Break The Secret

Break The Secret
2) 180 tahun


__ADS_3

 


 


Suasana dalam mobil ketika White Prince


mengantarku pulang sangat canggung akibat perkataanku tadi. Dia terus diam


sedangkan aku bingung untuk memulai percakapan. Aku menyesali mulutku yang suka


asal bicara, ini baru hari pertamaku tersesat diperantara waktu tapi aku malah


membuat masalah


 “Mau roti kering?” Diantara keheningan itu aku


bersyukur karena White Prince lebih dulu membuka percakapan.


“Kurasa


sejak siang kau belum makan apa-apa!” Lanjutnya sambil menyodorkan sekantong


roti kering padaku.


 “Te... terima kasih!” Aku mengambilnya dengan


perasaan tak enak. “Ng... ngomong-ngomong... maaf untuk yang tadi, ya... White


Prince...” Ujarku pelan. Tiba-tiba White Prince meminggirkan mobil capunganya


dan berhenti.


 “Dai! Panggil aku Dai seperti biasanya!”


Pintanya tiba-tiba. “Sebelumnya kau tak pernah memanggilku seperti ini, dan


panggilanmu yang seperti barusan membuatku tak nyaman!” Lanjutnya.


 “Oh, oke... oke!” Kuacungkan ibu jariku, tapi


dia terlihat heran dengan yang kulakukan jadi aku buru-buru menurunkannya lagi.


White Prince... maksudku Dai, tersenyum padaku.


Menurutku dia ini aneh, katanya tak


suka pada Vier, tapi dia berkali-kali memberikan senyuman dan perhatian, ya


tentu orang pasti salah paham dengan kebaikannya itu apalagi kalau orangnya


suka terbawa perasaan. Kurasa dia tipe laki-laki pemberi harapan palsu atau


mungkin semacamnya jadi wajar kalau banyak yang menyukainya.


Aku menghela napas panjang dan melihat


keluar jendela, ternyata dia memarkir mobil capungnya tepat didepan rumah


tulip, itu artinya sudah sampai dirumah yang sekarang jadi rumahku. Aku mencoba


membuka pintu mobil dengan mendorongnya, tapi ini tak bisa terbuka, sebelumnya


memang Dai lah yang membukakan pintu untukku.


 “Oi, oi! Mobilmu rusak nih!” Seru-ku sambil


terus berusaha mendorongnya. Dai tertawa kecil melihatku, lalu dia membantuku


membukanya, ternyata itu bukan didorong melainkan digeser keatas. Ya, ampun!


Aku benci situasi seperti sinetron begini.


 “Dai, kau mau mampir dulu kerumahku?” Tanyaku


ramah setelah berhasil keluar dari mobil aneh Dai.


 “Kau benar-benar seperti orang yang berbeda,


Vier! Kuharap kau tidak lupa kalau ada hukum mutlak yang melarang wanita dan


laki-laki yang tak ada hubungan darah atau bukan suami istri saling memasuki


rumah.” Jelasnya. Aku menggaruk belakang telingaku, rasanya aku tak berhenti


membuat kesalahan hari ini.


 “A, aku Cuma bercanda kok!” Cengirku sambil

__ADS_1


berjalan menaiki tangga.


Bola mata kelabu Dai mengikuti


langkahku. Ku akui dia keren dengan baju putih dan wajahnya memang tampan, dia


bersandar di mobil capungnya  elegan. Ini


kali pertama kulihat pria setampan dia secara langsung, dan kurasa dia juga


lelaki pertama yang berinteraksi banyak denganku.


2


hari kemudian


Kegiatanku masih sama seperti hari


pertama ketika aku terlempar kemari. Bangun tidur dan latihan untuk opera dari


pagi sampai sore. Si-Noir itu tak juga muncul untuk latihan, jadi wajar kalau


orang-orang benci padanya. Pulang latihan Dai mengantarku lagi, aku tak banyak


mengobrol dengannya kali ini, sepulang kerumah aku hanya duduk sambil memandang


langit-langit. Sejujurnya perasaanku agak berdebar-debar mengingat


pertunjukannya diadakan sehari lagi, dan besok latihan terakhir.


Aku terbayang lagi pada saat dimana aku


tertidur diteras rumah, waktu itu cerita yang aku bayangkan persis seperti ini.


Gadis opera, pangeran berpakaian putih dan sosok bertopeng misterius, tapi


dalam bayanganku waktu iu tak jelas rentetan kejadiannya hingga aku tak bisa


menebak jalan cerita dunia aneh ini.


Setelah lama berpikir, akhirnya kuputuskan


untuk menelusuri rumah mungil ini, aku membuka laci meja yang paling bawah,


kutemukan buku harian Vier. Tak ada yang menarik disana, hanya ungkapan


perasaannya pada Dai yang dijuluki White Prince juga kebenciannya pada Noir.


“Setan


itu menemuiku, aku akan buat perhitungan padanya, aku akan korbankan semuanya


demi membuka jalan-”


Catatannya


berhenti sampai disitu, aku menjadi sangat penasaran tentang kemana sebenarnya


Vier yang asli? Mungkin jika berhasil menemukannya aku bisa kembali ke zamanku,


aku juga harus mencari tau kenapa aku bisa terlempar kesini.


 “TOK, TOK”


Suara ketukan pintu bergema disela


kegiatanku membuatku terkejut, aku penasaran siapa yang datang menjelang malam


begini. Aku  membukakan pintu perlahan


mengintip siapa yang berdiri didepan sana. Ternyata seorang gadis berwajah


mungil dengan baju terusan yang sederhana cocok dengan gaya rambut bop


asimetrik-nya tersenyum cantik padaku.


 “Maaf, apa aku mengganggumu?” Tanya-nya dengan


agak malu-malu. Aku menunjukan senyuman ramah padanya dan menjawab,


 “Tentu saja tidak, ayo masuk!” Ajakku.


Kupersilahkan gadis yang belum kukenali itu masuk dan duduk di kursi lucu yang


ada diruang depan kamarku.


Asal tau saja, rumah yang kutempati ini

__ADS_1


mungil dan bentuknya hampir bulat. Mungkin sekitar 10x10 meter, terdiri dari dua


lantai dimana dapur, kamar mandi dan ruang tamu berada di lantai dasar,


sedangkan kamar tidur dan kamar tamu ada di lantai atas. Di antara dua kamar


itu terdapat ruang kosong dengan kursi dan layar TV yang sebenarnya lebih


persis lempengan kaca ditembok.


 “Oh, iya! Kau mau minum apa? Aku Cuma punya


jus jeruk dan teh!” Kutawarkan gadis mungil ini minuman sebagaimana biasanya


orang yang kedatangan tamu.


 “Jus... jeruk!” Jawabnya pelan dan ragu. Aku


mengangguk dan langsung turun kedapur.


Kubuka lemari pendingin dengan dua


pintu. Pintu sebelah kanan pegangannya berwarna merah, itu untuk menyimpan


makanan yang ingin dijaga tetap hangat. Sedangkan pintu sebelah kiri yang


pegangannya berwarna biru berfungsi seperti lemari es pada umumnya (Dizamanku).


Aku kembali pada si gadis mungil dengan


segelas jus jeruk ditanganku, aku sadar gadis itu terus memandangku. Setelah


kuberikan minuman itu aku duduk didepannya, menunggu apa yang ingin dia


bicarakan padaku. Ia tak meminum minumannya melainkan terus memandangiku tanpa


kutau mengapa.


 “Namaku Fasa, kau siapa?” Tanya-nya pada


akhirnya. Tapi kurasa ada makna tersirat dibalik pertanyaan yang terdengar


biasa itu.


 “Oh, namaku Vier!” Jawabku lantang berusaha


terlihat yakin dan tak mencurigakan. Tiba-tiba gadis yang menyebut dirinya Fasa


itu menyunggingkan senyum, itu jadi agak mengerikan.


 “Bukan! Maksudku... siapa kau sebenarnya?” Dia


bertanya dengan senyum yang masih melekat. Sedangkan aku membeku mendengar


pertanyaannya barusan.


 “Aku adalah teman sejak kecil Vier, aku tau


seperti apa baik buruknya dia, dan dia tak akan memberiku jus jeruk seberapa


pun aku menginginkannya. Vier orang yang cenderung berkata kasar sekalipun itu


padaku, dan yang pasti... Vier yang asli tak akan memperkenalkan dirinya pada


teman yang sudah lama ia kenali, kecuali kalau dia adalah orang lain yang


menyamar!” Cerita gadis itu.


Bola mata Fasa tertuju lurus dan intens


padaku, sampai aku yang ditatapnya merasa seolah akan berlubang. Peluh mengalir


di kening dan pelipisku, aku bingung tentang apa yang akan kulakukan sekarang,


memberi tahunya apa yang terjadi atau berbohong. Setelah kupikir dengan matang,


sebaiknya kucoba berbohong dulu, kalau bohong tidak manjur, barulah kuceritakan


sebenarnya.


 “Ya, ampun Fasa! Aku hanya ingin sedikit


bermain, aku bosan dengan hari-hariku.” Ujarku dengan sedikit nada genit.


 “Sudahlah! Ceritakan saja siapa dirimu, kalau


alasanmu menyamar jadi Vier masuk akal, aku akan membebaskanmu!” Tegasnya. Aku

__ADS_1


kembali terdiam.


Bersambung...


__ADS_2