
Nova memperhatikan Galen yang kembali sibuk dengan ponselnya, terkadang bibir pria itu tersenyum, namun juga terkadang cemberut, entah kenapa membuat Nova merasa penasaran dan cemburu.
"Len, lu tahu ngak kalau owner Liora Secret itu masih lajang dan cantik?" Tanya Bagas sambil berselancar pada ponselnya. "Gue baru tahu Len, tapi kok usianya udah mau kepala tiga masih lajang." Ucap Bagas lagi yang membaca informasi di internet tentang Sani Liora Xalendra.
Galen mendongak, menatap sahabatnya bernama Bagas.
"Bentar lagi soul out itu," Ucap Galen santai.
"Ck! sok tahu lu, wanita cantik karir cemerlang pasti jodohnya pengusaha kaya raya, mana mau sama orang modelan kita." Ucap Bagas sambil geleng kepala.
"Mau taruhan?" tanya Galen menatap Bagas dengan alis terangkat.
"Taruhan apa?" tanya Bagas yang tidak mengerti.
"Dia bakal nikah dalam waktu dekat, dengan pria yang biasa saja." Ucap Galen dengan senyum penuh arti.
Bagas menyipitkan matanya menatap Galen, "Lu kalau ngajak taruhan yang mungkin aja ngapa," Bagas melirik malas Galen yang seperti omong kosong.
"Ck, lu ngak percaya amat sih sama gue," Galen berdecak kesal, sahamnya ini kok ngak percayaan.
"Lu bisa ngajak ngedate dia aja gue nggak percaya, apalagi kata-kata lu yang mustahil. Udah macem cenayang aja lu."
Galen semakin terseyum miring, "Apa taruhannya kalau gue bisa bawa dia ngedate?" Tantang Galen dengan wajah tengilnya.
Bagas tampak berpikir, "Gue jadi babu lu seminggu, tapi kalau lu yang kalah lu traktir makan gue selama seminggu." Ucap Bagas dengan senyuman lebar.
"Oke, deal!"
Nova yang hanya bisa diam sambil menerka-nerka, tidak mungkin kan Galen mengenal pemilik perusahaan fashion terkenal itu, apalagi memiliki hubungan khusus, melihat foto Galen sudah pasti Galen menjadi model Liora Secret, tapi untuk dekat dengan pemiliknya rasanya emang tidak mungkin.
"Nova, Widy kalian jadi saksi ya, ingat kalau Galen kalah dia traktir makan gue selama satu minggu." Bagas tersenyum begitu lebar, sudah pasti dirinya yang akan menang.
Sedangkan Galen hanya tersenyum kecil, jarinya berselancar di layar ponselnya.
*
__ADS_1
*
Sani yang sedang membereskan berkas dimejanya mendadak berhenti saat pintu ruangannya di buka.
Galen masuk dengan bibir tersenyum ceria, membuat senyum Galen menular pada Sani.
"Sudah selesai?" tanya Galen saat melihat kekasihnya beberes.
"Sudah, kamu yang meminta ku pulang cepat." Ucap Sani dengan santai namun nadanya terdengar menyindir.
Galen menunduk sambil menggaruk keningnya dengan jari telunjuk, bibirnya nyengir.
"Temen aku lagi ngeselin yank," Ucap Galen sambil mendekat pada Sani.
Sani memicingkan mata menatap Galen, "Apa hubungannya sama aku?"
Galen tersenyum dengan mimik wajah menggemaskan, membuat Sani membuang wajah.
"Malam ini kita ngedate ya, pliss." Pinta Galen dengan wajah memelas.
Sani hanya membuang napas kasar, sejak Galen mengirim pesan mengajaknya untuk pergi. Sani berpikir tidak ada salahnya, mumpung dirinya juga tidak sedang sibuk.
"Hem, apa?" Galen menghadang di depan tubuh Sani.
"Hem, ya Hem." Ucap Sani yang justru malah dibuat bercanda.
Galen berdecak, dengan cepat tangannya meraih pinggang Sani membuat tubuh Sani menempelkan di dada bidang Galen.
"Ish," Sani berdecih ingin melepaskan rengkuhan di pinggangnya.
"Ham, Hem, ham, Hem kayak orang lagi sariawan tau nggak." Ucap Galen sambil menatap wajah Sani yang dekat dengan wajahnya, tidak perduli jika wanita itu bergerak gelisah ingin dilepaskan.
"Iya Galen, iya kita ngedate," Kata Sani dibarengi dengan gelak tawa karena tangan Galen yang bergerak menggelitik pinggangnya.
"Sayang, bukan Galen. Kamu jadi pacar ngak romantis."
__ADS_1
Hahahaha
Sani masih tertawa saat tangan Galen tidak mau berhenti.
"Ampun sayang, sudah." Ucap Sani dengan sudut mata yang basah.
Senyum Galen mengembang senang, klitikan di pinggang Sani tak ada lagi, Tapi Galen tidak melepaskan pelukannya.
"Mau Kiss," Galen memajukan bibirnya ingin mencium, tapi justru tangan Sani yang malah mencaplok bibir kerucut Galen.
"Ish, sayang," Rengek Galen dengan wajah merajuk.
Sani justru tertawa, di kecupnya pipi Galen dengan gemas.
"Ish, aku bukan anak kecil!" protes Galen saat mendapat ciuman di pipi seperti bayi.
Galen langsung menarik tengkuk Sani dan mendaratkan ciuman di bibir. Keduanya saling menyesap dan melumatt benda kenyal yang melenakan. Ciuman yang berdasarkan perasaan, Sani dan Galen begitu menikmati permainan bibir keduanya.
*
*
Di kafe D'namon Galen mengandeng tangan Sani dan membawa wanitanya menuju tempat outdoor yang sudah di pesan Bagas.
Saat akan sampai, ternyata tidak hanya ada Bagas melainkan Nova dan Widy juga ada. Galen sih biasa aja, tapi Ngak tahu dengan Nova dan Widy yang menatap sepasang kekasih sedang bergandengan tangan.
"Oh my God, gue jadi babu lu Len!" Pekik Bagas saat melihat Galen menggandeng owner Liora Secret yang rasanya tidak mungkin.
"Yes, lu jadi babu gue seminggu." Galen tersenyum lebar, sedangkan Sani hanya diam.
Nova mengepalkan tangannya, melihat Galen menggandeng tangan wanita lain membuat dadanya bergemuruh, tatapan Nova terluka saat merasakan sakit hati yang tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak.
"Nov," Widy yang jelas tahu perasaan sahabatnya menyentuh bahu Nova.
"Kenalin, Tante cantiknya Galen." Ucap Galen bangga memperkenalkan kekasihnya.
__ADS_1
Sani hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang di balas Bagas dan Widy, namun tidak dengan Nova yang justru menatapnya tak suka.
Sani hanya tersenyum tipis, melihat reaksi wanita didepanya membuatnya sudah mengerti.