Brondong I Love U

Brondong I Love U
Model


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Galen sudah rapi dengan penampilannya. Wajahnya pun sudah sangat cerah secerah mentari pagi ini.


"Tumben sudah rapi, ada kuliah pagi?" Tanya Mama Irene Mamanya Galen yang sedang mengoles roti dengan selai.


Galen menggeleng, "Mau cari kerja buat modal kawin Mah," Jawab Galen seperti biasa dengan ekspresi tengilnya.


Mama Irene menatap putranya dengan kening berkerut, "Kencing aja belum lurus udah mikirin kawin." Protes Mama Irene sambil fokus mengoles selai.


Galen mencebikkan bibirnya, "Kalau kencing lurus, yang ada nubruk tembok balik ke muka kita mah." Jawabnya dengan enteng.


Mama Irene mendelik dengan tatapan tajam, membuat Galen tertawa.


"Maksud Mama kamu masih remaja umur kamu baru 21 tahun Galen, 22 belum genap." Protesnya lagi dengan nada geram.


Bicara dengan Galen kadang juga bikin darah tinggi Mama Irene naik, tapi kalau gak lihat Galen seharian juga bikin kangen.


"Ngak masalah lah mah, penting Galen punya aset masa depan untuk buatin Mama boneka chucky yang lucu."


Mama Irene semakin pusing mendengarkan omongan Galen yang membuat tensinya benar-benar naik.


"Lagian siapa sih yang mau kamu ajak kawin, paling-paling gadis yang cuma liat tampang kamu aja, padahal aslinya kere." Wajah Mama Irene begitu meledek Galen.


Meskipun anaknya tapi keduanya sering adu argumen dan ujung-ujungnya berdebat tapi tetap geleng pemenangnya.


"Ada deh, nanti kalau Mama tahu bisa berabe, yang ada Mama minta gratisan kaca mata kuda sama layangan segitiga terus."


"Galen!"


Galen yang berhasil membuat Mama jengkel tertawa ngakak, membuat Mama Irene melempar serbet tepat mengenai Galen.


"Anak kurang ajar!" Maki Mama Irene dengan kesal.


*

__ADS_1


*


Sani baru saja keluar dari rumah, tapi pemandangan didepan matanya membuat wanita itu memicingkan matanya.


"Kenapa kamu disini?" tanya Sani yang melihat Galen yang bersandar di motornya.


"Morning, Tante cantiknya Galen yang paling imut kayak marmut." Ucap Galen dengan mimik wajah yang dibuat lebay.


"Galen, ish. Lebay." Sani menoyor kepala Galen sambil terkekeh.


"Dosa ihh, calon imam ini." Protes Galen dengan wajah merajuk.


Sani tidak perduli justru menjulurkan lidah meledek.


"Kenapa pagi-pagi di sini, aku mau kerja Galen gak mau temenin kamu bermain." Katanya lagi sambil melangkah menuju mobilnya.


"Kamu lupa? apa pura-pura lupa." Galen melipat kedua tangannya didepan dada.


Membuat Sani yang sedang membuka pintu mobil mengerutkan keningnya.


Galen berdecak kesal, jadi apa dia ini kena prank.


"Udah deh, jadi ngak ngasih aku kerjaan. Kalau ngak aku balik nih." Katanya dengan wajah setengah merajuk. Galen hendak naik motornya tapi Sani mencegahnya.


"Ehh, iya. Jangan kabur dulu." Sani mendekati Galen dan menyentuh lengan pria itu.


"Maaf aku hampir lupa," Katanya dengan menunjukan senyum manis yang bisa membuat Galen meleleh.


"Jangan senyum kaya gitu lah, nanti aku gak bisa marah, malah gak dapet jatah." Kata Galen sambil senyum mesam-mesem.


Sani hanya bisa menghela napas, begini pacaran sama kawula muda yang pasti banyak bercandanya dari pada seriusnya.


"Ngak lucu, ayoo!!"

__ADS_1


Sani menarik Galen paksa untuk masuk ke mobilnya.


"Eh, sini Aa Galen aja yang nyetir." Galen merebut kunci mobil dari tangan kekasihnya.


Sani tidak masalah ia masuk kedalam mobil, Galen menutup pintu setelah memastikan jika kekasihnya sudah duduk dengan benar.


"Memangnya aku di suruh kerja apa?" tanya Galen yang fokus menyetir sambil sesekali melirik Sani yang fokus dengan ponselnya.


"Kebetulan model aku lagi ngak bisa kerja, karena pemotretan urgent jadi kamu yang akan menggantikan dia." Sani mendongak dan menatap kekasih mudahnya ini, "Ngak papa kan kalau kamu jadi model." Katanya lagi sambil mengamati wajah Galen yang fokus menyetir.


Galen mengangguk, "Demi ayang, tidak masalah." Ucap Galen dengan senyum tampan yang malah membuat Sani tertawa karena lucu.


Mobil yang di kendarai Galen sampai di kantor Liora Secret, di mana pemotretan hari ini didalam studio.


Sani membawa Galen langsung ke ruang studio, berjalan berdua tangan keduanya bergandengan tapi saat sudah didepan pintu studio Galen melepaskan genggaman tangannya.


"Ngak enak kalau di liat bawahan." Ucap Galen dengan senyum tipis.


Sani membalasnya dengan senyum, dia begitu tersentuh dengan perlakukan Galen. Meksipun masih muda tapi Galen begitu mengerti membuat Sani tanpa sadar merasa nyaman dengan sendirinya.


Saat mereka masuk tatapan semua Crew mengarah pada keduanya, Fani yang ada didalam sana tersenyum saat melihat pemuda yang pernah ia rekomendasikan pada atasanya ini.


"Ish, gitu Mbak Sani pakai brondong ganteng," Ucap Fani yang terlihat welcome.


Sani hanya geleng kepala, sedangkan Galen tersenyum pada Fani yang menyapanya.


"Perhatian sebentar, karena model pria kita tidak bisa datang, saya membawa Galen untuk menjadi pengganti model kita. Semoga kalian dan Galen bisa bekerja sama dan bisa tembus di dunia pasar remaja."


Sani memeberikan kode untuk Galen agar mendekat, dengan patuh pemuda itu mendekat.


"Galen kamu akan di temani Fani untuk sementara sebelum mendapat manager baru. Fani akan membantumu." Kata Sani dengan wajah serius dan suara yang tegas.


Jika seperti ini, Sani yang imut tidak terlihat lagi dimata Galen, pemuda itu hanya melihat sisi wanitanya yang tegas dan berkarisma.

__ADS_1


"Baik Aya-, em Nona Sani." Galen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Sani sudah melotot ingin menjewer telinga Galen.


__ADS_2