
Hening, udara sekitar seperti berhenti, hanya ada hawa panas yang merasuk kedalam dirinya. Suara merdu dengan ungkapan kata keramat yang terucap dari bibir wanitanya membuat hidung Galen kembang kempis, belum lagi telinganya yang tadi mendengar tiba-tiba memerah dan bergerak-gerak seperti telinga cut pat kai.
"Katakan lagi," Galen menelan ludah dengan tatapan seriusnya, hanya untuk memastikan jika yang di dengar tadi bukanlah ilusi semata.
Sani hanya tersenyum dan menggeleng, apalagi matanya melihat dua orang wanita yang tadi pergi kini sudah datang.
"Len, gue anter Nova pulang ya. Dia ngak enak badan." Ucap Widy sambil menyentuh bahu Nova yang wajahnya sembab bukan pucat.
"Lah, makanan kalian. Mubazir loh PJ dari Galen ngak di makan." Ucap Bagas yang mulutnya sambil mengunyah.
"Bungkus aja Gas, buat lu!" Ucap Widy dengan ketus.
Bukanya tersinggung Bagas justru tertawa senang.
"Oke, thank udah mau datang." ucap Galen dengan tulus.
Nova melirik Galen yang tidak sama sekali tidak menyapa dirinya ataupun sekedar bertanya tentang keadaannya, membuat Nova merasakan semakin tinggi kadar sakit hatinya.
"Oke, have fun!"
Widy pun membawa Nova pergi setelah pamit, Sani hanya menatap Galen yang juga sedang menatapnya memelas.
"Sayang, ini makannya jadi ngak enak loh, hambar." Ucap Galen dengan wajah sendunya.
Sani justru terkekeh, ada-apa saja rayuan Galen ini untuk mendapatkan apa yang ingin ia dengar.
"Ngak ada siaran ulang, jadi-"
"Tante, I love you," Lirik Galen dengan tatapan memohon.
Bagas yang mengamati keduanya menjadi bingung melihat tingkah keduanya.
Sani menahan tawa, kepalanya menunduk menyembunyikan rona wajahnya.
"Tante! ish bikin gemes!" Galen menyentuh telapak tangan Sani dan menggenggamnya.
__ADS_1
Bagas yang menjadi obat nyamuk memilih pura-pura tidak melihat dan kembali fokus pada makanan di depannya.
Perut buncit, rambut kriting kriwil seperti itulah Bagas yang humble dan Wellcome.
Setelah cukup lama mereka mengabiskan waktu, ketiganya memilih untuk pulang karena memang sudah malam.
Seperti yang di katakan Widy, makanan mereka yang belum tersentuh akhirnya dibungkus untuk Bagas, sayang kan mubazir.
"Hati-hati bro!" Galen menepuk punggung Bagas yang sudah memakai jaket kulit dan sedang memakai helm di atas motor maticnya.
"Ho'oh, lu juga Len. Anterin tuan putri dengan selamat jangan belok-belok ke hotel."
Plak
"Bisa aja lu," Galen tertawa, begitu juga dengan bagas.
"Tante, kalau dia nakal putusin aja ya. abis itu jadian sama Bagas, biar dia nangis tujuh malam tuj-"
Plak
"Ngak akan!" lagi-lagi Galen memukul bahu Bagas, kali ini cukup keras membuat Bagas sempat mengaduh.
"Bagas hati-hati ya, terima kasih." Ucap Sani dengan senyumnya yang manis.
"Ish, ngak usah senyum sama ubur-ubur." Galen langsung berdiri didepan kekasihnya untuk menutupi senyum manis sang kekasih agar tidak dilihat Bagas, bisa-bisa Bagas nanti jatuh cinta sama Sani.
"Ya elah Len, Ngak pernah pacaran sekalinya pacaran posesif tingkat gila!!' Omel Bagas sambil menghidupkan mesin motornya dan berlalu pergi.
"Bagas sialan!"
"Huss, ngak boleh begitu." Sani menyentuh lengan Galen untuk masuk kedalam mobil.
"Besok tidak ada jadwal, pemotretan adanya lusa." Ucap Sani sambil memasang sabuk.
Galen masih diam, tanpa merespon.
__ADS_1
Melihat Galen yang diam saja, wajah Sani mendongak menatap Galen yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Sani sambil menaikkan satu alisnya.
"Cuma mau dengar, kata cinta tapi kok susahnya minta ampun," Ucap Galen dengan bibir cemberut.
Sani memutar kedua bola matanya malas, kenapa Galen persis seperti anak kecil yang merajuk karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Menghela napas, kedua tangan Sani terangkat dan menyentuh kedua sisi wajah Galen, di tatapnya kedua mata hitam pekat itu dengan dalam.
"Memangnya penting ya?"
Galen mengangguk gemas, membuat Sani mengulum senyum sambil menunduk.
"Kalau sayang udah sering, kalau cinta berarti hati ini sudah aku menangkan." Ucap Galen sambil menunjuk dada Sani dengan jari telunjuknya.
Jantung Sani berdebar, apakah yang dikatakan Galen benar jika hatinya sudah dimenangkan oleh pemuda tengil di depannya ini. Ya Tuhan kenapa perasaanya tiba-tiba meletup-letup tak terkira.
"Hm, begitu ya." Gumam Sani yang lagi-lagi mendapat anggukan kepala dari Galen.
"Mungkin kamu benar, jika hatiku sudah aku menangkan. Tanpa sadar kebersamaan kita selama ini menyisakan perasaan rasa takut kehilangan. Sebelumnya mungkin aku tidak pernah merasakan perasaan akan takut kehilanganmu Galen. Tapi melihat wanita lain menatap mu memuja membuat ku sadar jika aku tidak bisa kehilangan kamu."
Sani menyadari semua begitu cepat, tapi melihat wanita bernama Nova yang jelas-jelas menunjukan tidak suka terhadapnya membuat Sani memiliki perasaan tidak suka, ia tidak suka jika Galen di dekati wanita lain.
"Lalu," Galen menunggu kekasihnya mengutarakan perasaannya secara langsung, meskipun mendengar penuturan Sani barusan mampu membuat dada Galen berdebar kencang dengan perasaan meletup-letup.
"Ya, aku sudah mencintaimu. Brondong I love you!"
Senyum mengambang keduanya dengan wajah sama-sama berbinar, Galen langsung meraup wajah Sani dan menyatukan bibir keduanya.
Rasa bahagia menyelimuti hati keduanya, cinta yang bersambut mengalir indah dalam diri keduanya.
"Terima kasih," Bisik Galen saat tautan bibir keduanya terlepas, Galen menyentuh sisi kepala Sani dan kembali mencium bibirnya lagi dengan penuh kelembutan dan segenap perasaan yang dia miliki.
*
__ADS_1
*
Sampai nikah ngak yaa🤣🤣🤣