Brondong I Love U

Brondong I Love U
Tidak ingin menyesal nanti


__ADS_3

"Sayang, sudah pulang belum?"


Sebuah pesan Sani baca, bukanya tersenyum Sani justru mengerucutkan bibirnya.


"Ish, masa di panggil sayang sama brondong," Gumamnya dengan perasaan aneh-aneh geli, tapi kok lucu, hahahaha


"Belum? masih ada yang harus aku kerjakan." Balasnya dan langsung terbaca oleh Galen.


Tidak ada balasan, meskipun sudah terbaca, Sani menaruh kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjanya yang sempat tertunda.


Pekerjaan adalah kesibukan Sani, tidak bekerja justru membuat Sani merasa ada yang kurang, memang dasarnya wanita pekerja keras Sani tidak suka duduk berleha-leha.


Dua puluh menit pintu ruangan nya di ketuk, setahunya Fani sudah pulang, lalu siapa yang mengetuk pintu.


Berdiri dari duduknya Sani membuka kunci pintu karena memang dia kunci saat lembur kerja. Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.


"Malam nona." Sapa pak satpam yang tersenyum.


Sani mengerutkan keningnya, "Ada apa ya pak?" tanya Sani dengan wajah bingung karena melihat satpam loby menemuinya.


"Maaf mengganggu ini ada-"


"Ada calon suami yang datang!"


Tiba-tiba sebuah buket bunga mendarat didepan wajah Sani membuat wanita itu terkejut sampai memundurkan wajahnya.


Pak satpam juga sampai menyingkirkan wajahnya agar tidak terkena dampak di tubruk buket bunga.


"Maaf Nona, mas ini katanya-"


"Bapak terima kasih, ini calon istri saya sudah ketemu. Jadi bapak boleh kembali." Kata Galen dengan santainya.


Wajah pak satpam langsung melengos, berganti menatap atasnya.


"Iya pak, tidak apa-apa. Bapak kembali saja." Ucap Sani pada pak satpam yang sepetinya tidak percaya dengan pemuda tengil yang menyebalkan.

__ADS_1


"Bapak kenapa melirik saya begitu, awas loh pak nanti jatuh cinta!"


Mata pak satpam seperti akan lepas dari tempatnya mendengar ucapan Galen yang membuatnya seperti tersedak.


"Galen." Sani mendelik ke arah Galen dan menarik tangan pemuda itu untuk masuk ke ruangannya.


Sedangkan pak satpam hanya bisa melirik sinis pada pemuda yang menyebalkan tapi sayangnya memang tampan.


"Kenapa belum pulang, ini sudah malam." Galen menghentikan langkahnya membuat kaki Sani juga berhenti melangkah.


"Malam bagimu Galen, tapi tangung jawab bagiku."


Galen berdecak kasar, begini kalau punya belahan jiwa seorang wanita karir.


Galen menarik tangannya yang masih dipegang Sani, membuat wanita itu ikut tertarik hingga menubruk dada Galen.


"Setidaknya perhatikan kesehatan mu," Ucap Galen sambil menatap wajah Sani yang begitu dekat dengannya, bahkan napas keduanya terasa menyapu wajah masing-masing.


Jelas jantung keduanya tidak baik-baik saja, wajah Sani tiba-tiba bersemu dengan wajah tersipu. Entah kenapa jika ditatap Galen dirinya salting.


Tapi ternyata usaha Sani sia-sia karena Galen tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.


Jantung Sani selalu berdesir saat keduanya bersentuhan, Sani tidak pernah merasakan seperti ini, yang menurutnya sangat berlebihan. Tapi reaksi dalam dirinya tidak bisa ia kendalikan rasanya begitu aneh dan membuat jantungnya selalu berdebar.


"Aku merindukan mu." Gumam Galen saat sudah melepaskan tautan bibir keduanya.


Galen mengusap sisi wajah Sani yang memang cantik, walaupun usianya hampir kepala tiga, tapi wajah Sani masih imut dan terlihat muda.


"Ck, kamu memang buaya gombal!" Sani mendorong dada Galen membuat pelukan Galen terlepas.


Sani tersenyum dan kembali ke meja kerjanya untuk membereskan pekerjaan, jika sudah begini dirinya tidak bisa berkonsentrasi lagi.


"Masih jam delapan, bagaimana kalau aku kenalkan dengan Mama."


Sani yang sedang membereskan berkas, tiba-tiba tangannya berhenti, tatapanya tertuju pada Galen yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Galen yang melihat kekasihnya diam saja.


"Tidak apa-apa, hanya saja ini terlalu cepat. Bahkan hubungan kita baru beberapa hari jadi jangan terlalu-"


"Kenapa kamu bicara seperti itu? apa kamu mejalani hubungan kita dengan main-main?" Galen menatap wajah Sani dengan tatapan tidak sukanya, sedangkan Sani merasa bersalah karena memberikan jawaban yang mungkin akan membuat hati Galen terluka.


Tapi memang begitu kenyataanya, rasanya tidak mungkin jika mereka bisa bersama dengan perbedaan usia yang cukup jauh.


"Galen aku tidak-"


"Kamu percaya saja padaku," Galen berjalan mendekati Sani, tatapan Galen memindai wajah wanita di depannya.


"Tanyakan pada hatimu, apakah aku ada di sana? jika iya maka tidak ada yang mungkin. Aku benar-benar serius untuk menjalani hubungan ini." Lirih Galen.


Tatapanya mengisyaratkan akan ketulusan membuat Sani sejujurnya merasa terharu.


"Oke, aku memang pria yang tidak memiliki apapun, bahkan jajan pun aku masih minta orang tua, setidaknya aku tidak main-main dengan hubungan kita. Dan kedepannya aku akan berusaha memenuhi kebutuhan mu agar kamu bisa melihat ku."


Galen bukanya munafik atau tidak percaya diri, tapi memang dirinya berbeda dengan Sani. Sani wanita karir yang sudah memiliki segalanya bahkan lebih dari itu. Dan Galen ingin dilihat sebagai pria yang bertanggung jawab.


"Bukan begitu Len, entah kenapa aku merasa tidak percaya dengan hubungan ini." Sani menatap wajah Galen dengan tatapan sendu.


Bukan karena status mereka dari segi materi, tapi Sani rasa ini semua seperti mimpi yang tidak akan menjadi nyata.


Galen masih muda, jalan hidupnya masih panjang dengan kehidupan yang jauh dari keseriusan. Tapi kata-kata Galen seolah menegaskan jika pemuda itu sudah punya pemikiran yang matang. Sani tidak ingin terpaku pada hubungan ini, karena suatu saat nanti pasti ada kejenuhan yang Galen rasakan saat dirinya sudah terikat, teman-teman Galen masih bermain dan hangout bersama-sama, dan Galen pasti akan merasakan titik lemah di seperti itu.


"Kamu masih muda, jangan korbankan masa muda ku untuk hubungan ini. Kita jalani seperti air mengalir jangan dipaksakan jika itu membuat mu tidak nyaman." Sani menyentuh sisi wajah Galen dengan tatapan mata yang saling bertemu.


Tatapan keduanya terkunci dengan pikiran masing-masing.


"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari," Ucap Sani dalam hati, sambil menyandarkan kepalanya di dada Galen.


*


*

__ADS_1


Bang Galen lulus dulu terus kerja, biar bisa beliin Tante cantik tas Kremes 🤭


__ADS_2