Brondong I Love U

Brondong I Love U
Brondong I love you


__ADS_3

"Len, lu ngak salah bawakan?" Bagas mengucek matanya berulang kali demi memastikan.


Galen hanya geleng kepala sambil tersenyum kecil melihat tingkah Bagas.


Mereka duduk dengan meja bulat dan kursi yang di tata melingkar. Didepan Galen ada tiga sahabatnya, dimana di samping Galen duduk Bagas yang sejak tadi tak henti-hentinya menyakinkan dirinya.


"Ngak lah, kalau gue salah bawa tar gue bisa dipecat." Jawab Galen dengan bercanda. Sani hanya tersenyum, tangannya sejak tadi tidak Galen lepaskan, pemuda itu terus memegangi tangannya sesekali mengusap punggung tangan Sani dengan tangan satunya, membuat Sani merasa terlindungi dan diperhatikan.


Tak lama pesanan mereka datang, minuman dan makanan serta cemilan yang mereka pesan pun semua tersedia di atas meja.


Karena memang keduanya belum makan malam, jadi Galen memilih stik untuk kekasihnya.


Ketiga sahabatnya memilih menu favorit mereka, seperti biasa.


Saat Galen ingin memotong stik diatas piring, tiba-tiba suara Nova terdengar membuat mereka semua menatapnya.


"Len, bukanya lu ngak seberapa suka stik daging ya?" Ucapan Nova membuat atensi sahabatnya dan Sani menatap kearahnya.


Galen hanya tersenyum, tanganya masih memotong stik daging yang memang tidak seberapa Galen sukai.

__ADS_1


"Makan yang kenyang, kalau kurang nanti bisa nambah." Galen menggeser piring berisi stik yang tadi sempat dia potong kecil-kecil, dan didepan Sani yang terdapat spageti Galen geser untuk dia makan.


Perbuatan Galen mengudang suara riuh dari Bagas, berbeda dengan Nova yang justru memiliki wajah masam menahan malu. Niat ingin terlihat perhatian karena menjadi sahabat dekat Galen, tapi justru dirinya yang di hadapkan dengan kenyataan yang membuatnya kesal dan malu.


"Gue emang nggak seberapa suka, tapi stik daging adalah salah satu makanan favorit kekasihku." Tutur Galen dengan santai.


Seketika Bagas yang sedang ingin menelan minum terbatuk, Widy yang hendak menyuapkan makanan terhenti. sedangkan Nova sendiri merasakan dadanya yang bergemuruh dengan kedua mata yang terasa perih.


"Mungkin kalian tidak percaya," Ucap Galen yang melihat reaksi para sahabatnya, "Tapi inilah kenyataannya, dia pacar gue. Dan untuk kalian gue ngak meminta kalian untuk menerima Sani di sekitar kalian, yang gue harap kalian bersikap baik padanya." Galen menatap ketiga sahabatnya satu persatu.


Saat tatapanya mengarah pada Nova, wanita itu menunduk, dan Galen mengerti apa yang di sembunyikan Nova. Perasaan dan hati tidak bisa di paksakan, juga tidak bisa dikendalikan harus berlabuh dengan siapa. Ini adalah hidup Galen dan Galen lah yang menentukan.


Bibir Sani menyunggingkan senyum tulus, dalam tatapan wanita itu mengutarakan ucapan terima kasih untuk apa yang Galen lakukan. Di sini Sani merasa dihargai oleh Galen. Jika pria lain mungkin akan cuek saat memperkenalkan dirinya dengan para sahabatnya, tapi disini Galen justru menghargai keberadaanya dan membuatnya merasa nyaman.


Galen yang mengerti tatapan kekasihnya hanya tersenyum, megambil tangan Sani lalu mengecupnya, perbuatan Galen tak luput dari orang-orang yang ada di meja itu.


Tidak kuasa merasakan sesak di dadanya, dan air matanya yang sudah mendesak, Nova memilih untuk pamit ke toilet dengan buru-buru.


Mengerti dengan keadaan sahabatnya Widy pun ikut menyusul Nova yang pasti sangat sedih.

__ADS_1


"Len, lu bikin Nova patah hati," bisik Bagas disamping Galen.


Sani tidak menggubris, dirinya mengerti dengan situasi didepanya.


"Bukan gue, tapi dia sendiri." Ucap Galen dengan santai.


Yang Galen katakan tidaklah salah, sudah berulang kali Galen mengingatkan, jika dalam lingkaran pertemanannya, tidak ada yang menggunakan perasaan. Meskipun semua orang tahu jika perempuan dan laki-laki tidak ada yang namanya murni dalam pertemanan, tapi Galen mampu menerapkan pertemanan itu, dirinya memang tidak akan menjalin ataupun menyukai teman ataupun sahabatnya sendiri. Tapi berbeda dengan Nova yang berteman menggunakan hati, dan mungkin Nova juga menggunakan persahabatannya untuk mendapatkan hati Galen.


"Iya sih," Bagas mengangguk setuju, tidak ingin berpikir keras dan tidak jadi kenyang, Bagas memilih untuk makan dengan tenang.


Sedangkan Sani menatap Galen yang juga sedang makan dengan tenang, Galen yang merasakan diperhatikan menoleh, pria itu menaikkan satu alisnya.


"Brondong I Love you!"


*


*


Eyya,,,eya... reaksi Aa Galen gimana ini 🤣

__ADS_1


__ADS_2