
“Bagaimana... mungkin, selama ini sosok
Noir adalah... kau...”
Penuh keterkejutan dan kebingungan yang
tak terjawab, aku terus menatapnya dengan tidak percaya. Dia melangkah mendekat
kearahku, wajah terkejutnya berubah menjadi senyuman yang tampak sedih.
Kenapa wajahnya sesedih itu? kenapa dia
tersenyum begitu sendu padaku hingga rasanya aku pun ikut bersedih? Tangannya
menyentuh wajahku dengan lembut, tapi ia terasa dingin.
“Aku tak ingin membohongimu... tapi Vier, kau
bahkan sudah berubah begitu jauh... bagaimana jika kau yang dulu mengetahui
bahwa orang yang kau sukai adalah orang yang kau benci?” Suaranya terdengar
lirih dan putus asa, ia mengusap pipiku. “Tidak! Yang kau sukai sekarang
bukanlah diriku... tapi penggantiku, kan?!” Lanjutnya.
“APA-APAAN INI DAI???” Teriakku sambil
menyingkirkan tangannya dariku.
Ya! Dia adalah Dai. Orang yang berdiri
dengan pakaian milik Noir didepanku ini adalah Dai, selama ini dia berbohong
dan menjadi dua orang yang berbeda.
“Aku tau... aku telah membohongi semua
orang... tapi bisakah kau marah padaku lain kali? Setidaknya setelah misi kita
selesai!” Ujarnya dengan wajah yang tetap sedih.
Aku baru ingat kalu kami masih punya
misi, aku pun mengatur napasku dan mengendalikan emosiku lagi.
“Baiklah! Tapi setelah ini, jangan harap kau
bisa tidur nyenyak!” Tukasku dengan tatapan tajam.
“Terima kasih!” Ujarnya lalu mengambil topeng
tengkorak yang sebelumnya jatuh dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Aku tetap berdiri ditempatku, memang sulit
untuk mengendalikan perasaanku saat ini, apalagi ini berhubungan dengan hal
yang lebih sensitif. Tapi aku masih punya hal yang jauh lebih penting untuk
dilakukan.
Setelah cukup lama berpikir, aku pergi
dari sana. Sudah menyiapkan mental untuk yang akan terjadi nanti, apapun itu
tak akan kubiarkan pikiran labilku muncul lagi. Aku kembali ke alun-alun dan
menarik Fasa pergi dari sana.
“Hey, kemana saja kau? Aku sampai bingung
mencarimu tadi.” Tanya Fasa sedikit kesal.
“Inginnya sih aku segera cerita, tapi kita tak
ada waktu, harus ketempat latihan opera sekarang!” Jawabku.
Aku dan Fasa pergi dari area istana dan
menuju tempat opera yang tak jauh dari sana. Dihalaman opera, pak jeihan dan
pak hauen sudah menunggu kami, kami bergegas masuk ke gedung opera dan menuju
ruang ganti Dai dimana terdapat lemari pakaian yang terhubung dengan jalan
rahasia.
“Disini!” Seru-ku.
“Baiklah, yang pertama masuk saya dan terakhir
pak Jeihan!” Ujar pak Hauen selaku pemimpin misi pengganti Dai yang masih harus
menyelesaikan urusannya.
Kami menuruti perkataan pak Hauen,
setelah pak Hauen aku masuk, diikuti Fasa dan terakhir pak Jeihan. Aku sudah
mengenal lorong itu jadi tak terlalu memperhatikan sekitar, aku justru
penasaran pada pak Hauen dan mengapa dia bisa bersama DieNeSs.
“Pak Hauen,”Panggilku.
“Iya?” Tanggapnya tanpa menoleh dan tetap
Fokus menyusuri lorong.
“Bolehkah saya menanyakan beberapa hal?”
Tanyaku.
“Iya, tentu!” Jawabnya setuju.
“Mengapa anda bisa bersama DieNeSs?” Aku
bertanya simpel dan kupikir itu bukanlah sebuah pertanyaan yang sensitif. Tapi
mendengar pertanyaanku pak Hauen langsung terdiam sunyi.
“Sepertinya kau menanyakan sesuatu yang
sensitif lagi, Vier. Minta maaflah!” Usul Fasa tiba-tiba.
“Tidak, tak apa-apa! Saya terdiam bukan dengan
maksud begitu, hanya saja... hampir semua anggota DieNeSs bermasalah dengan
Yaza Vumi, rata-rata... kehilangan orang yang dicintai saat perang terjadi!”
Jelas pak Hauen.
__ADS_1
“Begitu, ya. Jadi anda kehilangan keluarga
anda saat perang!” Terka-ku.
“Bukan keluarga... tapi, ratu yang sangat saya
cintai.” Ralatnya.
“Ratu? Jangan-jangan...” Fasa langsung
terkejut, tampaknya ia paham dengan arah pembicaraan ini.
“Ya! Mendiang ratu atau ibu kandung tuan Dai
adalah majikan saya sejak saya berumur 15 tahun dan beliau 10 tahun. Kemudian
beliau bertemu Yaza Vumi dan akhirnya menikah diusia 17. Saya tahu semua
tentangnya, dia orang yang rendah hati dan sangat baik, ia tak setuju dengan
Yaza Vumi yang suka berperang hingga diam-diam ia menjadi anggota DieNeSs.
Hanya saya yang tau tentang itu, dan waktu itu ketika kami sedang menyusun
strategi... markas kami yang berada diperbatasan di Bom dan beliau wafat disana
meninggalkan seorang putra yang berusia 15 tahun dan putri kembarnya yang
berusia 6 tahun.” Cerita pak Hauen.
Rasanya aku paham mengapa Dai memiliki
hati yang lembut dan penuh kasih, itu pastilah turunan ibunya. Ternyata impian
ibunya pun diturunkan pada Dai yang sama-sama membenci perang.
“Kita sudah sampai! Saya akan keluar lebih
dulu untuk memeriksa.” Ujar pak Hauen.
Pak Hauen keluar perlahan sedangkan
kami menunggu keadaannya cukup aman untuk melanjutkan misi. Seluruh tempat
menjadi gelap dan sepertinya hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli.
Ternyata bagian dalam istana ini tidak
terhubung dengan tempat dimana aku bertemu dengan Dai tadi, tempat ini seperti
ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki dengan satu pintu dimana membuka
pintunya harus dengan mendeteksi retina mata. Siapa sangka ada jalan masuk lain
yang terhubung melalui tempat latihan opera.
“Tempatnya aman, keluarlah perlahan!” Ujar pak
Hauen. Kami mengangguk, dan keluar satu persatu.
“Apa pak Hauen tau dimana tempat sumber energi
utama dikendalikan?” Tanyaku dengan suara berbisik pada pak Jeihan yang sejak
tadi hening.
“Dia menjadi Butler ratu selama 35 tahun, mustahil ia tak tau seluk-beluk
ekspresi tenang dan yakin yang dipancarkan pak Hauen.
Kami berjalan dilorong yang rumit,
orang yang sudah sering melewatinya saja bisa jadi tersesat. Lorong itu
memiliki lebar sekitar 2 meter, di dindingnya terpasang banyak lukisan dan
terukir berbagai bentuk relief yang terkesan menyeramkan, beratap pendek tapi
sangat panjang dan jauh hingga melewatinya terasa sesak.
Berliku-liku dan bercabang, kami harus
menentukan jalan yang akan kami lewati ditambah lagi penjaga-penjaga yang
sesekali berkeliaran untuk memeriksa. Gelap ini ada untungnya juga karena kami
lebih mudah bersembunyi.
“Berhenti!” Tiba-tiba pak Hauen memberi
perintah. Kami berhenti, pak Hauen menunjuk 5 orang penjaga yang sedang berdiri
berjajar di salah satu belokan lorong.
“Kita tak bisa melewatinya dengan
sembunyi-sembunyi, tapi bertarung dengan mereka pun hanya akan membuat
keributan yang mengundang penjaga lainnya untuk datang.” Jelas pak Hauen.
“Tak bisa sembunyi-sembunyi kalau dihadapi
semua, tapi kalu kita undang mereka satu persatu, kita bisa meringkusnya dengan
tenang dan rapi!” Senyumku.
Yah, aku punya rencana dengan
menggunakan kekuatan dua Om-om ini. Aku
pun membisikkan rencanaku pada ketiga rekan satu misiku. Mereka paham maksudku
dan bersedia meringkus para penjaga dengan caraku.
Rencana kami dimulai dengan melesatnya
aku dan Fasa ke kedua sisi lorong. Kami akan membuat suara dengan membenturkan
gagang belati yang kami bawa kedinding hingga menimbulkan suara yang bergema
cukup nyaring.
“Hei, kalian dengar suara itu? sebaiknya kita
periksa!” Usul salah satu penjaga.
“Tunggu! Mungkin ini jebakan, kami berdua saja
yang periksa, yang lainnya tetap jaga depan sini!” Ujar penjaga lainnya.
Itulah yang kami inginkan. Kedua orang
itu berjalan perlahan kearah suara yang kami buat dengan senapan yang siap
__ADS_1
menembakan peluru, pak Hauen dan pak Jeihan juga sudah siap menunggu kedua
penjaga itu.
Sesaat setelah dua orang penjaga itu
membelok dilorong, pak Hauen dengan cekatan melompat dan langsung mengapit
leher salah satu penjaga itu dengan lengan besarnya. Sedangkan rekan penjaganya
yang melihat itu belum sempat terkejut ketika pak Jeihan langsung menyetrumnya
dengan StunGun bertegangan tinggi.
“Bagus! Tinggal 3 orang lagi. Sabarlah dan
menunggu sampai mereka yang mendekat kemari!” Ujarku dengan suara pelan setelah
penjaga yang diringkus pak Hauen tumbang.
“Tidak Vier! Lebih baik gunakan ini!” Fasa menunjukan
sebuah senapan lengakap dengan peredam yang tadi dibawa penjaga.
“Tunggu Nona, tak semudah itu! kalau kita
menembak walaupun dengan peredam, penjaga lainnya yang melihat temannya tumbang
akan dapat melapor atau setidaknya berteriak!” Pak Jeihan memperingati.
“Itu kalau kita menembaknya satu persatu, tapi
kalau kita menembak diwaktu yang bersamaan dan ketiganya tumbang bersama...
kita tak akan mendengar teriakan!” Seringaiku. Tak kusangka pak Jeihan dan pak
Hauen terlihat sangat terkejut dengan ide gilaku.
“Hmm... akan kita coba, kami juga membawa
pistol. Tapi diantara kalian berdua, siapa yang akan menembak?” Tanya pak Hauen
setelah selesai dengan keterkejutannya.
“Kurasa Fasa lebih pandai menggunkan pistol
ketimbang diriku!” Aku melirik pada Fasa dan Fasa mengangguk. Mereka bertiga
siap dengan posisi menembak dan menentukan target masing-masing.
“Dalam hitungan ketiga, tekan pelatuknya
bersamaan. Arahkan langsung kekepalanya sampai mereka tak menyadari kematian
mereka sendiri.” Bisikku.
“1... 2... Tembak!!!”
Setelah aba-aba ku selesai, mereka
langsung menekan pelatuknya bersamaan hingga kami bisa melihat bagaimana ketiga
orang itu tumbang tanpa sempat berteriak. Aku tersenyum puas.
“Daru...rat... lorong terakhir!”
Sebuah suara yang mengejutkan terdengar
tiba-tiba. Ternyata penjaga yang disetrum StunGun itu sadar dan memberi laporan
melalui sebuah Radio komunikasi.
“Dor”
Pak Hauen langsung menembaknya tepat
dikepala. Meski demikian, tak lama setelah itu terdengar suara derap langkah
kaki yang bergema dilorong gelap itu. kami ketahuan!
“Kalian bertiga pergilah, pintu menuju lokasi
sumber energi utama ada dibelokan lorong itu. aku akan menahan tentara-tentara
itu selama yang aku bisa!” Ujar pak Jeihan kemudian.
“Tidak! Itu tindakan bodoh, kita semua harus
selamat, tak perlu ada pengorbanan!” Bantahku.
“Butuh waktu untuk membuka pintu itu, Nona.
Kalau salah satu dari kita tidak menahan mereka, kita semua akan tamat!” kata pak
Jeihan sambil mengisi peluru di pistolnya.
Aku terdiam mengeratkan kepalan
tanganku, kurasa aku tak bisa meninggalkannya untuk mati begitu saja demi kami,
hanya untuk mencuri sumber energi utama. Aku benci pengorbanan seperti ini. Dan
sepertinya Fasa juga sependapat denganku.
“Dengar Nona Vier, kita sudah sejauh ini...
kadang pengorbanan diperlukan untuk mencapai suatu tujuan, lagi pula belum
tentu aku mati disini.” Pak Jeihan menepuk punggunggku dan meminta kami
bergegas pergi.
Kami pun bergegas pergi dari sana dan
belok dilorong hingga menemukan sebuah pintu besi, pintu itu tertutup dan harus
memasukkan kode untuk bisa membukanya. Untunglah pak Hauen yang merupakan
mantan Butler Ratu tahu password pintu itu.
Pintu terbuka perlahan, dan
memperlihatkan pada kami sebuah ruangan kosong tanpa manusia atau benda apapun
didalamnya. Aku menggosok mataku hampir tak percaya pada apa yang terjadi.
“Pak Hauen, saya rasa anda pasti bercanda.”
Aku berbalik menatap Pak Hauen. “INI
CUMA RUANGAN KOSONG!!!”
*****
__ADS_1