Break The Secret

Break The Secret
15) PERAYAAN : 1st step


__ADS_3

“Pak Hauen, saya rasa anda pasti


bercanda.” Aku berbalik menatap Pak Hauen.  “INI CUMA RUANGAN KOSONG!!!”


 “Ini tak masuk akal pak, untuk apa kita susah


payah kemari?” Kesal Fasa.


 “Tenang dulu Nona-nona, dilihat sekilas memang


tak ada apa-apa, tapi memang disini lah tempat penyimpan data sumber energi


utamanya.” Jelas pak Hauen.


Aku dan Fasa menghela napas lega, kami


sempat berpikir salah tempat. Pak Hauen menjelaskan bahwa  benda yang kami curi berada dibalik dinding


atau lantai yang terhubung dengan pintu lainnya, hal itu pernah dikatakan oleh


ratu.


Aku mengamati keseluruhan ruangan luas


itu, memang hanya ada lantai dan atap putih yang tinggi juga dinding silver


yang tebal. Tak ada apapun yang memungkinkan kami menemukan pintu rahasia yang


dimaksud, hanya ada sebuah hiasan papan catur lengkap dengan bidaknya yang


direkatkan disalah satu sisi dinding.


 “ITU DIA, CATURNYA!!!” Teriakku tiba-tiba


setelah terbersit pemikiran dikepalaku. “Pak, apakah tempat ini dibangun saat


zaman Yaza Vumi I?” Tanyaku penuh semangat.


 “Ya... begitulah, tempat ini dibangun


bersamaan dengan istana dan juga tempat yang sekarang jadi markas DieNeSs!”


jawab pak Hauen sedikit tidak mengerti.


 “Benar! Itu dia caranya!!!” Gumamku. “Aku


pernah tak sengaja sampai di galeri istana melalui opera, kulihat ada motif


catur di dindingnya, lalu dimarkas DieNeSs juga lantai lorongnya motif catur,


jadi mungkin... tidak, bukan mungkin, tapi pasti catur yang dipajang di dinding


itu ada hubungannya.” Lanjutku.


 “Aku paham! Maksudmu bangunan yang dibuat pada


masa Yaza Vumi I termasuk ruangan ini selalu ada motif caturnya, jadi catur di


dinding itu adalah kunci untuk membuka pintunya. Benar, kan?!” Terka Fasa.


 “Tepat sobatku, tepat sekali!!!”


Dengan saranku tadi, kami berusaha


mengotak-atik bidak catur yang direkatkan itu, dan ternyata beberapa bidak


catur bisa digeser, kami jadi semakin percaya diri untuk membuka pintu itu.


 “DRAP, DRAP, DRAP”


Suara langkah kaki yang ramai, kurasa


itu adalah tentara-tentara yang dihadapi pak Hauen. Yang benar saja, bahkan


belum ada tanda-tanda keberadaan pintu lain disini, kami akan sia-sia kalau


tertangkap begitu saja, kemana Dai yang katanya akan datang? Sudah diujung


tanduk begini!


 “VIER!!!” Fasa memanggilku dengan keras


memecah lamunanku. “Jangan bengong saja, aku bicara padamu!” Lanjutnya.


 “Apa? Ada apa?” Tanya-ku.


 “Pintunya dibelakangmu!” Ujar Fasa dengan


kesal.


Aku menoleh dan menghela napas panjang,


lega rasanya mengetahui pintu sudah terbuka. Aku langsung masuk kesana diikuti


pak Hauen dan Fasa. Mata kami memandang mengelilingi seisi ruangan.


 “ini bukan tempat penyimpanan energi utamanya,


ya?” Tanyaku.


 “Bukan, ini Cuma tempat menyimpan dokumen.


Kita tak akan bisa mencuri sumber energi utama karena berada diruang kendali


utama yang dijaga ketat dan didalamnya sangat ramai pekerja.” Jelas pak Hauen.


Aku mengangguk-angguk. Kalau ini tempat


penyimpanan seluruh dokumen, berarti sesuatu tentang portal waktu pun mungkin


ada disini. Aku harus mencarinya, tapi tak mungkin melibatkan Fasa atau pak


Hauen dalam masalah ini, aku akan mencarinya sendiri.


Sebenarnya tempat itu sangat luas dan


penuh dengan lemari-lemari, butuh waktu yang lama untuk mencari sesuatu yang


diinginkan  terlebih lagi kalau mengingat


ada tentara yang menuju kearah kami.


 “Ini dia!” Ujar pak Hauen tiba-tiba. “Kita


sudah menemukan sebagian besar dokumennya, tak ada waktu untuk mencari lagi,


ayo keluar dari sini!” Ajak pak Hauen. Fasa mengangguk dan mengikuti pak hauen


menuju keluar sambil membawa kertas-kertas yang menurutnya penting.

__ADS_1


 “Lho, Vier... kenapa masih disana? Ayo cepat!”


Heran Fasa padaku yang masih tetap berdiri ditempat.


 “Kalian pergilah dan tutup pintunya, aku akan


disini untuk keperluanku!” Ujarku.


 “Kau Gila? Bagaimana kau akan keluar


nantinya?” Fasa mengerutkan dahinya tampak tak setuju.


 “Aku juga harus menemukan yang kucari, kalian


pergilah tak ada waktu untuk diskusi, ada jalan menuju lorong bawah tanah yang


akan langsung terhubung keluar istana, kurasa pak Hauen juga tau lorong itu,


CEPAT!!!” pintaku.


 “Bagaimana caramu menemukan jalan kembali


nantinya? Apalagi kalau pintu ini ditutup?” Tanya pak Hauen.


 “Aku akan temukan jalanku sendiri!!!” Ujarku


penuh yakin. Sekilas aku melihat ekspresi pak Hauen yang tak dapat dimengerti.


 “Dasar  keras kepala! Berjanjilah kau akan kembali!” Fasa melambaikan tangan


padaku, aku tersenyum dan meminta mereka beregas.


Mereka lenyap dari pandanganku dan


kemudian perlahan pintunya tertutup. Aku tak tau lagi apa yang terjadi pada


mereka setelah itu, aku akan memfokuskan diriku dengan apa yang ingin kutemukan


dulu.


Ruangan ini sangat luas dengan dinding


teramat tebal dan atap yang tinggi, dipenuhi dengan loker-loker besar yang


berjajar rapi layaknya barisan serdadu, dan setiap loker memiliki nomor


dipintunya.


Kalau memeriksa satu-persatu pasti bisa


memakan waktu dua hari tapi mau bagaimana lagi, Cuma ada cara itu. loker demi


loker kuperiksa dan tak ada yang berhubungan dengan yang kucari sama sekali.


Biografi Yaza Vumi, sejarah keluarga kerajaan, tempat persembunyian senjata


rahasia, semua itu sama sekali bukan yang kucari.


Aku mulai bosan lalu kucoba membuka


salah satu loker yang paling berdebu sampai nomornya pun tak terlihat. Didalamnya


kutemukan sebuah buku mirip buku harian berwarna cokelat, yang membuatku


tercengang adalah judul dari buku itu dan aku sendiripun tak asing dengan tanda


 “Break The Secret Story by En’em Ji”


Begitulah yang tertulis disampul buku.


Aku pun membuka lembaran buku penuh debu itu, isinya adalah tulisan tangan yang


aku yakin adalah tulisan tanganku sendiri. Waktu itu aku sempat punya rencana


menulis Auto Biografi, dan kurasa ini adalah hasilnya.


Kubaca halaman pertamanya, isinya hanya


perkenalan tentangku. Halaman kedua dan seterusnya juga bukan sesuatu yang


menarik, hanya puisi keseharianku sampai kemudian kutemukan sesuatu yang


menarik dihalaman ke 24 buku tersebut.


Minggu, 30 juli 2034Demikian aku menghitung waktu dan


inilah detik-detik terpanjang dalam hidupku. Disana adalah tempat yang


disembunyikan, yang terakhir kali mengantarkanku pada cinta pertamaku. Pria


manis berambut indah yang selalu terkenang olehku, juga yang melepasku pergi


jauh darinya. Baik dulu atau sekarang itulah penyesalanku, andaikan saja aku


bisa memutar waktu seperti dia memutarnya untukku. Ini seperti hal konyol yang


kulakukan waktu kecil dulu, sebuah syair yang pilu... karena meskipun aku


berpijak ditanah yang berbeda dan jauh, langit akan selalu sama. Melihatnya


membuatku mengingat malam dimana aku pergi dari kasihku untuk selamanya,


melintasi waktu menuju tempat yang tak bisa ia gapai.


Tulisan itu jelas ada hubungannya


dengan portal waktu, seseorang yang nantinya akan mengembalikanku pada zamanku


sendiri, tapi apa hubungannya dengan cinta pertama? Cinta pertamaku siapa?


Kalu kuingat lagi, yang kusukai saat


ini adalah Noir, dan ternyata Noir adalah Dai sedangkan aku tidak menyukainya.


Kemudian muncul seseorang yang kadang mengganggu pikiranku yaitu Shui,


melihatnya mengingatkanku pada seseorang entah siapa.


 “Ukh, benar-benar harus Break The Secret,


deh!” Gumamku. “Eh, tunggu...”


Tiba-tiba aku ingat sesuatu tentang


Break The Secret, aku pernah membisikkan kalimat itu pada Dai yang kemudian


membuatnya sangat terkejut, mungkin ia tau sesuatu tentang ini. Aku harus


membawa buku ini bersamaku dan menyimak lagi tulisanku ini.

__ADS_1


Sekarang masalahnya, bagaimana caraku


keluar dari tempat ini? Atapnya terlalu tinggi dan sepertinya tak ada jalan


disana, semuanya hanya dinding dan hanya ada satu pintu untuk masuk atau


keluar. Aku ragu akan ada Ksatria yang datang menyelamatkanku seperti di Film.


Aku terdiam memikirkan cara keluar dari


tempat ini tanpa tertangkap. Seandainya saja tadi aku memikirkannya dulu


sebelum bertindak ceroboh begini. Ku akui aku memang terlalu tergesa-gesa.


Yang aneh sekarang adalah ruangan ini,


semakin lama berada disini perasaanku semakin tidak nyaman, rasanya mual dan


pusing, udara diruangan ini memang terasa sungguh aneh.


tanpa sadar aku terjatuh, mataku terasa


berat, dan seluruh tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Disela-sela mataku


yang tertutup aku merasa ada cahaya yang merambat masuk keruangan gelap ini.


Aku mendengar suara gaduh samar-samar, aku ingin tau apa yang sedang terjadi


tapi mataku tak bisa terbuka.


Napasku semakin pendek, telingaku


berdengung dan tak dapat mendengar sesuatu lagi, yang bisa kurasakan hanyalah


lantai yang dingin dan berdebu. Akan tetapi, sesaat sebelum kesadaranku


benar-benar hilang, aku merasakan sebuah tangan yang hangat mengusap debu


diwajahku dengan lembut. Setelah itu, semuanya gelap dan sunyi.


.....


Aku merasa melayang diantara alam bawah


sadarku dengan kenyataan, samar-samar kulihat secercah cahaya, entah mengapa


kakiku seperti bejalan dengan sendirinya menuju cahaya itu.


 “Kau yakin ini akan berhasil?”


Tiba-tiba aku mendengar suara seorang


lelaki yang terasa Familiar, tapi sekitarku benar-enar gelap dan cahaya tadi


menghilang.


 “Ini bahaya, bisa saja kau tak bisa kembali


ketubuhmu setelah dia pergi!”


Suara lelaki itu lagi, kini aku mulai


menyadari milik siapa suara itu... suara yang dalam dan serak basah, halus


seperti desisan angin, ini milik lelaki bertopeng itu... ‘NOIR’


Aku merasa berjalan diantara gelap, dan


kulihat ingatan-ingatan tentang suatu kejadian yang tak pernah kualami.


Mungkinkah ini adalah ingatan Vier?


 “suara pengkhianatan...”


Tiba-tiba terdengar suara senandung


yang tak asing bagiku, ini terdengar seperti suaraku sendiri. Senandung itu


terdengar samar-samar, kupejamkan mataku untuk memfokuskan diriku mendengarkannya.


Jejak


kaki kemunafikan pada tanah lempung kemerahan yang telah basah. Topi yang


melambangkan kesombongan memayungi... dasi keangkuhan dilehernya dengan


senyuman mendiskriminasi. Atmosfer kelabu yang tampak suram disisi kulit


pucat... pita merah, jubah hitam, berdiri mengintimidasi hati kecilku ini.


Bayangan-bayangan yang berlari... menjerit ketakutan. Seperti tamu tak


diundang, kobaran merah tiba-tiba muncul membakar segalanya.


Senandungnya tak terdengar jelas tapi


entah kenapa aku membayangkan sesuatu seperti ini. Kemudian sebuah bayangan


wanita yang wajahnya tak tampak muncul didepanku, ia mengulurkan tangannya


padaku sambil berkata,


 “Harapan cacatku menjadi nyata... bahwa kau


adalah aku.”Katanya.


 “Siapa kau?” tanyaku. Dia tak menjawab dan


hanya melanjutkan kalimatnya.


 “Seolah memeluk bayangan sendiri pada cermin


dua sisi, kebencian yang kurasakan juga tersampaikan padamu... raih tanganku!


Kita akan menjadi satu...”


Aku terdiam mendengarnya... dalam


hatiku takut.


 “Vier... Vier...”


Kemudian kudengar suara seseorang yang


memanggilku entah dari mana membuatku pusing.


 “VIER!!!”


*****

__ADS_1


__ADS_2