Break The Secret

Break The Secret
24) ATTACK : Serangan


__ADS_3

Esok harinya (18 agustus 2200)


Mentari pagi bahkan belum menunjukan


tanda-tanda akan muncul tapi kami sudah bersiap-siap berbaris disepanjang


lorong markas DieNeSs, Dai dan Fasa baru saja kembali dari distrik 10 pukul 3


dini hari tadi.


 “Tim yang akan pertama kali bergerak adalah


tim empat 150 orang, amankan warga sipil disekitar daerah perang diikuti tim


pertama melakukan penyusupan melalui lorong rahasia yang akan dipimpin pak


Hauen dan ketua distrik 6.” Seru Dai.


 “Kemudian tim Sniper yang dikomandoi oleh Shui


dan pemimpin daerah gurun putih bersiap di pos masing-masing. Selanjutnya tim


tiga melalui helikopter akan turun di atap istana akan dipimpin olehku sendiri


diikuti dengan perwakilan dari masing-masing daerah atau distrik!” Lanjutnya.


Setelah perintah dari Dai tim evakuasi


warga dan tim penyusup langsung pergi menuju misi mereka, tim lain masih


menunggu komando berikutnya. Aku dan Fasa yang berada dalam tim Dai akan tetap


berada disisnya sampai saat dimana kami menyerang.


Pukul 04.45 pagi, tim penyusup


mengabari mereka telah berada didalam istana, tim sniper sudah berada di pos


mereka tepat pukul 05.00 pagi. Dai memberi komando berikutnya, yaitu untuk tim


kami, tim yang akan turun dengan tali lewat helikopter. Sebelum  pergi Dai meminta salah satu pimpinan DieNeSs


untuk mempersiapkan anggota cadangan kalau-kalau ada sesuatu yang tidak


diinginkan tejadi.


Tim yang kuikuti pergi kesalahsatu


ruangan besar yang ada dimarkas DieNeSs, siapa sangka dibawah markas DieNeSs


ada sebuah gudang penyimpanan alat-alat militer bahkan helikopter berbentuk


serangga sampai pesawat tempur berbentuk elang, aku sampai penasaran sebesar


apa sebenarnya markas DieNeSs ini.


 “Hmm... tapi bagaimana cara kita membawa


helikopter-helikopter ini keatas nantinya?” Tanyaku heran.


 “Tekan tombol sajalah. Tapi ayo kita naik


liftnya dulu untuk sampai kepermukaan tanah.” Jawab Dai sambil mengajak kami


menuju Lift.


Ya, markas DieNeSs ini berada dibawah


tanah, kami akan membawa helikopter ini kepermukaan dulu.


Singkat saja, intinya kami menaiki


helikopter  menuju keistana. Bukannya aku


berburuk sangka, tapi aku memang merasa ada yang tak beres. Rasanya terlalu


mudah bagi tim penyusup untuk sampai dibagian dalam istana tanpa perlawanan


yang berarti dari prajuritnya.


Selain itu, dengan mudahnya helikopter


kami sampai diatap istana. Yang perlu kami lakukan hanya turun dengan tali


kebawah sana, melihatnya tampak tak sesulit itu tapi aku belum pernah melakukan


ini sebelumnya, belum lagi ini adalah perang sungguhan sedangkan aku belum


pernah dapat latihan militer barang sedetikpun.


 “Dai, tetaplah waspada... bukannya aku ingin


berprasangka buruk, tapi tidakkah kau merasa ini terlalu mudah?” Ujarku. Dai


tersenyum.


 “Aku janji, aku akan melindungi kau dan Fasa!”


Seru Dai. Fasa yang sebelumnya tak ikut pembicaraan ini pun ikut menoleh dengan


tatapan penuh tanda tanya.


 “Kau lindungi Vier saja, aku kan tak ikut


drama kisah cinta kalian bertiga!” Tukas Fasa sambil mengulur tali hingga


menjuntai kebawah.


 “Sudahlah, orang yang disukai atau Cuma


sekedar teman... bagiku kalian tetap sangat berharga!” Tegas Dai.


Setelah itu kami turun bergantian


melalui tali.


 Dimulai  dari Dai, lalu Fasa dan terakhir aku. Anggota kami dari Helikopter lain


pun menyusul, sebagian berada diatas dan sebagian turun kebawah.


Dai, Fasa, Aku dan tiga orang lainnya


dari distrik yang berbeda-beda masuk dari atap istana melalui sebuah pintu


diatap yang terhubung kedalam istana untuk menemui Yaza Vumi.


 “Permisi, mungkin waktunya tak tepat... tapi


apakah kalian berdua adalah White Prince dan putri Monochrome?” Tanya salah

__ADS_1


satu dari tiga orang yang ikut bersama kami.


 “Eh, iya!” Aku langsung menoleh pada pemuda


yang bertanya. “Hm, kurasa sebaiknya kita saling memperkenalkan Diri!” Usulku.


Mereka bertiga tampak senang, aku hanya


memperkenalkan Fasa pada mereka karena kurasa mereka sudah tau aku dan Dai,


mereka pun memperkenalkan diri masing-masing secara bergantian.


Yang bertanya tadi adalah lelaki tinggi


langsing berambut pirang  berusia sekitar


25 tahunan bernama jeffery dari distrik 8, disebelahnya adalah pria tampan


berparas ketimur tengahan yang cukup tinggi berbadan atletis dan memiliki


janggut yang dicukur tipis bernama Khaled Alwalid dari daerah gurun putih yang


sempat diserang Yaza Vumi namun tak dapat ditaklukkan, terakhir adalah lelaki


mongoloid yang berbadan kecil tapi kekar bernama Xiao dari distrik 14 yang baru


saja ditaklukkan.


Perkenalan singkat itu berakhir disaat


kami sampai di aula istana. Yaza Vumi masih tetap duduk ditahtanya dengan 12


orang tentara cakar hitam mengelilinginya, ditambah lagi ia berlindung dibalik


kaca anti peluru yang super tebal. Sementara para prajurit yang berjaga


disekitar istana dan para pelayan yang bekerja disana dikumpulkan di aula dalam


cengkraman anggota kami yang dipimpin pak Hauen Tadi.


 “Selamat datang putraku dan calon menantuku!”


Senyum Yaza Vumi begitu kami menuruni tangga menuju aula yang berada dilantai


dasar. “Kuakui kalian cukup cerdas membuat rencana ini!” Ujarnya dengan nada


meledek.


 “Yang mulia, saya menagih bayaran atas taruhan


ini... kami memenangkan taruhannya!” Aku menyela.


 “Maksudmu?” Yaza Vumi bertanya dengan gaya


angkuhnya.


 “Anda megatakan bahwa anda akan dengan suka


rela turun dari tahta anda jika masyarakat lebih memihak pada kami, dan barusan


teman saya melaporkan bahwa orang-orang berdemo untuk turunnya anda dari


tahta!” Jawabku tak kalah sombong.


Aku memperlihatkan padanya berita


diluar istana melalui sebuah layar semacam hologram, dipusat kota orang-orang


banyak tulisan semacamnya.


 “Hmf, kau merasa sudah menang?” Senyumnya


sinis.


Rasanya aku sudah tak tahan untuk membiarkan


setan tua ini terus-terusan dengan keangkuhannya. Apa dia masih meremehkan kami


sampai seperti itu disaat keadaan sudah membuktikan kami menang?!


 “Dai, kuharap di perang ini kau tak melihat


siapa yang akan jadi musuhmu, musuh adalah musuh... maaf jika bicaraku


mengganggu perasaanmu.” Aku berpaling pada Dai. Dai memandang ayahnya dengan


sendu, ia mengepal erat tangannya.


 “Cepat beri kami perintah!!!” tukasku.


 “IKAT SEMUA PRAJURIT, BUNUH YANG MELAWAN DAN


SERET RAJA DARI TAHTANYA KEHADAPANKU!!!!” Teriak Dai.


Anggota kami langsung melaksanakan


perintah Dai dan terjadi baku tembak secara seketika akibat anggota kami yang


hendak menangkap raja dihalangi oleh prajurit istana dan tentara cakar hitam.


Dai memintaku dan Fasa untuk


berlindung, tapi kami menolak dan memilih ikut beradu tembak dengan para


prajurit. Ini menyulitkan sekali, karena jangkauan peluru bisa kemana saja,


beradu tembak dalam jarak sedekat ini memakan banyak sekali korban sekalipun


dikedua pihak menggunakan rompi anti peluru dan helm khusus.


Sedangkan Yaza Vumi bersama 12 orang


tentara cakar hitam berada dalam perlindungan kaca anti peluru yang 5 kali


lipat lebih tebal dari biasanya dan kaca itu mengelilingnya hingga tak mudah


ditembus.


Disisi lain anggota kami berlindung


dibalik pillar-pillar besar yang menopang aula juga tameng anti peluru sambil


menembaki prajurit yang tanpa perlindungan itu. sang raja benar-benar tak


peduli pada nasib prajuritnya. Tim yang ikut bersamaku dari helikopter itu tak


membawa tameng seperti tim yang datang bersama pak Hauen, jadi kami hanya bisa


berlindung dibalik pillar.

__ADS_1


Aku mencuri kesempatan untuk berpindah


dari balik satu pillar ke balik pillar lainnya ketika peluru prajurit tak


sedang mengarah padaku, bersama Fasa aku terus berusaha mendekat ketempat perlindungan


Yaza Vumi sampai Dai berteriak padaku.


 “VIER JANGAN KERAS KEPALA, PERGILAH BERSAMA


FASA. KALIAN TAK TAU APAPUN TENTANG PERANG!!!” Bentak Dai begitu melihat aku


dan Fasa masih berada disana dengan senapan laras panjang berwarna silver yang


didesain ringan ditangan kami.


 “Sialan, kau tak bisa mengusirku!” Bantahku


sambil terus menembak dan berusaha mendekat kearah Yaza Vumi.


 “Fasa Kita mendekat dan tembak engsel pintu


kaca itu saja, tembak terus tepat dibautnya!” Aku berpaling pada Fasa. Fasa mengangguk


paham.


Pelindung dari kaca anti peluru itu


memiliki semacam pintu yang terkunci rapat sebagai jalan masuk dan keluarnya,


itu menjadi incaran kami untuk menarik keluar siput-siput itu dari cangkangnya.


 “Jeffery, bantu kami mendekat kesana!” Pintaku


pada pemuda bernama Jeffery tadi yang berada tak jauh dari kami.


 “Siap!” serunya.


Kami berhasil mendekat dengan bantuan


Jeffery juga Khaled dan Xiao. Kami dapat mengarahkan senapan dan menembak


kearah kaca yang dibaliknya terdapat baut sebagi perekat engsel. Dan singkat


cerita kami berlima  berhasil menghancurkan


dan membuka pintu itu.


 “PINTUNYA TERBUKA, SERBU SEKARANG!!!”


Teriakku.


Anggota kami langsung menyerbu masuk


sambil menembaki tentara cakar hitam secara membabi buta. Yaza Vumi berhasil


diseret dari tahtanya menuju kedepan Dai.


 “Hebat sekali putraku, kau punya kesatria


wanita yang cerdik!” Pujinya ketika sudah berada didepan Dai.


Dai terdiam, ia tertunduk tanpa kata.


Aku tau seberapa sedihnya dia berperang dengan ayah yang ia cintai. Tapi kuharap


Dai sadar, bahwa Yaza Vumi telah membuat banyak kerusakan dan ia adalah manusia


biadab yang tidak menghargai nyawa.


 “Mirip sekali dengan ibu bodohmu yang


mengkhianati suaminya demi sekelompok pemberontak, karena itulah ayahmu ini


menguburnya bersama seluruh cinta ayah padanya dalam ledakan itu!!!” Lanjut


Yaza Vumi.


Dai tercekat, ia tampak Shok mendengar


ungkapan Yaza Vumi barusan. Mulut dan matanya sama-sama terbuka lebar dengan


tangannya mengepal erat.


 “Ja, jadi ayah tau kalau ibu ada disana dan


sengaja meledakkan tempat itu?” Tanya Dai seolah tak percaya.


 “Ingatlah Dai, dunia ini sulit dan kejam,


dengan hal-hal semacam cinta dan kasih sayang hanya bisa mengubur kita dalam


kesengsaraan. Begitupun ibumu, ayah percaya dia mencintai ayah sebesar ayah


mencintainya, tapi... kami mengubur cinta kami dalam kebencian!!!” Ujarnya


dengan tatapan mata yang menusuk tajam pada wajah marah Dai.


 “Hmf, hahaha... ocehan bau!!!” Ketusku yang


sudah kesal. Aku menoleh pada Dai. “Dai, kami disini bukan mau menonton obrolan


ayah dan anak, selesaikan dengan cepat, kubunuh kau jika menyia-nyiakan nyawa


mereka yang gugur tadi!” Lanjutku penuh ancaman.


Kami melihat sekeliling kami, ada


beberapa anggota kami yang gugur dan terluka, kuminta yang masih dalam keadaan


baik untuk membantu yang terluka, dan justru dari pihak sang raja lah yang


banyak gugur.


 “Kita tahan sang raja, tanggalkan mahkota kekuasaannya


dengan penuh malu!” Seru Dai.


 “Hm, kalian tak berpikir ini akan selesai


semudah ini, kan?!” Senyum sinis Yaza Vumi menyungging.


Aku merasa aneh sejak tadi, Yaza Vumi


seperti mengulur waktu. Kini aku menyadari sesuatu dan langsung berteriak.


 “CEPAT LARI DARI SINI, PAKAI PELINDUNG


KALIAN!!!”

__ADS_1


*****


__ADS_2