Brondong I Love U

Brondong I Love U
Galen mau nikah


__ADS_3

Suara siulan merdu keluar dari bibir Galen, bukan hanya siulannya saja tapi wajahnya juga seperti tampak bahagia.


"Kamu dari mana Len, tumben baru pulang?"


Suara seorang wanita yang sedang duduk di ruang santai sambil membaca majalah bisnis menatap putra satu-satunya dengan mata menelisik.


"Eh, ada Mamanya Galen Bagaswara." Galen tersenyum cengesan.


Pemuda itu langsung duduk di sisi Mamanya dan memeluknya dari samping.


"Kamu kok kayaknya Mama lihat akhir-akhir ini bahagia banget, ada apa?" tanya Mama Galen sambil menaruh majalah yang dia baca dan menatap wajah putranya itu.


"Ketara yah Mah? kira-kira apa Mah?" Bukanya menjawab Galen justru melontarkan pertanyaan.


"Di tanya kok balik tanya, memangnya Mama cenayang." Kesal Mama Galen dengan wajah bete.


Tanpa rasa bersalah Galen malah tertawa.


"Mah, kalau Galen nikah gimana mah?" Tanyanya dengan nada santai, tapi wajah Galen menunjukan keseriusan.


"Kenapa? kamu hamilin anak gadis orang? apa kamu terlibat skandal dengan wanita malam."


"Astaghfirullah mah, nyebut eleng, anak Mama ini masih perjaka tiang-tiang." Galen menatap mamanya dengan wajah masam, bisa-bisanya di katai yang bukan-bukan.


"Ya siapa tahu, lagian anak muda sekarang ngak mikirin minyak sama garam, taunya makan nikmat diatas kasur!" Omel Mama Galen dengan sebal.


Galen hanya geleng kepala mendengar ocehan Mamanya.


"Jujur Len, kamu berbuat sama siapa?" tanya mamanya, lebih dengan tatapan mengintimidasi.


"Banyaklah mah, kalau main, apalagi jalan bareng."


"Galen!!"

__ADS_1


Kepala Mama Galen tiba-tiba mengepulkan asap dengan mata melotot, membuat Galen menutup mulutnya rapat.


*


*


Di kediaman rumah besar keluarga Xalendra Sani hanya sendiri, meskipun banyak art tetap saja dia sendiri.


Kakek dan neneknya sudah meninggal lama, sebelum melihat Cicit mereka lahir. Tapi mereka sudah sangat bahagia melihat anak cucu mereka juga bahagia, begitulah ucapan kakek neneknya sebelum pergi.


Sani yang bosan di kamar memilih untuk keluar mencari makanan di dapur. Jarang sekali dia merasa bosan seperti ini, biasanya juga sibuk bekerja sampai malam-malam, tapi entah kenapa hari ini kok males.


Melihat isi lemari pendingin Sani megambil puding strawberry kesukaannya, wanita itu membawa secangkir coklat panas dan puding strawberry untuk menemaninya begadang.


Sudah hampir tengah malam Sani duduk di ruang televisi sambil menonton, tangannya sesekali mengecek ponselnya kalau-kalau ada chat masuk, tapi nyatanya tidak ada. Iseng-iseng Sani membuka room chat Galen dan ternyata online.


"Apa dia belum tidur," Gumamnya sambungan sambil menyesap coklat pelan.


"Masih online."


Terkirim, dan langsung terbaca. Sani membenarkan posisi duduknya karena tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan Vidio masuk.


Di abaikan, karena Sani merasa kikuk hingga teleponnya kembali berdering membuat Sani kok risih sendiri.


"Kenapa telepon!" Seru Sani dengan ketus.


Galen yang menatap layar ponselnya kok malah nonton iklan sabun mandi.


"Sayang, sejak kapan kamu masuk televisi," Ucap Galen dengan wajah bingung.


Sani tidak menggubris ucapan Galen, tapi bibirnya mengulum senyum sambil memandangi wajah Galen di ponselnya. Sani sengaja mengarahkan kamera telponnya kebelakang.


"Ck, berasa ngomong sama hantu, ada suara tidak ada penampakannya." Gerutu Galen sambil sibuk melakukan sesuatu di seberang sana.

__ADS_1


Sani memerhatikan pergerakan Galen yang grasak-grusuk, layar ponselnya jadi pandangan langit-langit kamar entah apa yang pemuda itu lakukan.


Hingga beberapa saat Galen muncul dengan bertelanjang dada membuat wajah Sani tiba-tiba memerah.


"Galen, pakai baju!" Seru Sani yang justru membuat Galen tertawa.


"Berasa di suruh hantu gue." ucap Galen dengan mimik wajah ketakutan.


Sani kesal-kesal juga malu. Meskipun masih pelajar tapi ternyata tubuh bagian atas Galen mampu membuat wajahnya memanas.


Klik


"Lah malah di matiin sih," Galen menggerutu saat kekasihnya mematikan sambungan telepon, dan saat Galen menghubungi kembali, tidak di angkat.


"Salting nih cewek," Gumam Galen sambil senyum-senyum tidak jelas.


Sedangkan yang terjadi dengan Sani, wanita itu menyentuh dada dan wajahnya secara bersamaan. Jantungnya berdebar, wajahnya memanas dengan semburat merah yang membuat merasa malu sendiri.


"Ish, gue kayak anak perawan ABG labil deh." Gumamnya mengingat tingkahnya sendiri. "Eh, tapikan gue emang masih perawan," katanya lagi yang seperti gadis bodoh.


Sani melirik ponselnya yang terdapat chat masuk.


"Apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu? besok aku ingin mengajak mu makan siang bareng, jangan lupa di kafe blue."


Isi pesan yang Sani baca, hanya di baca tidak ia Balas, meskipun orang yang mengirim pesan masih online dan jelas menunggu balasan.


"Toxic," Gumam Sani yang meletakan kembali ponselnya.


*


*


Mau ekpose dada mas Galen nanti di marah Tante cantik 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2