Brondong I Love U

Brondong I Love U
Meminta


__ADS_3

Sani memasuki aula gedung untuk acara peluncuran produk barunya Liora Jawellery. Gedung ini juga masih milik Xalendra sehingga ia tidak perlu repot-repot untuk menyewa dilain tempat, hanya tinggal menghubungi pihak pengelola.


Tentu saja masih ditemani Galen yang setia menemani setiap saat seperti iklan deodorant, setia setiap saat.


Beberapa orang sedang sibuk menata tempat, Sani melihat kesekeliling sudah sembilan puluh persen selesai.


"Mbak," Fani yang baru datang menghampiri atasanya, tapi matanya memicing saat melihat Galen juga ada di sana.


"Kamu selain melamar jadi model merangkap jadi supir juga?" ucap Fani pada Galen yang berdiri disamping Sani.


Sani tersenyum, sedangkan Galen memasang wajah masam.


"Kalau model dan supir tampan begini mana mau Tante cantik nolak," Balas Galen dengan percaya diri.


"Cih, dasar Brondong." Kesal Fani namun terkekeh kemudian. "Sepertinya aku ngak menduga-duga, sepertinya kalian ada sesuatu," Fani melirik Sani dan Galen bergantian, yang di lirik justru saling tatap.


Galen merapatkan tubuhnya pada Sani, dan tangannya merangkul di bahu wanita itu.


"Bagaimana? sudah cocokkan, siap menuju pelaminan."


Hahahaha


Fani justru tertawa mendengar ucapan Galen yang menurutnya lucu, sedangkan Galen hanya memasang bibir manyun.


"Sudah, kalian ini senang sekali kalau meledek." Sani mendorong dada Galen untuk menyingkirkan. "Fan, lusa kamu pastikan semua sempurna, jangan ada yang terlupa aku ingin semua tamu yang datang nyaman karena itu akan membuat mereka menilai kualitas apa yang akan kita jual."


"Baik mbak, saya akan melakukannya dengan baik." Fani tersenyum, "Oyaa, mbak. Besok jadwal Galen untuk pemotretan bagaimana? sepetinya model kita tidak bisa dipakai lagi dia berangkat ke LN untuk pengobatan." Tutur Fani.


Sani tampak berpikir, dan kemudian menatap Galen yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Galen dengan mimik wajah bingung.


Jujur saja Sani sebenarnya suka dengan hasil pemotretan Galen, tapi rasanya kok dia agak cemas.


"Kamu mau tidak?" Tanya Sani pada akhirnya, Ia tahu jika Galen bukan pria yang mudah jatuh hati pada wanita, untuk itu Sani membuang rasa cemburu yang mungkin akan dia lihat saat nanti Galen sedang melakukan pekerjaannya.


"Terserah ayang." Jawabnya santai.


Ehem


Fani berdehem, wanita itu senyum-senyum sendiri melihat aura romantis meskipun dari kata-kata sederhana tapi cara keduanya berinteraksi kok seperti Lemineral, ada manis-manisnya.


"Ya sudah, kamu atur jadwal besok Fan," Titahnya pada Fani, tidak peduli jika aisistennya itu mesam-mesem menggoda mereka.


"Iya mbak, beres deh!" Fani bersemangat.


*


*


"Aku mau ketemu Pamer, boleh kan." Ucap Galen sambil tersenyum tengil.


Sani menyipitkan matanya, "Jangan macem-macem deh Len," Ucap Sani dengan nada tak santai. Pasalnya dia tahu apa yang akan di lakukan Galen.


"Macam-macam apanya, seharunya kamu senang dong kalau aku ketemu papa kamu." Balas Galen santai, "Apa kamu punya-"


"Terserah, tapi papa ku galak. Tangung sendiri akibatnya kalau bikin dia marah." Ucap Sani dengan cepat, dia tidak ingin Galen berpikir macam-macam.


"Oke," Galen mengangguk sambil mengusap pucuk kepala Sani.

__ADS_1


Sampainya di rumah orang tua Sani, Galen sudah duduk menunggu papa Arsen menemuinya, ia ingin bicara sesuatu tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Kamu siapa?" Tanya Arsen yang baru saja sampai di ruang tamu.


Galen mendongak dan berdiri, "Malam Om, saya Galen." Katanya dengan senyum mengembang.


Arsen menghela napas, ternyata pemuda yang pernah ia lihat dirumah sakit.


"Ya, duduklah. Dan ada urusan apa kamu ingin bicara dengan ku."


Galen menelan ludah, meskipun sudah berumur tapi aura tegas Arsen masih terlihat kental, wibawa pria itu masih terlihat jelas Galen sampai sedikit nervous.


"Saya ingin meminta sesuatu pamer, eh maksudnya Om." Galen merutuki mulutnya yang kelepasan bersyandaah, saat melihat tatapan tajam papa kekasihnya itu.


"Minta apa? kamu bekerja sebagai peminta sumbangan?"


Hah!


"B-bukan Om," Galen geleng kepala.


Sedangkan Sani yang berdiri menguping di belakang tembok menahan tawa melihat wajah Galen yang sepetinya tertekan.


"Lalu?" Arsen menaikkan alisnya sebelah.


"Saya mau meminta putri Om untuk saya jadikan istri."


Brak!!


Galen sampai berjingkat kaget melihat sebuah gebrakan tangan yang menghadirkan bunyi nyaring.

__ADS_1


"Copot nih jantung," Gumam Galen dalam hati.


__ADS_2