Brondong I Love U

Brondong I Love U
Apa kabar Sani?


__ADS_3

Sosok anak yang seharunya di lindungi dan mendapat kasih sayang berlimpah justru sebaliknya, Gerald mendapat perlakuan kasar dan tekanan dari orang yang seharunya melindungi dirinya.


Sejak mendengar dan melihat jika papanya mengakui wanita lain hamil anaknya dan akan menikahi wanita itu tanpa memikirkan perasaan ibunya, membuat Gerald kecil memendam kemarahan.


Jika bisa Gerald kecil ingin memberikan pelajaran pada papanya tang sudah membuat ibunya berubah menjadi monster, dan dirinya yang menjadi sasaran kemarahan dari ibunya yang tidak bisa mengendalikan diri.


Sejak memutuskan menikahi wanita lain sejak itulah papanya tidak pernah pulang sama sekali. Membuat keadaan Ingrid semakin buruk dengan Gerald kecil yang hanya bisa menatap Mamanya tanpa bisa melakukan apapun.


"Den Gerald, bagaimana kalau nyonya kita bawa kerumah sakit, untuk soal biaya sepertinya Nyonya banyak memiliki perhiasan den Gerald bisa menjualnya nanti untuk biaya Nyonya."


Palayan yang mengasuh Gerald tampak tidak tega melihat kondisi majikanya. Ia hanya palayan tidak punya uang banyak dan soal tabungan juga ia tak tahu menahu, sedangkan Gerald masih sepuluh tahun tidak tahu apapun.


Mendapat anggukan dari Gerald palayan dan juga supir membawa Ingrid kerumah sakit agar mendapat penanganan.


Hingga Ingrid harus di rawat intensif karena mengalami depresi yang cukup berat. Hari-hari Gerald menjadi suram, sekolah pun terbengkalai.


Melihat kondisi ibunya yang begitu memprihatinkan Gerald kecil memutuskan untuk menemui papanya.


"Mama depresi dan berada di rumah sakit," Katanya saat itu dengan tatapan datar.


Apalagi melihat wanita muda yang sedang hamil ternyata ada di kantor papanya.


Irene yang saat itu melihat keadaan Gerald kurus dan tidak terawat membuatnya merasa tidak tega, ia tidak tahu jika akan seperti ini, kalau tahu Irene tidak akan berhubungan dengan pria yang mempunyai kelurga.


Sofyan memijit keningnya, sebenarnya ia tahu keadaan Istri sahnya itu, tapi tidak menyangka melihat putranya sendiri Sofyan merasakan seperti dihantam rasa sakit pada hatinya.


"Mas," Irene menyentuh bahu Sofyan kepalanya mengangguk saat Sofyan menatapnya.

__ADS_1


"Mbak Ingrid butuh mas." Katanya dengan nada lembut.


"Tapi Irene-" Sofyan tak bisa berkata-kata.


Disisi lain ada Ingrid istrinya, dan ada Irene yang sedang hamil besar anaknya juga. Tapi melihat Gerald ada rasa penyesalan dan rasa bersalah yang menyesakkan dada.


"Aku tidak apa-apa," Kata Irene lagi.


Sofyan menghela napas, di tatapnya Gerald yang masih berdiri dengan tatapan datarnya tanpa ekspresi.


Sofyan mengusap perut Irene, "Aku janji, suatu saat anak kita akan mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, dia adalah anak yang aku inginkan, anak yang akan lahir dari cinta kita."


Gerald mengepalkan tangannya, meskipun masih kecil dia mengerti apa yang sedang orang dewasa bicarakan.


"Iya Mas, aku akan menjaganya."


*


*


Masa sekarang...


Sani tidak lagi mencari keberadaan Galen, satu bulan tidak ada kabar dari pemuda itu, mau mencari kok agak gimana, pekerjanya yang banyak membuatnya bisa melupakan Galen sejenak. Bukanya tidak sayang atupun cinta. Sani lebih berfikir positif mungkin Galen sibuk dan tidak bisa di ganggu karena semua orang memiliki waktu privasi sendiri-sendiri, terkadang dirinya juga begitu ada masanya ingin sendiri dan tidak mau di ganggu oleh siapapun.


Hari ini Sani berniat untuk pergi ke salon, karena pekerjaan yang padat, Sani ingin bermanja-manja di salon langganan, di temani sang asisten Sani baru saja keluar dari dalam mobil bersama Fani yang tersenyum saat melihat salon kecantikan orang elite.


"Mumpung dapat diskon dari si bos, kapan lagi bisa masuk salon elite." gumamnya dengan senang hati.

__ADS_1


Sani yang mendengar hanya geleng kepala, wanita itu masuk dan langsung di sambut oleh pelayan salon, melakukan treatment adalah keinginan setiap wanita untuk mempercantik diri.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang duduk didepan laptop, pria itu tampak serius menatap layar persegi itu.


"Mas ini coba periksa lagi, mungkin ada sedikit penambahan."


Seorang wanita menujuk bagaian yang harus direvisi.


"Oh iya Mbak," Galen mengangguk dan segera memperbaiki.


"Pelan-pelan saja nanti mas juga akan terbiasa." Kata wanita itu dengan ramah.


Galen hanya tersenyum, "Kalau masih ada lagi jangan sungkan ya mbak, saya juga masih perlu banyak belajar."


Wanita itu hanya mengangguk, dan permisi.


Galen menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi matanya terpejam dengan helaian napas lelah.


Bayangan wajah cantik selalu muncul dalam pikiranya, ia merindukan sosok kekasihnya itu.


"Jangan sekarang, kamu harus fokus demi masa depan," Gumamnya dengan penuh keyakinan.


Galen mengambil ponselnya dan menatap wajah cantik Sani yang ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.


"Tunggu sedikit lagi, tapi aku tidak yakin dengan rasa rinduku ini."


"Ck, menyebalkan sekali pria tua itu." Galen berdecak, "Apa dia lebih suka menyiksa ku seperti ini, seharunya dia menyuruh ku untuk membuatkan boneka Tinkerbell yang lucu, bukan berselingkuh dengan kertas-kertas seperti ini." Dumelnya kesal.

__ADS_1


"Ohhh Sani, apa kabar mu di sana." gumamnya segan wajah sendu.


__ADS_2