
Ballroom sudah penuh dengan pengunjung, semua melakukan ketertiban yang di berlakukan oleh petugas yang diselenggarakan. Semua duduk di meja yang sudah di siapkan tidak ada yang berdiri semua sudah di tata sedemikian rupa agar merasa nyaman.
Sani sudah duduk di meja khusus untuknya dan keluarga, ada satu kursi yang masih kosong, sengaja Sani tambah melebihi jumlah keluarganya.
"Sepertinya Sani mengudang orang khusus sayang," Bisik Naumi pada suaminya yang duduk sambil memangku Kendrick yang asik bermain ponsel papanya.
"Hm, apa dia bercerita?" tanya Sean.
Bercerita maksud Sean adalah masalah pribadi, Sean tahu jika istrinya ini dekat dengan adiknya.
"Tidak, mungkin belum." Jawab Naumi membuat Sean mengangguk.
Biar bagaimanapun Sani adalah saudari kembarnya, ia juga mengambil peran memastikan jika adiknya tidak salah dalam memilih teman dekat ataupun bergaul.
Tak lama acara akan dimulai, Sani memeriksa ponselnya tidak ada notif apapun.
Hingga perhatian semua orang tertuju pada catwalk saat beberapa model mulai muncul dengan menggunakan perhiasan Liora Jawellery, sebuah layar proyektor besar juga menampilkan hal yang sama, hingga acara berjalan dengan lancar dan semua koleksi luncuran pertama Liora Jawellery sudah terpajang di etalase kaca masing-masing yang sudah di susun sedemikian rupa, agar para pengunjung bisa melihatnya.
Setiap stand perhiasan mendapat satu karyawan yang berjaga, semua tamu yang datang berdecak kagum melihat hasil dari wanita yang terbilang muda dan sukses dalam karirnya.
"Sani!"
Sani yang sedang berbincang dengan salah satu Istri seorang pejabat terkenal, menoleh kebelakang. seorang pria tersenyum sambil mengulurkan buket bunga untuk Sani.
"Maaf datang terlambat, tapi selamat untuk kamu." Gerald mendekat dan meraih pinggang Sani dengan gerakan cepat pria itu mencium pipi Sani didepan umum.
"Gerald," Sani mendorong sedikit tubuh Gerald agar tidak terlihat mencolok di mata para tamu, ia tidak ingin acara yang dia selenggarakan berantakan.
Gerald hanya tersenyum kecut mendapatkan penolakan yang Sani lakukan, bukan hanya sekali ini sudah dua kali Sani seperti menjaga jarak, padahal mereka sudah mendapat restu soal perjodohan, tapi perlu Gerald garis bawahi jika semua tergantung keputusan Sani tentunya.
"Maaf, silahkan melihat koleksi terbaru Liora Jawellery, saya akan senang jika nyonya menyukainya." Ucapnya dengan sopan.
Sani menatap bunga yang diberi Gerald, mengulas senyum tipis, "Terima kasih bunganya, dan maaf lain kali jangan mencium orang sembarang, sudah aku katakan jika aku bukan seperti wanita yang kamu pikirkan." Katanya dengan sopan namun tersirat akan peringatan.
__ADS_1
Gerald masih mempertahankan senyumnya, meskipun dalam hati ia mengumpati Sani yang sok suci.
"Oke, aku minta maaf." Gerald tersenyum paksa.
Sani hanya mengangguk kecil, ia melihat ke meja tempatnya duduk dan di sana bibir Sani berkedut melihat orang yang dia tunggu sudah datang.
"Silakan menikmati acaranya, aku kesana dulu." Pamornya pada Gerald yang ia tinggalkan.
Sani berjalan cepat menuju mejanya, jangan lupa bibirnya terus tersenyum saat beberapa orang menyapanya hanya sekedar memberikan ucapan selamat.
"Lihat adik kamu itu," Naumi berbisik agar Sean menatap kearah Sani yang berjalan mendekati mereka.
Sean menghela napas, matanya melirik pemuda yang duduk di samping papanya, bukan mengontrol dengan papanya, melainkan dengan mamanya yang membuat wajah papanya masam.
"Galena," Sani mendekati Galen yang duduk di samping Mamanya, disebelah Galen adalah kursi duduknya.
Melihat kekasihnya datang, Galen langsung berdiri dan tersenyum sambil memberikan pelukan, jika pria lain memeluk dan mencium pipi Sani lain dengan Galen yang justru memeluk dan mencium pucuk kepala Sani, pemandangan yang terlihat begitu manis namun juga membuat seseorang meradang.
"Terima kasih mau datang," Sani terus mengulas senyum.
Galen mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yang membuat semua orang tercengang namun tidak dengan Sani yang justru tersenyum merona.
"Apa-apaan, kamu memberikan permen begitu untuk putriku, pemuda kere." Ketus Arsen dengan wajah sebalnya.
Casandra menatap suaminya memberikan tatapan peringatan.
Sedangkan Naumi menahan tawa melihat pemandangan yang menurutnya lucu.
"Pa'mer ini permen bukan sembarang permen. Ini permen tanda cinta anak pa'mer ke saya waktu pertama kali bertemu." Ucap Galen dengan percaya diri.
"Sayang kamu ingat permen ini." Galen menunjukan satu bungkus permen pada Sani.
Arsen mendelikkan matanya, merasa terancam melihat wajah putrinya yang berseri, tidak rela jika cinta putrinya dibagi sepertinya.
__ADS_1
"Norak," Gumam Sean namun dengan bibir menyunggingkan senyum.
"Em, ini permen yang dulu kamu minta Kiss." Gumam Sani yang membuat Arsen membelalakan matanya.
Arsen ingin membuka mulutnya, namun tatapan istrinya membuatnya mengurungkan niatnya.
"Ya, aku menyimpannya." Katanya dengan senyuman paling mleyooot yang selalu ditunjukkan pada kekasihnya.
Sani mengangguk dan tersenyum, "Untuk apa?" Tanyanya.
"Akan aku simpan sampai kapan pun, karena berkat permen ini bisa membuat kita bersama."
Huuuhhh
Naumi bersorak, ia tidak tahan untuk tidak bersuara melihat kelucuan keduanya.
"Sayang," Sean merangkul bahu Naumi agar wanitanya ini diam.
"Didepan kedua orang tua mu, aku tidak bisa menjanjikan apapun, kamu yang lebih mengetahui tentang ku, dan untuk itu malam ini aku-"
Bugh
Akkkhh
Suara teriakan menggema membuat suasana yang tadinya tenang kini berubah tegang dan ricuh.
"Galen!!"
*
*
Oyyyyy
__ADS_1