Brondong I Love U

Brondong I Love U
Dasar Brondong


__ADS_3

Sampainya di lokasi pemotretan, Sani lebih dulu masuk dan diikuti Galen dari belakang.


Di dalam studio ternyata sudah ramai, perlengkapan sudah siap semua tinggal menunggu si model.


"Galen kamu langsung saja masuk ke ruang kostum, sambil menunggu Quinara." Ucap Fani yang menghampiri Galen.


"Quin belum datang?" Sani menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Belum Mbak, katanya masih di jalan." Jawab Fani yang tadi sudah menghubungi Quinara.


"Galen, kalau Udah jadi model terkenal sedang naik daun jangan suka telat ya, hargai waktu dan orang-orang yang berkerja bersama mu." Ucap Fani sambil memberikan senyum meledek.


"Ish, mbak Fani apaan sih. Aku mau jadi model cuma buat ayang, yang lain ngak." Jawab Galen santai.


Sani hanya tersenyum, "Kalau karir kamu bagus, kenapa tidak?"


Galen menatap Sani sambil memicingkan matanya, "Mbak Fani aku kasih tau, Dia itu pintar bicara saja tapi tidak dengan perasaanya," Galen menatap Fani dengan wajah seriusnya, sedangkan kini gantian Sani yang menatap Galen memicing penuh curiga.


"Kok begitu? kenapa?" Tanya Fani penasaran.


"Kamu kenal Quinara tidak?" Galen menirukan ucapan Sani saat di mobil tadi.


Fani ingin tertawa sudah maksud dengan apa yang Galen pragakan.


"Ngak kenal tapi tahu." Jawabnya sesuai seperti tadi. "Kan emang begitu, aku tahu tapi ngak kenal, tapi muka dia udah masam mbak alias cemburu. yang ada kalau aku jadi model terkenal bisa cepet tua karena dicemburui terus."


Plak


"Galen!!"

__ADS_1


Galen tertawa sambil memegangi lengannya yang di pukul keras, meskipun sedikit ngilu tapi dia suka mengerjai Sani dan membuat wajah wanita itu merah kerena kesal.


"Sayang ampun!" Galen masih tertawa dan menahan tangan Sani yang terus memukulinya menggunakan tasnya.


Sedangkan Fani terbelalak namun juga ikut tertawa melihat wajah atasanya yang merah antara malu dan marah.


"Ampun Tante cantik," Galen masih minta ampun sambil memeluk tubuh Sani yang berontak.


"Jangan marah ihh, becanda tapi sayang banyak-banyak."


Cup


"Galen!!" Kali ini Fani yang memekik mendapat tontonan yang membuatnya malu sendiri.


*


*


"Galen! Galen Bagaswara!" Pekik Quinara saat melihat Galen datang mendekat kearahnya, lebih tepatnya Galen mendekati sang Sani.


"Hm, Hay." Sapa Galen apa adanya, bahkan hanya tersenyum tipis.


Sani melirik Galen dan Quin bergantian yang di balas Galen dengan bibir komat-kamit mengucapkan tiga kata yang membuat Sani justru salting sampai membuang wajah.


"I love you."


Tanpa suara dan hanya Sani yang tahu.


"Aku pikir namanya Galen, bukan kamu? tapi ternyata kamu Len!" Quinara terlihat sangat antusias untuk akrab dengan Galen.

__ADS_1


Sedangkan Galen masih bertahan dengan sifat cueknya dan hanya senyum sekilas.


"Oke, ayo kita mulai!!" Suara Crew yang sudah menandakan jika mereka sudah harus bersiap untuk melakukan pemotretan.


"Ayo Quin," Ajak Fani.


"Galen ayo!" Quinara hendak manarik tangan Galen, namun pemuda itu justru memasukkan tangannya kedalam saku celananya, yang mana membuat Quinara tersenyum masam.


"Duluan saja, mbak Fani mengajak kamu." Ucap Galen yang membuat senyum Quinara langsung kaku.


Dengan terpaksa sambil menahan malu, Quinara berjalan menuju stan pemotretan lebih dulu, karena dia akan melakukan pemotretan single lebih dulu sebelum bersama Galen.


"Ngak kenal, tapi tahu? prettt!"


Sani melirik Galen sinis sambil bersedakep dada, sedangkan Galen terkekeh sambil menunduk.


"Dia yang begitu, aku cuma tahu tapi tak sedekat itu. Karena aku sukanya dekat sama Tante cantik." Katanya dengan suara pelan hanya Sani yang mendengar.


Sani mencebikkan bibirnya, tapi melihat cara Galen berinteraksi sudah membuat Sani percaya, dan Galen bicara dengan jujur.


"Sudah sana, nanti Tim yang akan mengarahkan gayanya, aku mau ke dalam dulu, siap-siap." Ucap Sani yang hendak berlalu pergi tapi tangannya di cekal Galen.


"Mau kemana?" Tanya Galen.


"Aku juga ada pemotretan untuk besok Galen, tapi setelah kalian." Sani tersenyum dan melepaskan tangan Galen. "Ingat, dengarkan arahan Crew jangan inisiatif sendiri, awas kalau macam-macam!" Ancam Sani sambil menunjuk wajah Galen dengan jari telunjuknya.


"Satu macam aja, mau sama ayang." Galen menoleh kanan dan kiri, tak lupa belakang juga, di rasa aman dengan sengaja dan cepat kilat sebuah bibir mendarat cepat di landasan daging kenyal milik Sani.


"Galen!" Pekik Sani tertahan saat Galen sudah berlari sambil tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Dasar Brondong!" Umpat Sani sambil mengulum senyum dengan wajah merona.


__ADS_2