Brondong I Love U

Brondong I Love U
Mantan


__ADS_3

"Daniel siapa?" tanya Galen.


Saat ini keduanya sedang duduk berdua di sebuah saung yang menunjukan keasrian sekitar.


Galen mengajak Sani untuk makan siang di tempat yang berbeda. Baru pertama kali Sani makan di tempat yang sederhana namun pemandangan yang menyejukkan mata, bahkan makanannya terlihat sederhana seperti menu kampung tapi soal rasa Sani tidak meragukan setelah mencicipi ayam bakar madu yang sangat enak.


"Em, dia mantan pertama ku, sebelum Nick." Jawabnya sambil memasukkan potongan daging ayam kedalam mulutnya, bahkan baru kali ini Sani makan tanpa sendok, Sani menggunakan tangannya langsung.


Melihat kekasihnya makan dengan lahap Galen tersenyum dan menggeleng kecil, pasti kekasihnya ini tidak pernah makan di tempat sederhana namun memiliki nuansa tenang dan nyaman seperti ini.


"Enak, apa lapar?" Ledek Galen dengan bibir tersenyum.


Sani menatap Galen sekilas, cuek, wanita itu kembali menyelesaikan makanya tanpa peduli ledekan Galen.


"Enak dan lapar, aku tidak pernah tahu ada tempat makan seenak ini, bahkan tempatnya juga sangat nyaman." Katanya sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Kalau begitu habiskan, kurang bisa nambah." Ucap Galen sambil mengusap sudut bibir sani yang terdapat sisa makanan.


Sani menatap Galen yang justru memasukkan ujung ibu jarinya yang terdapat sisa makanan kedalam mulutnya.


"Manis, karena dari bibir mu." Ucap Galen dengan senyum penuh arti.


Sani mendelikkan matanya, dan kembali makan mengabaikan tingkah Galen yang membuat wajahnya tiba-tiba sedikit memanas.


Pengaruh Galen cukup besar jika didekatnya.


Setelah beberapa saat keduanya menyelesaikan makan dengan tenang. keduanya memilih untuk duduk di bawah pohon yang menyuguhkan sebuah danau buatan.

__ADS_1


"Hari ini sibuk tidak?" tanya Galen sambil menggenggam tangan kekasihnya, mengusap dengan ibu jarinya sesekali memainkan cincin yang Sani pakai.


"Kenapa?" Tanya Sani yang memilih to the poin.


"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, tapi kalau tidak sibuk." Katanya lagi.


Sani menatap wajah Galen yang juga sedang menatapnya, tangannya mengusap pipi Galen dengan lembut. Entah kenapa rasanya selalu senang meskipun berada ditempat sederhana, dulu-dulu Sani suka di ajak ketempat yang mewah dan berbintang, tapi sekarang dirinya merasa lebih senang saat menemukan tempat yang ternyata lebih indah dari restoran bintang lima.


"Bukanya aku tidak mau, tapi nanti aku harus melihat sampai mana persiapan untuk acara peluncuran Liora Jawellery." Kata Sani dengan raut tidak enak.


Galen menaikkan sebelah alisnya, "Liora Jawellery?"


Sani mengangguk. "Acara pembukaan produk perhiasan yang-"


"Astaga," Galen menepuk keningnya membuat Sani mengerutkan keningnya.


"Sayang, kalau kamu semakin sukses dan banyak usaha seperti ini, lalu bagaimana bisa aku menyamai mu agar aku pantas dan diterima untuk jadi suami." Keluh Galen dengan wajah menyedihkan.


Sani tertawa melihat wajah Galen menyedihkan namun juga menggemaskan menjadi satu, sungguh tidak tahan untuknya tidak mencubit pipi Galen.


"Sayang sakit!" Pekik Galen saat pipinya dicubit begitu keras.


"Kalau kita menikah, kamu yang bekerja aku dirumah menunggu suami pulang dan mengurus anak kita. Bagaimana?" Katanya sambil memainkan alisnya naik turun dan bibir mengulas senyum jenaka.


Mata Galen melotot, pemuda itu membenarkan posisi duduknya menghadap sang kekasih.


"Kalau begitu ayo kita menikah!" Ucap Galen dengan penuh semangat.

__ADS_1


Bugh


"Butuh bukti, bukan cuma ucapan!"


"Oke, Besok aku akan datang melamar!"


"Galen, ish nyebelin!!"


Bibir Sani mengerucut kesal.


"Tapi cinta kan,"


"Ngak, kamu nyebelin!"


"Nyebelin tapi nyenengin kan?" Galen tersenyum sambil memainkan alisnya membuat wajah Sani kian merengut kesal bercampur gemas.


"Iya."


Dan keduanya langsung tertawa.


Galen langsung merangkul bahu Sani dan mendaratkan kecupan di kening.


*


*


Jangan lupa tinggalkan dukungan KALIAN sayang,. LIKE dan KOMEN kalian semua sudah menunjukan dukungan untuk karya ini 😘

__ADS_1


__ADS_2