerbang
biasa, mungkin sebuah lempengen baja besar atau semacamnya. Dan kalau mau
diperhatikan lagi, wilayah Near-East terutama Gurun Putih selalu terlindungi
oleh pemantau dan alat penyerang otomatis dengan teknologi luar biasa.
“Saat masuk kedalam nanti tetaplah didekatku!”
Ujar Shui ketika pintu gerbang terbuka.
Aku mengangguk. Saat ini hanya Shui
yang bisa kuandalkan, dia begitu protektif padaku semenjak pelarian kami.
Tapi... apa yang terjadi? Bukankah ini yang kuinginkan? Tapi sekarang walaupun
berada didekat Shui, aku tak merasa lebih baik dengannya sekalipun perasaanku
padanya masih sama. Aku tak merasa nyaman dengan genggamannya dan malah
mengingat orang lain yang Cuma kuanggap teman.
“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya Shui yang
melihatku melamun selama jalan masuk ke istana Gurun Putih.
“Aku baik-baik saja!” Jawabku simpel.
Shui menatapku dengan pandangan penuh
arti, ia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.
“Mungkin ini waktu yang tepat mengatakan
padamu, untuk meluruskan kesalah pahaman... tidak! Maksudku... kesalahanku!”
Ujar Shui pada akhirnya.
“Aku tau kau akan terus membenciku dan bodoh
berharap maaf darimu. Tapi aku hanya ingin kau tau bahwa waktu itu... aku
berkata kasar karena aku panik.” Lanjutnya.
“Kau tentunya tau kalau aku adalah anak yang
diselamatkan Tn. Dai dan ia rawat sendiri, Tn. Dai adalah satu-satunya orang
yang kuhormati dan kusegani, satu-satunya tempatku pulang dan orang yang selalu
menerimaku dengan segala baik burukku. Dan kemudian kau muncul... sejak
melihatmu dilatihan waktu itu... aku masih dalam wujud Noir, kukira kau masih
Vier, tapi ternyata kusadari itu sudah bukan Vier lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku
menaruh perhatian pada seseorang selain Tn. Dai. Aku senang waktu itu, senang
karena akhirnya hadir satu lagi orang yang akan kuanggap berharga seperti Tn.
Dai, sampai aku tau ia pun menaruh perhatian padamu... aku bingung tapi ingin
profesional, dan aku mulai menghindarimu untuk melupakan apa yang kurasakan
padamu sebelumnya.
Titik baliknya adalah ketika kau mengatakan
menyukaiku, sejujurnya aku merasa senang tapi juga takut, takut Tn. Dai merasa
terluka, dan aku juga tak mau membandingkan diri dengannya. Kenapa kau memilih
batu sungai tak berharga sepertiku dan berpaling dari berlian berharga
sepertinya, aku tak mau diriku terlihat lebih baik darinya.” Cerita Shui. Aku
mendengarkan dengan seksama.
“Jadi waktu itu kau spontan membentakku karena
panik ada Dai disana, ya?!” Aku memastikan.
“Iya, aku tak mau Tn. Dai merasa tersaingi
oleh orang sepertiku!” Jawab Shui.
Kurasa Shui salah paham tentang Dai,
dari apa yang kutau, Dai ingin Shui menganggapnya kakak bukan sebagai majikan.
Tapi dari ceritanya tadi, apakah artinya dia baru saja mengakui bahwa dia ada
rasa denganku? Ah, aku tak mau mempertanyakannya walaupun ingin tau.
Ada yang lebih penting sekarang, aku
ingin tau keadaan Dai dan Fasa, kami terpisah rombongan waktu itu dan aku tak
mendengar lagi kabar tentang mereka.
“Permisi, Khaled!” Aku memanggil karena
penasaran akan sesuatu. “Apakah rombongan pangeran sudah sampai?” Tanyaku.
“Entahlah, aku juga tak bisa memastikannya.
Entah mereka sudah sampai lebih dulu dari pada kita atau malah mereka baru akan
sampai beberapa hari lagi.” Jawab Khaled tak yakin.
__ADS_1
“Tapi intinya mereka pasti datang, kan?!” Aku
mendesaknya.
“Iya... semoga saja!” Ia menjawab dengan suara
yang lebih pelan.
“Hey, apa maksudmu semoga saja? Jangan bilang
terjadi sesuatu dengan mereka!!!” Aku semakin emosian.
“Calm Down, semua pasti baik-baik saja!!!”
Jeffery yang ada didekat sana berusaha menenangkanku.
“Lagi pula tak ada gunanya emosian seperti
itu, ingatlah!” Xiao ikut mendekat kearahku. “Jadilah seperti air, permukaanmu
harus tetap tenang meskipun arus dibawah sana sangat deras.” Lanjutnya.
“Hm, aku minta maaf. Kurasa aku hanya
mengalami terlalu banyak hal mengejutkan belakangan ini, aku hampir kehilangan
diriku.” Renungku.
Kami sampai di dalam istana tak lama
setelahnya, Near-East adalah negri yang sangat kaya berkat hasil minyak bumi
yang melimpah, jadi wajarlah kalau istana ini berkilauan bagaikan sinar digelap
malam. Orang-orang di Near-East sangat ramah dan baik, mereka menerima siapa
saja yang butuh bantuan terutama orang yang kehilangan sesuatu akibat Yaza
Vumi.
Near-East sebagai satu-satunya tempat
yang tak dapat Yaza Vumi taklukkan, masyarakat sini juga sangat kental dengan
kegiatan spiritual yang sama dengan keyakinanku. Kurasa aku akan cepat bergaul
disini.
“Disini, Raja Mustafa sudah menunggu kalian!”
Ujar Khaled.
“Wow, sungguhan bertemu raja nih!” Seru
Jeffery yang tampak kesenangan.
Aku memperhatikan desain ruangan dan
interior kerajaan ini, arsitekturnya masih kental dengan budaya timur tengah
tapi lebih modern, selain itu pintu didepanku ini juga tampak klasik, tapi
ketika kunci pintu dibuka, jelas sekali ini adalah pintu otomatis yang canggih.
Pintu terbuka lebar, kini aku bisa
melihat ruangan luas nan megah bersama pelayan dan beberapa penjaga yang
berdiri diruangan itu. dan ditengah-tengah ruangan terdapat meja bundar yang
sangat besar beserta hidangan makanan yang tampak menggiurkan, tapi hanya ada
seorang kakek tua yang duduk dimeja itu.
“Selamat datang saudara-saudaraku!” Senyum
kakek itu.
“Silahkan duduk dikursi yang sudah disiapkan,
mungkin Raja Mustafa ingin menyampaikan sesuatu, saya akan tunggu diluar!” Ujar
Khaled sambil membungkuk hormat.
Hm, jadi kakek inilah Raja Mustafa. Ia
tampak sederhana saja dan sangat ramah. Seperti dua sisi mata uang, Yaza Vumi
dengan segala kekuasaannya yang menguasai hampir seluruh permukaan bumi tak
mampu menaklukkan wilayah Near-East yang berpusat di Gurun Putih, padahal luas
wilayah Near-East tak sampai sepertiga kekuasaan Yaza Vumi.
Kami dipersilahkan duduk, makanan yang
ada dimeja boleh dimakan sepuasnya dan boleh minta lagi jika itu tak cukup. Khaled pun ikut makan bersama kami
karena Raja Mustafa tak mengizinkannya pergi.
Aku tak bisa makan dengan nyaman
sekalipun ini sangat enak, aku masih memikirkan Dai dan Fasa yang entah dimana.
“Apakah ada sesuatu?” Tanya Khaled tiba-tiba
sampai aku terkejut. Otomatis pandangan semua orang tertuju padaku termasuk
Shui yang berada disebelahku dan Raja Mustafa didepanku.
“Oh, apakah masih sakit? Kau dipukuli dan
tidak dapat penanganan yang sepantasnya!” Bisa kulihat pancaran kecemasan
diwajah Shui. Entah bagaimana dia tau aku dipukuli.
“Tidak, aku hanya terpikir Dai dan Fasa, aku
ingin tau kabar mereka!” Jelasku.
Raja memandang iba kearahku, lalu ia
meminta Khaled untuk menghubungi rekannya yang bersama rombongan Dai. Aku
berterima kasih sekali atas kemurahan hatinya. Beberapa saat Setelahnya Khaled
selesai menelpon, ia tampak ragu-ragu akan mengatakan atau tidak.
“A, ada apa?” Tanyaku. Jantungku kini berdebar
penuh ketakutan, semoga tak ada kabar buruk.
“Mmm... anu, rekanku mengatakan mereka masih
bersama sekitar 6 hari yang lalu... tapi mereka kehilangan pangeran sesaat
sebelum kapal yang membawa mereka berlayar!” Jelas Khaled.
*****
__ADS_1