Break The Secret

Break The Secret
7) DarkNight Soldier


__ADS_3

Siang hari di tempat latihan opera


 “Sehari tak bertemu denganmu, rasanya hati ini


sudah merindu... Hey, pangeran putih berhati hitam!” Sindirku ketika berpapasan


dengan Dai. Ia hendak masuk keruang latihan sedangkan aku sebaliknya.


 “Kejadian malam itu... aku minta maaf!”


Ujarnya. Kami berdiri saling membelakangi.


 “Akan kumaafkan dengan satu syarat!”


 “Syarat?”


 “Ya, Syarat! Karena didunia ini tak ada yang


gratis, kan?!”


 “Katakan!”


 “Kau pastinya tau sesuatu tentang... DarkNight


Shouldiers?!”


Mendengar itu Dai langsung tercekat dan


berbalik menghadapku. Aku tersenyum penuh kemenangan, dugaanku dan Fasa benar,


dia memang terlibat.


 “Bingo! Kau terjebak! Bagaimana? Bukankah aku


menarik tali disimpul yang benar?” Aku semakin meledeknya, rasanya dendamku


terbalas karena berhasil membuatnya bungkam.


Dai tersenyum sambil menghela napas


panjang. Tatapan matanya memandangku bersahabat, dan dengan tenang dia berkata;


 “Kau benar-benar berubah Vier! Hm, jangan


menatapku seperti itu!” Katanya.


 “Apa kau bermaksud menggodaku?” Aku mengangkat


sebelah alis dengan gaya arogan.


 “Tidak! Justru sebaliknya, kau yang berhasil


menggodaku dengan kata-katamu!”


 “Ha? Kata yang mana?”


 “Kata yang menghancurkan rahasiaku! Karena itu


sebaiknya aku memberitahukan sesuatu padamu. Tapi sebelum itu, aku ingin tau


kau berada dipihak mana?”


 “Akan kukatakan setelah mengerti situasinya!”


 “Baiklah! Menjelang malam nanti ajak temanmu,


temui aku dibelakang gedung ini!”


Dai pergi setelah mengatakannya. Aku


sedikit ragu, biar bagaimanapun Dai adalah putra tunggal Yaza Vumi III, apa


mungkin dia dipihak yang menentang ayahnya. Tapi terserahlah, aku akan segera


tahu dia teman atau musuhku nanti malam.


.....


Matahari berlalu melewati garis waktu


dan hari, kegelapan merayap seolah memakan cahaya. Dan ini waktunya bagiku


menemui sang pangeran putih. Aku bersama Fasa sudah menunggu sekitar 15 menit


dari waktu yang dijanjikan, tapi batang hidung Dai tak juga terlihat.


 “Apa aku terlambat?”


Nah, itu dia suaranya. Dai berjalan


santai kearah kami, selalu saja pakaian putihnya itu kontras dengan suasana


senja yang merah.


 “Aku pergi memeriksa sekitar sebelum menemui


kalian, dan sepertinya memang hanya kalian yang ada disini.” Lanjutnya.


Hm, jadi dia pun belum mempercayai


kami?! Setelah itu kami ikut menumpang dimobil Dai untuk sampai ketempat yang


kami pun tak tau. Dalam perjalanan menuju tempat itu hanya kesunyian tanpa


sepatah katapun hingga akhirnya kami sampai di tempat seperti sebuah rumah tua


yang tak terpakai.


Aku dan Fasa memutuskan untuk tidak


bertanya dan hanya mengikuti langkah Dai yang memasuki rumah tua tanpa


sedikitpun disinari lampu. Gelap gulita, kemudian kami menemukan pintu yang


bercahaya.


Dai membuka pintu itu, dan kami sangat


terkejut.


 “Ini jawaban atas pertanyaanmu tadi siang,


Vier! disinilah para DarkNight Shouldiers!” Dai mengatakannya dengan


memperlihatkan suasana bagian dalam bangunan mewah bawah tanah yang hebat, juga


orang-orang berpakaian rapi yang sibuk dengan urusan masing-masing.


 “Jadi kau juga menentang ayahmu?” Tanyaku agak


tak percaya.


 “Aku tidak menentang ayahku, aku menentang


kebijakannya yang merugikan banyak pihak!” Jawabnya. Aku menangkap ekspresi


penyesalan bercampur dengan kesedihan dan kekecewaan diwajah Dai ketika ia


mengatakannya.


Aku merasa kasihan padanya, sepertinya

__ADS_1


ia mengalami kehidupan yang sulit. Kudekati Dai dan menepuk bahunya seperti seorang


teman yang sudah akrab, tersenyum ceria padanya.


 “Kau tak salah, ayahmu juga tak salah! Yang


salah adalah sifat ayahmu!” Seru-ku. Dai tersenyum heran, ia menatapku intens.


 “Ehem!” Fasa berdeham. “Boleh kami tau keadaan


bangunan bawah tanah ini? Berkeliling atau makan sesuatu.”


Usulan Fasa diangguki oleh Dai. Kami melihat-lihat


apa saja yang ada disana sekaligus mendengarkan cerita Dai tentang yang


sebenarnya terjadi sebelum para DieNeSs pindah dan bersembunyi.


Setelah DarkNight pergi dan


keberadaanya tak lagi diketahui, Yaza Vumi I yang sebelumnya hanya menjadi


organisasi perdamaian dunia berubah arah dan ingin menyatukan dunia Dalam satu


kuasa. Namun pada saat itu para DieNeSs yang masih memegang ideologi DarkNight


menentangnya.


Yang dimaksud ideologi DarkNight


adalah, dunia dipersatukan dalam ikatan persaudaraan dan saling membantu, akan


tetapi setiap negara berhak mengatur dengan hukum masing-masing.


Pertentangan itu menimbulkan bentrok,


dan akhirnya DieNeSs kalah. Mereka terusir dan diasingkan, bahkan dianggap


pemberontak. Saat itulah perang mulai terjadi kembali, Yaza Vumi menyerang


daerah manapun yang menentangnya dan tidak memberi sumber energi utama.


Dan dibawah tanah ini para DieNeSs yang


tersisa mengumpulkan banyak orang juga kekuatan untuk membuat kudeta.


Ironisnya, entah bagaimana ceritanya Dai bisa menjadi salah satu pimpinan


DieNeSs.


.....


Tengah malam


Fasa sudah tertidur pulas dikamar yang


memang disediakan oleh markas DieNeSs, tapi aku tidak bisa tertidur malam ini, aku


bersandar di dinding lorong. Banyak hal yang berputar dikepalaku, dan beberapa


kali aku mengingat keluargaku. Sudah lama aku jauh dari rumah, apa yang terjadi


pada keluargaku setelah kutinggalkan? Memikirkan itu aku merasa sedih.


Disela-sela lamunanku aku melihat Dai


berjalan diantara pillar-pillar yang menyangga atap bawah tanah ini. Jarak dari


lantai sampai keatap sekitar 10 meter, tapi Dai mengatakannya sebagai rumah


bawah tanah.


Karena penasaran kemana Dai akan pergi


bangunan bawah tanah, kudengar beberapa kali ia menghela napas panjang.


 “Keluarlah!”


Katanya tiba-tiba membuatku terkejut.


Siapa yang disuruh keluar? Apa jangan-jangan ada orang lain disini yang


berjanji bertemu dengan Dai.


 “Vier! Aku tau kau disana!” Ujarnya lagi. Yah,


aku sungguh tak pandai soal mengintai atau menyusup, selalu saja ketahuan.


 “Hm, aku tak bermaksud membuntutimu, kok. Cuma


penasaran, apa yang kau lakukan tengah malam begini?” Tanyaku. Aku melangkah


mendekat dan menyejajarkan tempat berdiri dengan Dai. Kuikuti arah pandangnya


yang terus menatap langit.


 “Aku tak melakukan apa-apa, hanya menatap


langit yang dulu sering ditunjukkan ibuku.” Jawabnya. Dai tersenyum, senyuman


sendu yang dipenuhi kepedihan.


 “Ibumu... kemana?”


 “Dia sudah meninggal, dan dia pergi dengan terus


memegang keyakinannya.”


 “Hm, maaf karena telah menanyakan ini.” Sesalku.


Dai menoleh kearahku, bola mata


kelabunya menatapku dan memantulkan cahaya bulan kekuningan. Ia tersenyum


sambil melipat tangan kebelakang, ya... dia terlihat keren ketika angin menerpa


rambut pekatnya yang indah.


 “Sekarang boleh aku yang bertanya? Karena aku


punya dua pertanyaan untukmu.” Tanyanya.


 “Ya, selama itu bukan pertanyaan yang


menjebak.”


 “Pertanyaan pertama, kenapa tiba-tiba kau


meminta bergabung dengan DieNeSs yang merupakan pemberontak, bukankah sejak


dulu kau tak mempedulikannya?”


 “Kau tak tau apa-apa sih, sejak dulu aku juga


tak menyukai pemerintahan otoriter begini.”


 “Hm, baiklah! Pertanyaan kedua...”


Dai belum menyelesaikan perkataannya


ketika tiba-tiba ia langsung menarikku untuk bersembunyi dibalik tumpukan kayu

__ADS_1


bekas yang ada disekitar rumah.


 Dai menempelkan jari telunjuk diujung bibirnya


tanda bahwa dia memintaku untuk sunyi. Aku mengangguk dan terus diam walaupun


belum mengerti ada apa dan kami bersembunyi untuk apa.


Tak lama kemudian barulah kulihat


beberapa orang dengan pakaian seperti ninja dan dengan senapan ditangannya


muncul dari balik pepohonan.


 “Periksa rumah itu!” Ujar salah satunya pada


dua yang lain. Tiga orang dengan pakaian seperti ninja itu mengelilingi sekitar


rumah dengan pose siap menyerang.


 “Mereka tentara Bayangan, tapi Cuma tiga


orang, kurasa aku bisa mengatasinya. Kau tetaplah sembunyi.” Bisik Dai.


 “Tunggu, jangan gegabah, bagaimana jika ini


jebakan?” Cegahku.


 “Apa maksudmu?”


 “Itu terlalu aneh, mana mungkin penyergapan


Cuma dilakukan tiga orang, apalagi ditempat yang hampir hutan seperti ini.”


 “Tapi kalau kita tak mencegahnya, lokasi


DieNeSs akan ketahuan, tadi aku tidak menyembunyikan jalan masuknya.”


Kami saling berbisik. Keadaan seperti


ini, aku terpikirkan sebuah cara, kubisikkan pada Dai caraku menyingkirkan


mereka dari sini tanpa membuat tempat ini ketahuan.


Aku mengendap-endap keluar dari


persembunyian, berjalan cepat menuju sisi jauh dari 3 orang tadi, setelah


kurasa cukup jauh, saatnya aku beraksi.


 “WAAAAAA..... ADA ULAR, TOLONG!!!!”


Ya, aku berteriak sekeras mungkin,


setidaknya itu akan membuat tiga orang tadi teralihkan perhatiannya walau


sejenak, dan sementara mereka lengah, Dai akan punya kesempatan untuk


menyembunyikan jalan masuk ke markas DieNeSs.


Syukurlah semuanya berjalan baik, pintu


masuk berhasil disembunyikan hingga meskipun mereka mengobrak-abrik rumah tua


itu, tak akan ada jalan untuk kesana. Setelah beberapa jam mereka pergi dari


tempat itu, aku dan Dai bisa bernapas lega.


 “Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau mencegahku


menghabisi mereka?”


Tanya Dai ketika kami kembali berdiri


sejajar didepan rumah tua.


 “Kupikir... tadi itu jebakan!”


 “Jebakan?”


 “Iya! Terlalu aneh untuk berpatroli ketempat


seperti ini hanya bertiga sekalipun dilakukan oleh tentara. Mereka tau apa yang


mereka hadapi, dan karena mereka tau tak akan mudah untuk mengetahui dimana


markas kalian, mereka sengaja mengirimkan sedikit orang. Jika tiga orang tadi


terbunuh, maka lokasi kalian akan ketahuan jika tempat ditemukannya mayat itu


diselidiki. Jadi lebih aman dengan cara tadi.” Jelasku.


Dai menatapku dengan tatapan kagum,


kepalanya mengangguk-angguk seperti seorang murid yang mendengarkan penjelasan


gurunya.


 “Sungguh, Vier! Aku sama sekali tak


terpikirkan sampai sejauh itu. Aku memang dengar dari ayahku bahwa dia tau ada


gerakan pemberontakan dan pasti akan menyelidikinya, padahal aku sudah waspada.


Kalau saja bukan karena kau, kecerobohanku tadi pasti...” Ia menyanjungku


dengan ekspresi bersyukur yang kentara.


 “Ya, pemikiran yang kritis sangat dibutuhkan


dalam politik pemberontakan begini, kadang licik juga diperlukan!” Ujarku


santai.


Dai termangu, tatapannya padaku


berubah, matanya menyipit dengan dahi dikerutkan. Aku berpindah kedepannya dan


kami berhadap-hadapan, ia agak terkejut dan dahinya semakin berkerut.


 “Kau pasti merasa sesuatu yang berbeda padaku,


kan?! Merasa ada yang aneh dengan kepribadianku belakangan ini, begitukah?”


Tanyaku dengan suara dalam. Aku agak mendekatkan wajahku padanya membuat Dai


mundur selangkah kebelakang. Dai mengangguk dengan agak gugup.


 “Kau berubah 180 derajat,


sikap-sifatmu, kepribadianmu, bahkan gaya bicara dan penampilanmu... semuanya


kecuali fisikmu, kenapa?” Tanya Dai.Aku tersenyum menyamping. Kutarik


lengannya dan mendekatkan bibirku ketelinganya untuk berbisik.


 “Break The Secret!”


Setelah membisikkannya aku menjauh. Ini


ekspresi yang pertama kali kulihat dari wajah Dai, seperti tak percaya dengan

__ADS_1


yang didengarnya.. Matanya membulat dengan alis terangkat dan bibir yang


terbuka lebar. Aku tersenyum padanya.


__ADS_2