Brondong I Love U

Brondong I Love U
Buaya buntung


__ADS_3

Hari-hari Sani di lalui seperti biasa, wanita itu selalu sibuk dengan pekerjaannya yang tidak pernah akan habis. Sekedar untuk menongkrong saja Sani tidak punya waktu padahal para wanita seperti dia masih banyak yang menghabiskan waktu untuk sekedar melepas penat.


Sani fokus pada layar laptopnya, matanya tertuju pada benda persegi itu yang menampilkan beberapa grafik di Liora Secret. Hingga sebuah ketukan pintu membuat Sani tidak menghentikan kegiatannya.


"Masuk!" Serunya untuk orang yang mengetuk pintu.


"Halooo!!"


Sani mendongak saat mendengar suara yang begitu ramai. Indah dan Dinda sahabatnya datang dengan wajah full senyum.


"Kalian!"


Sani yang terkejut langsung berdiri meyambut kedatangan sahabatnya di masa sekolah, ketiga wanita itu saling berpelukan untuk melepas rindu.


"Kangen kalian." Mereka sama tertawa, Sani sampai terharu.


"Gilak bos muda kita ini," ucap indah sambil berdecak kagum melihat sahabatnya yang sukses.


"Ngak nyangka Lo bisa sukses dalam bidang impian Lo." Dinda menimpali.


Sani hanya tersenyum dengan wajah bahagia, rasa lelah nya tadi berubah menjadi rasa bahagia.


"Kalian ini bicara apa?" Sani membawa kedua sahabatnya untuk duduk di sofa.


"Lo itu teman kita yang paling sibuk, dan kesibukan Lo itu patut di acungi jempol." Ucap Indah yang di angguki Sani.


"Owner Liora Secret gaess, bukan kaleng-kaleng." Timpal Dinda yang malah membuat Sani tertawa.


Mereka mengobrol ngalor ngidul menceritakan hal-hal yang lucu, bagi mereka saat bertemu membicarakan soal pekerjaan yang ada malah stres. Lebih baik saling menghibur agar capek kita hilang.


Setelah mengobrol, mereka bertiga memutuskan untuk hangout karena sudah lama sekali mereka tidak pernah bisa berkumpul karena kesibukan masing-masing.


"Sani Lo gak mau rekrut gue jadi aisisten Lo." Ucap Indah sambil mengemudikan mobilnya.


Indah dan Dinda datang ke kantor Sani hanya menggunakan mobil indah, dan kini ada Sani juga yang ikut mobil Indah.


"Gue rasa atasan duda Lo lebih menarik dari pada atasan seperti gue." Jawab Sani dengan meledek.


"Sialan Lo!!" Balas Indah dengan wajah masam membuat Dinda dan Sani justru tertawa.

__ADS_1


"Lagian duda 35 tahun itu hot tau, perhatiannya begitu tulus, gua bisa rasain bedanya duda sama perjaka." Kata Indah lagi sambil melirik Sani yang duduk disebelahnya, Indah menaik turunkan alisnya sambil tertawa.


"Duda Sudah berpengalaman tidak akan tersesat, sedangkan perjaka masih berkelana dan suka pindah-pindah." Celetuk Dinda yang duduk di jok belakang sambil mencondongkan tubuhnya kedepan agar bisa ikut kericuhan sahabatnya.


"Hahaha, sepertinya Lo lebih pengalaman Din." Kata Sani sambil menoleh pada Dinda.


"Pengalaman sih belum, tapi kata pawangnya memang seperti itu."


Sani semakin tertawa sambil geleng kepala, sedangkan Indah bersorak dengan heboh.


"Kalau Lo enakan yang mana San? Udah pernah nyoba jadi pawang belum?" Tanya Indah sambil fokus menyetir.


"Gue mana ada begituan, entahlah. Gue cuma mau laki-laki setiap seperti bokap gue tapi semua bulshit." Ucap Sani dengan wajah masam.


Mobil yang dikendarai Indah sampai di parkiran sebuah kafe. Kafe favorit mereka kalau sedang hangout bareng.


Ketiganya masuk dengan kericuhan obrolan mereka, membuat mereka menjadi pusat perhatian pengunjung yang datang terutama pengunjung laki-laki.


"Di sana aja, lebih klop pemandangannya." Dinda menarik tangan kedua sahabatnya untuk mengikutinya. Sampainya di meja yang Dinda pilih tiba-tiba tatapan Sani tertuju pada empat orang mahasiswa yang salah satunya ia kenal.


Sani ingin menyapa Galen saat pemuda itu menatap kearahnya, tapi belum sempat bibir Sani berucap Galen sudah membuang wajah dan tampak sibuk dengan temannya.


"Dua wanita dan dua pria," Gumam Sani saat melewati meja tempat Galen berkumpul bersama sahabatnya.


"Mereka masih muda aja pada ngedate, lah kita yang Udah bangkotan kok gak laku-laku." Tutur Dinda dengan wajah masamnya.


"Kita? Lo aja kali Din, gue ngak." Balas Indah sambil tertawa.


Keriuhan mereka benar-benar menyita perhatian pengunjung, bahkan sahabat Galen ikut berkomentar.


"Len, belakang Lo spek bidadari semua Len, bening-bening." Ucap Bagas, yang duduk bersebalahan dengan Widy.


Galen tidak menanggapi, pemuda itu memilih sibuk dengan ponselnya.


Nova menoleh kebelakang bibirnya mencebik, "Spek bidadari apa? yang ada itu sih tante-tante." Ucap Nova ketus, "Len cobain ini." Nova menyodorkan satu sendok eskrim didepan mulut Galen, berharap Galen akan menerimanya, itu berarti secara tidak langsung mereka akan berciuman bibir.


"Gue nggak suka dingin-dingin Nov." Ucap Galen datar sambil mendorong tangan Nova didepan wajahnya menjauh.


Wajah Nova seketika cemberut, Galen benar-benar susah di dekati.

__ADS_1


"Mata Lo katarak Va? sama Lo yang mahasiswa aja kalah mulus sama cewek itu yang Lo bilang Tante." Ucap Bagas dengan wajah tanpa dosa dan kata-kata tanpa pemberat.


Galen melirik Bagas yang biasa saja, berbeda dengan Nova yang sudah menunjukan taringnya kesal.


"Mata Lo yang katarak Gas!" Ketus Nova yang tidak terima.


Bagas tertawa, "Apalagi yang pake baju Peach paling cantik dan imut." Puji Bagas lagi.


Galen memberikan tatapan belati untuk Bagas, tapi Bagas tidak peka perasaan terhadap Galen yang sedang kesal padanya.


"Hay cantik!"


Tiba-tiba suara seorang pria dibelakang mereka menyapa tiga wanita yang sedang asik mengobrol.


"Hay, siapa?" tanya Indah dengan senyum ramahnya.


"Kenalin aku Regan, ini Regio sahabat aku." Ucap pria yang bernama Regan memperkenalkan diri.


"Sendirian aja ladies?" Tanya Regio dengan senyum tampan yang dia miliki.


Senyum Regio hanya mampu di balas oleh Indah dan Dinda. Sedangkan Sani wajahnya datar-datar saja. Sejak tadi entah kenapa perasaanya tidak tenang.


"Bertiga! ngak liat!" Ketus Dinda membuat dua sahabatnya geleng kepala.


Kedua pria itu saling terkekeh, mereka mengobrol dan hanya Indah dan Dinda yang menimpali, Sani lebih banyak diam.


"Kenapa kamu diam saja? apa kami mengganggumu?" tanya Regan yang menatap Sani hanya diam saja.


"Tidak apa-apa." Sani tersenyum singkat.


"Boleh save nomornya, siapa tahu perkenalan kita berlanjut."


Tanpa di sadari seseorang di belakang mereka seja tadi menguping, kini dada Galen bergemuruh hebat saat Sani di dekati pria.


Galen meremat sendok yang dia pegang kuat, tatapan matanya begitu tajam menyiratkan kekesalan.


"Buaya buntung!!" Umpat Galen dengan menahan geram.


*

__ADS_1


*


Kalau Aa Galen apa? Buaya licik 🤣🤣🤣


__ADS_2