Brondong I Love U

Brondong I Love U
Aku tidak mau jadi adik


__ADS_3

"Permisi."


Pintu ruangan Galen terbuka bersamaan dengan seorang wanita cantik muncul dengan senyum.


Senyum Galen begitu cerah secerah siang hari ini, bahkan seperti banyak ribuan bunga bermekaran di sekelilingnya.


"Duh, aku ngak mandi bau ngak ini." Galen mencium aroma tubuhnya sendiri, sambil mengangkat tangannya dan mengendus ketiaknya.


"Kamu kenapa?" Tanya Sani yang berjalan mendekati ranjang Galen.


"Gak papa, Tante cantik jangan deket-deket aku belum mandi." Ucap Galen mencegah Sani yang akan mendekatinya, "Tapi kalau Tante cantik mau mandiin aku, hayukkk!" Katanya lagi dengan tatapan mata berbinar.


"Kamu iniii." Sani yang gemas mencubit bahu Galen membuat pemuda itu mengaduh sakit.


"Aduhh, Tante ini namanya penganiayaan." Ucap Galen dengan ekspresi meringis.


Sangking gemasnya Sani mencubit Galen sungguhan.


"Maaf deh, habisnya kamu nyebelin!" Sani terkekeh pelan.


Galen mengerucutkan bibirnya, wajahnya tampak kesal tapi bibirnya tersenyum.


"Tante sayang bawa apa?" tanya Galen saat Sani menaruh dua paper bag di atas nakas.


"Kue, tapi gak tau kamu suka ngak, dan terima kasih jaket nya." Ucap Sani sambil mengeluarkan kue yang dia bawa.


Bingung mau bawa apa saat kerumah sakit, Sani pun berinisiatif membeli kue saja.


"Suka kalau Tante cantik yang suapi." Deretan gigi putih Galen terlihat sempurna, pemuda itu melebarkan senyumnya.


Sani memutar kedua matanya malas, "Ngak usah mulai, deh." Galen malah tersenyum melihat wajah jutek Sani.


"Kenapa bisa tinggal di rumah sakit, apa kamu tidak bayar kos jadi pilih tinggal di sini?" sindir Sani halus, tapi menyesakkan dada Galen.

__ADS_1


"Hu'um, aku tidak punya uang buat bayar sewa, jadi pilih disini saja, apalagi di temani Tante sayang." Galen lagi-lagi terseyum.


Sani hanya bisa geleng kepala, melihat tingkah Galen yang tidak tahu malu dan ceplas-ceplos. Dan Sani tidak mempermasalahkan panggilan Galen yang memanggilnya dengan 'sayang' Sani tidak risih.


"Di mana orang tuamu, kamu sendiri?" Sani menyodorkan tangannya yang memegang kue di depan mulut Galen.


Bak gayung bersambut, Galen membuka mulutnya lebar dan menerima suapan dari tangan Sani.


Galen mengunyahnya pelan, sambil menjawab pertanyaan wanita cantik di matanya itu.


"Baru aja pulang, nanti kesini lagi." Galen tersenyum, tatapan matanya tidak pernah lepas dari wajah Sani bila ada di depannya.


Rasanya tidak bosan Galen memandangi wajah Sani yang cantik di matanya.


"Jangan natap aku kayak gitu, nanti kamu jatuh cinta." Kata Sani sambil melirik Galen sinis.


Galen tertawa, menundukkan kepalanya sebentar dan kembali mendongak.


"Kalau di tatap terus malah bikin semakin cinta, Tante pacaran yuk." Ucapan Galen begitu ringan seperti kerupuk, tanpa beban.


"Kamu ngaco, lagi sakit makanya ngelantur." Sani menunduk dan kembali ingin menyuapkan kembali kue ke mulut Galen.


Degan sengaja tangan Galen menyentuh tangan Sani yang terulur di depan wajahnya, dengan tatapan keduanya yang terkunci.


"Galen-"


Suara Sani tercekat saat tangannya yang sedang memegang sepotong kue Galen arahkan ke mulutnya, kue yang di tangan Galen makan, tapi bukan itu yang membuat Sani tercekat melainkan tangannya yang di letakkan Galen di dadanya.


"Kamu bisa merasakan," Tutur Galen dengan tatapan yang begitu dalam penuh harap.


"Len," Sani ingin menarik tangannya,.tapi Galen justru malah memeganginya erat.


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan ku?" Tanya Galen dengan tatapan yang berubah kecewa.

__ADS_1


Sani menghela napas panjang, ia tatap wajah Galen dengan senyum simpul.


"Masa depan mu masih panjang, kamu masih muda. Masih banyak yang harus kamu kejar." Ucap Sani mencoba melapangkan hati Galen.


"Alasan klise," Galen tidak menerima penjelasan Sani.


"Bukan begitu, lagi pula usia kita memiliki jarak yang cukup jauh. Kamu masih muda Galen sedangkan aku-"


"Aku tidak peduli, aku hanya butuh jawaban." Sela Galen dengan wajah seriusnya.


"Percayalah, banyak diluar sana gadis yang ingin bersamamu, mereka lebih pantas untuk kamu dan bisa mendapatkan yang lebih dari aku." Sani tersenyum simpul. Ia tidak ingin egois.


Delapan tahun bukanlah sedikit, Sani sebagai wanita dewasa tidak mungkin menjerat Galen yang memiliki dara muda. Rasanya ia sudah tidak ingin menjalin hubungan hanya untuk bermain-main. Katakanlah Sani memilih pria matang yang serius untuk pendampingnya.


"Kenapa? hanya karena kamu lebih dewasa dan aku masih bocah? aku hanya perlu jawaban, ya jika kamu yakin dengan ku." Ucap Galen lagi dengan keseriusan yang begitu ketara.


Susana yang menjadi canggung membuat Sani sedikit tidak nyaman, wanita itu akan beranjak tapi tangannya masih di pegang Galen erat.


"Tante," Tatapan Galen begitu sendu, seolah menggambarkan hatinya yang sedang galau.


"Banyak yang harus kita pikirkan Galen, tidak semudah yang kamu bayangkan, aku wanita dewasa yang tidak mungkin menjalin hubungan dengan pemuda yang usianya pantas menjadi adik ku, aku harap kamu mengerti Galen, ini bukan masalah hati tapi keadaan yang tidak akan mudah."


Sani perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Galen, wanita itu mengusap lengan Galen sebelum pergi.


"Tante!" Galen rasanya tidak terima dengan penolakan Sani, ia tidak menerima perasaanya di tolak begitu saja.


"Kita berteman, aku menganggap mu sebagai adik," Sani tersenyum sebelum menghilang di balik pintu.


Galen membuang napas kasar, tiba-tiba rasa sesak memenuhi rongga dadanya.


"Aku tidak mau hanya menjadi adik mu!"


*

__ADS_1


*


Maunya jadi teman gulingnya ya Len.


__ADS_2