Brondong I Love U

Brondong I Love U
Tidak suka


__ADS_3

Galen dan Sani berangkat setelah acara sarapan selesai, Casandra mengantarkan putrinya sampai teras rumah. Di mana ia melihat senyum putrinya yang sangat bahagia saat Galen yang katanya calon imam dan masih berusaha meminta restu itu membukakan pintu mobil, bahkan Galen berlagak seperti pelayan yang membukakan pintu mobil untuk tuan putri.


"Dia itu masih kecil, usianya tidak cocok untuk Sani."


Casandra menoleh saat mendengar suara berat suaminya, bibir wanita itu mengulas senyum.


"Ngak harus pria yang lebih matang kan By, jika Galen memang jodoh Sani kita bisa apa."


Arsen mengehela napas. sepertinya, Istrinya juga sudah terkontaminasi oleh pemuda tengil itu, hingga membuatnya seperti berpihak padanya.


"Ya tapi tetap saja, dia belum tentu bisa menuntun Sani dan menjadi kepala keluarga, bisa-bisa Sani ngemong suaminya nanti karena masih anak-anak." Tutur Arsen melihat dari segi umur Galen yang memang masih muda.


"Buktinya Sani terlihat bahagia, hubby pernah lihat ngak perbedaan Sani bersama Galen dan Gerald?"


Arsen tampak berpikir, mengingat momen kebersamaan putrinya dengan Gerald dan Galen.


"Bahkan sejak hubungannya dengan Daniel selesai, aku tidak pernah melihat senyum putri ku itu terlihat bahagia seperti tadi."

__ADS_1


Daniel pria pertama yang mengisi hati Sani selain sang papa, dan Daniel juga pria pertama yang membuat putrinya itu merasakan sakit hati. Casandra mengingat di mana Sani mengurung dirinya seharian saat di mana hubungan mereka kandas, hanya sehari. setelahnya Sani kembali menjalani hidup seperti biasa bahkan Sani datang ke pernikahan Daniel saat itu tanpa adanya kesedihan.


"Aku akan memberikan restu untuk Sani jika dia memang memilih Galen." Casandra berbalik dan berjalan masuk kedalam setelah mobil Galen membawa putrinya pergi.


Eh,,,


"Sayang, kenapa bisa begitu. Bagaimana kalau ternyata Galen itu punya banyak wanita, tidak mungkin pemuda seperti Galen itu tidak punya wanita kan." Arsen mengejar langkah istrinya, pria itu berjalan sambil menggerutu.


"Aku rasa papa lebih tahu dari Mama." Ucap Casandra dengan senyum lebarnya, dan berlalu kedapur meninggalkan Arsen yang berkacak pinggang.


"Tidak bisa di biarkan, nanti putriku hanya untuk mainan saja." Ucap Arsen sambil menganggukkan kepalanya yakin.


*


*


Sani yang sedang membalas pesan Fani menoleh sekilas.

__ADS_1


"Quin, model muda yang sedang naik daun." Ucap Sani sambil mengamati reaksi wajah Galen.


"Oh," jawab Galen yang terkesan sangat santai.


Sani menautkan alisnya, melihat reaksi Galen yang biasa saja. Padahal Quinara ini model muda yang sedang naik daun, banyak laki-laki yang mengagumi kecantikan gadis ini apalagi pemuda seperti Galen, pasti akan terpesona melihat seorang Quinara, itu sih pemikiran Sani.


"Kamu kenal?" Tanya Sani basa-basi.


"Hm, kenal tidak. Tahu iya." Jawab Galen.


Yang menautkan kedua alisnya, "Tahu dari mana?" tanya Sani dengan tatapan memicing.


Mendengar pertanyaan yang terkesan menyelidik membuat Galen menoleh dan menatap wajah kekasihnya yang menatapnya penuh selidik.


Galen terseyum lebar melihat tatapan Sani yang terlihat begitu cemburu.


"Dia model, tentu saja aku melihatnya di televisi."Jawab Galen sambil terkekeh, "Tapi aku suka loh liat wajah kamu yang cemburu gitu, bikin aku tambah cinta ayang." Ucap Galen dengan wajah dibuat semanis mungkin.

__ADS_1


Sani mencebikkan bibirnya sebal, "Cuma denger dia bilang begitu, kenapa hatiku rasanya tidak suka. Tuhan apakah pilihanku benar." Gumam Sani dalam hati sambil menatap jalanan di depan.


__ADS_2