Brondong I Love U

Brondong I Love U
Benci penghianatan


__ADS_3

Dalam sekejap hati keduanya seperti ditumbuhi banyaknya bunga yang bermekaran. Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan keduanya selain kata bahagia meskipun hanya kata cinta yang terucap.


Kebutuhan materi yang sudah Sani dapatkan sejak lahir tidak membuatnya merasa kekurangan, justru Sani hanya ingin mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang yang menerima dirinya apa adanya serta menghargai sebuah arti hubungan dengan kejujuran, tanpa adanya kebohongan dan penghianatan.


Sani tahu jika pemuda didepanya ini masih sangat muda, bahkan delapan tahun adalah angka yang sangat jauh dari umurnya, hanya rasa nyaman dan ingin memiliki membuat Sani megambil keputusan yang mungkin akan banyak resiko untuk kedepannya, semua Sani serahkan pada penciptaan dan ia menjalani prosesnya.


"Maukah kau berjanjilah padaku," Ucap Sani saat keduanya sudah saling melepaskan tautan bibirnya.


Kini keduanya sudah duduk dengan benar, dan perlahan Galen menjalankan mobilnya.


"Hm, apapun jika aku bisa aku pasti akan menepatinya." Galen menoleh pada Sani dan kembali fokus ke jalan raya yang lumayan ramai.


"Asal kau tahu, aku paling membenci penghianatan." Ucap Sani dengan sungguh-sungguh.


"Ya, aku tahu." Jawab Galen dengan santai, bahkan bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Sani mengerutkan keningnya, menatap Galen dari samping.


Melihat wajah sang kekasih yang sepertinya bingung, Galen mengulurkan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Sani.

__ADS_1


"Masih ingat saat pertama kali kita bertemu, di pinggir jalan saat itu kamu seperti wanita frustasi yang ingin lompat ke sungai." Tutur Galen, sambil fokus menyetir dan sesekali melirik kekasihnya.


"Kamu berteriak jika kamu membenci seorang pria." Tambah Galen.


Sani mengangguk, "Ya, saat itu aku memergoki Nick sedang bermain ranjang dengan seorang wanita, aku tidak masalah jika dirinya berterus terang. Hanya karena aku tidak bisa membuatnya puas dia bermain di belakangku, semua pria itu sama, sama-sama tidak bisa menjaga rudalnya yang suka mencari lubang becek." Ucap Sani dengan nada kesal di belakangnya.


Galen yang mendengar membelalakan matanya, "Aku tidak seperti itu sayang, sumpah!" Galen mengangkat tangannya dan menunjukan dua jarinya membentuk angka V, "Kalau kamu tidak percaya kamu bisa lakukan tes visum keperjakaan." Katanya dengan sungguh-sungguh.


Plak


"Aduh, kok malah dipukul." Galen meringis saat merasakan bahunya terasa panas.


Galen justru tertawa cengesan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku kira ada loh sayang, tapi aku masih perjaka kok, kalau mau coba hayukkk."


"Galen!!"


Bugh

__ADS_1


*


*


Dikediaman Tuan Sofyan, rumah mewah dan besar terdiri dari dua lantai.


Seorang wanita cantik dengan wajah anggunnya duduk dengan santai dan terlihat berkelas.


Didepanya ada seorang wanita yang juga sama cantiknya, wanita sosialita yang sama-sama punya nama.


"Jam berapa mas Sofyan pulang Mbak?" tanya wanita yang duduk anggun sambil menyesap teh hangat yang di bawakan pelayan tadi.


"Kamu bisa tinggalkan pesan saja, Mas Sofyan pasti pulang malam." Jawab wanita yang menatap wanita didepanya dengan tatapan tidak suka, namun terpaksa ramah.


"Aku pikir bisa bertemu, padahal aku sengaja pulang dari kantor langsung kesini." Ucap wanita dengan senyum ramah tersungging dibibirnya.


"Hm, mungkin lain waktu. O ya, mungkin sebentar lagi Gerald akan menikah, sebagai keluarga kamu harus meluangkan waktu saat kami datang melamar nanti." Ucap nyonya Sofyan.


Wanita yang datang bertamu hanya mengangguk sekilas, "Hm, lihat saja nanti. Kalau begitu aku pulang saja. Lebih baik besok aku bertemu mas Sofyan di kantor saja." Wanita itu langsung pergi meninggalkan nyonya Sofyan yang mengepalkan tangannya erat.

__ADS_1


__ADS_2