
Galen dan Quinara mengikuti instruksi Crew gaya untuk mendapatkan hasil terbaik foto mereka, meskipun berulang kali Quinara berusaha melakukan gerakan intim pada Galen.
"Quinara kamu terlalu dekat dengan Galen, tidak cocok untuk teman fashion nya." Suara Crew yang menginterupsi membuat Quinara berwajah masam.
"Terkadang yang gaya yang kamu minta terlalu monoton, jadi aku membangun chemistry agar hasilnya maksimal." ucap Quinara memberikan pendapat.
"Ck, kau itu hanya melakukan pemotretan fashion remaja, bukan majalah dewasa." Seru seorang pria yang merasa kesal dengan pendapat Quinara.
Quinara memang terkenal dengan arogannya, suka melakukan hal yang diluar nurul, apalagi sekarang mendapat lawan main Galen, gadis itu seperti menggunakan kesempatan untuknya.
"Mas Anton, kita mulai lagi. Kalau dia masih susah di atur ganti saja modelnya!" seru Galen yang sejak tadi juga merasa risih dengan merasakan interaksi Quinara yang semaunya sendiri.
Quinara yang tidak mendapat dukungan dari Galen memasang wajah masam.
"Dia ini sama saja, es balok yang susah mencair." Kesal Quinara dalam hati, "Tapi dengan sikap mu seperti itu semakin membuat ku penasaran Galen." Quinara tersenyum dalam hati.
Pemotretan kembali berjalan sesuai pengarahan, Quinara tidak lagi banyak protes dan melakukan kesalahan seperti sebelumnya, karena dengan seperti itu justru ia akan membuat Galen jengkel padanya dan Quinara tidak mau itu terjadi.
"Oke, selesai!"
Huuuhhh
Semua Crew bersorak lega, meskipun hanya sekedar memotret yang terlihat gampang, namun tak semudah yang mereka lihat.
"Galen kamu mau kemana?" Quinara memanggil Galen yang langsung pergi meninggalkan dirinya setelah selesai.
Galen mendekati Fani yang sedang melihat hasil pemotretan tadi.
"Mbak, ayang dimana?" Bisik Galen disamping Fani agar tidak didengar orang lain.
Fani melirik Galen yang tersenyum padanya.
"Di ruang ganti, bentar lagi juga keluar." jawab Fani dan kembali menatap beberapa foto dilayar komputer.
"Len, coba lihat? kamu pilih yang mana, siapa tahu nanti pilihan kamu sama kek Bu bos?" Fani menujuk banyaknya foto hasil pemotretan tadi.
Galen sedikit pindah posisi agar bisa melihat dengan seksama.
"Kalau menurut aku yang Tiga ini mbak, lebih cocok." Galen menujuk tiga diantara beberapa foto.
__ADS_1
"Hem, okeh deh, nanti tinggal tunggu pilihan Bu bos, kalau sama berarti-"Fani mendekat pada Galen dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan, " Kalian sehati," bisik Fani sambil cekikikan.
Galen tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya. Hingga saat memalingkan wajah matanya menangkap sosok wanita yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Nah tuh ayang," Fani menyenggol lengan Galen, "Terpesona deh lu," Ucap Fani sambil terkekeh melihat reaksi Galen yang tidak berkedip.
Galen melihat Sani yang terlihat begitu cantik, bak slow motion senyum manis Sani dan cara wanita itu berjalan membuat dunia Galen seolah berhenti sejenak. Tatapan matanya hanya tertuju satu obyek, kekasihnya.
"Bagaimana, sudah selesai?" Tanya Sani yang sudah sampai didepan Galen dan Fani.
"Len!" Sani menatap Galen yang bengong dengan alis terangkat.
"Kena sawan terpesona dia Mbak," ledek Fani sambil terkekeh, tak lupa ia menyenggol lengan Galen sedikit kuat membuat Galen baru tersadar.
"Eh, kok." Galen bingung, tiba-tiba sang kekasih sudah ada di dekatnya.
"Apa? kaget! cantik kan Bu bos. Quinara aja kalah." Ucap Fani.
"Huss, jangan begitu." Sani mendelik menatap aisistennya.
"Cantik, pacar siapa sih."
"Mbak Fani reseh, sana pergi aja, ganggu!" Galen mendorong bahu Fani agar pergi.
"Dihh," Fani mencebik sebal.
Sani yang melihat hanya tersenyum, wanita itu menatap wajah Galen yang mengusir Fani terlihat lucu.
"Ayang mundur dikit napa?" ucap Galen setelah mengusir Fani tadi.
"Kenapa?" Bertanya tapi kakinya tetap melangkah mundur.
"Cantiknya kelewatan tau." Kata Galen dengan senyuman khasnya yang membuat Sani tersipu-sipu meong.
"Yee, salting. Tapi emang cantik kok, makin cinta." Galen lebih merapat, dan detik berikutnya mendarat kecupan di pipi Sani cepat.
"Galen!" Sani menyentuh pipinya dengan wajah merona, jangan lupakan matanya yang melotot.
Untung saja Crew sedang sibuk menyiapkan tempat untuk pemotretan lagi, di sana hanya ada mereka berdua.
__ADS_1
"Pengen kurung dikamar aja deh, biar beranak pinak."
"Ngak lucu Galen, sini ikut!"
Sani menarik tangan Galen cepat, dari pada berduaan membuatnya pingsan karena mulut Galen yang manis. Lebih baik Sani membalas Galen dengan tindakan.
"Eh, mau apa?" Galen terkejut.
Di ruangan itu hanya ada satu orang fotografer dan Fani, semua orang sudah Fani usir karena perintah Sani.
"Duh, Mas Andre Jangan pingsan ya tar kalau liat keuwuan mereka." Ucap Fani yang merasakan jantungnya dag Dig dug.
Pria bernama Andre hanya tertawa, "Mereka serasi mbak, cantik dan ganteng." Katanya memuji dua orang yang baru datang dan berdiri didepannya.
"Sayang,"
Galen menelan ludah saat kedua tangan Sani berada di lehernya, bahkan wanita itu mendekatkan wajahnya membuat bibir mereka begitu dekat.
Tatapan kedua mata mereka terkunci satu sama lain, seolah hati mereka bicara lewat sorot mata yang dalam.
Cekrek
Cekrek
Suara dan lampu blitz kamera tidak membuat keduanya merasa terganggu, justru membuat Sani langsung melakukan beberapa gerakan untuk mengambil foto.
Galen yang mengerti mengikuti kata hatinya, dan keduanya melakukan gerakan alami dan intim yang justru membuat Andre sang fotografer berdecak kagum.
"Cantik, aku tidak akan bosan mengatakannya." Ucap Galen sambil membelai sisi wajah Sani.
Bibir Sani mengulas senyum, tangannya merayap naik kebelakang kepala Galen, dan bibirnya begitu dekat dengan telinga Galen.
"Galen, I love you."
*
*
Mleyooot ngak tuh🙈
__ADS_1