
“Pak Hauen, saya rasa anda pasti
bercanda.” Aku berbalik menatap Pak Hauen. “INI CUMA RUANGAN KOSONG!!!”
“Ini tak masuk akal pak, untuk apa kita susah
payah kemari?” Kesal Fasa.
“Tenang dulu Nona-nona, dilihat sekilas memang
tak ada apa-apa, tapi memang disini lah tempat penyimpan data sumber energi
utamanya.” Jelas pak Hauen.
Aku dan Fasa menghela napas lega, kami
sempat berpikir salah tempat. Pak Hauen menjelaskan bahwa benda yang kami curi berada dibalik dinding
atau lantai yang terhubung dengan pintu lainnya, hal itu pernah dikatakan oleh
ratu.
Aku mengamati keseluruhan ruangan luas
itu, memang hanya ada lantai dan atap putih yang tinggi juga dinding silver
yang tebal. Tak ada apapun yang memungkinkan kami menemukan pintu rahasia yang
dimaksud, hanya ada sebuah hiasan papan catur lengkap dengan bidaknya yang
direkatkan disalah satu sisi dinding.
“ITU DIA, CATURNYA!!!” Teriakku tiba-tiba
setelah terbersit pemikiran dikepalaku. “Pak, apakah tempat ini dibangun saat
zaman Yaza Vumi I?” Tanyaku penuh semangat.
“Ya... begitulah, tempat ini dibangun
bersamaan dengan istana dan juga tempat yang sekarang jadi markas DieNeSs!”
jawab pak Hauen sedikit tidak mengerti.
“Benar! Itu dia caranya!!!” Gumamku. “Aku
pernah tak sengaja sampai di galeri istana melalui opera, kulihat ada motif
catur di dindingnya, lalu dimarkas DieNeSs juga lantai lorongnya motif catur,
jadi mungkin... tidak, bukan mungkin, tapi pasti catur yang dipajang di dinding
itu ada hubungannya.” Lanjutku.
“Aku paham! Maksudmu bangunan yang dibuat pada
masa Yaza Vumi I termasuk ruangan ini selalu ada motif caturnya, jadi catur di
dinding itu adalah kunci untuk membuka pintunya. Benar, kan?!” Terka Fasa.
“Tepat sobatku, tepat sekali!!!”
Dengan saranku tadi, kami berusaha
mengotak-atik bidak catur yang direkatkan itu, dan ternyata beberapa bidak
catur bisa digeser, kami jadi semakin percaya diri untuk membuka pintu itu.
“DRAP, DRAP, DRAP”
Suara langkah kaki yang ramai, kurasa
itu adalah tentara-tentara yang dihadapi pak Hauen. Yang benar saja, bahkan
belum ada tanda-tanda keberadaan pintu lain disini, kami akan sia-sia kalau
tertangkap begitu saja, kemana Dai yang katanya akan datang? Sudah diujung
tanduk begini!
“VIER!!!” Fasa memanggilku dengan keras
memecah lamunanku. “Jangan bengong saja, aku bicara padamu!” Lanjutnya.
“Apa? Ada apa?” Tanya-ku.
“Pintunya dibelakangmu!” Ujar Fasa dengan
kesal.
Aku menoleh dan menghela napas panjang,
lega rasanya mengetahui pintu sudah terbuka. Aku langsung masuk kesana diikuti
pak Hauen dan Fasa. Mata kami memandang mengelilingi seisi ruangan.
“ini bukan tempat penyimpanan energi utamanya,
ya?” Tanyaku.
“Bukan, ini Cuma tempat menyimpan dokumen.
Kita tak akan bisa mencuri sumber energi utama karena berada diruang kendali
utama yang dijaga ketat dan didalamnya sangat ramai pekerja.” Jelas pak Hauen.
Aku mengangguk-angguk. Kalau ini tempat
penyimpanan seluruh dokumen, berarti sesuatu tentang portal waktu pun mungkin
ada disini. Aku harus mencarinya, tapi tak mungkin melibatkan Fasa atau pak
Hauen dalam masalah ini, aku akan mencarinya sendiri.
Sebenarnya tempat itu sangat luas dan
penuh dengan lemari-lemari, butuh waktu yang lama untuk mencari sesuatu yang
diinginkan terlebih lagi kalau mengingat
ada tentara yang menuju kearah kami.
“Ini dia!” Ujar pak Hauen tiba-tiba. “Kita
sudah menemukan sebagian besar dokumennya, tak ada waktu untuk mencari lagi,
ayo keluar dari sini!” Ajak pak Hauen. Fasa mengangguk dan mengikuti pak hauen
menuju keluar sambil membawa kertas-kertas yang menurutnya penting.
__ADS_1
“Lho, Vier... kenapa masih disana? Ayo cepat!”
Heran Fasa padaku yang masih tetap berdiri ditempat.
“Kalian pergilah dan tutup pintunya, aku akan
disini untuk keperluanku!” Ujarku.
“Kau Gila? Bagaimana kau akan keluar
nantinya?” Fasa mengerutkan dahinya tampak tak setuju.
“Aku juga harus menemukan yang kucari, kalian
pergilah tak ada waktu untuk diskusi, ada jalan menuju lorong bawah tanah yang
akan langsung terhubung keluar istana, kurasa pak Hauen juga tau lorong itu,
CEPAT!!!” pintaku.
“Bagaimana caramu menemukan jalan kembali
nantinya? Apalagi kalau pintu ini ditutup?” Tanya pak Hauen.
“Aku akan temukan jalanku sendiri!!!” Ujarku
penuh yakin. Sekilas aku melihat ekspresi pak Hauen yang tak dapat dimengerti.
“Dasar keras kepala! Berjanjilah kau akan kembali!” Fasa melambaikan tangan
padaku, aku tersenyum dan meminta mereka beregas.
Mereka lenyap dari pandanganku dan
kemudian perlahan pintunya tertutup. Aku tak tau lagi apa yang terjadi pada
mereka setelah itu, aku akan memfokuskan diriku dengan apa yang ingin kutemukan
dulu.
Ruangan ini sangat luas dengan dinding
teramat tebal dan atap yang tinggi, dipenuhi dengan loker-loker besar yang
berjajar rapi layaknya barisan serdadu, dan setiap loker memiliki nomor
dipintunya.
Kalau memeriksa satu-persatu pasti bisa
memakan waktu dua hari tapi mau bagaimana lagi, Cuma ada cara itu. loker demi
loker kuperiksa dan tak ada yang berhubungan dengan yang kucari sama sekali.
Biografi Yaza Vumi, sejarah keluarga kerajaan, tempat persembunyian senjata
rahasia, semua itu sama sekali bukan yang kucari.
Aku mulai bosan lalu kucoba membuka
salah satu loker yang paling berdebu sampai nomornya pun tak terlihat. Didalamnya
kutemukan sebuah buku mirip buku harian berwarna cokelat, yang membuatku
tercengang adalah judul dari buku itu dan aku sendiripun tak asing dengan tanda
“Break The Secret Story by En’em Ji”
Begitulah yang tertulis disampul buku.
Aku pun membuka lembaran buku penuh debu itu, isinya adalah tulisan tangan yang
aku yakin adalah tulisan tanganku sendiri. Waktu itu aku sempat punya rencana
menulis Auto Biografi, dan kurasa ini adalah hasilnya.
Kubaca halaman pertamanya, isinya hanya
perkenalan tentangku. Halaman kedua dan seterusnya juga bukan sesuatu yang
menarik, hanya puisi keseharianku sampai kemudian kutemukan sesuatu yang
menarik dihalaman ke 24 buku tersebut.
Minggu, 30 juli 2034Demikian aku menghitung waktu dan
inilah detik-detik terpanjang dalam hidupku. Disana adalah tempat yang
disembunyikan, yang terakhir kali mengantarkanku pada cinta pertamaku. Pria
manis berambut indah yang selalu terkenang olehku, juga yang melepasku pergi
jauh darinya. Baik dulu atau sekarang itulah penyesalanku, andaikan saja aku
bisa memutar waktu seperti dia memutarnya untukku. Ini seperti hal konyol yang
kulakukan waktu kecil dulu, sebuah syair yang pilu... karena meskipun aku
berpijak ditanah yang berbeda dan jauh, langit akan selalu sama. Melihatnya
membuatku mengingat malam dimana aku pergi dari kasihku untuk selamanya,
melintasi waktu menuju tempat yang tak bisa ia gapai.
Tulisan itu jelas ada hubungannya
dengan portal waktu, seseorang yang nantinya akan mengembalikanku pada zamanku
sendiri, tapi apa hubungannya dengan cinta pertama? Cinta pertamaku siapa?
Kalu kuingat lagi, yang kusukai saat
ini adalah Noir, dan ternyata Noir adalah Dai sedangkan aku tidak menyukainya.
Kemudian muncul seseorang yang kadang mengganggu pikiranku yaitu Shui,
melihatnya mengingatkanku pada seseorang entah siapa.
“Ukh, benar-benar harus Break The Secret,
deh!” Gumamku. “Eh, tunggu...”
Tiba-tiba aku ingat sesuatu tentang
Break The Secret, aku pernah membisikkan kalimat itu pada Dai yang kemudian
membuatnya sangat terkejut, mungkin ia tau sesuatu tentang ini. Aku harus
membawa buku ini bersamaku dan menyimak lagi tulisanku ini.
__ADS_1
Sekarang masalahnya, bagaimana caraku
keluar dari tempat ini? Atapnya terlalu tinggi dan sepertinya tak ada jalan
disana, semuanya hanya dinding dan hanya ada satu pintu untuk masuk atau
keluar. Aku ragu akan ada Ksatria yang datang menyelamatkanku seperti di Film.
Aku terdiam memikirkan cara keluar dari
tempat ini tanpa tertangkap. Seandainya saja tadi aku memikirkannya dulu
sebelum bertindak ceroboh begini. Ku akui aku memang terlalu tergesa-gesa.
Yang aneh sekarang adalah ruangan ini,
semakin lama berada disini perasaanku semakin tidak nyaman, rasanya mual dan
pusing, udara diruangan ini memang terasa sungguh aneh.
tanpa sadar aku terjatuh, mataku terasa
berat, dan seluruh tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Disela-sela mataku
yang tertutup aku merasa ada cahaya yang merambat masuk keruangan gelap ini.
Aku mendengar suara gaduh samar-samar, aku ingin tau apa yang sedang terjadi
tapi mataku tak bisa terbuka.
Napasku semakin pendek, telingaku
berdengung dan tak dapat mendengar sesuatu lagi, yang bisa kurasakan hanyalah
lantai yang dingin dan berdebu. Akan tetapi, sesaat sebelum kesadaranku
benar-benar hilang, aku merasakan sebuah tangan yang hangat mengusap debu
diwajahku dengan lembut. Setelah itu, semuanya gelap dan sunyi.
.....
Aku merasa melayang diantara alam bawah
sadarku dengan kenyataan, samar-samar kulihat secercah cahaya, entah mengapa
kakiku seperti bejalan dengan sendirinya menuju cahaya itu.
“Kau yakin ini akan berhasil?”
Tiba-tiba aku mendengar suara seorang
lelaki yang terasa Familiar, tapi sekitarku benar-enar gelap dan cahaya tadi
menghilang.
“Ini bahaya, bisa saja kau tak bisa kembali
ketubuhmu setelah dia pergi!”
Suara lelaki itu lagi, kini aku mulai
menyadari milik siapa suara itu... suara yang dalam dan serak basah, halus
seperti desisan angin, ini milik lelaki bertopeng itu... ‘NOIR’
Aku merasa berjalan diantara gelap, dan
kulihat ingatan-ingatan tentang suatu kejadian yang tak pernah kualami.
Mungkinkah ini adalah ingatan Vier?
“suara pengkhianatan...”
Tiba-tiba terdengar suara senandung
yang tak asing bagiku, ini terdengar seperti suaraku sendiri. Senandung itu
terdengar samar-samar, kupejamkan mataku untuk memfokuskan diriku mendengarkannya.
Jejak
kaki kemunafikan pada tanah lempung kemerahan yang telah basah. Topi yang
melambangkan kesombongan memayungi... dasi keangkuhan dilehernya dengan
senyuman mendiskriminasi. Atmosfer kelabu yang tampak suram disisi kulit
pucat... pita merah, jubah hitam, berdiri mengintimidasi hati kecilku ini.
Bayangan-bayangan yang berlari... menjerit ketakutan. Seperti tamu tak
diundang, kobaran merah tiba-tiba muncul membakar segalanya.
Senandungnya tak terdengar jelas tapi
entah kenapa aku membayangkan sesuatu seperti ini. Kemudian sebuah bayangan
wanita yang wajahnya tak tampak muncul didepanku, ia mengulurkan tangannya
padaku sambil berkata,
“Harapan cacatku menjadi nyata... bahwa kau
adalah aku.”Katanya.
“Siapa kau?” tanyaku. Dia tak menjawab dan
hanya melanjutkan kalimatnya.
“Seolah memeluk bayangan sendiri pada cermin
dua sisi, kebencian yang kurasakan juga tersampaikan padamu... raih tanganku!
Kita akan menjadi satu...”
Aku terdiam mendengarnya... dalam
hatiku takut.
“Vier... Vier...”
Kemudian kudengar suara seseorang yang
memanggilku entah dari mana membuatku pusing.
“VIER!!!”
*****
__ADS_1