
Siang hari di tempat latihan opera
“Sehari tak bertemu denganmu, rasanya hati ini
sudah merindu... Hey, pangeran putih berhati hitam!” Sindirku ketika berpapasan
dengan Dai. Ia hendak masuk keruang latihan sedangkan aku sebaliknya.
“Kejadian malam itu... aku minta maaf!”
Ujarnya. Kami berdiri saling membelakangi.
“Akan kumaafkan dengan satu syarat!”
“Syarat?”
“Ya, Syarat! Karena didunia ini tak ada yang
gratis, kan?!”
“Katakan!”
“Kau pastinya tau sesuatu tentang... DarkNight
Shouldiers?!”
Mendengar itu Dai langsung tercekat dan
berbalik menghadapku. Aku tersenyum penuh kemenangan, dugaanku dan Fasa benar,
dia memang terlibat.
“Bingo! Kau terjebak! Bagaimana? Bukankah aku
menarik tali disimpul yang benar?” Aku semakin meledeknya, rasanya dendamku
terbalas karena berhasil membuatnya bungkam.
Dai tersenyum sambil menghela napas
panjang. Tatapan matanya memandangku bersahabat, dan dengan tenang dia berkata;
“Kau benar-benar berubah Vier! Hm, jangan
menatapku seperti itu!” Katanya.
“Apa kau bermaksud menggodaku?” Aku mengangkat
sebelah alis dengan gaya arogan.
“Tidak! Justru sebaliknya, kau yang berhasil
menggodaku dengan kata-katamu!”
“Ha? Kata yang mana?”
“Kata yang menghancurkan rahasiaku! Karena itu
sebaiknya aku memberitahukan sesuatu padamu. Tapi sebelum itu, aku ingin tau
kau berada dipihak mana?”
“Akan kukatakan setelah mengerti situasinya!”
“Baiklah! Menjelang malam nanti ajak temanmu,
temui aku dibelakang gedung ini!”
Dai pergi setelah mengatakannya. Aku
sedikit ragu, biar bagaimanapun Dai adalah putra tunggal Yaza Vumi III, apa
mungkin dia dipihak yang menentang ayahnya. Tapi terserahlah, aku akan segera
tahu dia teman atau musuhku nanti malam.
.....
Matahari berlalu melewati garis waktu
dan hari, kegelapan merayap seolah memakan cahaya. Dan ini waktunya bagiku
menemui sang pangeran putih. Aku bersama Fasa sudah menunggu sekitar 15 menit
dari waktu yang dijanjikan, tapi batang hidung Dai tak juga terlihat.
“Apa aku terlambat?”
Nah, itu dia suaranya. Dai berjalan
santai kearah kami, selalu saja pakaian putihnya itu kontras dengan suasana
senja yang merah.
“Aku pergi memeriksa sekitar sebelum menemui
kalian, dan sepertinya memang hanya kalian yang ada disini.” Lanjutnya.
Hm, jadi dia pun belum mempercayai
kami?! Setelah itu kami ikut menumpang dimobil Dai untuk sampai ketempat yang
kami pun tak tau. Dalam perjalanan menuju tempat itu hanya kesunyian tanpa
sepatah katapun hingga akhirnya kami sampai di tempat seperti sebuah rumah tua
yang tak terpakai.
Aku dan Fasa memutuskan untuk tidak
bertanya dan hanya mengikuti langkah Dai yang memasuki rumah tua tanpa
sedikitpun disinari lampu. Gelap gulita, kemudian kami menemukan pintu yang
bercahaya.
Dai membuka pintu itu, dan kami sangat
terkejut.
“Ini jawaban atas pertanyaanmu tadi siang,
Vier! disinilah para DarkNight Shouldiers!” Dai mengatakannya dengan
memperlihatkan suasana bagian dalam bangunan mewah bawah tanah yang hebat, juga
orang-orang berpakaian rapi yang sibuk dengan urusan masing-masing.
“Jadi kau juga menentang ayahmu?” Tanyaku agak
tak percaya.
“Aku tidak menentang ayahku, aku menentang
kebijakannya yang merugikan banyak pihak!” Jawabnya. Aku menangkap ekspresi
penyesalan bercampur dengan kesedihan dan kekecewaan diwajah Dai ketika ia
mengatakannya.
Aku merasa kasihan padanya, sepertinya
__ADS_1
ia mengalami kehidupan yang sulit. Kudekati Dai dan menepuk bahunya seperti seorang
teman yang sudah akrab, tersenyum ceria padanya.
“Kau tak salah, ayahmu juga tak salah! Yang
salah adalah sifat ayahmu!” Seru-ku. Dai tersenyum heran, ia menatapku intens.
“Ehem!” Fasa berdeham. “Boleh kami tau keadaan
bangunan bawah tanah ini? Berkeliling atau makan sesuatu.”
Usulan Fasa diangguki oleh Dai. Kami melihat-lihat
apa saja yang ada disana sekaligus mendengarkan cerita Dai tentang yang
sebenarnya terjadi sebelum para DieNeSs pindah dan bersembunyi.
Setelah DarkNight pergi dan
keberadaanya tak lagi diketahui, Yaza Vumi I yang sebelumnya hanya menjadi
organisasi perdamaian dunia berubah arah dan ingin menyatukan dunia Dalam satu
kuasa. Namun pada saat itu para DieNeSs yang masih memegang ideologi DarkNight
menentangnya.
Yang dimaksud ideologi DarkNight
adalah, dunia dipersatukan dalam ikatan persaudaraan dan saling membantu, akan
tetapi setiap negara berhak mengatur dengan hukum masing-masing.
Pertentangan itu menimbulkan bentrok,
dan akhirnya DieNeSs kalah. Mereka terusir dan diasingkan, bahkan dianggap
pemberontak. Saat itulah perang mulai terjadi kembali, Yaza Vumi menyerang
daerah manapun yang menentangnya dan tidak memberi sumber energi utama.
Dan dibawah tanah ini para DieNeSs yang
tersisa mengumpulkan banyak orang juga kekuatan untuk membuat kudeta.
Ironisnya, entah bagaimana ceritanya Dai bisa menjadi salah satu pimpinan
DieNeSs.
.....
Tengah malam
Fasa sudah tertidur pulas dikamar yang
memang disediakan oleh markas DieNeSs, tapi aku tidak bisa tertidur malam ini, aku
bersandar di dinding lorong. Banyak hal yang berputar dikepalaku, dan beberapa
kali aku mengingat keluargaku. Sudah lama aku jauh dari rumah, apa yang terjadi
pada keluargaku setelah kutinggalkan? Memikirkan itu aku merasa sedih.
Disela-sela lamunanku aku melihat Dai
berjalan diantara pillar-pillar yang menyangga atap bawah tanah ini. Jarak dari
lantai sampai keatap sekitar 10 meter, tapi Dai mengatakannya sebagai rumah
bawah tanah.
Karena penasaran kemana Dai akan pergi
bangunan bawah tanah, kudengar beberapa kali ia menghela napas panjang.
“Keluarlah!”
Katanya tiba-tiba membuatku terkejut.
Siapa yang disuruh keluar? Apa jangan-jangan ada orang lain disini yang
berjanji bertemu dengan Dai.
“Vier! Aku tau kau disana!” Ujarnya lagi. Yah,
aku sungguh tak pandai soal mengintai atau menyusup, selalu saja ketahuan.
“Hm, aku tak bermaksud membuntutimu, kok. Cuma
penasaran, apa yang kau lakukan tengah malam begini?” Tanyaku. Aku melangkah
mendekat dan menyejajarkan tempat berdiri dengan Dai. Kuikuti arah pandangnya
yang terus menatap langit.
“Aku tak melakukan apa-apa, hanya menatap
langit yang dulu sering ditunjukkan ibuku.” Jawabnya. Dai tersenyum, senyuman
sendu yang dipenuhi kepedihan.
“Ibumu... kemana?”
“Dia sudah meninggal, dan dia pergi dengan terus
memegang keyakinannya.”
“Hm, maaf karena telah menanyakan ini.” Sesalku.
Dai menoleh kearahku, bola mata
kelabunya menatapku dan memantulkan cahaya bulan kekuningan. Ia tersenyum
sambil melipat tangan kebelakang, ya... dia terlihat keren ketika angin menerpa
rambut pekatnya yang indah.
“Sekarang boleh aku yang bertanya? Karena aku
punya dua pertanyaan untukmu.” Tanyanya.
“Ya, selama itu bukan pertanyaan yang
menjebak.”
“Pertanyaan pertama, kenapa tiba-tiba kau
meminta bergabung dengan DieNeSs yang merupakan pemberontak, bukankah sejak
dulu kau tak mempedulikannya?”
“Kau tak tau apa-apa sih, sejak dulu aku juga
tak menyukai pemerintahan otoriter begini.”
“Hm, baiklah! Pertanyaan kedua...”
Dai belum menyelesaikan perkataannya
ketika tiba-tiba ia langsung menarikku untuk bersembunyi dibalik tumpukan kayu
__ADS_1
bekas yang ada disekitar rumah.
Dai menempelkan jari telunjuk diujung bibirnya
tanda bahwa dia memintaku untuk sunyi. Aku mengangguk dan terus diam walaupun
belum mengerti ada apa dan kami bersembunyi untuk apa.
Tak lama kemudian barulah kulihat
beberapa orang dengan pakaian seperti ninja dan dengan senapan ditangannya
muncul dari balik pepohonan.
“Periksa rumah itu!” Ujar salah satunya pada
dua yang lain. Tiga orang dengan pakaian seperti ninja itu mengelilingi sekitar
rumah dengan pose siap menyerang.
“Mereka tentara Bayangan, tapi Cuma tiga
orang, kurasa aku bisa mengatasinya. Kau tetaplah sembunyi.” Bisik Dai.
“Tunggu, jangan gegabah, bagaimana jika ini
jebakan?” Cegahku.
“Apa maksudmu?”
“Itu terlalu aneh, mana mungkin penyergapan
Cuma dilakukan tiga orang, apalagi ditempat yang hampir hutan seperti ini.”
“Tapi kalau kita tak mencegahnya, lokasi
DieNeSs akan ketahuan, tadi aku tidak menyembunyikan jalan masuknya.”
Kami saling berbisik. Keadaan seperti
ini, aku terpikirkan sebuah cara, kubisikkan pada Dai caraku menyingkirkan
mereka dari sini tanpa membuat tempat ini ketahuan.
Aku mengendap-endap keluar dari
persembunyian, berjalan cepat menuju sisi jauh dari 3 orang tadi, setelah
kurasa cukup jauh, saatnya aku beraksi.
“WAAAAAA..... ADA ULAR, TOLONG!!!!”
Ya, aku berteriak sekeras mungkin,
setidaknya itu akan membuat tiga orang tadi teralihkan perhatiannya walau
sejenak, dan sementara mereka lengah, Dai akan punya kesempatan untuk
menyembunyikan jalan masuk ke markas DieNeSs.
Syukurlah semuanya berjalan baik, pintu
masuk berhasil disembunyikan hingga meskipun mereka mengobrak-abrik rumah tua
itu, tak akan ada jalan untuk kesana. Setelah beberapa jam mereka pergi dari
tempat itu, aku dan Dai bisa bernapas lega.
“Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau mencegahku
menghabisi mereka?”
Tanya Dai ketika kami kembali berdiri
sejajar didepan rumah tua.
“Kupikir... tadi itu jebakan!”
“Jebakan?”
“Iya! Terlalu aneh untuk berpatroli ketempat
seperti ini hanya bertiga sekalipun dilakukan oleh tentara. Mereka tau apa yang
mereka hadapi, dan karena mereka tau tak akan mudah untuk mengetahui dimana
markas kalian, mereka sengaja mengirimkan sedikit orang. Jika tiga orang tadi
terbunuh, maka lokasi kalian akan ketahuan jika tempat ditemukannya mayat itu
diselidiki. Jadi lebih aman dengan cara tadi.” Jelasku.
Dai menatapku dengan tatapan kagum,
kepalanya mengangguk-angguk seperti seorang murid yang mendengarkan penjelasan
gurunya.
“Sungguh, Vier! Aku sama sekali tak
terpikirkan sampai sejauh itu. Aku memang dengar dari ayahku bahwa dia tau ada
gerakan pemberontakan dan pasti akan menyelidikinya, padahal aku sudah waspada.
Kalau saja bukan karena kau, kecerobohanku tadi pasti...” Ia menyanjungku
dengan ekspresi bersyukur yang kentara.
“Ya, pemikiran yang kritis sangat dibutuhkan
dalam politik pemberontakan begini, kadang licik juga diperlukan!” Ujarku
santai.
Dai termangu, tatapannya padaku
berubah, matanya menyipit dengan dahi dikerutkan. Aku berpindah kedepannya dan
kami berhadap-hadapan, ia agak terkejut dan dahinya semakin berkerut.
“Kau pasti merasa sesuatu yang berbeda padaku,
kan?! Merasa ada yang aneh dengan kepribadianku belakangan ini, begitukah?”
Tanyaku dengan suara dalam. Aku agak mendekatkan wajahku padanya membuat Dai
mundur selangkah kebelakang. Dai mengangguk dengan agak gugup.
“Kau berubah 180 derajat,
sikap-sifatmu, kepribadianmu, bahkan gaya bicara dan penampilanmu... semuanya
kecuali fisikmu, kenapa?” Tanya Dai.Aku tersenyum menyamping. Kutarik
lengannya dan mendekatkan bibirku ketelinganya untuk berbisik.
“Break The Secret!”
Setelah membisikkannya aku menjauh. Ini
ekspresi yang pertama kali kulihat dari wajah Dai, seperti tak percaya dengan
__ADS_1
yang didengarnya.. Matanya membulat dengan alis terangkat dan bibir yang
terbuka lebar. Aku tersenyum padanya.