Brondong I Love U

Brondong I Love U
Rindu Tante ayang


__ADS_3

"Tante pegangannya yang bener, nanti jatuh!"


Galen berteriak sambil menoleh kebelakang, helm full face yang dia pakai membuatnya tidak bisa bicara dengan pelan, apalagi berkendara roda dua, angin jalanan juga mempengaruhi kualitas pendengaran.


Sani yang mendengar teriakan Galen memilih untuk mengeratkan pegangan tangannya di kaus yang Galen pakai bagian bawah, karena jaket Galen Sani pakai untuk menutupi bagian belakang tubuhnya.


Merasa tidak mendapat respon, dengan otak usilnya Galen memainkan rem dan kopling ditanganya, membuat Sani yang duduk berjarak kini justru merosot kedepan menempel erat di punggung Galen, jangan lupakan tangannya yang melingkar erat di pinggang pemuda itu karena laju motornya semakin kencang.


"Galen!" Teriak Sani saat terkejut, matanya terpejam erat karena takut.


Sedangkan si tersangka hanya mesam-mesem bibirnya di balik helm.


"Nah gini kan enak, naik motor boncengan sambil peluk-peluk." Gumam Galen sambil cengesan.


Sani hendak melepaskan tangannya yang melingkar di perut Galen, tapi dengan sengaja Galen menyentuh tangan Sani agar tidak di lepas.


Sani terdiam, wajahnya tampak kaku dengan perasaan aneh yang tiba-tiba datang.


Tangan Galen terasa hangat sampai menjalar ke dalam hatinya.


"Jangan aneh-aneh Sani." Lirihnya dalam hati.


Inginnya lama-lama berduaan di atas motor, tapi karena kecepatan motornya stabil, membuat keduanya sampai dengan cepat di rumah Sani.


Sani turun dari atas motor mengunakan Pahu Galen untuk menjadi pegangan, karena motor besar Galen sangat tinggi.

__ADS_1


Galen melepaskan helm yang dia pakai, lalu mengguyar rambutnya kebelakang. Sani yang jelas melihat hanya bisa membuang wajah ke samping.


"Sialan tuh brondong." Rutuk Sani dalam hati.


"Tante mau masuk apa aku yang masukin?"


Sani yang masih bergelut dengan pikiranya langsung menatap Galen.


"Masukin apa?" tanya Sani yang tidak mengerti.


"Masukin apa aja, masukin bibit kehidupan juga boleh." Ucap Galen dengan senyum lebar dan alis yang naik turun.


Plak


"Makan tuh benih kesakitan!" Umpat Sani sambil memberikan hadiah pukulan untuk Galen.


*


*


"Kamu di mana, aku mau mengembalikan jaket mu."


Sani mengirim pesan untuk Galen, setelah pulang kerja, Sani berniat mengembalikan jaket milik Galen yang ada padanya.


Tapi sejak tadi pria itu tidak membaca ataupun membalas pesannya, bahkan dari kemarin tidak ada pesan masuk dari Galen, tidak hanya itu kemarin dan hari ini Galen absen tidak mengirim makanan ke kantor Sani.

__ADS_1


"Apa dia sudah kehabisan uang," Pikir Sani yang idealis.


Mahasiswa seperti Galen pasti menyisikan uang bulanannya, tidak mungkin juga Galen memiliki pemasukan karena setahu Sani Galen hanya seorang mahasiswa.


"Ck, kenapa aku justru memikirkan pemuda tengil itu." Sani mendesahh kasar.


Bolak balik melihat ponselnya, pesan yang dia kirim tidak di baca, bahkan chat Galen terkahir aktif kemarin malam.


Sedangkan orang yang di pikirkan sani, sedang terbaring dirumah sakit, dengan selang infus di tangannya.


"Len, ponsel mu bunyi terus."


Galen yang baru selesai makan mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya yang di pegang Mamanya.


Melihat chat yang masuk banyak, Galen memilih mengabaikannya, ia tertarik dengan satu pesan yang tidak pernah mengirim pesan lebih dulu.


Bibir Galen melengkung sempurna, seperti mendapatkan mood booster Galen dengan sengaja mengambil foto bagian tangannya yang di infus.


"Rindu Tante ayang."


Pesan yang dikirim Galen bersama foto sebuah tangan yang di infus.


*


*

__ADS_1


Mancing ikan besar nih Galen 🤣🤣


__ADS_2