
Sani kembali mengingat kejadian di mana dirinya sedang memenuhi undangan kliennya disebuah restoran hotel. Saat itu Sani yang baru saja keluar dari toilet tidak sengaja telinganya mendengar suara yang sangat lucnut.
Sani yang hendak melewati toilet pria memilih untuk menguping sejenak, wajah terlihat masam saat mendengar suara-suara lucnut yang begitu menjijikkan.
"Apa di dunia ini kehabisan wanita sehingga membuat para pria menyukai lolipop." Gumamnya dengan ekspresi jijik.
Sani yang masih asik melamun memikirkan lolipop tiba-tiba tersentak saat mendengar suara langkah kaki orang mendekat. Dengan cepat Sani mencari tempat bersembunyi dan dirinya berdiri disisi tembok upaya menyelamatkan diri.
Dua pria menggunakan pakaian jas rapi keluar bersama, membuat kedua mata Sani yang mengintip membeliak lebar bahkan hampir lepas dari tempatnya.
"Hah, sepertinya aku harus kembali. Jika berkenan datanglah ke apartemen ku nanti malam." Pria itu menepuk pundak pria satunya, tak lupa tangannya yang jail mencolek buah terong milik pria itu.
"Iyewwww, Kamu menjijikan sekali Gerald." Gumam Sani yang merasakan mual pada perutnya secara tiba-tiba saat tahu jika yang membuat suara lucnut tadi adalah Gerald dan asistennya.
Sani bergeridik saat membayangkan kejadian minggu lalu, ia benar-benar tidak menyangka jika Gerald adalah pria lolipop warna warni.
"Sayang lolipop apa? Jangan bilang kalau dia marah kuning hijau." Ucap Galen asal tebak. Karena lolipop indentik dengan warna pelangi.
Sani mengangkat bahunya acuh, "Coba aja kamu berdiri telanjang di depannya," Bisik Sani sambil tersenyum meledek.
Galen justru merasakan seluruh bulu kuduknya meremang membayarkan jika apa yang dia pikirkan benar.
*
*
__ADS_1
Setelahnya meluncurkan produk Liora Jawellery, pemesanan langsung membeludak, Sani di banjiri dengan orderan dari berbagai kalagan menengah atas sampai istri pejabat dan pengusaha, nama Liora Jawellery langsung meroket setelah resmi di luncurkan. Hingga waktu Sani benar-benar habis untuk memenuhi pesanan yang memang sangat banyak.
Siang ini seperti biasa, sebuah box makanan datang setiap hari, siapa lagi pelakunya jika bukan Galen.
Beberapa hari lalu ini Sani mendapat perhatian khusus dari Galen, setiap jam makan Sani selalu mendapat kiriman makanan, meskipun waktu mereka tersita karena kesibukan masing-masing tapi Sani justru merasa senang mendapat perhatian dari Galen.
"Kenapa dia bisa sweet seperti ini, apakan semua pria muda selalu manis memperlakukan pasangannya."
Kali pertama Sani merasakan pacaran dengan Brondong, dan rasanya memang berbeda, dari segi obrolan Sani selalu terhibur dan meluapkan sejenak rutinitas pekerjaan.
Sani mengirim pesan berserta foto makanan didepanya, tentu saja ia kirim untuk kekasihnya.
Sayang terima kasih, kamu jangan lupa makan juga, semangat belajarnya.
Sani tersenyum sendiri membaca pesan yang dia kirim, di akhir pesan ia tambahkan emot cium yang membuat Sani senyum-senyum.
Galen dan teman-temannya berkelompok, satu kelompok terdiri Lima orang diantaranya ada Bagas, Nova dan juga Widy, adalagi teman satunya Risa.
Lima orang yang diketuai Galen, pria itu dengan cekatan melakukan risetnya dengan baik dan cepat, membuat kelompok Galen selesai lebih cepat.
"Len, katanya di sana ada pemandangan air terjun, kita mampir kesana ya." Nova bicara dengan senyum mengembang.
"Hayukkk, jarang-jarang kita bisa belajar dan healing bareng." Sambar Bagas.
"Iya, katanya di sini tempat bagus untuk berwisata. Sayang sekali kalau di lewatkan." Timpal Widy.
__ADS_1
Galen yang melihat temanya begitu antusias untuk melihat pemandangan air terjun tidak bisa menghindar lagi, yang mereka katakan benar jarang sekali mereka belajar di alam bebas seperti ini.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup membuat kaki lelah, akhirnya mereka bisa melihat pemandangan yang begitu menakjubkan, lelah kaki mereka berjalan terbayar saat melihat pemandangan yang begitu menakjubkan.
Galen menghirup napas panjang, merasakan sejuknya udara di sekitar tebing air terjun, hingga saat memejamkan matanya suara pekikan seorang wanita membuat mereka yang ada di sana terkejut.
"Nova!"
Widy yang lebih dulu berlari mendekati Nova yang hampir tenggelam karena kakinya tergelincir. Melihat teman mereka yang terbawa arus membuat Galen dan Bagas segera berlari untuk menolong.
"To-long!!"
"Nova pegang tangan ku!" Galen mengulurkan tangannya sambil berjongkok di atas batu, Bagas bersiaga di bawah Galen jaga-jaga jika Nova tidak bisa meraih tangan Galen.
Dengan wajah gelagapan karena arus terlalu deras, Nova mengulurkan tangannya saat akan mendekati tangan Galen.
Hap
Galen menarik kuat tangan Nova dan membawa gadis itu naik keatas batu, wajah Nova sedikit pucat dengan kedua mata memerah.
"Nova!" Galen menepuk pipi Nova beberapa kali.
Uhuk..uhuk...
Nova batuk mengeluarkan air, hingga suara terisak terdengar dari bibir Nova.
__ADS_1
Widy dan Bagas menghela napas lega, sedangkan Nova berada di pelukan Galen merasa takut.
"Kamu baik-baik saja, sudah." Galen yang tadinya sempat panik kini ikut merasa lega, di usapnya punggung Nova. Biar bagaimanapun mereka adalah teman.