
Ibarat bunga yang masih kuncup, begitulah perasaan Galen. Kini bunga yang kuncup mekar sempurna tidak ada celah, ungkapan kedua Sani yang membuat hati seorang Galen Bagaswara berbunga-bunga bahagia, seperti ada letupan bertubi-tubi yang bersemayam membuatnya bahagia.
Tidak ada hal yang membahagiakan kecuali perasaan dan cintanya terbalas.
"Aduh Ndre, pergi aja hayuk sebelum di portal 21+" Fani menarik tangan sang fotografer yang masih asik memotret momen romantis keduanya.
"Kan sayang kalau dilewatkan mbak, sebentar saja." Andre masih kekeh ingin mengabadikannya.
"Ihh, kamu di bilangin kok ngeyel, abis ini ada live streaming gak boleh di tonton efeknya bahaya kamu ngak punya lawan." Fani tetap menarik tangan Andre paksa, membawa pria itu keluar dari studio foto meninggalkan dua sejoli yang saling pandang.
"Love you to, Sani Liora Bagaswara." ucap Galen dengan wajah yang masih menunjukan rasa tak percaya dan bahagia.
Sani mengulum senyum, hatinya bahagia jantungnya terus berdebar hingga tak sanggup menahan luapan rasa yang ia miliki.
"Kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti ini," pikirnya diluar nurul.
Tangan Galen merengkuh pinggang Sani membuat dada keduanya saling menempel, Sani menyentuh bahu Galen dengan tatapan mata keduanya saling bertemu.
Tidak ada yang saling bicara, hingga perlahan Sani menutup matanya saat merasakan napas hangat Galen terasa di wajahnya dan sentuhan lembut bibir Galen membuatnya merasakan ciuman yang tulus.
Galen melumatt dan menyesap bibir kekasihnya dengan lembut, mengantarkan getaran hatinya yang terlampau bahagia. Pangutan bibir yang awalnya lembut semakin dalam saat keduanya saling membalas rasa yang semakin susah dikendalikan.
Engh
__ADS_1
Sani membuka mulutnya membuat lidah Galen melesak mengabsen setiap inci di dalam sana, belitan lidah yang semakin intens membuat napas keduanya memburu hebat.
Sani yang kehabisan napas memukul sedikit dada Galen hingga membuat Galen menjauhkan kepalanya meskipun ia tak rela.
Bibir ranum yang tadinya tipis kini memerah dan bengkak, napas keduanya memburu hebat dengan tatapan sayu.
"Kalau begini aku ngak kuat Tante, kita nikah yuk." Ucap Galen dengan menyatukan keningnya dan kening Sani.
*
*
Irene memasuki sebuah kantor yang tidak pernah ia kunjungi beberapa bulan lamanya, wanita anggun berparas cantik yang diketahui singgel parents itu tidak perlu bertanya, Irene langsung menuju lift untuk menemui seseorang.
Di lantai sebelas Irene keluar dari pintu lift, dan bertanya pada seorang wanita yaitu sekertaris.
"Ada Bu, di dalam." Irene hanya tersenyum tipis, dan berlalu menuju pintu besar berwarna hitam di depannya.
"Mas, aku tidak suka kalau Irene datang dan hanya merayu mu untuk memberikan bagaian miliknya."
"Kenapa kamu takut sekali Mbak!"
Suara Irene yang terdengar keras membuat Sofyan beserta istri menatap ke sumber suara.
__ADS_1
"Irene! kau masuk tanpa mengetuk pintu." Hardik istri Sofyan dengan tatapan mata tak suka.
Irene tersenyum smirk, perlahan kakinya berjalan mendekati dua orang yang sedang duduk disofa, Irene duduk di sofa single di mana kedua Sofyan dan istrinya hanya menatapnya saja.
"Sepetinya kedatangan ku tidak tepat, kalian sedang melakukan makan bersama, romantis sekali." Ucap Irene dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Ada apa Irene, kau datang ke kantor?" Sofyan menatap wanita didepanya dengan alis terangkat, Irene memang lebih cantik dan lebih muda darinya, membuat Sofyan dulu tertarik hingga menikahi seorang Irena siri.
"Sepetinya kamu lupa mas dengan janjimu sepuluh tahun lalu, tapi dengan kedatangan ku maka akan aku ingatkan jika sekarang usia Galen sudah dua puluh satu tahun." Katanya dengan nada santai namun terdapat penegasan.
"Omong kosong apa ini! anak haram mu itu tidak pantas mendapatkan apa yang-"
"Cukup Mah!" Bentak Sofyan membuat istrinya terdiam.
Irene tersenyum sinis. "Mbak, saya hanya menagih janji suami mbak, bukan meminta pengakuan yang tidak bisa suami Mbak berikan karena akan ada anak kesayangan yang kalian banggakan tersakiti bukan!"
"Ada apa ini!"
Ketiga orang menoleh bersama, wajah istri Sofyan terlihat tegang, sedangkan Irene tersenyum menyeringai, lain dengan Sofyan yang mengusap wajahnya kasar.
"Ingat mbak, seorang pemimpin yang mengidap Anxiety disorder akan membuat reputasi hancurnya perusahaan." Ucap Irene dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh ketiganya tanpa bisa Gerald dengar.
*
__ADS_1
*
Sudah tahu kanš¤£