Break The Secret

Break The Secret
19) Pemicu


__ADS_3

“Sudah kubilang, kan... ‘Break The Secret’ kau akan paham ketika


kau hancurkan rahasianya!”


Dai tampak sangat terkejut mendengarku


berkata demikian. Sebenarnya niatan awalku adalah untuk memberi tahunya bahwa


aku DarkNight, tapi setelah kupikir lagi kurasa lebih baik dia tau dengan


sendirinya.


 “Kau selalu berkata aneh!” komentar Dai.


 “Hm, kemarilah... lebih dekat denganku!”


Pintaku.


Dai memincingkan kepalanya tanda tak


mengerti tapi ia menuruti permintaanku dan berjalan mendekat.


 “Tak kusangka...” Aku menyandarkan kepalaku


dibahunya. “Kau pandai sekali berbohong!” Lanjutku. Dai agak terkejut dengan


perkataanku.


 “Berbohong?  Ah, maksudmu tentang hubungan kita?” Dai memastikan.


 “Ya memangnya tentang apa lagi? Aku sempat


kaget, kukira kau berniat mengungkapkan sebenarnya, ternyata kau mengatakan


kebohongan pada ayahmu dengan lihainya.” Ungkapku. Dai tertawa kecil sambil


menggigit bibir bawahnya, tampak manis bagiku.


 “Aku tak punya pilihan, dan pastinya ini bukan


pertama kalinya aku membohongi ayah.” Dai ikut menyandarkan kepalanya padaku,


kami saling bersandar.


 “Aku


harus melindungi DieNeSs, itu mimpi ibuku. Semakin lama ayah semakin haus


kekuasaan, hati dan pikirannya semakin lapar akan harta dan martabat. Ia


menghabisi semua yang baginya tak perlu, membuang yang sudah tak penting


baginya seperti sampah... disisi lain, ia persembahkan segalanya untuk yang dia


sayangi.” Cerita Dai.


 “Begitu ya?! Karena itulah kau berusaha


sesegera mungkin menghentikan ayahmu!” Komentarku.


 “Iya, satu nyawapun sangatlah berharga,


kuselamatkan yang mampu kuselamatkan, kuberi apa yang kupunya, dan kulakukan


yang kubisa untuk mereka yang kehilangan banyak hal akibat ayahku. Ayah dan


ibuku saling mencintai... tapi mereka bertolak belakang dalam segi pendapat seperti


air dan api. Ibuku sangat menghargai nyawa manusia... dia lakukan banyak hal


untuk bisa mengurangi jumlah kematian juga untuk memperbanyak sumber daya alam


yang bisa jadi bahan pangan. Tapi ayahku berbeda, ia mengurangi jumlah orang


agar bahan pangan cukup. Ia bilang, ‘membunuhlah untuk hidup’ itu yang dulu


sering kudengar!” Cerita Dai lebih lanjut.


 “Tch, konyol sekali!” Tukasku.


 “Menurutku yang konyol itu kalian!”


Tiba-tiba suara yang familiar itu


terdengar ditengah-tengah obrolan kami. Aku dan Dai sontak langsung melangkah


saling menjauh dan menoleh kearah sumber suara.


Ternyata itu adalah Fasa yang sedang


berdiri disudut lengkung jembatan sambil berkacak pinggang. Dibelakangnya Shui


mengikutinya, tampak canggung dan menghindari kontak mata denganku.


 “Kalian ini,” Fasa berjalan lebih dekat kearah


kami. “Kalian tinggalkan Shui dipinggir jalan macam anak ayam kehilangan


induknya, sedangkan kalian asyik memadu kasih disini.” Oceh Fasa.


 “Tu, tunggu... ini tak seperti yang kau lihat


Fasa, kami tidak...” Dai berusaha menjelaskan.


 “Ya, sebentar lagi juga akan ada pengumuman


dari Yaza Vumi tentang hubungan kami!” Ujarku memotong perkataan Dai. Entah


kenapa dalam hatiku ada rasa ingin menunjukan pada Shui bahwa aku bisa dengan


mudah melupakannya.


 “Hu, hubungan kalian? Jadi kalian...” Fasa


tampak keheranan. Aku mengangguki Fasa, melirik sinis pada Shui dan menggandeng


tangan Dai.


 “Ehm... Vier... jangan memaksakan diri kalau


kau tak menyukaiku.” Ujar Dai.


 “Suka padamu atau tidak... aku yang


memutuskan!” Kesalku.


Fasa menatap heran pada kami karena


masih belum paham apa yang terjadi, sedangkan Shui masih tetap menjaga jarak.


Aku merasa bodoh dengan kelakuanku yang seperti ini, hal ini membuatku terlihat


seperti perempuan yang belum matang.


 “Ehm... teman-teman, mau makan siang bersama


ditempat yang aku tau?” Dai memecah situasi membeku itu.

__ADS_1


 “Ba, baiklah. Dimana?” Tanyaku.


 “Ada didekat kompleks perumahan lotus, kalian


berdua juga harus ikut.” Jawab Dai.


 “Ide bagus! Aku juga belum makan sejak tadi


mengejar kalian. Baiklah, Vier akan ikut dimobilku, Shui dengan Tn. Dai!” Usul


Fasa.


 “Tidak!” Shui memotong. “Aku akan ikut mobil


Fasa, Tn. Dai bisa bersama putri Monochrome!” Ujarnya dingin.


Shui menarik tangan Fasa meninggalkan


kami dari sana dan rasanya kesal sekali, aku yang mau membalasnya tapi kenapa


malah berbalik padaku lagi.


 “Haha... makanya jangan sok buat Shui cemburu,


alih-alih malah kau yang ia abaikan!” Ledek Dai.


 “Diam kau!!!” ketusku.


Kami pergi kesebuah restoran bagus yang


berada didekat kompleks perumahan kaya yaitu perumahan lotus. Tempat disana


memang lumayan bagus, aku senang bisa berkunjung kesini.


 “Oh iya, teman-teman. Mumpung sedang


berkumpul, aku akan memberitahukan pada kalian perkembangan organisasi


sekarang.” Dai mengalihkan topik ketika kami sedang memakan hidangan penutup.


 “Setelah mencuri data itu kami bekerja sama


dengan banyak ilmuan untuk membuat sumber energi utama sendiri, dan hebatnya


lagi... pembuatanya sudah mencapai 87 persen.” Cerita Dai.


 “Ini berita bagus! Kalau kita buat dalam


jumlah banyak, kita bisa mengajak daerah yang belum ditaklukkan untuk bekerja


sama!” Seru ku.


 “Tepat!!!” Dai menjentikkan jarinya.


 “Hm, kalau begitu rencananya bisa dipercepat.


Apakah sebaiknya kita mulai bulan depan?” Usul Fasa.


 “Kurasa sebaiknya begitu, karena kudengar Yaza


Vumi akan melakukan penyerangan habis-habisan di wilayah tenggara akhir bulan


depan nanti.” Komentar Shui.


 “Kita adakan rapat besok lusa, akan kuberi


tahu pada yang lain.” Ujar Dai sambil menyuap puding cokelatnya.


 “Hm, menurutku akan bagus jika kita melakukan


penyerangan sehari setelah pentas opera selanjutnya, karena saat itu kota


 “Kau benar, sebisa mungkin kita megurangi


jumlah korban jiwa!” Dai menyetujui.


Pembicaraan kami berhenti sampai disana


ketika dua orang berpakaian prajurit istana masuk kedalam restoran. Mereka


berjalan dengan angkuh, tatapannya merendahkan dan meremehkan.


 “BRAK”


Mereka menendang meja tempat kami


makan.


 “Huh, anak muda zaman sekarang, sedang Double Date, ya?!” tanya salah satunya


dengan congkak. Kulihat Shui mengepal erat tangannya tapi Dai menahan Shui.


 “Minggirlah kalian semua, kami butuh tempat


duduk ini untuk makan.” Ujar lainnya tak kalah congkak.


 “Hey, paman. Tempat duduk lain masih banyak


yang kosong, lho.” Ujarku dingin.


 “Peduli setan, kami menginginkan tempat ini,


kalian berani melawan prajurit istana?” Mereka menyeringai pada kami.


Penuh kesombongan sekali prajurit


istana ini, menyombongkan jabatan prajurit pada seorang putra mahkota jelas


seperti semut yang berlagak punya kekuatan didepan gajah. Kalau saja Dai tidak


sedang memakai penyamaran, aku yakin mereka akan bersujud dikakinya.


 “Baiklah teman-teman, kita pergi saja.


Lagipula kita sudah selesai makan. Tahan dirimu Shui, tak bagus membuat


kekacauan dimuka umum!” Nasihat Dai.


Kami beranjak dari tempat duduk kami,


ketika Shui melewati dua prajurit itu, tinggi mereka itu pun hanya sebatas


hidung Shui dan ukuran tubuh mereka jelas kalah olehnya.


 “Hei,  apa yang kau lihat? Cari mati?” Tukas salah satu prajurit pada Dai


ketika Dai berjalan melewatinya.


 “Saya punya mata memang untuk melihat, kan?!”


ujar  Dai ramah tapi mengejek.


 “BERANINYA KAU!!!” teriak prajurit itu sambil


melayangkan tinjuan pada Dai.


 “TAP”

__ADS_1


Shui menangkap kepalan tangan prajurit


itu dengan mudahnya.


 “Beraninya kau mengepalkan tinjumu pada


tuanku, dasar tikus busuk!!!” Ketus Shui.


Shui menghempas prajurit itu hingga


terpelanting cukup jauh. Seluruh mata orang direstoran itu mengarah pada kami.


 “Cukup Shui, jangan buat keributan, ayo segera


pergi dari sini.” Ujar Dai. Shui menjawab dengan anggukan.


 “Hey, lihat! Bukankah itu White Prince?!” Seru salah satu pengunjung yang melihat


kearah kami.


Dua orang prajurit tadi akhirnya menyadari


itu dan langsung berkeringat  dingin,


wajahnya pucat pasi dan gemetar ketakutan. Mereka bergegas membungkuk didepan


Dai dan memohon ampun seperti budak yang berbuat kesalahan fatal pada tuannya.


 “Tn. Dai, kita pergi!!!”Ajak Shui.


Kami pergi dari sana sambil menahan


tawa. Betapa memalukannya itu bagi mereka, kesombongan dan keangkuhan mereka


patah seketika begitu tahu itu adalah Dai.


 “Hmm... kau bertuah sekali ya, Dai!” Ledekku.


 “Sudahlah aku tak mau membahasnya lagi!” Dai


menghela napas.


 “Baiklah, kalau begitu kami akan pulang.” Aku


membuka pintu mobil Fasa sambil melambaikan tangan.


 “Baiklah, jangan lupa ya besok kau harus


latihan opera aku akan menjemputmu dan lusa kita ada rapat.” Dai mengingatkan.


 “Oke oke, sampai jumpa... sayang!” Candaku.


Aku tertawa sambil masuk kemobil Fasa.


Kami menuju kerumah tulip. Dijalan aku


menceritakan yang sebenarnya pada Fasa tentang kebohongan hubunganku dengan Dai


juga tentang Yaza Vumi dan pastinya tentang permasalahanku dengan Shui.


 “Hmm... soal Shui...” Fasa memotong ceritaku


ketika aku sedang membahas Shui. “Dia tak bermaksud begitu, tadi dia memintaku


menyampaikan maaf padamu. Katanya alasan kenapa dia tak mau kau menyukainya


adalah karena kau orang yang Dai sukai. Itu membuatnya merasa tak enak pada


Dai.” Jelas Fasa.


 “Intinya tetaplah Dai, kan?!” tukasku.


 “Kurasa kau akan paham kalau berada


diposisinya, Dai itu tuannya... dan Shui tak mau terlihat seolah dia lebih


unggul dari tuannya.” Dalih Fasa.


 “Yah, sudahlah. Aku sedang tak mau membahasnya


lagi, terserah saja soal kisah asmara kami, biar terjawab oleh waktu!” Aku


menghela napas.


Aku melihat keluar jendela dari mobil


yang melayang ini, pemukiman berbentuk tulip yang terkesan indah dihiasi


suasana yang semakin menggelap karena senja yang hampir tenggelam.


Kami sampai didepan rumah mungil kami


yang nyaman, sore menjelang malam ini tak seperti biasanya karena sudah sepi,


biasanya sampai hampir tengah malam masih tetap ramai orang yang berlalu


lalang.


Kami menaiki tangga rumah, entah


mengapa perasaanku tidak nyaman. Dan semua itu terjawab begitu kami membuka


pintu. Sesosok lelaki bertubuh tinggi besar dengan pakaian mewah duduk dikursi


lucu ruang tengah kami, aku dan Fasa terbelalak dan terpaku didepan pintu.


 “Hm, mungkin kedatanganku memang terlalu


mengejutkan, ya. Dan seharusnya aku tak memasuki rumah orang lain tanpa izin.”


Ujar sosok itu.


Ya, tak lain dan tak bukan sosok itu


adalah yang mulia Yaza Vumi, entah dengan tujuan apa ia menyusup kerumah kami,


yang jelas ini membuatku takut.


 “A, ada apa gerangan yang mulia datang


ketempat kami?” Tanyaku berusaha se-alami mungkin.


 “Bukan sesuatu yang mendesak, hanya ingin


membahas beberapa hal dengan Anda, Putri Monochrome.” Ujarnya. Tatapannya masih


mendiskriminasi,  ia bangkit dari kursi


lucu itu menuju kearah kami.


 “Membahas


sesuatu? Tentang apa?” Tanyaku sambil menarik tangan Fasa untuk masuk kerumah.


 “Tentang Putraku, dan gerakan kalian


dibelakang layar!” Jawabnya tenang tapi mengancam.

__ADS_1


*****


__ADS_2