
Sani mondar mandir di dalam kamarnya, seharian nomor Galen tidak bisa dihubungi, untuk pertama kalinya Sani merasakan kahawatir.
Tanganya sejak tadi menggenggam ponsel, wanita itu tampak gelisah namun tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Kemana dia, tidak biasanya dia begini." Sudah seperti candu dengan seorang Galen yang terbiasa berkomunikasi hampir dua puluh jam, ini kali pertama pria itu tidak ada kabar membuatnya merasa aneh dan gelisah.
"Ck, gak aktif." Decaknya yang kembali mendengar suara operator saat menghubungi nomor Galen.
Sani memilih untuk membuka laptopnya, ia lebih baik melakukan pekerjaan positif untuk mengalihkan pikirannya tentang Galen yang tidak ada kabar.
*
*
Prankkk!
Prankkk!
Suara benda yang terlempar dan pecah membuat kamar seorang pria sangat berantakan dan kacau.
Brak! brak!
"Gerald buka pintunya, ini Mama!" Inggrid berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar Gerald, sejak pulang dengan wajah menahan amarah dan mengunci kamarnya, Ingrid sudah merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Nyonya ini kunci kamarnya" Seorang pelayan membawakan kunci cadangan yang di minta Ingrid.
"Buka cepat!" Wajah Ingrid benar-benar panik.
"I-iya nyah." Pelayan dengan gugup membuka kunci hingga saat pintu terbuka wajah Ingrid dan palayan begitu terkejut.
"Gerald!"
"Den Gerald." Pelayan sampai menutup mulutnya melihat kekacauan dan keadaan anak majikannya.
"Gerald hentikan!" Inggrid meraih tubuh Gerald dan menariknya.
"Lepas!!"
__ADS_1
"Gerald hentikan!!"
Ingrid sampai mundur saat Gerald menyentak tubuhnya, wajah Gerald begitu menakutkan saat tidak bisa mengendalikan dirinya yang dikuasi kemarahan.
Prankkk
Auwsss
"Den Gerald!" Pekik pelayan yang melihat Nyonya bercucuran darah dari kepala yang terkenal lemparan sebuah benda dari Gerald yang dikuasi amarah.
Pelayan itu langsung menerobos masuk dan memeluk Ingrid yang hampir saja tumbang.
Gerald yang melihat dengan napas memburu menatap tangannya yang bergetar, tangan ini yang melakukanya.
"Nyonya," Ucap pelayan yang panik melihat darah mengalir deras dari kepala.
"M-mamah." Lirih Gerald dengan tatapan nanar.
"G-gerald hentikan nak." Tatapan Ingrid terlihat sayu, wajahnya menahan rasa sakit di kepalanya.
Gerald mendekat dan menjatuhkan tubuhnya di samping Ingrid.
*
*
Sofyan yang sedang diluar bertemu dengan rekannya mendapat kabar jika istrinya dilarikan kerumah sakit membuat pria itu langsung mendatangi rumah sakit untuk melihat kondisi Ingrid.
Sofyan yang baru masuk dan melihat Gerald duduk di sisi ranjang Ingrid langsung mendekat dan melayangkan sebuah tamparan kewajah Gerald.
Plak!!
"Mas!" Suara Ingrid tak terima melihat anaknya di tampar.
Sofyan menatap tajam Gerald, tatapan matanya yang begitu tajam membuat bibir Ingrid bergetar dengan rasa takut.
Sedangkan Gerald mengusap pipinya yang terasa kebas, dan bibirnya yang terasa anyir pasti mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Kau begitu tidak tahu diri! siapa yang akan percaya jika orang yang akan menjadi pemimpin memiliki kelainan jiwa seperti mu!!"
"Sofyan!!" Ingrid menggelengkan kepalanya.
Sofyan tidak terpengaruh, matanya menyorot tajam pada Gerald yang kini balas menatapnya tajam.
Di katai seperti itu jelas membuat hati Gerald sakit, meskipun kenyataanya dirinya memiliki kekurangan.
"Kau malu mengakui anak ini pria tua." desis Gerald dengan sinis. "Kau yang membuat anak ini memiliki depresi, kau yang menciptakan monster kecil ini hingga sekarang."
Tangan Gerald terkepal erat, napasnya mulai memburu dengan tatapan kebencian.
"Kau tidak akan lupa bagaimana kau menciptakan monster ini pria tua!"
Ingrid hanya bisa menangis melihat ketegangan diantara anak dan suaminya, ia tidak ingin keduanya bertengkar yang akan membuat orang lain tertawa dia atas kekacauan keluarganya.
Sedangkan Sofyan terlihat sekali membenci pemuda yang berdiri didepannya ini, mahluk yang ia besarkan tanpa adanya perbedaan justru kini membuatnya merasakan malu dan juga kekecewaan.
"Mas, hentikan tolong." Ucap Ingrid yang sepertinya mengerti dengan keadaan.
Mendengar ucapan mamanya membuat Gerald menatap Ingrid tidak percaya.
"Gerald sudah, kalian sama-sama sedang dikuasai amarah.Tolong jangan bertengkar lagi."
Ketegangan masih kentara di dalam ruangan itu, baik Gerald dan Sofyan tidak ada yang melunak, sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, Ingrid memilih menyakiti dirinya.
"Mah, apa yang Mama lakukan!" Gerald bergerak cepat saat melihat Ingrid ingin menarik paksa selang infus di tangannya.
"Tidak, lepaskan. Mama tidak ingin melihat kalian bertengkar." Ingrid masih berusaha melepaskan selang infus.
Sofyan mengusap wajahnya kasar, pria itu memilih pergi meninggalkan dua orang yang ternyata membuatnya merasa muak.
Melihat Sofyan pergi Ingrid tak lagi memberontak, wanita itu menangis terisak di pelukan Gerald.
"Aku tidak akan membuat Irene tersenyum bahagia melihat semua ini, aku bersumpah untuk melindungi keluarga ku."
*
__ADS_1
*
Aa Galen absen dulu 😘