Brondong I Love U

Brondong I Love U
Gombal!


__ADS_3

Sejak saat itu semangat Galen bukanya kendur justru membara. Pemuda itu selalu menunjukan bertapa dirinya serius dalam hubungannya bersama Sani. Mungkin Galen memang masih muda, tapi cara Galen memperlakukan Sani dan perhatiannya melebihi pria yang Sani kenal. Galen bergerak sesuai dengan nalurinya, tidak ada yang dibuat-buat dari Galen hanya untuk menarik simpati kekasihnya. Galen hanya tinggal bersama sang Mama, dan Galen tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita.


"Len, kamu kok jarang kumpul lagi sama kita sih." Nova duduk di kursi dekat Galen.


Hanya saat di kampus Nova bisa bicara dengan Galen, karena saat jam pelajaran selesai Galen buru-buru pergi dan entah kemana.


"Aku sibuk Nov." Jawab Galen tanpa menatap Nova yang duduk di depannya.


Galen fokus dengan ponselnya, pemuda itu begitu serius membuat Nova yang tidak diperhatikan kesal.


"Galen, ish. kamu sibuk apaan sih!" Nova dengan sengaja merebut ponsel Galen dari tangan pria itu membuat Galen diam kini menatap Nova dengan tatapan tajam.


"Tante cantik siapa?" Nova menatap wajah Galen yang menatapnya dingin.


Galen kembali merebut ponselnya dengan kasar, tatapannya mengarah pada Nova, "Kamu lancang Nov!" sarkas Galen dengan tatapan dingin yang membuat Nova menelan ludah.


Galen tidak pernah menatapnya seperti ini, apalagi ada kemarahan yang terpancar di mata pemuda itu.


"Len, itu-"


Galen langsung pergi meninggalkan Nova yang membeku dengan wajah kaku, dadanya bergemuruh setelah tadi membaca chat Galen yang berisikan sayang-sayangan.


"Tidak mungkin Galen punya kekasih." Gumam Nova dengan perasaan sakit namun kedua tangannya terkepal erat.


Galen memilih untuk tidak ngampus, moodnya sudah buruk gara-gara Nova. Entah kenapa Galen merasa jika Nova terlalu lancang, meksipun sahabat tapi privasi tetaplah privasi.


Mengendarai motor besarnya Galen menyusuri jalan di pagi menjelang siang, jika pergi ke kantor Sani pasti wanita itu sedang sibuk. Karena tidak ingin menganggu wanitanya, Galen memilih untuk pergi ke suatu tempat.


Setelah beberapa menit mengemudi Galen membelokkan motornya kesebuah panti asuhan Kasih Bunda.


Turun dari motor suara anak-anak yang melihat Galen sudah berteriak heboh, wajah Galen yang tadi masam kini langsung tersenyum cerah.


"Kak Galen!!"


Beberapa anak berlari mendekati Galen dan memeluk kaki jenjang pemuda itu, Galen tertawa bersama anak-anak kecil itu.


"Kak Galen ngak sekolah? kan ini masih pagi. Kak Aan aja belum pulang sekolah." Ucap salah satu anak perempuan yang usianya sekitar empat tahun itu.


Galen tersenyum dan mengusap kepala anak perempuan itu dengan sayang.


"Kak Galen kangen Levi sama yang lain, jadi kak Galen main ke sini." Katanya dengan lembut.


Anak-anak justru bersorak riang, mereka begitu senang jika kak Galen nya ini datang.

__ADS_1


"Kak Galen nanti kita main bola ya, Rifki punya bola baru!" Seru anak laki-laki yang usianya tak jauh beda dari Livi.


"Boleh, tapi kita belajar sebentar ya, nanti kak Galen temani kalian semua bermain."


Horreee!!


Mereka semua bersorak senang, di ambang teras seorang wanita paruh baya yang memakai kerudung tersenyum menatap interaksi anak asuhnya bersama Galen.


"Kalian ke aula dulu, nanti kak Galen menyusul. Kakak mau ketemu bunda dulu." Galen mengusap kepala Livi dan Rifki membuat keduanya mengangguk, di ikuti teman-temannya.


Galen tersenyum sambil geleng kepala, langkah kakinya menuju sebuah rumah kecil yang sudah berdiri seorang wanita.


"Assalamualaikum Bunda." Sapa Galen dengan senyum hangat, Galen meraih tangan wanita yang ia panggil Bunda dan mencium punggung tangannya.


"Waalikumsalam nak Galen, tumben kesini pagi begini?" Wanita yang di panggil bunda itu mengusap punggung Galen lembut.


"Lagi gak selera makan bangku sekolah bunda," Jawab Galen dengan acuh tak acuh, tapi setelahnya terdengar ringisan dari bibir Galen.


"Auwsss, kok dijewer bunda." Galen menatap wanita yang menjewernya dengan wajah sendu.


"Kamu kalau ngomong suka becanda, siapa juga yang mau makan bangku sekolahan!" Bunda mendelikkan matanya pada pemuda didepanya yang justru cengesan, Galen memang tidak ada kapoknya.


"Bunda Putri sendiri? si mana Dela?" tanya Galen lagi sambil duduk di sofa.


"Dela ke pasar, biasa cari bahan untuk dia jualan." Tutur Bunda Putri.


Galen mengangguk saja, pemuda itu mencomot kue yang di piring dan memakannya.


"Kue buatan bunda emang endulita, pantas saja Mama demen." Gumam Galen mulutnya sambil mengunyah.


Bunda Putri hanya geleng kepala mendengarnya, "Mama kamu memang suka, karena dia ngak bisa bikin." Ucap Bunda Putri sambil terkekeh.


Galen lagi-lagi mengangguk, "Lain kali Bunda ajarin pacar Galen ya, biar ada misi menaklukkan hati ibu mertua." Katanya lagi setelah menyesap teh hangat yang disediakan.


"Heh, kamu sudah punya pacar? kok ngak dikenalin Bunda?" Tanya Bunda Putri dengan wajah penasaran.


"Nanti kalau ngak sibuk, dia wanita sibuk Bunda, waktu buat Galen aja cuma seiprit." Katanya dengan wajah masam.


"Loh, memangnya bukan teman kampus? kalau sudah bekerja berarti dia-"


"Hm, sudah pantas punya anak dua Bunda." Ucap Galen santai tanpa melihat ekpresi bunda putri yang syok.


*

__ADS_1


*


"Kamu dari mana?" Sani menatap penampilan Galen yang kusut, tapi biar pun begitu tampang Galen tetap ganteng dan imut.


Galen cengesan sambil garuk kepala,. "Belum mandi, tapi Ngak bau kok." Galen menaikkan tangannya sambil mengendus-endus tubuhnya sendiri. "Penting masih tampan, hehe." Katanya lagi sambil tersenyum lebar menunjukan deretan giginya yang rapi dan putih.


"Sayang makan yuk, aku laper." Ucap Galen setelah melihat tatapan sang kekasih memicing.


"Ogah, jalan sama pacar bau belum mandi begini!" Sani hendak memutar tubuhnya pura-pura pergi, tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung kedepan saat Galen memeluknya dari belakang.


"Nih, biar sama-sama bau. Ngak irian." Galen dengan sengaja memeluk Sani erat sambil menggoyangkan tubuhnya. otomatis tubuh Sani yang Galen peluk ikut bergoyang.


"Galen, ishh! jorok!" Sani berontak dengan tawa di bibirnya saat Galen justru semakin mengeratkan pelukannya dan menggoyangkan dengan cepat.


"Biarin, kan jadi sama-sama bau. Lagian siapa suruh menghina Galen tampan ini bau!"


Sani tertawa, Galen tak lagi memeluk justru memberikan gelitikan di pinggang.


Sore hari didepan perusahaanya sendiri Sani tertawa gara-gara Galen.


"Stop Galen, pliss!"


Sudut mata Sani basah karena tertawa lama, perutnya sampai ikut kram.


"Masih mau menghina?" Galen merentangkan tangannya hendak kembali memeluk kekasihnya tapi Sani mundur sambil mengangkat tangannya.


"No, aku capek." katanya sambil mengatur napas.


Galen maju hingga tubuh keduanya sejajar, tangan Galen terangkat untuk menyingkirkan anak rambut Sani kebelakang telinga.


"Cantik." Gumam Galen saat melihat wajah Sani dari dekat, tidak bosan-bosan Galen memuji wajah cantik kekasihnya ini.


"Gombal!"


Sani mencubit pinggang Galen membuat pemuda itu mengaduh lalu tertawa bersama.


*


*


Manis-manis dulu 🤭


Ganteng sama imut gak sih 🤔

__ADS_1



__ADS_2