
Sani selalu tersenyum dan tertawa jika Galen sudah usil, tingkah Galen yang rondom justru membuat Sani terhibur melupakan lelahnya seharian bekerja.
Siapa wanita yang tidak akan meleleh jika mendapatkan perhatian dan juga kasih sayang yang tulus. Sani yang tumbuh dengan banyak limpahan kasih sayang pun masih bisa bersyukur dengan kasih sayang yang diberikan Galen dengan tulus.
"Buat ayang."
Tiba-tiba Galen muncul dan menyodorkan kembang gula berwarna pink berbentuk hati.
Kedua mata Sani berbinar melihat jajanan semasa kecilnya.
"Terima kasih." Katanya dengan bibir mengulas senyum bahagia.
Galen ikut tersenyum, tangganya mengusap kepala Sani lembut.
"Janji deh, lain kali diajak ke restauran mahal," Ucap Galen dengan masih tersenyum sambil menatap wanitanya dari samping.
"Mahal seperti apa sih, restauran mahal ngak ada jajan seperti ini." Sani mencubit kembang gula dan menyodorkan ke mulut Galen.
Dengan patuh Galen melahap pemberian Sani membuat wanita itu tertawa.
"Hm, kamu pasti setiap ngedate di ajak ke restoran mahal, tapi denganku malah di ajak ke pasar malam." Ucap Galen lagi sambil terkekeh.
Galen melepaskan sepatunya untuk alas duduk diatas rerumputan.
"Duduk sini," Galen menyuruh kekasihnya untuk duduk di atas sepatunya, dan Sani pun menurut tanpa berkomentar.
Dari tempat mereka duduk lesehan di atas rumput, wahana biang lala dan komedi putar terlihat begitu indah dengan lampu yang yang berkelip mengelilingi wahana itu, belum lagi suara kota-kota yang menggema menambah keramaian area pasar malam itu.
"Boleh tanya sesuatu ngak?" Ucap Galen sambil menatap wanitanya dari samping, Sani yang asik menikmati kembang gula mengangguk saja.
"Apa?" Tanya Sani melirik Galen sekilas.
__ADS_1
Galen terseyum melihat tingkah kekasihnya yang sepertinya sangat menikmati kembang gula itu.
"Aku boleh kerja sama Tante tidak?"
Sani terkekeh mendengar ucapan Galen, wanita itu mengemut jarinya yang terkena kembang gula membuat Galen justru menelan ludahnya dengan susah.
"Duh, kalau an*u gue yang di ****- astaghfirullah! nyebut Len!" Rutuk Galen dalam hati.
Galen membuah wajah sambil menelan ludah, otaknya kok jadi tercemar dan tidak higienis lagi.
"Memangnya kamu mau kerja apa? sebaiknya kamu fokus sekolah." Ucap Sani yang sudah selesai menghabiskan kembang gula tanpa sisa.
Meraih minuman kemasan botol, Sani menenggaknya hingga tandas.
"Ya apa saja, penting bisa nabung buat beli mas kawin." Jawab Galen dengan wajah konyolnya.
Sani justru tertawa, membuat Galen mencebikkan bibirnya.
Sani meredakan tawanya, ia tatap lamat-lamat wajah Galen yang menurutnya sangat tampan dan lucu.
"Hm, sepetinya ada pekerjaan yang cocok."
Mendengar itu wajah Galen langsung berbinar cerah.
"Yesss!! beli maskawin buat nikahin ayang!" Katanya dengan penuh semangat.
Sani hanya bisa tertawa dan geleng kepala, bersama dengan Galen tidak ada waktu yang dilewatinya dengan bosan, justru merasa terhibur dan Sani lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.
"Terima kasih." Galen merangkul bahu Sani dan hendak mendaratkan kecupan di bibir, tapi Sani lebih dulu menutup bibirnya dan Galen hanya mencium pugung tangannya.
"Ngak sopan, mesum di tempat umum!" Protes Sani membuat Galen tertawa malu sambil celingukan.
__ADS_1
*
*
Galen mengantar Sani tempat tinggal orangtunya, karena Sani yang meminta.
"Ngak boleh mampir apa?" tanya Galen dengan wajah berharap.
Sani menggeleng, "Ngak ada orang, dan kalau sedang berduaan yang ketiga setan." Tutur Sani sambil melirik Galen yang malah memanyunkan bibirnya.
"Memangnya pada kemana? ngak mungkin kan gak ada bibik apa pak satpam. Ngadi-ngadi berduaan yang ketiga setan. Yang ada yang ketiga itu pelakor!" Galen bicara dengan mimik wajah serius yang malah membuat Sani mengulum senyum.
"Pergi jemput calon mantu, kalau ngak banyak kerjaan aku juga pengen ikut." Kata Sani yang memang merindukan sahabatnya dari kecil.
Kini orang tua beserta kakaknya sedang pergi untuk menjemput Naumi, wanita yang sudah kakaknya sakiti fisik dan hatinya.
"Oughh, aku juga mau dong di jemput carmer sama Bumer." Galen tersenyum lebar dengan kedipan mata membuat Sani mendengus kesal.
"Sekolah yang bener, nanti cari kerja kalau Udah kerja yang rajin biar aku bisa duduk manis menunggu suami ku pulang sama anak-anak." Celoteh Sani hanya sebagai candaan perumpamaan, tapi justru wajah Galen yang langsung berubah berbinar cerah dengan senyum bahagia.
"Udah kayak keluarga sakinah dan harmonis, kalau nyicil anaknya dulu boleh ngak, biar semangat kerjanya, hehe!"
Plak
"Ogah!" Jawab Sani dengan wajah garangnya.
*
*
Mau nyicil anaknya dulu biar dapat induknya ya Len 🤣🤣🤣
__ADS_1