
Esok harinya (18 agustus 2200)
Mentari pagi bahkan belum menunjukan
tanda-tanda akan muncul tapi kami sudah bersiap-siap berbaris disepanjang
lorong markas DieNeSs, Dai dan Fasa baru saja kembali dari distrik 10 pukul 3
dini hari tadi.
“Tim yang akan pertama kali bergerak adalah
tim empat 150 orang, amankan warga sipil disekitar daerah perang diikuti tim
pertama melakukan penyusupan melalui lorong rahasia yang akan dipimpin pak
Hauen dan ketua distrik 6.” Seru Dai.
“Kemudian tim Sniper yang dikomandoi oleh Shui
dan pemimpin daerah gurun putih bersiap di pos masing-masing. Selanjutnya tim
tiga melalui helikopter akan turun di atap istana akan dipimpin olehku sendiri
diikuti dengan perwakilan dari masing-masing daerah atau distrik!” Lanjutnya.
Setelah perintah dari Dai tim evakuasi
warga dan tim penyusup langsung pergi menuju misi mereka, tim lain masih
menunggu komando berikutnya. Aku dan Fasa yang berada dalam tim Dai akan tetap
berada disisnya sampai saat dimana kami menyerang.
Pukul 04.45 pagi, tim penyusup
mengabari mereka telah berada didalam istana, tim sniper sudah berada di pos
mereka tepat pukul 05.00 pagi. Dai memberi komando berikutnya, yaitu untuk tim
kami, tim yang akan turun dengan tali lewat helikopter. Sebelum pergi Dai meminta salah satu pimpinan DieNeSs
untuk mempersiapkan anggota cadangan kalau-kalau ada sesuatu yang tidak
diinginkan tejadi.
Tim yang kuikuti pergi kesalahsatu
ruangan besar yang ada dimarkas DieNeSs, siapa sangka dibawah markas DieNeSs
ada sebuah gudang penyimpanan alat-alat militer bahkan helikopter berbentuk
serangga sampai pesawat tempur berbentuk elang, aku sampai penasaran sebesar
apa sebenarnya markas DieNeSs ini.
“Hmm... tapi bagaimana cara kita membawa
helikopter-helikopter ini keatas nantinya?” Tanyaku heran.
“Tekan tombol sajalah. Tapi ayo kita naik
liftnya dulu untuk sampai kepermukaan tanah.” Jawab Dai sambil mengajak kami
menuju Lift.
Ya, markas DieNeSs ini berada dibawah
tanah, kami akan membawa helikopter ini kepermukaan dulu.
Singkat saja, intinya kami menaiki
helikopter menuju keistana. Bukannya aku
berburuk sangka, tapi aku memang merasa ada yang tak beres. Rasanya terlalu
mudah bagi tim penyusup untuk sampai dibagian dalam istana tanpa perlawanan
yang berarti dari prajuritnya.
Selain itu, dengan mudahnya helikopter
kami sampai diatap istana. Yang perlu kami lakukan hanya turun dengan tali
kebawah sana, melihatnya tampak tak sesulit itu tapi aku belum pernah melakukan
ini sebelumnya, belum lagi ini adalah perang sungguhan sedangkan aku belum
pernah dapat latihan militer barang sedetikpun.
“Dai, tetaplah waspada... bukannya aku ingin
berprasangka buruk, tapi tidakkah kau merasa ini terlalu mudah?” Ujarku. Dai
tersenyum.
“Aku janji, aku akan melindungi kau dan Fasa!”
Seru Dai. Fasa yang sebelumnya tak ikut pembicaraan ini pun ikut menoleh dengan
tatapan penuh tanda tanya.
“Kau lindungi Vier saja, aku kan tak ikut
drama kisah cinta kalian bertiga!” Tukas Fasa sambil mengulur tali hingga
menjuntai kebawah.
“Sudahlah, orang yang disukai atau Cuma
sekedar teman... bagiku kalian tetap sangat berharga!” Tegas Dai.
Setelah itu kami turun bergantian
melalui tali.
Dimulai dari Dai, lalu Fasa dan terakhir aku. Anggota kami dari Helikopter lain
pun menyusul, sebagian berada diatas dan sebagian turun kebawah.
Dai, Fasa, Aku dan tiga orang lainnya
dari distrik yang berbeda-beda masuk dari atap istana melalui sebuah pintu
diatap yang terhubung kedalam istana untuk menemui Yaza Vumi.
“Permisi, mungkin waktunya tak tepat... tapi
apakah kalian berdua adalah White Prince dan putri Monochrome?” Tanya salah
__ADS_1
satu dari tiga orang yang ikut bersama kami.
“Eh, iya!” Aku langsung menoleh pada pemuda
yang bertanya. “Hm, kurasa sebaiknya kita saling memperkenalkan Diri!” Usulku.
Mereka bertiga tampak senang, aku hanya
memperkenalkan Fasa pada mereka karena kurasa mereka sudah tau aku dan Dai,
mereka pun memperkenalkan diri masing-masing secara bergantian.
Yang bertanya tadi adalah lelaki tinggi
langsing berambut pirang berusia sekitar
25 tahunan bernama jeffery dari distrik 8, disebelahnya adalah pria tampan
berparas ketimur tengahan yang cukup tinggi berbadan atletis dan memiliki
janggut yang dicukur tipis bernama Khaled Alwalid dari daerah gurun putih yang
sempat diserang Yaza Vumi namun tak dapat ditaklukkan, terakhir adalah lelaki
mongoloid yang berbadan kecil tapi kekar bernama Xiao dari distrik 14 yang baru
saja ditaklukkan.
Perkenalan singkat itu berakhir disaat
kami sampai di aula istana. Yaza Vumi masih tetap duduk ditahtanya dengan 12
orang tentara cakar hitam mengelilinginya, ditambah lagi ia berlindung dibalik
kaca anti peluru yang super tebal. Sementara para prajurit yang berjaga
disekitar istana dan para pelayan yang bekerja disana dikumpulkan di aula dalam
cengkraman anggota kami yang dipimpin pak Hauen Tadi.
“Selamat datang putraku dan calon menantuku!”
Senyum Yaza Vumi begitu kami menuruni tangga menuju aula yang berada dilantai
dasar. “Kuakui kalian cukup cerdas membuat rencana ini!” Ujarnya dengan nada
meledek.
“Yang mulia, saya menagih bayaran atas taruhan
ini... kami memenangkan taruhannya!” Aku menyela.
“Maksudmu?” Yaza Vumi bertanya dengan gaya
angkuhnya.
“Anda megatakan bahwa anda akan dengan suka
rela turun dari tahta anda jika masyarakat lebih memihak pada kami, dan barusan
teman saya melaporkan bahwa orang-orang berdemo untuk turunnya anda dari
tahta!” Jawabku tak kalah sombong.
Aku memperlihatkan padanya berita
diluar istana melalui sebuah layar semacam hologram, dipusat kota orang-orang
banyak tulisan semacamnya.
“Hmf, kau merasa sudah menang?” Senyumnya
sinis.
Rasanya aku sudah tak tahan untuk membiarkan
setan tua ini terus-terusan dengan keangkuhannya. Apa dia masih meremehkan kami
sampai seperti itu disaat keadaan sudah membuktikan kami menang?!
“Dai, kuharap di perang ini kau tak melihat
siapa yang akan jadi musuhmu, musuh adalah musuh... maaf jika bicaraku
mengganggu perasaanmu.” Aku berpaling pada Dai. Dai memandang ayahnya dengan
sendu, ia mengepal erat tangannya.
“Cepat beri kami perintah!!!” tukasku.
“IKAT SEMUA PRAJURIT, BUNUH YANG MELAWAN DAN
SERET RAJA DARI TAHTANYA KEHADAPANKU!!!!” Teriak Dai.
Anggota kami langsung melaksanakan
perintah Dai dan terjadi baku tembak secara seketika akibat anggota kami yang
hendak menangkap raja dihalangi oleh prajurit istana dan tentara cakar hitam.
Dai memintaku dan Fasa untuk
berlindung, tapi kami menolak dan memilih ikut beradu tembak dengan para
prajurit. Ini menyulitkan sekali, karena jangkauan peluru bisa kemana saja,
beradu tembak dalam jarak sedekat ini memakan banyak sekali korban sekalipun
dikedua pihak menggunakan rompi anti peluru dan helm khusus.
Sedangkan Yaza Vumi bersama 12 orang
tentara cakar hitam berada dalam perlindungan kaca anti peluru yang 5 kali
lipat lebih tebal dari biasanya dan kaca itu mengelilingnya hingga tak mudah
ditembus.
Disisi lain anggota kami berlindung
dibalik pillar-pillar besar yang menopang aula juga tameng anti peluru sambil
menembaki prajurit yang tanpa perlindungan itu. sang raja benar-benar tak
peduli pada nasib prajuritnya. Tim yang ikut bersamaku dari helikopter itu tak
membawa tameng seperti tim yang datang bersama pak Hauen, jadi kami hanya bisa
berlindung dibalik pillar.
__ADS_1
Aku mencuri kesempatan untuk berpindah
dari balik satu pillar ke balik pillar lainnya ketika peluru prajurit tak
sedang mengarah padaku, bersama Fasa aku terus berusaha mendekat ketempat perlindungan
Yaza Vumi sampai Dai berteriak padaku.
“VIER JANGAN KERAS KEPALA, PERGILAH BERSAMA
FASA. KALIAN TAK TAU APAPUN TENTANG PERANG!!!” Bentak Dai begitu melihat aku
dan Fasa masih berada disana dengan senapan laras panjang berwarna silver yang
didesain ringan ditangan kami.
“Sialan, kau tak bisa mengusirku!” Bantahku
sambil terus menembak dan berusaha mendekat kearah Yaza Vumi.
“Fasa Kita mendekat dan tembak engsel pintu
kaca itu saja, tembak terus tepat dibautnya!” Aku berpaling pada Fasa. Fasa mengangguk
paham.
Pelindung dari kaca anti peluru itu
memiliki semacam pintu yang terkunci rapat sebagai jalan masuk dan keluarnya,
itu menjadi incaran kami untuk menarik keluar siput-siput itu dari cangkangnya.
“Jeffery, bantu kami mendekat kesana!” Pintaku
pada pemuda bernama Jeffery tadi yang berada tak jauh dari kami.
“Siap!” serunya.
Kami berhasil mendekat dengan bantuan
Jeffery juga Khaled dan Xiao. Kami dapat mengarahkan senapan dan menembak
kearah kaca yang dibaliknya terdapat baut sebagi perekat engsel. Dan singkat
cerita kami berlima berhasil menghancurkan
dan membuka pintu itu.
“PINTUNYA TERBUKA, SERBU SEKARANG!!!”
Teriakku.
Anggota kami langsung menyerbu masuk
sambil menembaki tentara cakar hitam secara membabi buta. Yaza Vumi berhasil
diseret dari tahtanya menuju kedepan Dai.
“Hebat sekali putraku, kau punya kesatria
wanita yang cerdik!” Pujinya ketika sudah berada didepan Dai.
Dai terdiam, ia tertunduk tanpa kata.
Aku tau seberapa sedihnya dia berperang dengan ayah yang ia cintai. Tapi kuharap
Dai sadar, bahwa Yaza Vumi telah membuat banyak kerusakan dan ia adalah manusia
biadab yang tidak menghargai nyawa.
“Mirip sekali dengan ibu bodohmu yang
mengkhianati suaminya demi sekelompok pemberontak, karena itulah ayahmu ini
menguburnya bersama seluruh cinta ayah padanya dalam ledakan itu!!!” Lanjut
Yaza Vumi.
Dai tercekat, ia tampak Shok mendengar
ungkapan Yaza Vumi barusan. Mulut dan matanya sama-sama terbuka lebar dengan
tangannya mengepal erat.
“Ja, jadi ayah tau kalau ibu ada disana dan
sengaja meledakkan tempat itu?” Tanya Dai seolah tak percaya.
“Ingatlah Dai, dunia ini sulit dan kejam,
dengan hal-hal semacam cinta dan kasih sayang hanya bisa mengubur kita dalam
kesengsaraan. Begitupun ibumu, ayah percaya dia mencintai ayah sebesar ayah
mencintainya, tapi... kami mengubur cinta kami dalam kebencian!!!” Ujarnya
dengan tatapan mata yang menusuk tajam pada wajah marah Dai.
“Hmf, hahaha... ocehan bau!!!” Ketusku yang
sudah kesal. Aku menoleh pada Dai. “Dai, kami disini bukan mau menonton obrolan
ayah dan anak, selesaikan dengan cepat, kubunuh kau jika menyia-nyiakan nyawa
mereka yang gugur tadi!” Lanjutku penuh ancaman.
Kami melihat sekeliling kami, ada
beberapa anggota kami yang gugur dan terluka, kuminta yang masih dalam keadaan
baik untuk membantu yang terluka, dan justru dari pihak sang raja lah yang
banyak gugur.
“Kita tahan sang raja, tanggalkan mahkota kekuasaannya
dengan penuh malu!” Seru Dai.
“Hm, kalian tak berpikir ini akan selesai
semudah ini, kan?!” Senyum sinis Yaza Vumi menyungging.
Aku merasa aneh sejak tadi, Yaza Vumi
seperti mengulur waktu. Kini aku menyadari sesuatu dan langsung berteriak.
“CEPAT LARI DARI SINI, PAKAI PELINDUNG
KALIAN!!!”
__ADS_1
*****