
Suasana dalam mobil ketika White Prince
mengantarku pulang sangat canggung akibat perkataanku tadi. Dia terus diam
sedangkan aku bingung untuk memulai percakapan. Aku menyesali mulutku yang suka
asal bicara, ini baru hari pertamaku tersesat diperantara waktu tapi aku malah
membuat masalah
“Mau roti kering?” Diantara keheningan itu aku
bersyukur karena White Prince lebih dulu membuka percakapan.
“Kurasa
sejak siang kau belum makan apa-apa!” Lanjutnya sambil menyodorkan sekantong
roti kering padaku.
“Te... terima kasih!” Aku mengambilnya dengan
perasaan tak enak. “Ng... ngomong-ngomong... maaf untuk yang tadi, ya... White
Prince...” Ujarku pelan. Tiba-tiba White Prince meminggirkan mobil capunganya
dan berhenti.
“Dai! Panggil aku Dai seperti biasanya!”
Pintanya tiba-tiba. “Sebelumnya kau tak pernah memanggilku seperti ini, dan
panggilanmu yang seperti barusan membuatku tak nyaman!” Lanjutnya.
“Oh, oke... oke!” Kuacungkan ibu jariku, tapi
dia terlihat heran dengan yang kulakukan jadi aku buru-buru menurunkannya lagi.
White Prince... maksudku Dai, tersenyum padaku.
Menurutku dia ini aneh, katanya tak
suka pada Vier, tapi dia berkali-kali memberikan senyuman dan perhatian, ya
tentu orang pasti salah paham dengan kebaikannya itu apalagi kalau orangnya
suka terbawa perasaan. Kurasa dia tipe laki-laki pemberi harapan palsu atau
mungkin semacamnya jadi wajar kalau banyak yang menyukainya.
Aku menghela napas panjang dan melihat
keluar jendela, ternyata dia memarkir mobil capungnya tepat didepan rumah
tulip, itu artinya sudah sampai dirumah yang sekarang jadi rumahku. Aku mencoba
membuka pintu mobil dengan mendorongnya, tapi ini tak bisa terbuka, sebelumnya
memang Dai lah yang membukakan pintu untukku.
“Oi, oi! Mobilmu rusak nih!” Seru-ku sambil
terus berusaha mendorongnya. Dai tertawa kecil melihatku, lalu dia membantuku
membukanya, ternyata itu bukan didorong melainkan digeser keatas. Ya, ampun!
Aku benci situasi seperti sinetron begini.
“Dai, kau mau mampir dulu kerumahku?” Tanyaku
ramah setelah berhasil keluar dari mobil aneh Dai.
“Kau benar-benar seperti orang yang berbeda,
Vier! Kuharap kau tidak lupa kalau ada hukum mutlak yang melarang wanita dan
laki-laki yang tak ada hubungan darah atau bukan suami istri saling memasuki
rumah.” Jelasnya. Aku menggaruk belakang telingaku, rasanya aku tak berhenti
membuat kesalahan hari ini.
“A, aku Cuma bercanda kok!” Cengirku sambil
__ADS_1
berjalan menaiki tangga.
Bola mata kelabu Dai mengikuti
langkahku. Ku akui dia keren dengan baju putih dan wajahnya memang tampan, dia
bersandar di mobil capungnya elegan. Ini
kali pertama kulihat pria setampan dia secara langsung, dan kurasa dia juga
lelaki pertama yang berinteraksi banyak denganku.
2
hari kemudian
Kegiatanku masih sama seperti hari
pertama ketika aku terlempar kemari. Bangun tidur dan latihan untuk opera dari
pagi sampai sore. Si-Noir itu tak juga muncul untuk latihan, jadi wajar kalau
orang-orang benci padanya. Pulang latihan Dai mengantarku lagi, aku tak banyak
mengobrol dengannya kali ini, sepulang kerumah aku hanya duduk sambil memandang
langit-langit. Sejujurnya perasaanku agak berdebar-debar mengingat
pertunjukannya diadakan sehari lagi, dan besok latihan terakhir.
Aku terbayang lagi pada saat dimana aku
tertidur diteras rumah, waktu itu cerita yang aku bayangkan persis seperti ini.
Gadis opera, pangeran berpakaian putih dan sosok bertopeng misterius, tapi
dalam bayanganku waktu iu tak jelas rentetan kejadiannya hingga aku tak bisa
menebak jalan cerita dunia aneh ini.
Setelah lama berpikir, akhirnya kuputuskan
untuk menelusuri rumah mungil ini, aku membuka laci meja yang paling bawah,
kutemukan buku harian Vier. Tak ada yang menarik disana, hanya ungkapan
perasaannya pada Dai yang dijuluki White Prince juga kebenciannya pada Noir.
“Setan
itu menemuiku, aku akan buat perhitungan padanya, aku akan korbankan semuanya
demi membuka jalan-”
Catatannya
berhenti sampai disitu, aku menjadi sangat penasaran tentang kemana sebenarnya
Vier yang asli? Mungkin jika berhasil menemukannya aku bisa kembali ke zamanku,
aku juga harus mencari tau kenapa aku bisa terlempar kesini.
“TOK, TOK”
Suara ketukan pintu bergema disela
kegiatanku membuatku terkejut, aku penasaran siapa yang datang menjelang malam
begini. Aku membukakan pintu perlahan
mengintip siapa yang berdiri didepan sana. Ternyata seorang gadis berwajah
mungil dengan baju terusan yang sederhana cocok dengan gaya rambut bop
asimetrik-nya tersenyum cantik padaku.
“Maaf, apa aku mengganggumu?” Tanya-nya dengan
agak malu-malu. Aku menunjukan senyuman ramah padanya dan menjawab,
“Tentu saja tidak, ayo masuk!” Ajakku.
Kupersilahkan gadis yang belum kukenali itu masuk dan duduk di kursi lucu yang
ada diruang depan kamarku.
Asal tau saja, rumah yang kutempati ini
__ADS_1
mungil dan bentuknya hampir bulat. Mungkin sekitar 10x10 meter, terdiri dari dua
lantai dimana dapur, kamar mandi dan ruang tamu berada di lantai dasar,
sedangkan kamar tidur dan kamar tamu ada di lantai atas. Di antara dua kamar
itu terdapat ruang kosong dengan kursi dan layar TV yang sebenarnya lebih
persis lempengan kaca ditembok.
“Oh, iya! Kau mau minum apa? Aku Cuma punya
jus jeruk dan teh!” Kutawarkan gadis mungil ini minuman sebagaimana biasanya
orang yang kedatangan tamu.
“Jus... jeruk!” Jawabnya pelan dan ragu. Aku
mengangguk dan langsung turun kedapur.
Kubuka lemari pendingin dengan dua
pintu. Pintu sebelah kanan pegangannya berwarna merah, itu untuk menyimpan
makanan yang ingin dijaga tetap hangat. Sedangkan pintu sebelah kiri yang
pegangannya berwarna biru berfungsi seperti lemari es pada umumnya (Dizamanku).
Aku kembali pada si gadis mungil dengan
segelas jus jeruk ditanganku, aku sadar gadis itu terus memandangku. Setelah
kuberikan minuman itu aku duduk didepannya, menunggu apa yang ingin dia
bicarakan padaku. Ia tak meminum minumannya melainkan terus memandangiku tanpa
kutau mengapa.
“Namaku Fasa, kau siapa?” Tanya-nya pada
akhirnya. Tapi kurasa ada makna tersirat dibalik pertanyaan yang terdengar
biasa itu.
“Oh, namaku Vier!” Jawabku lantang berusaha
terlihat yakin dan tak mencurigakan. Tiba-tiba gadis yang menyebut dirinya Fasa
itu menyunggingkan senyum, itu jadi agak mengerikan.
“Bukan! Maksudku... siapa kau sebenarnya?” Dia
bertanya dengan senyum yang masih melekat. Sedangkan aku membeku mendengar
pertanyaannya barusan.
“Aku adalah teman sejak kecil Vier, aku tau
seperti apa baik buruknya dia, dan dia tak akan memberiku jus jeruk seberapa
pun aku menginginkannya. Vier orang yang cenderung berkata kasar sekalipun itu
padaku, dan yang pasti... Vier yang asli tak akan memperkenalkan dirinya pada
teman yang sudah lama ia kenali, kecuali kalau dia adalah orang lain yang
menyamar!” Cerita gadis itu.
Bola mata Fasa tertuju lurus dan intens
padaku, sampai aku yang ditatapnya merasa seolah akan berlubang. Peluh mengalir
di kening dan pelipisku, aku bingung tentang apa yang akan kulakukan sekarang,
memberi tahunya apa yang terjadi atau berbohong. Setelah kupikir dengan matang,
sebaiknya kucoba berbohong dulu, kalau bohong tidak manjur, barulah kuceritakan
sebenarnya.
“Ya, ampun Fasa! Aku hanya ingin sedikit
bermain, aku bosan dengan hari-hariku.” Ujarku dengan sedikit nada genit.
“Sudahlah! Ceritakan saja siapa dirimu, kalau
alasanmu menyamar jadi Vier masuk akal, aku akan membebaskanmu!” Tegasnya. Aku
__ADS_1
kembali terdiam.
Bersambung...