
Galen yang baru terjun di dunia model dan berhadapan langsung dengan kamera dan jepretan lampu-lampu Blitz kamera membuatnya sedikit kaku. Tapi itu hanya sebentar bagi Galen, karena dirinya tidak ingin mengecewakan sang kekasih yang sudah memberinya pekerjaan.
"Senyumnya sedikit saja, kepalanya mendongak jangan lupa tangannya." Tim peraga yang membatu Galen selalu memeberikan pengarah, hingga beberapa foto yang berhasil di ambil tanpa harus take ulang.
"Good job, huuu!!"
Mereka bersorak setelah melihat hasil yang cukup memuaskan, bahkan pekerjaan mereka selesai lebih cepat dari waktu yang bisanya.
Sani bertepuk tangan mendekati Galen setelah para Crew berjabat tangan memberikannya semangat dan selamat.
"Sepetinya model baru kita bakalan ngalahin model papan atas." Ucap Fani yang berdiri disamping Sani sambil tersenyum.
Galen hanya tersenyum tipis, pemuda itu menatap kekasihnya dengan dalam.
"Terima kasih Tante cantik, semoga hasilnya memuaskan untuk Tante cantik." Ucap Galen disertai senyum yang biasa Sani lihat. Tanpa Sani tahu jika senyum yang Galen tunjukkan hanya untuk wanita itu saja.
"Hm, kalau tidak memuaskan kamu tidak aku pakai lagi." Ucap Sani suara tegasnya dan tatapan tajam.
Bukanya takut, Galen justru tertawaa, Hingga tawanya mereda saat mendengar suara cacing yang berdemo.
Galen nyengir sambil menyentuh perutnya, "Heee, sangking semangatnya hari pertama kerja, sampai lupa buat makan."
__ADS_1
Sani membulatkan matanya, "Ini sudah jam berapa Galen, kamu ceroboh." Omel Sani dengan suara menahan kesal.
Jam sudah hampir menunjukan waktu makan siang, dan Galen bahkan melupakan makan paginya.
"Fan, antar makanan keruangan saya." titah Sani sambil berlalu pergi.
Galen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kekasihnya kalau sedang ngomel ngeri juga.
"Gal, kamu kasih apa mbak Sani kok perhatian sama kamu?" Tanya Fani sambil berbisik.
Galen hanya geleng kepala, dan saat ingin menjawab suara Sani yang memanggilnya membuat Galen semakin takut.
"Mbak Fani kalau betina ngamuk, nanti bantuin aku ya." Ucap Galen sebelum berlari meninggalkan Fani yang melongo.
*
*
Di dalam ruangan Sani Galen hanya duduk di sofa single diruangan itu, Sani yang sibuk memeriksa hasil pemotretan tadi membuat Galen mengintip.
"Teryata pacar Tante cantik ini tampan ya kalau di foto." Ucap Galen berniat untuk memecah keheningan.
__ADS_1
Sani melirik Galen sekilas, dia kok bingung sendiri pose mana yang akan dia pakai.
"Kalau bingung pilih foto banyak, yang gampang pilih orang nya loh cuma satu ini." Kata Galen lagi yang sejak tadi mulutnya tidak mau diam.
Sani menatap Galen yang tersenyum padanya, kalau dilihat wajah Galen memang menjual, tapi Sani tidak menyangka jika memilih tiga di antara banyaknya foto Galen dia kesusahan.
"Kenapa kamu tidak mau mencobanya jadi model sejak dulu?" mengabaikannya candaan Galen, Sani memilih bertanya.
Galen menghela napas, punggungnya ia sandarkan di bahu sofa.
"Kalau sejak dulu jadi modelnya, aku ngak akan ketemu ayang, yang ada aku pasti sudah ketemu wanita yang lain."
Jawaban Galen membuat Sani menghela napas, Sani berdiri dari duduknya dan tanpa Galen duga wanita itu duduk sisi sofa tempat Galen duduk.
"Tapi kamu pasti sudah jadi model terkenal, dan pasti banyak mendapat tawaran kerja." Ucap Sani sambil memainkan rambut Galen.
Otak licik Galen mulai bekerja, mumpung ada kesempatan Galen langsung memeluk pinggang Sani, membuat wanita itu sedikit berjingkat kaget.
"Ngak tertarik, aku hanya tertarik apapun itu yang bersangkutan dengan ayang." Jawab Galen sambil menyandarkan kepalanya di dada sang Kekasih. Hangat dan nyaman, Galen seperti sosok anak yang sedang bermanja-manja dengan ibunya.
"Ish, jangan modus Len!"
__ADS_1
Sani mendorong bahu Galen agar menjauh. Galen yang tertangkap basah isi otaknya hanya bisa tertawa.
"Modus dikit, itung-itung ngicip dari luar." ucapan Galen membuat Sani mendelikkan matanya tajam membuat Galen semakin tertawa.