
“Sudah kubilang, kan... ‘Break The Secret’ kau akan paham ketika
kau hancurkan rahasianya!”
Dai tampak sangat terkejut mendengarku
berkata demikian. Sebenarnya niatan awalku adalah untuk memberi tahunya bahwa
aku DarkNight, tapi setelah kupikir lagi kurasa lebih baik dia tau dengan
sendirinya.
“Kau selalu berkata aneh!” komentar Dai.
“Hm, kemarilah... lebih dekat denganku!”
Pintaku.
Dai memincingkan kepalanya tanda tak
mengerti tapi ia menuruti permintaanku dan berjalan mendekat.
“Tak kusangka...” Aku menyandarkan kepalaku
dibahunya. “Kau pandai sekali berbohong!” Lanjutku. Dai agak terkejut dengan
perkataanku.
“Berbohong? Ah, maksudmu tentang hubungan kita?” Dai memastikan.
“Ya memangnya tentang apa lagi? Aku sempat
kaget, kukira kau berniat mengungkapkan sebenarnya, ternyata kau mengatakan
kebohongan pada ayahmu dengan lihainya.” Ungkapku. Dai tertawa kecil sambil
menggigit bibir bawahnya, tampak manis bagiku.
“Aku tak punya pilihan, dan pastinya ini bukan
pertama kalinya aku membohongi ayah.” Dai ikut menyandarkan kepalanya padaku,
kami saling bersandar.
“Aku
harus melindungi DieNeSs, itu mimpi ibuku. Semakin lama ayah semakin haus
kekuasaan, hati dan pikirannya semakin lapar akan harta dan martabat. Ia
menghabisi semua yang baginya tak perlu, membuang yang sudah tak penting
baginya seperti sampah... disisi lain, ia persembahkan segalanya untuk yang dia
sayangi.” Cerita Dai.
“Begitu ya?! Karena itulah kau berusaha
sesegera mungkin menghentikan ayahmu!” Komentarku.
“Iya, satu nyawapun sangatlah berharga,
kuselamatkan yang mampu kuselamatkan, kuberi apa yang kupunya, dan kulakukan
yang kubisa untuk mereka yang kehilangan banyak hal akibat ayahku. Ayah dan
ibuku saling mencintai... tapi mereka bertolak belakang dalam segi pendapat seperti
air dan api. Ibuku sangat menghargai nyawa manusia... dia lakukan banyak hal
untuk bisa mengurangi jumlah kematian juga untuk memperbanyak sumber daya alam
yang bisa jadi bahan pangan. Tapi ayahku berbeda, ia mengurangi jumlah orang
agar bahan pangan cukup. Ia bilang, ‘membunuhlah untuk hidup’ itu yang dulu
sering kudengar!” Cerita Dai lebih lanjut.
“Tch, konyol sekali!” Tukasku.
“Menurutku yang konyol itu kalian!”
Tiba-tiba suara yang familiar itu
terdengar ditengah-tengah obrolan kami. Aku dan Dai sontak langsung melangkah
saling menjauh dan menoleh kearah sumber suara.
Ternyata itu adalah Fasa yang sedang
berdiri disudut lengkung jembatan sambil berkacak pinggang. Dibelakangnya Shui
mengikutinya, tampak canggung dan menghindari kontak mata denganku.
“Kalian ini,” Fasa berjalan lebih dekat kearah
kami. “Kalian tinggalkan Shui dipinggir jalan macam anak ayam kehilangan
induknya, sedangkan kalian asyik memadu kasih disini.” Oceh Fasa.
“Tu, tunggu... ini tak seperti yang kau lihat
Fasa, kami tidak...” Dai berusaha menjelaskan.
“Ya, sebentar lagi juga akan ada pengumuman
dari Yaza Vumi tentang hubungan kami!” Ujarku memotong perkataan Dai. Entah
kenapa dalam hatiku ada rasa ingin menunjukan pada Shui bahwa aku bisa dengan
mudah melupakannya.
“Hu, hubungan kalian? Jadi kalian...” Fasa
tampak keheranan. Aku mengangguki Fasa, melirik sinis pada Shui dan menggandeng
tangan Dai.
“Ehm... Vier... jangan memaksakan diri kalau
kau tak menyukaiku.” Ujar Dai.
“Suka padamu atau tidak... aku yang
memutuskan!” Kesalku.
Fasa menatap heran pada kami karena
masih belum paham apa yang terjadi, sedangkan Shui masih tetap menjaga jarak.
Aku merasa bodoh dengan kelakuanku yang seperti ini, hal ini membuatku terlihat
seperti perempuan yang belum matang.
“Ehm... teman-teman, mau makan siang bersama
ditempat yang aku tau?” Dai memecah situasi membeku itu.
__ADS_1
“Ba, baiklah. Dimana?” Tanyaku.
“Ada didekat kompleks perumahan lotus, kalian
berdua juga harus ikut.” Jawab Dai.
“Ide bagus! Aku juga belum makan sejak tadi
mengejar kalian. Baiklah, Vier akan ikut dimobilku, Shui dengan Tn. Dai!” Usul
Fasa.
“Tidak!” Shui memotong. “Aku akan ikut mobil
Fasa, Tn. Dai bisa bersama putri Monochrome!” Ujarnya dingin.
Shui menarik tangan Fasa meninggalkan
kami dari sana dan rasanya kesal sekali, aku yang mau membalasnya tapi kenapa
malah berbalik padaku lagi.
“Haha... makanya jangan sok buat Shui cemburu,
alih-alih malah kau yang ia abaikan!” Ledek Dai.
“Diam kau!!!” ketusku.
Kami pergi kesebuah restoran bagus yang
berada didekat kompleks perumahan kaya yaitu perumahan lotus. Tempat disana
memang lumayan bagus, aku senang bisa berkunjung kesini.
“Oh iya, teman-teman. Mumpung sedang
berkumpul, aku akan memberitahukan pada kalian perkembangan organisasi
sekarang.” Dai mengalihkan topik ketika kami sedang memakan hidangan penutup.
“Setelah mencuri data itu kami bekerja sama
dengan banyak ilmuan untuk membuat sumber energi utama sendiri, dan hebatnya
lagi... pembuatanya sudah mencapai 87 persen.” Cerita Dai.
“Ini berita bagus! Kalau kita buat dalam
jumlah banyak, kita bisa mengajak daerah yang belum ditaklukkan untuk bekerja
sama!” Seru ku.
“Tepat!!!” Dai menjentikkan jarinya.
“Hm, kalau begitu rencananya bisa dipercepat.
Apakah sebaiknya kita mulai bulan depan?” Usul Fasa.
“Kurasa sebaiknya begitu, karena kudengar Yaza
Vumi akan melakukan penyerangan habis-habisan di wilayah tenggara akhir bulan
depan nanti.” Komentar Shui.
“Kita adakan rapat besok lusa, akan kuberi
tahu pada yang lain.” Ujar Dai sambil menyuap puding cokelatnya.
“Hm, menurutku akan bagus jika kita melakukan
penyerangan sehari setelah pentas opera selanjutnya, karena saat itu kota
“Kau benar, sebisa mungkin kita megurangi
jumlah korban jiwa!” Dai menyetujui.
Pembicaraan kami berhenti sampai disana
ketika dua orang berpakaian prajurit istana masuk kedalam restoran. Mereka
berjalan dengan angkuh, tatapannya merendahkan dan meremehkan.
“BRAK”
Mereka menendang meja tempat kami
makan.
“Huh, anak muda zaman sekarang, sedang Double Date, ya?!” tanya salah satunya
dengan congkak. Kulihat Shui mengepal erat tangannya tapi Dai menahan Shui.
“Minggirlah kalian semua, kami butuh tempat
duduk ini untuk makan.” Ujar lainnya tak kalah congkak.
“Hey, paman. Tempat duduk lain masih banyak
yang kosong, lho.” Ujarku dingin.
“Peduli setan, kami menginginkan tempat ini,
kalian berani melawan prajurit istana?” Mereka menyeringai pada kami.
Penuh kesombongan sekali prajurit
istana ini, menyombongkan jabatan prajurit pada seorang putra mahkota jelas
seperti semut yang berlagak punya kekuatan didepan gajah. Kalau saja Dai tidak
sedang memakai penyamaran, aku yakin mereka akan bersujud dikakinya.
“Baiklah teman-teman, kita pergi saja.
Lagipula kita sudah selesai makan. Tahan dirimu Shui, tak bagus membuat
kekacauan dimuka umum!” Nasihat Dai.
Kami beranjak dari tempat duduk kami,
ketika Shui melewati dua prajurit itu, tinggi mereka itu pun hanya sebatas
hidung Shui dan ukuran tubuh mereka jelas kalah olehnya.
“Hei, apa yang kau lihat? Cari mati?” Tukas salah satu prajurit pada Dai
ketika Dai berjalan melewatinya.
“Saya punya mata memang untuk melihat, kan?!”
ujar Dai ramah tapi mengejek.
“BERANINYA KAU!!!” teriak prajurit itu sambil
melayangkan tinjuan pada Dai.
“TAP”
__ADS_1
Shui menangkap kepalan tangan prajurit
itu dengan mudahnya.
“Beraninya kau mengepalkan tinjumu pada
tuanku, dasar tikus busuk!!!” Ketus Shui.
Shui menghempas prajurit itu hingga
terpelanting cukup jauh. Seluruh mata orang direstoran itu mengarah pada kami.
“Cukup Shui, jangan buat keributan, ayo segera
pergi dari sini.” Ujar Dai. Shui menjawab dengan anggukan.
“Hey, lihat! Bukankah itu White Prince?!” Seru salah satu pengunjung yang melihat
kearah kami.
Dua orang prajurit tadi akhirnya menyadari
itu dan langsung berkeringat dingin,
wajahnya pucat pasi dan gemetar ketakutan. Mereka bergegas membungkuk didepan
Dai dan memohon ampun seperti budak yang berbuat kesalahan fatal pada tuannya.
“Tn. Dai, kita pergi!!!”Ajak Shui.
Kami pergi dari sana sambil menahan
tawa. Betapa memalukannya itu bagi mereka, kesombongan dan keangkuhan mereka
patah seketika begitu tahu itu adalah Dai.
“Hmm... kau bertuah sekali ya, Dai!” Ledekku.
“Sudahlah aku tak mau membahasnya lagi!” Dai
menghela napas.
“Baiklah, kalau begitu kami akan pulang.” Aku
membuka pintu mobil Fasa sambil melambaikan tangan.
“Baiklah, jangan lupa ya besok kau harus
latihan opera aku akan menjemputmu dan lusa kita ada rapat.” Dai mengingatkan.
“Oke oke, sampai jumpa... sayang!” Candaku.
Aku tertawa sambil masuk kemobil Fasa.
Kami menuju kerumah tulip. Dijalan aku
menceritakan yang sebenarnya pada Fasa tentang kebohongan hubunganku dengan Dai
juga tentang Yaza Vumi dan pastinya tentang permasalahanku dengan Shui.
“Hmm... soal Shui...” Fasa memotong ceritaku
ketika aku sedang membahas Shui. “Dia tak bermaksud begitu, tadi dia memintaku
menyampaikan maaf padamu. Katanya alasan kenapa dia tak mau kau menyukainya
adalah karena kau orang yang Dai sukai. Itu membuatnya merasa tak enak pada
Dai.” Jelas Fasa.
“Intinya tetaplah Dai, kan?!” tukasku.
“Kurasa kau akan paham kalau berada
diposisinya, Dai itu tuannya... dan Shui tak mau terlihat seolah dia lebih
unggul dari tuannya.” Dalih Fasa.
“Yah, sudahlah. Aku sedang tak mau membahasnya
lagi, terserah saja soal kisah asmara kami, biar terjawab oleh waktu!” Aku
menghela napas.
Aku melihat keluar jendela dari mobil
yang melayang ini, pemukiman berbentuk tulip yang terkesan indah dihiasi
suasana yang semakin menggelap karena senja yang hampir tenggelam.
Kami sampai didepan rumah mungil kami
yang nyaman, sore menjelang malam ini tak seperti biasanya karena sudah sepi,
biasanya sampai hampir tengah malam masih tetap ramai orang yang berlalu
lalang.
Kami menaiki tangga rumah, entah
mengapa perasaanku tidak nyaman. Dan semua itu terjawab begitu kami membuka
pintu. Sesosok lelaki bertubuh tinggi besar dengan pakaian mewah duduk dikursi
lucu ruang tengah kami, aku dan Fasa terbelalak dan terpaku didepan pintu.
“Hm, mungkin kedatanganku memang terlalu
mengejutkan, ya. Dan seharusnya aku tak memasuki rumah orang lain tanpa izin.”
Ujar sosok itu.
Ya, tak lain dan tak bukan sosok itu
adalah yang mulia Yaza Vumi, entah dengan tujuan apa ia menyusup kerumah kami,
yang jelas ini membuatku takut.
“A, ada apa gerangan yang mulia datang
ketempat kami?” Tanyaku berusaha se-alami mungkin.
“Bukan sesuatu yang mendesak, hanya ingin
membahas beberapa hal dengan Anda, Putri Monochrome.” Ujarnya. Tatapannya masih
mendiskriminasi, ia bangkit dari kursi
lucu itu menuju kearah kami.
“Membahas
sesuatu? Tentang apa?” Tanyaku sambil menarik tangan Fasa untuk masuk kerumah.
“Tentang Putraku, dan gerakan kalian
dibelakang layar!” Jawabnya tenang tapi mengancam.
__ADS_1
*****