Break The Secret

Break The Secret
14) PERAYAAN : identitas


__ADS_3

“Bagaimana... mungkin, selama ini sosok


Noir adalah... kau...”


Penuh keterkejutan dan kebingungan yang


tak terjawab, aku terus menatapnya dengan tidak percaya. Dia melangkah mendekat


kearahku, wajah terkejutnya berubah menjadi senyuman yang tampak sedih.


Kenapa wajahnya sesedih itu? kenapa dia


tersenyum begitu sendu padaku hingga rasanya aku pun ikut bersedih? Tangannya


menyentuh wajahku dengan lembut, tapi ia terasa dingin.


 “Aku tak ingin membohongimu... tapi Vier, kau


bahkan sudah berubah begitu jauh... bagaimana jika kau yang dulu mengetahui


bahwa orang yang kau sukai adalah orang yang kau benci?” Suaranya terdengar


lirih dan putus asa, ia mengusap pipiku. “Tidak! Yang kau sukai sekarang


bukanlah diriku... tapi penggantiku, kan?!” Lanjutnya.


 “APA-APAAN INI DAI???” Teriakku sambil


menyingkirkan tangannya dariku.


Ya! Dia adalah Dai. Orang yang berdiri


dengan pakaian milik Noir didepanku ini adalah Dai, selama ini dia berbohong


dan menjadi dua orang yang berbeda.


 “Aku tau... aku telah membohongi semua


orang... tapi bisakah kau marah padaku lain kali? Setidaknya setelah misi kita


selesai!” Ujarnya dengan wajah yang tetap sedih.


Aku baru ingat kalu kami masih punya


misi, aku pun mengatur napasku dan mengendalikan emosiku lagi.


 “Baiklah! Tapi setelah ini, jangan harap kau


bisa tidur nyenyak!” Tukasku dengan tatapan tajam.


 “Terima kasih!” Ujarnya lalu mengambil topeng


tengkorak yang sebelumnya jatuh dan berlalu pergi dari ruangan itu.


Aku tetap berdiri ditempatku, memang sulit


untuk mengendalikan perasaanku saat ini, apalagi ini berhubungan dengan hal


yang lebih sensitif. Tapi aku masih punya hal yang jauh lebih penting untuk


dilakukan.


Setelah cukup lama berpikir, aku pergi


dari sana. Sudah menyiapkan mental untuk yang akan terjadi nanti, apapun itu


tak akan kubiarkan pikiran labilku muncul lagi. Aku kembali ke alun-alun dan


menarik Fasa pergi dari sana.


 “Hey, kemana saja kau? Aku sampai bingung


mencarimu tadi.” Tanya Fasa sedikit kesal.


 “Inginnya sih aku segera cerita, tapi kita tak


ada waktu, harus ketempat latihan opera sekarang!” Jawabku.


Aku dan Fasa pergi dari area istana dan


menuju tempat opera yang tak jauh dari sana. Dihalaman opera, pak jeihan dan


pak hauen sudah menunggu kami, kami bergegas masuk ke gedung opera dan menuju


ruang ganti Dai dimana terdapat lemari pakaian yang terhubung dengan jalan


rahasia.


 “Disini!” Seru-ku.


 “Baiklah, yang pertama masuk saya dan terakhir


pak Jeihan!” Ujar pak Hauen selaku pemimpin misi pengganti Dai yang masih harus


menyelesaikan urusannya.


Kami menuruti perkataan pak Hauen,


setelah pak Hauen aku masuk, diikuti Fasa dan terakhir pak Jeihan. Aku sudah


mengenal lorong itu jadi tak terlalu memperhatikan sekitar, aku justru


penasaran pada pak Hauen dan mengapa dia bisa bersama DieNeSs.


 “Pak Hauen,”Panggilku.


 “Iya?” Tanggapnya tanpa menoleh dan tetap


Fokus menyusuri lorong.


 “Bolehkah saya menanyakan beberapa hal?”


Tanyaku.


 “Iya, tentu!” Jawabnya setuju.


 “Mengapa anda bisa bersama DieNeSs?” Aku


bertanya simpel dan kupikir itu bukanlah sebuah pertanyaan yang sensitif. Tapi


mendengar pertanyaanku pak Hauen langsung terdiam sunyi.


 “Sepertinya kau menanyakan sesuatu yang


sensitif lagi, Vier. Minta maaflah!” Usul Fasa tiba-tiba.


 “Tidak, tak apa-apa! Saya terdiam bukan dengan


maksud begitu, hanya saja... hampir semua anggota DieNeSs bermasalah dengan


Yaza Vumi, rata-rata... kehilangan orang yang dicintai saat perang terjadi!”


Jelas pak Hauen.

__ADS_1


 “Begitu, ya. Jadi anda kehilangan keluarga


anda saat perang!” Terka-ku.


 “Bukan keluarga... tapi, ratu yang sangat saya


cintai.” Ralatnya.


 “Ratu? Jangan-jangan...” Fasa langsung


terkejut, tampaknya ia paham dengan arah pembicaraan ini.


 “Ya! Mendiang ratu atau ibu kandung tuan Dai


adalah majikan saya sejak saya berumur 15 tahun dan beliau 10 tahun. Kemudian


beliau bertemu Yaza Vumi dan akhirnya menikah diusia 17. Saya tahu semua


tentangnya, dia orang yang rendah hati dan sangat baik, ia tak setuju dengan


Yaza Vumi yang suka berperang hingga diam-diam ia menjadi anggota DieNeSs.


Hanya saya yang tau tentang itu, dan waktu itu ketika kami sedang menyusun


strategi... markas kami yang berada diperbatasan di Bom dan beliau wafat disana


meninggalkan seorang putra yang berusia 15 tahun dan putri kembarnya yang


berusia 6 tahun.” Cerita pak Hauen.


Rasanya aku paham mengapa Dai memiliki


hati yang lembut dan penuh kasih, itu pastilah turunan ibunya. Ternyata impian


ibunya pun diturunkan pada Dai yang sama-sama membenci perang.


 “Kita sudah sampai! Saya akan keluar lebih


dulu untuk memeriksa.” Ujar pak Hauen.


Pak Hauen keluar perlahan sedangkan


kami menunggu keadaannya cukup aman untuk melanjutkan misi. Seluruh tempat


menjadi gelap dan sepertinya hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli.


Ternyata bagian dalam istana ini tidak


terhubung dengan tempat dimana aku bertemu dengan Dai tadi, tempat ini seperti


ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki dengan satu pintu dimana membuka


pintunya harus dengan mendeteksi retina mata. Siapa sangka ada jalan masuk lain


yang terhubung melalui tempat latihan opera.


 “Tempatnya aman, keluarlah perlahan!” Ujar pak


Hauen. Kami mengangguk, dan keluar satu persatu.


 “Apa pak Hauen tau dimana tempat sumber energi


utama dikendalikan?” Tanyaku dengan suara berbisik pada pak Jeihan yang sejak


tadi hening.


 “Dia menjadi Butler ratu selama 35 tahun, mustahil ia tak tau seluk-beluk


ekspresi tenang dan yakin yang dipancarkan pak Hauen.


Kami berjalan dilorong yang rumit,


orang yang sudah sering melewatinya saja bisa jadi tersesat. Lorong itu


memiliki lebar sekitar 2 meter, di dindingnya terpasang banyak lukisan dan


terukir berbagai bentuk relief yang terkesan menyeramkan, beratap pendek tapi


sangat panjang dan jauh hingga melewatinya terasa sesak.


Berliku-liku dan bercabang, kami harus


menentukan jalan yang akan kami lewati ditambah lagi penjaga-penjaga yang


sesekali berkeliaran untuk memeriksa. Gelap ini ada untungnya juga karena kami


lebih mudah bersembunyi.


 “Berhenti!” Tiba-tiba pak Hauen memberi


perintah. Kami berhenti, pak Hauen menunjuk 5 orang penjaga yang sedang berdiri


berjajar di salah satu belokan lorong.


 “Kita tak bisa melewatinya dengan


sembunyi-sembunyi, tapi bertarung dengan mereka pun hanya akan membuat


keributan yang mengundang penjaga lainnya untuk datang.” Jelas pak Hauen.


 “Tak bisa sembunyi-sembunyi kalau dihadapi


semua, tapi kalu kita undang mereka satu persatu, kita bisa meringkusnya dengan


tenang dan rapi!” Senyumku.


Yah, aku punya rencana dengan


menggunakan kekuatan dua Om-om ini. Aku


pun membisikkan rencanaku pada ketiga rekan satu misiku. Mereka paham maksudku


dan bersedia meringkus para penjaga dengan caraku.


Rencana kami dimulai dengan melesatnya


aku dan Fasa ke kedua sisi lorong. Kami akan membuat suara dengan membenturkan


gagang belati yang kami bawa kedinding hingga menimbulkan suara yang bergema


cukup nyaring.


 “Hei, kalian dengar suara itu? sebaiknya kita


periksa!” Usul salah satu penjaga.


 “Tunggu! Mungkin ini jebakan, kami berdua saja


yang periksa, yang lainnya tetap jaga depan sini!” Ujar penjaga lainnya.


Itulah yang kami inginkan. Kedua orang


itu berjalan perlahan kearah suara yang kami buat dengan senapan yang siap

__ADS_1


menembakan peluru, pak Hauen dan pak Jeihan juga sudah siap menunggu kedua


penjaga itu.


Sesaat setelah dua orang penjaga itu


membelok dilorong, pak Hauen dengan cekatan melompat dan langsung mengapit


leher salah satu penjaga itu dengan lengan besarnya. Sedangkan rekan penjaganya


yang melihat itu belum sempat terkejut ketika pak Jeihan langsung menyetrumnya


dengan StunGun bertegangan tinggi.


 “Bagus! Tinggal 3 orang lagi. Sabarlah dan


menunggu sampai mereka yang mendekat kemari!” Ujarku dengan suara pelan setelah


penjaga yang diringkus pak Hauen tumbang.


 “Tidak Vier! Lebih baik gunakan ini!” Fasa menunjukan


sebuah senapan lengakap dengan peredam yang tadi dibawa penjaga.


 “Tunggu Nona, tak semudah itu! kalau kita


menembak walaupun dengan peredam, penjaga lainnya yang melihat temannya tumbang


akan dapat melapor atau setidaknya berteriak!” Pak Jeihan memperingati.


 “Itu kalau kita menembaknya satu persatu, tapi


kalau kita menembak diwaktu yang bersamaan dan ketiganya tumbang bersama...


kita tak akan mendengar teriakan!” Seringaiku. Tak kusangka pak Jeihan dan pak


Hauen terlihat sangat terkejut dengan ide gilaku.


 “Hmm... akan kita coba, kami juga membawa


pistol. Tapi diantara kalian berdua, siapa yang akan menembak?” Tanya pak Hauen


setelah selesai dengan keterkejutannya.


 “Kurasa Fasa lebih pandai menggunkan pistol


ketimbang diriku!” Aku melirik pada Fasa dan Fasa mengangguk. Mereka bertiga


siap dengan posisi menembak dan menentukan target masing-masing.


 “Dalam hitungan ketiga, tekan pelatuknya


bersamaan. Arahkan langsung kekepalanya sampai mereka tak menyadari kematian


mereka sendiri.” Bisikku.


 “1... 2... Tembak!!!”


Setelah aba-aba ku selesai, mereka


langsung menekan pelatuknya bersamaan hingga kami bisa melihat bagaimana ketiga


orang itu tumbang tanpa sempat berteriak. Aku tersenyum puas.


 “Daru...rat... lorong terakhir!”


Sebuah suara yang mengejutkan terdengar


tiba-tiba. Ternyata penjaga yang disetrum StunGun itu sadar dan memberi laporan


melalui sebuah Radio komunikasi.


 “Dor”


Pak Hauen langsung menembaknya tepat


dikepala. Meski demikian, tak lama setelah itu terdengar suara derap langkah


kaki yang bergema dilorong gelap itu. kami ketahuan!


 “Kalian bertiga pergilah, pintu menuju lokasi


sumber energi utama ada dibelokan lorong itu. aku akan menahan tentara-tentara


itu selama yang aku bisa!” Ujar pak Jeihan kemudian.


 “Tidak! Itu tindakan bodoh, kita semua harus


selamat, tak perlu ada pengorbanan!” Bantahku.


 “Butuh waktu untuk membuka pintu itu, Nona.


Kalau salah satu dari kita tidak menahan mereka, kita semua akan tamat!” kata pak


Jeihan sambil mengisi peluru di pistolnya.


Aku terdiam mengeratkan kepalan


tanganku, kurasa aku tak bisa meninggalkannya untuk mati begitu saja demi kami,


hanya untuk mencuri sumber energi utama. Aku benci pengorbanan seperti ini. Dan


sepertinya Fasa juga sependapat denganku.


 “Dengar Nona Vier, kita sudah sejauh ini...


kadang pengorbanan diperlukan untuk mencapai suatu tujuan, lagi pula belum


tentu aku mati disini.” Pak Jeihan menepuk punggunggku dan meminta kami


bergegas pergi.


Kami pun bergegas pergi dari sana dan


belok dilorong hingga menemukan sebuah pintu besi, pintu itu tertutup dan harus


memasukkan kode untuk bisa membukanya. Untunglah pak Hauen yang merupakan


mantan Butler Ratu tahu password pintu itu.


Pintu terbuka perlahan, dan


memperlihatkan pada kami sebuah ruangan kosong tanpa manusia atau benda apapun


didalamnya. Aku menggosok mataku hampir tak percaya pada apa yang terjadi.


 “Pak Hauen, saya rasa anda pasti bercanda.”


Aku berbalik menatap Pak Hauen.  “INI


CUMA RUANGAN KOSONG!!!”


*****

__ADS_1


__ADS_2